3. METODOLOGI PENELITIAN
3.3 Metode Pengambilan Data
3.3.2 Sampling Lamun
3.3.2.1 Prosentase Penutupan Lamun
Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel lamun yaitu metode acak terstruktur dengan menggunakan transek kuadran karena berhubungan dengan analisa penelitian pemisahan lamun dari segi densitas dan biomassa di suatu perairan (Duarte et al. 2001; Pringle 1984 in Setyobudiandi et al. 2009). Untuk memudahkan, pengambilan sampel dilakukan pada saat surut terendah dengan bantuan peralatan “snorkeling”. Sebelum pengambilan data dilakukan terlebih dahulu pengamatan awal di lapangan terhadap kondisi penyebaran spesies lamun untuk menentukan lokasi penempatan garis transek.
Gambar 4 Skematik sampling pengamatan lamun.
Keterangan: Kuadran pengamatan padang lamun Seperti yang tersaji dalam Gambar 4, pada setiap lokasi ditentukan 3 garis transek yang diletakkan tegak lurus garis pantai dan pada setiap garis transek ditempatkan 10 kuadran berukuran 50 x 50 cm. Ukuran ini sangat efisien dalam jumlah yang besar dan sangat memadai untuk cakupan ukuran dan distribusi dari organisme makrophytes (de Wreede 1985 in Setyobudiandi et al. 2009). Kuadrat
D
Daarraatt
50 x 50 cm
50 meter
17
pertama setiap transek diletakkan di daerah dekat daratan, diukur 5 m dari garis pantai, dan kuadran terakhir diukur 10 m seterusnya dari kuadran pertama sampai kuadran kesepuluh. Sedangkan titik transek selanjutnya diukur dari transek pertama secara horisontal dengan jarak yang diinginkan agar satu daerah titik pengambilan sampel terwakili. Jarak transek pada lokasi Rendani dan Wosi adalah 50 m, sedangkan pada lokasi pulau Lemon adalah 30 m.
Penentuan jenis lamun dilakukan secara langsung dengan menggunakan identifikasi lamun menurut Seagrass Watch Northern Fisheries Centre Ausralia, Lanyon (1986); Kuo & den Hartog (2003) Community Environment Network (2005); Mc Kenzie (2003); Mc Kenzie et al. (2003), Kepmen Negara dan Lingkungan Hidup No. 200 tahun 2004. Selain itu juga dilakukan survei jelajah untuk inventarisasi.
3.3.2.2 Analisis Kerapatan dan Kerapatan Relatif Spesies Lamun
Kerapatan spesies (Ki) memberikan gambaran jumlah jenis yang menempati suatu ruang tertentu pada suatu ekosistem menurut Fonseca (1990), formula yang digunakan adalah :
Kerapatan Relatif lamun (KR) adalah perbandingan kerapatan mutlak spesies ke-I dan jumlah kerapatan seluruh spesies (English et al. 1994), sebagai berikut:
3.3.2.3 Frekuensi dan Frekuensi Relatif Spesies Lamun
Frekuensi spesies lamun adalah peluang ditemukannya spesies ke-i dalam petak contoh dan dibandingkan dengan jumlah petak contoh yang diamati (Setyobudiandi et al. 2009 ):
Frekuensi Relatif (KR) adalah perbandingan antara frekuensi jenis lamun ke-i dan frekuensi seluruh jenis lamun (Cox, 2002) :
3.3.2.4 Penutupan dan Penutupan Relatif Spesies Lamun
Penutupan lamun (C) menyatakan luasan area yang tertutupi oleh lamun. Perhitungan penutupan spesies lamun berdasarkan Setyobudianto et al. (2009) dengan formula :
Dimana : C = penutupan jenis lamun ke-i(%) Ci = persen penutupan lamun pada tiap plot f = Jumlah plot transek di setiap sub stasiun
Penutupan Relatif (RCi) spesies lamun merupakan perbandingan luas tutupan jenis ke-i dengan total tutupan semua jenis
Setelah didapatkan hasil prosentase penutupan lamun, kemudian dibandingkan dengan kriteria baku kerusakan dan pedoman penentuan status padang lamun oleh Kepmen Negara dan Lingkungan Hidup No. 200 Tahun 2004. Dari kriteria ini baku kerusakan dapat dilihat sehat tidaknya padang lamun (Tabel 4).
Tabel 4 Status padang lamun menurut Kepmen Negara dan Lingkungan Hidup No. 200 Tahun 2004
Kondisi Penutupan (%)
Baik Kaya/ Sehat ≥ 60 % Rusak Kurang kaya/kurang sehat 30 -59.9
Miskin ≤ 29.9
3.3.2.5 Indeks Nilai Penting Spesies Lamun
Indeks Nilai Penting digunakan untuk menghitung dan menduga peranan spesies ke-i didalam suatu komunitas. Semakin tinggi Indeks Nilai Penting spesies ke-i, maka semakin tinggi peranan spesies ke-i didalam komunitas demikian pula
19
sebaliknya semakin rendah Indeks Nilai Penting spesies ke-i, maka semakin rendah peranan spesies ke-i didalam komunitas (Brower et al. 1990) :
INP = FR + KR + PR Dimana : FR = frekuensi relatif
KR = kepadatan relatif PR = penutupan relatif
3.3.2.6 Biomassa Lamun
Penentuan contoh biomassa ditentukan dengan mengambil semua plot kuadran di tiap transek. Sampel contoh lamun diambil dengan menggunakan skop kecil, dibersihkan dengan mengeluarkan pasir dan batu-batuan yang masih menempel. Di laboratorium, setiap sampel lamun dibersihkan kemudian ditiriskan dengan menggunakan kertas koran, dipisahkan bagian akar, batang dan daun kemudian ditimbang untuk mengetahui berat basah lamun. Setelah penimbangan berat basah, bagian-bagian tadi dimasukan dalam kertas aluminium foil dan dimasukkan ke dalam oven pengeringan dengan suhu 600
Penentuan biomassa lamun dinyatakan dalam gram berat basah /m
C selama 24 jam (Kiswara 1995; Duarte et al. 2001) dan dilakukan penimbangan kembali untuk mengetahui berat kering dari lamun tersebut.
2
untuk lamun yang basah (dipanen dan ditiriskan) dan gram berat kering /m2
3.3.2.7 Indeks Keanekargaman (H’), Indeks Keseragaman (E) dan Dominansi Lamun (Cd)
. Fortes (1990) menambahkan bahwa besarnya biomassa lamun bukan hanya merupakan fungsi dari ukuran tumbuhan, tetapi juga merupakan fungsi dari kerapatan.
Parameter ini meliputi keragaman padang lamun; semakin tinggi nilai indeks keragaman/keanekaragaman semakin tinggi tingkat kekayaan ekosistem padang lamun. Keragaman/keanekaragaman (H’) sangat penting untuk mengetahui tingkat kestabilan suatu komunitas. Semakin tinggi indeks keanekaragaman suatu habitat, maka semakin baik kestabilan habitat tersebut terhadap tekanan dari luar (external pressure) semakin baik.
Nilai indeks padang lamun ditunjukkan pada indeks keanekaragaman Shannon- Wiener dengan persamaan sebagai berikut :
H’ =
Dimana :
pi = Proporsi Penutupan padang lamun ke i ni
N = Total Penutupan Bentuk pertumbuhan Padang lamun = Nilai Penutupan Bentuk Pertumbuhan Padang Lamun ke i
H’ = Indeks Keanekaragaman Bentuk Pertumbuhan Padang Lamun Dengan Kriteria sebagai Berikut (Magurran 2004).
Jika, H’ ≤ 2 : Keanekaragaman Rendah Jika, 2 < H’ ≤ 3 : Keanekaragaman Sedang, dan Jika, H’ > 3 : Keanekaragaman Tinggi.
Pada perhitungan nilai indeks keanekaragaman bentuk pertumbuhan padang lamun menggunakan logaritma basis 2(log2
Indeks keseragaman (regularitas) yaitu dengan membandingkan nilai indeks keanekaragaman dan nilai keanekaragaman maksimum.
) dengan pertimbangan bahwa padang lamun merupakan biota sesile alami yang keberadaranya mulai terancam, sehingga faktor probabilitasnya harus diperbesar.
Keseragaman Jenis Ikan (E) di hitung dengan rumus : E = H’/H’
Dimana : H’ = indeks keanekaragaman Shannon-Wienner maks
H’maks = log2
S = jumlah spesies S
Menurut Romimohtarto & Juwana (2001) mengatakan nilai indeks ini menggambarkan struktur penyebaran spesies yaitu merata atau tidak. Jika nilai indeks tinggi, ini menggambarkan bahwa kandungan setiap spesies berbeda banyak. Nilai indeks kemerataan berkisar antara 0 – 1, dengan kriteria sebagai berikut :
E<0.4 = keseragaman kecil 0.4≤E<0.6 = keseragaman sedang E≥0.6 = keseragaman besar
21
Untuk mengetahui dominansi suatu jenis lamun dalam komunitasnya menggunakan indeks dominansi mengacu pada Cox (2002), sebagai berikut :
Dimana : Cd = Indeks dominansi ni
N = jumalah total individu seluruh jenis. = jumlah spesies jenis ke-i
Nilai indeks dominansi berkisar 0 – 1. Jika indeks dominasi 0 berarti hampir tidak ada jenis ikan yang mendominasi dan apabila nilai indeks dominasi mendekati 1 berarti ada salah satu jenis yang mendominasi di komunitas tersebut.
3.3.3 Pengambilan Sampel Ikan
Kegiatan metode ini dilakukan pada setiap transek lamun dengan luasan 5000 m2
Penangkapan sampel ikan dilakukan dengan menggunakan dua jaring yaitu jaring kantong (fyke net) dan jaring insang (gill net). Penangkapan dengan kedua jaring dilakukan pada saat antara pasang dan surut sedalam 1-1.5 m. Jaring kantong biasanya terdiri dari dua buah sayap besar dan satu kantung dimana sebagian besar dari jaring ini bentuknya hampir menyerupai bentuk jaring pukat harimau (trawl) (Gambar 5) . Dengan menggunakan jaring ukuran 1 mm dengan panjang 25 m dilakukan penangkapan dari arah laut ke darat secara menyapu dan dilakukan pengurungan. Sedangkan untuk jarng insang berukuran panjang 30 meter lebar 1.3 m dan ukuran mata jaring 1 cm. Jaring insang diletakkan di daerah dengan kedalaman 1.5 m dan dibiarkan selama 2 jam (Gambar 6). Sesudah itu kelimpahan ikan tiap jenis (spesies) mulai diestimasi atau dihitung pada saat sudah tertangkap, dipilah dan dikelompokan menurut spesies, besar dan kecil ikan. Spesies ikan dihitung dan diidentifikasi dengan berpedoman pada FAO ; Penangkapan sampel ikan dilakukan pada siang dan malam hari. Menurut Bell dan Pollard (1989) in Merryanto (2000), adanya perbedaan dalam waktu penangkapan ini karena adanya kelimpahan relatif dari jenis tertentu, adanya perbedaan ketersediaan mangsa pada siang dan malam hari, perubahan dalam dalam mendapatkan mangsa, penghindaran dari kompetisi interspesifik atau terjadi emigrasi dari lamun pada sebagian besar jenis ikan setelah gelap.
(1974); Kuiter dan Tonozuka (2001); Allen (2000); Allen (2001); Peristiwady (2006); Kimura dan Matsuura (2000); Nelson (2006); Susetiono (2004); kuadrat pada lamun sebagai inventarisasi ikan.
Gambar 5 Jaring kantong (fyke net).
23
3.3.3.1 Komposisi Jenis Ikan
Komposisi jenis diperoleh dari data jumlah ikan dan ukuran ikan yang diperoleh dari stasiun yang ada.
3.3.3.2 Frekuensi, Indeks Keanekaragaman (H’), Indeks Keseragaman (E) Dan Dominasi (Cd) Jenis Ikan
Frekuensi keterdapatan (Fi) digunakan untuk menunujukan luasnya penyebaran lokal jenis tertentu. Hal ini terlihat dari frekuensi (%) ikan yang tertangkap dengan persamaa (Misra 1968 in Setyobudianto et al. (2009):
Untuk indeks keanekragaman; semakin tinggi nilai indeks keragaman/keanekaragaman semakin tinggi tingkat kekayaan ekosistem ikan. Keragaman/keanekaragaman (H’) sangat penting untuk mengetahui tingkat kestabilan suatu komunitas. Semakin tinggi tinggi indeks keanekargaman suatu habitat, maka semakin baik kestabilan habitat tersebut terhadap tekanan dari luar
(external pressure) semakin baik.Penentuan indeks keanekaragaman jenis pada
penelitian ini menggunkan indeks Shannon-Wiener berpedoman pada Brower dan Zar (1990); Kawaroe et al. (2001); Setyobudiandi et al. (2009), dengan formula sebagai berikut :
Dimana : H’ = indeks keanekaragaman jenis pi = ni
n
/N i
N = jumlah total individu seluruh jenis = jumlah individu jenis ke i
Agar nilai indeks Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) dapat ditafsirkan maknanya maka digunakan kriteria sebagai berikut :
Jika H’ < 1 : keanekargaman jenis rendah, Jika 1 ≤ H’ < 3 : keanekaragaan jenis sedang Jika H’ > 3 : Keanekaragaman jenis tinggi
Untuk mengetahui keseragaman suatu komunitas dan seberapa besar kesamaan penyebaran jumlah individu tiap jenis ikan digunakan indeks keseragaman (regularitas yaitu dengan membandingkan nilai indeks keanekaragaman dan nilai keanekaragaman maksimum.
Keseragaman Jenis Ikan (E) di hitung dengan rumus : E = H’/H’
Dimana : H’ = indeks keanekaragaman Shannon-Wienner maks
H’maks = log2S
S = jumlah spesies
Nilai indeks kemerataan berkisar antara 0 – 1, dengan kriteria sebagai berikut : E<0.4 = keseragaman kecil
0.4≤E<0.6 = keseragaman sedang E≥0.6 = keseragaman besar
Bila indeks keseragaman mendekati 0, maka ekosistem tersebut mempunyai kecenderungan didominansi oleh jenis tertentu dan bila indeks keseragaman mendekati 1, maka ekosistem tersebut dalam kondisi relatif stabil (Erina 2006).
Sedangkan untuk mengetahui dominasi suatu jenis ikan dalam komunitasnya menggunakan indeks dominasi Simpson (Legendre & Legendre 1983), sebagai berikut :
Dimana : Cd = Indeks dominansi ni
N = jumlah total individu seluruh jenis. = jumlah spesies jenis ke-i
Nilai indeks dominnsi berkisar 0 – 1. Jika indeks dominasi 0 berarti hampir tidak ada jenis ikan yang mendominasi dan apabila nilai indeks dominasi mendekati 1 berarti ada salah satu jenis yang mendominasi di komunitas tersebut.
3.3.3.3 Analisis Kebiasaan Makan Ikan
Tujuannya ialah mengetahui kebiasaan makan ikan sehingga dapat dilihat antar hubungan ekologi diantara organisme di perairan itu. Misalnya bentuk- bentuk pemangsaan, saingan dan rantai makanan. Jadi makanan merupakan faktor yang menentukan bagi populasi, pertumbuhan dan kondisi ikan.
25
Pengamatan kebiasaan makanan ikan dengan mengambil secara terpilih beberapa spesies ikan di setiap lokasi dengan tujuan setiap spesies yang diambil dianggap mewakili setiap lokasi. Pengamatan dilakukan dengan membedah dan meneliti isi perut ikan sampel dengan melihat jenis makanan dan prosentase kelimpahannya. Analisis ini dilakukan dengan melihat isi dan jumlah kandungan isi perut ikan.
3.3.3.4 Distribusi Spasial Antara Lokasi Penelitian Dengan Beberapa Variabel Pengamatan Penelitian
Distribusi ini menggun akan beberapa variabel seperti parameter fisika-kimia di perairan, famili ikan berdasarkan jumlah, golongan ikan target dan ikan mayor, tutupan lamun, selisih biomassa lamun dan stadia berdasarkan ukuran ikan (Lampiran 2). Mengkaji bebrapa variabel ini menggunakan analisis komponen utama (Principal Component Analysis, PCA) (Legendre & Legendre 1983; Bengen et al. 1992).
Principal Component Analysis atau analisis komponen utama merupakan model statistik deskriptif yang bertujuan untuk menampilkan dalam bentuk grafik model (model matematika) suatu informasi maksimum dari matriks data (Jongman etal. 1995)
3.3.3.5 Keterkaitan Antara Padang Lamun Dengan Jumlah Famili Ikan
Untuk mengevaluasi keterkaitan antara padang lamun berdasarkan jumlah tutupan dengan jumlah famili ikan digunakan regresi sederhana (Legendre & Legendre 1983; Jongman etal. 1995).