A. Realitas objektif mengenai nilai-nilai romantic relationship
5. Saling ketergantungan
Sebagai makhluk sosial, manusia tentunya membutuhkan orang lain dalam segala hal. Tergantung dengan orang lain bukan berarti sebagai manusia kita tidak bisa mandiri atau melakukan maupun menentukan
commit to user
segala keputusan sendiri. Lebih daripada itu, ketergantungan kita akan bantuan orang lain merupakan perwujudan dari adanya hubungan dengan orang lain yang berjalan dengan baik.
a. Saling ketergantungan sebagai bentuk hubungan timbal balik.
Saling ketergantungan melibatkan aktivitas saling/ timbal balik. Hal ini terjadi karena dalam sebuah relationship, ketergantungan ini seyogyanya dilakukan oleh semua individu yang terlibat di dalamnya, sehingga bukan hanya satu orang atau beberapa orang saja yang menggantungkan dirinya pada orang lain, tetapi orang lain juga menggantungkan diri mereka pada kita.
Fahmi (19) dalam wawancaranya mengungkapkan ketergantungan seseorang dengan orang lain sebagai wujud dari adanya hubungan timbal balik berikut ini:
“Jangan nyakitin.. apa.. jangan sakiti orang lah.. gimanapun..
kita makhluk sosial, suatu saat butuh juga orang lain…”
(sumber: wawancara dengan Fahmi, 27 Juli 2010).
Fahmi dalam pendapatnya menyoroti bahwa menyakiti orang lain merupakan hal yang tidak baik dan tidak benar. Hal ini karena menurutnya, di saat yang lain orang yang menyakiti orang lain tersebut bukan tak mungkin juga akan membutuhkan orang lain. Hubungan yang timbal balik sangat dibutuhkan dalam menjalin hubungan yang baik. Salah satu perwujudan dari hubungan timbal balik itu adalah menghindari untuk menyakiti orang lain, agar kita tidak disakiti, dan
commit to user
sebagai makhluk sosial kita tidak bisa menghindari kondisi di mana kita membutuhkan orang lain dalam hidup ini.
b. Saling ketergantungan untuk mempererat hubungan yang telah terjalin Hubungan yang telah terbina akan semakin langgeng dan lebih erat jika masing-masing anggota dalam hubungan tersebut memiliki rasa saling membutuhkan satu sama lain. Paling tidak, dengan dibutuhkannya kita bagi orang lain, maka kita menjadi seseorang yang berarti bagi orang tersebut.
Anggi (21) mengungkapkan mengenai perlunya interdependence dalam romantic relationship seperti apa yang diucapkannya berikut ini:
“ada juga saling membutuhkan.. apa.. kita bergantung dengan orang lain, orang lain pun juga… Jadi, bisa.. apa ya? Bisa saling memberi saling menerima, bisa saling mempererat ikatan satu sama lain, bisa.. ya.. pokoknya gitu lah mbak”.
(sumber: wawancara dengan Anggi, 23 Juli 2010).
Ikatan yang telah terbina sejak kita memulai suatu hubungan dengan orang lain, bisa menjadi lebih erat dengan adanya saling bergantung satu sama lain. Maksudnya di sini bukanlah kita tidak bisa mengandalkan diri kita sendiri, melainkan, keterlibatan seseorang dalam hidup kita menjadi hal yang bisa mendekatkan dan mempererat ikatan yang telah ada tersebut.
c. Saling ketergantungan sebagai bentuk pengorbanan
Romantic relationship memerlukan adanya suatu pengorbanan, terlebih lagi jika hal ini dihubungkan dengan nilai saling ketergantungan. Tak jarang kesenangan dan kepentingan kita harus kita
commit to user
korbankan agar bisa memenuhi kebutuhan pasangan kita (Murray, et. al., 2009).
Hal seperti tersebut di atas tampak pada pendapat Faizah seperti berikut ini:
“… ketergantungan sama pasangan, berarti ada pengorbanan
juga. Misalnya pasangan kita lagi pengen nih… kita melakukan
apa gitu, karena suatu saat kita juga mungkin bakal butuh.. butuh dia, kita juga kudu rela gitu mbak, membuang mimpi dan
kepengenan kita gitu”
(sumber: wawancara dengan Faizah, 1 September 2010).
Kata “saling” yang ada dalam frase “saling ketergantungan” ini menandakan adanya hubungan timbal balik, sehingga memungkinkan adanya hal serupa yang terjadi pada kita maupun partner dalam kita menjalin hubungan tersebut. Sehingga, wajarlah jika ketergantungan ini merupakan bentuk pengorbanan. Benar, ketika saat ini kita dibutuhkan oleh pasangan kita untuk melakukan sesuatu maka adalah suatu hal yang wajar ketika kita mengorbankan kepentingan kita. Hubungan timbal balik tersebut menandakan bahwa suatu saat kita yang akan membutuhkan pasangan kita, dan pada saat itulah pasangan kita yang akan mengorbankan kepentingannya untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan kita.
Nilai-nilai romantic relationship seperti yang tersebut di atas merupakan hal-hal yang seharusnya diaplikasikan dalam menjalin hubungan dengan orang lain, utamanya romantic relationship. Nilai-nilai tersebut perlu dijunjung tinggi dan dilestarikan sehingga tercipta stabilitas hubungan yang baik. Selain itu, nilai-nilai tersebut perlu diaplikasikan dalam kehidupan
commit to user
sehari-hari tanpa syarat, pun dalam romantic relationship yang dijalani oleh para remaja di Indonesia. Sehingga, walau apapun terjadi, seperti halnya muncul penggambaran mengenai nilai-nilai tersebut yang tidak sesuai atau menyimpang terutama melalui media massa, sudah seharusnya hal-hal ini tetap menjadi hal yang ada dalam konteks hubungan yang nyata terjadi di antara individu.
Akhirnya, pada bagian ini telah disajikan temuan data mengenai realitas objektif nilai-nilai romantic relationship. Data ini yang menjadi dasar bagi penyajian temuan data yang lain. Pada bagian selanjutnya merupakan realitas media, yang akan menyajikan temuan data mengenai bagaimana lagu-lagu pop Indonesia era tahun 2000-an yang menjadi bahan kajian penelitian ini menggambarkan nilai-nilai romantic relationship melalui lirik lagu-lagu tersebut.
commit to user 100
B.Realitas Media: Nilai-Nilai Romantic Relationship dalam Lagu-Lagu Pop Indonesia Era Tahun 2000-an
Penelitian ini merupakan studi kultivasi lagu pop Indonesia tahun 2000-an yang mengandung nilai-nilai romantic relationship. Dalam melakukan studi kultivasi terdapat dua prosedur yang harus dijalani. Menurut Signorielli & Morgan (1990), kedua prosedur tersebut adalah:
Melakukan analisis terhadap isi dari produk media yang menjadi kajian dalam penelitian. Hal-hal yang dianalisis antara lain pesan dan nilai-nilai yang terdapat pada isi dari produk media tersebut.
Melakukan investigasi terhadap khalayak sebagai pengguna produk media tersebut, utamanya dalam hal persepsi mereka terhadap konsepsi realitas sosial berdasarkan nilai-nilai yang ditemukan dalam produk media yang menjadi kajian penelitian.
Bagian ini merupakan prosedur pertama dari studi kultivasi seperti yang tersebut di atas. Sehingga, bagian ini merupakan pemaparan mengenai isi lagu- lagu pop Indonesia era tahun 2000-an yang menjadi bahan kajian penelitian ini. Dalam sebuah lagu, terdapat beberapa bagian yang disebut sebagai lirik serta instrumen dari alat musik tertentu. Namun, dalam penelitian ini hanya menampilkan bahasan mengenai lagu, berdasarkan analisis liriknya saja.
Media selalu berisi simbol-simbol dari segala sesuatu yang ada di dunia ini. Simbol-simbol itulah yang disebut dengan realitas simbolik. Lebih lanjut, realitas simbolik merupakan ekspresi simbolik dari realitas objektif. Sehingga, realitas
commit to user
media adalah simbol-simbol yang terdapat dalam isi dari suatu produk media (Bungin, 2007). Dalam konteks penelitian ini, realitas media bisa diketahui dari lirik lagu-lagu pop Indonesia era tahun 2000-an yang menjadi bahan kajian, utamanya yang berhubungan dengan nilai-nilai romantic relationship.
Realitas media pada bagian ini disajikan berdasarkan realitas objektif mengenai nilai-nilai romantic relationship seperti yang telah disajikan pada bagian sebelumnya. Nilai-nilai tersebut adalah: cinta, kepercayaan, kesetiaan, komitmen, dan saling ketergantungan.
Realitas media merupakan realitas simbolik, yaitu realitas yang berupa simbol-simbol dari isi media. Realitas simbolik ini harus diinterpretasi sehingga bisa diketahui pesan dan nilai sesungguhnya yang terkandung di dalamnya. Hal ini dikarenakan realitas yang tampil dalam produk media merupakan hasil konstruksi yang telah mengalami penambahan maupun pengurangan karena mengandung faktor subjektivitas dari produsen media itu sendiri, yaitu orang- orang yang terlibat dalam proses produksi suatu isi produk media.
Media dipercaya menjadi subjek yang mengkonstruksi realitas beserta pandangan, bias, dan pemihakannya. Tony Bennet (dalam Eriyanto, 2001) mengatakan bahwa media dipandang sebagai agen konstruksi sosial yang mendefinisikan realitas sesuai dengan kepentingannya. Realitas yang terdapat di media, dalam hal ini lagu-lagu pop Indonesia era tahun 2000-an dalam bentuk simbol-simbol tersebut mampu menunjukkan bagaimana nilai-nilai romantic relationship ditampilkan. Jika terdapat penyimpangan mengenai nilai-nilai
commit to user
tersebut, maka simbol-simbol itulah yang bisa menampakkan penyimpangan yang ada.
1. Judul dan Alasan Pemilihan Lagu-Lagu Pop Indonesia Era Tahun 2000-an