• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V: PENUTUP

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat peneliti sampaikan yaitu diharapkan penelitian selanjutnya dapat mengembangkan Math City Map untuk materi kubus dan balok atau materi yang lain. Penelitian selanjutnya juga dapat melakukan penelitian tentang penggunaan Math City Map pada materi geometri bidang maupun ruang yang ada disekitar lingkungan dengan menggunakan gadget.

Arifin, Z. 2010. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta : Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama

Arikunto, S. 2016. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara Cahyono, A.N, and Ludwig, M. 2014. Designing Mathematical Outdoor

Tasks for the Implementation of The MathCityMap-Project in Indonesia. International Journal. Vancouver, Canada: PME. Vol. 6,

p. 33

Cahyono, A.N, and Ludwig, M. 2016. Math City Map: Exploring

Mathematics Around The City. 13th International Congress on

Mathematical Education

Cahyono, A.N, dkk. 2015.“Designing Mathematical Outdoor Tasks for the

Implementation of The MathCityMap-Project in Indonesia.

Cahyono, B. 2015. Korelasi Pemecahan Masalah dan Indikator Berfikir Kritis. Jurnal Phenomenon. 5(1)

Depdikbud. 2010. Pembelajaran Berbasis PAIKEM (CTL, Pembelajaran

Terpadu, Pembelajaran Tematik): Materi Pelatihan Penguatan Pengawas Sekolah

Dewi ,A. & Hatta, I. 2013. Upaya Meningkatkan Kerjasama Siswa dalam

Pembelajaran Matematika Melalui Model Pembelajaran Tutor Sebaya (PTK Pada Siswa Kelas VIII A Semester Genap SMP Negeri 1 Karangnongko Tahun Ajaran 2012/2013. Pendidikan Matematika:

Learning (CTL) terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Peserta Didik pada Materi Sistem Persamaan Linierdua Variabel (SPLDV) Kelas VIIII MTs N Brangsong Tahun Pelajaran 2016/2017. Fakultas Sains dan Teknologi: Universitas

Islam Negeri Walisongo Semarang

Huda, M. 2011. Cooperative Learning Metode, Teknik, Struktur dan

Model Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Jesberg, J.and Ludwig, M. 2012. Mathcitymap - Make Mathematical

Experiences In Out-Of-School Activities Using Mobile Technology.

International Congress on Mathematical Education Program. COEX: Seoul, Korea

Johnson, E.B. 2006. Contextual Teaching and Learning: Menjadikan

Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna.

Bandung: Mizan Learning Center (MLC)

Kesuma, D. 2010. Contextual Teaching and Learning. Bandung: Rahayasa Research and Training

Lestari, K.E, dan Yudhanegara, M. 2017. Penelitian Pendidikan

Matematika. Bandung: Refika aditama

Ludwig, M. 2012. Using Mobile Technology To Provide Outdoor Modelling

Tasks The MathCityMap-Project. International Journal Goethe-

University, Robert-Mayer-Straße 6-8, 60325 Frankfurt, Germany Miftahudin. 2015. Tutor Sebaya dengan MCM (Math City Map) Sebagai

Semarang

Mulyasa, E. 2007. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya

Muslich, M. 2009. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan

Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara

Purnomo, H. 2008. Kemampuan Bekerjasama dan Proses Pembiasannya

Melalui Pembelajaran Fisika SMA Berbasis Empat Pilar Pendidikan.

Program Studi Pendidikan IPA Program Pasca Sarjana: Universitas Negeri Semarang

Riduwan. 2012. Belajar Mudah Penelitian. Alfabeta: Bandung

Rusman. 2016. Pembelajaran Tematik Terpadu: Teori, Praktik dan

Penilaian. Jakarta: Rajawali Pers

Saefuddin, A. dan Berdiati, I. 2014. Pembelajaran Efektif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Shihab, M. Q. 2016. Tafsir Misbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian

Al-Qur'an. Tangerang: PT Lentera Hati

Siswanah, E. 2016. Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah Terstruktur Terhadap Kemampuan Penalaran Matematis Mahasiswa Pendidikan Matematika UIN Walisongo Semarang.

Persada

Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito Bandung

Sudijono, A. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers Sugiyono. 2010. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung : Alfabeta.

Suherman, E. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA-UPI

Sukirman. 2016. Matematika untuk Guru dan Calon Guru dan Calon Guru

Pendidikan Dasar. Yogyakarta: UNY Press

Supardi. 2013. Sekolah Efektif Dasar dan Praktiknya. Jakarta: Rajawali Pers

Suwarno, W. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Wardani, S. 2005. Pembelajaran dan Penilaian Aspek Pemahaman

Konsep, Penalaran dan Komunikasi, Pemecahan Masalah dalam Materi Pembinaan Matematika SMP di Daerah Tahun 2005. PPPG

HASIL WAWANCARA PRA PENELITIAN

A. Tujuan Wawancara

Pedoman wawancara dalam penelitian ini dibuat agar dapat menjawab rumusan masalah mengenai kemampuan pemecahan masalah dan kerjasama siswa berdasarkan indikator pemecahan masalah polya dan indikator kemampuan kerjasama

B. Indikator

Indikator kerjasama:

1) Sikap tanggung jawab dalam kelompok

2) Kemauan berpartisipasi dalam kegiatan kelompok 3) Komunikasi antar teman

4) Kepercayaan dalam kelompok

5) Saling tukar informasi dalam kelompok Indikator pemecahan masalah:

1) memahami masalah 2) menyusun perencanaan 3) melaksanakan rencana 4) melihat/memeriksa kembali C. Pertanyaan dalam Wawancara

PERTANYAAN JAWABAN

Ibu mengajar kelas berapa? Saya mengajar kelas 8A, 8B, 8C, 8D, dan 8E. Lima kelas

Kuriklum apa yang digunakan kelas 8?

Untuk kurikulum kelas 8 ini menggunakan kurikulum KTSP atau kurikulum 2006

Apakah sudah ada yang

menggunakan kurikulum K13?

O ya, ini kelas 7 menggunakan kurikulum K13

Berarti yang kelas 8 dan kelas 9 masih mengggunakan kurikulum KTSP, Bu?

Iya KTSP

Materi yang kira-kira dianggap siswa sulit materi apa saja Bu?

Sejauh ini bagi siswa yang rasanya sulit itu sekitar geometri dan aljabar. Tapi terutamanya di kelas 8, mereka masih kesulitan dalam mengaplikasikan materi geometri dalam kehidupan sehari-hari

Kalau aljabar dalam kehidupan juga masih susah ya Bu

Iya soalnya kalau aljabar itu, dalam pembelajarannya

menggunakan simbol-simbol, dan menggunakan variabel.

Sedangkan kalau dalam

kehidupan sehari-hari kita lebih memakainya ke konkrit jadi anak-anak lebih agak bingung kalau mengaplikasikannya. Walaupun misalkann dalam mengerjakan soal bisa, tapi kalau diolah menjadi soal cerita anak-anak bingung menentukan mana variabelnya.

Kalau misal didalam geometri terdapat soal yang dipadukan

Iya malah semakin

dengan aljabar, apakah soal yang seperti itu juga siswa juga masih kebingungan?

Kalau dalam kemampuan pemecahan masalah, disini ada empat indikator yaitu memahami masalah, menyusun perencanaan, melaksanakan rencana, dan melihat atau mememeriksa kembali jawaban yang telah diselesaikan siswa. Nah untuk yang pertama dalam memahami masalah, ketika Ibu sudah menjelaskan, kemudian memberi contoh, jika hanya sekedar seperti itu apakah siswa bisa langsung paham?

Ada yang langsung paham, ada yang harus dijelaskan ulang kembali, baru mereka jelas

Jika dalam suatu soal terdapat soal yang aplikatif bagaimanakah reaksi siswa?

Rata-rata masih banyak kebingungannya Contohnya yang soal-soal seperti

apa Bu?

Misalkan seperti ini , dalam geometri terdapat sebuah ruangan berbentuk kubus kemudian akan dicat bagian sisinya, yang tidak dicat lantai dan atapnya, maka anak-anak bingung. Ini yang ditentukan apanya volumenya atau luas permukaannya atau bagaimana. Nah mereka masih kebingungan dalam menentukan tujuan

pertanyaannya itu kemana Jika soal yang Ibu berikan berbeda

dari contoh yang Ibu ajarkan apakah siswa masih kebingungan?

iya

Kemudian yang kedua dalam menyusun suatu perencanaan, ketika siswa sudah dapat memahamai masalah apakah siswa dapat menyusun perencanaan penyelesaian masalah sendiri atau perlu bantuan dari guru? Misal Ibu memberikan bantuan bahwa suatu soal menyelesaikannya dengan menggunakan cara ini, nanti siswa baru bisa menyusun perencanaan dengan menggunakan rumus yang akan digunakan atau seperti apa?

Ya untuk itu anak-anak mulai paham apabila diberikan kode, misalkan yang ditanyakan pada langkah pertama adalah luas permukaanya maka mereka langsung bisa mencari atau menentukan rumus lalu menentukan penyelesaiannya

Jika dalam menentukan penyelesaiannya atau

melaksanakan rencana, apakah rata-rata siswa bisa?

Iya kalau mereka sudah tau rumusnya rata-rata mereka bisa menyelesaikannya

Tapi jika belum tau susunan perencanaan masalahnya, apakah masih bingung?

Iya masih kebingungan anak-anak akan bertanya, “Bu, ini yang dicari apanya?” seperti itu Terus yang terakhir, dalam

kemampuan pemecahan masalah terdapat indikator melihat atau memeriksa kembali jawaban. Biasanya ketika siswa menjawab suatu persoalan apakah

Nah untuk itu anak-anak masih cenderung belum melaksanakan pengecekan kembali. Yang melaksankan pengecekan kembali hanya beberapa anak saja, sehingga mereka hanya

jawabannya dicek lagi atau langsung asal dikumpulkan?

sampai ke tahap o ini sudah ketemu jawabannya, dan mereka menganggapnya itu selesai. Tapi ada beberapa juga yang

melakukan pengecekan kembali agar mereka tau bahwa itu benar-benar jawabannya

Kira-kira jika tidak diperiksa kembali apa efeknya Bu?

Efeknya ketika murid nanti mengerjakannya kurang teleti maka jawabannya menjadi salah. Maka dari itu harus dilakukan pengecekan kembali agar

jawaban yang mereka peroleh itu merupakan benar-benar

penyelesaian dari soal Berarti kalu soalnya mengenai

kemampuan pemecahan masalah menurut Ibu, siswa cenderung bisa atau masih kebingungan atau giamana, Bu?

Untuk pemecahan masalah apabila soalnya itu masih hampir mirip dengan contoh yang telah saya berikan mereka masih bisa. Tapi misalkan soalnya saya kembangkan sedikit saja, mereka sudah mengalami kesulitan dalam menentukan tujuan soalnya

O gitu, masih bingung ya? Iya

Jika soalnya berbentuk uraian, atau bentuk berbentuk pilihan ganda, siswa biasanya lebih kesulitan yang mana, Bu?

Kalau lebih sulitnya adalah lebih sulit ke soal uraian, karena kalau soal uraian mereka harus menyelesaikannya dengan cara yang runtut tetapi kalau soalnya pilihan ganda kan mereka

misalkan tidak ketemu jawabannya, mereka bisa mengaplikasikan option-option yang ada ke soal, sehingga mereka dengan cara itu

pengecekan kembali ya, sehingga langsung ke tahap empat

melakukan pengecekan kembali, karena sudah disediakan option-option dari soal tersebut Apakah Ibu pernah memberikan

contoh soal tapi langsung dalam bentuk kehidupan sehari-hari?

Kalau dalam pembelajaran saya cenderungnya mengajarkan ke kehidupan sehari-hari kemudian baru masuk ke model

matematikanya. Saya berikan rumusnya, kemudian contoh soal dalam model matematika, baru saya berikan ke contoh

kehidupan sehari hari lagi Berarti pembelajaran yang

dilakukan di SMP N 2 Ungaran ini sudah mengarah langsung ke dalam contoh kehidupan sehari-hari?

Iya, sudah

Apakah siswa bisa mengikuti Bu? Iya rata-rata siswa bisa mengikuti Dalam pembelajaran di kelas,

apakah Ibu pernah menggunakan model-model pembelajaran?

Untuk model-model yang pernah saya gunakan biasanya tanya jawab, diskusi, kerja kelompok, penugasan, kemudian saya pernah memberikan metode jigsaw tapi itu menurut saya

sendiri kalau diaplikasikan mebutuhkan waktu yang lebih lama dari jam pembelajaran yang seharusnya.

Sehingga materi-materi yang harusnya sudah disampaikan akan jadi terhambat sehingga saya kembali ke metode yang sebelumnya yaitu kerja kelompok, diskusi, dan tanya jawab seperti itu

Kalau menggunakan game gitu pernah Bu?

Untuk seperti game itu saya kadang selingi, tetapi hal itu malah anak cenderungnya yang masuk gamenya bukan

materinya. Sehingga untuk game atau permainan itu sesekali iya agar anak tidak jenuh.

Ibu tadi kan menyeutkan diskusi dan kerja kelompok, ketika sedang berdiskusi apakah siswa

cenderung aktif atau pasif atau gimana, Bu?

Rata-rata kalau mereka kerja dalam kelompok itu mereka aktif.

Apakah setiap individu dalam satu kelompok pasti tanggung jawab semua?

Iya, tapi ada juga beberapa kelompok, tapi itu tidak

semuanya mereka itu siswanya hanya ikut dalam kelompok itu tetapi tidak ikut mengerjakan. Hal semacam itu berarti saya melakukan penilaian terhadap kerja kelompoknya itu saya

kurangi. Berarti mereka tidak ikut mengerjakan tugas kelompok secara maksimal. Yang dikurangi per individu

nilainya atau dalam satu kelompoknya ?

Ya dalam satu kelompok seperti itu

Untuk kepercayaan dalam kelompok, setiap siswa percaya atau tidak dengan teman sekelompoknya?

Yang seperti itu kepercayaan mereka sangat tinggi. Karena mereka sudah melakukan kerja dalam kelompok, harus saya tekankan seperti ini ke anak-anak. Kalau misalkan satu bisa semua juga harus bisa. Maka apabila siapapun yang misal ditunjuk dalam kelompok itu, maka dalam kelompok itupun percaya sama yang mewakili kelompok mereka

Untuk komunkasi didalam kelompok siswa cenderung bagaimana, Bu?

Siswa cenderung aktif dalam berkomunikasi kelompok mereka saling mengutarakan

pendapatnya. Oh yang itu kurang benar oh yang seperti ini benar. Nah mereka malah lebih leluasa dalam mengungkapakan

pendapatnya dalam menyelesaikan soal Itu semua siswa seperti itu atau

masih ada yag belum?

Ada yang masih belum, yang hanya duduk mengamati temannya saja, ada yang malah usil juga ada karena karakteristik

individu kan masing-masing ya. Nah yang seperti itu memang masih dalam kendala kelompok mereka masing-masing. Nah seperti itu sebenarnya bisa teratasi dengan anggota kelompok lain yang saling mengingatkan. Jadi rasa kebersamaan dalam kelompok harus sangat penting

Ketika ibu menggunakan metode diskusi nanti diakhir pembelajaran siswa bisa paham semua atau masih ada yang belum sehingga perlu refleksi lagi atau bagaimana, Bu?

Setelah diskusi, kemudian ada penyampaian hasil diskusi, setelah itu ada refleksi untuk mengecek siapa-siapa yang belum paham. Jadi tetap ada refleksi walaupun sudah melaksanakan diskusi dan penampilan hasil diskusi Hasilnya paham semua atau masih

ada yang belum?

Nah untuk metode diskusi itu tetap masih ada yang belum Siswa paling senang itu kalau

pembelajarannya menggunakan metode yang bagimana, Bu?

Untuk paling senang mereka menggunakan metode diskusi

Ungaran, 7 Februari 2018 Narasumber

PROFIL SEKOLAH

A. IDENTITAS SEKOLAH

1. Nama Sekolah : SMP Negeri 2 Ungaran 2. Alamat : Jalan Letjend Suprapto No.65

3. Desa : Muneng

4. Kecamatan : Ungaran Timur

5. Kabupaten : Semarang

6. NPSN : 20320273

7. NSS : 201032220002

8. Didirikan pada tanggal : 2 Oktober 1979 9. Jenjang akreditasi : Terakreditasi A

10. Nama kepala sekolah : Sarbun Hadi Sugiarto, S.Pd

11. NIP : 19700516 199702 1 001

B. VISI DAN MISI SEKOLAH

Visi Sekolah

Terdepan dalam perilaku luhur dan unggul dalam prestasi.

 Misi Sekolah

1. Mewujudkan warga sekolah yang religius

2. Mewujudkan warga sekolah yang berperilaku sesuai norma kehidupan

3. Mewujudkan peningkatan hasil belajar siswa 4. Mewujudkan peningkatan lulusan yang kompetitif

5. Mewujudnya peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi

JADWAL KEGIATAN PENELITIAN

Hari/Tanggal Tempat Keterangan

Minggu, 5 November

2017 Rumah Bapak

Kristanto

Wawancara dengan salah satu guru Matematika di SMP N 2 Ungaran Senin, 8 Januari 2018 Ruang

Wakasek SMP N 10 Semarang

Wawancara dengan Bapak Miftahudin

Rabu, 7 Februari

2018 Rumah Bu Dewi Wawancara dengan salah satu guru Matematika kelas VIII di SMP N 2 Ungaran Kamis, 8 Februari

2018 Kelas IX C Uji Coba pretest kemampuan pemecahan masalah Senin, 12 Februari

2018 Kelas IX C Uji Coba postest kemampuan pemecahan masalah Kamis, 22 Februari

2018 Kelas VIII B Observasi

Senin, 26 Februari 2018

VIII D Pretestkemampuan

pemecahan masalah Selasa, 27 Februari

2018 VIII B Pretestkemampuan pemecahan masalah Rabu, 28 Februari

2018

VIII E Pretestkemampuan

pemecahan masalah

Kamis, 1 Maret 2018 VIII C Pretestkemampuan

pemecahan masalah

Jumat, 3 Maret 2018 VIII A Pretestkemampuan

pemecahan masalah Selasa, 27 Maret 2018 VIII B Praktik Pembelajaran CTL

berbantuan MCM I Kamis, 29 Maret 2018 VIII A Praktik Pembelajaran

Hari/Tanggal Tempat Keterangan Kamis, 29 Maret 2018 VIII B Praktik Pembelajaran CTL

berbantuan MCM II Sabtu, 31 Maret 2018 VIII A Praktik Pembelajaran

Konvensional II Selasa, 3 April 2018 VIII B Posttest kemampuan

pemecahan masalah Kamis, 5 April 2018 VIII A Posttest kemampuan

DAFTAR NAMA UJI COBA

No. Kode Nama Siswa

1 UCT-01 Aditya Suko Dwicoro 2 UCT-02 Ainun Septika

3 UCT-03 Andika Timur Hari Pradana 4 UCT-04 Angelia Marina

5 UCT-05 Armiatri K. K 6 UCT-06 Aziz Nugraha 7 UCT-07 Bahtiar

8 UCT-08 Bilqis Zanuarita 9 UCT-09 Biyant Cahya A.K 10 UCT-10 Cahya Ayuning Fitriani 11 UCT-11 Candra Kurnia A 12 UCT-12 Della Elriana Taa 13 UCT-13 Devi Nurlita M

14 UCT14 Devina Chalifatun Nisa 15 UCT-15 Dian Nur Halisa

16 UCT-16 Endang Tri Kartika Larasati 17 UCT-17 Enrico Krisna A

18 UCT18 Erlina Putri Laksmita 19 UCT-19 Febryan Satria Mukti 20 UCT-20 Gita Kartika

21 UCT-21 Haviar Arya Fardana 22 UCT22 Intan Esti Cahyani 23 UCT23 M. Ilham Al Hafidh 24 UCT-24 Muhammad Ghifari Rifata 25 UCT-25 M Taqiyujjin

26 UCT-26 Nidaul Halimatus Sani 27 UCT-27 Nisfia Putri Sabhitha 28 UCT-28 Purwana Nur Adi K 29 UCT-29 Raditya R.R

30 UCT-30 Regita Novia R

31 UCT-31 Rika Adistiya Maharani 32 UCT-32 Sabina Evayanti 33 UCT-33 Shafa Amelia Putri 34 UCT-34 Wahyu Oktavianto

KISI –KISI SOAL PRE-TEST KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH

Satuan Pendidikan : SMP N 2 Ungaran Mata Pelajaran : Matematika Kelas/Semester : VIII/ Dua

Materi Pokok : Garis Singgung

Lingkaran

Alokasi Waktu : 70 menit Jumlah Butir Soal : 6 butir soal Aspek Penilaian : Kemampuan Pemecahan Masalah

Kompetensi Dasar

4.4. Menentukan panjang garis singgung persekutuan dua lingkaran. Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah

1. Mampu memahami masalah dengan menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan

2. Mampu membuat rancangan strategi pemecahan masalah 3. Mampu melaksanakan perhitungan dengan benar

LEMBAR SOAL UJI COBA PRE-TEST

Mata Pelajaran : Matematika Waktu : 70 menit

Kelas/ semester : VIII/ Genap Materi : Garis Singgung Lingkaran

Soal !

1. Suatu gong, diikat pada kayu penyangga membentuk layang-layang garis singgung OBAC seperti terihat pada gambar. Luas layang-layang OBAC adalah 192 cm2. Jika jari-jari gong sama dengan 12cm, tentukan panjang garis singgung lingkaran gong.

2. Perbandingan jari-jari dua lingkaran adalah 1 : 2. Panjang

garis singgung persekutuan dalam kedua lingkaran tersebut adalah 12 cm dan jarak antara kedua pusatnya 15 cm. Berapa panjang jari-jari masing-masing lingkaran?

3. Setyo mempunyai sebuah sepeda rantai. Pada gambar berikut, panjang garis singgung AB 15 cm, jari-jari lingkaran masing-masing 10 cm 2 cm. Tentukan jarak pusat kedua lingkaran.

4. Suatu alat pemintal benang memiliki jarak kedua pusat lingkaran adalah 20 cm. Jika panjang garis singgung AB 16 cm, dan jari-jari lingkaran besar 15 cm, tentukan panjang jari-jari lingkaran kecil.

Petunjuk mengerjakan soal !

1. Bacalah do’a sebelum mengerjakan soal.

2. Tulislah nama, nomor absen dan kelas pada lembar jawab. 3. Tuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal 4. Buatlah rencana untuk menyelesaikan soal tersebut 5. Selesaikan soal sesuai dengan rencana penyelesaian.

6. Periksalah kembali menggunakan solusi lain untuk mengetahui apakah jawaban sudah benar.

1. Berapakah panjang tali minimal yang dapat digunakan untuk mengikat tiga buah botol yang berjejer seperti terlihat pada gambar jika jari-jari 1 cm dan jarak antarpusat tutup botol adalah 5 cm?

2. Dua buah pipa air dengan jari-jari yang sama, yaitu 21 cm akan diikat menggunakan seutas kawat. Berapa panjang kawat minimal yang dibutuhkan?

SELAMAT MENGERJAKAN, SEMOGA ILMUNYA BERMANFAAT  5.

KUNCI JAWABAN

SOAL UJI COBA GARIS SINGGUNG LINGKARAN

No Jawaban Skor

1 Langkah 1: Memahami masalah Diketahui:

Luas OBAC = 192 cm2 Jari-jari gong = 12 cm

Ditanya:

Panjang ruas garis singgung = AC

3

Langkah 2: Merencanakan penyelesaian

Menentukan luas luas layang-layang AOBC Mensubstitusikan nilai jari-jari gong dan luas segitiga AOC

ke dalam rumus luas segitiga untuk menemukan panjang AC

Langkah 3 : Melaksanakan rencana

Dokumen terkait