Menurut Penulis, tindak pidana perbankan pada umumnya dan tindak pidana perbankan mengenai tindakan membocorkan data-data nasabah kepada orang lain dan tindakan membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu pada khususnya, dapat dicegah dengan meningkatkan pengawasan internal dan pengawasan eksternal Bank. Pengawasan internal tentu dilakukan oleh Dewan Komisaris Bank, sementara pengawasan eksternal, dilakukan oleh pemerintah dan pihak Bank Indonesia. Akan tetapi pada dasarnya tindak pidana perbankan ini tidak bisa dihilangkan secara penuh, hanya bisa diminimalisir. Hal ini dikarenakan tindak pidana perbankan sama saja dengan tindak pidana umum yang dilakukan oleh manusia yang mendapat dorongan dari diri manusia itu sendiri (unsur sengaja) seperti kejahatan pada umumnya. Harapan berkurangnya tindak pidana perbankan ini sangat bergantung pada kesiapan masing-masing bank untuk mencegahnya, keamananan dan sistem Bank harus ditingkatkan. Terakhir, pihak bank sendiri harus menjaga integritas dengan senantiasa menjalankan aktivitas berbisnis secara tepat dan terhormat. Prinsip-prinsip etika bagi para pejabat bank harus secara mutlak dipahami serta
diimplementasikan di lapangan. Bank harus selalu memastikan bahwa tiap transaksi tidak melanggar hukum, serta harus selalu bekerja sama dengan penegak hukum.
DAFTAR PUSTAKA
Adolf, Huala. Hukum Perdagangan Internasional . (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004).
Anwar, H.A.K. Moch. Tindak Pidana dibidang Perbankan.(Bandung: Alumni, 1986). Hermansyah, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, edisi revisi. (Jakarta: Kencana, 2009).
Djumhana, Muhamad. Hukum Perbankan di Indonesia.(Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993).
Garnasih, Yenti. Membuka Tabir Kejahatan Pembobolan Bank!
http://rimanews.com/read/20110413/23679/membuka-tabir-kejahatan- pembobolan-bank diakses pada tanggal 17 Mei 2011 pukul 20.00 WIB. Gozali, Djoni S. dan Rachmadi Usman. Hukum Perbankan. (Jakarta: Sinar Grafika,
2010).
Husein, Yunus. Rahasia Bank Privasi Versus Kepentingan Umum, (Jakarta: FH-UI, 2003).
Indonesia.Undang-Undang Perbankan.Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 jo. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998.
________. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. ________. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
________. Undang-Undang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999.
Marpaung, Leden. Pemberantasan dan Pencegahan Tindak Pidana Terhadap Perbankan. (Jakarta: Djambatan, 2003).
Sholehuddin, M.Tindak Pidana Perbankan.(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997).
Sjahdeini, Sutan Remy. Rahasia Bank Berbagai Masalah di Sekitarnya. Jurnal Hukum Bisnis, Volume 8. (Jakarta: Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, 1999).
Suhardi, Gunarto.Usaha Perbankan dalam Perspektif Hukum.(Yogyakarta : Kanisius, 2003).
Usman, Rachmadi. Aspek-Aspek Hukum Perbankan Indonesia. (Jakarta:PT.Garamedia Pustaka Utama,2003).
LAMPIRAN
1. Artikel dari Internet:
Garnasih, Yenti. Membuka Tabir Kejahatan Pembobolan Bank!
http://rimanews.com/read/20110413/23679/membuka-tabir-kejahatan- pembobolan-bank diakses pada tanggal 17 Mei 2011 pukul 20.00 WIB.
2. Putusan Pengadilan Negeri Nomor 1096/Pid.B/2006/PN/Jkt.Pst. 3. Putusan Pengadilan Tinggi Nomor 282/PID/2006/PT/DKI. 4. Putusan Mahkamah Agung Nomor 942 K/Pid/2007.
Membuka Tabir Kejahatan
Pembobolan Bank!
Rabu, 13 Apr 2011 10:44 WIB
Oleh: YENTI GARNASIH -- Dosen FH Universitas Trisakti,Doktor Hukum Pidana Pencucian Uang
Kasus pembobolan bank yang marak terjadi harus dituntaskan.Jangan sampai menuai ketidakpercayaan masyarakat terhadap perbankan yang nyata-nyata merupakan industri atas dasar kepercayaan.
Dari berbagai kasus yang sering terjadi, pada umumnya selalu melibatkan pihak bank, baik itu pejabat bank maupun pada levelteller.Sedangkan modusnya juga beragam, mulai dari yang sederhana (conventional crimes) dengan cara
memalsukan tanda tangan atau dokumen lain, penggelapan dan penipuan, sampai dengan yang sangat canggih (sophisticated crimes),dengan memanfaatkan sistem information technology (IT) banking.
Jenis kejahatan perbankan yang terakhir ini sulit dilacak (untraceable crime), tidak ada bukti tertulis (paperless crime),tidak kasatmata (discernible crimes), dan dilakukan dengan cara yang rumit (intricate crimes). Kejahatan perbankan yang sering terjadi dan melibatkan orang dalam bank seperti anggota dewan komisaris, direksi, pegawai bank, atau pemegang saham, diatur dalam Pasal 47, Pasal 47A, Pasal 48, Pasal 49, Pasal 50,dan Pasal 50A Undang- Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Sedangkan kejahatan perbankan yang tidak melibatkan pegawai bank hanya diatur dalam Pasal 46 undang-undang tersebut. Kasus Citibank ini bukanlah kasus yang pertama kali terjadi di Indonesia dan bukan kejahatan yang canggih pula.Peristiwa serupa pun dialami bank lain misalnya yang terjadi di Bank Mandiri atas nasabah prioritasnya dan pelakunya pun seorang customer service.
Ada juga kejahatan bank yang menggunakan modus lebih canggih di mana nasabah memasukan dana ratusan juta rupiah dalam bentuk deposito berjangka setahun tetapi ternyata oleh oknum pejabat bank dimasukkan dalam bentuk giro dan hanya dalam dua minggu sudah dicairkan seluruhnya tanpa sepengetahuan si nasabah maupun sistem bank tersebut. Setelah jatuh tempo dan nasabah mau menarik dananya, baru ketahuan bahwa telah terjadi pembobolan bank, padahal setiap bulan nasabah menerima bunganya. Dalam kejahatan ini tentu pelaku pejabat bank
menggunakan sistem bank untuk mengelabui otoritas bank sehingga tidak ketahuan selama hampir satu tahun.
Kasus Citibank
Dalam kasus Citibank yang perlu dikaji adalah modus kejahatan perbankannya,mengenai modus perbuatan yang dilakukan tersangka Inong Malinda. Apakah hanya penggelapan dana nasabah yang diawali dengan menyalahgunakan tanda tangan dalam blangko kosong (penandatanganan blangko kosong seharusnya juga tidak boleh), atau ada modus lain? Misalnya modus memalsukan tanda tangan nasabah yang menimbulkan terjadi kejahatan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 49.
Pasal itu mengatur antara lain perbuatan yang berkaitan dengan pencatatan palsu dalam pembukuan atau laporan atau dokumen kegiatan usaha, transaksi atau rekening, atau bahkan tentang tidak memasukkan pencatatan dalam pembukuan atau terkait perbuatan menghilangkan atau tidak memasukan atau menyebabkan tidak dilakukan pencatatan atau mengubah, mengaburkan, atau menyembunyikan atau menghapus pencatatan dalam pembukuan atau laporan atau dokumen kegiatan usaha, transaksi, atau rekening.
Tentu harus juga didalami apakah tersangka hanya bekerja sama dengan seorang teller bawahannya atau ada orang lain lagi.Setelah mendapatkan hasil kejahatan perbankan tersebut, oleh pelaku dialirkan ke rekening atau ke tempat lain yang telah disediakan untuk menampung. Rentetan aliran inilah yang disebut pencucian uang dan pelakunya juga termasuk siapa saja yang menerima aliran dana hasil kejahatan perbankan tersebut. Berkaitan dengan dugaan pencucian uang dalam kasus
Citibank,kita jangan hanya terpaku pada aliran dana setelah terjadi kejahatan tersebut.
Kita juga harus menelusuri aliran dana ketika dana nasabah masuk sepanjang lebih dari Rp500 juta sejak tiga tahun yang lalu,atau berapa pun jumlahnya bila terindikasi berasal dari hasil kejahatan. Caranya bisa dengan melihat profil nasabah dan jumlah dana yang disetor.Tentu hal ini akan tampak apakah pada mereka diterapkan persyaratan tentang asal usul dana dan apakah telah dilaporkan oleh pihak bank ke PPATK.
Bila tidak dilaporkan, harus dicari siapa saja yang bertanggung jawab atas ketiadaan pelaporan ini? Dari kejadian pembobolan perbankan di Indonesia perlu
dipertanyakan bagaimana sistem pengawasan bank atas pelaksanaan tata cara dan proses kegiatan perbankan. Termasuk juga mengenai bagaimana etika profesi pada bisnis yang menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat ini dilaksanakan dalam