Samoed Sastrowardojo lahir pada 12 September 1894. Pada awalnya, Samoed sebagai penulis buku pelajaran, baik untuk mata pelajaran umum maupun mata pelajaran bahasa. Ketika berusia delapan tahun (1902), ia masuk ke Sekolah Angka Loro (lulus tahun 1907). Setelah itu ia melanjutkan ke
Kweek School Yogyakarta (lulus tahun 1911). Selanjutnya, pada tahun 1913 hingga 1915, ia mengikuti Kursus Guru Bantu Belanda di Bandung dan dilanjutkan mengikuti Kursus Guru Bantu Belanda di Den Haag, Nederland, tahun 1915--1916. Pada tahun 1916--1918, ia mengikuti kursus bahasa Asing dan olah raga di Nederland. Setelah selesai, ia pulang ke tanah kelahirannya. Kemudian, pada tahun 1919--1923, ia diberi kesempatan mengikuti Kursus Kepala Sekolah Belanda di Semarang. Setelah itu, baru pada tahun 1927, ia belajar bahasa Jawa secara otodidak. Selanjutnya, pada tahun 1934-1935, ia belajar diLand en Volkenkunde(Ilmu Pertanahan dan Ilmu Bangsa-bangsa).
Pekerjaan utama Samoed adalah guru. Ia pertama kali mengajar pada tahun 1911 ketika baru tamat dariKweek School. Karena prestasinya yang luar biasa, sejak 1923 ia dipercaya sebagai direktur Holland Inlansche School
(HIS). Bahkan, lima tahun kemudian, ia diangkat menjadi Direktur Normaal School. Ketika tamat dariLand en Volkenkunde(1935), ia langsung diangkat menjadi pejabat di Departemen O & E di Batavia. Jabatan ini dipegang hingga Jepang berkuasa.
Pada masa kemerdekaan, ia dipercaya menjadi anggota Gemeente
(Dewan Kotapraja), Dewan Propinsi, kemudian menjadi pegawai Inspektorat Pendidikan dan Pengajaran. Tahun 1950 hingga 1968 ia menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Setelah pensiun ia kembali aktif menulis di berbagai rubrik di majalah Panjebar Semangat, Jaya Baya, dan
Kumandhang. Namun, sayang sekali, penulis yang dulu pernah aktif di orga-nisasi Boedi Oetomo dan PGHB (Persatuan Guru Hindia Belanda) itu dipanggil Tuhan pada tanggal 22 Oktober 1982.
Karya-karya Samoed bermacam-macam, baik berupa buku pelajaran bahasa Jawa, pelajaran bahasa Melayu, maupun pelajaran Berhitung. Buku-buku tersebut, antara lain, berjudul Siti Karo Slamet, Campur Bawur, Ayo Maca, Sinau Basa, Racikan Basa, Nyamikan, Mardi lan Maryam, Pacitan, Mercu, Sendi Hitungan, Kelip-kelip, dan Membaca dan Membentuk. Kecuali itu, pada masa menjelang akhir hayatnya, ia masih menulis artikel bahasa dan sastra diPanjebar Semangat, Jaya Baya,danKumandhang.
Mangoenwidjaja (1844—1914)
Latar belakang kehidupan Mas Ngabei Mangoenwidjaja tidak banyak yang dapat diungkap. Dari data-data yang sangat terbatas diketahui bahwa ia lahir di Wonogiri pada tahun 1844. Pada mulanya ia bekerja sebagai
Abdi Dalem Mantri Distrik di Bayat, Surakarta, dan tidak lama kemudian diangkat menjadi Abdi Dalem Mantri Pamidji di Surakarta. Selain itu, ia pernah pula menjadi staf (pembantu) di Perpustakaan Radya Pustaka
Surakarta. Dan ia meninggal tahun 1914.
Mengapa Mas Ngabei Mangoenwidjaja dipercaya menjadi Abdi Dalem Mantri Pamiji dan menjadi staf Perpustakaan Radya Pustaka
Surakarta? Barangkali ini karena kepiawaiannya dalam menulis/mengarang. Hal itu terbukti, beberapa karya yang telah diwariskan kepada kita, antara lain,
Warasewaya, Serat Pesthikamaya (Serat Talabulngelmu), Serat Asmaralaya, Serat Galuga Salusur Sari, Serat Prasidajati, Layang Dongeng Wuryalocita, Siti Rokanah, Serat Lambang Praja (Serat Jangka Jayabaya), Serat Kridhaatmaka, Serat Suluk Patak Modin (Pustaka Rancang), Serat Tri Laksita, Serat Gita Gati, Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Kridha Sastra, Serat Pramana Sidi, Dewa Ruci, Pati Centhini, Serat Purwakanthi, Serat Haswatali,
danSerat Jiwandana.
Sebagian karya Mangoenwidjaja tersebut, menurut Quinn, dikate-gorikan sebagai protonovel yang berisi masalah moral dan etika Jawa. Semen-tara itu, sebagian lainnya berupa karya yang berisi ilmu kesempurnaan (filsafat
Jawa) yang menjadi sumber penerangan bagi pembaca. Satu hal yang cukup unik ialah bahwa seluruh karya Mas Ngabei Mangoenwidjaja tidak ada yang diterbitkan olehBalai Pustaka,tetapi oleh penerbit-penerbit swasta sepertiTan Khoen Swie(di Kediri),N.V. Budi Utama,danAlbert Russche(di Surakarta).
Mt. Soephardi (1913—1976)
Seperti tertulis di dalam bukunya Sala Peteng, Rahayu Abeya Pati,
dan Putri Kembang Gayam, pengarang ini bernama Mt. Soephardi. Menurut keterangan penulisnya, singkatan Mt. itu mempunyai sejarah tertentu. Sing-katan huruf M menandai nama asli pengarang, yaitu Mardi, dan huruf t meru-pakan singkatan dari sebagian huruf nama seorang gadis (Suparti). Suparti adalah wanita yang pernah dicintainya, tetapi percintaan mereka tidak ber-lanjut ke jenjang perkawinan.
Mt. Soephardi lahir di Sala tahun 1913. Ayahnya, Marsam, bekerja sebagai mantri garam di Sala. Ibunya, Sukarti, berasal dari Klaten. Mt. Soephardi meninggal pada Minggu, 16 Februari 1976, pukul 21.00, dan jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Jayadiningrat, Sala. Menurut Moch Nursyahid P., Mt. Soephardi meninggal karena sakit. Ia dirawat selama lima hari di RS Kadipala, Surakarta. Sakit itu diderita akibat jatuh saat pergi
njagong ke seorang teman di Pringgalayan. Sebelum jatuh, ia tidak menun-jukkan tanda-tanda sakit. Bahkan, seminggu sebelum sakit, ia masih sempat melayat ke tempat Arswendo Atmowiloto ketika putranya meninggal pada 3 Februari 1976.
Semasa hidupnya Mt. Soephardi termasuk tipe periang dan suka humor. Sejak muda ia memang gemar membaca sastra. Kegemaran itu tampaknya diwarisi oleh ayahnya. Ketika usia makin bertambah, semangat membacanya pun makin menggebu. Bacaannya karya-karya sastra berbahasa Inggris, Perancis, Cina, Jepang, dan Belanda. Beberapa bahasa itu dikuasai dengan baik karena ia pernah mengikuti pendidikan MULO tahun 1930-an. Keahliannya berbahasa asing, terutama Perancis, juga ditunjukkan dengan menulis buku pelajaran untuk SMA berjudulLe Petit Grammer de France.
Karya pengarang yang aktif mengikuti kegiatan kesastraan Jawa yang diselenggarakan di berbagai kota ini beraneka jenis, seperti cerkak, cerbung, novel, dan artikel seni-budaya, kebatinan, ramalan, kejawen, tembang, dan sebagainya. Karena itu, menurut Moch Nursyahid P., tidak mengherankan jika oleh beberapa orang Mt. Soephardi sering dikatakan sebagai pujangga anom ing Surakarta.Novelnya Sala PetengdanPutri Kembang Gayampada mula-nya diterbitkan oleh istrimula-nya (Kartini) di Jayadingratan, Sala, pada Agustus
1938. Namun, tak lama kemudian diterbitkan ulang bekerja sama dengan Boek Astra di Yudanegaran, Yogyakarta.
Novel berikutnya, Rahayu Abeya Pati, yang beranak judul Kaantep-aning Wanita, diterbitkan pertama oleh penerbit yang sama pada Agustus 1939. Novel ini bergambar sampul seorang wanita muda berkain tradisional sambil memegang buku. Kecuali itu, Mt. Soephardi juga menulisSripah, Aja Kibir, Menak Rare, dan Atheist. Tidak diketahui dengan jelas apakah karya-karya itu telah terbit. Sebab, karya-karya-karya-karya itu baru diberitakan akan terbit sebagaimana tercantum dalamcoverbelakangRahayu Abeya Pati.Di samping itu, ia masih juga menulis novel detektifImpala Abang Marundan novel sosial
Tinarang ing Sarangan. Hanya saja, kedua karya itu masih disimpan dalam bentuk tulisan tangan dan belum sempat diketik.
Masa tua Mt. Soephardi diisi dengan keaktifan dalam ilmu kebatinan. Ia menjadi anggota kelompok kebatinan Suryaswatmayayang berarti cahya-ning jiwa kang ngandhut bebener ‘cahaya jiwa yang mengandung kebenaran’
dan berlambang lilin bercahaya tujuh buah dilingkari tulisan berbunyi
swatmaya. Itulah sebabnya, ia mempunyai pandangan dan pengetahuan yang mendalam tentang manusia. Hal itu, antara lain, terlihat dalam novelnya Sala Peteng. Aktivitas kebatinan itu pula yang menyebabkan ia menulis buku berbentuk tembang berjudul Ancala Jarwa. Buku itu berisi berbagai hal mengenaijangkadan ramalan tentang situasi zaman.
Ni Soeprapti
Ketika pada tahun 1939 majalah umum berbahasa Jawa Panjebar Semangat di Surabaya menyiarkan nama-nama (dan foto/gambar) sejumlah
pembantu (redaktur) wanita yang bertugas memegang rubrik bernama “Taman Putri”, salah seorang di antaranya adalah Ni Soeprapti, atau lebih sering dipanggil dengan Soeprapti. Ia muncul dalam lembaran khusus majalah Penje-bar Semangat bersama-sama dengan nama-nama wanita lain seperti S.K. Trimoerti, Maria Ulfah, Sri Koesnapsijah, Siti Soendari, dan Rara Subingah.
Sebagai pembantu rubrik ”Taman Putri”dalam majalah tersebut, Ni Soeprapti juga menulis cerkak dalam rubrik “Crita Cekak”. Akan tetapi, jika diban-dingkan, tulisan untuk rubrik wanita lebih banyak daripadacerkak.
Identitas pengarang wanita ini tidak banyak diketahui, kecuali tempat asalnya, yaitu Yogyakarta. Dapat dinyatakan demikian karena dalam tulisan-tulisannya (di akhir teks) ia sering mencantumkan nama tempat, yaitu Ngeksigondo, dan nama ini ada di Yogyakarta. Entah benar atau tidak per-kiraan ini, yang jelas ia hanya menulis di majalah Panjebar Semangat
walau-pun pada saat itu (masa prakemerdekaan) ada juga beberapa majalah lain seperti Kajawendan Pusaka Surakarta.Sebagai cerpenis, diketahui ia hanya menulis sebuah cerpen berjudul “Padha…Elinge: Temah Tinemu Rahayu” yang dimuat dalam majalah Panjebar Semangat tahun 1941. Cerpen ini menggambarkan sikap dan gagasan wanita Jawa yang harus memegang teguh konseprukundan menjaga kehormatan atau rahasia suami.
Telah disebutkan bahwa Ni Soeprapti lebih banyak menulis artikel kewanitaan dalam rubrik “Taman Putri” dibanding menulis cerpen di rubrik “Crita Cekak” majalahPanjebar Semangat. Seiring dengan visi majalah Pan-jebar Semangat yang bertujuan “mencerdaskan bangsa termasuk di dalamnya wanita”, artikel kewanitaan yang ditulisnya pun berkisar pada pencerahan ilmu bagi kaumnya. Beberapa artikelnya itu, antara lain, “Prabawaning Jagad” (Panjebar Semangat, 1939), “Jangka Putri Wetanan” (Panjebar Semangat, 1939), dan “Luhuring Wanita, Luhuring Bebrayan” (Panjebar Sema -ngat,1939).
Dalam artikel “Prabawaning Jagad” Soeprapti berpandangan bahwa perkembangan yang terjadi di dunia yang luas ini tidak dapat diabaikan. Dunia yang selalu berubah membuktikan bahwa segala sesuatu di dunia tidak pernah berhenti bergerak. Salah satu perubahan dunia yang tidak boleh diabaikan adalah emansipasi wanita. Dikatakan juga bahwa isu emansipasi tidak hanya disebarluaskan oleh wanita, tetapi juga oleh pria. Misalnya, melalui ucapan B. K. P. H. Soerjadiningrat bahwa“De taak van de man is ok de taak van de vrouw”. Artinya, apa yang menjadi tugas pria adalah tugas wanita juga. Pernyataan itu muncul karena pada kenyataannya di dalam kehidupan sehari-hari, lebih-lebih dalam kehidupan politik dan ekonomi, wanita selalu terpojok. Ia mencontohkan beberapa wanita Tiongkok merasa mempunyai tugas yang sama berat dengan pria ketika masyarakatnya terlibat perang. Begitu juga kebangkitan wanita Jepang di masa Perang Dunia. Semua itu membuktikan bahwa pendapat tentang wanita sebagai kanca wingkingsama sekali sudah kuna.
Dalam artikel “Jangkahe Putri Wetanan: Embat-embatan lan Kaum Priya” Soeprapti melontarkan pernyataan bahwa sekarang wanita di negeri Timur tidak mau disepelekan oleh kaum pria. Sebab, sebagai manusia pria dan wanita memiliki harkat dan martabat diri yang sama sehingga keduanya harus hidup berdampingan dan bekerja sama. Oleh karena itu, dikatakan bahwa cara terbaik untuk mencapai cita-cita ialah dengan menyusun kekuatan bersama (tetapi bukan dengan kekuatan otot).
Padmasoesastra (1843—1926)
Nama kecil Padmasoesastra adalah Suwardi. Ia lahir di Sraten, Sura-karta, pada 21 April 1843 (Jumat Pon, 21 Mulud, tahun 1771). Ayahnya bernama Ngabei Bangsajuda. Ia adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kakak perempuannya diperistri oleh Wiraredja. Menurut Wiradat Supardi (1961), Padmasoesastra masih keturunan Panembahan Senopati. Secara kronologis silsilahnya adalah Panembahan Senopati Nyai Tumenggung Mayang --Tumenggung Wiraguna -- Kyai Anggajuda Kentol Bangsatruna -- Kyai Bangsajuda (Panglawe Desa Ngaran) -- Ngabei Bangsajuda -- Ngabei Sindu-pradja (Panewu Gedongkiwa, bergelar Ngabei Bangsajuda) -- Padmasoesastra.
Setelah dewasa Suwardi menikah (dinikahkan) dengan seorang wanita sederhana yang biasa dipanggil Nyai Boging (sayang wanita ini tidak diketahui asal-usulnya). Pernikahan mereka menghasilkan dua anak laki-laki. Anak pertama, setelah diangkat menjadi bupati anom, bernama Raden Tu-menggung Mangoendipoera. Bakat mengarang ayahnya tampaknya diwarisi oleh anak laki-lakinya itu. Mangoendipoera mempunyai seorang anak bernama Suwarna yang berprofesi sebagai dokter. Sementara itu, anak kedua, bernama R. Ng. Djajakartika. R. Ng. Djajakartika mempunyai tiga anak, yaitu (1) Hendranata, seorang dokter, (2) Hardjawiraga, seorang pengarang yang handal seperti kakeknya, dan (3) seorang putri yang diperistri oleh Dr. Permadi. Pada masa selanjutnya, anak Hardjawiraga yang bernama Marbangun dan anak Hendranata yang bernama Winarna dikenal sebagai jurnalis yang handal.
Menurut keterangan Imam Supardi, Suwardi (Ki Padmasoesastra) me-nentang keras praktik poligami. Karena itu, pernikahannya dengan Ni Boging merupakan pernikahan pertama dan untuk selamanya. Oleh karena itu pula, ia merasa sangat kehilangan setelah istri yang dicintainya mendahului dipanggil Tuhan dalam usia 75 tahun. Pada waktu itu, usia perkawinan Ki Padma-soesastra sudah mencapai 50 tahun lebih dan telah dikaruniai dua anak, lima cucu, dan 16 cicit. Meskipun sedih karena ditinggalkan mati istrinya, Ki Padmasoesastra tetap rajin menulis. Aktivitasnya itu dilakukan untuk meng-hibur rasa sedihnya meskipun sulit dihilangkan. Oleh karena rasa sayangnya kepada mendiang istrinya, ia berpesan agar kelak dikubur di samping istrinya di pemakaman Kebonlayu. Pesan itu dilaksanakan oleh anak cucunya ketika Ki Padmasoesastra wafat pada tahun 1926 dalam usia 82 tahun.
Sejak kecil kecerdasan Suwardi (Ki Padmasoesastra) sudah menga-gumkan meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan pondok pesantren. Kepandaiannya di bidang baca tulis Jawa dan Latin merupakan hasil didikan orang tua sejak berusia 6 tahun. Berkat kecerdasannya tersebut,
sejak berusia 9 tahun Suwardi dimagangkan untuk memangku jabatan ayahnya sebagai mantri gedhongdi Kasunanan Surakarta dengan gelar Ngabei Karta-dirana. Ia biasa dipanggilGus Beikarena usianya yang masih remaja. Sejak itu kariernya terus menanjak. Pada usia 18 tahun, ia diangkat menjadi mantri sadana (petugas hukum) di bagian administrasi pemerintahan Gedong Kiwa dengan gelar Mas Ngabei Bangsajuda.
Setelah ditunjuk sebagai asisten jaksa, beberapa tahun kemudian ia diangkat menjadi panewu jaksa sepuh (kepala kejaksaan) di Gedong Kiwa merangkap Ketua Pengadilan Kepatihan, dengan gelar Mas Ngabei Karti-pradata. Ketika berusia 21 tahun, nasib malang menimpanya. Ia diberhentikan dari tugas dan jabatannya karena terlibat utang-piutang dengan rentenir Cina. Sejak saat itu ia melepaskan diri dari ikatan-ikatan tradisi keraton dan menjadi
wong mardika ‘orang bebas’. Kebebasannya itu sering diungkapkan dalam
buku-buku terbitannya. Dalam sampul Serat Wirit Sopanalaya (Rangga-warsita, 1912) danParamasastra(Ranggawarsita, 1922), misalnya, tercantum ungkapannya yang berbunyi “Ki Padmasoesastra tiyang mardika ingkang marsudi kasusastran Jawi” ‘Ki Padmasoesastra orang bebas yang menekuni kesusastraan Jawa’. Secara tersirat, ungkapan itu menunjukkan kekecewaan
dan kekesal-annya atas pemecatan dirinya sebagai punggawa (pejabat) kasunanan dalam usianya yang masih dalam pematangan. Oleh karena itu, ketika ditawari Van der Pant untuk menjadi sekretaris dan sekaligus sebagai asistennya diGymnasium Koning Willem III Bagian B di Betawi tahun 1883, tawaran tersebut diterimanya dengan senang hati.
Sejak bekerja bersama Van der Pant, proses kreatif menulis Ki Pad-masoesastra mulai tumbuh dengan baik. Atas prakarsa dan arahan Van der Pant, ia memperbaiki, menyunting, dan mengubah karya prosa berjudul Bok Randha Gunawacanakarangan Surjawidjaja menjadiSerat Durcara Arjayang diterbitkan pada tahun 1886. Setelah Van der Pant kembali ke negeri Belanda, Ki Padmasoesastra pulang ke Surakarta, kemudian menjadi staf redaksi Bra-martani.
Pengalaman dan pengetahuan Padmasoesastra terus bertambah berkat hubungannya dengan sarjana-sarjana Belanda. Ia pernah berada di negeri Belanda selama satu tahun (1890—1891) atas undangan De Nooy. Di Belanda, ia diajak De Nooy untuk menyusun daftar kata bahasa Jawa dengan ragam penggunaannya. Ia juga menyusun Serat Urapsari yang memuat contoh-contoh percakapan bahasa Jawa dan informasi tentang unggah-ungguh ‘tata
-krama’. Sekembalinya dari Belanda, ia tinggal beberapa waktu di Surakarta,
Walbeem, pengganti Van der Pant, untuk menyusun acuan bahan ajar bahasa Jawa sambil menyusun buku-bukunya sendiri. Setelah kembali ke Surakarta, pada 7 Juni 1899, ia diangkat menjadi Kepala Perpustakaan Museum Radya Pustaka dengan gelar Ngabei Wirapustaka. Secara politis, pengangkatan itu merupakan rehabilitasi namanya yang pernah tercemar. Di Radya Pustaka ia bertugas menangani dan memperkaya koleksi naskah dan karya cetak, mengawasi percetakan dan penerbitan, menyunting surat kabar Sasadara dan
Candrakanta, serta menerbitkan Waradarma. Pada tahun 1920, Ki Padma-soesastra diangkat menjadi panemu garap (kepala tata usaha) di Kantor Pa-mong Praja, diberi gelar Ngabei Prajapustaka. Empat tahun kemudian (1924) ia pensiun dan pada 1926 meninggal dunia dalam usia 82 tahun (Quinn, 1995). Ketekunan Ki Padmasoesastra membaca karya-karya sarjana Belanda amat berpengaruh pada tulisan-tulisannya. Dari pengalaman dan karya tulisnya dapat diketahui bahwa Padmasoesastra bukan hanya tokoh sastra dan bahasa Jawa, melainkan juga budayawan dan jurnalis. Karya-karyanya cukup banyak dan isinya beragam, di antaranyaSejarah Surakarta tuwin Ngayogyakartaatau
Sejarah Pangiwa Panengen (babad, 1909) dan Nitik Keraton Surakarta
(babad, 1912); Serat Kancil tanpa Sekar (dongeng, 1909); Serat Rangsang Tuban(novel, terbit 1912, 1922, 1960, dan 1985); Serat Prabangkara(novel, 1912), Serat Kandha Bumi (novel, 1924); dan Serat Kabar Angin (novel, belum terbit). Selain itu, ia juga menulis karya kebahasaan, misalnya, Serat Tatacara (1907, 1911, 1980, 1983) dan Serat Hariwarta (1916); dan buku yang berisi etika dan etiket, misalnya, Serat Piwulang Becik (1911), Serat Subasita(1914), Serat Madu Basa II (1918), Serat Madu Wasita(1918), dan
Serat Erang-Erang(1922).
Padmasoesastra juga menyunting karya fiksi berjudul Bok Rondha Gunawacana karya Surjawidjaja dan Van der Pant menjadi Serat Durcara Arja (terbit 1816, 1912), selain memprakarsai penerbitan Serat Wirit Sopanalaya (1912), Serat Pustaka Raja (1912), Serat Paramayoga (1912),
Paramasastra (1922), dan Wedhasastra karya Ranggawarsita; Serat Wara-iswara (1896) karya Pakoeboewana X; Serat Dwijaiswara (1899), Salo-kantara, Darmalaksita, Wirawiyata, Warayagnya, Nayaka-wara, Salolatama, Wedhatama, Tripama, Manuara, Serat Iber-Iber, dan Serat Sekar-Sekaran
karya Mangkoenagara IV; danSrimatayakarya Poeradipoera. Padmasoesastra juga mengutip, mengumpulkan, dan menerbitkan karya orang lain, misalnya
Baletri(1900 dan 1914) danBurat Wangi(1907).
Berkat kelebihannya itu Ki Padmasoesastra oleh beberapa ahli digolongkan sebagai tokoh sastra, bahasa, dan budaya Jawa pada masa transisi
hingga awal abad ke-20. Dalam buku berjudul Ki Padma-soesastra (1916) Imam Supardi mengupas sejarah, pengetahuan, ajaran, dan perjuangan tokoh ini bagi bahasa dan kesusastraan Jawa. Dikemukakan bahwa sikap Padma-soesastra keras dan pemberani dalam menghadapi siapa pun. Dalam usianya yang sudah tua, ia masih sempat mengadakan kursus bahasa dan sastra Jawa serta kursus karang-mengarang di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. Beberapa muridnya kemudian menjadi penulis yang tangguh, misalnya R.P. Partahardja, Jie Siang Ling, Wignjahardja, dan Martadarsana.
Jauh sebelum itu, sekitar tahun 1890, Ki Padmasoesastra sudah men-jadi tokoh dalam bidang pengajaran bahasa Jawa. Bahkan, buku-bukunya kemudian banyak dikutip dan dijadikan acuan dalam penyusunan buku pegangan dan buku bacaan di sekolah-sekolah. Misalnya, dalam buku Serat Warna Sari Basa susunan Kats (1929), antara lain, dimuat kutipan Serat Tatacara, Layang Basa Jawa, Serat Urap Sari, Serat Erang-Erang, danSerat Kancil Tanpa Sekar. Kats (1939) juga mengutip Serat Rangsang Tubandalam bukunya Punika Pepethikan saking Serat Jawi ingkang Tanpa Sekar; sedangkan Prawiradihardjo (1957) juga mengutip Serat tatacara dalam bukunyaBurat Sari.
Quinn menyatakan bahwa Serat Urap Sari dan Serat Warna Basa
masih menjadi sumber utama rujukan bagi banyak ahli. Kedua buku itu mengetengahkan pemakaian unggah-ungguh basa Jawa ‘tingkat tutur bahasa Jawa’ (mencakupi ragam ngoko, madya, krama, dan basa kedhaton) yang kemudian dikutip oleh beberapa penyusun buku tata bahasa Jawa. Misalnya
Karti Basa(Kementerian P.P. dan K, 1946),Serat Paramasastra Jawi Modern
(Dwidjasoesana, 1952), Konklusi Parama-sastra dan Persamaannya Jawa Indonesia(Prawiratmadja, 1955),Reringkesaning Paramasastra Jawi (Antun-suhana, 1965), Paramasastra Jawi (Sastrasoepadma, 1957), Tata Sastra
(Hadiwidjana, 1967), Cengkoronganing Paramasastra Jawi (anonim), dan
Paramasastra Jawi (Hadisoebrata). Serat Tatacara yang menguraikan ber-bagai ucapan yang dijalin dalam gaya dialog menggunakan bahasa Jawa ragam
ngoko, madya, dankrama sesuai dengan tingkat social pemakainya itu masih dianggap relevan sampai sekarang. BahkanSerat Tatacaraitu dijadikan acuan
dalam mata kuliah “Pranata Masyarakat Jawa” di Fakutas Sastra Universitas
Gadjah Mada.
Padmosoekotjo (1909--1986)
Nama kecilnya Sitam. Nama Padmosoekotjo ditambahkan setelah ia menikah sehingga menjadi Sitam Padmosoekotjo. Tetapi, akhirnya populer
dengan nama S. Padmosoekotjo. Ia lahir pada 28 Juni 1909 di Desa Kum-pulrejo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Padmo-soekotjo menamatkan pendidikannormaal school ‘sekolah guru’ di Purworejo
tahun 1929. Tamat dari sekolah itu ia ditugaskan sebagai guruSekolah Angko Lorodi Desa Loning, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo.
Belum lama mengajar, Padmosoekotjo kemudian dinikahkan dengan seorang gadis, putri seorang guru Sekolah Angka Loro tahun 1933. Setelah menikah inilah--sesuai adat-istiadat Jawa waktu itu--Sitam diberi nama tua Padmosoekotjo. Dari pernikahannya itu lahirlah tiga orang putra (1 laki-laki dan 2 perempuan). Setelah beberapa tahun mengajar, ia dimutasikan ke
Hollands Inslandsche School (HIS), yaitu sekolah yang menggunakan bahasa pengantar bahasa Belanda dan murid-muridnya adalah anak-anak dari kalangan priayi.
Ketika pemerintahan diambil alih oleh Jepang (1942—1945), Padmo-soekotjo diangkat menjadikoco sensai‘penilik’ yang membawahi 17 sekolah
di Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo. Berkat prestasinya (peringkat pertama) dalam kursus bahasa Jepang, ia ditunjuk sebagai pemandu dan pendamping pejabat Jepang yang datang ke Purworejo sehingga ia pun ditawari akan disekolahkan ke Jepang. Bahkan, ia juga ditawari untuk menjadi
daidanco ‘perwira’ dan sanco ‘camat’ di Kemiri oleh pemerintah Jepang,
tetapi tawaran itu ditolak karena Padmosoekotjo lebih senang menjadi guru. Pada tahun 1944—1947 ia dipercaya menjadi kepala sekolah rakyat (SR). Profesi sebagai guru ditekuninya hingga zaman kemerdekaan.
Pada tahun 1947, bersama dua kawannya, Kawidi dan Soetoko, Pad-mosoekotjo membuka Sekolah Guru bagian B (SGB) di Purworejo. Sejak itu, ia beralih tugas menjadi guru di SGB tersebut. Di sekolah itu ia memegang mata pelajaran bahasa (dan sastra) Jawa dan berhitung. Pada tahun 1961 SGB