• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.2 ELEMEN PENTING STATE BUILDING MASA SADDAM HUSSEIN

2.2.2 Saddam Hussein 42

“Saya datang untuk abadi” kata Saddam kepada beberapa kawannya ketika berhasil memimpin Partai Sosialis Arab Baath mengambil alih kekuasaan kembali di Irak dalam suatu aksi kudeta pada tahun 1968. Komitmen Saddam tersebut ternyata menjadi kenyataan. Partai Baath yang didirikan oleh Michael Aflaq pada tahun 1940-an itu, malang melintang tanpa gangguan berarti di Irak selama 34 tahun terakhir (1968-2002). Kebesaran Partai itu turut membesarkan pula seorang Saddam Hussein dan mengantarkannya menjadi presiden pada tahun 1979. Kejayaan Partai Baath dan Saddam Hussein di Irak, tentu dibayar dengan harga mahal. Kawan maupun lawan telah berguguran untuk mempertahankan kejayaan Partai tersebut dan seorang pemimpinnya. Dalam konteks ini, Saddam tampil menjadi pemimpin Irak yang paling berhasil mengambil pelajaran dari pengalaman masa lalunya.

Konsep Saddam cukup sederhana untuk dapat mempertahankan kekuasaan, selama mungkin di Irak, yaitu mampu mengontrol penuh Partai Baath dan militer. Karena itu, Saddam tidak segan segan menyingkirkan saudara sepupunya sendiri, Menteri Pertahanan Adnan Khafullah (tewas secara misterius dalam suatu kecelakaan helikopter), yang semakin populer karena keberhasilan dalam sejumlah pertempuran pada masa perang Irak-Iran.

Saddam Hussein barangkali baru kali ini menghadapi situasi yang sangat paradoks. Sudah dipastikan 100 persen dari sekitar 11,5 juta rakyat Irak yang

42 Mustafa Abd Rahman.ibid,Hal. 23-27.

mempunyai hak pilih dalam referendum, Selasa 15 Oktober 2002, memilih "Naam" atau "Ya" untuk Saddam.

Meski dukungan rakyat sangat kuat, Saddam justru saat itu mengalami situasi yang paling sulit sejak berkuasa tahun 1979. Kekuasaan Saddam Hussein dirasakan berada di ujung tanduk. Amerika Serikat (AS) sudah bertekad bulat mendongkel kekuasaan Saddam dengan kedok menghancurkan senjata pemusnah massal yang dirniliki Irak. Narnun Saddam dikenal pandai berkelit. Beberapa kali kekuasaan Saddam selamat dari kejatuhan. Guncangan terbesar yang menerpa kekuasaan Saddam adalah meletusnya intifada di kalangan kaum Syiah di Irak Selatan tahun 1991 merryusul kekalahan Irak pada perang Teluk II, dan kasus larinya dua rnenantu Saddam, Hussein Kamel Hassan dan Saddam Kamel Hassan, ke Jordania tahun 1995.

Kekuatan Saddam juga teruji oleh aksi ernbargo total PBB atas Irak sejak tahun 1990. Saddam melalui referendum itu ingin menyampaikan bahwa ia masih didukung dan dicintai rakyatnya. Saddam Hussein lahir pada 28 Aprii 1937 dari keluarga petani miskin di Desa Al Awja dekat Tikrit, IrakTengah. Dari istrinya, Sajida Tulfah, Saddam dikaruniai lima orang anak, yaitu Uday, Qusay, Rana, Raghda, dan Hala.

Ayahnya, Hussein A1 Majid, meninggal sebelum Saddam lahir. Saddam kemudian dididik oleh pamannya, Al Haj Ibrahim, yang menikahi ibunya, Sobhah Tulfah. Ibrahim dikenal sangat keras memperlakukan Saddam. Akibat perlakuan

itu, Saddam selalu berpindah-pindah antara rumah ayah tirinya dan pamanrrya yang lain dari pihak ibu, Khairullah Tulfah.

Pada usia sepuluh tahun, Saddam memberontak pada keluarganya lantaran ia ingin belajar membaca dan menulis. Ia nekat meninggalkan rumah ayah tirinya pada tengah malam menuju rumah pamannya Khairullah Tulfah di Tikrit. Pengalaman masa kecil yang tidak menyenangkan mengantarnya menjelma sebagai sosok yang keras, disiplin, dan cenderung tidak toleran terhadap lawan-Iawan politiknya. Tidak mengherankan bila ia sudah biasa memegang pistol sejak usia 10 tahun. Baginya, Khairullah adalah segalanya karena ia bukan hanya tampil sebagai figur ayah tetapi juga guru khususnya. Khairullah selalu menceritakan tentang perjuangan dirinya, Irakek-Irakeknya yang telah mengorbankan hidup demi Irak. Khairullah menanamkan rasa cinta pada Saddam kecil tentang Nasionalisme Arab yang diusung Partai Baath, serta fanatisme pada kejayaan Irak dulu. Saddam pun tenggelam dalam impian kejayaan politik Irak sejak belia. Ia terkesima dengan Nebuchadnezzar, Raja Babylonia yang menguasai Jerusalem pada tahun 586 SM, Salahuddin Al Ayyubi yang menguasai Jerusalem pada tahun 1187, dan Gamel Abdel Nasser yang berkuasa di Mesir pada tahun 1952 ketika Saddam berusia 15 tahun.

Situasi dunia Arab pada tahun 1950-an dan 1960-an diduga kuat juga turut membentuk kepribadiannya. Pada era tersebut, dunia Arab didominasi ideologi Nasionalis yang menggalang aksi kudeta di sejumlah Negara Arab. Pada usia 20 tahun, tahun 1957, Saddam bergabung dengan Partai Sosialis Arab Baath di Irak.

Ia sangat cepat mendapat kepercayaan Pimpinan Partai Baath. Tahun 1959 ia mendapat tugas dari pimpinan Partai untuk mernbunuh presiden Abdul Karim Kasim. Gagal menjalankan tugas itu, ia lari ke Suriah, kemudian ke Mesir, di mana ia kemudian belajar pada Fakultas Hukum, Universitas Cairo.

Tatkala ia kembali lagi ke Irak pada tahun 1963 menyusul Partai Baath berhasil berkuasa, Saddam dipilih sebagai anggota dewan pimpinan Partai. pendiri Partai, Michel Aflaq, mengagumi kecerdasan dan kepemimpinannya serta mempersiapkan sebagai penggantinya. Pada tahun 1968, Saddam dan kawan-kawannya berhasil melancarkan kudeta dan mengembalikan Partai Baath ke tampuk kekuasaan berkat bantuan kepala intelijen Irak saat itu, Abdel Razek Nayef. Namun, dua pekan setetah kudeta itu, Saddam menangkap Nayef dan mengasingkannya ke luar negeri, kemudian ia tewas seeara misterius di London. Setelah berhasil mengasingkan Razek Nayef dan kawan-kawannya, Saddam praktis tampil sebagai orang kedua dalam jajaran pimpinan Partai Baath setelah presiden Ahmed Hassan Al Bakr. Ia menjabat wakil sekjen Partai dan wakil Dewan Pimpinan Revolusi.

Ketika menjabat wakil presiden, Saddam dikenal menerapkan kebijakan permainan kucing dan tikus.Tatkala mencapai kesepakatan damai dengan gerakan Kurdistan pimpinan Mas'ud Barzani, ia memukul kubu kiri Arab dan Partai komunis Irak. Sebaliknya, jika sedang menjalin hubungan mesra dengan Partai kiri dan komurris, ia memerangi gerakan Kurdistan, bahkan rela mengorbankan hak-hak historis Irak atas Shatt AI Arab pada Shah Iran Reza Pahlevi dalam suatu

perjanjian yang terkenal di Aljazair pada tahun 1975, dengan imbalan Iran melepas dukungannya terhadap gerakan Kurdistan.

Titik balik sejarah modern Irak terjadi ketika Saddam Hussein menjabat presiden pada tahun 1979. Ia benar-benar ingin mernbuktikan sebagai pemimpin Irak yang ingin mengembalikan kejayaan masa Nebuchadnezzar. Saddam segera mengambil momentum guncangan yang menimpa Iran akibat jatuhnya kekuasaan Reza pahlevi dan tampilnya kaum Mullah di bawah pimpinan Ayatollah Imam Khomeini tahun 1979. Ia melancarkan suatu serangan besar ke Iran untuk menaklukkan negeri itu yang ternyata berlangsung selama delapan tahun, 1980-1988.

Hanya berselang dua tahun dari berakhirnya perang Irak-Iran itu, Saddam memerintahkan pasukannya menyerang Kuwait pada 2 Agustus 1990, dan menetapkan Kuwait sebagai Provinsi Irak yang ke-19. Saddam kembali menggunakan legitimasi historis, yakni era dinasti Ottoman, untuk mempertahankan klaimnya atas Kuwait, dimana saat itu Kuwait adalah bagian dari negeri Irak. Iahirlah idealisme Saddam yang dinilai kontroversial.

2.2.3 Militer Irak43

Angkatan Bersenjata Irak terbentuk pada 6 Januari 1921 dengan nama “Satuan Infanteri Imam Musa Qadhim” yang beranggotakan 2.000 personel dan dipimpin oleh sekitar 10 orang Perwira. Mereka sebelumnya mengabdi pada jajaran militer Ottoman yang menguasai Irak sebelum itu. Satuan Infanteri Imam Musa Qadhim itu kemudian bergabung dengan pasukan Sharif Hussein Bin Ali untuk berjuang menegakkan revolusi Arab.

Irak saat itu (1920-1921) sesungguhnya belum membentuk sebagai Negara dengan peta dan perbatasan yang jelas. Namun mulai mundurnya pasukan Ottoman terdesak pasukan lnggris yang menyerang wilayah Irak, membuat para pemimpin Irak saat itu melancarkan revolusi terhadap Inggris pada 30 Juni 1920, dan mereka pun segera mendeklarasikan Negara Irak merdeka. Pemerintahan sementara pertama dipimpin oleh Abdurrahman Nakib dengan Menteri pertahanan Jenderal Dja'far Al Askari. Namun struktur negeri Irak yang sangat sensitif terdiri dari etnik Kurdi, Sunni dan Syiah, membuat militer Irak selalu mengalami situasi dilematis dan terseret dalam pergumulan politik negeri itu. Nama "Satuan Infanteri Imam Musa Qadhim" itu sendiri juga tak terlepas dari tujuan politis. Para pemimpin Irak juga tak habis-habisnya menggunakan militer untuk tujuan politik mereka sampai tahun 1960-an.

Perkembangan militer Irak cukup unik dibanding militer Negara Arab lain. Sejak Partai Baath berhasil memegang kekuasan lagi di Baghdad 17 JuIi 1968, militer Irak serta merta sudah dikendalikan sepenuhnya oleh Partai Baath. Proses

politisasi militer Irak sangat kuat dan luas secara vertikal maupun horizontal bersamaan dengan semakin membesarnya satuan militer pasca berkuasanya Partai Baath itu. Satuan-satuan Partai Baath dengan berbagai bidangnya menyebar merasuk ketubuh militer. Kebijakan keterbukaan secara terbatas yang dianut para pimpinan pelaku kudeta tahun 1968 itu untuk meraih legitimasi politik, membantu satuan-satuan Partai Baath menyebar ditubuh militer secara terbuka, di mana para tentara dan Perwira sering terlibat dalam pertemuan atau konferensi. Partai Baath saat itu juga membentuk lembaga pengarah politik dengan ketua seorang perwira yang ditempatkan di semua satuan militer. Pembentukan lembaga pengarah politik tersebut bertujuan mengantarkan militer Irak menjadi militer ideologis. Supremasi sipil atau Partai Baath atas militer mencapai puncaknya ketika Saddam Hussein berhasil menyingkirkan Presiden Irak Ahmed Hasan Bakr pada tahun 1979 yang dikenal dengan gerakan Juli 1979.

Gerakan Juli 1979 itu juga mengantarkan terjadinya dominasi Tikrit (kota kelahiran Saddam Hussein) di militer maupun pemerintahan. Upaya percobaan kudeta yang gagal oleh Kepala Keamanan Nasional Irak, Nadhim Kazzar. Pada Juni 1973 untuk menggulingkan kekuasaan Presiden Ahmed Hasan Bakr dan Wapres Saddam Hussein, menguak adanya intrik-intrik politik di tubuh Partai Baath. Ketika Saddam naik ketampuk kekuasaan pada bulan Juli 1979, ia langsung membasmi intrik-intrik politik di tubuh Partai Baath dan menghukum mati 103 perwira loyalis Partai Baath yang menjadi lawan politik Presiden Saddam Hussein di dalam tubuh Partai.

Pada tahun 1980-an, Presiden Saddam Hussein semakin memberi prioritas pada pemuda Irak asal Tikrit untuk masuk Akademi Militer. Ketika perang Irak-Iran berakhir pada tahun 1988, warga Tikrit telah menguasai posisi srategis di militer maupun pemerintahan. Dominasi Tikrit itu semakin kuat tatkala Irak menyerang Kuwait tahun 1990, di mana Saddam memberi tempat istimewa pada keluarga, menantu dan orang-orang dekatnya di militer dan pemerintahan.

Pasca Perang Teiuk II tahun 1991, Saddam Hussein kerap tampil bersama kedua putranya, Uday dan Qussay atau saudara sepupunya seperti Ali Hasan A1 Majid dan Watban Tikriti. Dalam konteks ini, Saddam Hussein berhasil menundukkan militer berkat kecerdikannya menempatkan orang-orang yang tidak diragukan loyalitasnya dan mendepak orang-orang yang dicurigai tidak loyal. Lembaga militer Irak pun pada era Saddam Hussein beralih menjadi lembaga yang lebih membela dan melindungi kekuasaan Saddam di Baghdad.

Pengaruh kuat Saddam Hussein di tubuh militer itu ditandai oleh figur Saddam sendiri yang bukan berasal dari jajaran militer, tetapi bisa langsung menyandang pangkat Jenderal besar dan menjabat sebagai Presiden, Ketua Majelis Pimpinan Revolusi dan panglima angkatan bersenjata. Banyak orang sipil di Irak yang dianggap berjasa terhadap Negara, dapat memperoleh pangkat militer cukup tinggi tanpa harus melalui karier militer sebagaimana mestinya. Akan tetapi dalam sejarah modern Irak, memang untuk pertama kalinya seorang Saddam Hussein yang berasal dari sipil menguasai sepenuhnya lembaga militer di negeri itu.

Kelebihan Saddam Hussein yang lain, ia hingga saat itu tidak hanya berhasil menyatukan militer Irak, tetapi berhasil pula menangkal susupan dari luar ke tubuh militer, baik dari pihak oposisi maupun Negara asing. Tantangan serius Saddam terjadi ketika mantan menantunya, Hussein Kamel Hassan, yang mantan Menteri Pertahanan Irak lari dari Baghdad ke Jordania tahun 1995. Hussein Kamel saat itu menyerukan militer Irak bergerak menentang pemerintah, tetapi seruan itu ternyata tidak bergeming. Kini Saddam dengan kekuatan militernya yang tersisa masih mencoba mengadakan perlawanan terhadap kekuatan militer AS yang jauh lebih unggul secara teknologi. Bagi Saddam mungkin yang penting bukan hasil pertempuran dengan AS, tetapi harga diri dan komitmen menjaga kedaulatan negeri Irak yang menjadi tanggung jawab jajaran militer Irak. Itulah yang ingin ditunjukkan pada hari jadi militer Irak ke-78 yang jatuh pada hari Rabu 6 Januari 1999.

Dokumen terkait