• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.1 Sekolah Dasar di Jepang

2.1.2 Rutinitas Keseharian Sekolah Dasar di jepang

a). Kegiatan di Sekolah

Setiap sekolah tentunya memiliki rutinitas sehari-hari yang berbeda pada masing sekolah tergantung peraturan di sekolah tersebut. Di negara Jepang hal serupa juga akan kita jumpai kalau kita mengunjungi satu per satu sekolah disana.

Rutinitas sehari-hari anak sekolah dasar di Jepang akan di bahas secara umum yang di dapatkan penulis dari berbagai sumber.

Seorang anak sekolah dasar di Jepang akan berangkat sekolah sendiri tanpa diantar-jemput orang tua. Mereka harus berangkat bersama-sama murid lain yang rumahnya berdekatan. Anak-anak dikelompokkan menjadi grup dan sekolah telah menentukan tempat bertemu bagi mereka di pagi hari sebelum berangkat menuju sekolah. Yang menjadi ketua kelompok adalah anak dengan kelas tertinggi yang ada dalam kelompok tersebut, biasanya kelas enam. Seminggu sebelum hari pertama masuk sekolah, ketua kelompok akan mengirimkan kartu pos kepada murid-murid baru berisi ajakan berangkat sekolah bersama. Setiap kelompok ini memiliki peraturan yang mereka buat sendiri. Mereka membuat membuat batas waktu mereka pergi ke sekolah bersama, sehingga yang terlambat harus jalan sendiri.

Hari pertama masuk sekolah dasar di jepang ditandai dengan adanya upacara nyugakushiki (upacara penyambutan bagi ichinensei/ murid baru). Pada acara ini

orang tua diwajibkan untuk datang dengan pakaian formal. Pada kesempatan ini para orang tua diperbolehkan untuk ikut masuk ke ruangan kelas mendampingi anaknya. Mereka akan diberikan penjelasan tentang peraturan di sekolah tersebut dan para orang tua berhak mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang berhubungan dengan pendidikan anak mereka.

Umumnya kegiatan akademik di Sekolah Dasar Jepang berlangsung dari pukul 08.00 pagi sampai pukul 15.00 sore. Tetapi untuk siswa kelas empat keatas biasanya diberikan pelajaran tambahan. Mata pelajaran di sekolah dasar Jepang meliputi : bahasa Jepang, matematika, sains,ilmu sosial, musik, kerajinan tangan, musik dan home industry (seperti memasak dan menjahit). Dewasa ini sekolah dasar di jepang juga banyak menambahkan mata pelajaran bahasa inggris dan teknologi informasi dan rata-rata sekolah sudah memiliki jaringan internet.

Untuk siswa SD kelas 1-3, bobot kegiatan olahraga sangat besar. Hampir setiap hari anak didik diberikan mata pelajaran tersebut. Sedangkan untuk kelas 4-6 memiliki pelajaran tambahan seperti bahasa inggris.

Di Jepang tidak ada kantin dalam sekolah dan anak-anak sekolah dasar tidak perlu membawa uang jajan. Anak-anak akan mendapatkan makan siang dari sekolah dan anak-anak yang tidak boleh memakan makanan yang telah disediakan sekolah misalnya karena perbedaan agama atau karena alergi bisa membawa bekal masing-masing. Makan siang bersama ini disebut kyushoku. Makanan yang disajikan harus memenuhi standar gizi yang telah ditentukan oleh pemerintah.

Sebagian sekolah yang memiliki pekarangan luas memanfaatkan bahan makanan dan bumbu yang diperoleh dari lahan sekolah tersebut dan dimasak bersama para siswa. Saat makan siang tiba, anak-anak yang bertugas(dengan pakaian khusus

dilengkapi topi dan masker) menyediakan makanan bagi teman-temannya secara bergiliran. Pakaian dan topi khusus ini dipergunakan selama satu minggu dan harus dibawa pulang untuk dicuci sebelum dikembalikan untuk dipakai oleh petugas berikutnya. Para wali dan siswa akan makan bersama dan membersihkan sisa makanan bersama sebelum pelajaran selanjutnya dimulai.

Menu makan siang bagi anak-anak sekolah dasar di Jepang sudah ditentukan oleh pemerintah selama satu bulan penuh. Di menu makanan biasanya dicantumkan kandungan gizi dan banyaknya kalori yang terkandung dalam setiap menu.

Disetiap sekolah dasar di Jepang pemerintah menyediakan suatu tempat dalam bentuk gedung yang ada di dalam komplek sekolah yang dinamakan gakudou yaitu suatu tempat bermain dan belajar di dalam sekolah pada jam luar sekolah.

Anak-anak dalam gakudou ini akan pulang sendiri atau dijemput orang tuanya pada jam yang orang tuanya inginkan. Fasilitas ini dibayar oleh orang tua murid karena fasilitas ini memiliki pengasuh-pengasuh yang menemani para murid sebelum dijemput orang tua masing-masing. Dengan adanya fasilitas ini, para orang tua bisa bekerja dengan produktif pada jam kerja dan anak-anaknya bisa bermain dan belajar dengan aman dalam ruangan tersebut.

b). Kegiatan ekstrakurikuler

Hampir seluruh murid sekolah di Jepang memiliki kegiatan ekstrakurikuler.

Mereka biasanya memilih kegiatan yang sesuai dengan hobi dan keahliannya masing-masing dan membentuk kelompok. Siswa di jepang memiliki banyak event sepanjang tahun ajaran seperti hari olahraga yaitu hari untuk bertanding

dalam berbagai perlombaan yang di selenggarakan oleh sekolah maupun antar sekolah seperti tarik tambang, lomba estafet, dan piknik ke tempat-tempat bersejarah di Jepang. Di Jepang siswa dengan bantuan para wali juga membuat acar pestival seni budaya yang menampilkan kebudayaan-kebudayaan lokal. Para siswa juga bisa ikut klub kebudayaan yang disebut dengan klub Go. Go adalah permainan papan yang bersifat strategis dimainkan dengan butiran batu pipih berwarna hitam dan putih.

Klub ekstrakurikuler yang paling banyak diminati murid laki-laki adalah klub bisbol, sepak bola dan judo. Sedangkan untuk putri mereka biasanya memilih origami (seni lipat kertas) dan loncat tali.

Para murid Sekolah Dasar di Jepang juga mempelajari seni tradisional Jepang seperti shodou dan haiku. Shodou adalah seni menulis tradisional Jepang dengan mencelupkan kuas ke dalam tinta untuk menulis huruf kanji dan kana (huruf fonetis yang berasal dari kanji) secara indah. Sedangkan haiku merupakan bentuk puisi yang berkembang di jepang sekitar 400 ratus tahun yang lalu, berupa syair pendek yang terdiri dari 12 suku kata. Haiku memakai ungkapan sederhana untuk menyampaikan emosi yang mendalam kepada pembacanya.

c). Kegiatan luar sekolah

Selain mengikuti pembelajaran formal di ruangan kelas, kegiatan anak Sekolah Dasar di jepang adalah mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan lahan pertanian atau perkebunan untuk memetik teh, jeruk, menggali umbi-umbian dan belajar menanam padi di sawah. Mereka biasanya mengunjungi lokasi yang

berada di luar kotanya. Pada kesempatan ini mereka juga diajarkan cara menumpang densha (kereta api).

Anak-anak sekolah dasar di Jepang menggunakan waktu luangnya dengan berbagai macam cara. Contoh yang paling populer untuk saat ini adalah bermain video games. Anak laki-laki biasanya memiliki hobi berolahraga bersama teman-temannya. Sedangkan anak perempuan biasanya mengumpulkan stiker atau setip dan saling menukarkannya dengan teman-temannya. Mereka juga senang dengan membaca komik( manga) dan menonton anime. Biasanya pecinta komik senang mengoleksi mainan yang biasa disebut action figure dari tokoh-tokoh anime yang mereka tonton.

Di Jepang juga terdapat mainan yang telah menjadi hiburan bagi anak-anak selama berabad-abad yaitu origami. Juga ada beigoma (permainan memutar gasing) dan ohajiki (permainan kelereng).

Di musim-musim tertentu kegiatan anak sekolah dasr di luar sekolahnya adalah ikut liburan bersama keluarga mereka. Ketika musim panas tiba mereka biasanya pergi ke pantai atau kolam renang. Dari musim panas sampai musim gugur mereka biasanya berjalan kaki atau berkemah dengan keluarga dan selama musim dingin mereka biasanya bermain sky atau snowboarding. Jepang memiliki banyak tempat rekreasi untuk musim dingin. Para wali kelas biasanya menyuruh siswa untuk melaporkan kegiatannya selama liburan.

Kegiatan belajar-mengajar di Jepang tidak lepas dari tanggung jawab orang tua. Setiap anak Sekolah Dasar memiliki buku khusus yang disebut dengan renrakuchou. Renrakuchou adalah buku penghubung antara wali kelas dengan orang tua. Buku penghubung tersebut memuat tentang tugas yang harus dierjakan

oleh murid dan juga memuat tentang pemberitahuan kegiatan yang akan dilakukan selama satu bulan sehingga para orang tua ikut berperan mempersiapkan segala keperluan anak yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan tersebut.

Dokumen terkait