AKUNTABILITAS UNTUK SEMUA
“Salah satu pengaturan penting dalam PSAP ini adalah terkait dengan pilihan kebijakan akuntansi pada saat tidak terse-dia PSAP yang secara spesifik mengatur transaksi, peristiwa atau kondisi tertentu.
Pengaturan ini tentunya dapat menim-bulkan risiko pada kewajaran penyajian LKPP dan LKBUN antara lain terkait de-ngan penyajian kewajiban imbalan paska kerja pensiun PNS, TNI, dan POLRI. Dan penyajian kewajiban kontijensi yang saat ini belum tersedia PSAP-nya,” ucap dia.
Selain itu KSAP juga telah member-lakukan PSAP Nomor 15 mengenai pe-ristiwa setelah tanggal pelaporan. Salah satu pengaturan penting dalam PSAP ini adalah terkait dengan peristiwa pe-nyesuai setelah tanggal pelaporan yang memerlukan penyesuaian angka-angka laporan keuangan atau untuk mengakui peristiwa yang belum disajikan sebelum-nya, antara lain penyelesaian atas putusan pengadilan yang telah bersifat final dan memiliki kekuatan hukum tetap setelah tanggal pelaporan yang memutuskan bah wa entitas memiliki kewajiban kini pa-da tanggal pelaporannya.
Entitas menyesuaikan nilai kewajiban yang terkait dengan penilaian putusan pengadilan tersebut setelah tidak ada upaya lainnya. Pengaturan ini menim-bulkan risiko dalam penyajian nilai kewa-jiban pemerintah yang berasal dari ke-putusan hukum inkracht. Kebijakan akun-tansi pemerintah pusat yang berlaku saat
ini adalah bahwa pencatatan kewajiban pemerintah yang berasal dari putusan hukum inkracht baru dilakukan jika terse-dia anggarannya.
“Praktik dan kebijakan akuntansi ini tidak sejalan dengan pengaturan dalam PSAP Nomor 15 tersebut dimana kewajib-an pemerintah seharusnya dicatat jika pu-tusan pengadilan telah inkracht dan tidak ada upaya lainnya tanpa perlu menunggu ketersediaan anggaran,” ungkap dia.
Evolusi pemeriksaan
Sementara itu, Wakil Ketua BPK Agus Joko Pramono mengangkat perkem-bangan pemeriksaan BPK. Ia meminta seluruh pihak mendorong evolusi peme-riksaan seiring adanya perubahan kondisi lingkungan dimana baik pemda dan pe-merintah pusat tidak lagi bekerja manual.
Dengan kata lain, semua telah mengalami digitalisasi seiring perkembangan infor-masi teknologi.
“Kita ingin evolusi dipercepat, tidak perlu menjadi revolusi, tetapi evolusi yang dipercepat. Mengapa? Karena lingkungan sudah berubah. Pemerintah tidak bekerja manual lagi, pemerintah semua menggu-nakan IT, baik pemerintah daerah apalagi pemerintah pusat,” ucap dia.
Ia pun meminta pemeriksa memper-hatikan beberapa hal terkait perubahan dalam bidang pemeriksaan. Hal pertama yang harus diperhatikan adalah saat ini banyak model pembentukan data telah menggunakan teknologi baru. “Kita harus memperhatikan perkembangan terkait dengan internet of change, absensi, register, dan sebagainya sudah menggu-nakan hal-hal yang bersifat elektronik.”
Bahkan, kata Wakil Ketua BPK, peme-rintah sudah banyak menggunakan cloud commuting dan sistem pengelolaan pe-merintah daerah yang baru telah berbasis web. Hal ini pun sewajarnya mendorong BPK juga untuk berubah. Oleh karena
n Ketua BPK Agung Firman Sampurna
AKUNTABILITAS UNTUK SEMUA
53
WARTA PEMERIKSA n EDISI 1 n VOL. V n JANUARI 2022
itu, ia meminta AKN untuk meningkatkan kemampuan mengenai data science dan data analytics.
Kegiatan Workshop Persiapan Pemeriksaan LKPP, LKKL, dan LKBUN Tahun 2021dilaksanakan selama empat hari (13-14 dan 17-18 Januari 2022) dan diikuti oleh para pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama, serta seluruh tim pemeriksa dan Pokja LKPP, LKKL, dan LKBUN baik secara luring maupun daring.
Adapun Pimpinan Pemeriksaan Keuangan Negara yang hadir yaitu
Anggota I BPK/Pimpinan Pemeriksaan Keuangan Negara I Hendra Susanto, Anggota II BPK/Pimpinan Pemeriksaan Keuangan Negara II Pius Lustrilanang, Anggota III BPK/Pimpinan Pemeriksaan Keuangan Negara III Achsanul Qosasi, Anggota IV BPK/Pimpinan Pemeriksaan Keuangan Negara IV Isma Yatun, Anggota VI BPK/Pimpinan Pemeriksaan Keuangan Negara VI Nyoman Adhi Suryadnyana, dan Anggota VII BPK/
Pimpinan Pemeriksaan Keuangan Negara VII Daniel Lumban Tobing. l
Kita ingin evolusi dipercepat, tidak perlu menjadi revolusi, tetapi evolusi yang dipercepat. Mengapa? Karena lingkungan sudah berubah. Pemerintah tidak bekerja manual lagi, pemerintah semua menggunakan IT, baik pemerintah daerah apalagi pemerintah pusat.
n Wakil Ketua BPK Agus Joko Pramono
AKUNTABILITAS UNTUK SEMUA
A
uditorat Utama KeuanganNegara III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) meng-gelar entry meeting Pemeriksaan Laporan Keuangan Kementerian/
Lembaga Tahun Anggaran 2021. Anggota III/Pimpinan Pemeriksaan Keuangan Negara III BPK Achsanul Qosasi mengingatkan kepa-da para menteri kepa-dan kepala lembaga untuk menindak lanjuti hasil pemeriksaan BPK.
Menurut Achsanul, tindak lanjut hasil peme-riksaan BPK adalah wujud komitmen kemen-terian/lembaga (K/L) dalam meningkatkan akuntabilitas dan transparansi.
“Bagi kami, tindak lanjut itu adalah mah-kota dan ini adalah bagian dari tuntutan rakyat kepada pemerintah untuk menja-lankan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan APBN,” ungkap Achsanul di Auditorium BPK, Jakarta, Kamis (6/1).
Achsanul mengatakan, BPK bersama pemerintah bertugas menjalankan mandat UUD 1945. Dia mengingatkan, konstitusi memberikan amanat baik kepada pemerin-tah maupun BPK untuk menjalankan keuang-an negara secara baik dkeuang-an benar.
Terlebih lagi, ujar Achsanul, entitas yang berada di bawah naungan AKN III men-capai 37 K/L dan mengelola separuh dari total ang garan APBN. “Itu sebabnya saya betul-betul butuh kerja sama Bapak dan Ibu semua supaya transparansi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan keuangan negara ini bisa dijalankan dengan baik,” ungkapnya.
Achsanul memaparkan, saat ini progres penyelesaian tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan (TLRHP) masih perlu perbaikan.
Dia menyoroti beberapa K/L masih perlu meningkatkan upaya tindak lanjut seperti Kementerian Desa dan PDTT yang masih di level 47 persen, Kemenpora 55 persen,