AHLI PPATK
3. Saldi Isra
Perjuangan membersihkan negeri ini dari praktik korupsi dan menyelamat-kan aset-aset negara dari berbagai upaya "pencurian" uang negara memang tidak mudah.Tidak bisa tidak, semua itu membutuhkan kerja keras dan kerjasama semua pihak dan dilakukan secara simultan. Menyelamatkan uang negara tidak cukup hanya dengan membentuk lembaga yang kuat serta aparatur yang berani, melainkan juga harus ditopang dengan berbagai
normahukum yang tidak mudah dipatahkan melalui serangan balik pihak-pihak yang merasa terancam dengan proses penegakan hukum pemberantasan korupsi dan pencucian uang yang tengah dilakukan. Selain harus kokoh, norma tersebut semestinya juga dapat menjangkau perkembangan dan pesatnya kemajuan pola atau modus pencucian uang negara yang dilakukan oleh penjahat-penjahat kerah putih (white collar
crime).
Dalam konteks itulah sebetulnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (UU 8/2010 selanjutnya disebut UU TPPU] hadir.Sebagai produk hukum yang lahir di tengah gurita praktik korupsi, UU TPPU dibentuk dengan semangat mendorong terciptanya stabilitas perekonomian dan integritas sistem keuangan yang terancam oleh tindak pidana pencucian uang. Pada saat yang sama, lahirnya Undang-Undang juga didorong oleh keinginan agar pemberantasan tindak pidana pencucian uang memiliki landasan hukum yang kuat untuk menjamin kepastian hukum dan efektivitas penegakan hukum dalam rangka mengembalikan harta kekayaan hasil tindak pidana. Demi efektivitas penegakannya, sejumlah norma yang dirumuskan di dalam
ketentuan, jika dilihat secara kasat mata terlihat seperti fleksibel (mengandung ketidakpastian), namun jika dipelajari dan ditelaah secara lebih serius norma tersebut sebetulnya tetap menjamin adanya kepastian hukum bagi setiap orang yang dituntut berdasarkan norma dimaksud. Contohnya ketentuan Pasal 69 UU TPPU yang menyatakan, untuk dapat
dilakukan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tindak pidana Pencucian Uang tidak wajib dibuktikan terlebih dahulu tindak pidana asalnya.
Sebagian pihak menilai, ketentuan tersebut mendistorsi ketentuan Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU TPPU, sehingga menyebabkan terjadinya ketidakpastian hukum dan potensial untuk disalahgunakan. Namun, jika ketentuan Pasal 69 UU TPPU dipahami menggunakan pendekatan tafsir sistematis dengan ketentuan Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU TPPU serta pendekatan asas pembentukan peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, tidak ada yang salah dengan
rumusan Pasal 69 UU TPPU maupun rumusan Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU TPPU ini. Sebab, penggunaan frasa "patut diduganya" dalam Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU TPPU memang tidak mengharuskan adanya pembuktian terlebih dahulu terhadap tindak pidana asal. Sebab, yang akan dibuktikan adalah apakah unsur "yang diketahuinya atau patut diduganya" terbukti atau tidak. Di mana, pembuktian unsur tersebut tidak saja bergantung pada ada atau tidaknya pengakuan dari terdakwa, melainkan juga berdasarkan atas bukti-bukti yang dihadirkan kehadapan persidangan dan pembuktian terbalik (terhadap kepemilikan harta bukan kesalahan) yang mesti dilakukan terdakwa berdasarkan Pasal 77 UU TPPU.
Dalam konteks itu, proses pembuktian terhadap tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU TPPU tetap mengacu kepada sistem pembuktian negative wettelijke yang dianut berdasarkan Pasal 183 KUHAP. Dalam hal ini, terpenuhi atau tidaknya unsur "diketahuinya atau patut diduganya" tetap mesti didasarkan pada minimal dua alat bukti yang sah.Di mana, berdasarkan minimal dua alat bukti yang sah itulah hakim harus mendasarkan keyakinan apakah tindak pidana benar-benar telah terjadi di mana si terdakwa adalah orang yang melakukannya atau tidak.
Dengan demikian, penggunaan frasa "patut diduganya" dalam Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU TPPU tersebut tidak dapat dianggap sebagai frasa yang mengandung ketidakpastian. Sebab, maksud dari frasa tersebut sangat jelas dan terang, di mana ia merujuk pada sesuatu yang ada di dalam penguasaan pengetahuan atau keinginan terdakwa. Apalagi, frasa "patut diduganya" juga dijelaskan pula melalui Penjelasan Pasal 5 UU TPPU, bahwa yang dimaksud dengan "patut diduganya" adalah suatu kondisi yang memenuhi setidak-tidaknya pengetahuan, keinginan, atau tujuan pada saat terjadinya transaksi yang diketahuinya yang mengisyaratkan adanya pelanggaran hukum. Sesuai penjelasan tersebut, frasa "patut diduganya" sama sekali tidak mengandung ketidakpastian hukum sebagaimana didalilkan oleh Pemohon dalam permohonannya.
Selain itu, dalam permohonannya Pemohon juga mendalilkan bahwa ketentuan Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU TPPU mengandung potensi pelanggaran hak asasi manusia, khususnya hak untuk mendapatkan perlindungan dan kepastian hukum yang adil. Sebagaimana dijelaskan
sebelumnya, kepastian hukum bagi seseorang yang dihadapkan ke persidangan atas tuduhan melakukan tindak pidana pencucian uang justru terletak pada kejelasan rumusan dari unsur-unsur tindakan yang dikriminalisasi melalui Pasal 3, Pasal 4 dan Pasal 5 UU TPPU. Rumusan norma-norma tersebut memberikan kepastian bagi tersangka/ terdakwa sekaligus pembatasan bagi aparat penegak hukum dalam melakukan proses hukum bagi seseorang yang diduga melakukan tindak pidana pencucian uang. Di mana, dengan unsur-unsur tindak pidana yang disebut dalam Pasal-Pasal tersebut, aparat penegak hukum dibebani tanggung jawab untuk membuktikan bahwa si terdakwa mengetahui atau patut menduga/mengetahui sumber harta yang dikuasainya. Pada saat bersamaan si terdakwa pun diberi hak untuk membuktikan sebaliknya bahwa harta yang dikuasainya bukan berasa! dari suatu tindak pidana. Lalu, bagaimana mungkin dan atas alasan apalagi norma-norma tersebut kemudian dianggap telah menyebabkan terlanggarnya hak atas kepastian hukum yang dimiliki setiap warga negara? Menurut ahli, klaim tersebut sama sekali tidak beralasan.
Selain menggugat rumusan hukum pidana materil sebagaimana telah ahli singgung di atas, Pemohon perkara pengujian UU TPPU ini juga mempersoalkan hukum pidana formil dalam UU TPPU, terutama yang berhubungan dengan kewenangan KPK melakukan penuntutan terhadap tindak pidana pencucian uang dan masalah pembuktian terbalik. Dalam konteks ini, Ahli hanya akanmenerangkan tentang masalah kelembagaan, khususnya kewenangan KPK melakukan penuntutan dalam perkara tindak pidana pencucian uang.
Terkait kewenangan tersebut, Pemohon mempersoalkan norma Pasal 76 ayat (1) UU TPPU dengan rumusan frasa "penuntut umum", di mana menurut Pemohon frasa tersebut tidak mencakup penuntut umum pada KPK. Dalam arti, menurut Pemohon, KPK tidak memiliki kewenangan melakukan penuntutan perkara TPPU.Pemohon menggunakan Pasal 71 ayat (1) dan ayat (2) UU TPPU untuk memperkuat alasannya.
Menurut ahli, alasan tersebut tidaklah tepat. Setidaknya ada tiga alasan yang dapat dikemukakan : pertama, terkait hubungan antar norma dalam UU, khusus antara Pasal 76 ayat (1) dengan Pasal 71 ayat (1), ayat (2) UU TPPU.
Pasal 76 ayat (1) mengatur tentang penyerahan berkas perkara TPPU dari penuntut umum kepada pengadilan negeri (mengatur tentang masalah penuntutan). Pasal 71 ayat (1) dan ayat (2) UU TPPU mengatur tentang tindakan penyidik, penuntut umum dan hakim dalam melakukan permintaan pemblokiran terhadap harta kekayaan yang diketahui atau diduga merupakan hasil tindak pidana. Dalam Penjelasan Pasal 71 ayat (2) dinyatakan, surat permintaan pemblokiran yang dikirim kepada penyedia jasa
keuangan tersebut harus ditandatangani oleh : ... b. kepala kejaksaan negeri untuk tingkat penuntutan. Menurut Pemohon, ketentuan itulah yang menutup
ruang berwenangnya KPK melakukan penuntutan perkara TPPU.
Konstruksi pemahaman yang demikian dapat dikatakan keliru jika dibaca dalam perspektif sistematika pengaturan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam UU TPPU.Sebab, Pemohon menggunakan ketentuan terkait mekanisme pemblokiran sebagai argumen menyatakan KPK tidak berwenang melakukan penuntutan.Harus dipahami bahwa tidak disebut secara eksplisit terkait bagaimana penuntut umum KPK melakukan pemblokiran dalam UU TPPU, bukan berarti KPK tidak berwenang melakukan pemblokiran dan juga penuntutan.Sebab, terkait kewenangan KPK melakukan pemblokiran, sesungguhnya KPK telah diberi kewenangan sesuai Pasal 12 huruf d UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK. Sehingga, UU TPPU tidak perlu lagi mengatur bagaimana KPK memerintahkan pemblokiran terhadap harta kekayaan yang diketahui atau diduga merupakan hasil tindak pidana, khususnya korupsi. Lagi pula, menurut penalaran yang wajar sulit untuk diterima di mana sebuah norma yang mengatur masalah tertentu menjadi dasar untuk mengatur masalah yang lain (norma terkait pemblokiran dijadikan dasar untuk kewenangan penuntutan).
Selain itu, mendasarkan ketidakberwenangan KPK melakukan penuntutan perkara TPPU pada Pasal 71 ayat (1) dan ayat (2) juga tidak dapat dilakukan karena frasa "penuntut umum" dalam Pasal 76 ayat (1) UU TPPU bukanlah ditujukan kepada institusi penegak hukum tertentu, melainkan ditujukan bagi fungsi penuntutan yang melekat kepada penegak hukum yang berprofesi sebagai jaksa. Dalam konteks itu, di bawah institusi penegakan hukum mana pun (apakah Kejaksaan Agung ataupun KPK), penuntut umum sama-sama
memiliki kewenangan melakukan penuntutan terhadap perkara tindak pidana pencucian uang sesuai Pasal 76 ayat (1) UU TPPU.Khusus bagi penuntut umum KPK, dibatasi hanya memiliki kewenangan menuntut perkara TPPU yang pidana asalnya adalah tindak pidana korupsi yang merupakan kewenangan KPK. Kedua, terkait keberadaan penuntut umum.Dengan menggunakan frasa "penuntut umum" yang dimaksud atau dikehendaki oleh Pasal 76 ayat (1) UU TPPU adalah fungsional, bukan institusi.Dalam artinya, penuntut umum yang dimaksud adalah jaksa yang melakukan penuntutan sesuai dengan fungsi dan kewenangannya. Di mana, secara institusional sesuai UU Kejaksaan, UU KPK dan KUHAP para jaksa tersebut hanya bernaung di dua institusi penegak hukum, yaitu Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Dengan menggunakan frasa "penuntut umum" artinya Pasal 76 ayat (1) membuka ruang bagi jaksa yang berada di dua institusi tersebut untuk melakukan penuntutan untuk perkara TPPU sesuai kewenangan yang dimilikinya. Ketiga, dari segi kewenangan yang dimilikinya, KPK merupakan institusi penegak hukum yang diberikan kewenangan melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan terhadap perkara tindak pidana korupsi secara terintegrasi. Di mana, pemberian kewenangan yang demikian didasarkan atas alasan : (1) korupsi telah merugikan keuangan negara, perekonomian negara dan menghambat pembangunan nasional; (2) lembaga pemerintah (dalam hal ini kepolisian dan kejaksaan) belum berfungsi secara efektif dan efisien dalam memberantas korupsi. Untuk itu, kehadiran KPK ditujukan untuk meningkatkan daya
guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan korupsi.
Hasil guna upaya pemberantasan korupsi tidak saja untuk menghukum dan memberikan efek jera kepada si pelaku, melainkan juga bagaimana mengembalikan uang negara yang telah dikorupsi.Untuk itu, upaya pemberantasan korupsi tidaklah cukup hanya mengandalkan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi semata, melainkan mesti diiringi dengan penuntutan terhadap tindak pidana pencucian uang dalam rangka meningkatkan hasil guna berupa pengembalian keuangan negara melalui penelusuran aset (follow the money). Mengingat tindak pidana korupsi seringkali diikuti atau dibarengi dengan tindak pidana pencucian uang dimana fakta-fakta hukum terkait kedua tindak pidana tersebut saling
berhubungan dan saling mendukung bahkan dengan tipologi yang terstruktur maka penanganannya pun harus dilakukan secara terintegrasi.Oleh karena itu, sangat penting untuk menjamin bahwa kewenangan penuntutan tindak pidana pencucian uang yang berasal dari tindak pidana korupsi yang ditangani oleh KPK harus mengikuti kewenangan penuntutan tindak pidana korupsi (sebagai tindak pidana asal) yang dimiliki oleh KPK.Hal ini sejalan dengan prinsip penanganan perkara yang cepat, sederhana, dan biaya ringan sekaligus tercapainya pengembalian keuangan negara yang optimal. Cara demikian akan menjadi salah satu jalan bagaimana kemudian tujuan pembentukan KPK untuk meningkatkan hasil guna upaya pemberantasan korupsi dapat dicapai.
Selain itu, dengan konsep penanganan tindak pidana korupsi terintegrasi oleh KPK, maka pada saat KPK diberi kewenangan melalui UU TPPU melakukan penyidikan dugaan tindak pidana pencucian uang dari tindak pidana korupsi yang ditanganinya, maka secara linear, frasa "penuntut umum" dalam Pasal 76 ayat (1) UU TPPU juga meliputi penuntut umum pada KPK. Atas alasan itu, tidak ada yang patut dipersoalkan dengan kewenangan KPK melakukan penuntutan terhadap tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya adalah tindak pidana korupsi yang ditangani KPK.
Lagi pula, jika seandainya frasa "penuntut umum" dalam ketentuan Pasal 76 Ayat (1) UU TPPU dipahami sesuai maksud yang disampaikan Pemohon, yaitu penuntut umum pada Kejaksaan RI saja, tentunya dugaan tindak pidana pencucian uang yang tindak pidana asalnya adalah tindak pidana korupsi yang ditangani KPK dilimpahkan kepada kejaksaan. Pertanyaannya, apakah sebuah institusi penegak hukum yang memiliki kewenangan penyidikan tindak pidana korupsi secara integral, memiliki kewenangan menyidik tindak pidana pencucian uang, serta memiliki aparatur penyidik dan penuntut umum masih harus melimpahkan perkara pidana pencucian uang yang ada padanya kepada institusi kejaksaan? Bukankah KPK justru adalah lembaga yang melakukan supervisi terhadap upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan kejaksaan? Selain itu, dari segi waktu dan institusi yang terlibat (KPK dan Kejaksaan), di mana letak efiensi dan efektivitas penanganan tindak pidana korupsi berikut dengan tindak pidana lanjutannya?Dengan tidak efektif dan efisien, bukankah tujuan dan maksud dikeluarkannya UU
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan UU KPK menjadi terhalangi? Jadi, menurut Ahli, mempersoalkan kewenangan penuntutan KPK terhadap
perkara TPPU di tengah kondisi norma UU TPPU, tidak lain hanyalah sekedar upaya untuk mengerem upaya pemberantasan korupsi. Pada saat yang sama, hal tersebut patut diduga sebagai upaya untuk membatasi bahkan melumpuhkan kedayagunaan dan kehasilgunaan pemberantasan korupsi yang hampir selalu disertai dengan tindak pidana pencucian uang. Norma yang juga dipersoalkan Pemohon adalah ketentuan Pasal 69 UU
TPPU yang pada pokoknya mengatur bahwa penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan terhadap tindak pidana pencucian uang tidak wajib dibuktikan terlebih dahulu tindak pidana asalnya. Pemohon meminta agar kata "tidak" dinyatakan tidak memiliki kekuatan mengikat.Dengan demikian, menurut Pemohon pemeriksaan terhadap tindak pidana pencucian uang baru dapat dilakukan setelah tindak pidana asal dibuktikan.
Apabila permohonan ini dikabulkan, yang kemudian akan terjadi adalah tidak efektifnya upaya pemberantasan korupsi dan pencucian uang dalam rangka mengembalikan aset-aset negara yang dikorupsi, terbukanya ruang dan waktu yang lebih luas bagi seseorang untuk menyembunyikan harta kekayaan yang bersumber dari tindak pidana (termasuk korupsi), semakin kaburnya data dan informasi terkait sumber harta kekayaan yang diduga berasal dari tindak pidana, serta berubahnya upaya luar biasa pemberantasan korupsi menjadi upaya biasa. Pada gilirannya, usaha untuk segera membawa negeri ini keluar dari cengkeraman perilaku korup tentunya akan semakin berat.
Oleh karena itu, sebagai pengawal konstitusi, Mahkamah Konstitusi mesti mampu menjaga agar Undang-Undang yang substansinya dinilai mampu menjawab kebutuhan upaya pemberantasan korupsi dan tindak pidana lanjutannya secara efektif dan efisien tetap bertahan dan kokoh ditengah berbagai upaya merubuhkannya.Termasuk UU Nomor 8 Tahun 2010 yang sedang diperiksa oleh Mahkamah yang mulia.