• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN KEPUSTAKAAN

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.2. Sampel Penelitian

Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien baru yang didiagnosis dermatofitosis oleh dokter spesialis kulit dan kelamin yang datang berobat ke poliklinik RSU Dr. Ferdinand Lumbantobing Sibolga dengan nilai minimun 75 pasien yang didapat menggunakan rumus Slovin.

Jumlah sampel minimum diperoleh dari :

๐‘› = ๐‘

1 + N (๐‘’2)

๐‘› = 308

1 + 308 (0,12) ๐‘› = 308

4,08 ๐‘› = 75,49 ๐‘› โ‰ƒ 75 Keterangan:

n = Ukuran sampel/jumlah responden N = Ukuran populasi

e = Persentase kelonggaran ketelitian kesalahan pengambilan sampel yang masih bisa ditolerir; e = 0,1 (10%).

3.4. KRITERIA INKLUSI DAN KRITERIA EKSKLUSI 3.3.1. Kriteria Inklusi

- Pasien baru yang bersedia ikut serta dalam penelitian.

- Pasien baru yang didiagnosis dermatofitosis oleh dokter spesialis kulit dan kelamin berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis 3.3.2. Kriteria Eksklusi

- Pasien baru yang telah menggunakan anti jamur.

- Pasien lama yang telah menjalani pengobatan.

3.5. METODE PENGUMPULAN DATA

Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan metode observasi partisipatif, yaitu peneliti terlibat secara langsung dalam proses pengambilan sampel dan kegiatan โ€“ kegiatan yang akan dilakukan.

3.6. METODE PENGELOLAAN DAN ANALISIS DATA

Sesuai dengan jenis penelitian, maka analisa data yang terkumpul dilakukan secara deskriptif, yaitu penyajian data hasil penelitian dalam bentuk tabel dan kalimat, kemudian diambil kesimpulan tentang profil dermatofitosis.

3.7. DEFINISI OPERASIONAL

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel Definisi Cara Ukur Alat

Ukur Hasil Ukur Skala

Usia Lama waktu hidup

Pekerjaan Kegiatan aktif yang dilakukan

3.8. ALAT DAN BAHAN PENELITIAN 3.8.1. Alat Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Bio-Safety Cabinet (BSC), scalpel, gunting kuku alat-alat gelas berupa (piring petri, tabung reaksi,

kaca objek, dan kaca penutup), mikroskop cahaya, kertas label, penggaris, ose, bunsen atau pembakar spiritus, lakban, kertas, korek api, dan kertas origami berwarna gelap.

3.8.2. Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah alkohol 70%, aquadest, larutan KOH 10-20%, media biakan mycobiotic agar yang terdiri

dari dextrose, soy peptone, antibiotik cycloheximide, dan chloramphenicol serta bacterial agar, zat warna Lactophenol Cotton Blue (LPCB), larutan lysol, dan sampel kerokan kulit, kuku atau rambut yang diambil dari pasien Dermatofitosis di poliklinik kulit dan kelamin RSU Dr. Ferdinand Lumbantobing Sibolga.

3.9. ALUR PENELITIAN

Gambar 3.1 Alur Penelitian

Kriteria Inklusi Kriteria Eksklusi

Pasien Baru Dermatofitosis

Pengambilan Sampel Kerokan kulit, kuku atau rambut Pasien Dermatofitosis di

RSU Dr. Ferdinand Lumbantobing Sibolga

Kultur Jamur KOH 10 - 20%

Positif (+) Hifa (+)

Hifa (-)

Negatif (-)

Identifikasi Spesies

Makroskopis Mikroskopis

Scotch Tape Preparation Pengamatan

morfologi koloni

3.10. PROSEDUR PENELITIAN 3.10.1. Pengambilan spesimen 3.10.1.1. Kerokan Kulit

Sampel diambil secara aseptic yang didesinfeksi dengan alkohol 70%

untuk menghilangkan kontaminan, setelah alkohol mengering kemudian spesimen dikerok dari lesi dengan menggunakan skalpel steril. Setelah kerokan kulit tertampung pada scalpel masukkan ke dalam amplop steril yang berwarna gelap.

3.10.1.2. Kerokan kulit kepala

Rambut dari kulit kepala dicabut dengan menggunakan pinset yang disterilkan terlebih dahulu dengan api bunsen, kulit daerah sekitar lesi dikerok dengan skalpel lalu disimpan di amplop steril berwarna gelap.

3.10.1.3. Kerokan kuku

Kuku yang terinfeksi didesinfeksi terlebih dahulu dengan alkohol 70%. Bagian yang terinfeksi dikikis dengan skalpel dari bagian terdalam hingga ke bagian luar kuku dan kemudian kerokan disimpan di dalam amplop steril berwarna gelap.

3.10.2. Pemeriksaan KOH

Sediaan yang akan diperiksa diletakkan diatas gelas objek, lalu ditetesi dengan 1-2 larutan KOH 10 - 20%, kemudian ditutup dengan kaca penutup (cover glass). Setelah itu sediaan dibiarkan selama 15-20 menit,

hingga jaringan dilarutkan oleh larutan KOH. Untuk mempercepat proses pelarutan, sedian dapat dipanaskan diatas api bunsen, namun dijaga jangan sampai cairan mendidih, jika keluar uap dari sediaan tersebut, maka pemanasan sudah dianggap cukup. Kemudian bentuk dan struktur jamur diamati dibawah mikroskop.

3.10.3. Metode Kultur

Setelah semua hasil kerokan dikumpulkan, hasil kerokan diletakkan dan ditanam satu per satu di permukaan media mycobiotic agar dengan diinokulasi pada tempat-tempat tertentu dengan menggunakan ose lurus.

Media diberi label nama dan nomor sampel, inkubasi pada suhu kamar (25-28ยบC) selama 7-14 hari sambil diamati pertumbuhannya. Dalam pengerjaan kultur pastikan semua bahan yang digunakan telah di sterilisasi terlebih dahulu di BSC untuk meminimalisir kontaminasi mikroorganisme lain.

3.10.4. Identifikasi spesies Dermatofita

a. Identifikasi Secara Makroskopis

Identifikasi makroskopis dilakukan dengan mengamati morfologi koloni jamur yang tumbuh, yaitu warna permukaan koloni dan warna dasar koloni, tekstur permukaan koloni (bertepung,

granular, berbulu, seperti kapas, kasar), bentuk koloni (meninggi, berlipat), pinggir koloni.

b. Identifikasi Secara Mikroskopis

Identifikasi secara mikroskopis dengan larutan LPCB yaitu dengan cara sehelai selotip (scotch tape) ditekankan ke permukaan koloni jamur dan ditarik ke atas. Hifa dari koloni akan melekat kuat pada selotip kemudian selotip dilekatkan di atas gelas objek yang telah ditetesi satu tetes LPCB dan dilihat dengan mikroskop cahaya pembesaran 10x40, diamati hifa dan konidia (makrokonidia dan mikrokonidia).

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di poliklinik kulit dan kelamin RSU Dr. Ferdinand Lumbantobing Sibolga yang berlokasi di Jalan Dr. Ferdinand Lumbantobing No. 35, Kota Sibolga Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. HK. 02. 03/I/0652/2015, RSU Dr. Ferdinand Lumbantobing Sibolga ditetapkan sebagai rumah sakit Kelas B dan telah memiliki fasilitas kesehatan yang memenuhi standar. Proses pengambilan sampel untuk penelitian dimulai pada bulan Juni sampai Oktober 2019 di RSU Dr. Ferdinand Lumbantobing Sibolga dengan mengumpulkan sebanyak 75 sampel lesi dermatofitosis. Semua sampel dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara untuk kemudian dilakukan pemeriksaan KOH, kultur dan diidentifikasi.

4.2. Distribusi Frekuensi Dermatofitosis Berdasarkan Jenis Kelamin

Pada penelitian ini telah berhasil dikumpulkan 75 sampel spesimen berupa kerokan kulit, rambut dan kuku dari penderita dermatofitosis. Sampel tersebut kemudian dibagi distribusinya berdasarkan beberapa karakteristik, salah satunya adalah jenis kelamin. Distribusi frekuensi dermatofitosis berdasarkan jenis kelamin pada beberapa penelitian dilaporkan cukup beragam. Pada penelitian ini distribusi frekuensi dermatofitosis berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Dermatofitosis Berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)

Laki โ€“ laki 36 48

Perempuan 39 52

Total 75 100

Tabel 4.1 menunjukkan bahwa terdapat 36 pasien (48%) yang berjenis kelamin laki-laki dan 39 pasien (52%) yang berjenis kelamin perempuan. Dari distribusi frekuensi ini diketahui bahwa perempuan lebih banyak didiagnosis dermatofitosis. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di RS Islam Aisiyah Malang dimana juga terdapat hasil yang sama yaitu sebanyak 12 sampel (63,16%) berjenis kelamin perempuan yang didiagnosis dermatofitosis (Hidayatullah et al., 2019). Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Oktavia di RSUD Tangerang pada tahun 2011 didapati angka kejadian dermatofitosis pada perempuan lebih tinggi yaitu 99 sampel (55%) (Oktavia, A., 2012). Hasil ini dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah terganggunya keseimbangan flora normal pada wanita yang dikarenakan pemakaian antibiotik ataupun hormonal dalam jangka panjang karena penggunaan kontrasepsi (Riani, R., 2017). Hal ini berbeda pula dengan penelitian yang di lakukan oleh Qadim dkk di Tabriz, Iran yang melaporkan terdapat hasil laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, yaitu 46 sampel (63,1 %) (Qadim et al., 2012), ini dapat terjadi karena pada umumnya laki-laki memiliki lebih banyak aktifitas fisik diluar ruangan dan pekerjaan yang mengeluarkan banyak keringat (Janagond et al., 2016).

4.3. Distribusi Frekuensi Dermatofitosis Berdasarkan Usia

Usia penderita dermatofitosis di poliklinik kulit dan kelamin RSU Dr.

Ferdinand Lumbantobing Sibolga cukup bervariasi, dimulai dari usia 1 tahun hingga 80 tahun yang kemudian dikelompokkan berdasarkan pengelompokan usia oleh Departemen Kesehatan RI tahun 2009.

Distribusi frekuensi dermatofitosis berdasarkan usia dapat dilihat dari tabel sebagai berikut :

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Dermatofitosis Berdasarkan Usia

Usia Frekuensi Persentase (%)

< 12 tahun 12 16

12 - 25 tahun 17 22,7

26 - 45 tahun 19 25,3

46 - 65 tahun 23 30,7

> 65 tahun 4 5,3

Total 75 100

Dari tabel 4.2 diketahui bahwa frekuensi penderita dermatofitosis berdasarkan pengelompokan usia adalah sebanyak 23 orang (30,7%) pada kelompok usia 46-65 tahun, diikuti 19 orang (25,3%) pada kelompok usia 26-45 tahun, 17 orang (22,7%) pada kelompok usia 12-25 tahun, 12 orang (16%) pada kelompok usia dibawah 12 tahun, dan 4 orang (5,3%) pada kelompok usia diatas 65 tahun. Kelompok usia terbanyak yang menderita dermatofitosis adalah usia 46-65 tahun yaitu sebanyak 23 orang, hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan di RSUP Prof. Dr. R. D.

Kandou Manado periode Januari-Desember 2013, dimana didapatkan kelompok umur terbanyak kasus dermatofitosis adalah 46-64 tahun yaitu 50 kasus (32,7%) (Sondakh et al., 2016). Hal ini dapat disebabkan oleh faktor pertahanan tubuh yang menurun seiring dengan pertambahan usia pada kelompok umur ini. Mengingat kelompok ini masih termasuk usia bekerja, jika ditambah dengan faktor aktivitas yang menghasilkan keringat dan tidak diimbangi dengan kebersihan diri maka akan menyebabkan peningkatan risiko terkena dermatofitosis (Rahadiyanti et al., 2018). Kelompok usia terbanyak kedua adalah 26-45 tahun yang digolongkan menjadi usia dewasa sebanyak 19 orang, diikuti remaja dengan rentang usia 12-25 tahun sebanyak 17 orang, anak-anak dengan usia dibawah 12 tahun sebanyak 12 orang dan manula yang berusia diatas 65 tahun sebanyak 5 orang.

4.4. Distribusi Frekuensi Dermatofitosis Berdasarkan Pekerjaan

Pada penderita dermatofitosis jenis pekerjaan yang ditemukan sangat bervariasi. Distribusi frekuensi berdasarkan pekerjaan penderita dapat dilihat pada tabel 4.3 sebagai berikut:

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Dermatofitosis Berdasarkan Pekerjaan

Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)

PNS 5 6,7

Pedagang/Wiraswasta 16 21,3

Nelayan 5 6,7

Supir 3 4

Tukang becak 2 2,7

ART 2 2,7

IRT 18 24

Pra-sekolah 2 2,7

Pelajar 16 21,3

Mahasiswa 4 5,3

Pensiunan 1 1,3

Tidak bekerja 1 1,3

Total 75 100

Berdasarkan hasil yang didapat dari tabel 4.3 diketahui bahwa dermatofitosis paling banyak didiagnosis pada Ibu Rumah Tangga (IRT) yaitu sebanyak 18 orang (24%), lalu diikuti oleh pedagang/wiraswasta 16 orang (21,3%), pelajar 16 orang (21,3%), Pegawai Negeri Sipil (PNS) 5 orang (6,7%), Nelayan 5 orang (6,7%), Mahasiswa 4 orang (5,3%), Supir 3 orang (4%), Tukang becak 2 orang (2,7%), Asisten Rumah Tangga (ART) 2 orang (2,7%), 2 orang (2,7%) pra-sekolah, 1 orang (1,3%) pensiunan dan 1 orang (1,3%) yang tidak bekerja. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sondakh dkk di RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado dimana didapati pekerjaan terbanyak pada kasus dermatofitosis adalah IRT sebanyak 35 kasus (22,9%). Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulan di RSUD Ciamis Jawa Barat dimana didapati juga IRT merupakan pekerjaan terbanyak pada kasus

dermatofitosis yaitu sebanyak 10 orang dari total sampel (Yuwita et al, 2016).

Pekerjaan domestik ibu rumah tangga banyak melibatkan panas dan lembab, dimana dua hal ini merupakan suasana yang baik bagi jamur untuk tumbuh dan berkembang biak dengan baik (Budimulya, 2015). Jika tidak membersihkan diri dengan baik sebelum dan terutama setelah melakukan pekerjaan maka kemungkinan terkena dermatofitosis meningkat. Pekerjaan ibu rumah tangga juga merupakan kegiatan rutin atau berulang setiap hari, sehingga jika ada kebiasaan yang tidak higenis dan terus diulang akan memperbesar risiko untuk terkena dermatofitosis (Sondakh et al., 2016).

4.5. Distribusi Dermatofitosis Berdasarkan Pemeriksaan KOH

Pemeriksaan KOH merupakan salah satu pemeriksaan yang rutin dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosa dermatofitosis, pemeriksaan ini menggunakan larutan kalium hidroksida (KOH) 10% untuk sampel kulit dan KOH 20% untuk sampel kuku. Distribusi hasil dari pemeriksaan ini dibagi berdasarkan hasil positif atau negatif pada pemeriksaan KOH :

Tabel 4.4 Distribusi Sampel Berdasarkan Hasil Pemeriksaan KOH Pemeriksaan KOH Frekuensi Persentase (%)

KOH (+) 35 46,7

KOH (-) 40 53,3

Total 75 100

s

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui dari 75 sampel yang dilakukan pemeriksaan KOH didapati 35 (46,7%) hasil positif dan 40 (53,3%) hasil KOH negatif.

Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Goffar di RSUD Pirngadi Medan pada tahun 2015 dimana juga dijumpai lebih banyak hasil negatif pada pemeriksaan KOH (Saragih, G.D. et al., 2015). Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya Periode Tahun 2009 dimana dari 271 kasus terdapat 229 hasil dengan KOH positif (Citrashanty, I., 2011). Perbedaan pada

hasil ini dapat terjadi karena kemungkinan pengambilan bahan pemeriksaan yang tidak tepat atau kurang sempurna pada daerah yang mengandung elemen jamur ketika hendak dilakukan pemeriksaan KOH (Putri, A.I., 2017). Pemeriksaan langsung sediaan KOH memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang rendah, sehingga sering menunjukkan hasil palsu. Beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan KOH adalah pengalaman pemeriksa dalam pemeriksaan KOH, cara pengambilan sampel yang tidak tepat berupa pemilihan area, jumlah spesimen dan kebersihan area sampel (Hifzil, H., 2018).

4.6. Distribusi Sampel Berdasarkan Hasil Kultur

Pemeriksaan lain yang dibutuhkan dalam penegakan diagnosis dermatofitosis adalah kultur jamur. Media yang digunakan untuk kultur pada penelitian ini adalah mycobiotic agarยฎ (pronadisa), media ini merupakan media yang cukup baik untuk melakukan biakan jamur dermatofita. Pada penelitian ini distribusi hasil kultur dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.5 Distribusi Sampel Berdasarkan Hasil Kultur Hasil Kultur Frekuensi Persentase (%)

Positif (+) 41 54,67

Negatif (-) 34 45,33

Total 75 100

Dari tabel 4.5 diketahui bahwa dari 75 sampel didapati 41 hasil kultur positif dan 34 hasil kultur negatif. Hasil kultur yang positif kemudian di identifikasi dengan metode scotch-tape preparation menggunakan pewarna Lactophenol-Cotton Blue (LPCB) untuk melihat struktur jamur berupa makrokonidia dan mikrokonidia serta hifa dari jamur untuk membedakan spesies dermatofita. Pada penelitian ini juga ditemukan banyak hasil kultur negatif, suatu isolat dikatakan negatif ketika tidak terjadi pertumbuhan setelah 4 minggu penanaman. Banyaknya hasil yang negatif ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya karena spesimen yang diambil

mengandung jumlah mikroorganisme jamur yang tidak adekuat (Noviandini, A., 2016) serta kondisi lingkungan atau tempat penyimpanan biakan jamur karena sebaiknya isolat dimasukkan ke dalam inkubator khusus dengan suhu antara 25-28โ„ƒ agar dapat tumbuh dengan baik dan terhindar dari pertumbuhan jamur kontaminan seperti Aspergillus sp dan Penicilium sp dimana merupakan kontaminan yang lazim ditemukan di rumah sakit dan laboratorium (Hasanah, U., 2017).

4.7. Distribusi Sampel Berdasarkan Hasil Pemeriksaan KOH dan Kultur Perbedaan hasil dari pemeriksaan KOH dan kultur pada sampel penelitian ini dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.6 Distribusi Hasil Pemeriksaan KOH dan Hasil Kultur

KOH

Hasil Kultur Total

Positif (+) (%) (%)

Negatif (-) (%)

KOH (+) 20 (54,1) 15 (42,9) 35 (46,7) KOH (-) 21 (52,5) 19 (47,5) 40 (53,3) Total 41 (54,7) 34 (45,3) 75 (100)

Berdasarkan tabel 4.6 diketahui pada penelitian ini terdapat dari 35 hasil pemeriksaan KOH positif, 20 (54,1%) hasil kultur positif dan 15 (42,9%) hasil kultur negatif serta dari 40 hasil pemeriksaan KOH negatif, 21 (52,5%) hasil kultur positif dan 19 (47,5%) hasil kultur negatif. Dari tabel tersebut diketahui terdapat perbedaan hasil dari pemeriksaan KOH dan kultur. Hal ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Jacob dkk, yaitu dari 187 sampel yang diteliti ditemukan 137 sampel negatif pada pemeriksaan KOH, sedangkan pada kultur ditemukan 109 kultur positif dari seluruh sampel penelitian. Terlihat bahwa lebih banyak ditemukan hasil negatif pada pemeriksaan KOH dan pada kultur ditemukan lebih banyak hasil positif (Levitt, J.O et al., 2010). Gejala klinis saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis dermatofitsis, untuk itu dibutuhkan pemeriksaan KOH dan kultur. Pada beberapa penelitian didapati

hasil yang beragam, hal ini dikarenakan tingkat sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan KOH dan kultur yang beragam. Beberapa peneliti mengatakan pemeriksaan KOH merupakan gold standard dari penyakit ini, namun ada juga peneliti yang mengatakan kultur merupakan gold standard untuk penegakan diagnosis (Ardakani, M. E et al., 2016). Berdasarkan referensi yang telah dijelaskan diatas, dapat ditarik bahwa dari 75 sampel penelitian ini, sebanyak 56 sampel terbukti didiagnosis dermatofitosis berdasarkan kedua gold standard tersebut.

4.8. Prevalensi Dermatofita pada Penderita Dermatofitosis di poliklinik kulit dan kelamin RSU Dr. Ferdinand Lumbantobing Sibolga

Pada penelitian yang dilakukan di poliklinik kulit dan kelamin RSU Dr.

Ferdinand Lumbantobing Sibolga, didapatkan prevalensi dermatofita pada penderita dermatofitosis adalah sebanyak 54,7% dari total keseluruhan 75 sampel penelitian.

Tingginya angka prevalensi dermatofita yang didapat pada penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Priyam dkk di India, dimana dari 433 sampel penelitian terdapat 59,8% hasil positif pada kultur. Prevalensi dermatofita pada penelitian tersebut adalah 59,8% (Basak, P et al., 2019). Tingginya hasil angka prevalensi dermatofits juga terlihat pada penelitian yang dilakukan oleh Sharma yang mendapatkan bahwa prevalensi dermatofita pada penelitiannya adalah sebanyak 64,3%

(Sharma, M & Sharma, R. 2012).

4.9. Distribusi Frekuensi Dermatofitosis Berdasarkan Lokasi Lesi

Dermatofitosis diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk berdasarkan variasi gambaran klinis dan lokasi lesinya.

Klasifikasi pada penelitian ini didapat dari penegakan diagnosa oleh dokter spesialis kulit dan kelamin yang distribusinya dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Dermatofitosis berdasarkan lokasi lesi Klasifikasi Dermatofitosis Frekuensi Persentase (%)

Tinea Korposis 32 42,7

Tinea Kapitis 5 6,7

Tinea Kruris 23 30,7

Tinea Pedis 13 17,3

Tinea Unguinum 2 2,7

Total 75 100

Berdasarkan tabel 4.7 diketahui bahwa dari 75 sampel terdapat 32 orang (42,7%) didiagnosis tinea korporis, 5 orang didiagnosis tinea kapitis (6,7%), 23 orang (30,7%) didiagnosis tinea kruris, 13 orang (17,3%) didiagnosis tinea pedis dan 2 orang (2,7) didiagnosis tinea unguinum. Berdasarkan tabel tersebut juga diketahui klasifikasi dermatofitosis terbanyak adalah tinea korporis yaitu sebanyak 32 kasus, hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di salah satu rumah sakit di India yang menjelaskan bahwa tinea korporis juga merupakan klasifikasi yang paling banyak terjadi yaitu sebanyak 78% (Lakshmanan et al., 2015), ini disebabkan oleh tinea korporis dapat mengenai semua permukaan tubuh dan dapat diderita oleh semua usia, terutama pada orang dewasa yang kurang mengerti kebersihan dan banyakberkeringat serta tingkat kelembapan kulit yang lebih tinggi (Rahadiyanti et al., 2018). Tinea kruris merupakan diagnosis tersering kedua yaitu sebanyak 23 kasus, hal ini bisa disebabkan karena penggunaan pakaian ketat atau yang tidak menyerap keringat, sehingga meningkatakan kelembapan di daerah lipatan paha, genital dan sekitarnya (Yossela, T., 2015). Pada penelitian ini tidak ditemukan kasus tinea barbae, hal ini terjadi dikarenakan tinea barbae memang merupakan kasus dermatofitosis yang sangat jarang terjadi (Baran, W et al., 2004).

4.10. Distribusi Sampel Berdasarkan Spesies Dermatofita

Spesies dermatofita yang menyebabkan dermatofitosis adalah Microsporum sp, Trichophyton sp dan Epidermophyton sp. Pada penelitian ini dermatofita yang menyebabkan dermatofitosis dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.8 Distribusi Sampel Berdasarkan Spesies Dermatofita

Dermatofita Frekuensi Persentase (%)

Microsporum canis 1 1,3

Trichophyton rubrum 28 37,3

Trichophyton mentagrophytes 12 16

Kultur negatif 34 45,3

Total 75 100

Berdasarkan tabel 4.8 diketahui bahwa terdapat 1 spesies Microsporum canis, 28 Trichophyton rubrum, 12 Trichophyton mentagrophytes dan 34 kultur negatif. Pada penelitian ini didapati dermatofita yang paling banyak menyebabkan dermatofitosis ialah genus Tricophyton yaitu sebanyak 40 isolat yang terdiri dari spesies Trichophyton rubrum sebanyak 28 isolat dan Trichophyton mentagrophytes 12 isolat. Trichophyton rubrum merupakan spesies terbanyak yang menyebabkan dermatofitosis. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan di Lapas kelas I Tanjung Gusta Medan dimana didapatkan hasil dermatofita terbanyak adalah Trichophyton rubrum sebanyak 76 orang (85,5%) (Anra, Y., 2017). Penelitian yang dilakukan oleh Oumar di Afrika juga menunjukkan bahwa Trichophyton rubrum merupakan salah satu dari ketiga penyebab terbanyak dermatofitosis (38 sampel) (Coulibaly, O et al., 2017). Pada penelitian ini juga didapati hasil 1 (satu) isolat spesies Microsporum canis. Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan di RS Islam Sultan Agung Semarang dimana didapati Microsporum canis yang merupakan hasil kultur jamur terbanyak yaitu sebanyak 32 % dari kasus (Karyadini, H et al., 2018). Pada penelitian ini juga terdapat 34 isolat yang tidak terjadi pertumbuhan jamur atau kultur negatif.

4.11. Sebaran Dermatofita Terhadap Kejadian Dermatofitosis

Pada penelitian ini didapatkan hasil 41 kultur positif dermatofita dari 75 sampel. Sebaran dermatofita terhadap kejadian dermatofitosis pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.9 Sebaran spesies dermatofita penyebab dermatofitosis

Dermatofitosis

Spesies Dermatofita

Total M. canis T. rubrum T. mentagrophytes

Tinea korposis 0 10 9 19

Tinea kapitis 1 0 0 1

Tinea kruris 0 11 2 13

Tinea pedis 0 6 0 6

Tinea unguinum 0 1 1 2

Total 1 28 12 41

Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui pada tinea korporis sebanyak 10 sampel disebabkan oleh Trichophyton rubrum dan 9 sampel oleh Trichophyton mentagrophytes; pada tinea kapitis sebanyak 1 sampel yang disebabkan oleh Microsporum canis; pada tinea kruris sebanyak 11 sampel disebabkan oleh Trichophyton rubrum dan 2 sampel oleh Trichophyton mentagrophytes; pada tinea pedis sebanyak 6 sampel disebabkan oleh Trichophyton rubrum; pada tinea unguinum sebanyak 1 sampel disebabkan oleh Trichophyton rubrum dan 1 sampel lainnya oleh Trichophyton mentagrophytes. Hasil ini menunjukkan pada tinea korporis, dermatofita penyebab terbanyak adalah Trichophyton rubrum yaitu sebanyak 10 sampel dan pada tinea kruris, dermatofita penyebab terbanyak juga Trichophyton rubrum sebanyak 11 sampel. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wulan dan kawan-kawan di RSUD Ciamis Jawa Barat yang menunjukkan hasil serupa, yaitu Trichophyton rubrum merupakan dermatofita terbanyak yang menyebabkan tinea korporis dan kruris (95,8%) (Yuwita, W., 2016). Ini disebabkan oleh Trichophyton

rubrum merupakan penyebab terbanyak dermatofitosis di Indonesia maupun di seluruh dunia, selain itu dermatofita spesies ini merupakan dermatofita golongan antropofilik yang transmisinya adalah dari manusia ke manusia, sehingga menyebabkan penyebaran dermatofitosis sangat mudah terjadi (Hakim et al., 2014).

5.1. KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan di RSU Dr. Ferdinand Lumbantobing Sibolga pada bulan Juni โ€“ Oktober 2019, dari 260 kasus dermatofitosis diambil sebanyak 75 kasus yang telah diteliti, kemudian dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Profil dermatofita pada penderita dermatofitosis di poliklinik kulit dan kelamin RSU Dr. Ferdinand Lumbantobing Sibolga adalah Trichophyton rubrum, Trichophyton mentagrophytes dan Microsporum canis.

2. Spesies dermatofita terbanyak pada penderita dermatofitosis di poliklinik kulit dan kelamin RSU Dr. Ferdinand Lumbantobing Sibolga adalah Trichophyton rubrum sebanyak 28 sampel.

3. Profil dermatofitosis di poliklinik kulit dan kelamin RSU Dr. Ferdinand Lumbantobing Sibolga adalah tinea korporis sebanyak 32 sampel, tinea kruris 23 sampel, tinea kapitis 5 sampel, tinea pedis 13 sampel dan tinea unguinum 2 sampel.

4. Prevalensi dermatofita pada penderita dermaofitosis di poliklinik kulit dan kelamin RSU Dr. Ferdinand Lumbantobing Sibolga adalah sebesar 54,7%.

5. Berdasarkan distribusi frekuensi menurut usia diperoleh dermatofitosis terjadi pada kelompok usia 46-65 tahun sebanyak 23 orang, 26-45 tahun sebanyak 19 orang, dan 12-25 tahun sebanyak 17 orang; menurut jenis kelamin terjadi pada 39 orang perempuan dan 36 orang laki-laki; menurut pekerjaan dermatofitosis terjadi pada Ibu Rumah Tangga (IRT) sebanyak 18 orang, pedagang/wiraswasta 16 orang dan pelajar 16 orang.

5.3. SARAN

1. Bagi instansi kesehatan

Perlu dilakukan peningkatan mengenai pendataan status pasien dan rekapitulasi penyakit agar lebih mudah untuk dilakukan pencarian ketika dibutuhkan baik bagi instansi sendiri ataupun peneliti yang ingin melakukan penelitian.

2. Bagi masyarakat

Untuk lebih meningkatkan pengetahuan tentang dermatofitosis serta diharapkan agar selalu rajin berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit tentang penyakit dermatofitosis.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai penyakit dermatofitosis karena

Perlu diadakan penelitian lebih lanjut mengenai penyakit dermatofitosis karena

Dokumen terkait