• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saluran pemasaran kemiri merupakan perpindahan hak kepemilikan

43 sangat penting dilakukan dalam distribusi produksi komoditas kemiri dari petani

hingga ke konsumen akhir guna untuk memperoleh nilai jual sebagai balas jasa

atas hasil komoditinya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada

pemasaran kemiri di Desa Erecinnong Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone

terdapat dua tipe saluran pemasaran yaitu:

5.3.1. Saluran Pemasaran 1

Saluran pemasaran 1 termasuk ke dalam tipe saluran satu tingkat (Two-

level chanel) pada tingkat saluran pemasaran ini mempunyai dua perantara penjualan yaitu pedagang besar dan pedagang pengecer. Dimana pada saluran ini

kemiri yang dijual oleh petani langsung ke pedagang besar yang ada di kota

Makassar dengan sistem melalui sopir mobil yang ada di Desa Erecinnong

Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone, kemudian pedagang besar menjual

kembali kepada pedagang pengecer hingga sampai ke konsumen.

Saluran 1 :

Gambar 2. Saluran pemasaran 1 Kemiri di Desa Erecinnong Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone.

Gambar 2. menunjukkan bahwa pada saluran pemasaran 1, kemiri dijual

langsung ke pedagang besar yang ada di Kota Makassar dengan sistem melalui

sopir mobil yang ada di Desa Erecinnong Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone,

kemudian pedagang besar menjual kemiri tersebut kepada pedagang pengecer,

lalu pedagang pengecer menjual kembali kepada konsumen akhir. Sebagian besar Petani Pedagang Besar Kota Makassar Konsumen Pedagang Pengecer

44 atau sekitar 26 orang dari 30 orang petani lebih memilih saluran ini karena tidak

terlalu panjang dan tidak memerlukan biaya pemasaran yang lebih banyak

sehingga keuntungan yang diterima oleh petani lebih besar.

5.3.2. Saluran Pemasaran II

Saluran pemasaran II termasuk ke dalam tipe saluran dua tingkat (Three-

level chanel), saluran tingkat ini memiliki tiga perantara penjualan yaitu pedagang pengumpul sebagai perantara pertama, pedagang besar sebagai perantara kedua,

dan pedagang pengecer sebagai perantara ketiga hingga sampai ketangan

konsumen akhir.

Saluran 2:

Gambar 3. Saluran pemasaran 2 Kemiri di Desa Erecinnong Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone.

Gambar 3. menunjukan bahwa pada saluran pemasaran II memiliki arus

pemasaran yang lebih panjang dari saluran pemasaran I, dimana pada saluran ini

petani menjual kemiri kepada pedagang pengumpul yang ada di Desa Erecinnong

dengan cara petani yang langsung mendatangi pedagang pengumpul tersebut,

kemudian pedagang pengumpul menjual kepada pedagang besar yang ada di Kota

Makassar, lalu pedagang besar menjual kembali kemiri tersebut ke pedagang

pengecer untuk dijual ke konsumen. Hal tersebut mempengaruhi keuntungan yang

diterima oleh petani yang lebih kecil, karena keuntungan yang diterima oleh Petani Pedagang Pengumpul Desa Erecinnong Pedagang Besar Kota Makassar Konsumen Pedagang Pengecer

45 petani bergantung dari panjang pendeknya arus pemasaran. Hal tersebut

mengakibatkan petani yang memilih saluran ini hanya 4 orang dari 30 orang

petani. Adapun jumlah petani yang termasuk dalam distribusi saluran pemasaran

dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 11. Jumlah petani pada setiap saluran pemasaran di Desa Erecinnong Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone

No Saluran Pemasaran Jumlah Petani Persentase (%) 1 2 Saluran I Saluran II 26 4 86,67 13,33 Jumlah 30 100

Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2020

Tabel 11. menunjukan bahwa dari 30 jumlah petani yang termasuk dalam

distribusi saluran pemasaran, terdapat 26 orang yang termasuk dalam Saluran I

dan 4 orang yang termasuk dalam Saluran II. Hal tersebut sesuai dengan hasil

wawancara dengan petani yang dilakukan peneliti pada saat melakukan penelitian

di Desa Erecinnong yang secara umum mengatakan bahwa rata- rata petani lebih

memilih saluran pemasaran I sebagai arus pemasaran dalam menyalurkan hasil

produksi kemiri mereka, karena Saluran pemasaran ini tidak terlalu panjang

sehingga biya pemasaran yang di keluarkan lebih sedikit.

Namun ada beberapa petani yang menjual hasil produksi kemirinya ke

saluran pemasaran I juga menjual ke saluran pemasaran II, hal tersebut

dikarenakan biasanya petani menjual hasil produksinya dalam jumlah sedikit ke

saluran pemasaran II apabila ada kebutuhan mendadak atau mendesak yang ingin

46 5.4. Margin Pemasaran Kemiri di Desa Erecinnong

Margin pemasaran merupakan selisih antara harga yang dibayarkan oleh

konsumen dan harga yang diterima oleh produsen. Untuk lebih jelasnya maka

dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 12. Margin Saluran Pemasaran Kemiri di Desa Erecinnong Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone

Saluran Status Harga Jual

(Rp/Kg) Harga Beli (Rp/Kg) Margin (Rp) I Petani 29.500 - - Pedagang Besar 31.000 29.500 1.500 Pedagang Pengecer 41.000 31.000 10.000 Total 11.500 II Petani 27. 000 - - Pedagang Pengumpul 29.500 27.000 2.500 Pedagang Besar 31.000 29.500 1.500 Pedagang Pengecer 41.000 31.000 10.000 Total 14.000

Sumber: Data Primer Setelah Diolah, 2020

Tabel 12. menunjukkan bahwa pada saluran pemasaran I petani menjual

kemiri kepada pedagang besar yang ada di Kota Makassar dengan harga

Rp.29.500/Kg, kemudian pedagang pengumpul besar menjual kembali kemiri

tersebut kepada pedagang pengecer dengan harga Rp.31.000/Kg. Dari data

tersebut maka besar memperoleh margin pemasaran sebesar Rp. 1.500/Kg,

kemudian pedagang pengecer menjual kembali kepada konsumen akhir dengan

harga Rp. 41.000/Kg, sehingga pedagang pengecer memperoleh margin

pemasaran yang sangat besar yaitu sebanyak Rp.10.000/kg. Margin Pemasaran

dapat diketahui dengan cara harga yang dibayarkan oleh pedagang di kurangi

47 Pada saluran pemasaran II, menunjukkan bahwa petani menjual kemiri

kepada pedagang pengumpul yang ada di Desa Erecinnong dengan harga

Rp.27.000/Kg, kemudian pedagang pengumpul menjual kemiri tersebut kepada

pedagang besar yang ada di Kota Makassar dengan harga Rp.29.500/Kg, setelah

kemiri tersebut sampai ke pedagang besar kemudian di jual kembali kepada

pedagang pengecer dengan harga Rp. 31.000/Kg. Dari data diatas maka pedagang

kecil memperoleh margin pemasaran sebesar Rp.2.500/Kg, dan pedagang

pengumpul besar juga memperoleh margin pemasaran sebesar Rp.1.500/Kg.

Setelah kemiri tersebut sampai ke tangan pedagang pengecer maka selanjutnya

yaitu pedagang pengecer menjual kembali ke konsumen akhir dengan harga Rp.

41.000/Kg, sehingga pedagang pedagang pengecer memperoleh margin

pemasaran sebesar Rp.10.000/Kg.

Apabila dibandingkan antara Saluran pemasaran I dan II, maka total margin

pemasaran yang lebih besar diterima oleh lembaga pemasar pada saluran

Pemasaran II dengan total Rp.14.000/Kg, dan saluran pemasaran II memperoleh

total margin yang lebih rendah yaitu sebesar Rp. 11.500/ Kg. Hal tersebut

disebabkan karena arus saluran pemasaran II lebih panjang dibandingkan dengan

saluran pemasaran I, sehingga petani lebih banyak yg memilih utuk menyalurkan

produksi kemirinya melalui saluran pemasaran I.

Dokumen terkait