• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN

5.2 Saran

Adapun saran yang penulis harapkan dari penelitian skripsi ini adalah:

1. Menjadikan rumah panggung Melayu sebagai warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan agar generasi mendatang masih bisa melihat hasil nyata dari sebuah seni arsitektur yang dibuat oleh orang Melayu terdahulu.

2. Mempertahankan keaslian rumah panggung Melayu sehingga tidak tercampur oleh kebudayaan asing.

3. Rumah panggung Melayu dijadikan bahan reverensi dalam membangun sebuah rumah baru yang akan ditempati.

4. Seharusnya, pengenalan terhadap warisan kebudayaan dari seni arsitektur ini lebih digiatkan lagi agar apa yang masyarakat saat ini tidak tahu menjadi tahu.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kepustakaan yang Relevan

1. Syarif Beddu: Jurnal 2009 “Arsitek Arsitektur Tradisional Bugis”. Mengamati bangunan tradisional yang ada di Sulawesi Selatan khusunya masyarakat Bugis yang sering disebut sebagai bangsa “Bahari” (Oceanik), model bangunan ini pada umumnya berpanggung; artinya bangunan yang mereka rencanakan berbentuk panggung yang disokong atau didukung oleh sejumlah tiang-tiang “aliri” vertikal dan pasak-pasak “patolo” horisontal secara struktural namun tetap memiliki unsur fleksibilitas. Rumah panggung Bugis merupakan salah satu bentuk yang inovatif yang mempunyai adaptasi ilmiah di lingkungan aslinya. Bahkan material untuk struktural rumah panggung dapat diperoleh dari lingkungan setempat. Mengamati konsepsi dan prosesi perancangan bangunan pada arsitektur tradisional dikalangan etnis bangsa Bugis, sangat kental dengan berbagai falsafah dan ritual yang mengacu pada budaya dasar setempat terhadap tata nilai ruang serta tata bentuk bangunan dan bahkan banyak dikaitan dengan konsep waktu. Langkah yang dijalankan oleh seorang ”Sanro Bola” yang berprofesi sebagai arsitek dengan tujuan utama untuk mencari kelarasan manusia dengan alam, dan hubungan keharmonisan antara manusia sesamanya serta manusia dengan penciptaNya.

2. Heryanti: Jurnal Universitas Negeri Gorontalo “Nilai-nilai Sejarah dan Filosofi Pada Arsitektur Rumah Panggung Masyarakat Gorontalo”. Di tengah-tengah bangunan modern di Gorontalo terdapat rumah yang merupakan rumah sisa-sisa peninggalan masa lalu yang berbentuk panggung yang oleh masyarakat setempat dinamakan Rumah Budel, yaitu istilah masyarakat lokal dalam menyebut rumah warisan yang tidak memiliki hak kepemilikan yang jelas karena ketika pemilik utama (orang tua) meninggal dunia, tidak sempat meninggalkan hak waris kepada keturunannya sehingga biasanya hanya sekedar untuk dihuni secara turun temurun. Jika dilihat dari gaya pada rumah budel yang berbentuk panggung terdiri atas dua jenis, yakni yang pertama, rumah berbentuk panggung yang jika dilihat dari tampilan arsitekturnya sudah mengalami akulturasi (pengaruh kolonial, Cina dan Arab). Kedua, rumah yang berbentuk panggung tetapi nuansa/muatan makna filosofi dan adat budaya daerah Gorontalo masih nampak. Rumah dalam bahasa Gorontalo disebut Bele. Berdasarkan sejarah pekembangan rumah masyarakat Gorontalo mulai dari yang paling sederhana yakni membuat hunian di pohon-pohon sampai ke perkembangan rumah yang lebih sempurna yang dinamakan Bele Dupi. Bele Dupi inilah yang berkembang terus menyesuaikan peradaban masyarakat Gorontalo yang sampai sekarang sudah mulai punah.

Makna filosofi yang melandasi perwujudan arsitektur rumah panggung masyarakat Gorontalo pada hakekatnya berpangkal pada etika atau adat dalam berperilaku yang senantiasa berasaskan pada prinsip-prinsip Islam dan adat yang terkait dengan pelaksanaan pemerintahan yang mana sebagian

besar dipengaruhi oleh latar belakang sejarah Gorontalo yang berbentuk kerajaan. Sekalipun perbedaannya tidak begitu nampak tetapi secara keseluruhan rumah masyarakat Gorontalo pada zaman dahulu dapat dibedakan berdasarkan status sosialnya yakni rumah untuk golongan raja/bangsawan, rumah untuk golongan kaya/berada, dan rumah untuk rakyat biasa/kebanyakan. Perbedaan ini nampak jelas pada dimensi rumah, bentuk atap, dan penggunaan ragam hias.

3. Dinar Sukma Pramesti: Tesis 2013 “ Tipologi Rumah Panggung Di Loloan, Jembrana Berdasarkan Sistem Spasial”. Menurut Husein Jabar, seorang tokoh di Loloan (Desember 2012), dipilihnya rumah panggung sebagai rumah masyarakat Loloan, selain karena asal tradisi, juga disebabkan karena rumah panggung dapat beradaptasi dengan kondisi alam Loloan yang dekat dengan sungai Ijo Gading. Pada tahun 1700, sebelum dibangunnya permukiman di Loloan, sungai Ijo Gading pernah meluap dan menyebabkan banjir besar. Rumah panggung dianggap cocok dan mampu mengantisipasi jika terjadi banjir akibat luapan sungai Ijo Gading. Bagian bawah rumah panggung yaitu lantai dasar/kolong dapat tetap menyerap atau dilalui air. Rumah panggung juga dipilih karena dapat mengantisipasi serangan binatang buas seperti buaya yang banyak terdapat di sekitar sungai Ijo Gading.

Rumah panggung di Loloan terdiri dari tiga bagian yaitu bagian bawah disebut lantai dasar/kolong, bagian tengah disebut lantai tengah/induk dan bagian atas disebut lantai atas/loteng. Lantai dasar/kolong awalnya difungsikan untuk mengantisipasi banjir dan binatang buas, tetapi setelah

dibangun permukiman, wilayah Loloan tidak pernah dilanda banjir sehingga lantai dasar/kolong dijadikan ruang multifungsi tanpa sekat dan ditutup dengan dinding tidak permanen berupa gedek. Lantai dasar/kolong difungsikan sebagai ruang penyimpanan peralatan rumah tangga, kayu bakar, peralatan bekerja, tempat duduk-duduk atau sebagai tempat memelihara hewan ternak. Lantai tengah/induk merupakan ruang tempat penghuni rumah melakukan aktivitas sehari-hari. Pada lantai tengah/induk terdapat amben/serambi, ruang depan, bilik/kamar tidur dan dapur. Lantai atas/loteng merupakan ruang yang digunakan sebagai tempat penyimpanan barang pusaka atau sebagai tempat memingit anak dara atau gadis (perawan).

Adapun kajian penulis berjudul: Estetika Rumah Panggung Melayu Batu

Bara. Di dalam tulisan ini penulis mencoba untuk mendeskripsikan struktur rumah

panggung Melayu Batu Bara dan menjelaskan estetika/keindahan yang terdapat dalam rumah panggung Batu Bara. Keindahan rumah panggung dapat dilihat dari struktur bentuk rumah, bentuk material yang dipakai, bentuk ukiran yang digunakan, bentuk warna dan lain-lain.

Kajian yang penulis lakukan hampir mirip dengan kajian yang ditulis oleh Syarif Beddu, Heryanti, dan Dinar Sukma Pramesti. Namun, di dalam kajian penulis selain membahas tentang struktur ataupun bentuk rumah panggung, penulis menambahkan kajiannya dengan nilai-nilai estetika/keindahan yang ada pada rumah panggung. Inilah yang membedakan konsep kajian penulis dengan konsep tulisan Syarif Beddu, Heryanti, dan Dinar Sukma Pramesti yang hanya membahas tentang fungsi dan struktur/bentuk rumah panggung.

2.2 Teori Yang Digunakan Estetika

Secara etimologis (Shipley, 1957:21)3

3 Khuta Ratna, Nyoman. 2011. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: PUSTA PELAJAR.

estetika berasal dari bahasa Yunani, yaitu aistheta, yang juga diturunkan dari aisthe merupakan hal-hal yang dapat ditanggapi dengan indra. Pada umumnya aisthe dioposisikan dengan noeta, dari akar kata noein, nous, yang berarti hal-hal yang berkaitan dengan pikiran. Dalam pengertian yang lebih luas berarti kepekaan untuk menanggapi suatu objek, dan kemampuan pencerapan indra.

Estetika merupakan bagian filsafat keindahan yang diturunkan dari pengertian persepsi indra. Pada perkembangan awal, estetika disebut dengan istilah keindahan yang merupakan bagian dari metafisika. Alexander Gottlieb Baumgarten (1970) mulai membedakan antara pengetahuan inderawi dengan pengetahuan intelektual, mempersempit pengertian persepsi indra dengan persepsi artistik sekaligus membedakan antara pengalaman artistik dengan pengalaman indra yang lain.

Pada mulanya, estetika disebut dengan teori cita rasa. Tetapi sejak munculnya tulisan Baumgarten (Runes,1962:6, 110: Shipley:3-7), pengertian estetika dipersempit hanya pada keindahan artistik. Pada umumnya masalah-masalah keindahan dikaitkan dengan seni murni, yaitu seni sastra, seni lukis, seni patung, seni pahat, seni musik, dan seni arsitektur. Menurut The Liang Gie (1976:65) pembagian tersebut pertama kali dikemukakan oleh Charlex Batteaux (1713-1780). Meskipun demikian, keindahan meliputi seluruh karya seni, bahkan juga karya non seni, seperti benda-benda dalam kebutuhan sehari-hari.

Dalam kamus bahasa Indonesia kata seni berarti suatu keahlian untuk membuat suatu karya yang bermutu. Seni bangunan misalnya, bermutu karena bentuk kontruksinya. Sulit memisahkan antara keindahan dengan keterampilan. Segala sesuatu yang disebut indah baik di dalam karya seni dilakukan melalui suatu aktivitas yang terampil, yang memanfaatkan teknik-teknik tertentu. Semua orang memiliki aktivitas, tetapi tidak semua orang melakukannya dengan terampil. Karya yang dihasilkan pun tidak semuanya indah. Maka dapat disimpulkan bahwa setiap keindahan aka nada keterampilan dan belum tentu sebaliknya.

Arsitektur sebagai aspek seni dan budaya, senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan selaras waktu, ruang, dan tempat yang bersangkutan. Pada hakekatnya, karya arsitektur merupakan hasil nyata dari imajinasi dan daya cipta para ahli dalam usaha meningkatkan taraf hidup. Dalam kehidupan bermasyarakat, usaha manusia adalah menciptakan lingkungan hidup yang sehat. Salah satu dari aspek menciptakan lingkungan hidup ini adalah mencipta dan mengubah bangunan. Bidang keahlian inilah yang disebut sebagai arsitektur. Pada masa itu, arsitektur digolongkan sebagai salah satu dari tiga seni visual utama selain seni lukis dan seni pahat. Perbedaannya adalah bagaimana cara menikmatinya. Seni pahat hanya bisa dinikmati dengan hanya melihat, sedangkan dalam arsitektur cara menikmatinya dapat dilalui dengan pengalaman memasuki ruangan yang ada di dalamnya. Contoh erat hubungan antara seni pahat dan arsitektur adalah rumah panggung etnis Melayu yang ada di berbagai daerah Melayu di Indonesia.

Perkembangan peranan arsitektur menjadi semakin meluas dan beragam, meliputi berbagai aspek kehidupan. H.K. Ishar (1992:1,2,39,73)4 mengutip dalam teorinya tentang keberadaan tiga aspek yang menjadi pertimbangan utama dalam perancangan arsitektur, yaitu aspek fungsi, struktur, dan estetika. Aspek fungsi meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan aktivitas pengguna ruang di dalamnya, kemudahan dan kenyaman pemakaian serta pemeliharaan bangunan.

Aspek estetika berkaitan dengan hal-hal yang menimbulkan keindahan bentuk dan ekspresi dari bangunan. Dengan menilai arsitektur sebagai seni, berarti teor-teori seni atau teori-teori estetika harus pula diterapkan pada arsitektur. Ishar mengemukakan, estetika dalam arsitektur bangunan adalah nilai-nilai yang menyenangkan mata dan pikiran.

Teori estetika yang digunakan dalam arsitektur bangunan adalah teori estetika formil dan teori estetika ekspresionis. Teori estetika formil mengemukakan bahwa keindahan luar bangunan menyangkut persoalan bentuk dan warna. Sedangkan teori estetika ekspresionis mengemukakan keindahan tidak selalu hadir dari bentuknya tetapi dari maksud dan tujuan ekspresinya.

4

http://www.lunibuk.com/PUSTAKA/TEKNIK DAN

SAINS/ESTETIKA.BENTUK/bab2.setetika.bentuk.sebagai.dasar.perancangan.arsitektur. Diakses 28 Maret 2016.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Adat dan tradisi merupakan ciptaan setiap etnis di Indonesia, bahkan bangsa di duniapun memiliki ciri dan keunikan dalam tradisinya. Tradisi itu akan tetap hidup apabila kebudayaan tersebut diwariskan secara terus menerus kepada satu generasi ke generasi berikutnya. Budaya tidak bersifat statis melainkan dinamis yang akan selalu berubah seiring bergantinya zaman sesuai dengan kebutuhan masyarakat pendukungnya. Budaya yang tidak mampu menyeimbangkan perubahan kebutuhan pendukungnya akan ditinggalkan oleh generasi berikutnya. Akibatnya, budaya perlahan-lahan akan terlupakan dan mati.

Menurut Koentjraningrat, budaya adalah sesuatu yang hidup, berkembang dan sesuatu yang bergerak menuju titik tertentu. Menurut konsep antropologi, kebudayaan berarti segala keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dipelajari manusia. Kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta, buddhaya yakni bentuk jamak dari buddhi yang berarti akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal.1

Menurut J.J.Hoenigman2

1. Gagasan (Wujud ideal)

, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.

1 Fakhrizal, Fakhri. 2013. Tradisi Puoko Pada Masyarakat Melayu Batu Bara. Departemen Sastra Daerah. Program Studi Bahasa dan Sastra Melayu. Fakultas Ilmu Budaya. USU. Medan. (Skripsi)

2

Aziz.Abdul. ”Wujud-wujud Kebudayaan”. www.abdulazis96.wordpress.com/2015/03/23. Diakses 16 Maret 2016.

Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, sebagainya yang sifatnya kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.

2. Aktivitas (Tindakan)

Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling denga tata kelakuan. Sifatnya diamati dan didokumentasikan.

3. Artefak (Karya)

Artefak adalah wujud kebudayaan aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.

Etnik Melayu memiliki seni pembangunan rumah tradisional yang disebut dengan “Seni Bina”. Rumah tidak hanya dijadikan tempat tinggal, tetapi juga sebagai lambang kesempurnaan hidup. Dalam etnik Melayu, rumah merupakan penanda status apakah seseorang bertanggung jawab terhadap keluarganya atau tidak.

Masyarakat Melayu Batu Bara selalu berusaha mendirikan rumah walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana. Orang tua-tua mengatakan “kalau manusia tidak berumah, seperti beruk buta di dalam rimba”. Ungkapan ini sangat memalukan bagi orang Melayu, bukan saja bagi pribadinya sendiri, tetapi juga bagi keluarga dan kerabatnya.

Masyarakat Melayu Batu Bara menginginkan rumah kediaman yang baik dan sempurna yang bangunan fisiknya memenuhi ketentuan adat dan rumah tersebut dapat mendatangkan kebahagiaan, kenyamanan, kedamaian dan ketentraman.

Ada 3 (tiga) landasan dalam mendirikan rumah tradisional Melayu Batu Bara, yaitu adat resam, keadaan lingkungan dan syariat Islam. Adat resam menjadikan pola pengahayatan hidup yang teratur dan tersusun sebagai fungsi memberikan ketenangan dan kebahagian seseorang, keluarga dan masyarakat. Keadaan lingkungan setempat turut menentukan bentuk arsitektur rumah tradisonal Melayu Batu Bara, sehingga arsitektur rumah Melayu Batu Bara baik di darat maupun dekat dengan sungai ataupun pantai pada dasarnya berkolong atau berpanggung dan bertiang tinggi. Bentuk rumah panggung ini sangat berguna untuk penyelamatan dari bahaya banjir maupun ancaman binatang buas, mengatasi kelembapan udara, dan merupakan tempat kerja darurat serta tempat penyimpanan perkakas kerja. Dalam syariat Islam, yang harus diperharikan dalam mendirikan ataupun membangun rumah

adalah letak kamar laki-laki dan kamar perempuan haruslah berbeda sesuai dengan norma agama Islam.

Tiang dan atap merupakan bagian terpenting dalam bangunan karena keduanya adalah pondasi pada sebuah rumah. Atap merupakan bagian yang difungsikan sebagai pelindung di dalam rumah dan tiang difungsikan sebagai penopang pada sisi bangunan rumah.

Rumah tradisioanl Melayu Batu Bara mengandung unsur estetika yang dapat dilihat dari bentuk gaya maupun struktur bangunan, pewarnaan dinding, serta ukiran ornamen yang dianggap mewakili suatu zaman pada daerah Melayu.

Masyarakat Melayu Batu Bara umumnya adalah pelaut dan membuat kapal ataupun perahu. Oleh karena itu, istilah yang terdapat pada sebuah rumah panggung banyak kemiripannya dengan istilah pada sebuah perahu. Misalnya, tiang yang dapat diartikan sebagai tonggak panjang untuk menyokong rumah maupun untuk memasang layar pada perahu. Lantai yang diartikan sebagai bagian bawah ruangan di rumah maupun sebagai geladak perahu. Selain itu, sebuah tebar layar yang bermakna kain yang dibentangkan untuk menadah angin di perahu, pada rumah panggung Melayu Batu Bara menunjukkan bagian ujung rumah yang berbentuk segitiga yang menutupi ruang antara dua kayu yang dipasang bersilang. Kesederhanaan pembuatan kapal ataupun perahu dapat dianggap memiliki kesamaan dengan cara membuat rumah panggung. Sehingga dapat dikatakan bahwa rumah panggung bagaikan perahu yang terapung di darat.

Seni arsitektur rumah tradisional Melayu telah dikenal sebelum datangnya penjajah ke bumi nusantara ini. Karya arsitektur tradisional ini tidak dikenal siapa penciptanya, tetapi mungkin saja sebuah karya milik bersama atau kelompok dari

nenek moyang kita zaman dahulu. Tetapi warisan arsitektur ini merupakan warisan yang khas bagi masyarakat Melayu.

Dari latar belakang di atas, penulis memilih judul “Estetika Rumah Panggung Melayu Batu Bara” sebagai judul skripsi karena ingin mengungkapkan keindahan yang ada pada rumah panggung. Tentu saja penulis juga ingin memberi tahukan kepada masyarakat banyak bahwa rumah tradisonal Melayu yaitu rumah panggung yang keberadaannya hampir terkikis dan dilupakan mengingat model rumah pada saat ini berbentuk gaya Eropa. Penulis berharap besar kepada masyarakat Melayu untuk menjaga dan melestarikan budaya nenek moyang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis membuat beberapa rumusan masalah didalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimanakah struktur rumah panggung Melayu Batu Bara?

2. Nilai estetika apa yang terdapat pada rumah panggung Melayu Batu Bara?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Mengetahui struktur rumah panggung Melayu Batu Bara.

2. Mengetahui nilai estetika yang ada pada arsitektur rumah panggung Melayu Batu Bara.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan.

2. Dapat dijadikan sumber referensi oleh generasi muda dalam mencari pengetahuan untuk mencari keunggulan dan norma-norma adat istiadat dalam membangun rumah panggung Melayu Batubara.

3. Sebagai upaya dalam pelestarian budaya yang sudah mulai terkikis zaman. 4. Memelihara bangunan khas Melayu agar tetap bertahan di zaman modernisasi

ini dengan mengajak para generasi muda ikut melestarikan dan menjaga kebudayaan yang berbentuk tersebut.

ABSTRAK

M. Arfan Fahmi, 2016. Judul skripsi : Estetika Rumah Panggung Melayu Batu Bara.

Adapun permasalahan penelitian ini adalah bagaimana struktur rumah panggung Melayu Batu Bara dan nilai estetika yang ada pada rumah panggung Melayu Batu Bara.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur rumah panggung Melayu Batu Bara dan nilai estetika yang ada pada rumah panggung Melayu Batu Bara. Teori yang penulis gunakan adalah teori Estetika yang digagas oleh H.K Ishar.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, bagaimana penulis mengumpulkan data secara fakta yang ada di lapangan. Masalah dalam penelitian ini adalah mengetahui struktur rumah panggung dan mengetahui nilai estetika yang ada pada arsitektur rumah panggung Melayu Batu Bara. Teori yang penulis gunakan adalah teori Estetika buku Kutha Ratna, Nyoman. 2011. Estetika Sastra dan Budaya.

Hasil yang dicapai dalam penelitian menunjukkan struktur rumah panggung Melayu Batu Bara mirip seperti sebuah perahu. Kemudian dari struktur tersebut, penulis memberikan nilai estetika yang terdapat pada rumah panggung tersebut. Kata kunci : Estetika, Rumah Panggung Melayu Batu Bara

ESTETIKA RUMAH PANGGUNG MELAYU BATU BARA

SKRIPSI SARJANA

DISUSUN OLEH : M. ARFAN FAHMI

120702025

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA MELAYU DEPARTEMEN SASTRA DAERAH

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2016

ESTETIKA RUMAH PANGGUNG MELAYU BATU BARA SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi dan melengkapi syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana

OLEH : M. ARFAN FAHMI

NIM. 120702025

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Drs. Jekmen Sinulingga, M.Hum.

NIP. 196206261989031005 NIP. 196606171992031003 Drs. Yos Rizal, MSP.

Ketua Departemen Sastra Daerah

NIP.196207161988031002 Drs. Warisman Sinaga, M.Hum.

PENGESAHAN

Diterima Oleh :

Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Sastra dalam bidang Ilmu Bahasa dan Sastra pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan.

Hari / Tanggal : ………..

Fakultas Ilmu Budaya USU Dekan Dr. Drs. Budi Agustono, M.S. NIP 196008051987031001 Panitia Ujian No Nama Tanda Tangan 1. Drs. Warisman Sinaga, M.Hum. ……….

2. Dra. Herlina, M.Hum. ……….

3. Drs. Jekmen Sinulingga, M.Hum. ……….

4. Drs. Yos Rizal, MSP ……….

Disetujui Oleh :

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU BUDAYA

MEDAN 2016

Departemen Sastra Daerah Ketua

Drs. Warisman Sinaga, M.Hum. NIP 196207161988031002

ABSTRAK

M. Arfan Fahmi, 2016. Judul skripsi : Estetika Rumah Panggung Melayu Batu Bara.

Adapun permasalahan penelitian ini adalah bagaimana struktur rumah panggung Melayu Batu Bara dan nilai estetika yang ada pada rumah panggung Melayu Batu Bara.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur rumah panggung Melayu Batu Bara dan nilai estetika yang ada pada rumah panggung Melayu Batu Bara. Teori yang penulis gunakan adalah teori Estetika yang digagas oleh H.K Ishar.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, bagaimana penulis mengumpulkan data secara fakta yang ada di lapangan. Masalah dalam penelitian ini adalah mengetahui struktur rumah panggung dan mengetahui nilai estetika yang ada pada arsitektur rumah panggung Melayu Batu Bara. Teori yang penulis gunakan adalah teori Estetika buku Kutha Ratna, Nyoman. 2011. Estetika Sastra dan Budaya.

Hasil yang dicapai dalam penelitian menunjukkan struktur rumah panggung Melayu Batu Bara mirip seperti sebuah perahu. Kemudian dari struktur tersebut, penulis memberikan nilai estetika yang terdapat pada rumah panggung tersebut. Kata kunci : Estetika, Rumah Panggung Melayu Batu Bara

UCAPAN TERIMA KASIH

Melalui skripsi ini, dengan penuh penuh kerendahan hati yang tulus dan ikhlas penulis mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Dr. Drs. Budi Agustono, M.S, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. Warisman Sinaga, M.Hum, sebagai Ketua Departemen Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

3. Ibu Dra. Herlina Ginting, M.Hum, selaku sekertaris Departemen Sastra

Dalam dokumen Estetika Rumah Panggung Melayu Batu Bara (Halaman 46-72)

Dokumen terkait