149
antara lain lalat jatiroto (Diatraeophaga striatalis), lalat Sturmiopsis inferens, Apanteles flavipes, Tumidiclava sp. dan Trichogramma spp. (Pramono, 2005).
Parasitoid yang digunakan di PT Perkebunan Nusantara X untuk mengendalikan hama penggerek tebu salah satunya adalah Trichogramma spp. Pembiakan massal sudah dilakukan di unit-unit Pabrik Gula. Pembuatan pias menggunakan kertas manila untuk menempelkan Trichogramma spp. Dalam aplikasinya, pemasangan pias di kebun perlu dievaluasi terutama terhadap persen penetasan Trichogramma spp.
Pelepasan Trichogramma spp. dapat dilakukan dengan cara manual dan mekanis. Pelepasan Trichogramma spp. secara manual sangat umum dilakukan di beberapa negara dimana telah digunakan secara massal sebagai agens pengendali biologi. Pelepasan parasitoid Trichogramma spp. sangat tepat apabila dilakukan sebelum munculnya imago atau awal munculnya imago parasitoid dengan menggunakan wadah yang terbuat dari bambu, karton, kertas, dan kapsul yang diletakkan pada tanaman atau menggantungkan pada tanaman. Selain itu pelepasan parasitoid di lapang sangat perlu dilakukan perlindungan dari predator dan cuaca yang tidak menguntungkan (Li, 1994). Pembuatan pias metode kapsul diharapkan memudahkan aplikasi pias Trichogramma spp. di kebun dan mampu meningkatkan persen penetasan karena telur terlindung dari predator. Menurut Li (1994), beberapa kriteria yang umum digunakan di berbagai negara untuk mengevaluasi kesuksesan pelepasan Trichogramma spp. adalah peningkatan tingkat parasitasi telur hama sasaran, penurunan kepadatan dan kerugian yang disebabkan oleh hama, kecenderungan peningkatan atau penurunan populasi hama, penurunan biaya produksi, peningkatan kepadatan musuh alami, perbaikan kualitas hasil tanaman, dan mengurangi residu pestisida.
2. Bahan Dan Metode
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hayati dan kebun Pusat Penelitian Gula PT Perkebunan Nusantara X pada bulan Februari-April tahun 2018. Bahan yang digunakan adalah telur Corcyra cephalonica dan starter Trichogramma spp. Alat yang digunakan adalah tabung reaksi, styrofoam, kertas manila, gunting, lem, pisau, toples, limbah kertas dan cetakan es. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dengan 3 ulangan. yaitu T1 (Pembuatan pias dengan kapsul dari bahan styrofoam berbentuk bola dengan diameter + 3 cm), T2 (Pembuatan pias dengan kapsul dari bahan limbah kertas berbentuk bola dengan diameter + 3 cm), dan T3 Kontrol (Pembuatan pias dengan kertas manila ukuran 2 x 8 cm). Telur C. cephalonica yang diaplikasikan + 2.000 butir per pias. Starter Trichogramma spp. diinvestasikan ke telur C. cephalonica dalam tabung reaksi. Pelepasan pias Trichogramma spp. dilakukan di dalam toples dan di kebun. Spesies Trichogramma spp. yang digunakan adalah T. japonicum dan T. chilonis yang telah dikembangbiakkan di laboratorium.
Pengamatan dilakukan 1 sd 10 hari setelah penaburan telur. Data yang diambil adalah data jumlah telur C. cephalonica yang terparasit dan jumlah Trichogramma spp. yang menetas baik di laboratorium maupun di kebun. Data yang diperoleh diuji menggunakan analisis ragam (ANOVA). Apabila analisis ragam menunjukkan pengaruh nyata pada perlakuan, maka dilakukan uji lanjut dengan uji Duncan pada taraf nyata 5%, yaitu hasil pengamatan dibandingkan dengan hasil pengamatan pada perlakuan standar/kontrol.
PROSIDING SEMINAR NASIONAL
Status dan Inovasi Teknologi Tanaman Tebu
150
3. Hasil Dan Pembahasan
Keunggulan parasitoid sebagai agen biokontrol telah terbukti karena mereka mampu membunuh hama pada tahap yang paling kritis (telur) sebelum kerusakan terjadi, bahkan juga setelah terbentuk larva. Trichogramma spp. merupakan salah satu parasitoid telur yang dapat menyerang telur beberapa hama Lepidoptera (Rauf, 2000; Ardjanhar et al., 2004; Hamijaya et al.,2004; Wilyus, 2009). Parasitoid telur cenderung lebih efisien untuk mencegah kerusakan dan kerugian yang disebabkan oleh hama penggerek batang dan pucuk tebu, karena proses penekanan populasi terjadi pada fase telur (Meidalima, 2014).
Penggunaan Trichogramma spp. sebagai parasitoid telur, diantaranya dapat dilakukan secara inundatif. Pada teknik inundatif, diperlukan teknik pembiakan alternatif yang tepat waktu, murah, dan mudah. Tepat waktu perbanyakan T. japonicum dan T. chilonis dapat dibuat secara terjadwal, sehingga tersedia sepanjang waktu. Mudah dalam arti bahwa perbanyakan Trichogramma spp. dapat dilakukan dengan metode sederhana antara lain dengan menggunakan inang alternatif. Murah bahwa makanan serangga inang alternatif mudah didapatkan serta dengan harga yang terjangkau. Pada perbanyakan Trichogramma spp. digunakan inang alternatif, yaitu telur serangga gudang yang dapat tersedia sepanjang waktu. Salah satu spesies serangga hama gudang yang digunakan sebagai inang alternatif adalah C. cephalonica.
3.1. Jumlah Telur
Tabel 1 menunjukkan bahwa ada beda nyata jumlah telur pada masing-masing perlakuan. Jumlah telur pada pias kapsul, baik dari styrofoam maupun dari limbah kertas lebih tinggi dibanding pias kertas manila. Jumlah telur yang bisa ditampung pias tersebut sekitar 2 sampai dengan 2,5 kali lipat dari pias kertas manila. Hal tersebut disebabkan oleh luas permukaan kapsul yang berbentuk yang terdapat pada pias berbentuk bola lebih luas dibandingkan pias kertas manila, sehingga dapat menampung telur C. cephalonica lebih banyak. Jumlah telur yang digunakan dalam pengamatan di laboratorium maupun di kebun tidak berbeda nyata setiap piasnya.
Tabel 1. Rerata Jumlah Telur Per Pias
No. Perlakuan Laboratorium Kebun
T. japonicum T. chilonis T. japonicum T. chilonis
1 T1 5.259 c 5.025 c 5.104 c 5.022 c
2 T2 4.580 b 4.394 b 4.488 b 4.389 b
3 T3 2.007 a 2.004 a 2.006 a 2.003 a
Keterangan : angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak ada beda nyata (n=3; p<0,01) pada aras kepercayaan 95%.
3.2. Persentase Parasitasi
Tabel 2 menunjukkan bahwa persentase parasitasi yang paling tinggi terdapat pada perlakuan T2 pada pengamatan di laboratorium maupun di kebun dan yang terendah terdapat pada perlakuan T1. Dari pengamatan juga terlihat bahwa persen parasitasi di laboratorium lebih tinggi dibandingkan di kebun. Parasitasi dapat dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Suhu di laboratorium sudah diatur sesuai dengan perkembangan optimal dari Trichogramma spp, sementara suhu di kebun tidak bisa diatur.
Selain itu keberadaan inang juga mempengaruhi perkembangan embrio di dalam tubuh inang dengan menyedot energi dan makanan pada saat inangnya masih hidup. Jika ketersediaan nutrisi memenuhi di dalam tubuh inang maka akan mendukung perkembangan parasitoid tersebut. Parasitoid aktif memarasit ketika stadia larva dan membutuhkan makanan yang cukup selama di dalam tubuh inangnya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Laba dan
HAMA DAN PENYAKIT
Sabar Dwi Komarrudin : Pembuatan Pias Trichogramma spp. Dengan Metode Kapsul
151
Kartohardjhono (1998) yang menyatakan bahwa parasitoid menyedot energi dan memakan pada waktu inangnya masih hidup, pada tingkat perkembangan tertentu (larva) mungkin hanya memarasit telur/nimfa, pupa atau imago inangnya, parasitoid hanya memarasit ketika ia belum dewasa dan berkembang di dalam atau pada satu inang yang perlahan-lahan sampai parasitoid berkembang dengan sempurna.
Tabel 2. Rerata Persentase Parasitasi
No. Perlakuan Laboratorium Kebun
T. japonicum T. chilonis T. japonicum T. chilonis
1 T1 93 a 92 a 91 a 91 a
2 T2 94 a 94 a 92 a 93 a
3 T3 94 a 93 a 91 aa 90 a
Keterangan : angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak ada beda nyata (n=3; p<0,01) pada aras kepercayaan 95%.
Penurunan parasitasi juga bisa disebabkan jumlah keturunan betina dan jantan berbeda jumlahnya. Persentase keturunan betina semakin meningkat dengan bertambahnya jumlah inang. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hasriyanty et. al. (2007) yang menyatakan bahwa jumlah inang terparasit serta persentase keturunan betina semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah inang, sebaliknya persentase inang terparasit semakin berkurang seiring bertambahnya jumlah inang.
3.3. Persen Penetasan
Tabel 3 menunjukkan bahwa persentase penetasan pias kapsul lebih tinggi dibandingkan pias kertas manila. Dari pengamatan juga terlihat bahwa persen penetasan di laboratorium lebih tinggi dibandingkan di kebun. Penetasan telur dapat dipengaruhi oleh umur dan penurunan kandungan nutrisi di dalam inang parasitoid. Kandungan inang parasitoid yang tidak sesuai untuk perkembangan larva Trichogramma spp. dapat menyebabkan kematian parasitoid. Hal ini sesuai dengan pernyataan Vinson 1994 dalam Susniahti dan Susanto (2005), yang menyatakan bahwa tingkat parasitasi parasitoid dipengaruhi oleh interaksi antara parasitoid dengan inangnya. Interaksi antara keduanya dipengaruhi oleh faktor umur telur, yang dapat dilihat pada proses pengenalan inang, serta nutrisi dalam inang.
Tabel 3. Rerata Persen Penetasan
No. Perlakuan Laboratorium Kebun
T. japonicum T. chilonis T. japonicum T. chilonis
1 T1 96 a 96 a 95 a 94 a
2 T2 96 a 95 a 95 a 95 a
3 T3 95 a 94 a 90 b 90 b
Keterangan : angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak ada beda nyata (n=3; p<0,01) pada aras kepercayaan 95%.
Penurunan penetasan di kebun juga dapat dapat dipengaruhi oleh adanya predator. Hal ini sesuai dengan pernyataan Li (1994), bahwa tidak munculnya imago di kebun dipengaruhi oleh beberapa predator yang menyerang telur yang telah terparasit. Perlindungan terhadap telur diperlukan untuk mencegah predator memakan telur yang telah terparasit.
3.4. Aplikasi Pias di Kebun
Pias dari kertas manila dipasang di daun tebu bagian bawah dan di staples, pada bagian atas dan bawah pias diberi stempet untuk melindungi pias dari predator, kemudian daun ditekuk
PROSIDING SEMINAR NASIONAL
Status dan Inovasi Teknologi Tanaman Tebu
152
ke bawah agar pias terlindungi dari sinar matahari. Pekerjaan memasang pias tersebut kadang tidak dilakukan dengan benar, pemberian stempet kadang tidak dilakukan sehingga pias dapat diserang oleh predator yang mengakibatkan persen penetasan telur Trichogramma spp. tidak optimal.
Pemasangan pias metode kapsul lebih mudah, pias hanya diletakkan di ketiak daun, bahkan di beberapa negara sudah menggunakan drone untuk menyebar pias kapsul ini (Biocare, 2018). Selain melindungi dari predator, pias kapsul ini juga bisa melindungi telur Trichogramma spp. dari cekaman cuaca (Kabiri et.al., 1990).
4. Kesimpulan Dan Saran
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase penetasan Trichogramma spp. pada pias kapsul lebih tinggi dibandingkan pias kertas manila, begitu juga persen penetasan Trichogramma spp. di laboratorium lebih tinggi dibandingkan di kebun. Aplikasi pias kapsul di kebun lebih mudah dibandingkan pias kertas manila.
5. Ucapan Terimakasih
Penulis mengucapkan terimakasih kepada PT Perkebunan Nusantara X yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini. Penulis sangat terbantu oleh kerjasama yang sangat baik dari Bpk Purnomo Aji, SP. selaku kepala Puslit Gula, PTPN X. Penulis juga berterima kasih kepada Sdri Muliah dan Sdr. Eko Wiyono tim Seksi Proteksi yang telah membantu pelaksanaan penelitian ini di lapangan maupun di Laboratorium Hayati Puslit Gula PTPN X
6. Daftar Pustaka
Biocare. 2018. Trichosafe Capsules. https://biocare.de/trichosafe-capsules/. diakses tanggal 22 Oktober 2018.
Hasriyanty, D. Buchori dan Pudjianto. 2007. Efisiensi Pemarasitan Parasitoid Trichogramma chilotraeae Ngaraja dan Nagarkatti (Hymenoptera: Trichogrammatidae) Pada Berbagai Jumlah Inang dan Kepadatan Parasitoid. J. Entomol. Indon., 4 (2): 61-66.
Kabiri, F., J. Frandon, J. Voegele, N. Hawlitzky, & M. Stengel. 1990. Evolution of a Strategy for Inundative Releases of Trichogramma brassicae Bezd. (Hym Trichogrammatidae) against the European Corn Borer, Ostrinia nubilalis Hbn. (Lep. Pyralidae). In proceedings, ANPP-Second International Conference on Agricultural Pests. Versailles, 4-6 Dec., 1990.
Laba W dan A Kartohardjono. 1998. Pelestarian Parasitoid dan Predator dalam Pengendalian Hama Tanamanan. Jurnal Litbang Pertanian, XVII (4).
Li, Ying Li. 1994. Worldwide use of Trichogramma for Biological Control on Different Crops. A Survey In: International Organization for Biological control of Noxious Animal and Plants (IOBC); 43-53. Meidalima D. 2014. Parasitoid Hama Penggerek Batang dan Pucuk Tebu di Cinta Manis, Ogan Ilir
Sumatera Selatan. Biosaintifika, 6:1–7.
Pramono D. 2005. Seri Pengelolaan Hama Tebu secara Terpadu-2. Dioma, Malang
Susniahti N dan A Susanto. 2005. Pengaruh Umur Telur Corcyra cephalonica Stt. yang Diradiasi Ultraviolet Terhadap Perkembangan Parasit Trichogramma japonicum Ash. Agricultura vol.16 No.3. Wilyus. (2009). Survey Eksplorasi Parasitoid Telur Penggerek Batang Padi di Desa Sungai Duren
Kecamatan Jambi Luar Kota. Elektronik Jurnal Prosiding Seminar Nasional BKS PTN Wilayah Indonesia Barat, ISBN 978-979-1415-0-15-7.