• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PERSAMAAN SUNSET POLICY DAN TAX AMNESTY

B. Sanksi-Sanksi Perpajakan

1. Sanksi Administrasi

Hukum pajak memuat instrumen hukum berupa sanksi administrasi yang dapat digunakan oleh pejabat pajak terhadap Wajib Pajak yang tidak memenuhi kewajiban sebagaimana yang ditentukan dalam undang-undang pajak.

Sanksi adminstrasi sebagai upaya untuk memaksa Wajib Pajak agar mentaati ketentuan-ketentuan yang terkait dengan pelaksanaan kewajiban dibidang perpajakan. Sekalipun sanksi administrasi sebagai upaya untuk memaksa Wajib Pajak , pejabat pajak tidak boleh sewenang-wenang menerapkannya agar tidak

97Ibid

terjadi perbuatan melanggar hukum pajak yang dilakukan oleh pejabat pajak tersebut.98

Sanksi administrasi diperuntukkkan bagi Wajib Pajak yang melakukan pelanggaran hukum pajak yang bersifat administratif. Tidak tertuju kepada fisik Wajib Pajak, melainkan hanya perupa penambahan jumlah pajak yang terutang karena ada sanksi administrasi yang harus dibayar oleh Wajib Pajak.

Sanksi administrasi terhitung pada saat dikenakan kepada Wajib Pajak dengan jangka waktu tertentu sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-Undang Pajak.99 Jangka waktu yang ditentukan itu sebagai suatu kepastian hukum yang tidak boleh dilanggar baik oleh pejabat pajak maupun Wajib Pajak yang terkena sanksi administrasi.

Landasan hukum mengenai sanksi administrasi diatur dalam masing-masing pasal UU KUP, diatur dengan tegas mengenai hak dan kewajiban Wajib Pajak dan hak dan kewajiban fiskus, dalam rangka penegakan hukum pajak (tax law enforcement).

Sanksi administrasi dapat dijatuhkan apabila Wajib Pajak melakukan pelangaran, terutama atas kewajiban yang ditentukan dalam UU KUP dapat berupa sanksi administrasi bunga, denda, kenaikan. Sedangkan sanksi pidana bisa berupa hukuman kurungan dan hukuman penjara.

98

Muhammad Djafar Saidi, Pembaharuan Hukum Pajak, Raja Grafindo Persada, Jakarta,

2007, hal. 265

Sanksi administrasi bukan merupakan bagian dari utang pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 10 UUKUP bahwa Pajak Yang Terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam masa pajak, dalam tahun pajak atau dalam bagian tahun pajak menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Menurut Sony Devano, pengertian sanksi Administrasi dapat berupa:

a. Denda adalah sanksi administrasi yang dikenakan terhadap pelanggaran yang berkaitan dengan kewajiban pelaporan.

b. Bunga adalah sanksi administrasi yang dikenakan terhadap pelanggaran yang berkaitan dengan kewajiban pembayaran pajak.

c. Kenaikan adalah sanksi administrasi yang berupa kenaikan jumlah pajak yang harus dibayar, terhadap pelanggaran berkaitan dengan kewajiban yang diatur dalam ketentuan material.100

a) Sanksi Administrsi Berupa Bunga

Sanksi administrasi berupa bunga merupakan salah satu jenis Sanksi administrasi yang dapat dikenakan kepada Wajib Pajak saat melakukan pelanggaran hukum pajak yang terkait dengan pelaksanaan kewajiban101. Kewajiban Wajib Pajak yang terkait dengan sanksi administrasi berupa bunga adalah pembayaran secara lunas pajak dalam jangka waktu yang ditentukan sebagaimana yang tercantum dalam dasar penagihan pajak.

Adapun Kelompok sanksi administrasi berupa bunga, dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, terdiri dari:

100

Sony Devano, Op. Cit, hal. 198

a. Pasal 8 ayat (2)102 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

Besarnya 2 % sebulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar, dihitung sejak saat penyampaian Surat Pemberitahuan berakhir sampai dengan tanggal pembayaran karena pembetulan Surat Pemberitahuan tersebut.

b. Pasal 9 ayat (2a)103 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

Apabila pembayaran penyetoran dalam Masa Pajak dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % sebulan yang dihitung dari jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran dan bagian dari bulan dihitung satu bulan. c. Pasal 9 ayat (2b)104 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara

Perpajakan

102

Pasal 8 ayat (2) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Dalam hal Wajib Pajak membetulkan sendiri Surat Pemberitahuan Tahunan yang mengakibatkan utang pajak menjadi lebih besar, kepadanya dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan atas jumlah pajak yang kurang dibayar, dihitung sejak saat penyampaian Surat Pemberitahuan berakhir sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.

103

Pasal 9 ayat (2a) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Pembayaran atau penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran atau penyetoran pajak, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.

104

Pasal 9 ayat (2b) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Pembayaran atau penyetoran pajak dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.

d. Pasal 13 ayat (2)105 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

Besarnya 2% sebulan untuk selama-lamanya 24 bulan, dihitung sejak terutangnya pajak atau berakhirnya masa/bagian tahun sampai dengan diterbitkannya SKPKB.

e. Pasal 13 ayat (5)106 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

Atas pembayaran atau penyetoran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan, dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung mulai dari berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.

105

Pasal 13 ayat (2) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf e ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan, dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar.

106

Pasal 13 ayat (5) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Walaupun jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar tetap dapat diterbitkan ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% (empat puluh delapan persen) dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar, apabila Wajib Pajak setelah jangka waktu tersebut dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang

Besarnya 48 % dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar yang ditambahkan dalam SKPKB. Wajib Pajak setelah jangka waktu 10 tahun dipidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

f. Pasal 14 ayat (3)107 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

Besarnya 2 % sebulan, selama-lamanya 24 bulan, dihitung sejak saat terutangnya pajak atau bagian tahun pajak sampi dengan diterbitkannya Surat Pemberitahuan:

- Pajak Penghasilan dalam tahun berjalan tidak atau kurang dibayar. - Dari hasil penelitian Surat Pemberitahuan terdapat kekurangan

pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis dan/atau salah hitung. g. Pasal 14 ayat (5)108 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara

Perpajakan.

perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

107

Pasal 14 ayat (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan huruf b ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan, dihitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak sampai dengan diterbitkannya Surat Tagihan Pajak

108

Pasal 14 Ayat (5) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Terhadap Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dari jumlah pajak yang ditagih kembali,

Bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dari jumlah pajak yang ditagih kembali, dihitung dari tanggal penerbitan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak sampai dengan tanggal penerbitan Surat Tagihan Pajak, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan

h. Pasal 15 Ayat (4)109 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

Besarnya 48 % dari jumlah pajak yang tidak atau kurang bayar yang ditambahkan dalam SKPKB. Wajib Pajak setelah jangka waktu 10 tahun dipidana dibidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

i. Pasal 19 ayat 1110 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

dihitung dari tanggal penerbitan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak sampai dengan tanggal penerbitan Surat Tagihan Pajak, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.

109

Pasal 15 ayat (4) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Apabila jangka waktu 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan tetap dapat diterbitkan ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 48% (empat puluh delapan persen) dari jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar, dalam hal Wajib Pajak setelah jangka waktu 5 (lima) tahun tersebut dipidana karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

110

Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Apabila Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atau Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan, serta Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding atau Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah, pada saat jatuh tempo pelunasan tidak atau kurang dibayar, atas jumlah pajak yang tidak atau kurang dibayar itu dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan untuk seluruh masa, yang dihitung dari tanggal jatuh tempo sampai dengan tanggal pelunasan atau tanggal diterbitkannya Surat Tagihan Pajak, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.

Besarnya 2 % sebulan untuk seluruh masa, dihitung dari jatuh tempo sampai dengan hari pembayaran dan bagian dri bulan dihitung penuh satu bulan. j. Pasal 19 ayat 2111 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara

Perpajakan

Besarnya 2 % sebulan. Wajib Pajak yang diperbolehkan mengangsur atau menunda pembayaran pajak.

k. Pasal 19 ayat (3)112 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

Besarnya 2% sebulan dihitung dari saat berakhirnya kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan sampai dengan hari dibayarnya kekurangan pembayaran pajak.

b) Sanksi Administrasi Berupa Denda

Selain sanksi administrasi berupa bunga, dikenal pula sanksi administrasi berupa denda yang dapat dikenakan kepada Wajib Pajak yang tidak menaati

111

Pasal 19 ayat (2) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Dalam hal Wajib Pajak diperbolehkan mengangsur atau menunda pembayaran pajak juga dikenai sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan dari jumlah pajak yang masih harus dibayar dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.

112

Pasal 19 ayat (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Dalam hal Wajib Pajak diperbolehkan menunda penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan dan ternyata penghitungan sementara pajak yang terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (5) kurang dari jumlah pajak yang sebenarnya terutang atas kekurangan pembayaran pajak tersebut, dikenai bunga sebesar 2% (dua persen) per bulan yang dihitung dari saat berakhirnya batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) huruf b dan huruf c sampai dengan tanggal dibayarnya kekurangan pembayaran tersebut dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 (satu) bulan.

ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Pengenaan sanksi administrasi dilakukan oleh pejabat pajak dalam rangka menegakkan hukum pajak.

Sanksi administrasi berupa denda tidak diterapkan untuk semua jenis pajak, hanya Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, serta Pajak Bumi dan Bangunan. Sementara itu, Pajak yang tidak mengenal sanksi administrasi berupa denda adalah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan serta Pajak Daerah.

Adapun Kelompok sanksi administrasi berupa Denda, dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, terdiri dari:

a. Pasal 7 113 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

113

Pasal 7 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang- Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

(1) Apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 3 ayat (3) atau batas waktu perpanjangan penyampaian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4), dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa lainnya, dan sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan serta sebesar Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi.

(2) Pengenaan sanksi administrasi berupa denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dilakukan terhadap:

a. Wajib Pajak orang pribadi yang telah meninggal dunia;

b. Wajib Pajak orang pribadi yang sudah tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas;

c. Wajib Pajak orang pribadi yang berstatus sebagai warga negara asing yang tidak tinggal lagi

di Indonesia;

d. Bentuk Usaha Tetap yang tidak melakukan kegiatan lagi di Indonesia;

e. Wajib Pajak badan yang tidak melakukan kegiatan usaha lagi tetapi belum dibubarkan sesuai

dengan ketentuan yang berlaku;

f. Bendahara yang tidak melakukan pembayaran lagi;

g. Wajib Pajak yang terkena bencana, yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Menteri

Keuangan; atau

Besarnya denda Rp. 500.000 dan Rp. 100.000 terlambat memasukkan SPT tahunan atau menyampaikan Surat Pemberitahuan masa/tahunan tidak sesuai dengan batas waktu yang ditentukan. sebesar Rp 1.000.000 untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak Badan serta sebesar Rp100.000 untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi.

b. Pasal 8 ayat (3) 114 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar, membetulkan Surat Pemberitahuan setelah diperiksa, tetapi belum dilakukan penyidikan.

c. Pasal 25 ayat (9) 115 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

Denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum

114

Pasal 8 ayat (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Walaupun telah dilakukan tindakan pemeriksaan, tetapi belum dilakukan tindakan penyidikan mengenai adanya ketidakbenaran yang dilakukan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, terhadap ketidakbenaran perbuatan Wajib Pajak tersebut tidak akan dilakukan penyidikan, apabila Wajib Pajak dengan kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya tersebut dengan disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang beserta sanksi administrasi berupa denda sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari jumlah pajak yang kurang dibayar.

115

Pasal 25 ayat (9) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 50% (lima puluh persen) dari jumlah pajak berdasarkan keputusan keberatan dikurangi dengan pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.

mengajukan keberatan. Dalam hal keberatan Wajib Pajak ditolak atau dikabulkan sebagian.

d. Pasal 27 ayat (5d)116 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

Denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan, Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian.

c) Sanksi Administrasi Berupa Kenaikan

Selain Sanksi administrasi berupa bunga dan denda, juga dikenal Sanksi administrasi berupa kenaikan yang dapat dikenakan kepada Wajib Pajak oleh pejabat pajak dalam rangka menegakkan hukum pajak. Pengenaan sanksi administrasi berupa kenaikan hanya tertuju kepada Wajib Pajak yang tidak membayar lunas jumlah pajak yang terutang. Pada hakikatnya, sanksi administrasi berupa kenikan bertujuan agar Wajib Pajak tidak berupaya untuk melakukan penghindaran pembayaran pajak karena dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara.

Adapun Kelompok sanksi administrasi berupa kenaikan, dalam Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang

116

Pasal 27 ayat (5d) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Dalam hal permohonan banding ditolak atau dikabulkan sebagian, Wajib Pajak dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah pajak berdasarkan Putusan Banding dikurangi dengan pembayaran pajak yang telah dibayar sebelum mengajukan keberatan.

Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, terdiri dari:

a. Pasal 8 ayat (5)117 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

Besarnya 50 % dari pajak yang kurang dibayar. Wajib Pajak sekalipun jangka waktu pembetulan Surat Pemberitahuan telah berakhir tapi belum diterbitkan Surat Ketetapan Pajak mengungkapkan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan yang telah disampaikan.

b. Pasal 13 ayat (3)118 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan

- besarnya 50% (lima puluh persen) dari PPh yang tidak atau kurang dibayar dalam satu Tahun Pajak

117

Pasal 8 ayat (5) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Pajak yang kurang dibayar yang timbul sebagai akibat dari pengungkapan ketidakbenaran pengisian Surat Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) beserta sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 50% (lima puluh persen) dari pajak yang kurang dibayar, harus dilunasi oleh Wajib Pajak sebelum laporan tersendiri dimaksud disampaikan.

118

Pasal 13 ayat (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Jumlah pajak dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, huruf c, dan huruf d ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar:

a. 50% (lima puluh persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar dalam satu

Tahun Pajak;

b. 100% (seratus persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dipotong, tidak atau

kurang dipungut, tidak atau kurang disetor, dan dipotong atau dipungut tetapi tidak atau kurang disetor; atau

c. 100% (seratus persen) dari Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas

- besarnya 100% dari PPh yang tidak atau kurang dipotong atau dipungut, tidak atau kurang disetorkan, dan dipotong atau dipungut tapi tidak atau kurang disetorkan

- besarnya 100% dari PPN/PPnBM yang tidak atau kurang dibayar. PKP yang menyampaikan kembali SPT masa, berdasarkan pemeriksaan PPN/PPnBM ternyata tidak seharunya dikompensasi selisih lebih pajak atau kurang tidak seharusnya dikenakan tarif 0%

c. Pasal 15 ayat (2)119 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan.

Besarnya 100% dari jumlah kekurangan pajak. Diketemukan novum dan data semula belum terungkap yang menyebabkan jumlah pajak yang terutang (Penerbitan SKPKB)

d. Pasal 17C ayat (5)120 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan.

Jika berdasarkan hasil pemeriksaan ternyata Wajib Pajak yang telah menerima SKPKB diperiksa kurang bayar maka diterbitkan SKPKB ditambah kenaikan sebesar 100%

119

Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pajak tersebut.

120

Pasal 17C ayat (5) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan, berbunyi:

Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Direktur Jenderal Pajak menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, jumlah kekurangan pajak ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) dari jumlah kekurangan pembayaran pajak.

e. Pasal 17D ayat (5)121 Undang-Undang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan.

Kenaikan sebesar 100% (seratus persen), jika hasil pemeriksaan Direktur Jenderal Pajak menerbitkan SKPKB, jumlah pajak yang kurang dibayar 2. Sanksi Pidana

Selain penegakan hukum administrasi, penegakan hukum pidana juga dapat dilakukan dalam rangka pelaksanaan ketentuan dibidang pajak. Penegakan hukum pidana dilakukan melalui proses peradilan. Dalam rangka penegakan hukum pidana dimungkinkan adanya kumulasi eksternal atas penerapan sanksi.122

Pelanggaran terhadap kewajiban perpajakan yang dilakukan Wajib Pajak (WP), sepanjang menyangkut pelanggaran ketentuan administrasi perpajakan dikenakan sanksi administrasi, sedangkan yang menyangkut pelanggaran yang menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara, dikenakan sanksi pidana.

Penerapan sanksi kumulatif secara eksternal adalah pengenaan sanksi administrasi dan pengenaan sanksi pidana secara sekaligus. Tidak ada larangan untuk

Dokumen terkait