HASIL PENELITIAN
SP 2 salah seorang responden menjawab dengan jawaban
seperti yang diatas. Semua subjek penelitian juga telah dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh peneliti dan menjawab dengan benar.
Tes HIV/AIDS dilakukan menurut subjek penelitian perlu karena subjek penelitian bisa mengetahui status HIV mereka dan
xliv
menjadi sesuatu hal yang penting untuk dilakukan , karena kelompok gay memang berisiko untuk terkena HIV.
2. Tahapan untuk melakukan tes HIV
Semua subjek penelitian mampu menjelaskan tahapan-tahapan apa yang dilakukan ketika tes HIV/AIDS. Mereka menjelaskan dengan sangat jelas dan teprinci tentang tahapan-tahapan yang dilakukan untuk melakukan tes HIV/AIDS. Bagi subjek penelitian mereka bisa mejelaskan tentang tahapan-tahapan yang dilakukan untuk tes HIV/AIDS. Salah satu jawaban yang didapat dari responden utama mengenai tahapan-tahapan yang dilakukan untuk tes HIV/AIDS seperti salah satu kutipan dibawah ini
“ pertama konseling sebelum tes, habis itu dilakukan tes nya dilakukan, tahap berikutnya ada konseling post test “,
SP 2
salah satu jawaban dari responden yang merupakan gay dampingan dari LSM Semarang Gaya Community.
Kelompok gay juga tahu bagaimana proses yang dilakukan ketika mereka melakukan tes HIV/AIDS, karena mereka melakukan tes HIV/AIDS dan kelompok gay juga tahu kenapa dilakukan tes HIV/AIDS untuk mereka.
Jawaban semua Subjek Penelitian sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh LSM. Berdasarkan dari informasi LSM, mereka mampu
xlv
menjelaskan tahapan-tahapan untuk tes HIV/AIDS karena mereka sebagian besar sudah malakukan tes HIV/AIDS, selain diberi penyuluhan untuk tes HIV mereka juga diberikan saran untuk tes HIV secara sukarela.
3. Tempat untuk T es HIV/AIDS
Semua subjek penelitian tahu untuk melakukan tes HIV/AIDS dilakukan. Banyak kelompok gay yang melakukan tes HIV/AIDS ditempat yang telah ditunjuk oleh LSM Semarang Gaya Community untuk melakukan tes HIV. Tempat yang ditunjuk oleh LSM Semarang Gaya Community untuk melakukan tes HIV/AIDS adalah Rumah Sakit dr.
Kariadi, dan dua Puskesmas yang bekerja sama dengan LSM yaitu Puske smas Halmahera dan Lebdosari. Berikut adalah merupakan kutipan wawancara dari salah satu subjek penelitian
“ tempat di rs. Kariadi, ato puskesmas yang ditunjuk LSM, puskesmas Lebdosari ato Halmahera”
SP 1
Semua subjek penelitian menyebutkan bahwa tempat dilakukan tes HIV/AIDS sadalah rumah sakit dr. Kariadi Semarang dan Puskesmas yang bekerja sama dengan LSM yaitu Puskesmas Lebdosari dan Puskesmas Halmahera. Dan keempat subjek penelitian melakukan tes secara bersama dan sukarela tanpa adanya paksaan dari pihak tertentu.
xlvi 4. Pencegahan HIV/ AIDS
Sebagian besar subjek penelitian mampu untuk menjelaskan mengenai pencegahan HIV/AIDS. Semua subjek penelitian mengatakan bahwa pemakaian kondom untuk berhubungan seks anal akan aman dan terhindar dari infeksi HIV. Sedangkan untuk pencegahan berikutnya semua subjek penelitian mengatakan bahwa tidak melakukan hubungan seksual dengan cara berganti-ganti pasangan juga dapat terhindar dari infeksi HIV.
Sebagian besar subjek penelitian menyarankan penggunaan kondom dan tidak berganti-ganti pasangan seksual, karena gay merupakan kelompok yang paling berisiko untuk terinfeksi HIV, karena hubungan seksual mereka dengan anal seks dan selalu berganti-ganti pasangan seksualnya.
5. Hasil tes Positif
Sebagian besar subjek penelitian dapat memberikan jawaban yang jelas terhadap tes HIV/AIDS dan bila hasilnya positif. Mereka mengatakan bila tes HIV/AIDS mereka positif mereka akan diberikan dukungan penuh untuk perwatan tambahan seperti informasi perawatan.
Bukan hanya itu saja, bahkan bila perlu pemeriksaan CD 4 dan penggobatan ARV harus dilakukan.
Selain itu LSM juga akan memantau terus bagaimana perkembangan gay yang terinfeksi HIV tersebut. Menurut salah satu dari
xlvii
subjek penelitian bahwa pemberian dukungan penuh dari konselor sangat dibutuhkan, mengingat bahwa HIV merupakan penyakit mematikan yang akan membuat mental mereka jatuh, dan untuk itu konselor juga menyarakan bahwa pemeriksaan CD 4 sebagai lanjutan atas saran dari konselor.
Dan bila perlu pengobatan ARV juga harus dilakukan.Untuk memantau keadaan mereka yang terinfeksi HIV, mereka dibantu oleh pelaporan dari teman sebaya yang tergabung dalam komunitas.
Dan dari semua jawaban subjek penelitian sesuai dengan informan crosscheck.
6. Hasil Negatif
Sebagian besar subjek penelitian juga dapat memberi penjelasan bila tes HIV/AIDS hasilnya negatif. Mereka diberikan pesan-pesan pencegahan HIV/AIDS, saran untuk selalu menggunakan pengaman bila berhubungan seksual dan tidak berganti-ganti pasangan.Menurut salah satu dari keempat subjek penelitian bahwa jika hasil dari tes HIV tersebut negatif maka diberikan pesan-pesan pencegahan dari konselor agar berhati-hati dalam melakukan hubungan seksual, lalu tidak berganti-ganti pasangan seksual dan bila perlu memakai kondom untuk mencegah virus HIV masuk. Dan jika mempunyai pasangan segera untuk menyuruh [pasangan melakukan tes HIV juga, karena pasangan juga belium tentu bebas dari HIV.
7. Gay berisiko terkena HIV/AIDS
xlviii
Sebagian besar subjek penelitian bisa menjelaskan kenapa gay berisiko sekali terhadap HIV/AIDS. Mereka juga menjelasakan seringnya berganti-ganti pasangan seksual menyebabkan seseorang bisa terinfeksi HIV/AIDS dan tidak menggunakan kondom.Salah satu responden mengatakan bahwa kelompok gay berisiko terinfeksi HIV karena gay suka sekali berganti-ganti pasangan, dan terkadang dalam melakukan hubungan seks secara anal mereka juga enggan menggunakan kondom.
Padahal hubungan lewat dubur atau biasa disebut anal seks sangat berisiko sekali penularan penyakit infeksi HIV.
Sebagian besar subjek penelitian juga mengatakan bahwa pola hubungan seksual gay itu berisiko untuk tertular HIV karena pola hubungan gay yang dilakukan secara anal seks dapat menyebabkan penularan virus HIV.
2. FAKTOR PERILAKU
Faktor perilaku sendiri merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kelompok gay yang melakukan tes HIV/AIDS. Salah satu yang berpengaruh adalah efikasi diri atau persepsi diri mengenai seberapa baik diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu . Praktik untuk melakukan tes HIV/AIDS merupakan contoh efikasi diri.
Hasil wawancara peneliti dengan subjek peneliti terhadap faktor perilaku sebagai berikut:
1. Pernah melakukan tes HIV/AIDS
Sebagian besar subjek penelitian mengatakan pernah melakukan tes HIV/AIDS. Mereka melakukan tes HIV/AIDS untuk mengetahui status HIV mereka, karena mereka mengetahui manfaat besar tentang tes
xlix
HIV/AIDS. Sebagian besar subjek penelitian melakukan tes HIV/AIDS tanpa adanya suatu paksaan dari pihak manapun, selain itu mereka mereka melakukan tes karena mereka terdaftar sebagai anggota LSM Semarang Gaya Community. Sebagian besar subjek penelitian melakukan tes HIV/AIDS ketika program dari LSM mengenai anjuran tes HIV dijalankan.
Semua subjek penelitian juga mengatakan mereka melakukan tes HIV/AIDS ketika program untuk tes HIV yang dilakukan oleh LSM Semarang Gaya Community dijalankan, dan semua subjek penelitian juga mengetahu manfaat dilakukan tes tersebut untuk mereka. Salah satunya “ untuk tahu mas status HIV , “ yang merupakan kutipan jawaban dari semua subjek penelitian.
Semua subjek penelitian juga penelitian juga mampu menjelaskan tahapan-tahapan yang dilakukan untuk melakukan tes HIV/AIDS, karena mereka juga sebelumnya diberikan penyuluhan terhadap tahapan-tahapan tes HIV .
2. Tempat melakukan tes HIV/AIDS
Semua subjek penelitian tersebut menjawab mereka melakukan tes HIV/AIDS di salah satu rumah sakit Semarang. Dan mereka menyebutkan satu tempat yang sama yaitu di Rumah Sakit Dr. Kariadi.
Semua subjek penelitian melakukan tes HIV/AIDS di rumah sakit dr.
Kariadi karena pada saat itu jadwal yang telah ditetapkan oleh LSM untuk melakukan tes HIV/AIDS jatuh di rumah sakit dr. Kariadi
Berikut salah satu kutipan wawancara dari responden
l
“ saya melakukan tes di Rumah Sakit dr. Kariadi mas”.
SP 2
3. Biaya untuk melakukan tes HIV/AIDS
Semua subjek penelitian mengatakan bahwa untuk melakukan tes HIV/AIDS tidak dipungut biaya sama sekali atau gratis. Kelompok gay tidak dipungut biaya untuk melakukan tes HIV karena program ini memang tempat untuk menyediakan tempat untuk kelompok yang berisiko tinggi terkena HIV. Salah satu responden utama mengatakan
“gratis mas, gak bayar kok tes HIV nya”.
SP 2