• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PEMBINAAN KOLEKSI PADA PERPUSTAKAAN UIN

3.6 Sanksi

Sanksi adalah pelayanan sirkulasi berupa pemeriksaan atas pelanggaran yang dilakukan oleh pemakai/pengunjung dan pemberian sanksi. Sanksi yang diterapkan pada Perpustakaan UIN-SU adalah:

1. keterlambatan pengembalian buku pinjaman dari waktu yang telah ditentukan akan dikenakan denda Rp 300 per buku/hari.

2. Jika dalam 1 tahun buku pinjaman belum dikembalikan maka, akan dikenakan denda Rp 75.000 per buku/tahun.

3. Apabila terdapat kerusakan dalam buku pinjaman, maka peminjam wajib memperbaikinya dan apabila buku rusak,peminjam wajib menggantinya. 4. Bagi anggota/pengunjung yang kedapatan merusak, mengguntingnya,

mengoyak, baik dalam ruang baca maupun diluar (pinjaman bawa pulang), maka anggota dan pengunjung tersebut akan dicabut haknya sebagai anggota dan kasus akan disampaikan kepada Dekan Rektor.

Sanksi yang diberikan kepada pengguna yang lalai mengembalikan bahan pustaka yang tidak tepat waktunya, maksudnya bukan untuk membuat beban kepada pemakai jasa perpustakaan.Tetapi untuk menunjukkan tanggung jawab atas buku yang dipinjamnya, agak dikembalikan pada tepat waktunya.Apabila pengguna

terlambat hal pengembalian bahan pustaka. Berarti akan mengurangi kesempatan pengguna lain untuk menggunakan bahan pustaka tersebut.

Tata Tertib Perpustakaan

Setiap pengguna yang akan menggunakan fasilitas perpustakaan diharuskan : 1. Membawa kartu idensitas yang berlaku.

2. Kartu perpustakaan tidak boleh dipinjamkan kepada orang lain.

3. Bagi pengunjung dari luar UIN-SU, harus menunjukkan kartu identitas diri yang masih berlaku.

4. Menyimpan tas atau map pada tempat yang telah disediakan. Barang berharga seperti dompet, kalkulator, uang, perhiasan dll, harap dibawa. Kehilangan barangberharga diluar tanggung jawab perpustakaan.

5. Mengisi daftar pengunjung tang telah disediakan.

6. Bahan pustaka yang telah selesai dibaca harap dikembalikan ke tempat semula.

7. Pelayanan fotokopi koleksi dapat dilakukan dengan mengisi formulir pada bagian sirkulasi.

8. Menjaga ketenangan di perpustakaan.

9. Tidak diperkenankan membawa makanan atau minuman kedalam ruang bacaperpustakaan.

10.Bila dianggap perlu sewaktu-waktu petugas mengadakan pemeriksaan pada pengunjung.

Keterangan Bebas Pustaka 1. Wajib Bebas Pustaka

a. Mahasiswa UIN-SU yang telah dinyatakan lulus. b. Mahaiswa UIN-SU yang berhenti/dikeluarkan.

d. Staf pengajar dan staf administrasi UIN-SU yang telah selesai masa baktinya.

2. Cara mendapatkan Surat Keterangan Bebas Pustaka

a. Surat keterangan bebas pustaka dikeluarkan hanya oleh Perpustakaan Pusat UIN-SU.

b. Untuk mahasiswa, membawa surat pengantar dari fakultas.

c. Membayar uang administrasi Rp.50.000 bagi mahasiswa S1 dan

Rp.100.000 bagi mahasiswa pasca sarjana.

Tahapan Pengolahan Bahan Pustaka di IAIN Medan 1. Inventarisasi

adalah suatu kegiatan pencatatan yang berupa bahan pustaka kedalam buku induk untuk sebagai bukti bahan pustaka tersebut masuk dalam jangka waktu tertentu ke perpustakaan. Apabila di bandingkan dengan pendapat Mastini Hardjoprakoso (1992:47) yang ada di bab II inventarisasi adalah pencatatan setiap bahan pustaka yang masuk secara kronologis. Dari buku, kita dapat mengetahui berapa buku yang telah masuk daalm jangka waktu tertentu, sumber dan harga setiap bukubila dibeli.

Dari perbandingan Inventarisasi yang berjalan di IAIN Medan sudah sangat mendekati dengan pendapat Mastini Hardjoprakoso yang merupakan suatu kegiatan perpustakaan untuk mengetahui buku yang telah masuk dalam waktu tertentu.

2. Klasifikasi

Klasifikasi adalah suatu pengelompokan sejumlah objek ataupun benda-benda kedalam kelas atau golongan tertentu berdasarkan cirri-citi yang sama untuk mempermudah pengguna mencari informasi. Apabila dibandingkan dengan pendapat Lasa HS (2002: 27) Klasifikasi adalah pengelompokkan yang sistematis dari pada sejumlah obyek, gagasan, buku atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama (Towa, 2009:1). Sistem klasifikasi ini bermacam-macam antara lain; Dewey Decimal Classification (DDC), Universal

Decimal Classification (UDC), serta Library of Congress Classification (LCC) dan

perluasannya. Dan Menurut Sulistyo-Basuki (1999:298) mendefinisikan klasifikasi yang diterapkan di pusat informasi dan perpustakaan adalah penyusunan sistematik terhadap buku atau bahan pustaka lain atau katalog atau entri indeks berdasarkan subjek, dalam cara yang paling berguna bagi mereka yang membaca atau mencari informasi. Klasifikasi diperlukan karena pentingnya efisiensi waktu untuk temu kembali, serta mengingat jumlah dokumen yg semakin banyak.

Dari perbandingan klasifikasi yang diterapkan di IAIN Medan dengan pendapat para ahli yang di kemukakan di atas dapat di simpulkan bahwa klasifikasi yang di terapkan IAIN Medan sudah mendekati dengan yang di kemukakan oleh pendapat para ahli.

3. Pembuatan Katalog

Pembuatan katalog adalah suatu proses pembuatan daftar pustaka yang dimiliki suatu perpustakaan untuk membantu proses temu kembali dan pengembangan standar-standar bibliografi internasional. Apabila dibandingkan dengan pendapat Sulistyo-Basuki (1991:54) Katalog adalah sebagai berikut:

Memungkinkan seorang menemukan sebuah buku yang diketahui pengarangnya, judulnya atau subjeknya. Menunjukan buku yang dimiliki perpustakann oleh pengarang tertentu, berdasarkan subjek tertentu dan dalam jenis literatur tertentu.Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan edisinya dan berdasarkan karakternya (sastra ataukah berdasarkan topik).

Dari perbandingan pembuatan katalog yang diterapkan di IAIN Medan dengan yang di kemukakan Sulistyo-Basuki (1991:54) di atas sudah sangat mendekati guna membantu pengguna dalam mencari informasi yang dibutuhkannya.

4. Penyelesaian Dan Penyusunan Buku Di Rak

Dalam penyelesaian dan penyusunan buku di rak pustakawan mencari sarana atau alat yang dapat memberikan gambaran tentang suatu bahan pustaka dalam bentuk catatan serta mengatur buku-buku di rak untuk memudahkan pengguna atau pustakawan menemukan bahan pustaka dengan mudah. Dan cara penyusunan yang ada di IAIN dimulai dari 000. Dari perbandingan penyelesaian dan penyusunan buku di rak yang diterapkan di IAIN Medan dengan yang di kemukakan menurut P. Sumardji (1991:135) tata kerja penyusunan buku di rak yaitu:Tulisan nomor penempatan (call number) pada label yang ditempelkan pada punggung buku, berfungsi sebagai petunjuk tempat dan nomor urut di mana buku yang bersangkutan harus ditempatkan dan disusun pada rak buku.

Dari perbandingan penyelesaian dan penyusunan buku di rak yang berjalan di IAIN Medan sudah sangat mendekati dengan pendapat P. Sumardji (1991:135) guna membantu penguna dan pustakawan mendapatkan bahan pustaka.

Dokumen terkait