• Tidak ada hasil yang ditemukan

s Simbol /s/ menyatakan diri sebagai simbol konkrit pada

Simbol /s/ menyatakan diri sebagai simbol konkrit pada kepala manusia terdapat saung (mulut atau tempat keluar), dari mulut inilah keluar sadda merupakan segala sesuatu yang dinyatakan disebut bunyi. Bunyi-bunyi itu disusun sehingga mempunyai makna yang disebut ada (kata, sabda, atau tihta).62

Telah dijelaskan pada bab pertama bahwa bentuk dan model aksara lontaraq yang digunakan merupakan evolusi dari aksara Kawi dan telah dimodifikasi, penggunaan aksara ini sekitar abad ke VIII sampai abad ke XIV pada saat aksara Kawi digunakan di daerah Jawa, hal ini merupakan pembacaan Fahruddin Ambo Enre dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Mills yang menunjukkan kesamaan antara aksara lontaraq tua dengan Kawi, sedangkan aksara lontaraq baru lebih mirip dengan aksara Sumatra, sedangkan hasil penelitian Holle memperkuat bahwa kesamaan huruf antara Kawi dan lontaraq tua sangat erat sekali kemiripan antara kedua aksara ini misalnya pada aksara ga, pa, ma, la, ta, na, nya, ra, dan wa.63

Dalam catatan Lontaraq Gowa Tallo disebutkan bahwa yang membuat aksara lontaraq Makassar adalah Daéng Pamatté, seorang tumailalang (juru bicara kerajaan Gowa) yang merangkap sebagai syahbandar, pada tahun 1510 memulai mencatat peristiwa penting dan peraturan-peraturan kerajaan secara teratur, kesemuanya itu ditulis di atas daun lontar.

62

Mattulada. Latoa (Suatu Lukisan Analitis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis) (Yogyakarta: Gajah Mada University Press,1976.), 9.

63Fachruddin Ambo Enre. Ritumpanna Wélenrenngé (Jakarta: EFEO dan

54

Perbandingan Beberapa Aksara

Sumber: Fakhruddin Ambo Enre64

64

Fachruddin Ambo Enre, Ritumpanna Wélenrenngé (Jakarta: EFEO dan Yayasan Obor Indonesia, 1999), 35.

55

Perbandingan Aksara Bugis Menurut Cetakan Orang Eropa

Sumber: Noorduyn65

65Noorduyn, J. ‚Variation in TheBugis/Makasarese Script‛ Leiden:

BKI 147, 1991, 534-544; lihat pula Ahmad Rahman dkk. Pelestarian dan Perkembangan Aksara Lontaraq (Departeman Pendidikan dan Kebudayaan: 1996), 46.

56

E. Sistem Kepercayaan

Sistem kepercayaan adalah pandangan komunitas lokal terhadap hubungan manusia dengan dunia gaib. Dunia gaib dikonsepsikan di dalamnya terdiri atas dewa, roh-roh manusia dan makhluk gaib, serta dunia setelah kehidupan. Menurut Koentjaraningrat66 selain emosi keagamaan (religious emotion), unsur penting yang ada dalam sistem kepercayaan adalah sistem keyakinan, upacara keagamaan dan pemeluk atau penganut.

Di Wajo mengenal beberapa dewa yang disebut Déwa Patoto, Dewa ini yang menetapkan takdir yang biasa disebut Patotoé sang penentu takdir To Palanroé sang pencipta. Dewa inilah yang bersemayan di petala langit (boting langi) yang menciptakan hujan, mendatangkan kemakmuran, dan dapat membawa kemurkaan dengan cara menurunkan petir, mendatangkan kemarau. Maka diberilah sesajen sebagai persembahan yang ditempatkan di loteng atas rumah.

Paddengeng dari kata rengeng (pemburu) dan Déwa mallinoé yang tinggal di tempat-tempat tertentu, misalnya di pohon besar, dan tempat-tempat yang dianggap keramat, diberikanlah sesajen dan tumbal binatang agar tidak mengganggu ketentraman manusia. Sangiyang berarti dewa-dewa seperti sangiyangseri (dewi padi).

Kepercayaan terhadap arwah nenek moyang atau leluhur, arwah nenek moyang bisa mendatangkan keselamatan terhadap anak dan cucunya karena telah berhubungan langsung dengan Tuhan, maka di- lakukanlah pemujaan arajang sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap leluhur, arang hanya terdapat pada golongan raja. Benda ini dikeluarkan sekali setahun dari tempatnya untuk disucikan dan biasa juga dikeluarkan pada saat pelantikan raja, perkawinan keluarga raja, tertimpa bencana, terjadi penyakit menular, pemujaan arajang

66Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi (Jakarta: Aksara Baru,

57

secara besar-besaran ketika mappano biné (waktu padi diturunkan ke sawah) dan masa panen.

Wé Nyiliq Timo dewa yang berasal dari dunia bawah laut, selanjutnya disebut dewa bawah air yang bertempat tinggal di danau, laut, dan sungai diberikan sesajen berupa persembahan walasuji yang berisi makanan, ketan berwarna warni, sirih, dan telur ayam, kemudian di tenggelamkan di air (sungai,laut, dan danau).

Keyakinan mengenai dewa bawah air, masih hidup dan terpelihara sampai sekarang. Pemujaan dewa ini dikenal dengan upacara maqcéraq tappareng merupakan ritual pensucian danau dan pemotongan kerbau, kepalanya dipersembahkan kepada penguasa bawah air sebagai tumbal atau sedekah tolak bala. Kepercayaan adanya makhluk halus yang menghuni dan menjaga danau telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Oleh karena itu, selain danau Tempé digunakan sebagai area penangkaran, penangkapan ikan, kawasan lindung ikan dan area bermukim, juga terdapat area keramat.

Ada beberapa area keramat di danau Tempe yang telah diyakini masyarakat nelayan di kawasan ini. Area keramat ini ditandai dengan pemasangan beberapa bendera berwarna kuning atau merah dengan tiang yang tinggi. Pada saat melintasi danau dengan menggunakan perahu, area keramat ini akan terlihat dengan jelas dari kejauhan. Area keramat ini digunakan oleh masyarakat sebagai tempat melakukan upacara maccéraq tappareng dan memberi sesaji pada penguasa danau, ritual ini dilakukan setiap tahun.67

Selain itu terdapat juga penganut kepercayaan Tolotang yang percaya kepada dewa-dewa yang telah dijelaskan di atas dengan Dewata Seuwaé (berasal dari kata Déq berarti tidak, watang berarti tubuh, bentuk dan Seuwaé adalah satu) mirip dengan konsep Tuhan Yang Esa dalam agama-agama monoteisme, serta mempercayai adanya makhluk-makhluk halus seperti peppo (makhluk jadi-jadian yang bisa terbang)

67Lihat Naidah Naing, ‚Kearifan Lokal Tradisional MasyarakatNelayan

pada Permukiman Mengapung di Danau Tempe SulaWesi Selatan‛ Jurnal Lokal Wisdom, Volume.1, No.2 (2009): 22.

58

parakang (penghisap darah yang biasanya muncul pada bulan purnama), tau tenrita (hantu), asupanting (anjing siluman) dan sebagainya. Tetapi yang paling penting adalah kepercayaan terhadap ruh nenek moyang yang bisa memberi pengaruh pada diri mereka yang hidup.68

Konsep Déwata Séwwaé yang digunakan oleh komunitas agama lokal secara sepintas monoteis, tetapi mengakui bahwa sebagai dewa yang tertinggi didampingi oleh banyak dewa, jadi cenderung pada paham politeisme atau henoteisme.69

Banyak ritual-ritual yang dilakukan berkaitan dengan kepercayaan Toa>ni Tolotang, yakni pertama, Mappaénréq Inanré (mempersembahkan nasi) ritual ini dilakukan oleh komunitas Tolotang dengan cara menyerahkan daun sirih dan nasi lengkap dengan lauk pauknya ke rumah uwattaq. Mappaénré inanré dilakukan dalam empat kondisi yaitu pada masa kelahiran (nanré paccéraq), perkawinan (nanré botting), meninggal dunia (nanré toma>té/nanré pabbolo) dan sekali setahun dimaksudkan sebagai persiapan menuju lino paimeng (nanré pattaungeng).

Kedua, inanré yang merupakan sesajian terdiri atas, salondé (lauk yang terbuat dari kacang-kacangan), tumpi-tumpi (terbuat dari kelapa yang dipadatkan dan biasanya berbentuk bintang atau segi empat), bajabu balé (ikan yang diremukkan dan dicampur dengan kelapa) dan manuq mallibu (ayam panggang bulat) yang diisi dalam bakul (namun dalam beberapa kasus diganti dengan panci), kemudian ditambah dengan réqkoq o>ta (daun sirih yang dilipat dan dibentuk dalam bentuk tertentu yang berisi minyak kelapa). Réqkoq o>ta dalam kepercayaan Tolotang bisa dijadikan jimat keberuntungan dan obat.

Ketiga, sipulung kegiatan ini diadakan sekali setahun, pada salah satu hari Minggu di bulan Januari atau pada setiap awal tahun. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menghormati pesan I

68Saprillah,‚Siasat Lokalitas: Studi Tentang Cara Komunitas Tolotang

Mempertahankan Identitasnya.‛ Tesis (Ujung Pandang: Universitas Hasanuddin, 2006), 97.

69Lihat Halilintar Latief, ‚Kepercayaan Orang Bugis di Sulawesi Selatan‛

59

Pabbere untuk datang sekali setahun mengunjungi kuburannya, serta untuk kembali mengenang masa-masa sulit ketika pertama kali menginjakkan kaki di Amparita.

Kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mempererat persaudaraan antarsesama Tolotang. Kegiatan inilah yang menjadi puncak dari semua ritual yang dilakukan oleh komunitas Tolotang, karena hampir seluruh komunitas Tolotang yang berada di manapun akan hadir pada pertemuan ini.

Keempat, tudang sipulung (duduk bersama); ritual yang dilakukan bersama untuk melakukan permintaan (maréllau). Permintaan biasanya berkaitan dengan kehidupan manusia, seperti minta dimudahkan rezki, panjang umur dan lain-lain. Biasanya dilakukan di kuburan, pohon-pohon atau gunung.

Keenam, iénrékeng (menaikkan); ritual yang dilakukan untuk memanggil arwah mereka yang telah meninggal. Ritual ini dilakukan dengan cara para anggota keluarga duduk bersila dihadapan seorang uwaq. Uwaq membacakan bacaan dalam bahasa lontara, sementara semua yang hadir mendengarkan dengan saksama. Apabila arwah orang meninggal telah datang, mereka pun menemuinya dengan cara menengok sebentar ke dalam kelambu. Buah-buahan yang disajikan nampak seperti habis dimakan. Iénrékeng ini dilakukan jika anggota keluarga merasa kangen (uddani) dan ingin qbertemuq dengan arwah yang telah meninggal dunia.

Simbol-simbol yang dipakai dalam upacara di atas sebagai alat komunikasi yang menyuarakan pesan-pesan ajaran agama, terutama yang berkenaan dengan etos atau pesan-pesan suci dan pandangan hidup sesuai dengan tujuan persembahan yang dilakukan oleh pelakunya.70 Sedangkan menurut Adimihardja pengetahuan lokal tradisional merupakan refleksi kebudayaan masyarakat setempat, didalamnya terkandung tata nilai, etika, norma, aturan dan keterampilan dalam memenuhi tantangan hidupnya.71

70Clifford Geertz. Kebudayaan dan Agama (Yogyakarta: Kanisius, 1992), 87. 71Kusnaka Adimiharja, ‚Sistem Pengetahuan Lokal dan Pembangunan Masyarakat

60

BAB III

NASKAH LONTARAQ SUQKUNA WAJO DAN PENENTUAN NASKAH EDISI

Filologi dalam pengertian umum, sebagai studi dokumen-dokumen tertulis dalam rangka pemahaman pemikiran, kehidupan, dan kebudayaan suatu bangsa. Objek formal filologi adalah manuskrip atau teks-teks tertulis, bukan lisan; namun pada sisi tertentu, teks naskah seringkali memiliki keterkaitan khusus dengan teks-teks tuturan (kelisanan). Teks-teks yang terdokumentasi pada naskah mengendap sebagai memori kolektif.72 Proses transmisi dari penulis sampai pada pembaca sering terjadi ‚kekeliruan manusia‛. Penyalin berupaya menyalin teks sama dengan bentuk aslinya tetapi sangat sulit untuk tidak membuat kesalahan sama sekali betapapun tingkat kekonsentrasiannya, bisa saja membuat kesalahan dalam penyalinan.73 Inilah salah satu tugas utama filolog untuk mengedisi teks-teks tersebut, adapun langkah yang ditempuh sebelum mengedisi teks sebagai berikut:

A.Naskah-Naskah Teks LSW

Informasi LSW pertama kali didapatkan dari Tim Mikrofilm Muchlis PaEne pada tahun 2008, yang menyatkan bahwa terdapat naskah sejarah kerajaan Bugis khususnya Wajo yang ‛sangat lengkap‛ yang belum pernah dikaji secara keseluruhan, berawal dari disitulah penulis mencoba melakukan penelusuran pertama melalui Katalog Induk Naskah-Naskah Sulawesi Selatan (Mukhlis PaEne dkk), terdapat informasi LSW

72

Muhlis Hadrawi, ‚Filologi Sebagai Ilmu Kajian Naskah Nusantara,‛

Makalah Workshop Filologi Balai Peneltian dan Pengembangan Agama Makassar, (11 Maret 2010):1; Oman Fathurahman, dkk. Filologi dan Islam Indonesia (Jakarta: Kementerian Agama RI Badan Litbang dan Diklat Puslitbang Lektur Keagamaan, 2010), 101.

73S.O.Robson, Prinsip-Prinsip Filologi Indonesia (Jakarta: Pusat

Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1994), 17.

61

pada halaman 789-796 yang telah di mikrofilm Kode: No.1/MKH/6/Unhas/UP. Rol 73, Nomor 1-21 tersimpan di ANRI (Arsip Nasional RI).

Tahun 2009 (akhir)-2010 (awal) penulis kembali mecalak keberadaan naskah LSW tersebut baik dilembaga maupun koleksi pribadi, dari hasil pelacarakan tersebut penulis mendapatkan:

1. Naskah Koleksi Datu Sangaji Sengkang masih bisa diakses secara ‛terbatas‛ di Sao>raja Sengkang Kabupaten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan; naskah tersebut telah dialihmediakan dalam bentuk mikrofilm oleh Perpustakaan dan Arsip Daerah Sulawesi Selatan kerjasama dengan The Ford Foundation dan bisa diakses di ANRI dan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Sulawesi Selatan di Makassar rol 73 nomor 1-21; terdapat pula foto kopian naskah LSW koleksi Datu Sangaji di YKSS (Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan), Ahmad Rahman di Jakarta; perpustakaan Mattulada di Pusat Penelitian dan Pengkajian Humaniora UNHAS di Makassar. Mikrofilm dan foto kopian ini merupakan reproduksi teks sama dengan aslinya.

2. Fotokopian Naskah LSW koleksi Muh.Salim yang didapatkan dari Andi Zainal Abidin (identitas naksah ini bisa dilacak melaui desertasi Andi Zainal Abidin);

3. Naskah LSW koleksi Sudirman di Sengkang Wajo (Budayawan) yang disalin oleh Passiengkang pada tahun 1972.

Dari usaha penelusuran naskah LSW yang telah dilakukan sampai saat ini penulis hanya menemukan tiga versi naskah LSW, yang berasal dari koleksi Datu Sangaji Sengkang, koleksi Muh.Salim Makassar, dan Sudirman Sengkang. Hasil ketiga naskah LSW yang telah diinventarisi, penulis memberikan kode:

MS Datu Sangaji Sengkang MS Salim Makassar

MS Sudirman Sengkang MS Datu Sangaji Sengkang

62

Naskah LSW milik Datu Sangaji Puanna La Sengngeng, putra Ranréng Béttémpola Andi Makkaraka adalah salah satu koleksi naskah di Sao>raja Sengkang, Kabupaten Wajo yang diwariskan langsung dari ayahnya Andi Makkaraka.

Bahan sampul naskah menggunakan karton jilid polos berwarna biru yang jilid secara terpisah sebanyak 22 jilidan74, pada sampul naskah terdapat tulisan angka latin di bagian tangahnya secara berurutan sesuai dengan nomor jilidannya, naskah ini dipisah-pisah dengan asumsi agar mempermudah untuk dibaca dan dibawa melihat kondisi nakah ini sangat tebal dan lebar. Alas yang digunakan dalam menulis naskah adalah kertas Eropa yang berwatermark bendera bersilang tepat pada bagian tengah kedua bendera tersebut terdapat gambar bulan bintang, dengan cap bandingan Salim Nabhan.

Salim Nabhan adalah nama penerbit yang diambil dari pendirinya yang bernama Salim bin Sa’ad al-Nabhan ia orang Arab berasal dari Hadramaut yang datang ke Indonesia awal abad ke-20, beliau juga adalah seorang ulama. Menurut putra tunggal Salim Nabhan yang bernama Umar; Salim Nabhan pernah memesan kertas dari Eropa tepatnya di Jerman dengan cap kertas Salim Nabhan Surabaya, peredaran kertas ini banyak ditemukan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat karena pada masa tersebut terjaring relasi antara Salim Nabhan dan salah seorang Ulama Bugis yang bernama K.H.Muh.As’ad al-Bugisy dalam pengembangan Islam melalui penjualan kitab kuning dan penerbitan buku kitab Islam yang ditulis oleh ulama lokal.75

74Berdasarkan informasi Muhlis PaEne dkk, Katalog Induk Naskah-Naskah

Nusantara Sulawesi Selatan (tt, Arsip Nasional RI Kerjasama The Ford Foundation, Universitas Hasanuddin, dan Gajah Mada University Press, 2003),789-796, Berbeda dengan hasil wawancara yang dilakukan, menyatakan bahwa Naskah LSW dulunya satu kesatuan, setelah dilakukan inventarsisasi dan mikrofilm oleh Tim Katalog Naskah Sul-Sel dijilidlah dengan karton jilid warna biru (hasil wawancara dengan Andi Erna dan Andi Bau 5 Mei 2010 di Sengkang).

75Ahmad Rahman, ‚Penerbitan Al-Hidayah dan Salim Nabhan Surabaya

Jawa Timur,‛ dalam Dr. Salahuddin (ed) Lektur Agama dalam Berbagai Dimensi (Jakarta: Mishbah, 2009), 150-151.

63

Ukuran teks 29,5X17 cm, pias bagian atas 3 cm, pias bawah 2 cm, sedangkan pias bagian kiri 2,5 cm dan bagian kanan 3 cm. Jumlah baris teks dalam satu halaman bervariasi antara 33-38 baris namun jumlah baris yang paling dominan 38 baris perhalamannya. Jumlah halaman keseluruhan 485 halaman, terdapat penomoran halaman pada bagian atas tengah. Keadaan naskah masih baik bisa dibaca dan lengkap. Jenis aksara yang digunakan Arab, lontaraq, dan Sérang (bahasa Bugis-Makassar yang ditulis seperti huruf pegon), berbahasa Arab dan Bugis. Naskah ini ditulis dengan menggunakan kalam berwarna hitam, merah, dan biru.76

Dalam kajian Musdah Mulia menuliskan bahwa nama penyalin naskah tercatat yaitu pada akhir basmalah dihalaman awal naskah yang tertulis sangat kecil ‛Muhammad As’ad‛, tulisan kecil tersebut ditulis dalam aksara Arab. Diperkirakan penyalin naskah ini adalah Muhammad As’ad Al-Yafi‘, kakak K.H. Ali Yafi‘, dikenal ahli kaligrafi yang banyak membuat kaligrafi masjid seperti Masjid Haji Asyik di Makassar, Masjid Agung Palopo.77 Penulis berbeda pandangan dengan Musdah Mulia, dari hasil wawancara yang telah disimpulkan bahwa Muhammad As’ad yang dimaksud bahwa Muhammad As’ad yang dimaksud adalah K.H.Muh.As’ad al -Bugisy (Pendiri Pondok Pesantren As’adiyah) dibawah basmalah dan tulisan nama ‛Muhammad As’ad‛ sebagai simbol berkah dari seorang ulama untuk memulai penyalinan ulang MS LSW, dan pada masa itu telah terjalin hubungan erat antara pihak kerajaan dengan ulama dalam struktur pemerintahan.78

76Lihat Muhlis PaEne dkk, Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara

Sulawesi Selatan. (tt: Arsip Nasional RI Kerjasama The Ford Foundation, Universitas Hasanuddin, dan Gajah Mada University Press, 2003),789-796.

77Musdah Mulia, Lontarak Sukkuna Wajo: Suntingan Teks Kerajaan

Wajo Sulawesi Selatan,‛ Penelitian Pusat Lektur Keagamaan Badan dan Diklat Depag RI (2009): 6.

78Wawancara dengan M.Salim (ahli Lontaraq Sulawesi Selatan yang

bekerja di YKSS) tanggal 5 Mei 2010 di Makassar; Andi Erna dan Andi Bau (turunan langsung Datu Sangaji) tanggal 6 Mei 5 2010 di Sengkang.

64

Jika mengacu pada biografi K.H.M.As’ad yang hidup pada tahun 1907-1952 dan kembali ke Wajo pada tahun 1928 untuk menata ulang kehidupan beragama (Islam) di Wajo. Salim Nabhan hidup (1886-1949) dan memulai kegiatan penerbitan pada di Suarabaya pada tahun 1904. Sedangkan Andi Makkaraka (1897-1967) beliau diangkat sebagai Arung Benttempola pada tahun 1920-an dari biografi ketiganya penulis mebuat suatu tesis bahwa LSW yang akan dikaji diperkirakan disalin ulang sekitar tahun 1930-an karena pada tahun ini ketiganya orang tersebut sezaman dan terjalin hubungan harmonis dalam tataran struktur pemerintahan.

Item Masa

Pengangkatan Andi Makkaraka menjadi Arung Béttémpola

1920 Tahun pemesanan kertas Salim

Nabhan+peredaran 1 tahun

1921 Kedatangan K.H.M.As’ad di Sengkang 1928

MS Salim Makassar

Naskah koleksi Muh. Salim yang penulis dapatkan dalam bentuk fotokopian, menurut kolektor79 naskah LSW yang dia dapat dari Andi Zainal Abidin yang pernah digunakan untuk menyusun disertasinya ‛Wajo pada Abad XV-XVI‛ dapatlah diketahui lontaraq tersebut milik Andi Makkarãka tebalnya 588 halaman ditulis dalam buku panjang ukuran 32X21 cm dalam setiap halamannya terdapat 37 baris, ditulis dengan aksara lontaraq, Arab, dan Serang berbahasa Bugis dan Arab. Setiap halamannya terdapat coretan garis bawah yang dianggap penting, pada pias kanan dan kiri terdapat banyak catatan/ coretan beraksara latin dan bugis dalam bahasa Indonesia dan Bugis, coretan-coretan ini dilakukan oleh Andi Zainal Abidin. Naskah LSW ini sebanyak 3 (tiga) jilid namun yang tertinggal sampai sekarang hanya 2 (jilid), jadi naskah ini tidak lengkap,

65

tidak terdapat jilid pertama halaman 1-138, serta pada jilid ke-dua mines halaman 219-238.

MS Sudirman Sengkang

Naskah LSW koleksi Sudirman tempat koleksi di Perumahan Nusa Idaman Blok B5 Sengkang Kabupaten Wajo, naskah LSW ini didapat dari Andi Zainal Abidin.

Naskah ini ditulis dalam buku tulis bergaris, bersampul karton tebal sbanyak 4 jilid, pada setiap jilid terdapat tulisan angka romawi I-IV pada sampul dalam naskah, terdapat kolofon pada sampul dalam dan sampul akhir naskah, sehingga diperoleh informasi, naskah ini adalah naskah salinan yang disalin oleh La Passiengkang pegawai kantor kebudayaan Wajo di Sengkang dengan izin Andi Sangkuru, yang disalin dari LSW milik Andi Makkarãka Arung Béttémpola yang selesai disalin pada tanggal 22 Maret 1972 untuk Prof DR.Andi Zainal Abidin.

Ukuran naskah 16X21 cm dan terdiri dari 30 baris tiap halaman, ukuran teks 13,8 cm X 17 cm, pias bagian atas 2 cm, pias bawah 1 cm, sedangkan pias bagian kiri 0,1 cm dan bagian kanan 0,1 cm. Jumlah baris tiap halaman 30 baris. Jumlah halaman keseluruhan 750 halaman, jumlah halaman teks 698 halaman sedangkan 52 halaman kosong, terdapat penomoran halaman pada bagian atas sebelah kanan. Keadaan naskah masih baik bisa dibaca dan dan naskah tidak lengkap (jilid 3 hilang). Jenis aksara yang digunakan Arab, lontaraq, dan Serang (bahasa Bugis-Makassar yang ditulis seperti huruf pegon), berbahasa Arab dan Bugis. Naskah ini ditulis dengan menggunakan kalam berwarna hitam dan biru. Banyak coretan (garis bawah) tambahan (bukan penyalin) dengan mengguna-kan spidol warna merah dan kuning setiap halamannya.

Informasi lain, Naskah LSW milik Datu Sangaji sengkang pernah dijadikan sumber penelitian diantaranya Andi Zainal Abidin dengan judul disertasinya Wajo pada Abad XV-XVI (Suatu Penggalian Sejarah Terpendam Sulawesi Selatan dari Lontaraq) tahun 1982; H.Andi Rasdiana dengan Integrasi Sistem Pangadarreng (Adat) dengan Sistem Syariat Islam Sebagai Pandanagn Hidup Orang

66

Bugis dalam Naskah Latoa 1995; Ahmad Sewang Islamisasi Kerajaan Gowa (Pertengahan Abad XVI sampai Pertengahan Abad XVII) tahun 1997; Sukirman A.Rachman pada tahun 1999 dengan judul Sejarah Islam di Daerah Wajo;80 Tahun 2003 Proyek Inventarisasi naskah Sulawesi Selatan yang telah mengkatogkkan dan memikrofilm LSW oleh Universitas Hasanuddin Makassar bekerjasama dengan Arsip Nasional RI yang disponsori oleh The Ford Foundation Kode: No.1/MKH/6/Unhas/UP. Rol 73, Nomor 1-21; Musdah Mulia yang berjudul Lontaraq Sukkuna Wajo (Suntingan Teks Kerajaan Wajo Sulawesi Selatan) tahun 2009.

B. Hubungan antar Naskah

Ketiga naskah LSW yang telah diinventarisasi baik dari koleksi lembaga, museum, maupun pribadi, dapat dibandingkan sebagai berikut:

N

o Kategori MS Datu Sangaji Sengkang MS Salim Makassar MS Sudirman Sengkang 1 Koleksi Datu

Sangaji-Sengkang

Muh.Salim Sudirman

2 Tempat

Koleksi Sao>aja Sengkang Makassar Sengkang

3 Penyalin Tidak Ada Tidak Ada Passiengkang

4 Tahun

Penyalinan 1930-an Tidak Ada 1972

5 Asal Usul Naskah

Warisan dari Andi Makkarãka Bèntèngmpola (Ayah Datu Sangaji) Andi Zainal Abidin meminjam dari A.Makkaraka Andi Zainal Abidin

6 Bahan Alas Ketas Eropa Kertas

bergaris/Folio

Kertas bergaris/buku

80Lihat, A.Rachman, Sukiman dalam Laporan Penelitian Sejarah dan Nilai

67

tulis

7 Cap Kertas Nabhan Salim Tidak Ada Tidak Ada

N

o Kategori MS Datu Sangaji Sengkang MS Salim Makassar MS Sudirman Sengkang 8 Jumalah

Baris Perhalaman

Bervariasi 33-38

baris 30 baris 37 baris

9 Jumlah

Halaman 485 halaman 698 halaman 588 halaman

10 Jumlah Jilid 1-21 jilid 3 jilid 4 jilid

11 Keadaan

Naskah 1. Naskah masih bisa

diakses‛terbatas ‛ karena sudah

Dokumen terkait