BAB III PERTANIAN PERKOTAAN MANDIRI SEBAGAI KONSEP
C. Sampah Organik
Banyaknya aktivitas di perkotaan banyak menghasilkan limbah padat berupa sampah. Sampah dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organic yaitu sampah yang mudah diuraikan dalam proses alami. Terdiri dari bahan-bahan penyusun tumbuhan dan hewan yang diambil dari alam atau dihasilkan dari kegiatan pertanian, perikanan atau yang lainnya. Sampah anorganik adalah sampah yang berasal dari sumber daya alam yang tidak diperbaharui seperti botol kaca, kaleng dan plastik, atau yang diuraikan dalam jangka waktu yang relatif lama seperti kayu, tulang dan kertas (Suprihatin, et al, 1996 dalam Ika, 2006).
Peningkatan aktivitas perkotaan yang berbanding lurus dengan peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan konsumsi semakin tinggi. Konsumsi yang tinggi juga mengakibatkan semakin tingginya produksi sampah. Pertambahan sampah di perkotaan tidak dibarengi dengan adanya suatu sistem pengolahan sampah yang baik, sehigga selain kurangnya
kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, terjadi juga penumpukan sampah. Tumpukan sampah yang tidak diolah dengan baik merupakan sumber bibit-bibit penyakit dan mengakibatkan polusi udara. Pembuangan sampah di sembarang tempat terutama seperti di sungai atau selokan dapat mengakibatkan air tersumbat sehinngga ketika hujan datang tidak jarang terjadi banjir yang kita sebut dengan banjir bandang.
Pengelolaan sampah saat ini hanya sebatas pada 3P (pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan). Padahal sampah-sampah tersebut dapat dimafaatkan agar lebih bernilai guna dengan menjadikan sampah-sampah organik menjadi kompos atau dengan melakukan daur ulang sampah-sampah anorganik. Sehingga sampah-sampah tidak lagi menjadi sumber penyakit dan berdampak negatif bagi lingkungan melainkan dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Salah satu cara untuk mengatasi problem sampah yang menggunung adalah dengan memanfaatkan sampah organik untuk diolah menjadi pupuk alami (kompos). Jika sampah rumah tangga dapat diolah menjadi kompos, dapat dihitung berapa volume sampah dapat dikurangi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pengomposan ialah:
1. Kelembaban timbunan bahan kompos. Kegiatan dan kehidupan mikrobia sangat dipengaruhi oleh kelembaban yang cukup, tidak terlalu kering maupun basah atau tergenang.
2. Aerasi timbunan. Aerasi berhubungan erat dengan kelengasan. Apabila terlalu anaerob mikrobia yang hidup hanya mikrobia anaerob saja, mikrobia aerob mati atau terhambat pertumbuhannya. Sedangkan bila terlalu aerob udara bebas masuk ke dalam timbunan bahan yang
dikomposkan umumnya menyebabkan hilangnya nitrogen relatif banyak karena menguap berupa NH3.
3. Temperatur harus dijaga tidak terlampau tinggi (maksimum 60 0C). Selama pengomposan selalu timbul panas sehingga bahan organik yang dikomposkan temperaturnya naik bahkan sering temperatur mencampai 60 0C. Pada temperatur tersebut mikrobia mati atau sedikit sekali yang hidup. Untuk menurunkan temperatur umumnya dilakukan pembalikan timbunan bakal kompos.
4. Proses pengomposan kebanyakan menghasilkan asam-asam organik, sehingga menyebabkan pH turun. Pembalikan timbunan mempunyai dampak netralisasi kemasaman.
5. Netralisasi kemasaman sering dilakukan dengan menambah bahan pengapuran misalnya kapur, dolomit atau abu. Pemberian abu tidak hanya menetralisasi tetapi juga menambah hara Ca, K dan Mg dalam kompos yang dibuat.
6. Kadang-kadang untuk mempercepat dan meningkatkan kualitas kompos, timbunan diberi pupuk yang mengandung hara terutama P. Perkembangan mikrobia yang cepat memerlukan hara lain termasuk P. Sebetulnya P disediakan untuk mikrobia sehingga perkembangannya dan kegiatannya menjadi lebih cepat. Pemberian hara ini juga meningkatkan kualitas kompos yang dihasilkan karena kadar P dalam kompos lebih tinggi dari biasa, karena residu P sukar tercuci dan tidak menguap.
Roadmap pengembangan pertanian kota secara mandiri disusun mengacu pada payung riset unggulan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yaitu Wawasan Lingkungan dan Sainstek. Payung riset unggulan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya tahun 2012 disusun dengan mempertimbangkan Visi dan Misi institusi, tuntutan stakeholder, pola ilmiah pokok institusi dan kinerja penelitian yang telah dilakukan. Penjabaran rencana induk penelitian universitas dan roadmap penelitian Fakultas Pertanian UWKS telah disusun roadmap penelitian dengan tema pokok pengembangan pertanian kota secara mandiri. Pembangunan pertanian kota bertumpu pada interdisipliner keilmuan yaitu biologi, ekologi, pertanian, ilmu sosial dan ekonomi, namun pada pokok bahasannya dibatasi pada pengembangan pertanian secara teknis. Komponen pengembangan pertanian kota secara mandiri adalah
1. Pengembangan teknik budidaya tanaman meliputi tanaman hutan kota, tanaman obat, tanaman buah, tanaman sayur dan tanaman hias;
2. Penggunaan limbah kerukan lumpur tanah endapan perairan perkotaan sebagai media tanam tanaman ;
3. Penggunaan sampah organik perkotaan yang meliputi sampah daun kering, sampah pasar, sampah rumah tangga, dan tumbuhan air sebagai bahan pupuk organik padat (kompos) dan pupuk organik cair (POC) 4. Penggunaan tanaman-tanaman hutan kota sebagi bahan biopestisida
dan sebagai pupuk hijau
Secara skematis roadmap pengembangan pertanian kota yang mandiri disajikan pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Roadmap penelitian pengembangan pertanian kota secara mandiri
E. Penggunaan Limbah Kerukan Lumpur Endapan Perairan
Secara periodik Dinas Pekerjaan Umum dan Pematusan Kota Surabaya melakukan pengerukan terhadap kali, waduk, selokan yang mengalami pendangkalan. Sedangkan pengerukan kali besar dilakukan oleh Balai Besar Aliran Sungai. Jumlah lumpur tanah endapan sangat banyak. Selama ini tanah kerukan kali ditumpuk ditepi kali (Gunungsari), kerukan waduk ditumpuk di tepi waduk (Kebaron dan Wiyung), sedangkan tanah kerukan selokan dibuang di tempat-tempat yang
membutuhkan urug misalnya tanah Kas Desa (Jambangan). Kedepan pengerukan masih terus dilakukan dan tempat pembuangan semakin terbatas sehingga berpotensi menimbulkan lingkungan yang kumuh.
Roadmap penelitian penggunaan libah kerukan lumpur endapan perairan dengan luaran sebagai berikut:
1. Kajian terhadap sifat-sifat fisik dan sifat kimia lumpur endapan perairan berdasarkan asal dan potensinya untuk media tanam. 2. Komposisi campuran kompos enceng gondok dengan lumpur
tanah endapan perairan sebagai media tanam tanaman pertanian; 3. Komposisi campuran kompos daun kering dengan lumpur tanah
endapan perairan sebagai media tanam tanaman pertanian;
4. Komposisi campuran kompos sampah basah dengan lumpur tanah endapan perairan sebagai media tanam tanaman pertanian
F. Penggunaan Sampah Organik Sebagai Pupuk Organik
Sampah organik perkotaan (Surabaya) terdiri dari sampah rumah tangga, sampah pasar, sampah daun hasil perantingan tanaman hutan kota, limbah pengerukan tumbuhan air, sampah limbah kelapa muda, dan sisa tanaman hasil panen. Roadmap penelitian penggunaan sampah organik perkotaan dengan luaran sebagai berikut:
1. Teknologi tepat guna dalam pengomposan masal enceng gondok; 2. Teknologi tepat guna dalam pengomposan masal sampah daun
kering
3. Teknologi tepat guna dalam pengomposan masal sampah basah (sampah rumah tangga dan sampah pasar);
4. Teknologi tepat guna pembuatan pupuk organik cair (POC) berbahan baku sampah organik perkotaan;
5. Teknologi tepat guna pembuatan pupuk organik cair (POC) berbahan baku air lindi sampah basah;
G. Pemanfaatan Biomas Tumbuhan/Tanaman Hutan Kota
Ada banyak jenis tumbuhan yang ditanam sebagai tanaman hutan kota di Surabaya. Diantara tumbuhan tersebut banyak yang bisa dimanfaatkan dalam pengendalian hama tanaman mulai mengusir, menolak kehadiran sampai dengan membunuh berbagai jenis hama tanaman. Roadmap penelitian Pemanfaatan biomas tumbuhan/tanaman hutan kota dengan luaran sebagai berikut:
1. Kajian daya tolak (daya repelensi) ekstrak tumbuhan hutan kota terhadap kehadiran hama tanaman;
2. Kajian biopestisida berbahan baku ekstrak tumbuhan hutan kota; 3. Kajian pemanfaatan ekstrak segar daun tanaman hutan kota sebagai
pupuk hijau.
H. Teknik Budidaya Tanaman Pertanian Kota
Petani perkotaan bebas memilih jenis komoditas yang akan dikembangkan meliputi berbagai jenis tanaman sayuran, tanaman sayur buah, tanaman buah, tanaman hias, pengembangan taman, pembangunan hutan kota dan lain sebagainya. Teknologi budidaya umumnya menggunakan teknologi budidaya lahan sempit, yaitu budidaya tanaman dengan pot atau polibag, vertikultur, dan budidaya tanaman model teras. Teknik budidaya dipilih yang menggunakan media tanah. Roadmap penelitian Teknik Budidaya Tanaman Pertanian Kota dengan luaran sebagai berikut:
1. Kajian campuran tanah endapan perairan dan pupuk kompos sebagai media tanam dalam budidaya tanaman Sayuran;
2. Kajian campuran tanah endapan perairan dan pupuk kompos sebagai media tanam dalam budidaya tanaman Sayur buah;
3. Kajian campuran tanah endapan perairan dan pupuk kompos sebagai media tanam dalam budidaya tanaman buah dalam pot;
4. Kajian campuran tanah endapan perairan dan pupuk kompos sebagai media tanam dalam budidaya tanaman hias;
5. Kajian campuran tanah endapan perairan dan pupuk kompos sebagai media tanam dalam vertikultur;
I. Pengembangan Roadmap Pembangunan Pertanian Kota yang Mandiri
Pengembangan roadmap pembangunan pertanian kota yang mandiri dilakukan dengan mengintensifkan analisis masing-masing komponen dan mengkombinasikan antar beberapa komponen sehingga mendapatkan formulasi yang optimal. Pemilihan jenis tumbuhan, jenis tanaman maupun jenis komoditas yang dikembangkan akan berubah setiap saat sesuai dengan selera dan kebutuhan masyarakat saat itu. Tindak lanjut roadmap sangat dinamis tergantung dari tuntutan stakeholders.
Selain secara teknis roadmap bisa dikembangkan dengan memasukan aspek sosiologis dan aspek ekonomis. Pilihan teknologi yang secara teknis sudah layak perlu diuji secara sosiologis seberapa jauh masyarakat dapat mengadopsi teknologi tersebut dan melakukannya dalam kegiatan sehari-hari, serta perlu kajian secara ekonomis tentang keuntungan yang didapatkan dari kegiatan pertanian kota. Bentuk keuntungan dari kegiatan pertanian kota tidak semata-mata keuntungan
finansial. Banyak amsyarakat kota melakukan kegiatan pertanian sebagai penyalur hobi atau pengisi waktu sehingga bentuk kepuasan batin merupakan nilai manfaat yang tidak dapat dinilai dengan uang.
Tindak lanjut roadmap bisa dilakukan secara kelembagaan atau dilakukan oleh instansi. Nilai manfaat yang didapatkan lebih pada nilai manfaat bersama atau dapat meningkatkan kualitas hidup yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat kota. Lahan pertanian yang hijau, asri, indah akan menarik setiap orang. Keindahan dan keasrian kota Surabaya sudah menjadi ikon dan brand kota Surabaya yang sudah dikenal secara nasional bahkan internasional.
BAB IV
TEKNIK PENGOMPOSAN MASAL SAMPAH PERKOTAAN