• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.4 Arahan Strategis Pengembangan

5.4.3 Rumusan Strategi

Berbagai faktor dan analisis yang telah dilakukan melahirkan beberapa arahan strategis pengembangan sektor pertanian Kabupaten Sumbawa berbasis komoditas unggulan daerah. Arahan strategis tersebut dirumuskan sebagai berikut:

a. Pengembangan komoditas jagung

Produksi jagung di Kabupaten Sumbawa tahun 2008 telah mencapai 58.396 ton. Jumlah produksi tersebut sudah melampaui proyeksi kebutuhan konsumsi penduduk Nusa Tenggara Barat pada tahun 2025 yang hanya sebesar 22.640 ton. Artinya bahwa terjadi kelebihan produksi untuk konsumsi sekitar 35.000 ton (lihat Tabel 11). Kelebihan produksi jagung dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi pangan masih bisa diserap oleh sektor lain seperti industri pakan ternak maupun industri olahan tepung yang tidak dipertimbangkan dalam penelitian ini. Namun demikian, diperlukan upaya untuk menjaga kestabilan pasar terutama harga agar tidak mengalami penurunan terutama pada saat panen raya. Langkah yang diperlukan oleh pemerintah daerah sebagai fasilitator adalah menjalin kontrak kerjasama penjualan dan pemasaran antara pengusaha sebagai mitra dan petani sebagai pemilik lahan, serta meningkatkan aksesibilitas pemasaran ke luar daerah.

Pengembangan jagung juga harus mengantisipasi kondisi-kondisi yang tidak terduga seperti perubahan iklim, gagal panen karena hama penyakit, bencana alam, maupun adanya perubahan pola konsumsi dan permintaan pasar global. Sehingga diperlukan upaya untuk mengamankan jumlah produksi yang ada. Hal ini terkait dengan implikasi kebijakan pengelolaan dan pengawasan produksi di lapangan. Maka pengusahaan komoditas jagung lebih diarahkan untuk dipusatkan di wilayah kecamatan yang saat ini menjadi sentra pengembangan.

Wilayah yang dijadikan sentra pengembangan adalah Kecamatan Labangka (7.549 ha), Lunyuk (1.761 ha), Plampang (1.353 ha), dan Utan (1.333 ha). Total luas penggunaan lahan di empat kecamatan tersebut seluas 11.996 ha, atau 137 persen dari kebutuhan lahan 9.092 ha. Artinya bahwa luasan

penggunaan lahaan saat ini tetap dipertahankan untuk memenuhi areal lahan yang dibutuhkan dengan berupaya untuk meningkatkan produktivitas.

Produktivitas yang masih rendah (sekitar 2,5 ton/ha) dapat ditingkatkan melalui intensifikasi berupa penggunaan benih unggul dan penerapan paket teknologi tepat guna. Untuk itu, sinkronisasi dengan program pemerintah pusat berupa bantuan langsung benih unggul (BLBU) dan sekolah lapang penerapan teknologi tepat guna (SLPTT) jagung diharapkan menjadi pengikat kontrak kerjasama dengan petani karena petani mendapatkan stimulus modal produksi. b. Pengembangan komoditas kacang hijau

Produksi kacang hijau di Kabupaten Sumbawa saat ini mampu melampaui proyeksi kebutuhan konsumsi penduduk Nusa Tenggara Barat tahun 2025. Tahun 2008 Kabupaten Sumbawa memproduksi kacang hijau sebanyak 26.169 ton sedangkan proyeksi kebutuhan konsumsi penduduk Nusa Tenggara Barat tahun 2025 hanya sebesar 3.234 ton. Hal ini karena konsumsi perkapita kacang hijau sangat kecil hanya 0,6 kg/kap/tahun. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pemasaran kacang hijau masih relatif stabil dengan tingkat preferensi masyarakat yang tinggi. Kondisi ini mengindikasikan permintaan pasar di luar konsumsi pangan secara langsung maupun permintaan pasar secara nasional cukup tinggi.

Upaya penting yang diperlukan dalam menyerap tingginya produksi yang ada adalah mengembangkan aksesibilitas pemasaran ke luar daerah. Kontrak kerjasama dengan industri pengolahan pangan di luar daerah perlu difasilitasi oleh pemerintah Kabupaten Sumbawa. Hal ini dikarenakan saat ini industri pengolahan hasil di Kabupaten Sumbawa belum berkembang secara baik. Untuk memenuhi standar industri maka kualitas produk penting untuk diperhatikan. Dengan demikian pengawasan terhadap proses produksi harus lebih diintensifkan. Upaya yang dapat dilakukan adalah intensifikasi pengawasan mutu produksi dalam kawasan sentra pengembangan.

Wilayah yang dapat dijadikan sentra pengembangan adalah Kecamatan Moyo Hilir (5.048 ha), Empang (3.864 ha), dan Lopok (3.871 ha), dan Plampang (3.236 ha). Apabila luas penggunaan lahan pada empat kecamatan tersebut tetap dipertahankan maka akan mampu memenuhi 411 persen dari kebutuhan lahan untuk kacang hijau yang hanya sebesar 3.897 ha.

c. Pengembangan komoditas kedelai

Produksi kedelai di Kabupaten Sumbawa saat ini masih terbatas dalam memenuhi proyeksi kebutuhan konsumsi penduduk Nusa Tenggara Barat pada tahun 2025. Pada tahun 2008 Kabupaten Sumbawa hanya mampu memproduksi kedelai sebanyak 7.893 ton sedangkan proyeksi kebutuhan konsumsi sebanyak 46.358 ton, sehingga masih berpeluang untuk meningkatkan jumlah produksi sekitar lebih dari 38.000 ton sampai dengan tahun 2025.

Pengembangan kedelai mencakup wilayah yang lebih luas dibandingkan dengan komoditas lainnya. Karena luas areal panen di masing-masing wilayah tersebut masih kecil, maka diperlukan upaya lebih intensif untuk meningkatkan preferensi petani dalam mengusahakannya. Misalnya dengan menerapkan pola tumpang sari dengan tanaman lain seperti jagung maupun cabe rawit (Suparto et al. 2007). Peningkatan areal panen masih dimungkinkan dengan ekstensifikasi. Produktivitas yang masih rendah juga perlu ditingkatkan dengan intensifikasi penggunaan benih unggul dan penerapan teknologi budidaya seperti penggunaan mulsa jerami untuk mempertahankan kelembaban tanah serta menggalakkan sistem pompa air baik untuk air permukaan maupun air tanah karena keterbatasan ketersediaan air.

Wilayah pengembangan kedelai meliputi Kecamatan Utan (1.130 ha), Alas Barat (835 ha), Alas (814 ha), Lantung (704 ha), Buer (701 ha), Empang (530 ha), Ropang (495 ha), Rhee (473 ha), Lenangguar (224 ha), dan Tarano (210 ha). Total luas penggunaan untuk kedelai pada sepuluh kecamatan tersebut sebesar 6.116 ha atau 15,7 persen dari kebutuhan areal di Nusa Tenggara Barat yang mencapai 39.287 ha.

d. Pengembangan komoditas cabe rawit

Cabe rawit sampai dengan saat ini masih berpotensi untuk dikembangkan, mengingat proyeksi kebutuhan konsumsi penduduk Nusa Tenggara Barat tahun 2025 sebesar 8.140 ton belum terpenuhi secara maksimal jika hanya mengandalkan luas areal panen yang ada sekarang ini. Pada tahun 2008 Kabupaten Sumbawa hanya mampu berproduksi sebesar 3.260 ton, sehingga ada peluang untuk mengisi kesenjangan kebutuhan cabe rawit sekitar 5.000 ton.

Wilayah pengembangan cabe rawit di Kabupaten Sumbawa meliputi Kecamatan Buer (186 ha), Batu Lanteh (30 ha), Plampang (13 ha), Tarano (4 ha), dan Labangka (12 ha). Total luas areal panen pada lima kecamatan tersebut

adalah 245 ha atau hanya 15 persen dari kebutuhan lahan untuk pengembangan cabe rawit di Nusa Tenggara Barat yang mencapai 1.638 ha. Dengan demikian upaya peningkatan luas areal panen dengan meningkatkan areal tanam dapat dilakukan pada masing-masing kecamatan tersebut karena potensi lahan pertanian yang tersedia masih besar. Produktivitas yang masih kecil juga dapat ditingkatkan dengan menerapkan teknologi usaha tani yang lebih baik, sehingga sangat diperlukan kerjasama usaha dalam suatu kelompok tani untuk mengoptimalkan skala usaha tani. Pola tanam tumpang sari dengan jagung ataupun komoditas lain dapat diterapkan untuk memaksimalkan sumberdaya lahan. Upaya lain yang tidak bisa diabaikan adalah pengaturan waktu tanam terutama untuk mengantisipasi lonjakan permintaan pada musim-musim tertentu seperti lebaran dan akhir tahun.

e. Pengembangan komoditas ubi jalar

Produksi ubi jalar di Kabupaten Sumbawa saat ini masih sangat terbatas. Produksi pada tahun 2008 hanya sebesar 656 ton, terpaut jauh dari kebutuhan konsumsi penduduk Nusa Tenggara Barat tahun 2025 yang mencapai 13.476 ton. Hal ini lebih disebabkan karena kendala biogeofisik lahan berupa iklim yang terlalu panas dengan bulan kering yang panjang.

Wilayah pengembangan ubi jalar meliputi Kecamatan Labuhan Badas (12 ha), Batu Lanteh (10 ha), Sumbawa (8 ha), dan Buer (6 ha). Sementara potensi lahan yang tersedia di Kabupaten Sumbawa masih besar. Namun demikian, pengembangan ubi jalar masih terkendala secara teknis seperti teknik budidaya dan akses modal untuk sarana prasarana produksi.

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan areal panen antara lain mengembangkan sumber air berupa sumur bor di kawasan pengembangan. Karena modal produksi yang bertambah dengan penerapan teknologi, maka diharapkan pengusahaan ubi jalar dilaksanakan secara berkelompok agar dapat lebih efektif. Pemberdayaan kelompok tani juga mempermudah dalam akses terhadap permodalan. Peran lembaga keuangan mikro menjadi semakin penting. Untuk itu, perlu menumbuhkembangkan lembaga keuangan mikro yang langsung bersentuhan dengan petani di daerah-daerah sentra pengembangan.

Dokumen terkait