Dengan mengacu pada hasil studi yang dilakukan mengenai taman vertikal pada kluster Pine Forest, Sentul City, diperoleh beberapa saran antara lain:
1. Perancangan taman vertikal harus mempertimbangkan arah datang sinar matahari untuk penentuan tanaman.
2. Tema Flaturistic merupakan tema yang sangat sesuai untuk diterapkan pada kluster Pine Forest karena dapat menghemat penggunaan ruang.
3. Perlakuan tanaman pada awal penanaman perlu dilakukan untuk mendapatkan pola desain yang diinginka pada taman vertikal.
DAFTAR PUSTAKA
[Anonim]. 2011. Sentul City, City of Ennovation: Sentul City Masterplan. http://www.sentulcity.co.id. [10 April 2011]
Arifin, H S. 2009. Community Participatory Based Toward Green City: Practice Learning From “Kotaku Hijau” (Green City) Competition. Dalam Proceeding: The International Symposium of Green City.
Arifin, H S, Munandar A, Arifin N H S, Pramukanto Q, dan Damayanti V D. 2008. Sampoerna Hijau Kotaku Hijau. Ki:Com: Jakarta.
Blanck, P. 2010. Vertical Garden. http://patrick blanck.html. [25 November 2010] Braasch, G. 2007. Earth under fire. University of California press: Los Angeles. [Departemen Arsitektur Lanskap IPB]. 2005. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Wilayah Perkotaan. Makalah Lokakarya. Dep PU.
Grey, G W dan Deneke, F J. 1978. Urban Forestry. New York: Wiley.
Knowles R L. 2003. “The Solar Envelope”. Dalam: Watson D, Plattus A dan Sibley R. Time Saver Standards for Urban Design. McGraw Hill Profesional: US.
Laurie M. 1990. Pengantar kepada Arsitektur Pertamanan. Bandung: Intermata. Lestari, G dan Kencana I P. 2008. Galeri Tanaman Hias Lanskap. Penebar
Swadaya: Depok.
Ndubisi, F. 1996. “Landscape Ecological Planning”. Dalam: Steiner, F R dan Thompson, G F. Ecological Design and Planning. US.
Neufert E dan Neufert P. 1999. Architects Data. Blackwill Science: US. [PT. Sentul City Tbk]. Berita Tahunan. Sentul City. Bogor.
Salinger, J D. 2005. “Fenomena Perubahan Iklim: Dampak dan Strategi Menghadapinya”. Dalam: Tursilowati L, Susanti I dan Adetya E. 2006. Prosiding Seminar Nasional Perubahan Iklim dan Lingkungan di Indonesia 9 November 2006.
Sauter, D. 1999. Landscape construction. Delmar: USA.
Suanda, B. 2011. Green Building : Green Contruction. http://manajemenproyekindonesia.com/?p=986. [4 April 2011]
100
Sulaiman. 2007. Prospek Keberlanjutan Sawah sebagai Ruang Terbuka Hijau Budidaya Pertanian di DKI Jakarta. Seminar nasional sumberdaya lahan dan lingkungan pertanian.
Uniaty Q. 2008. Eco-city and Urban Sustainability. Proceeding “The International Symposium of Green City” The Future Challenge. Bogor: Departement of Landscape Architecture, Faculty of Agriculture, Bogor Agricultural University.
Watson, D dan Labs K. 2003. “Bioclimatic Design at The Site Planning Scale”. Dalam: Watson D, Plattus A dan Sibley R. Time Saver Standards for Urban Design. McGraw Hill Profesional: US.
Widarto, L. 1994. Vertikultur: Bercocok Tanam Secara Betingkat. Penebar swadaya: Jakarta.
DESAIN TA
PINE F
TDEPART
INS
AMAN VE
FOREST,
TRI UTOMOTEMEN A
FAKULT
STITUT P
ERTIKAL
SENTUL
O ZELAN NARSITEK
TAS PERT
PERTANIA
2011
L PADA K
CITY, BO
NOVIANDIKTUR LAN
TANIAN
AN BOGO
KLUSTER
OGOR
INSKAP
OR
R
RINGKASAN
TRI UTOMO ZELAN NOVIANDI. A44061188. Desain Taman Vertikal pada Kluster Pine Forest, Sentul City, Bogor. Dibimbing oleh HADI SUSILO ARIFIN.
Pesatnya penemuan teknologi baru memacu peningkatan pembangunan di segala sektor, khususnya pembangunan di sektor infrastuktur dan permukiman. Pembangunan yang terus berlanjut ini seolah tidak terkendali dan menyebabkan banyak terjadi aktivitas pembebasan lahan untuk membangun bangunan baru yang dapat menghasilkan keuntungan lebih besar. Akibatnya, lahan-lahan Ruang Terbuka Hijau (RTH) banyak yang berubah menjadi bangunan dan fasilitas lain terutama bangunan permukiman. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode untuk mensubtitusi fungsi RTH guna meningkatkan kualitas kenyamanan. Pada skala perumahan, metode yang dapat diterapkan adalah pembuatan taman vertikal.
Taman vertikal menjadi trend dalam pembangunan kawasan permukiman yang memiliki konsep ramah lingkungan. Taman vertikal merupakan teknik penanaman secara vertikal dengan memanfaatkan lahan sempit. Taman vertikal ini sebenarnya merupakan salah satu aplikasi dari teknik vertikultur yang merupakan sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Fungsi taman vertikal ini dapat mensubtitusi fungsi RTH dalam lingkup mikro sehingga dapat meningkatkan kenyamanan bagi lingkungan sekitar taman vertikal.
Penelitian ini berlokasi di kawasan permukiman Sentul City, tepatnya pada salah satu kluster di Sentul City yakni Pine Forest. Pengambilan lokasi di Pine Forest, Sentul City dikarenakan Pine Forest memiliki konsep penerapan taman vertikal sebagai salah satu konsep menuju Eco-city. Konsep ini merupakan program kerja sama antara Sentul City dan Institut Pertanian Bogor dan tagline “City of Innovation” guna mewujudkan pembangunan yang memperhatikan lingkungan.
Penelitian ini memiliki tujuan yaitu: (1) menginventarisasi fungsi taman vertikal; (2) menganalisis struktur dan jenis tanaman yang sesuai digunakan pada taman vertikal di kluster Pine Forest, Sentul City dan (3) membuat alternatif desain taman vertikal yang sesuai untuk diterapkan pada kluster Pine Forest, Sentul City. Hasil desain diharapkan bermanfaat bagi pihak Sentul City maupun pengembang kawasan permukiman lain yang tertarik dalam menerapkan konsep taman vertikal.
Tahapan dalam mendesain meliputi: (1) persiapan, yaitu perizinan dan pengumpulan data dari literatur; (2) inventarisasi, yaitu pengambilan data biofisik seperti bangunan, iklim, vegetasi dan dokumentasi tapak; (3) analisis dan Sintesis dengan metode yang berbeda pada setiap data yang telah didapat; (4) konsep yang terdiri dari konsep dasar GREEN dan pengembangan konsepnya serta (5) desain Taman Vertikal yang menghasilkan 3 alternatif tema desain yaitu Flaturistic, Geo- relief dan Arch-cone.
Pine Forest memiliki dua jenis bangunan rumah yakni Pinus Ponderosa dan Pinus Patula. Data bangunan dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui dimensi bangunan khususnya dimensi dinding yang akan dijadikan taman vertikal. Dinding ini merupakan dinding yang sudah direncanakan oleh pihak Sentul City
Analisis aspek iklim mikro difokuskan pada salah satu elemen iklim yaitu cahaya matahari. Arah datang cahaya matahari yang berbeda dalam satu tahun dipertimbangkan dalam desain. Dari hasil analisis, penerimaan cahaya matahari pada setiap dinding berbeda karena arah hadap dinding yang juga berbeda satu sama lain. Dinding yang menghadap ke arah timur akan mendapat sinar sepanjang tahun dibandingkan dengan dinding yang menghadap ke arah utara atau selatan. Hal ini menjadi pertimbangan dalam pemilihan tanaman khususnya kemampuan tanaman dalam hal penerimaan cahaya matahari.
Penentuan struktur taman vertikal yang akan dipakai ditentukan dengan analisis terhadap dimensi facade dinding dan ruang hadap dinding. Dinding yang relatif lebih lebar memungkinkan untuk peletakkan taman vertikal dengan dimensi besar. Dinding yang relatif lebih sempit memungkinkan untuk peletakkan taman vertikal yang bersifat fleksibel (dapat ditentukan ukurannya). Ruang di hadapan taman vertikal juga perlu dipertimbangkan untuk menentukan tipe taman vertikal yang sesuai atau tidak banyak makan luas area. Pada rumah dengan ruang hadap taman vertikal yang relatif sempit, taman vertikal yang akan dipilih adalah tipe yang tidak terlalu banyak makan tempat (luas area) seperti struktur rangka besi. Sedangkan pada rumah dengan ruang hadap taman vertikal yang relatif luas, memungkinkan untuk memilih taman vertikal dengan lebar lebih seperti Vertical Greening Module (VGM).
Penentuan jenis tanaman yang akan dipakai mempertimbangkan aspek penerimaan cahaya matahari, struktur taman vertikal dan tipe pertumbuhan dari tanaman. Pada struktur rangka besi memungkinkan penanaman dengan jenis tanaman merambat. Sedangkan pada struktur VGM memungkinkan penanaman dengan jenis tanaman penutup tanah. Tanaman yang dipilih merupakan tanaman dengan kemampuan penerimaan cahaya matahari penuh hingga seminaungan.
Konsep dasar dari desain ini adalah GREEN yang memiliki pengertian yaitu G Good microclimate yaitu modifikasi iklim mikro untuk meningkatkan kenyamanan; R Refresh the air yaitu penyuplai udara bersih; E Efficiency yaitu penghematan dalam penggunaan lahan; E Energy yaitu penghematan energi dan N Natural yaitu berkesan alami. Konsep desain mengambil bentuk segitiga yang terinspirasi dari bentuk tajuk pohon pinus.
Desain taman vertikal menhasilkan 3 alternatif desain yaitu Flaturistic, Geo-relief dan Arch-cone. Tema didapat dari kombinasi bentuk struktur taman vertikal dan penanamannya. Konstruksi pada struktur rangka besi menggunakan PVC Coated Steel Wire dengan dimensi panjang 30 m, lebar 0,5 – 1,8 m dan diameter kawat besinya 5 mm. Konstruksi pada struktur VGM menggunakan modul dengan material polypropylene re-cycled dengan dimensi satu buah modul yaitu panjang 50 cm, lebar 25 cm dan tebal 56 cm. Pada taman vertikal tipe rangka besi digunakan tanaman merambat dengan perakaran langsung dari bawah tanah seperti Allamanda sp, Stephanotis sp, Epipremnum sp, dan Passiflora sp. Pada taman vertikal tipe VGM digunakan tanaman penutup tanah dengan perakaran langsung pada modul VGM dan ditanam miring secara vertikal. Tanaman yang sesuai untuk VGM seperti Althernantera sp, Chlorophytum sp, Cuphea hyssopifolia, Lantana camara, dan Serissa foetida.
DESAIN TAMAN VERTIKAL PADA KLUSTER
PINE FOREST, SENTUL CITY, BOGOR
TRI UTOMO ZELAN NOVIANDI A44061188
Skripsi
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada
Departemen Arsitektur Lanskap
DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
Judul Penelitian : Desain Taman Vertikal pada Kluster Pine Forest, Sentul City, Bogor
Nama Mahasiswa : Tri Utomo Zelan Noviandi
NRP : A44061188
Program Studi : Arsitektur Lanskap
Disetujui Dosen Pembimbing
Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, M.S NIP. 19591106 198501 1 001
Diketahui
Ketua Departemen Arsitektur Lanskap
Dr. Ir. Siti Nurisjah, MSLA NIP. 19480912 197412 2 001
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Desain Taman Vertikal pada Kluster Pine Forest, Sentul City, Bogor adalah karya saya dengan arahan dari pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi.
Bogor, September 2011
Tri Utomo Zelan Noviandi NRP A44061188
© Hak Cipta milik IPB, tahun 2011
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis tanpa mencantumkan atau menyebut sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis dalam bentuk apapun tanpa seizin IPB.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat, rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini. Penelitian dengan judul Desain Taman Vertikal pada Kluster Pine Forest, Sentul City, Bogor ini merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pertanian dari Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian yang dilakukan merupakan bagian dari kerja sama antara Institut Pertanian Bogor dengan Sentul City Tbk yang bertujuan untuk mewujudkan Eco-city atau kota ekologis.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin, M.S selaku dosen pembimbing atas bimbingannya dalam penyusunan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak Sentul City yang telah banyak membantu dan mengizinkan penulis untuk melakukan penelitian di salah satu kluster di Sentul City, yaitu kluster Pine Forest. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penyusunan tulisan penelitian ini, khususnya kepada orangtua dan teman-teman di Arsitektur Lanskap 43 yang selalu mendukung penulis.
Penulis terbuka dalam menerima masukan, kritik dan saran demi peningkatan kemampuan penulis di waktu yang akan datang. Semoga penelitian ini bermanfaat dan dapat menjadi referensi bagi siapa saja yang tertarik pada penerapan konsep taman vertikal.
Bogor, September 2011
Penulis lahir di Bogor pada tanggal 25 November 1988 dari pasangan Bambang Pinudji Oetomo dan Tati Supriati. Penulis adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Pada tahun 1994 Penulis mengikuti pendidikan di SD Islam Pondok Duta, Depok. Pada tahun 2000 Penulis mengikuti pendidikan di SLTP Negeri 7 Depok. Pada tahun 2003 Penulis melanjutkan studi menengah atas di SMA Negeri 2 Depok. Pada tahun 2006 Penulis melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu di Institut Pertanian Bogor melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru. Pada tahun 2007 Penulis berhasil masuk Program Studi Mayor Arsitektur Lanskap dan memilih beberapa Supporting Course sebagai penunjang.
Selama melakukan studi di Departemen Arsitektur Lanskap Penulis berkesempatan menjadi Asisten Mahasiswa untuk Mata Kuliah Pelestarian Lanskap Sejarah dan Budaya. Selain itu Penulis juga aktif di kegiatan non- akademis diantaranya sebagai Pengurus Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Pertanian Periode 2007-2008 sebagai staf Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa serta Periode 2008-2009 sebagai Ketua Dewan perwakilan Mahasiswa Fakultas Pertanian. Penulis juga pernah bergabung dalam berbagai kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Fakultas Pertanian Angkatan 44, dan Masa Perkenalan Departemen Arsitektur Lanskap Angkatan 44. Penulis pernah mengikuti kompetisi akademis dan berhasil meraih Juara 1 pada Pekan Kreativitas Mahasiswa XXII bidang Pengabdian Masyarakat di Malang, Juli 2009.
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL….………... i DAFTAR GAMBAR……… ii I PENDAHULUAN……….. 1 1.1Latar Belakang………. 1 1.2Tujuan……….. 2 1.3Manfaat……… 2 1.4Kerangka Pikir………. 3 II TINJAUAN PUSTAKA……… 4 2.1 Kota Berkelanjutan……….. 4 2.2 Ruang Terbuka Hijau……….. 6 2.2.1 Fungsi RTH……….... 6 2.2.2 Elemen Pengisi RTH……….. 7 2.3 Perubahan Iklim……….. 8 2.4 Desain Klimatis………... 9 2.4.1 Pemecah Angin……… 10 2.4.2 Pengontrol Cahaya Matahari……….. 12 2.4.3 Pengadaan Ventilasi dan Bukaan……… 122.5 Taman Vertikal……… 13
2.5.1 Jenis Taman Vertikal……….. 14 2.5.2 Tanaman untuk Taman Vertikal……….. 17
III METODOLOGI……….. 20
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian……… 20 3.2 Alat………... 21 3.3 Tahapan Penelitian……… 21
3.3.1 Persiapan……….. 22
3.3.2 Inventarisasi………. 22 3.3.3 Analisis dan Sintesis……… 24
3.3.4 Konsep………. 24
3.3.5 Desain Taman Vertikal……… 25 IV KONDISI UMUM SENTUL CITY……….. 26
4.1 Geografis……….. 26
4.2 Iklim………. 27
4.5 Hidrologi……….. 33 4.6 Vegetasi dan Satwa………. 34
V DATA DAN ANALISIS……… 37
5.1 Kondisi Umum Pine Forest……….... 37 5.1.1 Desain Bangunan Kluster Pine Forest………... 40
5.2 Iklim Mikro………. 49
5.2.1 Radiasi Matahari……… 49 5.3 Sirkulasi dan Aktivitas Pengguna……….. 53 5.4 Struktur Taman Vertikal……… 57 5.5 Tanaman untuk Taman Vertikal……….... 60 VI KONSEP………... 64
6.1 Konsep Dasar……….. 64
6.2 Pengembangan Konsep……….. 65 6.2.1 Konsep Iklim Mikro………... 65 6.2.2 Konsep Vegetasi………. 66 6.3.3 Konsep Desain……….... 67 VII DESAIN TAMAN VERTIKAL…….………... 68
7.1 Tema Desain………. 68
7.1.1 Flaturistic………. 74
7.1.2 Geo-relief……… 79
7.1.3 Arch-cone……… 84
7.2 Konstruksi dan Irigasi……….. 87 7.3 Desain Penanaman………... 92 VIII SIMPULAN DAN SARAN……….. 98
8.1 Simpulan………... 98
8.2 Saran………. 98
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Alat yang Digunakan pada Penelitian... 21 Tabel 2. Jenis, Metode Pengumpulan dan Kegunaan Data... 23 Tabel 3. Data Kemiringan Lereng Sentul City... 27 Tabel 4. Batuan Penyusun Wilayah Sentul City………... 30 Tabel 5. Status Kesuburan Tanah Sentul City... 32 Tabel 6. Jenis Fauna Vertebrata di Sentul City... 35 Tabel 7. Analisis Pemilihan Struktur Taman Vertikal………... 59 Tabel 8. Analisis Penentuan Karakteristik Tanaman…... 60 Tabel 9. Analisis Jenis Tanaman…... 61 Tabel 10. Jenis Tanaman yang Dapat Digunakan pada Setiap Tipe
Taman Vertikal……… 63
Tabel 11. Konsep Dasar Taman Vertikal pada Kluster Pine Forest…… 64 Tabel 12. Konsep Perbaikan Iklim Mikro dengan Taman Vertikal……. 65 Tabel 13. Sifat Arsitektural dan Hortikultural Tanaman untuk Taman
Halaman Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian... 3 Gambar 2. Ilustrasi Konsep Green Building... 5 Gambar 3. Konsep Pemecah Angin... 10 Gambar 4. Pembelokkan Arah Angin... 11 Gambar 5. Kecepatan Angin Direduksi oleh Sruktur Pemecah Angin…. 11 Gambar 6. Vegetasi Penghalang Cahaya Matahari………...…… 12 Gambar 7. Kontrol Arah Datang Cahaya Matahari... 12 Gambar 8. Bukaan pada Bangunan Dapat Berfungsi Sebagai Akses
Masuk Udara (kiri), dan Udara yang Masuk Dapat Dikontrol kecepatannya (kanan)……... 13 Gambar 9. Taman Vertikal Model Rangka Besi…... 15 Gambar 10. Vertical Greening Module (VGM)... 16 Gambar 11. Pengait pada VGM(kiri) dan Penyusunan VGM (kanan)... 16 Gambar 12. Peta Lokasi Pine Forest………... 20 Gambar 13. Skema Tahapan Penelitian... 21 Gambar 14. Grafik Rata-rata Suhu Udara Sentul City selama 11 Tahun… 28 Gambar 15. Grafik Rata-rata Kelembaban Udara Sentul City selama 11
Tahun... 29 Gambar 16. Kondisi Eksisting Tapak………... 38 Gambar 17. Kondisi Tahap Pembangunan Kluster Pine Forest yang
Terdiri Dari Pembangunan Gerbang Utama Kluster (kiri dan kanan atas), Pembangunan Rumah (kiri bawah), dan Area Jogging Track (kanan bawah)... 39 Gambar 18. Letak Tipe Rumah………... 42 Gambar 19. Ponderosa Standar………... 43 Gambar 20. Ponderosa Sudut………..… 44 Gambar 21. Patula Standar... 45 Gambar 22. Patula Sudut... 46 Gambar 23. Dimensi Dinding Taman Vertikal pada Tipe Ponderosa... 47 Gambar 24. Dimensi Dinding Taman Vertikal pada Tipe Patula………... 48
Gambar 25. Arah Datang Sinar Matahari………..….. 50 Gambar 26. Penyinaran Matahari pada Setiap Bulan... 51 Gambar 27. Kondisi Iklim Pine Forest... 52 Gambar 28. Sirkulasi Tapak………...…... 54 Gambar 29. Sirkulasi dan Aktivitas pada Pinus Ponderosa…... 55 Gambar 30. Sirkulasi dan Aktivitas pada Pinus Patula ……... 56 Gambar 31. Standar Orang Duduk pada Kursi…..……….. 58 Gambar 32. Konsep Vegetasi………...………... 66 Gambar 33. Konsep Desain………... 67 Gambar 34. Kombinasi Bentuk Segitiga ……..……….. 67 Gambar 35. Site Plan Ponderosa Standar……… 70 Gambar 36. Site Plan Ponderosa Sudut………... 71 Gambar 37. Site Plan Patula Standar ……….. 72 Gambar 38. Site Plan Patula Sudut ………. 73 Gambar 39. Perspektif Ponderosa Standar (Tema: Flaturistic)………….. 75 Gambar 40. Perspektif Ponderosa Sudut (Tema: Flaturistic)…….……… 76 Gambar 41. Perspektif Patula Standar (Tema: Flaturistic)………. 77 Gambar 42. Perspektif Patula Sudut (Tema: Flaturistic)……… 78 Gambar 43. Perspektif Ponderosa Standar (Tema: Geo-relief)………….. 80 Gambar 44. Gambar 45. Gambar 46. Gambar 47. Gambar 48. Gambar 49. Gambar 50. Gambar 51. Gambar 52. Gambar 53.
Perspektif Ponderosa Sudut (Tema: Geo-relief)…….……… Perspektif Patula Standar (Tema: Geo-relief)………. Perspektif Patula Sudut (Tema: Geo-relief)……… Perspektif Ponderosa Standar (Tema: Arch-cone)…………. Perspektif Patula Standar (Tema: Arch-cone)……… Konstruksi dan Irigasi pada Struktur Rangka Besi………….. Konstruksi dan Irigasi pada struktur VGM………. Konstruksi Geo-relief dan Arch-cone……….. Desain Penanaman pada Struktur Rangka Besi………... Desain Penanaman pada Struktur VGM………..
81 82 83 85 86 89 90 91 96 97
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Pesatnya penemuan teknologi baru memacu peningkatan pembangunan di segala sektor, khususnya pembangunan di sektor infrastuktur dan permukiman. Pembangunan yang terus berlanjut ini seolah tidak terkendali dan menyebabkan banyak terjadi aktivitas pembebasan lahan untuk membangun bangunan baru yang dapat menghasilkan keuntungan lebih besar. Akibatnya, lahan-lahan di kota besar banyak yang berubah menjadi bangunan dan fasilitas lain yang tergolong elemen keras. Padahal dalam tata ruang kota yang baik, tidak hanya diisi oleh elemen keras seperti bangunan dan infrastruktur lainnya yang harus ada, tetapi juga diperlukan ruang terbuka, khususnya Ruang Terbuka Hijau. Dalam UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang disebutkan, jumlah Ruang Terbuka Hijau di setiap kota harus sebesar 30 % dari luas kota tersebut.
Menurut Sulaiman (2007), Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah kawasan atau areal permukaan tanah yang didominasi oleh tumbuhan yang dibina untuk fungsi perlindungan habitat setempat maupun untuk tujuan perlindungan wilayah yang lebih luas. RTH sangat diperlukan dalam pembangunan sebuah kota. Hal ini disebabkan karena fungsi ekologis RTH yang sangat penting antara lain peningkat kualitas air tanah, pencegah banjir, penyedia udara bersih, ameliorasi iklim mikro, dan penyerap polusi udara. Jumlah RTH yang memadai pada suatu lingkungan akan memberikan kenyamanan bagi manusia yang hidup di lingkungan tersebut. Lahan untuk RTH yang kini semakin berkurang menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan RTH. Oleh karena itu diperlukan metode baru untuk meningkatkan kualitas kenyamanan memanfaatkan lahan yang relatif sempit. Pada lingkungan permukiman, salah satu cara atau metode tersebut adalah dengan pembangunan taman vertikal.
Taman vertikal merupakan teknik penanaman secara vertikal dengan memanfaatkan lahan sempit. Taman vertikal ini sebenarnya merupakan salah satu aplikasi dari teknik vertikultur. Menurut Widarto (1994), vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat. Pembuatan
2
taman vertikal bisa dilakukan pada media tumbuh vertikal seperti dinding, besi, maupun pot-pot yang disusun secara vertikal sehingga lahan yang dibutuhkan tidak luas. Fungsi taman vertikal ini dapat mensubtitusi fungsi RTH dalam lingkup mikro sehingga dapat meningkatkan kenyamanan bagi lingkungan sekitar taman vertikal. Saat ini taman vertikal menjadi trend khususnya pada permukiman dengan konsep keberlanjutan lingkungan. Salah satu permukiman yang mulai menerapkan konsep ini adalah permukiman Sentul City.
Permukiman Sentul City menjadi kawasan yang tepat untuk penerapan taman vertikal karena sesuai dengan konsepnya yaitu Eco-city atau kota berkelanjutan. Salah satu kluster di Sentul City yang menerapkan konsep taman vertikal adalah kluster Pine Forest. Penerapan konsep taman vertikal membuktikan kesadaran akan lingkungan mulai tertanam di kalangan pengembang perumahan. Hal ini sangat baik dan bermanfaat sehingga dapat mewujudkan lingkungan yang sehat dan estetik. Konsep ini merupakan program kerja sama antara Sentul City dan Institut Pertanian Bogor dan tagline “City of Innovation” guna mewujudkan pembangunan yang memperhatikan lingkungan.
1.2Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Menginventarisasi fungsi taman vertikal.
2. Menganalisis struktur taman vertikal dan jenis tanaman yang sesuai digunakan pada taman vertikaldi kluster Pine Forest, Sentul City.
3. Membuat alternatif desain taman vertikal yang sesuai untuk diterapkan pada kluster Pine Forest, Sentul City.
1.3Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak pengelola Sentul City dalam menerapkan hasil rancangan taman vertikal di kluster Pine Forest. Selain itu hasil desain juga diharapkan menjadi referensi bagi para pengembang permukiman yang tertarik pada penerapan konsep taman vertikal.
1.4Kerangka Pikir
Sentul City merupakan permukiman yang memilki konsep Eco-city atau kota berkelanjutan. Konsep ini diterapkan pada salah satu kluster unggulan di Sentul City yaitu Pine Forest. Kendala yang dihadapi Pine Forest dalam menerapkan konsep kota berkalanjutan adalah lahan untuk RTH yang terbatas. Oleh karena itu, diperlukan solusi berupa struktur yang dapat menggantikan fungsi RTH dalam lingkup mikro. Hal ini dapat diwujudkan dengan penerapan taman vertikal yang memperhatikan aspek fungsi serta estetika, sehingga didapatkan beberapa desain yang sesuai (Gambar 1).
Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian Sentul City Pine Forest Kluster menuju Eco-city Eco-city Hemat lahan Hemat material Hemat energi Kendala: RTH terbatas
Solusi: Penerapan konsep taman vertikalpada taman rumah
Aspek fungsi Aspek estetika
Meredam pemanasan dinding Menyerap CO2
Memperindah dan menambah semarak pada dinding Jenis tanaman
Ukuran tanaman Sifat hortikultur tanaman
Struktur taman vertikal Bentuk taman vertikal Ukuran taman vertikal
Konsep taman vertikal Alternatif desain taman vertikal
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kota Berkelanjutan
Menurut King, Ross dan Yuen (1999) yang disitir oleh Uniaty (2008), kota berkelanjutan atau Eco-city adalah kota yang memiliki konsep berkelanjutan yang