BAB II RUANG LINGKUP DAN METODE PEGHITUNGAN
R. S, T, U. Jasa Lainnya
Kategori Jasa Lainnya merupakan gabungan 4 kategori pada KBLI 2009.
Kategori ini mempunyai kegiatan yang cukup luas yang meliputi: Kesenian, Hiburan, dan Rekreasi; Jasa Reparasi Komputer Dan Barang Keperluan Pribadi Dan Perlengkapan Rumah Tangga; Jasa Perorangan yang Melayani Rumah Tangga; Kegiatan
Yang Menghasilkan Barang dan Jasa Oleh Rumah Tangga Yang Digunakan Sendiri untuk memenuhi kebutuhan; Jasa Swasta Lainnya termasuk Kegiatan Badan Internasional, seperti PBB dan perwakilan PBB, Badan Regional, IMF, OECD, dan lain-lain.
1. Kesenian, Hiburan dan Rekreasi
Jasa Kesenian, Hiburan dan Rekreasi berkategori R di dalam KBLI 2009.
Kategori ini meliputi kegiatan untuk emenuhi kebutuhan masyarakat umum akan hiburan, kesenian, dan kreativitas, termasuk perpustakaan, arsip, museum, kegiatan kebudayaan lainnya, kegiatan perjudian dan pertaruhan, serta kegiatan olahraga dan rekreasi lainnya.
Output atas dasar harga berlaku diperoleh dengan menggunakan metode pendekatan produksi, yaitu output diperoleh dari hasil perkalian antara indikator produksi dengan indikator harga. Output panggung hiburan/kesenian dihitung berdasarkan pajak tontonan yang diterima pemerintah. Output untuk jasa hiburan dan rekreasi lainnya pada umumnya didasarkan pada hasil perkalian antara jumlah perusahaan dan jumlah tenaga kerja masing-masing dengan rata-rata output per indikatornya. NTB atas dasar harga berlaku diperoleh dari hasil perkalian antara rasio NTB dengan output. Sedangkan output dan NTB atas dasar harga konstan menggunakan metode deflasi/ ekstrapolasi dengan deflator/ ekstrapolatornya adalah IHK rekreasi dan olahraga/indeks indikator produksi yang sesuai.
Sumber data produksi Jasa Kesenian, Hiburan dan Rekreasi diperoleh dari data penunjang intern BPS RI (Ketenagakerjaan, Susenas, Sensus Ekonomi, Statistik Harga Konsumen, dan Survei-survei Khusus yang Dilakukan oleh Direktorat Neraca Produksi dan Direktorat Neraca Pengeluaran).
2. Kegiatan Jasa Lainnya
Kegiatan ini berkategori S yang mencakup kegiatan dari keanggotaan organisasi, jasa reparasi komputer dan barang keperluan pribadi dan perlengkapan rumah tangga, serta berbagai kegiatan jasa perorangan lainnya.
Output atas dasar harga berlaku untuk Jasa Lainnya diperoleh dari perkalian antara masing-masing jumlah tenaga kerja dengan rata-rata output per tenaga kerja.
NTB atas dasar harga berlaku diperoleh dari hasil perkalian antara rasio NTB dengan output. Sedangkan untuk memperoleh output dan NTB atas dasar harga konstan menggunakan metode deflasi dimana deflatornya adalah IHK Umum.
Sumber data yang diperlukan berasal dari data penunjang intern BPS RI (Sensus Ekonomi, Subdit Statistik Demografi, Susenas, Statistik Harga Konsumen).
3. Jasa Perorangan yang Melayani Rumah Tangga; Kegiatan yang Menghasilkan Barang dan Jasa oleh Rumah Tangga yang Digunakan Sendiri untuk Memenuhi Kebutuhan
Kegiatan ini berkategori T di KBLI 2009, mencakup kegiatan yang memanfaatkan Jasa Perorangan Yang Melayani Rumah Tangga yan didalamnya termauk jasa pekerja domestik (pembantu rumah tangga, satpam, tukang kebun, supir, dan sejenisnya), dan Kegiatan Yang Menghasilkan Barang Dan Jasa Oleh Rumah Tangga Yang Digunakan Sendiri Untuk Memenuhi Kebutuhan (didalamnya termasuk kegiatan pertanian, industri, penggalian, konstruksi, dan pengadaan air).
Output atas dasar harga berlaku untuk jasa perorangan yang melayani rumah tangga/ jasa pekerja domestik (pembantu rumah tangga, satpam, tukang kebun, supir, dan sejenisnya) diperoleh dari perkalian antara pengeluaran perkapita untuk jasa pekerja domestik dengan jumlah penduduk pertengahan tahun, sedangkan NTB-nya sama dengan output yang dihasilkan karena konsumsi antara pekerja jasa domestik merupakan pengeluaran konsumsi rumah tangga majikan. Untuk kegiatan yang menghasilkan barang oleh rumah tangga yang digunakan sendiri untuk memenuhi kebutuhan, (pertanian, industri, konstruksi, penggalian) output dan NTB berlaku diperoleh dengan hasil survei intern BPS (SKTIR). Sedangkan output pengadaan air diperoleh dengan pendekatan rumah tangga yang menggunakan pompa dan sumur, baik sumur terlindung maupun tidak terlindung. Sementara itu, output dan NTB atas dasar harga konstan, baik untuk kegiatan pekerja domestik maupun kegiatan menghasilkan barang dan jasa untuk digunakan sendiri oleh rumah tangga diperoleh dengan menggunakan metode deflasi dengan deflatornya laju IHK umum.
Sumber data kategori ini diperoleh dari intern BPS RI, yaitu, Susenas, Sensus Penduduk, Subdit PEK (Publikasi Statistik Air Bersih), dan Survei Khusus yang Dilakukam Direktorat Neraca Pengeluaran BPS RI.
4. Kegiatan Badan Internasional dan Ekstra Internasional Lainnya
Kategori ini berkategori U yang mencakup kegiatan badan internasional, seperti PBB dan perwakilannya, Badan Regional dan lain-lain, termasuk The Internasional Moneter Fund, The World Bank, The World Customs Organization(WHO),
the Organization for Economic Co-operation and Development(OECD), the Organization of Petroleum Exporting Countries(OPEC) dan lain-lain.
Output dan NTB berlaku diperoleh dengan pendekatan biaya yang didapatkan dari laporan keuangan badan internasional dan ekstra internasional lainnya.
Sementara, untuk output konstan diperoleh dengan metode deflasi dengan deflator laju IHK umum.
3 TINJAUAN EKONOMI REGIONAL PDRB KABUPATEN BANJAR
A. NOMINAL PDRB
Perubahan tahun dasar yang dilakukan dari 2000 ke 2010 tentu saja membuat perubahan terhadap besaran nilai nominal PDRB itu sendiri. Nilai nominal PDRB yang tinggi di suatu daerah menunjukkan kinerja perekonomian yang berhasil mengelola potensi sumber daya dan faktor produksi yang ada. Perbandingan besaran nilai nominal PDRB atas dasar harga berlaku kabupaten/kota se Kalimantan Selatan tahun 2015 dapat dilihat pada Gambar 3.1 berikut.
Gambar 3.1. Nominal PDRB Harga Berlaku Kabupaten/Kota Se-Kalimantan Selatan, 2015 (Trilyun Rupiah)
Sumber: BPS Provinsi Kalsel 23,13
18,19 16,19
15,11 12,47
10,80 9,42
6,50 6,48 6,19
5,13 4,78 3,56
0 5 10 15 20 25
Banjarmasin Kotabaru Tanah Bumbu Tabalong Banjar Tanah Laut Balangan Banjarbaru Tapin Barito Kuala HST HSS HSU
Pada Gambar 3.1 dapat dilihat nilai nominal PDRB Kabupaten Banjar atas dasar harga berlaku pada tahun 2015 mencapai 12,47 trilyun rupiah berada diurutan ke lima setelah Banjarmasin, Kotabaru, Tanah Bumbu dan Tabalong. Adapun nilai PDRB terkecil adalah Kabupaten Hulu Sungai Utara sebesar 3,56 trilyun rupiah. Perbedaan nilai nominal PDRB kinerja perekonomian dari masing-masing kabupaten/kota di wilayah Kalimantan Selatan terjadi karena perbedaan potensi sumber daya yang ada di wilayah tersebut.
Dari beberapa faktor produksi yang tersedia, ternyata modal luas wilayah (tanah/lahan) dan ketersediaan sumber daya alam (SDA) menjadi faktor utama dari kemampuan penciptaan nilai tambah. Oleh karena itu semakin besar/banyak faktor produksi yang dimiliki oleh suatu wilayah kabupaten/kota maka akan semakin besar pula kemampuan wilayah tersebut untuk menghasilkan nilai tambah. Sementara itu faktor tenaga kerja di setiap kabupaten/kota di Kalimantan Selatan relatif memiliki kualitas yang berimbang kecuali untuk kota Banjarmasin yang merupakan ibukota provinsi dan tentu saja lebih maju akan memiliki tenaga kerja dengan kualitas yang lebih baik. Selain itu, tersedianya sarana dan prasarana pendukung kegiatan ekonomi juga turut mempengaruhi pembentukan nilai tambah di suatu wilayah.
Dengan wilayah yang relatif luas, beberapa kabupaten seperti Kabupaten Kotabaru, Tanah Bumbu, Tabalong termasuk Banjar mampu menciptakan PDRB diatas 11 trilliun rupiah. Selain itu, daerah-daerah tersebut juga memiliki SDA yang cukup melimpah dibandingkan daerah lain. Sedangkan untuk Kota Banjarmasin meski memiliki luas wilayah yang relatif sempit namun mampu menghasilkan PDRB yang paling tinggi nominalnya. Hal ini disebabkan Banjarmasin sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan sekaligus pusat kegiatan ekonomi memiliki banyak sarana dan prasarana yang sangat mendukung proses kegiatan ekonomi khususnya di sektor sekunder dan tersier seperti industri, konstruksi, perdagangan, hotel dan transportasi, keuangan dan jasa-jasa.
Gambar 3.2. Nominal PDRB Kabupaten Banjar, 2013-2015 dan perkiraan 2016 (Trilyun Rupiah)
Selama tahun 2013-2015 perekonomian regional Kabupaten Banjar dilihat dari sisi besaran nilai nominal PDRB atas dasar harga pasar/berlaku menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Hal ini terjadi tidak lain karena faktor kenaikan harga baik pada unit produksi maupun jasa yang secara langsung akan memberikan andil terhadap kenaikan nilai tambah atas dasar harga berlaku. nominal PDRB Kabupaten Banjar atas dasar harga berlaku selama periode 2013-2015 mengalami peningkatan dari 10,29 trilyun rupiah pada tahun 2013 menjadi 12,47 trilyun rupiah pada tahun 2015 dan diperkirakan tahun 2016 mencapai 13,53 trilyun rupiah. Peningkatan juga terjadi pada nilai PDRB atas dasar harga konstan (tahun dasar = 2010) yaitu tahun 2013 dari 9,07 trilyun rupiah menjadi 9,95 trilyun rupiah pada tahun 2015 dan diperkirakan meningkat menjadi 10,43 trilyun rupiah pada tahun 2016.
B. STRUKTUR EKONOMI
Struktur perekonomian suatu daerah dapat menggambarkan kecenderungan tipe ekonomi suatu daerah. Postur perekonomian Kabupaten Banjar sebelum dan sesudah perubahan tahun dasar dari 2000 ke 2010, menunjukkan bahwa corak perekonomian berada pada tipe agraris. Hal ini terlihat dari besarnya dominasi kategori lapangan usaha pertanian yang menyumbang 18,55 persen dari total PDRB Kabupaten Banjar pada tahun 2015.
10,29 11,46 12,47 13,53
9,07 9,53 9,95 10,43
0 2 4 6 8 10 12 14 16
2013 2014 2015 2016
Harga Berlaku Harga Konstan
Di sisi lain penurunan kontribusi kedua lapangan usaha sektor primer yang telah disebutkan diatas (Pertanian dan Pertambangan) diikuti oleh meningkatnya kontribusi lapangan usaha sekunder dan tersier yaitu Perdagangan dan Jasa-Jasa.
Kategori lapangan usaha perdagangan, dalam kurun waktu 2013-2015 kontribusinya justru meningkat pesat dari 12,14 persen menjadi 13,24 persen dan diperkiraan bertambah lagi menjadi 13,44 persen pada tahun 2016. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa proses pembangunan yang telah dicanangkan pemerintah daerah telah mengurangi dominasi kategori pertanian dan pertambangan di Kabupaten Banjar dalam penciptaan nilai tambah. Lebih lanjut mengenai kontribusi Per kategori Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kabupaten Banjar Atas Dasar Harga Berlaku tahun 2013-2015 dan Perkiraan 2016 dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut ini:
Tabel 3.1. Kontribusi Per Kategori Lapangan Usaha Terhadap PDRB Kabupaten Banjar Atas Dasar Harga Berlaku, 2013-2015 dan Perkiraan 2016 (Persen)
Lapangan Usaha 2013 2014 2015* 2016**
G Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
Pada Gambar 3.3 terlihat bahwa pada kategori lapangan usaha pertambangan menjadi penyumbang PDRB terbesar sekaligus menjadi pintu penghubung perekonomian Kabupaten Banjar dengan ekonomi global. Hal tersebut mengingat sebagian besar komoditas tambang dari Kabupaten Banjar mengalir melalui keran ekspor ke luar negeri. Postur ekonomi (dilihat dari kontribusi PDRB) Kabupaten Banjar menunjukkan bahwa corak perekonomian Kabupaten Banjar masih tergantung pada eksploitasi sumber daya alamnya. Hal ini terlihat dari besarnya kontribusi lapangan usaha pertanian dan pertambangan yang secara agregat menyumbang 36,26 persen PDRB Kabupaten Banjar pada tahun 2015. Kabupaten Banjar didukung oleh wilayah produsen komoditas pertambangan batubara terutama di Kecamatan Sungai Pinang, Paramasan, dan Sambung Makmur.
Gambar 3.3 Struktur Ekonomi Kabupaten Banjar, 2015 (Persen)
C. PERTUMBUHAN EKONOMI
Sebagai bagian dari perekonomian nasional, perekonomian kabupaten Banjar juga tidak luput dari dampak krisis global yang terjadi. Perlambatan ritme ekonomi global turut membawa dampak penyebaran ke berbagai negara/wilayah. Luasnya dampak penyebaran krisis tersebut juga turut menyebabkan pemulihan/recovery perekonomian global menjadi berlarut-larut. Kategori lapangan usaha pertambangan (batubara) yang merupakan salah satu lapangan usaha dominan dalam perekonomian Kabupaten Banjar, yaitu jalur perdagangan (ekspor) batubara menjadi rentan dari penularan dampak perekonomian global, yang pada akhirnya mau tidak mau akan
18,55 18,27
13,24 9,72
7,46 6,86
5,17 4,38
3,44 3,4 3,03
2,19 2,16 1,51
0,32 0,21 0,1
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi… Konstruksi Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan… Industri Pengolahan Jasa Pendidikan Transportasi dan Pergudangan Real Estate Informasi dan Komunikasi Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa Keuangan Jasa lainnya Jasa Perusahaan Pengadaan Air Pengadaan Listrik, Gas
mempengaruhi pergerakan mesin ekonomi Kabupaten Banjar dalam beberapa tahun terkahir ini. Secara agregat, perekonomian Kabupaten Banjar menunjukkan tren yang melambat sejak tahun 2011. Perlambatan tersebut diakibatkan karena melambatnya kategori lapangan usaha yang menjadi sumber pertumbuhan selama ini.
Pertambangan batubara adalah salah satunya. Kontribusi PDRB kategori pertambangan batubara yang besar sangat mempengaruhi besar kecilnya laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banjar. Potret tersebut tergambar dari melemahnya pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banjar dalam kurun waktu tahun 2014 ke 2015. Tren pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banjar secara lebih lanjut dapat dilihat pada Tabel 3.2 berikut ini:
Tabel 3.2. Pertumbuhan PDRB Kabupaten Banjar Menurut Harga Konstan 2010, 2013-2015 dan Perkiraan 2016 (Persen)
Kategori Lapangan Usaha 2013 2014 2015* 2016**
(1) (2) (3) (4) (5)
G Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda
Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
Kontraksi yang terjadi pada sektor pertambangan batubara adalah faktor pemicu utama perlambatan ekonomi di Kabupaten Banjar. Permintaan dunia menjadi salah satu efek dari perlambatan akibat krisis tersebut. Hal ini tampak dari melambatnya permintaan beberapa komoditas dunia, termasuk diantaranya batubara.
Krisis global dan berlebihnya produksi minyak USA, bahkan tertinggi selama seperempat abad terakhir turut menyebabkan permintaan batubara melambat.
Perlambatan permintaan dunia terhadap batubara tercermin dari turunnya harga batubara dan penurunan volume perdagangan batubara (ekspor impor). Kondisi tersebut tentu menyebabkan negara/wilayah yang memproduksi batubara juga terimbas. Kasus tersebut juga berimbas pada perekonomian Kabupaten Banjar pada tahun 2015. Hal serupa terjadi di tingkat nasional, akibat melambatnya tren perekonomian negara utama pengimpor batubara yang kita hasilkan yaitu Tiongkok/China.
Sesuai dengan penjelasan tersebut maka dapat kita lihat pada Tabel 3.2 di atas, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banjar pada tahun 2015 mengalami sedikit perlambatan, yaitu dari 5,08 persen pada tahun 2014 menjadi 4,39 persen pada tahun 2015. Sedangkan percepatan pertumbuhan yang terjadi pada tahun dari 2013 sebesar 4,56 ke 5,08 persen di tahun 2014 yang lalu disebabkan oleh munculnya beberapa perusahaan tambang batubara baru dengan skala kecil, yang mana sebagian produksi batubara dari perusahaan tersebut juga untuk melayani pasar dalam negeri sehingga tidak terlalu terpengaruh oleh kelesuan pasar batubara global. Namun keadaan tersebut dimungkinkan tidak bertahan lama karena kelesuan ekonomi global membuat perusahaan tersebut tidak lagi banyak menghasilkan produksi tambang batubara. Penurunan pada lapangan usaha pertambangan ini diperparah dengan penurunan produksi padi pada lapangan usaha pertanian khususnya tanaman pangan yang tidak dapat menutupi melambatnya salah satu sumber pertumbuhan pertambangan sehingga komplikasi inilah yang membuat terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banjar secara agregat di tahun 2015.
Namun diperkirakan pada tahun 2016 kontraksi sektor pertambangan batubara di Kalimantan Selatan khususnya Kabupaten Banjar akan sedikit membaik dari sebelumnya tumbuh negatif 0,08 persen pada tahun 2015 menjadi tumbuh positif meski cukup kecil yaitu sebesar 0,56 persen di tahun 2016. Hal ini didorong oleh peningkatan ruang bagi pasar ekspor batubara keluar negeri akibat penurunan produksi batubara domestik di Negara Tiongkok dan USA. Kemudian pada tahun 2016
pertumbuhan di subkategori tanaman pangan diperkirakan juga akan membaik yaitu dengan mengalami peningkatan produksi terutama padi sawah melihat kondisi iklim dan cuaca yang cukup bersahabat. Hal ini diharapkan dapat mengatrol naiknya pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banjar menjadi 4,84 persen di tahun 2016 dari sebelumnya 4,39 persen pada tahun 2015. Percepatan pada kategori pertambangan dan pertanian tanaman pangan ini juga berimbas terhadap percepatan kategori lapangan usaha lainnya, seperti kategori perdagangan, transportasi, dan jasa keuangan.
Dalam rangka melihat pertumbuhan ekonomi yang lebih realistis maka pada Tabel 3.2 juga disajikan penghitungan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banjar tanpa pertambangan dan penggalian, karena walaupun kontribusi katagori lapangan usaha/sektornya terbesar kedua setelah pertanian yaitu 18,3 persen, namun serapan tenaga kerja hanya mencapai 3,82 persen. Berdasarkan hasil penghitungan yang tersaji pada tabel tersebut, maka pertumbuhan ekonomi secara total tanpa pertambangan dan penggalian relatif lebih tinggi dibandingkan dengan adanya pertambangan dan penggalian, dimana pada periode tahun 2013-2015 rata-rata mencapai 5,82 persen dan pada tahun 2016 diperkirakan mencapai 5,97 persen.
Gambar 3.4 Kontribusi dan Pertumbuhan PDRB Kabupaten Banjar, 2015 (Persen)
18,55 18,27 13,24 9,72 7,46 6,86 5,17 4,38 3,44 3,40 3,03 2,19 2,16 1,51 0,32 0,21 0,10 2,22 (0,08) 7,66 5,97 8,74 3,46 8,37 6,41 5,38 8,49 6,72 7,33 4,84 5,84 7,22 5,40 27,12
(5) 0 5 10 15 20 25 30
Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Konstruksi Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial… Industri Pengolahan Jasa Pendidikan Transportasi dan Pergudangan Real Estate Informasi dan Komunikasi Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa Keuangan Jasa lainnya Jasa Perusahaan Pengadaan Air Pengadaan Listrik, Gas Kontribusi Pertumbuhan
Selanjutnya Jika dilihat trend dari besarnya kontribusi dan pertumbuhan setiap kategori lapangan usaha seperti pada Gambar 3.4. maka percepatan pertumbuhan yang terjadi pada kategori perdagangan dan konstruksi akan perlahan lahan terus tumbuh signifikan dibandingkan kategori pertambangan dan pertanian sehingga bukan tidak mungkin bila hal ini terus terjadi dalam beberapa waktu kedepan dominasi dari lapangan usaha pertanian dan pertambangan akan tergantikan oleh perdagangan.
D. PDRB PER KAPITA
Pada negara yang sudah maju umumnya memiliki PDRB perkapita yang lebih besar dibandingkan dengan negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Selain pertumbuhan ekonomi, terdapat banyak dimensi yang dicakup untuk mewujudkan kesejahteraan yang lebih baik bagi masyarakat karena pembangunan tidak cukup hanya menyasar pencapaian pertumbuhan ekonomi saja. Akan tetapi ukuran kesejahteraan memang sulit tercakup dalam satu indikator yang komprehensif, karena masalah aspek multidimensi yang melatarbelakanginya. Salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah dengan variabel PDRB per kapita sebagai alternatif yang dapat digunakan untuk melihat tingkat kesejahteraan di suatu daerah. Besaran nilai PDRB per kapita diperoleh dengan membagi nilai PDRB dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun pada waktu tertentu.
Menurut klasifikasi world bank, negara yang berpendapatan per kapita kurang dari $1.045 dikategorikan sebagai negara berpendapatan rendah. Sementara negara yang berpendapatan per kapita antara $1.045-$4.125 termasuk negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income), negara yang memiliki pendapatan per kapita antara $4.125-$12.746 dikategorikan sebagai negara yang berpendapatan menengah tinggi (upper middle income). Sedangkan negara yang memiliki pendapatan per kapita lebih dari $12.746 termasuk negara berpendapatan per kapita tinggi.
Selama kurun tahun 2013-2015 PDRB perkapita atas dasar harga berlaku di Kabupaten Banjar semakin meningkat setiap tahunnya dari 19,18 juta rupiah pada tahun 2013 menjadi 22,48 juta rupiah pada tahun 2015 dan diperkiraan meningkat lagi pada tahun 2016 menjadi 22,47 juta rupiah, atau tumbuh rata-rata 3,05 persen setiap tahunnya. Namun demikian, apabila diukur dalam USD, PDRB perkapita Kabupaten
Banjar masih termasuk dalam jajaran wilayah berpendapatan menengah bawah. Dari sisi PDRB per kapita konstan, PDRB perkapita Kabupaten Banjar cenderung tumbuh melambat selama periode 2013-2015, atau dari 2,97 persen pada tahun 2013 menjadi 2,68 persen pada tahun 2015. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika perekonomian Kabupaten Banjar yang sedang mengalami perlambatan dalam kurun waktu yang sama. PDRB per kapita sebaiknya dilihat atas dasar harga konstan karena lebih mencerminkan keadaan yang sebenarnya di masyarakat. Perkembangan PDRB per kapita di Kabupaten Banjar dapat dilihat pada Tabel 3.3 di bawah ini.
Tabel 3.3. PDRB Per Kapita Kabupaten Banjar, 2013-2015 dan Perkiraan 2016
Uraian 2013 2014 2015* 2016**
(1) (2) (3) (4) (5)
PDRB Perkapita ADHB (Rp ribu)
19.181,1 21.012,9 22.489,2 24.032,77 PDRB Perkapita ADHK
(Rp ribu)
16.910,6 17.474,6 17.943,3 18.531,66 Pertumbuhan PDRB Perkapita
ADHB (persen)
6,40 9,55 7,03 6,86
Pertumbuhan PDRB Perkapita ADHK (persen)
2,97 3,34 2,68 3,28
* Angka sementara
** Angka perkiraan
4 KONTRIBUSI DAN PERTUMBUHAN PDRB MENURUT KATEGORI LAPANGAN USAHA
Perubahan tahun dasar dalam penghitungan PDRB dari tahun 2000 ke 2010 menyebabkan pembagian PDRB menurut lapangan usaha yang sebelumnya terbagi kedalam sembilan sektor berubah menjadi 17 kategori lapangan usaha dan sebagian besar kategori dirinci lagi menjadi bermacam subkategori. Pemecahan menjadi subkategori lapangan usaha ini disesuaikan dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2009. Perkembangan setiap kategori lapangan usaha dalam kurun waktu tiga tahun terakhir (tahun 2013-2015) dan perkiraan tahun 2016 secara lebih detail akan diuraikan pada penjelasan di bawah ini.
A. PERTANIAN, KEHUTANAN DAN PERIKANAN
Lapangan usaha ini mencakup subkategori lapangan usaha Pertanian yang terdiri atas tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan, dan jasa pertanian dan perburuan kemudian subkategori lapangan usaha kehutanan dan Penebangan Kayu, dan subkategori lapangan usaha Perikanan.
Lapangan usaha pertanian tersebut, sejauh ini masih menjadi tumpuan dan harapan dalam penyerapan tenaga kerja.
Pada tahun 2015 Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memberi kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Banjar sebesar 18,55 persen dan diperkirakan kontirbusinya kembali meningkat menjadi 18,76 persen pada tahun 2016.
Subkategori lapangan usaha tanaman pangan dan perikanan merupakan penyumbang nilai tambah Lapangan usaha pertanian terbesar di tahun 2015, yaitu berturut-turut sebesar 33,84 persen dan 34,72 persen dari seluruh nilai tambah pertanian. Namun demikian, pertumbuhan keduanya menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan.
Pada tahun 2015 pertumbuhan lapangan usaha tanaman pangan tumbuh negatif -0,03 persen disebabkan penurunan produksi padi sawah yang gagal panen karena kondisi iklim yang tidak bersahabat. Berbanding terbalik dibandingkan dengan pertumbuhan lapangan usaha perikanan yang tumbuh 4,84 persen.
Kinerja Subkategori lapangan usaha pertanian tanaman pangan Kabupaten Banjar sebagian besar ditopang oleh produksi tanaman padi sawah. Padi sawah memiliki produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan produksi padi ladang.
Namun sebagaimana kita ketahui bersama, kinerja produksi tanaman pangan dan hortikultura masih sangat bergantung pada kondisi iklim.
Sebagai ilustrasi, pada tahun 2013 terjadi banjir yang menyebabkan sawah puso di beberapa daerah produsen padi. Akibatnya pertumbuhan tanaman pangan pada tahun 2013 terjadi kontraksi mencapai 0,73 persen, dan bahkan menurun menjadi -0,16 persen di tahun 2014. Pada tahun 2014 banyak sawah yang gagal panen karena kekeringan. Kekeringan juga terjadi di tahun 2015 sebagai efek dari musim kemarau panjang sehingga banyak sawah yang puso. Namun pada tahun 2016 pertumbuhan Subkategori lapangan usaha tanaman pangan diperkirakan kembali menunjukkan angka positif yaitu 2,14 persen seiring dengan kembali membaiknya peningkatan produksi padi sawah di sentra-sentra wilayah penghasil padi di Kabupaten Banjar antara lain Kecamatan Sungai tabuk, Aluh-aluh, dan Kertak Hanyar.
Hal serupa terjadi pada Subkategori lapangan usaha perikanan yang diperkirakan mengalami percepatan menjadi 5,95 persen di tahun 2016.
Hal serupa terjadi pada Subkategori lapangan usaha perikanan yang diperkirakan mengalami percepatan menjadi 5,95 persen di tahun 2016.