TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kapal
2.2 Sanitasi Kapal
Setiap orang yang berada di kapal harus menjaga sanitasi dan kesehatan kapal
seperti sarana sanitasi, suplai makanan dan kebersihan lingkunagn di kapal. Sanitasi
kapal tidak mungkin terwujud tanpa kerja sama setiap Anak Buah Kapal (ABK).
Nahkoda berkewajiban menjaga kondisi sanitasi setiap saat dan secara berkala
memeriksa kondisi sanitasi di atas kapal (CDC, 2003)
Peningkatan sanitasi kapal adalah usaha merubah keadaan lingkungan alat
angkut yang dapat berlayar menjadi lebih baik sebagai usaha pencegahan penyakit
dengan memutuskan mata rantai penularan penyakit. Tujuan peningkatan sanitasi
kapal, menurut permenkes no. 530/Menkes/per/VII/1987 adalah :
a. Meniadakan/menghilangkan sumber penularan penyakit di dalam kapal.
b. Agar kapal tetap bersih sewaktu mau berangkat maupun sedang berlayar.
c. Supaya penumpang maupun ABK senang berada didalamnya, bagi penumpang.
Berdasarkan International Health Regulation Gaide to Ship Sanitation (WHO,
2007), maka sasaran peningkatan sanitasi kapal adalah dapur, ruang rakit makanan,
ruang penyimpanan makanan, kamar tidur ABK dan penumpang, pengelolaan
2.2.1. Dapur.
Dapur kapal harus dilengkapi dengan fasilitas untuk menyimpan sampah
makanan yang aman. Semua sisa makanan harus disimpan wadah kedap air, wadah
non-absorben dan mudah dibersihkan, harus ditutup selama persipan makanan dan
penyajian makanan makanan. Wadah ini harus ditempatkan di ruang penyimpanan
limbah atau pada dek terbuka bila diperlukan. Setelah mengosongkan masing-masing
setiap wadah harus benar-benar digosok, di cuci dan dibilas dengan diinfektan, jika
perlu untuk mencegah bau dan gangguan dan minimalkan daya tarik dari tukus dan
kutu.
Keadaan dapur kapal dilihat tingkat kebersihan dapur, ada tidaknya sirkulasi
udara, pencahayaan yang cukup, adanya tempat pencucian piring dan peralatan dapur
lain yang saniter, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan vektor atau rodent, bobot nilai
10.
Penilaian sanitasi dapur kapal dikatakan baik jika memperoleh skor lebih dari
80, dengan penilaian, sebagai berikut:
(1)Keadaan dapur yang bersih diberi skor 8-10
(2)Pertukaran udara yang memenuhi syarat kesehatan diberi skor 8-10
(3)Pencahayaan yang baik yaitu lebih 10-5 Fc diberi skor 8-10
(4)Pencucian yang menggunakan mesin cuci diberi skor 8-10
2.2.2. Gudang
Tempat penyimpanan makanan yang tidak mudah membusuk harus memiliki
ventilasi harus cukup. Barang-barang harus diatur sedemikian rupa tidak menjadi
sarang serangga dan tikus dengan temperatur 100 C – 150 C, bersih, pencahayaan
yang cukup dan sebaiknya :
(1)Ratproof, flayproop, dan self closing door.
(2)Tidak menjadi tempat menyimpan insektisida, alat hapus serangga dan racun
lainnya.
(3)Tidak dimasuki anjing, kucing dan binatang lainnya.
Bila kapal akan mengadakan hapus serangga, diusahakan agar
makannan/minuman, alat-alat makan/minum dan bahan makanan yang permukaan
kontak langsung tidak tercemar oleh insectisida.
Kamar pendingin, temperature harus ditempatkan pada bagian terdingin.
Temperatur yang dianjurkan untuk beberapa makanan yang mudah membusuk .
(1) Frozen Food : -120 C atau kurang
(2) Daging dan ikan : 00 C – 30 C
(3) Susu dan produk dari susu : 50 C – 70 C
(4) Buah dan sayur : 70 C – 100 C
2.2.3. Kamar Awak kapal
Ruang tidur merupakan salah satu akomudasi bagi anak buah kapal, Peraturan
Pemerintah no 7 Tahun 2000 tentang Kepelautan mensyaratkan kamar tidur harus :
(2) Tidak memiliki pintu langsung ke ruang muatan
(3) Pencegahan masuknya serangga melalui pintu.
(4) Harus tetap terawat dan dijaga dalam keadaan bersih dan tidak boleh diisi dan
digunakan menyimpan barang lainnya.
(5) Luas lantai kamar tidur tiap anak buah kapal adalah
a. Paling sedikit 2,00 M2 untuk kapal lebih kecil dari 500 GT
b. Paling sedikit 2,35 M2 untuk kapal dengan ukuran ≥ 500 GT
c. Paling sedikit 2,78 M2 untuk kapal dengan ukuran ≥ 3000 GT
d. Untuk kamar tidur penumpang, satu kamar tidur terdapat 4 tempat tidur,
maka luas lantai per orang minimal 2,22 M2
(6) Setip perwira harus mempunyai satu kamar tidur sendiri.
2.2.4. Air Bersih
Nahkoda atau mualim yang ditugaskan, harus memastikan dengan benar
bahwa air yang di suplay dari pelabuhan memenuhi standar kualitas air bersih dengan
meminta pernyataan dari keagenen kapal, jika dibutuhkan pengelolaan atau
penyaringan di kapal harus dilaksanakan dengan metode memenuhi syarat. Untuk itu
dikapal harus ada peralatan pengujian dasar (Turbiditas, pH dan sisa Chlor) air bersih
menjaga tingkat keamanan air bersih.
Air bersih untuk persediaan di kapal minimal tersedia untuk dua hari dengan
asumsi kebutuhan 120 liter per orang per hari untuk maksimal kapasitas anak buah
kapal dan penumpang, selanjutnya air di kapal minimal mengandung 0,2 ppm sisa
Pencatatan rencana managemen dibuat dalam bentuk Standar Operasional
Prosedore (SOP) untuk menyakinkan keamanan sistem penyediaan air bersih dikapal.
Apabila pengolahan air diperlukan, metode yang dipilih harus sesuai denagn bahan
baku dan menurut standar yang berlaku dan dapat dilakukan dan dilakukan oleh
ABK.
2.2.5. Sampah
Setiap kapal dilarang melakukan pembuangan limbah, air ballas, kotoran,
sampah serta bahan kimia berbahaya dan beracun ke perairan (Ps 29 UU no 17 Tahun
2008 tentang Pelayaran). Pencegahan pencemaran dari kapal adalah upaya yang
diambil nahkoda dan/atau Anak buah Kapal sedini mungkin untuk menghindari atau
mengurangi pencemaran tumpahan minyak, bahan cair beracun, muatan berbahaya
dan kemasan, limbah kotoran (sewage) sampah (Garbage) dan gas dari kapal ke
perairan.
International Maritime Organozation (IMO) mengharuskan semua kapal dari
≥ 400 GT dan membawa ≥ 15 orang, platform tetap atau mengambang bergarak
dalam bidang eksploitasi dasar laut, harus menyediakan “Buku Rekam Sampah”
untuk mencatat semua timbulan sampah dan oparasi Insenerator. Tanggal, Waktu,
posisi kapal deskripsi sampah perkiraan jumlah habis dibakar harus dicatat dan
ditanda tangani. Buku harus disimpan untuk jangka waktu dua tahun setelah tanggal
pencatatan terakhir.
Nahkoda membuat Garbage Management Plant(GMP)/Rencana pengelolaan
pengolahan dan pembuangan sampah termasuk penggunaan peralatan di atas kapal.
Nahkoda harus menunjuk orang yang bertanggung jawab untuk melaksanakan
rencana GMP dan harus dalam bahasa kerja ABK.
Marine Environment Committee (MPEC) dalam sidang ke 55 Oktober 2006
dan telah diadopsi oleh IMO tentang spesifikasi standar untuk insenerator kapal.
Spesifikasi mencakup desain, manufaktur, kinerja, operasi dan pengujian insenerator
yang dirancang untuk membakar sampah dan limbah yang di timbul kapal.
Sampah dari kapal berupa minyak, bahan kimia dan plastik yang dapat
mengapung selama bertahun-tahun dan kemudian terdampar ke pantai. Di beberapa
daerah sebagian besar sampah berasal dari buangan kapal yang lewat dan mereka
nyaman membuang ke perairan dari pada mengumpulkan di kapal dan membuangnya
di pelabuhan tujuan.
2.2.6 Fasilitas Medis
Sebagai akomodasi untuk ABK dan Penumpang, fasilitas ini dibutuhkan
untuk menangani apabila ada yang menderita sakit maupun kecelakaan kerja, untuk
itu fasilitas medis harus memenuhi syarat :
(1) Setiap kapal dengan jumlah Anak Buah Kapal 15 (lima belas) orang atau lebih
dilengkapi dengan ruangan perawatan kesehatan yang layak dan memiliki
kamar mandi dan jamban tersendiri.
(2) Fasilitas ruang perawatan kesehatan tidak boleh di pergunakan untuk
(3) Pada setiap kapal harus tersedia obat-obatan dan bahan-bahan pembalut dalam
jumlah yang cukup.
(4) Untuk pemberian pelayanan kesehatan di kapal, Nahkoda dalam keadaan
tertentu dapat meminta bantuan nasehat dari tenaga medis di darat.