BAB IV : UPAYA YANG DILAKUKAN DALAM PELAKSANAAN
B. Sanksi Administratif terhadap Peraturan Daerah Kota
Asas pemerintahan berdasarkan undang-undang, secara historis berasal dari pemikiran hukum abad ke-19 yang berjalan seiring dengan keberadaan negara hukum klasik atau negara hukum liberal (de liberale rechtsstaatidee) dan dikuasai oleh berkembangnya pemikiran hukum legalistic-positivistik, terutama pengaruh aliran hukum legisme, yang menganggap hukum hanya apa yang tertulis dalam undang-undang.73 Oleh sebab itu, undang-undang dijadikan sebagai sendi utama penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan. Secara normatif, prinsip bahwa setiap tindakan pemerintah harus berdasarkan peraturan perundang-undangan atau berdasarkan pada kewenangan ini memang dianut di setiap negara hukum.
Sumber wewenang bagi pemerintah adalah peraturan undangan. Secara teoritis, kewenangan yang bersumber dari peraturan perundang-undangan tersebut dapat diperoleh melalui tiga cara yaitu atribusi, delegasi, dan mandat. Pada kewenangan atribusi terjadi pemberian wewenang pemerintah yang baru oleh suatu ketentuan dalam peraturan perundang-undangan, dengan kata lain di sini dilahirkan suatu wewenang baru. Sedangkan mandat terjadi ketika organ pemerintahan mengizinkan kewenangannya dijalankan oleh organ lain atas namanya. Di dalam kewenangan mandat tidak terjadi suatu pemberian wewenang baru maupun pelimpahan wewenang dari Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang satu kepada yang lain, dengan kata lain tanggung jawab kewenangan atas
73 Ibid, hlm. 95
dasar mandat masih tetap pada pemberi mandat, tidak beralih kepada penerima mandat.
Pada delegasi terjadi pelimpahan suatu wewenang yang telah ada oleh badan atau jabatan tata usaha negara yang telah memperoleh wewenang pemerintahan secara atributif kepada badan atau jabatan tata usaha negara lainnya.
Jadi suatu delegasi selalu didahului oleh adanya suatu atribusi wewenang.
Disamping itu delegasi diartikan sebagai penyerahan wewenang untuk membuat besluit oleh pejabat pemerintahan kepada pihak lain tersebut. Dengan kata penyerahan, ini berarti adanya perpindahan tanggung jawab dari yang memberi delegasi (delegans) kepada yang menerima delegasi (delegetaris). Adapun suatu delegasi harus memenuhi syarat-syarat tertentu, yang meliputi :74
1. Delegasi harus definitif, artinya delegans tidak dapat lagi menggunakan sendiri wewenang yang telah dilimpahkan itu;
2. Delegasi harus berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, artinya delegasi hanya bisa dimungkinkan jika ada ketentuan untuk itu dalam peraturan perundang-undangan;
3. Delegasi tidak kepada bawahan, artinya dalam hubungan hierarki kepegawaian tidak diperkenankan adanya delegasi;
4. Kewajiban memberi keterangan (penjelasan), artinya delegasi berwewenang untuk meminta penjelasan tentang pelaksanaan wewenang tersebut;
5. Peraturan kebijakan (beleidsregel) artinya delegasi memberikan instruksi (petunjuk) tentang penggunaan wewenang tersebut.
74 Salim HS, Penerapan Teori Hukum, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2013), hlm. 195
Dalam kajian Hukum Administrasi Negara, mengetahui sumber dan cara memperoleh wewenang organ pemerintahan ini penting, karena berkenaan dengan pertanggungjawaban hukum (rechtelijke verantwording) dalam penggunaan wewenang tersebut, seiring dengan salah satu prinsip dalam negara hukum “geen bevoegdheid zonder verantwoordelijkheid atau there is no authority without responsibility” (tidak ada kewenangan tanpa pertanggungjawaban).75
Di dalam setiap pemberian kewenangan kepada pejabat pemerintahan tertentu tersirat pertanggungjawaban dari pejabat yang bersangkutan. Berdasarkan keterangan tersebut diatas, tampak bahwa wewenang yang diperoleh secara atribusi itu bersifat asli yang berasal dari peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain, organ pemerintahan memperoleh kewenangan secara langsung dari redaksi pasal tertentu dalam suatu peraturan perundang-undangan.
Dalam hal atribusi, penerima wewenang dapat menciptakan wewenang baru atau memperluas wewenang yang sudah ada dengan tanggung jawab intern dan ekstern pelaksanaan wewenang yang diatribusikan sepenuhnya berada pada penerima wewenang (atributaris). Atribusi merupakan merupakan wewenang untuk membuat keputusan (besluit) yang langsung bersumber kepada undang-undang dalam arti materiil. Atribusi juga dikatakan sebagai suatu cara normal untuk memperoleh wewenang pemerintahan. Sehingga tampak jelas bahwa kewenangan yang didapat melalui atribusi oleh organ pemerintahan adalah kewenangan asli, karena kewenangan itu diperoleh langsung dari peraturan perundang-undangan.
75 Kusdwirarti Setiono, Op.Cit, hlm. 108
Pengaturan mengenai siapa yang berwenang untuk melakukan penegakan terhadap kawasan dilarang merokok tercantum di dalam Pasal 4 ayat (3) Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 35 Tahun 2012 Tentang Kawasan Tanpa Rokok Pada Perkantoran Di Lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang berbunyi “Setiap pimpinan atau penanggungjawab Instansi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib memberikan teguran, peringatan dan/atau mengambil tindakan kepada setiap staf atau setiap orang yang berada di tempat kerja yang menjadi tanggung jawabnya apabila terbukti melanggar larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)”.
Sanksi merupakan tindakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah agar masyarakat tetap patuh dan tunduk sesuai dengan peraturan yang berlaku Pemberian sanksi juga dapat memberikan efek jera supaya tidak dilakukan secara berulang, dan masyarakat yang lain tidak mengikutinya.
Penjatuhan sanksi administrasi juga dapat diberikan kepada badan hukum sesuai dengan pasal 201 ayat (2) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, yaitu : ”Selain pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa pencabutan izin usaha; dan/atau pencabutan status badan hukum.”
Menurut Pasal 41 Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok disebutkan setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 22 ayat (1) dan ayat (3) dikenakan sanksi berupa:
1. Teguran untuk mematuhi larangan; dan
2. Dalam hal teguran sebagaimana dimaksud pada huruf a tidak dihiraukan, maka kepada pelanggar diperintahkan untuk meninggalkan KTR.
Pasal 42 Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok disebutkan :
1. Setiap orang atau Badan yang melanggar ketentuan Pasal 22 ayat (2) dan ayat (4) dikenakan sanksi berupa teguran untuk mematuhi larangan.
2. Dalam hal bentuk pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa penjualan produk rokok oleh pedagang asongan dan/atau pedagang kaki lima dan/atau setiap orang atau badan yang tidak memiliki tempat usaha di KTR, maka setelah teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dihiraukan, kepada pelanggar diperintahkan untuk meninggalkan KTR.
3. Dalam hal pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) dilakukan oleh setiap orang atau badan yang memiliki tempat usaha di KTR, maka setelah teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dihiraukan, kepada pelanggar diberikan surat perintah/peringatan untuk meninggalkan dan/atau menghentikan kegiatan usaha di KTR.
Pasal 43 Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok disebutkan :
1. Pengelola, pimpinan, dan/atau penanggung jawab KTR yang melanggar ketentuan Pasal 21, Pasal 22 ayat (3) huruf b, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27, Pasal 28, Pasal 29, dan Pasal 30 dikenakan sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh Walikota untuk memenuhi kewajibannya dalam jangka waktu tertentu.
2. Dalam hal pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pimpinan atau penanggungjawab KTR di lingkungan Pemerintah Daerah, maka kepadanya dikenakan sanksi sesuai peraturan perundangan-undangan yang berlaku
Merokok di kawasan yang termasuk ke dalam kawasan dilarang merokok, merupakan sebuah tindak pidana ringan, yaitu tindak pidana yang bersifat ringan atau tidak berbahaya.
Sanksi pidana yang dapat dijatuhkan bagi pelanggar kawasan dilarang merokok dicantumkan di dalam pasal 199 ayat (2) Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, yaitu : “Setiap orang yang dengan sengaja melanggar kawasan tanpa rokok sebagaimana dimaksud dalam pasal 115 dipidana denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)”.
Pasal 44 Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok disebutkan :
1. Setiap orang yang merokok di tempat atau area yang dinyatakan sebagai KTR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, Pasal 22 ayat (1) dan ayat (3), dan Pasal 41, diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) hari atau pidana denda paling banyak Rp 50.000,00 (lima puluh ribu rupiah).
2. Setiap orang atau badan yang mempromosikan, mengiklankan, menjual, dan/atau membeli rokok di tempat atau area yang dinyatakan sebagai KTR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) dan ayat (5) huruf a dan huruf b dan Pasal 42, diancam pidana kurungan paling lama 7 (tujuh) hari atau pidana denda paling banyak Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah).
3. Setiap pengelola, pimpinan dan/atau penanggung jawab KTR yang tidak melakukan pengawasan internal, membiarkan orang merokok, tidak menyingkirkan asbak atau sejenisnya, dan tidak memasang tanda-tanda dilarang merokok di tempat atau area yang dinyatakan sebagai KTR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 dan Pasal 43, diancam pidana kurungan paling lama 15 (lima belas) hari atau pidana denda paling banyak Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah).
4. Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3), adalah pelanggaran.
Pasal 45 Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok disebutkan denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) merupakan penerimaan negara.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan paparan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, dan memperhatikan tujuan penelitian mengenai penerapan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok di institusi pelaksana layanan publik, maka diperoleh kesimpulan yaitu:
1. Implementasi/penerapan kebijakan pemerintah tentang Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok di Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Sun Plaza Medan dan RSU Dr. Pirngadi Medan belum sepenuhnya direspon baik oleh seluruh stakeholder kebijakan di Kota Medan. Akibatnya, implementasi kebijakan kawasan tanpa asap rokok di Kota Medan belum berjalan maksimal. Hal ini terlihat dari kurangnya kegiatan atau program-program yang dilakukan Pemerintah Kota Medan untuk menindaklanjuti keputusan kebijakan yang tertuang dalam Perda, sehingga tidak sebanding dengan keinginan yang diharapkan dari pemberlakuan kebijakan tersebut. Kondisi ini tentu tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat Kota Medan untuk menciptakan masyarakat dan lingkungan yang sehat dan bebas dari asap rokok.
2. Kendala dalam pelaksanaan kawasan tanpa rokok di kota Medan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok adalah disebabkan beberapa faktor, yaitu kurangnya sosialisasi, kurangnya komitmen para pelaku kebijakan, kurangnya kepatuhan masyarakat, serta tidak ditegakkannya sanksi-sanksi terhadap para pelanggar kebijakan.
3. Upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Medan melalui SATPOL PP terhadap instansi terkait dalam pelaksanaan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok adalah meningkatkan pengawasan terhadap kepatuhan anggota lembaga-lembaga yang telah ditetapkan sebagai kawasan tanpa asap rokok di Kota Medan dalam melaksanakan ketentuan kebijakan tersebut, memberikan sanksi bagi anggota lembaga-lembaga yang telah ditetapkan sebagai kawasan tanpa asap rokok jika tidak patuh dalam melaksanakan keputusan kebijakan kawasan tanpa asap rokok di Kota Medan, meningkatkan sosialisasi kebijakan kawasan tanpa asap rokok di Kota Medan kepada anggota lembaga-lembaga yang termasuk dalam kawasan atau lingkungan tanpa asap rokok di Kota Medan, meningkatkan jumlah dan ukuran media yang menunjukkan larangan dan sanksi bagi para pelanggarnya pada lokasi-lokasi yang termasuk dalam kawasan tanpa asap rokok di Kota Medan supaya keberadaan media larangan merokok tidak kalah jumlah maupun kualitas dengan media-media yang mengiklankan penjualan rokok serta membangun kolaborasi dengan berbagai stakeholder kebijakan, baik dari unsur swasta maupun masyarakat untuk mendukung implementasi kebijakan tersebut.
B. Saran
Adapun beberapa saran yang dapat diberikan dan dijadikan bahan pertimbangan sehubungan dengan penerapan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok di institusi pelaksana layanan publik adalah sebagai berikut :
1. Kepada pihak institusi pelaksana layanan publik khususnya Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Sun Plaza Medan dan RSU Dr. Pirngadi Medan agar dapat
memberikan informasi-informasi larangan merokok di lingkungan institusinya masing-masing agar lebih sering menghimbau setiap pengunjung baik melalui operator maupun secara langsung untuk tidak merokok, termasuk memperbanyak pemasangan spanduk.
2. Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok, perlu didukung dengan penyediaan ruangan khusus merokok yang nyaman serta mudah dijangkau bagi para perokok aktif dan peraturan larangan merokok disosialisasikan kepada mahasiswa secara jelas sehingga para perokok aktif dapat mengerti dan melaksanakan peraturan larangan merokok sebaik-baiknya.
3. Pihak pimpinan di Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Sun Plaza Medan dan RSU Dr. Pirngadi Medan harus mengeluarkan kebijakan yang mengatur khusus mengenai KTR terkait penerapan kawasan bebas asap rokok dan memberi sanksi ketika masih ada yang melanggar peraturan tersebut, sehingga peraturan tersebut dapat efektif.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku
Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004.
Hadibroto, HS. dan Oemar Witarsa, Sistem Pengawasan Intern, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 2005.
Hadjon, Philipus M. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Gajah Mada University Press, Yogakarta, 2008.
HS, Salim, Penerapan Teori Hukum, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2013 Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Pedoman Teknis Pengembangan
Kawasan Tanpa Rokok, Kementrian Kesehatan RI, Jakarta, 2011.
Mamuji, Sri, Teknik Menyusun Karya Tulis Ilmiah, UI Press, Jakarta, 2006.
Moekijat, Manajemen Kepegawaian, Mandar Maju, Bandung, 2009
Setiawan, Guntur, Impelemtasi dalam Birokrasi Pembangunan, Balai Pustaka, Jakarta, 2004.
Simbolon, Maringan Masry, Dasar-dasar Administrasi dan Manajemen. Ghalia Indonesia, Jakarta, 2004
Soekanto, Soerjono dan Srimamudji, Penelitian Hukum Normatif, Ind-Hillco, Jakarta, 2001.
Setiono, Kusdwirarti, Manusia, Kesehatan dan Lingkungan, Alumni, Bandung, 2008
Sukarno, Dasar-Dasar Managemen¸ Miswar, Jakarta, 2005
Sule, Trisnawati Ernie dan Saefullah, Pengantar Manajemen. Kencana, Jakarta, 2005
Sunggono, Bambang, Metode Penelitian Hukum Raja Grafindo Perkasa, Jakarta, 2003
Tangkilisan, Hesel Nogi, Kebijakan Publik yang Membumi. YPAPI, Yogyakarta, 2004
Waluyo, Bambang, Penelitian Hukum Dalam praktek, Sinar Grafika, Jakarta, 2006
B. Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan.
Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 35 Tahun 2012 Tentang Kawasan Tanpa Rokok Pada Perkantoran Di Lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara
Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Kawasan Tanpa Rokok
C. Internet
https://tirto.id/seberapa-banyak-rokok-sumbang-pemasukan-kas-negara- diakses Kamis, 21 Desember 2017.
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20160211131204-92-110326/industri-rokok-serap-pekerja-saat-sektor-lain-ramai-phk, diakses Kamis, 21 Desember 2017
http://regional.kompas.com/read/kawasan.tanpa.rokok.di.medan.antara.ada.dan.tia da. diakses Kamis, 21 Desember 2017
https://lifestyle.kompas.com, tempat.khusus.merokok.wajib.disediakan, diakses
Panglaykin dan Hazil. Fungsi Controling Pengendalian Pengawasan dalam Manajemen”, melalui http://www.kompasiana.com, diakses Kamis
Soejamto, “Pengertian Pengawasan, Defenisi dan Tujuan Pengawasan”, melalui http://pengertianedefinisi.com, diakses Kamis, 08 Pe Pebruari 2018.
Sule Erni Trisnawati dan Kurniawan Saefullah, “Pengertian dan Tujuan Pengawasan” melalui http://www.pengertianpakar.com, diakses Kamis, 08 Pe Pebruari 2018.
TCSC-IAKMI. Atlas Tembakau Indonesia. diakses 08 Pebruari 2018