BAB II LANDASAN TEORI
2.2 Sunset Policy (PMK.91 Tahun 2015)
2.2.1 Sanksi Perpajakan
Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan
patuhi, dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah agar wajib
pajak tidak melanggar norma perpajakan (Mardiasmo, 2006: 44). Peraturan atau
Undang-Undang merupakan rambu-rambu bagi seorang individu untuk
mengetahui perilaku yang diperbolehkan atau tidak untuk dilakukan. Sanksi
diperlukan agar peraturan atau perundang-undangan tidak dilanggar (Rahayu,
2009: 213).
Suatu kebijakan berupa pengenaan sanksi perpajakan mempunyai dua
maksud, yang pertama adalah untuk mendidik dan yang kedua adalah untuk
menghukum (Mulyodiwarno, 2007:12). Dengan mendidik, dimaksudkan agar
mereka yang dikenakan sanksi akan menjadi lebih baik dan lebih mengetahui hak
dan kewajiban perpajakannya sehingga tidak lagi melakukan kesalahan yang
sama. Maksud yang kedua adalah untuk menghukum sehingga pihak yang
terhukum akan menjadi jera dan tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.
Dalam Undang-Undang Perpajakan dikenal dua macam sanksi, yaitu sanksi
administrasi dan sanksi pidana. Sanksi administrasi adalah sanksi yang dikenakan
bagi wajib pajak yang melakukan pelanggaran, terutama terhadap kewajibannya
yang telah ditentukan dalam UU KUP seperti yang tercantum dalam
Undang-Undang No. 16 Tahun 2009 tentang perubahan ke 3 atas Undang-Undang-Undang-Undang No. 6
Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dapat dikenakan
sanksi berupa sanksi administrasi bunga, denda dan kenaikan:
1. Denda
Denda adalah sanksi administrasi yang dikenakan terhadap pelanggaran
pemberitahuan (SPT) Pajak penghasilan (PPh), tidak membuat faktur pajak
atau membuat tetapi tidak tepat waktu, tidak mengisi faktur pajak,
melaporkan tidak sesuai masa penerbitan faktur pajak (PPn).
2. Bunga
Sanksi administrasi yang dikenakan terhadap pelanggaran yang berkaitan
dengan pajak yang tidak atau kurang bayar.
3. Kenaikan
Kenaikan dikenakan terhadap hasil pemeriksaan terkait dengan
pengungkapan ketidak benaran yang berhubungan dengan pembukuan, data
SPT yang tidak benar, NPWP, jabatan, kewajiban terkait pemeriksaan, tidak
menyampaikan SPT dan sebagainya.
Sedangkan, sanksi pidana dikenakan bagi wajib pajak yang melakukan
pelanggaran cukup berat sehubungan dengan peraturan perundangan-undangan
perpajakan khususnya yang tercantum dalam ketentuan umum dan tata cara
perpajakan. Sanksi pidana dapat berupa hukuman kurungan dan hukuman penjara
(Rahayu, 2010: 213).
Tahun Pajak 2015 kemarin tepatnya bulan Mei, Pemerintah mengeluarkan
kebijakan yang dikenal sebagai Sunset Policy Jilid 2 yang disebut-sebut sebagai
Reinventing Policy. Sama halnya dengan Sunset Policy pada tahun 2008, pada
kebijakan Sunset Policy tahun 2015 ini juga memberikan penghapusan atas sanksi
administrasi yang berupa bunga. Kebijakan yang diberikan Pemerintah berupa
memberikan kesempatan bagi wajib pajak untuk melakukan kewajiban
perpajakannya secara benar (Mangunsong, 2010: 4).
Bagi Wajib Pajak orang pribadi dan badan, baik yang telah maupun yang
belum menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan, SPT Tahunan PPh Orang
Pribadi, SPT Masa PPh maupun SPT Masa PPN, akan diberikan penghapusan
sanksi administrasi atas keterlambatan penyampaian SPT, pembetulan SPT dan
keterlambatan penyetoran atau pembayaran pajak apabila dalam 2015, Wajib
Pajak menyampaikan atau melakukan pembetulan SPT untuk lima tahun ke
belakang sejak kebijakan ini dimulai.
Bako (2004) menyebutkan beberapa manfaat pengampunan pajak. Pertama,
bagi negara pengampunan pajak dapat meningkatkan tax ratio. Kedua, bagi wajib
pajak yang belum memiliki NPWP pengampunan pajak dapat menghindarkan
sanksi perpajakan. Ketiga, bagi aparat perpajakan pengampunan pajak dapat
meningkatkan jumlah wajib pajak dan menertibkan administrasi perpajakan
sehingga upaya meningkatkan penerimaan pajak dapat lebih optimal.
Silitonga (2008) berpendapat bahwa salah satu cara inovatif untuk
meningkatkan penerimaan pajak menambah beban pajak baru kepada masyarakat,
dunia usaha, dan para pekerja adalah melalui program pengampunan pajak.
Pengampunan pajak diharapkan menghasilkan penerimaan pajak yang selama ini
belum dibayar dan meningkatkan kepatuhan serta efektivitas pembayaran karena
daftar kekayaan wajib pajak semakin akurat.
Salah satu langkah diterapkannya Sunset Policy Jilid II ini adalah adanya
Sanksi Administrasi Bunga yang terbit berdasarkan Pasal 19 ayat (1) UU KUP
(dikenal dengan sanksi bunga penagihan) apabila Wajib Pajak melunasi utang
pajak yang timbul sebelum tanggal 1 Januari 2015 dan pelunasan dilakukan
sebelum 1 Januari 2016 (www.infopajak.com)
Landasan Hukum Sunset Policy Jilid II selain di atas, ada dalam Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 91/PMK.03/2015, DJP atas permohonan Wajib Pajak
dapat mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi dalam hal sanksi
administrasi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak atau bukan karena
kesalahan Wajib Pajak. Sanksi administrasi tersebut terbatas atas:
1. Keterlambatan penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahun Pajak
Penghasilan (PPh) untuk Tahun Pajak 2014 dan sebelumnya atau SPT Masa
untuk Masa pajak Desember 2014 dan sebelumnya;
2. Keterlambatan pembayaran atau penyetoran atas kekurangan pembayaran
pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh untuk Tahun Pajak 2014
dan sebelumnya;
3. Keterlambatan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang untuk suatu
masa atau masa pajak sebagaimna tercantum dalam SPT Masa untuk Masa
Pajak Desember 2014 dan sebelumya; dan/atau
4. Pembetulan yang dilakukan oleh Wajib Pajak dengan kemauan sendiri atas
SPT Tahunan PPh untuk Tahun Pajak 2014 dan sebelumnya dan/atau SPT
Masa untuk Masa Pajak Desember 2014 dan sebelumnya yang
mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar, yang dilakukan pada tahun
Terdapat perbedaan pada Sunset Policy tahun 2008, yaitu atas wajib pajak
yang melakukan pelaporan atau pembetulan SPT dan termasuk dalam pengertian
PMK ini, tetap akan diterbitkan Surat Teguran Pajak (STP). Namun STP tersebut
bisa dihapuskan dengan cara pengajuan permohonan. Wajib Pajak akan
mendapatkan pengurangan atau penghapusan atas sanksi administrasi jika
menyampaikan permohonan kepada DJP.
Permohonan tersebut harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan
antara lain yaitu surat permohonan diajukan secara tertulis, melampirkan bukti
pelunasan utang pajak berupa Surat Setoran Pajak dan ditandatangani oleh Wajib
Pajak yang bersangkutan. Terdapat beberapa perbedaan dalam progam Sunset
Tabel 2.1
Perbedaan Sunset Policy I dan Sunset Policy Jilid II
Keterangan Sunset Policy I Sunset Policy Jilid II
1. Dasar Hukum a. Pasal 37 A UU KUP b. PMK 18/PMK.03/2008
a. Pasal 36 (1) huruf a UU KUP
b. PMK 91/PMK.03/2015 2. Jenis Pajak Insentif hanya diberikan
atas Pajak Penghasilan (PPh)
Insentif diberikan kepada seluruh jenis pajak.
3. Sasaran Kebijakan a. Insentif hanya diberikan jika WP menyampaikan
pembetulan SPT Tahun Pajak sebelum 2007. b. Khusus WPOP yang
belum terdaftar namun
secara sukarela
mendaftarkan diri
untuk memperoleh
NPWP diberikan
penghapusan sanksi administrasi atas pajak yang tidak atau kurang bayar untuk tahun
pajak sebelum
diperoleh NPWP.
a. Insentif diberikan kepada WP yang menyampaikan SPT pertama kalinya atau SPT pembetulan. b. Insentif diberikan atas keterlambatan pembayaran maupun keterlambatan pelaporan SPT yang dilakukan di tahun 2015. (Sumber: www.ortax.org)