BAB 5. PEMBAHASAN
5.7 Pengaruh Faktor SPO terhadap Penerapan K3 di RSU. Mitra
SPO adalah pandangan petugas pelaksana terhadap SPO dan pedoman tertulis yang digunakan untuk menerapkan K3 yang meliputi unsur kepatuhan, pemahaman, keterlibatan, sosialisasi, ketersediaan dan penilaian atas SPO yang telah disusun.
Diperoleh hasil bahwa variabel SPO secara keseluruhan dikategorikan tidak baik yaitu 53%. Pandangan yang negatif ini disebabkan beberapa tahun sebelumnya, SPO terkait penerapan K3RS belum ada, sehingga aturan kerja ini dianggap merepotkan.
Juga, diperoleh hasil bahwa petugas pelaksana menyatakan rumah sakit melibatkan petugas di setiap instalasi/bagian dalam menyusun SPO kerja lebih banyak menjawab tidak setuju (46%). Menurut penulis, hal ini terjadi karena pimpinan kadang hanya melibatkan kepala instalasi/bagian dalam menyusun SPO kerja, tanpa melibatkan langsung para petugas pelaksana atau masih bersifat top-down dalam sistem manajemennya.
Petugas pelaksana menyatakan SPO kerja harus disosialisasikan ke seluruh petugas di instalasi/bagian terkait lebih banyak menjawab tidak setuju (44%). Petugas pelaksana menyatakan SPO mengenai pengelolahan B3 di rumah sakit telah baik lebih banyak menjawab tidak setuju (50%). Kedua hal ini disebabkan beberapa SPO
kerja dan K3 terlalu kaku, rumit diterapkan dan sulit dipahami sehingga pada akhirnya menambah beban kerja petugas pelaksana.
Pada akhirnya petugas pelaksana juga menyatakan SPO kerja tersedia dan mudah dicari di setiap instalasi/bagian rumah sakit lebih banyak tidak setuju (48%).
Dokumen SPO dan pedoman tertulis lainnya di beberapa instalasi belum tersedia atau belum lengkap, tetapi hanya terdapat di perpustakaan rumah sakit. Beberapa dokumen SPO kerja bahkan sudah hilang dan tidak beraturan karena tidak disimpan dengan rapi dan baik di instalasi tersebut.
Seluruh hal diatas didukung oleh hasil uji regresi linier berganda dari penelitian ini yangmenunjukkan ada pengaruh signifikan antara SPO terhadap penerapan K3 di RSU. Mitra Medika Medan dengan nilai p<0,05. Kemudian, jika ditinjau dari nilai koefisien regresi SPO menunjukkan 0,140, berarti setiap peningkatan SPO akan mengakibatkan peningkatan penerapan K3 sebesar 0,140 di RSU. Mitra Medika Medan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor SPO dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk meningkatkan penerapan K3 di rumah sakit.Hal ini berarti SPO rumah sakit mendukung terhadap penerapan K3 di rumah sakit.
Ini juga sesuai dengan penelitian Siregar (2014) yang menyatakan bahwa variabel kepatuhan terhadap prosedur berhubungan dengan kecelakaan ringan pada pekerja produksi shift pagi di PT Aqua Golden Mississippi Bekasi dan penelitian Arifin (2005) terhadap pekerja di PT. Bukaka Teknik Utama, Cileungsi yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kepatuhan dalam menjalankan prosedur terhadap tingginya kejadian KAK. Dipertegas oleh pendapat Geller (2001) yang
menyatakan bahwa kepatuhan adalah salah satu bentuk perilaku yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kepatuhan terhadap SPO juga memiliki peranan penting dalam menciptakan keselamatan di tempat kerja dan mengurangi angka KAK.
Bahkan menurut Ratnawati (2010), pengembangan dan penggunaan SPO merupakan salah satu faktor kesuksesan sistem kualitas, dimana SPO menyediakan informasi untuk melakukan suatu pekerjaan dengan benar bagi tiap personil, dan mempermudah dalam menerapkan kekonsistenan dalam kualitas dan integritas suatu produk atau hasil akhir.Kendati demikian, hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Saragih (2014) yang menunjukkan hasil bahwa tidak ada pengaruh SPO terhadap kejadian KAK pada karyawan lapangan PT. Global pada Bendungan PLTA di Desa Simanabun Kecamatan Silau Kahean Kabupaten Simalungun.
Perbedaan hasil penelitian seperti diatas terjadi karena menurut teori Kelman (1966) banyak sekali faktor yang memengaruhi kepatuhan seorang individu dalam berperilaku, khususnya pada tahap awal. Mula-mula individu akanmematuhi anjuran atau instruksi petugas tanpa kerelaan untuk melakukan tindakan tersebut dan seringkali karena ingin menghindari hukuman/sanksi jika tidak patuh atau untuk memperoleh imbalan yang dijanjikan jika mematuhi anjuran tersebut. Bila tidak diawasi, maka individu akan tidak patuh kembali. Jadi, maksudnya dalam penerapan K3 untuk mencegah PAK dan KAK ini dapat saja terjadi bukan karena keberadaan SPO dalam suatu organisasi melainkan karena faktor terpaksa.
5.8 Pengaruh Faktor Kepemimpinan terhadap Penerapan K3 di RSU. Mitra Medika Medan Tahun 2016
Kepemimpinan petugas pelaksana berkaitan denganpandangan petugas pelaksana kepada kepala instalasi/bagian dan pimpinan rumah sakit dalam menjalankan tanggung jawab sertamemberikan arahan, bimbingan, pengawasan, pendokumentasian, koordinasi, dan bantuan terhadap penerapan K3.Berdasarkan hasil penelitian ini, secara keseluruhan variabel kepemimpinan lebih banyak dikategorikan tidak baik yaitu 53%.
Hal ini karena kurangnya komunikasi yang efektif antara kepala instalasi/bagian dan pimpinan rumah sakit dengan para petugas pelaksana.
Komunikasi lebih sering bersifat satu arah dan vertikal. Juga hanya sebatas membahas masalah dan penyelesaiannya ataupun tugas pokok dan fungsi yang belum dijalankan sehingga menimbulkan kejenuhan dari para petugas pelaksana. Menurut Luthans (2006) bahwa komunikasi yang tidak efektif adalah akar utama permasalahan dalam organisasi. Jadi, komunikasi yang efektif antara pimpinan dan anggota menjadi faktor penting bagi pencapaian tujuan suatu organisasi. Pemimpin memiliki peran penting dalam berkomunikasi dengan anggota.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa petugas pelaksana menyatakan kepala instalasi/bagian mengelola pencatatan dan pelaporan data K3RS lebih banyak menjawab tidak setuju (48%). Petugas pelaksana menyatakan kepala instalasi/bagian memastikan petugas pelaksana memahami prosedur dan alur tanggap darurat lebih banyak menjawab tidak setuju (45%). Petugas pelaksana menyatakan kepala
instalasi/bagian memeriksa peralatan K3RS termasuk APD secara rutin sebelum dan setelah bekerja lebih banyak menjawab tidak setuju (48%).
Petugas pelaksana menyatakan kepala instalasi/bagian membangun dan memelihara kesadaran, motivasi dan keterlibatan semua petugas di rumah sakit lebih banyak menjawab tidak setuju (44%). Petugas pelaksana menyatakan kepala instalasi/bagian memastikan petugas pelaksana memiliki kesehatan yang baik dan memperoleh pelayanan kesehatan bila diperlukan lebih banyak menjawab tidak setuju (40%).
Kondisi-kondisi diatas, diasumsikan penulis terjadi karena kepala instalasi/bagian sepele, kurang peduli dan belum paham pentingnya penerapan K3.
Beberapa instalasi/bagian tidak memiliki kepala instalasi/bagian yang berkompeten di bidangnya baik dalam hal kesesuaian kualifikasi pendidikan maupun pengalaman bekerja. Kemudian, kepala instalasi/bagian yang memprioritaskan penerapan K3 dalam bekerja dan melakukan motivasi atau promosi K3 untuk petugas pelaksana juga sangat jarang.
Robbins dan Judge (2009) mendefenisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk memengaruhi grup ke arah pencapaian visi atau merancang keberhasilan. Dari defenisi tersebut, terdapat fungsi pemimpin sebagai pemandu dalam membimbing bawahan agar dapat bekerja sesuai aturan perusahaan. Fungsi tersebut juga berlaku dalam pelaksanaan aturan keselamatan kerja, dimana keberhasilan dari keselamatan kerja akan membawa hasil positif bagi karyawan.
Kemudian, petugas pelaksana juga menyatakan pimpinan rumah sakit menyediakan dana, sarana dan prasarana yang berkaitan dengan K3 lebih banyak menjawab tidak setuju (45%). Petugas pelaksana di instalasi/bagian tertentu kurang yakin karena sarana prasarana kurang lengkap dan pemeliharaannya juga jarang dilakukan. Ditambah permintaan terkait K3 yang sulit diperoleh membuat petugas pelaksana di instalasi/bagian tersebut merasa kurang diperhatikan padahal sarana dan prasarana merupakan salah satu enabling factors bagi seseorang untuk berperilaku kesehatan khususnya K3 (Green, 2005).
Dalam PP Nomor 50 Tahun 2012 tercantum bahwa tanggung jawab pada level manajer atau supervisorsecara umum adalah memastikan K3 dikelola dengan baik dalam area tanggung jawabnya. Begitu pula menurut Suma’mur (1985) yang menyatakan seorang pemimpin harus bersungguh dalam usaha keselamatan karena jika ia memberi contoh bahwa keselamatan harus selalu diperhatikan dan ia sendiri melakukan segalanya untuk keselamatan, maka pekerja yang ada dalam pengawasannya akan mengikuti perilakunya. Tanggung jawab pemimpin adalah menuntun tercapainya iklim keselamatan yang baik dari pekerja berdasarkan budaya keselamatan dalam organisasinya sehingga tercapai perilaku yang aman.
Walaupun menurut penelitian Lisnanditha (2012), kepemimpinan tidak dapat memengaruhi iklim keselamatan kerja di PT. KRM, namun hasil uji regresi linier berganda pada penelitian ini menunjukkan pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan terhadap penerapan K3 di RSU. Mitra Medika Medan dengan nilai p<0,05. Hal ini berarti faktor kepemimpinan mendukung terhadap penerapan
K3RS.Jika ditinjau dari nilai koefisien regresi kepemimpinan menunjukkan 0,111, berarti setiap peningkatan kepemimpinan akan mengakibatkan peningkatan penerapan K3 sebesar 0,111 di RSU. Mitra Medika Medan. Artinya, faktor kepemimpinan dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk meningkatkan penerapan K3 di rumah sakit.
Perbedaan hasil penelitian diatas karena kepemimpinan di PT. KRM masih bersifat pasif, contohnya dengan bertindak saat sudah terjadi kecelakaan. Ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Barling, Loughlin, dan Kelloway (2002) yang menemukan bahwa pada kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan keselamatan kerja dan kegiatan-kegiatan tersebut mempertimbangkan perilaku keselamatan kerja yang diprediksi berdasarkan iklim keselamtan kerja yang dimiliki para pekerjanya, maka iklim keselamatan kerja tidak akan dapat diprediksi dengan adanya kepemimpinan pasif.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya dapat diambil beberapa kesimpulan:
1. Ada pengaruh keyakinan, pengetahuan, sikap, tindakan, SPO dan kepemimpinan terhadap penerapan K3RS.
2. Tindakan merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi penerapan K3RS.
3. Tidak ada pengaruh persepsi dan kebijakan terhadap penerapan K3RS.
6.2. Saran
Dalam memperbaiki penerapan K3 oleh petugas pelaksana di rumah sakit, maka ada beberapa sarandan masukan bagi pihak manajemen RSU. Mitra Medika Medan, sebagai berikut :
1. Untuk meningkatkan keyakinan petugas pelaksana maka manajemen termasuk panitia K3RS sebaiknyamengadakan rapat bulanan K3 di setiap instalasi/bagian untuk menunjang komunikasi dan koordinasi yang baik.Selain itu, pimpinan rumah sakit juga harus menunjukkan keseriusan dan komitmen yang kontinu dalam penyediaan sumber daya seperti dana, sarana prasarana, tenaga, dan lain-lain bagi penerapan K3 dengan menyusun rencana anggaran yang sesuai.Jumlah dan kualifikasi petugas panitia K3RS sebaiknya dipenuhi sesuai persyaratan Kepmenkes RI Nomor 1087/Menkes/SK/VIII/2010 dan diikutkan pelatihan eksterna rumah sakit seperti ahli K3 umum, dan lain-lain.
2. Pengetahuan petugas pelaksana lebih ditingkatkan dengan menyelenggarakan sosialisasi dan edukasi dalam bentuk diklat secara rutin dan berkala. Khusus perawat sebaiknya rotasi dilakukan diatas 2 bulan sekali dan diberikan orientasi terhadap lingkungan kerja yang baru sebelum mereka dipindahkan sedangkan para dokter umum sebaiknya dilakukan pendekatan interpersonal seperti para dokter spesialis dalam pemberian materi terkait K3RS. Kepala instalasi/bagian juga dapat diberi pelatihan mengenai komunikasi efektif agar berbagai informasi terkait K3 dapat disampaikan secara baik kepada petugas pelaksana. Rumah sakit juga harus menanamkan budaya safety talk kepada kepala instalasi/bagian, petugas panitia K3RS, dan petugas pelaksana.
3. Agar rumah sakit meningkatkan sikap positif seluruh petugas pelaksana dengan cara meningkatkan pemahaman mereka melalui diklat untuk penyegaran materi K3 secara rutin dan berkala sehingga penerapan K3 dapat menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari seperti pada budaya safety talk.
Kepala instalasi/bagian juga dapat langsung menjelaskan manfaat K3 per individu.
4. Supaya para petugas pelaksana rumah sakit bertindak secara K3 yang merupakan faktor dominan,maka: manajemen rumah sakit harus memenuhi kekurangan SDM yang dibutuhkan sesuai perhitungan beban kerja dan ketentuan yang berlaku; memberikan pelayanan kesehatan sesuai SPO;dan menyediakan lingkungan tempat kerja termasuk APD yang nyaman bagi petugas pelaksana. Juga melibatkan kepala instalasi/bagian dalam upaya-upaya K3 agar petugas pelaksana semakin terpengaruh dan paham dalam
bertindak K3. Kemudian, untuk menyempurnakan semua hal diatas maka disarankan agar rumah sakit menjalankan program behavioral-based safety dimana di dalamnya terdapat pelatihan untuk bertindak aktif dalam penerapan K3 dan budaya safety talk.
5. Mengupayakan penerapan SPO dengancara melibatkan para petugas pelaksana mulai dari penyusunan sampai penerapan di lapangan dan menyederhanakan SPO tetapi dilengkapi spesifikasi sampai ke tahap penyimpanan dan perawatan APD-nya sehingga praktis dan jelas bagi petugas pelaksana,serta menyediakan dokumen SPO baik softcopy maupun hardcopy yang tersusun rapi dan lengkap di setiap instalasi/bagian rumah sakit sebagai pengingat bagi petugas pelaksana.
6. Meningkatkan kepemimpinan kepala instalasi/bagian meliputi kepedulian dan pemahaman mereka tentang K3 dengan cara memberi pelatihan kepemimpinandan komunikasi efektif atau dapat juga menempatkan SDM yang berkompeten sebagai kepala instalasi/bagian. Mereka harus diperkenalkan dan menjadi role model dalam penerapan K3RS. Selain itu, pimpinan rumah sakit harus melengkapi dan rutin memelihara sarana prasarana khususnya yang berkaitan dengan K3 serta memudahkan proses permintaan kebutuhan K3RS.
DAFTAR PUSTAKA
Agiviana, A. P. 2015. Analisis Pengaruh Persepsi, Sikap, Pengetahuan dan Tempat Kerja Terhadap Perilaku Keselamatan Karyawan (Studi pada Perusahaan PT.
Mulia Glass Container Division). Diunduh tanggal 2 Juni 2016. Tersedia dari :http://eprints.undip.ac.id/45720/1/12_AGIVIANA.pdf
Amri, T.T, 2007. Hubungan Antara Faktor Penghambat Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dengan Pelaksanaan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Studi di RSUD Balung Kabupaten Jember). Diunduh tanggal 28 Mei 2016. Tersedia dari :http://repository.unej.ac.id/bitstream/handle/123456789/18200/gdlhub-gdl-grey-2008-tatagtaufa-2012-tatagta-y_1.pdf?sequence=1
Arifin, Zaenal. 2005. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kecelakaan Kerja Pada Karyawan Tetap dan Karyawan Subkontraktor Di PT. Bukaka Teknik Utama Cileungsi Bogor Tahun 2005. Depok : Skripsi UI. Diunduh tanggal 2
Juni 2016. Tersedia dari
:http://lib.fkm.ui.ac.id/login.jsp?requester=file?file=digital/13317-S4499 ZaenalArifin.pdf
Bangun, D. 2010. Pengaruh Persepsi dan Sikap Petugas Search and Rescue Terhadap Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Kegiatan SAR di Kantor SAR Medan. Diunduh tanggal 29 Mei 2016. Tersedia dari :http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28109/6/Abstract.pdf
Barling, J., Kelloway, E. K., & Loughlin, C. 2002. Development and Test of a Model Linking. Journal of Applied Pyschology, Vol 87(3),488-496
Centers for Disease Control and Prevention (CDC), 2007. Medical Surveillance for Health Care Workers Exposed to Hazardous Drugs. Medical Surveillance for Health Care Workers Exposed to Hazardous Drugs : Department Of Health And Human Services.
Cooper, D. (2000). Towards a Model af Safety Culture. Applied Behavioural Science.
36, 111- 136.
Dahlawy, A.D. 2008. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) di Area Pengolahan PT. Antam Tbk, Unit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor Kabupaten Bogor. Diunduh tanggal 8 Maret 2016. Tersedia dari : http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream /123456789/1291/1/AHMAD%20DHARIEF%20DAHLAWY-FKIK.pdf
Dananjaya, M.S.U., Wiguna, I.P.A., Indryani, R. 2013. Pengaruh Program Keselamatan Kerja Terhadap Budaya Keselamatan Kerja pada Pekerja Proyek di Daerah Terpencil. Diunduh tanggal 4 Juni 2016. Tersedia dari :http://mmt.its.ac.id/download/SEMNAS/SEMNAS%20XVIII/MP/28.%20Pro siding%20Syamsu%20Uddin-OK.pdf
Development and Test of A Model Linking Safety Spesific Transformational Leadership and Occupational Safety. Vol 87, No. 3,448-495. : Journal of Applied Psychology.
Dharma, A. 2009. Indonesia…Bangkit!!!, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Endroyo, B. 2010. Faktor – Faktor Yang Berperan Terhadap Peningkatan Sikap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Para Pelaku Jasa Konstruksi di Semarang, Jurnal Tehnik Sipil dan Perencanaan, No. 2, Vol. 12.
Fausiah; Muis, M. dan Wahyu, A. 2013. Pengaruh Sikap, Norma Subjektif, dan Persepsi Kontrol Perilaku Terhadap Intensi Karyawan Untuk Berperilaku K3 di Unit PLTD PT PLN (Persero) Sektor Tello Wilayah Sulselbar (Aplikasi TPB). Diunduh tanggal 8 Maret 2016. Tersedia dari : http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/5506/JURNAL.pdf
?sequence=1
Geller, E Scoot. 2001. The Pyschology of Safety Handbook. USA : Lewis Publisher.
Ghozali, I. 2005. Aplikasi Analisis Multivariat dengan Program SPSS, Semarang:
Penerbit Universitas Diponegoro.
Green, L.W &Kreuter, M. 2005.Health Program Planning: an Educational and Ecological Approach.4th Edition.McGraw-Hill Humanities/Social Sciences/Languages.
Grimaldi, J. V., and Simons, R. H. 1975. Safety Management – Third Edition.
Illinois: Richard D. Irwin, Inc.
Handayani, W., Lestari, W., dan Puri, I.Y. 2011. Kecelakaan Kerja pada Perajin Rotan dan Tanah Sirah Kecamatan Lubuk Begalung Kota Padang. Diunduh
tanggal 4 Juni 2016. Tersedia dari :
Heinrich, H. W., et al. 1980. Industrial Accident Prevention : A Safety Management Approach. Fifth Edition. New York : McGraw-Hill.
Hesapro. 2013. The Link Between Productivity and Health and Safety at Work..
Diunduh tanggal 8 Maret 2016. Tersedia dari : www.hesapro.org/files/
Background_ Research.pdf
Infrastructure Health and Safety Association (IHSA). 2016. Safety Talks and JSAs.
Diunduh tanggal 6 Juni2016. Tersedia dari
:http://www.ihsa.ca/pdfs/safety_talks/safety_talks_and_jsas.pdf
International Safety Advisory Group (INSAG), Key Practical Issues in Strengthening Safety Culture, INSAG-15, IAEA 2002.
Kelman, Herbert C. 1966. "Compliance, Identification, and Internalization:
ThreeProcesses of Attitude Change”, Problems in Social Psychology, New York : McGraw-Hill.
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1087/Menkes/SK/VIII/2010 tentang Standar K3RS. Jakarta.
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 432/Menkes/SK/VI/2007 tentang Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit. Jakarta.
Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara RI Nomor 25/KEP/M.PAN/04/2002 tentang Pedoman Pengembangan Budaya Kerja.
Jakarta.
Kerinci, N. A. 2015. Hubungan Persepsi Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan Perilaku K3 pada Pekerja Bagian Produksi PT. Supratama Juru Enginering.
FKM. USU Medan.
Khoiri, M. 2010. Upaya Peningkatan Budaya Keselamatan Pekerja Radiasi Rumah Sakit di Indonesia. Diunduh tanggal 8 Maret 2016. Tersedia dari:
http://papers.sttn-batan.ac.id/prosiding/2010/68.pdf
Kurniasih, D dan Rachmadita, R. N. 2013. Pengukuran Budaya K3 pada Tingkat Non Manajerial Dengan Menggunakan Cooper’s Reciprocal Safety Culture Model di PT. X. Surabaya. Jurnal J@TI Undip, Vol. 8. No. 2.
Lisnanditha, Y. 2012. Pengaruh Kepemimpinan, Budaya Keselamatan Kerja, dan Iklim Keselamatan Kerja Terhadap Perilaku Keselamatan Kerja : Studi Kasus di PT. Krama Yudha Ratu Motor (KRM). Diunduh tanggal 2 Juni 2016. Tersedia dari :http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20318379-S-Yudithia%20Lisnanditha.pdf
Luthans, Fred. 2006.Organizational Behavior, New York :Mc Graw-Hill.
Mangkunegara, A.A. 2011, Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. PT Remaja Rosda Karya, Bandung.
Mearns, K. and Reader, T. 2008. Organizational Support and Safety Outcomes: An Un-investigated Relationship? Safety Science 46, 388–97.
Muchlas, M. 2005. Perilaku Organisasi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Mufarokhah, L. 2006. Hubungan Keselamatan Kerja dengan Pelaksanaan Pencegahan Kecelakaan Kerja pada Karyawan Bagian Spinning di PT. Primatexco Indonesia Batang. Diunduh tanggal 2 Juni 2016. Tersedia dari :http://lib.unnes.ac.id/681/1/1251.pdf
Munthe, E. L. 2010. Gambaran Pengetahuan dan Tindakan Pekerja pada Bagian Produksi Tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) OHSAS 18001:2007 di PT. Socfindo Kebun Aek Pamienke Tahun 2010. Skripsi. FKM USU, Medan.
Muntiana, K. 2014. Hubungan Persepsi Karyawan Terhadap Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dengan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Jalur 3 dan 4 PT. Wijaya Karya Beton Boyolali Tbk. Diunduh tanggal 4
Juni 2016. Tersedia dari
:http://eprints.ums.ac.id/30982/15/02._NASKAH_PUBLIKASI.pdf Notoatmodjo, S. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : PT Rineka Cipta.
O’Neill, S. 2014. The Bussiness Case for Safe, Healthy & Productive Work.
Implications for Resource Allocation: Procurement, Contracting and Infrastucture Decisions. Australia: Macquarie Lighthouse Press.
Walker, K. 2003. Occupational Health and Safety (OHS) Magazine :Stepping Up to The Plate, The Individual Worker’s Contribution to Workplace Safety.Vol.
26. No. 3. Diunduh tanggal 4Juni 2016. Tersedia dari :https://work.alberta.ca/documents/WHS-PUB_ohsmag_0903.pdf
Occupational Safety and Health Administration (OSHA), 2013. Facts About Hospital Worker Safety. US Department Labor. United State Of America. Diunduh
tanggal 8 Maret 2016. Tersedia dari
:https://www.osha.gov/dsg/hospitals/documents/1.2_Factbook_508.pdf Occupational Safety and Health Administration (OSHA), 2014.Workers’ Rights.
Diunduh tanggal 2Juni 2016. Tersedia dari
:https://www.osha.gov/Publications/osha3021.pdf
Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). 2003. OECD Guidance on Safety Performance Indicators. Paris: OECD
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 340/Menkes/Per/III/2010 Mengenai Klasifikasi Rumah Sakit. Jakarta.
Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 Mengenai Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta.
Pranajaya, D.C., Yuantari, M. G. C., dan Mahawati, E. 2013. Hubungan Antara Karakteristik Individu, Pengetahuan, dan Sikap Karyawan Kereta Api Indonesia (KAI) Terhadap Penerapan K3 DAOP Area IV Bagian Dipo LOC Semarang Tahun 2013. Diunduh tanggal 2 Juni 2016. Tersedia dari :http://eprints.dinus.ac.id/6493/1/jurnal_12413.pdf
Prasetyo, B. dan Lina, M. J. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi.
Jakarta: PT. Radjagrafindo Persada.
Pratiwi, D. A. 2011. Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Tindakan Tidak Aman (Unsafe Act) pada Pekerja di PT X Tahun 2011. Diunduh tanggal 1 Maret 2016. Tersedia dari : http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20288800-S-Ayu%20Diah%20Pratiwi.pdf
Rahayu, E. P. 2015. Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Karyawan dengan Penerapan Manajemen Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Diunduh tanggal 4 Juni 2016. Tersedia dari
:http://ejournal.htp.ac.id/stikes/pdf.php?id=JRL0000107
Ramdan, D. H. 2010. Efikasi diri, pusat kendali, dan Persepsi Tenaga Kerja Sebagai Prediktor Pencapaian Prestasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Diunduh
tanggal 4 Juni 2016. Tersedia dari :
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=269538&val=7113&titl e=Efikasi%20Diri,%20Pusat%20Kendali,%20dan%20Persepsi%20Tenaga%
20Kerja%20sebagai%20Prediktor%20Pencapaian%20Prestasi%20Kesehata n%20dan%20Keselamatan%20Kerja
Ramli, Soehatman, 2010, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja : OHSAS 18001. Jakarta : Dian Rakyat.
Ratnawati, P., 2010. Implementasi FTA & ANSI Z16.1 Untuk Penyusunan SOP Keselamatan Kerja di Galangan Kapal PT Perikanan Nusantara Cabang Surabaya. Diunduh tanggal 15 Maret 2016. Tersedia dari:
http://digilib.its.ac.id/implementasi-fta-dan-ansi-z161-untukpenyusunan-sop-
keselamatan-kerja-digalangan-kapal-pt-perikanan-nusantaracabang-surabaya-8612.html
Riduwan. 2008. Metode dan Tehnik Menyusun Tesis. Cetakan Ketujuh. Bandung:
Alfabeta.
Robbins, Stephen P. 2003. Perilaku organisasi. Jakarta : PT. Indeks Kelompok Gramedia.
Robbins, Stephen P. 1994. Teori Organisasi (Struktur, Desain dan Aplikasi). Jakarta:
Robbins, Stephen P. 1994. Teori Organisasi (Struktur, Desain dan Aplikasi). Jakarta: