BAB V PENUTUP
B. Saran
1) 10 mobil sampah
2) 15 fukuda (motor sampah)
3) Penyapu jalan dari dinas kebersihan 4) Sekop sampah
5) Garpu tanah 6) Pacul
7) Kantong sampah
8) Gerobak pengangkut sampah
Hal ini sengaja peneliti angkat karena dengan mengetahui karakteristik serta identitas informan yang nantinya bakal menjadi obyek penelitian, tentunya akan mempermudah peneliti dalam menyelesaikan masalah-masalah yang nantinya peneliti angkat didalam penelitian yang dijalankan oleh peneliti. Oleh karena itu maka peneliti memandang penting adanya karakteristik dan identitas informan sebagai bagian dalam pembahasan ini.
Selanjutnya, informan tersebut akan diidentifikasi menurut tingkat pendidikan, umur, tempat lahir, jenis kelamin, pendapatan, dan golongan. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada uraian berikut:
1. Tingkat Pendidikan
Tabel 1: Tingkat pendidikan informan
No Tingkat Pendidikan Jumlah Presentase (%)
1. Magister 2 22,22%
2. Sarjana 2 22,22%
3. Diploma - 0 %
4. Sekolah Menengah Atas 3 33,33%
5. Sekolah Menengah Pertama 1 11,11%
6. Sekolah Dasar 1 11,11%
Jumlah 9 100 %
Sumber: Diolah dari data primer 2015
Berdasarkan data yang tergambar dalam tabel 1 diatas dapat diketahui mengenai tingkat pendidikan informan. Sebagaimana terlihat dari data yang ada sebagian besar informan berpendidikan SMA yakni 33,33% sebanyak 3
orang, Magister 22,22% sebanyak 2 orang, Sarjana 22,22% sebanyak 2 orang, SMP 11,11% 1 orang. SD 11,11%1 orang dari keseluruhan informan. Sesuai dengan keadaan tingkat pendidikan tersebut dikatakan bahwa pendidikan mereka yang menjadi informan dalam penelitian ini memiliki tingkat pendidikan yang berbeda, sehingga hasil wawancara yang di peroleh dapat member pendapat yang berbeda.
2. Umur Informan
Sebagian orang meyakini bahwa usia dapat mempengaruhi kerja seseorang. Penelitian Rhodes (Gomes, 2000:152) mengungkapkan bahwa pekerja yang berusia agak tua cenderung berkinerja rendah dibanding yang berusia muda. Gejala ini tidak hanya terjadi pada organisasi-organisasi, tetapi juga pada setiap organisasi termasuk organisasi dan instansi pemerintahan.
Pembahasan umur informan dalam penelitian ini didasarkan atas pertimbangan bahwa faktor umur dapat memberikan pengaruh yang besar terhadap kinerja Pemerintah Daerah itu sendiri. Dari hasil penelitian diketahui bahwa tingkat rata-rata umur informan terbesar pada interval usia produktif. Umur rata-rata informan terbesar adalah 36-45 dan 46-50 tahun. Untuk lebih jelasnnya dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2: Umur informan
No. Umur informan Jumlah Presentase (%)
1. 20-35 tahun 2 22,22%
3. 46-50 tahun 3 33,33%
4. ≥ 50 tahun 1 11,11%
Jumlah 9 100 %
Sumber: Diolah dari data primer 2015
Pengelompokan umur seperti lembar pada tabel tersebut dimaksudkan untuk kemudahan dalam penelitian ini atau efisiensi dan tidak akan mengurangi validitas data-data dalam penelitian ini tentunya dengan melihat variasi umur informan dalam memberikan jawaban nantinya akan bervariasi pula.
3. Pekerjaan
Tabel 3: Pekerjaan
No Pekerjaan Frekuensi Presentase (%)
1. Petugas kebersihan (Sopir mobil sampah dan fukuda)
2 22,22%
2. Ketua RW sekaligus wirausaha
2 22,22%
3. Pegawai Negeri Sipil 3 33,33%
4. Pengusaha 2 22,22%
Jumlah 9 100 %
Sumber: Diolah dari data primer 2015
Tabel 3 diatas menujukkan bahwa terdapat 2 informan yang bekerja sebagai Petugas kebersihan (Sopir mobil sampah dan fukuda) di Lingkungan Kelurahan Melayu, sebanyak 2 informan yang bekerja sebagai ketua RW sekaligus wirausaha,
sebanyak 3 informan bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil dan 2 informan bekerja sebagai pengusaha.
4. Jenis Kelamin
Kaitan faktor jenis kelamin dengan kinerja terlihat pada kurangnya kepercayaan yang diberikan kepada kaum wanita di tempat kerja. Jenis kelamin sangat mempengaruhi kualitas kerja, dimana perempuan memiliki keterbatasan fisik/kemampuan, sehingga dalam tugas-tugas tertentu jarang diberi kesempatan baik karena tidak dilibatkan maupun karena tidak mau. Adapun komposisi informan menurut jenis kelamin dalam penelitian ini disajikan pada tabel 4.
Tabel 4: Jenis Kelamin
No. Jenis Kelamin Frekuensi Presentase (%)
1. Laki-laki 8 88,88%
2. Perempuan 1 11,11%
Jumlah 9 100 %
Sumber: Diolah dari data primer 2015
Tabel 4 terlihat bahwa informan yang diwawancarai lebih didominasi oleh laki-laki dengan 8 informan 88,88% selebihnya adalah perempuan. Peneliti menetapkan informan laki-laki lebih banyak karena laki-laki lebih banyak berperan penting dalam menjalankan setiap program yang direncanakan kelurahan untuk kesuksesan makassarTa’ tidak rantasa.
Informan yang ada di Kelurahan Melayu mempunyai jenis kelamin yang berbeda seperti yang telah dipaparkan pada tabel 3.
5. Pendapatan
Karekteristik informan ini akan diketahui variasi pendapatan dari informan. Lebih jelasnya disajikan pada tabel 4, sebagai berikut:
Tabel 5: Pendapatan
No. Nominal Gaji Frekuensi Presentase (%)
1. 1 jt-3 jt 5 55,55%
2. 3 jt – 5 jt 2 22,22%
3. ≥ 5 jt 2 22,22%
Jumlah 9 100 %
Sumber: Diolah dari data primer 2015
Tabel 5 diatas menunjukkan bahwa terdapat 5 informan yang memiliki pendapatan antara 3 jt-5jt, dan 2 informan dengan pendapatan 3 jt-5 jt dan 2 informan dengan pendapatan di atas 5 jt
6. Golongan
Golongan dengan kinerja menjadi tolak ukur kepada imforman dalam memberikan pendapat terkait. Dari karakteristik informan ini penulis mencoba memaparkan keadaan informan menurut golonganya.Lebih jelasnya digambarkan dalam tabel 6 di bawah ini.
Tabel 6: Golongan
No. Golongan Frekuensi Presentase (%)
1. IIIa - 0
3. IIIc - 0 4. IIId - 0 5. IVa 2 22,22% 6. IVb 2 22,22% 7. Non PNS 5 55,55% Jumlah 9 100 %
Sumber: Diolah dari data primer 2015
Diketahui pula berdasarkan golongan pada tabel 6 bahwa terdapat 2 orang atau 22,22% yang termasuk golongan IVa, sebanyak 2 orang atau 22,22% yang termasuk golongan IVb, dan 5 orang atau 55,55% yang termasuk Non PNS.
C. Akuntabilitas Pemerintahan Kelurahan dalam Mensukseskan Program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) di Kelurahan Melayu
Akuntabilitas terdiri dari 3 indikator yaitu; 1) akuntabilitas kinerja, 2) prinsip standar pelayanan, 3) tingkat ketelitian.
1. Akuntabilitas Kinerja
Akuntabilitas Kinerja terdiri dari 2 sub bagian: a) pertanggungjawaban secara terbuka kepada publik, b) kesesuaian standar pelayanan publik.
a. Pertanggungjawaban secara terbuka kepada publik
Pemerintahan kelurahan melayu telah memberikan laporan berbentuk laporan tahunan kelurahan dalam menjalankan tugas dan fungsinya terkait setiap program yang telah direncanakan demi mengukur kesuksesan target dalam melaksanakan program makassarTa’ Tidak Rantasa sebagai bentuk Pertanggungjawaban kelurahan secara terbuka kepada masyarakat menerapkan
kebijakan walikota makassar dalam menjalankan peraturan walikota tentang MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR), serta meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang bersih di Kelurahan Melayu Kecamatan Wajo Kota Makassar. Dalam wawancara dengan bapak RW 1 yang dilakukan telah dijelaskan bahwa:
”Pemerintah kelurahan memberikan penyampaian pertanggungjawaban dalam menjalankan program melalui pidato terkait program yang sudah berjalan ketika dilakukan rapat. Adapun program pemerintah kelurahan yaitu penataan lorong (lorong garden), kerja bakti sabtu, minggu, penghijauan, membersihkan drainase, pengangkutan sampah pada pukul 17:00 sampai pukul 20:00 adanya kelompok perempuan pengumpul bahan bekas.” (S/03/06/2015).
Upaya-upaya pemerintah dalam memberikan pertanggungjawaban terkait pelaksanaan program MakassarTa’ Tidak Rantasa terlihat pada pelaksanaan setiap program yang direcanakan serta pelaksanaan tugas dan fungsi dari pihak pemerintah kelurahan. Pihak pemerintah sebagai pelaksana program dituntut untuk lebih baik dalam mewujudkan kota makassar sebagai kota yang tidak rantasa, berikut hasil wawancara dengan salah satu masyarakat Kelurahan Melayu
“Pertanggungjawaban pemerintahan kelurahan melayu dalam menjalankan program ini lumayan baik tapi hal ini belum bisa dipastikan sekarang karena program ini belum lama berjalan. Tapi pemerintah sudah menjalankan program ini dengan penuh tanggung jawab, hal ini dapat terlihat ketika pegawai kelurahan turun sosialisasi secara langsung kepada mayarakat dalam melaksanakan tugasnya” (YA/04/06/2015).
Terdapatnya tugas dan tanggungjawab yang berkaitan dengan kegiatan dibidang kebersihan, ketertiban, dilingkungan masyarakat serta pelayanan kepada masyarakat terkait program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR). Komitmen dalam melaksanakan program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) di Kelurahan Melayu
tersebut merupakan tanggungjawab pemerintah kelurahan sebagai organisasi pemerintahan dibawah kecamatan yang harus melaksanakan program walikota Makassar, sebagaimana penuturan bapak Harun yang mengungkapkan bahwa:
“Upaya yang dilakukan pemerintah terhadap program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) telah banyak dilakukan, karena hal ini merupakan bagian dari bentuk tanggungjawab pemerintah kelurahan kepada masyarakatnya” (HR/15/06/2015).
Bagian terpenting dalam melaksanakan program adalah perlunya untuk diteruskan agar masyarakat berperan aktif dalam proses pembersihan di lingkungan Kelurahan Melayu. Pendekatan Kelurahan Melayu bertitik berat pada pentingnya masyarakat yang sadar akan kebersihan dilingkungan Kelurahan Melayu sebagai suatu sistem yang mengorganisir diri mereka sendiri untuk mewujudkan Kota Makassar jadi lebih bersih sehingga diharapkan dapat memberi peranan kepada individu bukan sekedar obyek, tetapi justru sebagai subyek pelaku mewujudkan Kelurahan Melayu sebagai kelurahan tidak rantasa dan 2 kali lebih baik untuk ikut mewujudkan Makassar tidak rantasa atau makassar jadi Kota bersih. Hal ini didukung dengan penuturan masyarakat yang menjelaskan bahwa:
“Dari hasil sosialisasi pemerintahan kelurahan kepada masyarakat memperlihatkan hasil yang baik terbukti banyaknya masyarakat yang ikut berpartisipasi untuk kebersihan dilingkungan ini. Dengan hal ini secara perlahan akan dapat mewujukdan misi kelurahan dalam mensuksekan program ini” (AI/11/06/2015).
Pertanggungjawaban pemerintahan Kelurahan Melayu secara terbuka kepada publik, dapat dilihat pada pelaksanaan misi terkait program walikota Makassar tentang MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR). Pertanggungjawaban pemerintah
Kelurahan Melayu berdasarkan hasil penelitian menunjukan hasil yang lumayan baik hal ini dapat dilihat dari semakin baiknya pencapaian misi dan menerapkan berbagai kebijakan dalam mengelola, memajukan serta meningkat kualitas lingkungan hidup di Kelurahan Melayu. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat sebagai berikut:
“Sebenarnya untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan program ini tidak sulit asalkan para pemerintahan Kelurahan Melayu dapat bersungguh-sungguh dan sepenuh hati dalam menjalankan setiap perencanaan dalam mensukseskan program tersebut” (UD/11/06/2015).
Pemerintahan Kelurahan Melayu sebagai pelaksana program menuntut semua pihak yang terkait dengan kebersihan lingkungan Kelurahan Melayu untuk bekerja dengan baik untuk hasil yang lebih baik, berikut hasil wawancara dengan salah satu petugas kebersihan di lingkungan Kelurahan Melayu.
“Mensukseskan program makassar tidak rantasa benar-benar menuntut pemerintahan kelurahan dan petugas kebersihan untuk lebih cerdas dalam melaksanakan proses pembersihan dilingkungan Kelurahan Melayu” (HM/10/06/2015).
Untuk mensukseskan program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) yang dilakukan pemerintahan Kelurahan Melayu maka pemeritahan Kelurahan melakukan berbagai program terutama. Berikut hasil wawancara dari masyarakat Kelurahan Melayu.
“Pertanggungjawaban pemerintahan Kelurahan Melayu dalam mensukseskan program ini hasilnya lumayan memuaskan karena dengan adanya program ini pemerintahan kelurahan lebih sering melakukan kerja bakti sehingga lingkungan lebih bersih, lorong-lorong lebih indah dan tertata, dan drainase lebih bersih” (R/10/06/2015).
Pernyataan diatas didukung oleh hasil wawancara dengan informan yang lain sebagai berikut:
“Keberhasilan pencapaian sasaran dan tujuan dalam mensukseskan program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) tidak terlepas pada kemampuan pemerintahan kelurahan itu sendiri didalam melaksanakan kebijakan, program dan kegiatan” (YA/04/06/2015).
Hasil wawancara tersebut menyatakan bahwa pemerintahan kelurahan dapat memberikan pertanggungjawaban kepada masyarakat dengan baik terkait program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR). Karena sampai saat ini dengan dilaksanakannya program ini, maka lingkungan di Kelurahan Melayu menjadi lebih bersih, indah dan sampah sudah tidak berserakan, lorong lebih tertata, lebih indah dan drainase dan kanal yang lebih bersih. Identik dengan pengalaman disaaat mahasiswa Unismuh melakukan KKP (Kuliah Kerja Profesi) dilokasi penelitian.
b. Kesesuaian Standar Pelayanan Publik
Pelayanan dalam melaksanakan peraturan walikota tentang MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) merupakan salah satu tanggung jawab Kelurahan Melayu terhadap kontribusinya atas pelaksanaan peraturan walikota tentang MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR). Sikap penerimaan atau penolakan dari para pelaksana akan sangat banyak mempengaruhi keberhasilan atau tidaknya kinerja implementasi kebijakan peraturan walikota Makassar. Dan untuk melihat kesuksesan program pelu didukung dengan pelayan kemasyarakat dengan baik berikut hasil wawancara dengan Pak lurah
“saya yakin kalau pemerintahan Kelurahan Melayu dapat memberikan pelayanan dengan sangat baik dalam menjalankan program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) dan program ini akan sukses” (HR/15/06/2015).
Berdasarkan hasil penelitian Implementasi Kebijakan peraturan walikota tentang MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) sebagaimana telah diatur dalam dalam Peraturan walikota No. 10 Tahun 2014 tentang MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) pelaksanaan kebijakan pelayanan sampah di Kelurahan Melayu mendapatkan sikap positif dari masyarakat melayu yang mendukung. Berikut pernyataan salah satu masyarakat
“Pegawai kelurahan dalam memberikan pelayanan lumayan ramah dan baik walaupun memang ada kesalahan dalam memberikan pelayanan tetapi hal itu wajar. Karena pegawai kelurahan memang tidak luput dari kesalahan” (YA/04/06/2015).
Terkait standar pelayanan yang diberikan pemerintah kelurahan melayu ada 3 hal yaitu: 1) pemberian fasilitas seperti pengadaan cat, kantong sampah, dan tempat sampah, 2) kedisiplinan pegawai, 3) ramah dan baik. Sikap positif yang ditunjukkan masyarakat terhadap pihak Kelurahan Melayu merupakan bentuk keberhasilan dari pihak pemerintah kelurahan dalam memberikan standar pelayanan umtuk mensukseskan program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR). Hal ini dapat dilihat dari kesediaan pegawai Kelurahan Melayu mengerjakan tugasnya semaksimal mungkin dan memberikan pelayanan kepada masyarakat sebaik mungkin, berikut hasil wawancara dengan informan
“Pelayanan yang diberikan dari pegawai Kelurahan Melayu sangat baik, mereka semua ramah dan menyambut dengan baik ketika ada yang dubutuhkan masyarakat maka pegawai kelurahan cepat merespon” (UD/11/06/2015).
Pernyataan diatas hampir sama dengan hasil wawancara dengan informan yang lain sebagai berikut
“Pemerintahan Kelurahan Melayu selalu memberikan pemahaman kepada masyarakat yang kurang memahami program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) serta memberikan fasilitas kepada masyarakat” (R/10/06/2015).. Selain itu terdapat juga respon yang variatif dari masyarakat, ada yang positif dengan pelayanan pemerintah kelurahan namun ada juga sebagian dari masyarakat merasa belum mendapat pelayanan dengan baik. berikut hasil wawancara dengan salah satu informan yang telah dilakukan.
“Standar pelayanan pemerintah kelurahan masih perlu ditingkatkan karena terkadang pengurusan yang dilakukan kantor kelurahan butuh proses yang lama” (AI/11/06/2015).
Ketika dilakukan wawancara dengan imforman yang bekerja sebagai petugas kebersihan di Kelurahan Melayu dia menjelaskan bahwa pemerintahan kelurahan telah memberikan pelayanan dengan sangat baik misalnya memberikan fasilitas untuk pengadaan tempat sampah, penjemputan sampah yang dilakukan oleh petugas persampahan, pelayanan pengangkutan sampah rumah tangga, pelayanan penyedotan selokan, pelayanan angkutan sampah dikawasan perumahan elit dan pertokoan walaupun sarana dan prasarana yang ada saat ini masih dianggap belum memadai. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara sebagai berikut
“Pelayanan yang diberikan oleh bapak lurah beserta pegawai kelurahan lainnya sangatlah baik, bahkan mampu mengerti dengan keadaan masyarakat dan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat dalam setiap memberikan pelayanan dan menjalankan program pemerintahan termasuk ketika kita melakukan gotong royong yang dilakukan setiap sabtu minggu, pemerintah lurah sangat antusias dalam memberi semangat dan memenuhi kebutuhan saat gotong royong” (UD/11/06/2015).
“Kami sangat berusaha memberikan pelayanan yang sangat baik kepada masyarakat bahkan berusaha mengutamakan urusan masyarakat dibanding urusan pribadi kami, dan kami selalu berusaha untuk memenuhi setiap kebutuhan yang di butuhkan masyakat dalam menjalankan setiap program yang dijalankan kelurahan dan terkait program makassarTa’ tidak rantasa. kami selalu ikut gotong-royong demi kesuksesan program ini agar masyarakat dengan pemerintah terjadi kerjasama yang baik” (HR/15/06/2015).
Tanggapan terkait pelayanan pemerintahan Kelurahan Melayu sangatlah variatif yang dirasakan oleh masyarakat, ada yang merasa belum memuaskan, lumayan memuaskan dan ada pula sangat puas dengan pelayanan pemerintahan Kelurahan Melayu terhadap masyarakat. Namun sikap positif dominan yang ditunjukkan oleh masyarakat melayu yaitu lebih mayoritas merasa puas dengan pelayanan publik yang dilakukan kelurahan melayu. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang disampaikan salah satu informan bahwa
“Pegawai kelurahan, baik dalam memberikan pelayanan karena dia selalu ikut serta setiap kegiatan yang dilakukan tidak hanya tinggal di kantor tapi ikut langsung dalam menjalankan setiap program” (UD/11/06/2015).
Terkait pelayanan persampahan di Kelurahan Melayu pemerintah kelurahan selalu ikut serta setiap pelaksanaan gotong-royong yang dilaksanakan setiap hari sabtu, minggu. Dan proses pelayanan persampahan yang lainnya yaitu masyarakat melakukan pembersihan di halaman rumahnya kemudian mengumpulkan di depan rumahnya lalu di jemput oleh mobil sampah atau fukuda yang beroperasi setiap hari. Sehingga mereka turut berkontribusi dalam upaya mensukseskan kebijakan walikota tentang MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR).
Prinsip standar pelayanan terdiri dari 2 sub bagian yaitu: a) profesionalisme petugas (akurasi), b) kelengkapan sarana dan prasarana
a. Profesionalisme petugas (akurasi)
Profesionalisme aparat Kelurahan Melayu sebagai bentuk dari kemampuan seorang aparat dalam menjalankan tugas dan fungsinya secara efektif serta mampu merespon dinamika lingkungan Kelurahan Melayu, termasuk perkembangan kebutuhan dan tuntutan masyarakat dengan menciptakan inovasi-inovasi baru, guna mensukseskan program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) di Kelurahan Melayu Kecamatan wajo sebagai acuan dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Berikut hasil wawancara dengan petugas kebersihan di kelurah melayu sebagai berikut
“Profesionalisme petugas kelurahan melayu dalam menjalankan pekerjaannya sudah sesuai, karena kita dipekerjakan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki jadi kita mengerti akan tugas dan kewajiban yang kami lakukan, begitupun dengan pegawai kelurahan dalam melakukan pekerjaannya” (N/09/06/2015).
Hasil wawancara diatas menjelaskan professional merupakan kemampuan, keahlian atau keterampilan yang dimiliki pemerintah beserta petugas kebersihan yang bertugas di Kelurahan Melayu dalam menjalankan MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR). Profesionalnya ada bertugas membawa fukuda, mobil kontainer pengangkut sampah, dan kelompok perempuan yang mengumpulkan bahan bekas yang ditunjang oleh kompetensi dan keahlian yang sesuai. Hal ini perlu dilakukan agar program tersebut dapat terkontrol dengan baik. Berikut hasil wawancara dengan salah satu masyarakat
“Pada dasarnya semua pegawai kelurahan profesional dalam melakukan upaya penanggulangan sampah, dan untuk mewujudkan kesuksesan program MakassarTa’ Tidak Rantasa maka profesinal pemerintah dan yang lainnya perlu peningkatan profesionalisme dalam melakukan penyuluhan dan bimbingan agar semua harapan terkait lingkungan di kelurahan melayu dapat terwujud” (R/10/06/2015).
Hasil wawancara diatas yang salah satu hal yang penting dalam mewujudkan MakassarTa’ Tidak Rantasa dibutuhkan adalah peningkatan profesionalisme dalam pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan kepada warga Kelurahan Melayu tentang pentingnya upaya penanggulangan sampah kegiatan ini dilaksanakan berupa kegiatan teknis edukatif (penyuluhan) dengan sasaran warga kelurahan melayu. Pihak yang bisa diajak kerjasama diantaranya adalah ketua RT dan ketua RW.
Salah satu hal pokok yang harus diterapkan pemerintahan Kelurahan Melayu dalam menjalankan program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) adalah profesionalisme pemerintahan serta akurasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh salah satu warga.
“Pegawai kelurahan harus fokus dalam setiap bekerja untuk mencapai keberhasilan setiap perencanaan pelaksanaan program maka dari itu profesionalisme pemerintahan serta akurasi harus diterapkan karena telah menjadi kewajiban demi kesuksesan program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) serta tercapainya visi dan misi dalam menjalankan program” (R/10/06/2015).
Penjelasan diatas didukung dengan penjelasan dari bapak Harun selaku kepala Kelurahan Melayu mengungkapkan bahwa:
“Profesionalisme serta akurasi pemerintahan Kelurahan Melayu dalam menjalankan tugas dan fungsinya sudah menjadi kewajiban karena tanpa profesionalisme, akurasi, kreativitas dan inovasi dari pemerintahan Kelurahan Melayu maka program yang dilakukan pemerintahan Kelurahan Melayu akan sangat susah mencapai hasil yang maksimal. (HR/15/06/2015).
Pernyataan diatas pegawai dan petugas kebersihan yang menjadi pelaksana program Makassarta Tidak Rantasa di kelurahan melayu dituntut untuk lebih professional menjalankan tugas dengan sangat baik terkait pelayanan persampahan dan kebersihan dilingkungan kelurahan melayu, dan kreatif dengan cara peralatan persampahan yang belum berfungsi akan di fungsikan kembali dengan sangat baik, dan pengangkutan persamapahan digunakan dengan seefektif dan seefisien mungkin beserta inovatif dalam bentuk memberikan semngat kepada warga kelurahan melayu untuk mewujudkan kbersihan lingkungan kelurahan melayu beserta menyelesaikan permasalahan persampahan di lingkungan kelurahan melayu.pernyataan kepala kelurahan yang dijeaskan tersebut hampir sama dengan hasil wawancara dari salah satu masyarakat Kelurahan Melayu yang memberikan pernyataan sebagai beikut:
“Untuk mensukseskan program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) bahkan program pemerintahan kelurahan yang lain maka pemerintahan Kelurahan Melayu yang bertugas harus professional, kreatif dan serta inovatif dalam melaksanakan setiap tugas dan fungsinya sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dan sampai saat ini profesionalime kerja yang di perlihatkan dari pegawai dan masyarakat kelurahan lumayan memuaskan walaupun tetap masih perlu ditingkatkan”. (YA/04/06/2015).
Dalam ketentuannya yang ditetapkan kepala Lurah, Kelurahan Melayu mewajibkan profesionalisme pegawai dalam melaksanakan program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR). Adapun bagi masyarakat dan organisasi masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi untuk membersihkan lingkungan kelurahan melayu, penataan lorong, pembersihan kanal, serta pembersihan drainase, dan pemerintahan Kelurahan Melayu akan cepat merespon setiap saran masyarakat untuk kebersihan
lingkungan Kelurahan Melayu. Dan pemerintah akan tetap profesional dalam manjalankan setiap kegiatan yang telah menjadi target terkait dengan profesionalisme pegawai Kelurahan Melayu telah terjadi pro-kontra. Tetapi mayoritas berpendapat profesionalisme pegawai Kelurahan Melayu sudah baik. Dari hasil wawancara informan atas dia menjelaskan sebagai berikut:
“Di Kelurahan Melayu telah menerapkan profesionalisme dalam bekerja termasuk ketika menjalankan program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR), awalnya memang profesionalime yang dilakukan pegawai kelurahan tidak nampak, bahkan banyak kelihatan malas bekerja, namun kelurahan saat ini sudah nampak profesionalisme pegawai kelurahan dan sudah lebih dekat dengan warga. (UD/11/06/2015).
Pernyataan diatas membuktikan kalau pemerintahan kelurahan melayu telah professional dalam bekerja hal ini terbukti dengan menjalankan program sesuai dengan perencanaan dan melakukan dengan tepat waktu sesuai dengan target, selain itu pegawai kelurahan melayu inovatif dalam mengatasi persampahan karena mampu menyelesaikan setiap permasalahan terkait persampahan, dan bentuk kreativitas yang ditunjukan oleh pemerintah kelurahan melayu yaitu pemerintah kelurahan memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk pengelolaan sampah rumah tangga contohnya pelatihan pembuatan tas, bosara dari sampah organik dan pembuatan bros jilbab dari kain bekas (sisa jahitan) hal ini didukung dengan pernyataan dari informan yang lain. pernyataannya sebagai berikut:
“Bapak Lurah beserta pegawai di kantor Kelurahan Melayu menjalankan program MakassarTa’ Tidak Rantasa’ (MTR) telah memberikan pelayanan