BAB VI PENUTUP
C. Saran
Sarana dan Prasarana digunakan sebagai pendukung untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi Dinas Sosial. Adapun Sarana dan Prasarana pada Dinas Sosial Kabupaten Teamnggung adalah sebagai berikut :
Tabel 5. Jumlah Sarana Dan Prasarana
NO JENIS SARPRAS JUMLAH SATUAN KET
1 2 3 4 5
a. Tanah 4 Bidang
b. Peralatan dan Mesin 499 Buah c. Gedung dan Bangunan 33 Gedung d. Jalan, Irigasi dan Jaringan 7 Buah
e. Aset Tetap Lainnya 30 Buah
f. Kontruksi dalam Pengerjaan - - Nihil G Barang Ekstrakomptabel 417 Buah
H Aset Lainnya 38 Buah
Sumber : Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 2015 D. Capaian Kinerja Organisasi
Sebagai tindak lanjut pelaksanaan PP 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Presiden Nomor 29 tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, serta Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Laporan Kinerja Instansi Pemerintah dan tata cara Review Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah, setiap instansi
pemerintah wajib menyusun Laporan Kinerja yang melaporkan progres kinerja atas mandat dan sumber daya yang digunakannya .
Dalam rangka melakukan evaluasi keberhasilan atas pencapaian tujuan dan sasaran organisasi sebagaimana yang telah ditetapkan pada perencanaan jangka menengah, maka digunakan skala pengukuran sebagai berikut :
Tabel 6. Skala Pengukuran Kinerja Laporan Kinerja Instansi Pemerintah
NO SKALA CAPAIAN KINERJA KATEGORI
1 Lebih dari 100% Sangat Baik
2 75 – 100% Baik
3 55 – 74 % Cukup
4 Kurang dari 55 % Kurang
Sumber : Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) 2015
Pada tahun 2015, Dinas Sosial telah melaksanakan seluruh program dan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya. Sesuai dengan Perjanjian Kinerja Kepala Dinas Sosial Kabupaten Temanggung Tahun 2015 dan Rencana Strategis Dinas Sosial, terdapat satu (1) sasaran strategis yang harus diwujudkan pada tahun ini yaitu Meningkatnya Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).
E. Gambaran Umum Program Kerja
a. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial berupa Bantuan Sosial Fasilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Rumah memiliki fungsi yang sangat besar bagi individu dan keluarga tidak saja mencakup aspek fisik, tetapi juga mental dan
sosial. Untuk menunjang fungsi rumah sebagai tempat tinggal yang baik, maka harus dipenuhui syarat fisik yaitu aman sebagai tempat berlindung, secara mental memenuhi rasa kenyamanan, dan secara sosial dapat menjaga privasi setiap anggota keluarga, menjadi media bagi pelaksanaan bimbingan serta pendidikan keluarga. Dengan terpenuhinya salah satu kebutuhan dasar berupa rumah yang layak huni, diharapkan tercapai ketahanan keluarga.
Pada hakekatnya, untuk mewujudkan rumah yang memenuhi persyaratan tersebut bukanlah hal yang mudah. Bagi sebagian besar masyarakat yang tergolong keluarga fakir miskin, rumah hanyalah sebagai stasiun atau tempat singgah keluarga tanpa memperhitungkan kelayakannya dilihat dari sisi fisik, mental dan sosial. Ketidakberdayaan mereka memenuhi kebutuhan rumah yang layak huni berbanding lurus dengan pendapatan dan pengetahuan tentang fungsi rumah itu sendiri. Pemberdayaan fakir miskin juga mencakup upaya rehabilitasi sosial rumah tidak layak huni. Permasalahan rumah tidak layak huni yang dihuni atau dimiliki oleh kelompok fakir miskin memiliki multi dimensional. Oleh karena itu, kepedulian menangani masalah tersebut diharapkan terus ditingkatkan dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat baik pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat serta elemen lainnya.
Tujuan Pelaksana Kegiatan Rehabilitasi Sosial RTLH :
a. Tersedianya pelayanan perumahan yang layak huni bagi keluarga miskin.
b. Membantu mewujudkan rumah layak huni bagi keluarga miskin. c. Meningkatkan harkat dan martabat keluarga fakir miskin.
d. Meningkatnya kemampuan keluarga dalam melaksanakan peran dan fungsi keluarga untuk memberikan perlindungan, bimbingan dan pendidikan bagi anggota keluarga yang bertempat tinggal dalam satu rumah
b. Progran Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunikasi Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan berupa Pemebrdayaan Sosial melalui KelompomUsaha Bersama (KUBE) dan Kelompok Sosial ekonomi Sejenenis.
Kelompok Usaha Bersama (KUBE) adalah kelompok warga atau keluarga binaan sosial yang dibentuk oleh warga atau keluarga binaan sosial yang telah dibina melalui proses kegiatan PROKESOS untuk melaksanakan kegiatan kesejahteraan sosial dan usaha ekonomi dalam semangat kebersamaan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf kesejahteraan sosialnya. KUBE tidak dimaksudkan untuk menggantikan keseluruhan prosedur baku PROKESOS kecuali untuk Program Bantuan Kesejahteraan Sosial Fakir Miskin yang mencakup keseluruhan proses. Pembentukan KUBE dimulai dengan proses pembentukan kelompok sebagai hasil bimbingan sosial, pelatihan
ketrampilan berusaha, bantuan stimulans dan pendampingan. Tujuan Dan Sasaran Kelompok Usaha Bersama (KUBE)
Tujuan KUBE diarahkan kepada upaya mempercepat penghapusan kemiskinan, melalui :
1. Peningkatan kemampuan berusaha para anggota KUBE secara
bersama dalam kelompok
2. Peningkatan pendapatan
3. Pengembangan usaha
4. Peningkatan kepedulian dan kesetiakawanan sosial diantara para anggota KUBE dan dengan masyarakat sekitar.
Sasaran PROKESOS dalam kaitan dengan kebijakan MPMK adalah PMKS yang hidup dibawah garis kemiskinan dengan rincian sebagai berikut :
1. Keluarga Fakir Miskin yang dibina melalui Program Bantuan Kesejahteraan Sosial Fakir miskin
2. Kelompok Masyarakat Terasing yang dibina melalui Program Pembinaan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Terasing.
3. Para Penyandang Cacat yang dibina melalui Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat
4. Lanjut Usia yang dibina melalui Program Pembinaan
5. Anak Terlantar yang dibina melalui Program Pembinaan Kesejahteraan Sosial Anak Terlantar
6. Wanita Rawan Sosial Ekonomi yang dibina melalui Program
Peningkatan Peranan Wanita di Bidang Kesejahteraan Sosial
7. Keluarga Muda Mandiri yang dibina melalui Program Pembinaan Keluarga Muda Mandiri
8. Remaja dan Pemuda yang dibina melalui Program Pembinaan
Karang Taruna
9. Keluarga Miskin di Daerah Kumuh yang dibina melalui Program Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK).
Proses Pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUBE)
Selain KUBE yang ditumbuhkembangkan melalui Program Bantuan Kesejahteraan Fakir Miskin, langkah / kegiatan pokok pembentukan KUBE untuk sasaran PMKS lainnya adalah :
1. Pelatihan ketrampilan berusaha, dimaksudkan untuk meningkatkan
kemampuan praktis berusaha yang disesuaikan dengan minat dan ketrampilan PMKS serta kondisi wilayah, termasuk kemungkinan pemasaran dan pengembangan basil usahanya. Nilai tambah lain dari pelatihan adalah tumbuhnya rasa percaya diri dan harga diri PMKS untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dan memperbaiki kondisi kehidupannya
2. Pemberian bantuan stimulan sebagai modal kerja atau berusaha yang disesuaikan dengan ketrampilan PMKS dan kondisi setempat. Bantuan ini merupakan hibah (bukan pinjaman atau kredit) akan tetapi diaharapkan bagi PMKS penerima bantuan untuk mengembangkan dan menggulirkan kepada warga masyarakat lain yang perlu dibantu
3. Pendampingan, mempunyai peran sangat penting bagi berhasil dan
berkembangnya KUBE, mengingat sebagian besar PMKS merupakan kelompok yang paling miskin dan penduduk miskin. Secara fungsional pendampingan dilaksanakan oleh PSK yang dibantu oleh infrastruktur kesejahteraan sosial di daerah seperti Karang Taruna (KT), Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), Organisasi Sosial (ORSOS) dan Panita Pemimpin Usaha Kesejahteraan Sosial (WPUKS).
Organisasi dan Manajemen Kelompok Usaha Bersama (KUBE)
1. Kepengurusan
Pada hakekatnya KUBE dibentuk dari, oleh dan untuk anggota kelompok. Pengurus KUBE dipilih dari anggota kelompok yang mau dan mampu mendukung pengembangan KUBE, memiliki kualitas seperti kesediaan mengabdi, rasa keterpanggilan, mampu mengorganisasikan dan mengkoordinasikan kegiatan anggotanya, mempunyai keuletan, pengetahuan dan pengalaman yang cukup serta yang penting adalah merupakan hasil pilihan dari anggotanya
2. Keanggotaan
Anggota KUBE adalah PMKS sebagai sasaran program yang telah disiapkan. Jumlah anggota untuk setiap KUBE berkisar antara 5 sampai 10 orang / KK sesuai dengan jenis PMKS. Khusus untuk Pembinaan Masyarakat Terasing dan Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh pembentukan KUBE berdasarkan unit pemukiman sosial, artinya suatu unit pemukiman sosial adalah satu KUBE
3. Administrasi
Untuk dapat berjalan dan berkembangnya KUBE dengan baik, maka pengurus maupun pengelola KUBE perlu memiliki catatan atau administrasi yang baik, yang mengatur keanggotaan, organisasi, kegiatan, keuangan, pembukuan dan lain sebagainya. Catatan dan administrasi KUBE meliputi antara lain buku anggota, buku peraturan KUBE, pembukuan keuangan / pengelolaan hasil, daftar pengurus dan sebagainya
Pembinaan, Monotoring dan Evaluasi
Pembinaan dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan dayaguna dan hasilguna penumbuhan dan pengembangan KUBE, disamping meningkatkan motivasi dan kemampuan pelaksanaan dilapangan serta kapasitas manajemen pengelola KUBE. Pembinaan dilaksanakan oleh petugas sosial wilayah mulai dan tingkat propinsi, kabupaten / kodya, kecamatan dan desa / kelurahan secara berjenjang. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui perkembangan
KUBE dan permasalahan yang merupakan hambatan serta upaya pemecahannya, sehingga upaya penumbuhan dan pengembangan KUBE berjalan sesuai dengan rencana. Kegiatan monitoring dan evaluasi beserta pelaporannya dilaksanakan melalui mekanisme secara berjenjang mulai dan tingkat desa, kecamatan, kabupaten / kodya, propinsi dan pusat dalam koordinasi Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL) PROKESRA secara berjenjang
F. Struktur Organisasi Dinas Sosial Kabupaten Temanggung Berikut ini merupakan Struktur Organisasi Dinas Sosial Kabupaten Temanggung:
Berikut ini penjabaran tugas dan fungsi Sekretariat dan Bidang-bidang di Dinas Sosial:
1. Sekretariat
Sekretariat mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas yang meliputi koordinasi perencanaan, penyusunan program dan penyelenggaraan tugas-tugas bidang secara terpadu, pengelolaan administrasi keuangan, administrasi umum dan kepegawaian. Untuk menyelenggarakan tugas, Sekretariat mempunyai fungsi : a. Pengoordinasian penyusunan, pengolahan, dan pelayanan data; b. Pengoordinasian perencanaan, evaluasi, dan pelaporan
program atau kegiatan;
c. Pengoordinasian pelaksanaan tugas dan fungsi bidang; d. Pengelolaan urusan perencanaan dan pelaporan bidang
kesekretariatan;
e. Pengelolaan urusan keuangan;
f. Pengelolaan urusan umum dan kepegawaian; dan
g. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas. Sekretariat membawahi:
a. Subbagian Perencanaan
Subbagian Perencanaan mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Sekretaris yang meliputi perencanaan, penyusunan program, pengendalian, monitoring dan evaluasi
program dan/atau kegiatan Dinas, serta melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris.
b. Subbagian Keuangan
Subbagian Keuangan mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Sekretaris dalam penyusunan rencana anggaran dan belanja Dinas, melaksanakan kegiatan perbendaharaan, verifikasi, akuntansi dan pertanggungjawaban keuangan Dinas, serta melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris. c. Subbagian Umum dan Kepegawaian.
Subbagian Umum dan Kepegawaian mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Sekretaris dalam pengelolaan administrasi umum, rumah tangga, kearsipan, perlengkapan, dokumentasi, perjalanan dinas, organisasi dan tata laksana, kepegawaian Dinas, serta melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris.
2. Bidang Pengembangan Potensi Kesejahteraan Sosial
Bidang Pengembangan Potensi Kesejahteraan Sosial mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas di bidang pengembangan potensi kesejahteraan sosial. Untuk menyelengggarakan tugas, Bidang Pengembangan Potensi Kesejahteraan sosial mempunyai fungsi :
a. Penyusunan kebijakan teknis di bidang pengembangan potensi kesejahteraan sosial;
b. Penyusunan rencana program bidang pengembangan potensi kesejahteraan sosial;
c. Pelaksanaan fasilitasi dan koordinasi di bidang pengembangan potensi dan kesejahteraan sosial;
d. Pelaksanaan bimbingan pengembangan, dan pengendalian terhadap Lembaga Pelayanan Sosial dan Tenaga Sosial; e. Pelaksanaan identifikasi sasaran penanggulangan masalah
sosial;
f. Penyediaan sarana prasarana di bidang pengembangan potensi kesejahteraan sosial;
g. Pembinaan tenaga fungsional pekerja sosial;
h. Pengembangan jaringan sistem informasi kesejahteraan sosial; i. Pelaksanaan pembinaan, fasilitasi sumbangan sosial dan
perijinan undian sosial;
j. Penyelenggaraan peringatan Hari Pahlawan dan Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional;
k. Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan bidang pengembangan potensi kesejahteraan sosial;
l. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas; 3. Bidang Rehabilitasi Sosial
Bidang Rehabilitasi Sosial mempunyai tugas dan melaksanakan sebagian tugas Dinas di bidang rehabilitasi sosial. Untuk
menyelengggarakan tugas, Bidang Rehabilitasi Sosial mempunyai fungsi:
a. Penyusunan kebijakan teknis di bidang rehabilitasi sosial; b. Penyusunan rencana program dibidang rehabilitasi sosial; c. Pelaksanaan pelayanan administrasi dan teknis di bidang
rehabilitasi penyandang cacat, tuna susila, anak nakal, anak jalanan, dan korban narkotika;
d. Pelaksanaan fasilitasi bidang rehabilitasi penyandang cacat, tuna susila, anak nakal, anak jalanan dan korban narkotika; e. Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang
rehabilitasi sosial;
f. Pelaksanaan pengembangan jaminan sosial bagi penyandang cacat fisik dan mental, lanjut usia tidak potensial atau terlantar; g. Pelaksanan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas 4. Bidang Asistensi Sosial
Bidang Asistensi Sosial mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Dinas di bidang asistensi sosial. Untuk menyelenggarakan, Bidang Asistensi Sosial mempunyai fungsi :
a. Penyusunan kebijakan teknis di bidang asistensi sosial; b. Penyusunan kebijakan kerjasama di bidang asistensi sosial; c. Penyusunan rencana program di bidang asistensi sosial; d. Pelaksanaan pelayanan administrasi dan teknis di bidang
e. Pelaksanaan fasilitasi bidang asistensi sosial;
f. Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan bidang asistensi sosial;
g. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas. 5. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas dan fungsi Dinas sesuai dengan keahlian dan kebutuhan, dengan penjelasan:
a. Kelompok Jabatan Fungsional terdiri dari sejumlah tenaga dalam jenjang jabatan fungsional yang terbagi dalam berbagai kelompok sesuai dengan bidang keahliannya; b. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang tenaga fungsional
senior yang ditunjuk oleh Kepala Dinas;
c. Jumlah jabatan fungsional ditentukan berdasarkan kebutuhan dan beban kerja;
d. Jenis dan jenjang jabatan fungsional diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
61 BAB V
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data
Kuesioner yang disebar kepada masyarakat penerima bantuan di Kabupaten Temanggung sejumlah 100 kuesioner. Dari 100 kuesioner tersebut dibagi menjadi dua yaitu 50 kuesioner disebar bagi penerima bantuan sosial dengan Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial dengan kegiatan Fasilitasi Rehabilasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan 50 kuesioner lainnya disebar bagi penerima bantuan sosial dengan Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunikasi Adat Terpencil (KAT), dan Penyandang Masalah Kesejahteraan dengan kegiatan pemberdayaan sosial melalui Kegiatan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dan Kelompok Sosial Ekonomi Sejenis. Karakteristik responden pada penelitian terdiri dari jenis kelamin, usia, dan jenjang pendidikan terakhir. Ringkasan hasil analisis karakteristik responden sebagai berikut:
1. Responden berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis kelamin penerima bantuan dikelompokkan menjadi dua yaitu laki-laki dan perempuan.
a. Data Penerima Bantuan Berdasarkan Jenis Kelamin atas Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial
Tabel 7. Data Penerima Bantuan Berdasarkan Jenis Kelamin atas Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Jenis Kelamin Jumlah Responden
(Orang) Persentase (%) Laki-laki 41 orang 82% Perempuan 9 orang 18% Total 50 orang 100%
Sumber : Data primer diolah, 2017
Berdasarkan data dari tabel 7 dapat diketahui bahwa sebagian besar penerima bantuan yang menerima bantuan sosial dalam Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial adalah berjenis kelamin laki-laki. Tabel menunjukan bahwa jumlah responden yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 41 orang dengan persentase 82%, sedangkan jumlah responden perempuan sebanyak 9 orang dengan persentase 18%.
b. Data Penerima Bantuan Berdasarkan jenis Kelamin atas Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunikasi Adat (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan.
Tabel 8. Data Penerima Bantuan Berdasarkan jenis Kelamin atas Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunikasi Adat (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan.
Jenis Kelamin Jumlah Responden (Orang) Persentase (%) Laki-laki 38 orang 76% Perempuan 12 orang 24% Total 50 orang 100%
Sumber : Data primer diolah, 2017
Berdasarkan data dari tabel 8 dapat diketahui bahwa sebagian besar penerima bantuan yang menerima bantuan sosial
dalam Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunikasi Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan adalah berjenis kelamin laki-laki. Tabel menunjukan bahwa jumlah responden yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 38 orang dengan persentase 76%, sedangkan jumlah responden perempuan sebanyak 12 orang dengan persentase 24%.
2. Penerima Bantuan Berdasarkan Usia
Data usia dari pemerima bantuam dapat ditunjukan pada tabel dibawah ini :
a. Data Penerima Bantuan Berdasarkan Usia atas Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial
Tabel 9. Data Penerima Bantuan Berdasarkan Usia atas Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial
Usia Responden (Tahun) Jumlah Responden (Orang) Persentase (%) 40-49 20 orang 40% 50-59 17 orang 34% >60 13 orang 26% Total 50 orang 100%
Sumber : Data primer diolah. 2017
Berdasarakan tabel 9 menunjukkan bahwa usia penerima bantuan atas Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial yang paling banyak yakni beruisa 40-49 tahun dengan persentase 40%, diikuti dengan usia 50-59 tahun dengan persentase 34% dan usia diatas 60 tahun dengan persentase 26%.
c. Data Penerima Bantuan Berdasarkan Usia atas Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunikasi Adat (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan.
Tabel 10. Data Penerima Bantuan Berdasarkan Usia atas Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunikasi Adat (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan.
Usia Responden (Tahun) Jumlah Responden (Orang) Persentase (%) 40-49 35 orang 70% 50-59 10 orang 20% >60 5 orang 10% Total 50 orang 100%
Sumber : Data primer diolah. 2017
Berdasarkan tabel 10 menunjukkan bahwa usia penerima bantuan atas Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunikasi Adat (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan yang paling banyak yakni beruisa 40-49 tahun dengan persentase 70%, diikuti dengan usia 50-59 tahun dengan persentase 20% dan usia diatas 60 tahun dengan persentase 10%.
3. Penerima Bantuan Berdasarkan Jenjang Pendidikan Terakhir
Tingkat pendidikan terakhir penerima bantuan dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu tidak tamat SD, SD, dan SMP.
a. Data Penerima Bantuan Berdasarkan Jenjang Pendidikan Terakhir atas Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial
Tabel 11. Data Penerima Bantuan Berdasarkan Jenjang Pendidikan Terakhir atas Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial
Pendidikan Terakhir Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Tidak Tamat SD 23 orang 46%
SD 17 orang 34%
SMP 10 orang 20%
Total 50 orang 100%
Sumber : Data primer diolah. 2017
Berdasarakan tabel 11 dapat dilihat bahwa jenjang pendidikan terakhir penerima bantuan sosial Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial di Kabupaten Temanggung yang paling banyak adalah tidak tamat SD yang berjumlah 23 orang dengan persentase 46%.
b. Data penerima bantuan Berdasarkan Jenjang Pendidikan Terakhir atas Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunikasi Adat (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan.
Tabel 12. Data Penerima Bantuan Berdasarkan Jenjang
Pendidikan Terakhir atas Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunikasi Adat (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan. Pendidikan Terakhir Jumlah Responden (Orang) Persentase (%)
Tidak Tamat SD 10 orang 20%
SD 25 orang 50%
SMP 15 orang 30%
Total 50 orang 100%
Sumber : Data primer diolah. 2017
Berdasarakan tabel 12 dapat dilihat bahwa jenjang pendidikan terakhir penerima bantuan sosial Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunikasi Adat Terpencil (KAT)
dan Penyandang Masalah Kesejateraan di Kabupaten Temanggung yang paling banyak adalah SD yang berjumlah 25 orang dengan persentase 50%.
B. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas digunakan untuk mengetahui apakah instrumen atau alat peneliti yang digunakan benar-benar mencerminkan variabel atau atribut yang diteliti.
1. Uji Validitas Data
Data yang diperoleh dari kuesioner harus diuji validitasnya, hal ini dilakukan untuk mengetahui dengan mencari nilai Product Moment antara masing-maisng item dengan skor total, dengan taraf signifikan (α) = 5% dengan derajat kebebasan (dk=n-2) yaitu dk= 50-2. Pernyataan dikatakan valid jika �ℎ� �� lebih besar dari � �� .
Besarnya � �� pada uji validitas ini dengan derajat kebebasan (dk) =
48 adalah 0,2787. Berikut ini adalah uji validitas terhadap program pelayanan dan rehabilitiasi kesejahteraan sosial dan program pemberdayaan fakir miskin, komunikasi adat terpencil (KAT) dan penyandang masalah kesejahteraan.
Tabel 13. Hasil Uji ValiditasProgram Pelayanan dan Rehabilitiasi Kesejahteraan Sosial
Program dan kegiatan
Pernyataan r hitung r tabel Keterangan
Program Pelayanan dan Rehabilitiasi Kesejahteraan Sosial 1 0,543 0,2787 Valid 2 0,735 0,2787 Valid 3 0,789 0,2787 Valid 4 0,730 0,2787 Valid 5 0,410 0,2787 Valid 6 0,517 0,2787 Valid Sumber: Data primer diolah, 2017
Tabel 14. Hasil Uji Validitas Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunikasi Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan
Program dan kegiatan
Pernyataan r hitung r tabel Keterangan
Program Pemberdayaan Fakir Miskin, komunikasi Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan 1 0,288 0,2787 Valid 2 0,455 0,2787 Valid 3 0,430 0,2787 Valid 4 0,632 0,2787 Valid 5 0,667 0,2787 Valid 6 0,405 0,2787 Valid 7 0,355 0,2787 Valid Sumber: Data primer diolah, 2017
Dari hasil diatas menunjukkan bahwa semua butir pernyataan untuk program pelayanan dan rehabilitasi kesejahteraan sosial dan program pemberdayaan fakir miskin, komunikasi adat terpencil (KAT) dan penyandang masalah kesejahteraan dikatakan valid.
2. Uji Reliabilitas
Pengujian reliabilitas dilakukan dengan menggunakan nilai
Cronbach’s Alpha. Uji signifikansi dilakukan pada taraf signifikan
5%. Variabel diakatkan reliabel jika Cronbach’s alpha > 60. Tabel 15. Hasil Uji Reliabilitas
Program dan kegiatan Cronbach’s Alpha
Keterangan Program Pelayanan dan
Rehabilitiasi Kesejahteraan Sosial 0,727 Reliabel Program Pemberdayaan Fakir Miskin, Komunikasi Adat Terpencil(KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan 0,750 Reliabel
Sumber: Data primer diolah, 2017 C. Analisis Data
Analisis kinerja keuangan melalui pendekatan value for money yaitu menilai kinerja Dinas Sosial Kabupaten Teamnggung dengan memperhatikan 3 Nilai yakni Nilai Ekonomi, Nilai Efisiensi dan Nilai Efektivitas Periode 2015. Langkah-langkah pengukuran value for money sebagai berikut :
1. Nilai Ekonomi
Nilai Ekonomi terkait dengan sejauh mana organisasi sektor publik dapat meminimalkan input resources yang digunakaan yaitu dengan menghindari pengeluaran yang boros dan tidak produktif. Ukuran ekonomi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang atara lain dengan cara membandingkan harga yang dgunakan organisasi sektor publik
dengan organisasi sejenis, membandingkan dengan harga pasar atau membandingkan dengan anggaran yang telah disetujui. Nilai ekonomi dari program-program yang dilakukan Dinas Sosial Kabupaten Temanggung dapat diukur dengan membandingkan realisasi anggaran yang digunakan dengan dana yang telah dianggaran. Rumus yang digunakan untuk pengukuran Nilai Ekonomi sebagai berikut :
Ekonomi = I I A E x 100%
Keterangan :
Input : Realisasi Belanja untuk Kegiatan Dinas Sosial KabupatenTemanggung
Input Value : Anggaran Belanja untuk Kegiatan Dinas Sosial Kabupaten Temanggung
a. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial berupa bantuan sosial bagi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH)
Tabel 16. Perhitungan Nilai Ekonomi Berdasarkan Data Anggara dan Realisasi Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Kegiatan/Program Belanja Nilai Ekonomi Anggaran (Rp) Realisasi (Rp) Fasilitasi Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni 113.003.000 103.863.800 91,89% Sumber : Diolah dari LAKIP Dinas Sosial Kabupaten
Berdasarakan tabel 16 dapat digunakan untuk mengukur Nilai Ekonomis Dinas Sosial Kabupaten Temanggung pada program tersebut. Perhitungan Nilai Ekonomis sebagai berikut :
Nilai Ekonomi =
.. .. x 100%= 91,89%
Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa kinerja Dinas Sosial Kabupaten Temanggung pada Program Pelayanan dan Rehabilitas Kesejahteraan Sosial menghasilkan nlai ekonomi sebesar 91,89%. Berdasarkan perhitungan diatas menunjukan bahwa kinerja Dinas Sosial Kabupaten Temanggung masuk dalam