• Tidak ada hasil yang ditemukan

1) Gambaran darah pada kepadatan kandang 16, 20, dan 24 ekor m-2 tidak berpengaruh, sehingga peternak ayam jantan tipe medium dapat

menggunakan kandang panggung dengan kepadatan kandang sampai 24 ekor m-2.

2) Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang pemeliharaan ayam jantan tipe medium di kandang panggung dengan kepadatan kandang yang lebih tinggi dari 24 ekor m-2.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran Darah

Darah merupakan media transportasi yang membawa nutrisi dari saluran

pencernaan ke jaringan tubuh, membawa kembali produk sisa metabolisme sel ke organ eksternal, mengalirkan oksigen ke dalam sel tubuh dan mengeluarkan karbondioksida dari sel tubuh, dan membantu membawa hormon yang dihasilkan kelenjar endokrin ke seluruh bagian tubuh. Selain itu, darah juga membantu regulasi temperatur tubuh, menjaga kestabilan konsentrasi air dan elektrolit di dalam sel tubuh, membantu regulasi konsentrasi ion hidrogen, dan

mempertahankan tubuh dari mikroorganisme (Swenson, 1984) .

Darah tersusun atas cairan plasma, garam-garam, bahan kimia lainnya, sel darah merah, dan sel darah putih (Hartono dkk., 2002). Darah termasuk cairan

intravaskuler yaitu cairan merah yang terdapat dalam pembuluh darah. Bagian darah yang padat meliputi sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah. Darah juga berperan dalam sistem buffer seperti bikarbonat dalam air. Darah yang kekurangan oksigen akan berwarna kebiru-biruan yang disebut sianosis

1. Sel darah merah (SDM)

Menurut Frandson (1993), sel darah merah (eritrosit) memiliki diameter rata-rata 7,5 mikro dengan spesialis untuk pengangkutan oksigen. Sel-sel ini berbentuk cakram (disk) yang bikonkaf dengan pinggiran sirkuler yang tebal 1,5 mikro dan pusat yang tipis. Jumlah sel darah merah dapat dijadikan sebagai parameter untuk mengetahui kesehatan probandus pada suatu saat.

Menurut Tambayong (1995) dalam penelitiannya dengan isotope tracer (alat penelusur isotop) menunjukkan bahwa sel-sel darah merah hanya hidup selama hampir 120 hari. Sel darah merah adalah sel yang fungsinya mengangkut oksigen. Pembentukkan sel darah merah pada hewan maupun manusia dewasa normalnya terjadi dalam sumsum tulang merah, sedangkan pada janin atau fetus dihasilkan dalam hati, limpa, dan nodus limpatikus.

Sel darah merah terdiri dari air 62--72% dan sisanya berupa solid terkandung hemoglobin 95% dan sisanya berupa protein pada stroma dan membran sel, lipid, enzim, vitamin dan glukosa serta urin (Guyton, 1986). Sel darah merah mamalia tidak berinti, tetapi sel darah merah muda memiliki inti. Dalam sel darah merah burung diketemukan inti sepanjang kehidupan sel darah merah tersebut.

Kebanyakan sel darah merah mengalami disentegrasi dan ditarik dari aliran darah oleh sistem retikuloendotelial. Pada proses ini dihasilkan pigmen empedu yang dinamakan bilirubin dan biliverdin. Apabila di dalam aliran darah banyak mengandung kedua bentuk pigmen itu maka membran mukosa mata dan mulut akan berwarna kuning, keadaan ini disebut ikterus (Hartono dkk., 2002).

9 Adanya hemoglobin di dalam eritrosit memungkinkan timbulnya kemampuan untuk mengangkut oksigen, serta menjadi penyebab warna merah pada darah. Berbeda dengan eritrosit mamalia, eritrosit unggas memiliki inti sel. Jumlah sel darah merah unggas berkisar 2,5--3,5 x 106/mm3 (Nesheim dkk., 1979).

Suprijatna dkk. (2005) menyatakan bahwa darah broiler mengandung sekitar 2,5--3,5 x 106/mm3, sedangkan menurut Sturkie (1976), rata-rata sel darah merah dalam kondisi normal pada ayam umur 26 hari adalah 2,7 x 106/ mm3.

Faktor -faktor yang memengaruhi jumlah eritrosit dalam darah bukan hanya konsentrasi hemoglobin tetapi juga umur, latihan, status nutrisi, laktasi,

kehamilan, produksi telur, peningkatan epinephrine, volume darah, pemeliharaan, waktu, temperatur lingkungan, ketinggian, dan faktor iklim (Swenson, 1984).

Menurut Sturkie (1976), apabila perubahan fisiologis terjadi pada tubuh hewan, maka gambaran total sel darah merah juga ikut mengalami perubahan. Menurut Suprijatna dkk. (2005), salah satu fungsi dari sel darah merah adalah mengikat oksigen oleh hemoglobin ke dalam sel tubuh dan mengeluarkan karbondioksida dari sel tubuh, pengikatan oksigen oleh hemoglobin erat kaitannya dengan total sel darah merah dan juga berhubungan dengan organ-organ pernafasan. Semakin banyak total sel darah merah maka frekuensi pernafasan akan semakin baik pula karena oksigen yang diikat oleh hemoglobin untuk diedarkan ke seluruh tubuh semakin banyak.

2. Kadar hemoglobin

Hemoglobin merupakan zat padat dalam darah yang menyebabkan warna merah dan molekul protein pada sel darah merah. Hemoglobin merupakan bagian dari sel darah merah yang mengangkut oksigen. Hemoglobin merupakan petunjuk kecukupan oksigen yang diangkut (Kimball, 1988). Menurut Swenson (1984) kandungan oksigen dalam darah yang rendah menyebabkan peningkatan produksi hemoglobin dan jumlah eritrosit.

Adanya hemoglobin dalam darah memungkinkan timbulnya kemampuan untuk mengangkut oksigen, serta menjadi timbulnya warna merah pada darah (Frandson, 1993). Fungsi dari hemoglobin adalah mengangkut CO2 dari jaringan, mengambil O2 dari paru-paru, memelihara keseimbangan asam-basa, dan merupakan sumber bilirubin. Jumlah hemoglobin di dalam darah dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, keadaan fisik, cuaca, tekanan udara, dan penyakit. Kadar hemoglobin berbanding lurus dengan jumlah sel darah merah. Semakin tinggi sel darah merah maka semakin tinggi pula kadar hemoglobin dalam sel darah merah tersebut (Haryono, 1978).

Menurut Azhar (2009), kadar atau jumlah hemoglobin pada ayam dan unggas (mg/100mL darah atau mg%) pada kisaran yang hampir sama dengan yang dimiliki mamalia, yaitu 11 mg% pada ayam, dan 13,7 mg% pada burung dara. Kadar 6--9 mg% pada ayam masih merupakan kisaran yang normal. Pada ternak sapi dan babi, kadar hemoglobinnya 12 mg/100 ml, untuk kuda kadar

11 3. Nilai hematokrit

Nilai hematokrit merupakan panjangnya endapan sel darah merah yang

dinyatakan dalam persentase volume darah di dalam tabung hematokrit, nilai ini berbanding lurus dengan jumlah sel darah merah. Nilai hematokrit adalah

persentase volume endapan eritrosit setelah sampel darah dipisahkan dalam waktu dan kecepatan tertentu (Azhar, 2009).

Nilai hematokrit merupakan cara yang sering digunakan dalam menentukan jumlah sel darah merah yang terlalu tinggi, terlalu rendah, atau normal. Hematokrit sejatinya merupakan ukuran yang menentukan seberapa banyak jumlah sel darah merah dalam satu militer darah atau dengan kata lain

perbandingan antara sel darah merah dengan komponen darah lain. Faktor-faktor yang memengaruhi nilai hematokrit adalah jenis kelamin, spesies, dan jumlah sel darah merah. Selain itu, aktivitas dan keadaan patologis, serta ketinggian tempat juga memengaruhi nilai hematokrit, karena pada tempat yang tinggi seperti pegunungan kadar oksigen dalam udara berkurang, sehingga untuk menjaga keseimbangan maka sumsum tulang belakang memproduksi sel-sel darah merah dalam jumlah banyak. Nilai hematokrit berbanding lurus dengan jumlah sel darah merah, apabila jumlah sel darah merah meningkat maka nilai hematokrit juga akan mengalami peningkatan. Nilai hematokrit pada ayam bervariasi yaitu pada jantan dewasa 30--35 % dan 33--35 % pada anak ayam (Azhar, 2009). Hasil penelitian Riduan (2011), rata-rata nilai hematokrit ayam jantan medium umur 5 minggu adalah 29,33--33,67 %.

B. Ayam Jantan Tipe Medium

Ayam jantan tipe medium merupakan hasil sampingan (by product) dari usaha penetasan. Pada usaha pembibitan peluang untuk menghasilkan ayam betina dan ayam jantan setiap kali penetasan adalah 50 %. Satu hari setelah penetasan anak ayam petelur betina segera dipasarkan, tetapi anak ayam jantan tidak

dimanfaatkan karena belum mendapat perhatian dari masyarakat. Sementara itu, pemanfaatan anak ayam petelur jantan di negara maju bidang peternakannya adalah dengan memproses anak ayam jantan dijadikan makanan ternak (Darma, 1982).

Ayam betina merupakan ayam yang biasa digunakan sebagai ternak penghasil telur, sedangkan ayam jantan digunakan sebagai ternak penghasil daging

(Riyanti, 1995). Dengan demikian, kemungkinan anak ayam jantan tipe medium digunakan sebagai ternak penghasil daging cukup besar. Pemanfaatan ayam jantan tipe medium sebagai ternak penghasil daging didasarkan oleh beberapa hal, antara lain pertumbuhan dan bobot hidupnya yang lebih tinggi dibandingkan dengan ayam betina petelur, dan harga day old chick (DOC) ayam jantan tipe medium lebih murah dibandingkan dengan DOC ayam pedaging (Wahju, 1992).

Ayam jantan tipe medium mempunyai kadar lemak rendah yang hampir

menyerupai ayam buras, sehingga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang lebih menyukai ayam berlemak rendah (Darma, 1982). Penelitian Daryanti (1982) yang dilakukan pada ayam jantan tipe medium Harco dan Decalb

menyatakan bahwa persentase lemak ayam jantan tipe medium Harco pada umur enam minggu adalah 2,36 %; sedangkan ayam jantan tipe medium Decalb

13 3,39 %. Persentase lemak ini masih rendah daripada persentase lemak broiler, yaitu 6,65 %. Menurut Wahju (1992), ayam jantan mempunyai kandungan lemak lebih rendah dibandingkan dengan betina. Ayam hasil persilangan antara galur

Ross dengan galur Arbor acres menghasilkan ayam jantan dengan kandungan lemak sebesar 2,6 % sedangkan betina 2,8 % (Sizemore dan Siegel, 1993).

Dilihat dari segi pertumbuhan, ayam jantan tipe medium lebih baik daripada ayam tipe ringan. Hal ini ditunjukkan oleh laporan Dwiyanto (1979), bahwa ayam jantan tipe medium Brownick, pertumbuhannya lebih baik daripada ayam jantan tipe ringan Kimber. Selain itu, pada perusahaan penetasan berskala besar, anak ayam jantan tipe medium tidak ada nilai ekonomisnya (Pandelaki, 1979). Oleh karena itu, besar peluang untuk mengembangkan usaha ayam jantan tipe medium sebagai ternak penghasil daging.

C. Kepadatan Kandang

Penggunaan kandang harus disesuaikan dengan kapasitasnya. Populasi yang terlalu padat mengakibatkan ayam menderita cekaman (stres) sehingga menurunkan laju pertumbuhan. Selain itu, efesiensi penggunaan pakan juga rendah. Sebaliknya, populasi yang terlalu rendah mengakibatkan efisiensi penggunaan kandang rendah. Semua itu berdampak pada berkurangnya keuntungan secara ekonomis (Suprijatna dkk., 2005).

Tingkat kepadatan kandang ayam dinyatakan dengan luas lantai yang tersedia bagi setiap ekor ayam atau jumlah ayam yang dipelihara bagi setiap ekor ayam atau jumlahnya yang dipelihara pada satu satuan luas lantai kandang.

Luas lantai untuk setiap ekor ayam antar lain tergantung dari tipe lantai, tipe ayam, jenis kelamin, dan periode produksi (North and Bell, 1990). Kepadatan yang tinggi lebih disukai oleh peternak dibandingkan dengan kepadatan yang rendah, karena pada kepadatan yang tinggi akan diperoleh pendapatan yang lebih besar per satuan luas kandang (Proudfoot dkk., 1979).

Kepadatan kandang yang terlalu tinggi akan memyebabkan suhu dan kelembaban yang tinggi sehingga akan mengganggu fungsi fisiologis tubuh ayam dan

menyebabkan mortalitas meningkat sehingga terjadi kanibalisme pada ternak (Rasyaf, 2005). Selain itu, tingkat kepadatan kandang yang melebihi kebutuhan optimal dapat menurunkan konsumsi ransum dan nilai konversi ransum yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan ternak dan menurunnya bobot akhir (Rasyaf, 2001). Apabila kepadatan kandang rendah maka pemborosan ruang kandang per ekor ayam karena pertumbuhan ayam jantan tipe medium tidak secepat ayam betina dan pertumbuhan akan terhambat jika ayam banyak bergerak yang akan menyebabkan banyak energi yang terbuang (Fadilah, 2005).

Rasyaf (2001) menyarankan untuk dataran rendah kepadatan kandang yang baik adalah 8--9 ekor m-2, sedangkan untuk dataran tinggi 11--12 ekor m-2 pada

broiler. Menurut Creswell dan Hardjosworo (1979), luas lantai kandang untuk kondisi di Indonesia sebesar 10 m-2. Hasil penelitian Marlina (2011)

15 memperlihatkan bahwa kepadatan kandang 22 ekor m-2 ayam jantan tipe medium pada kandang panggung masih dapat digunakan secara fisiologis.

D. Kandang Panggung

Kandang merupakan tempat tinggal ayam dan tempat ayam beraktifitas sehingga kandang yang nyaman (comfort zone) sangat berpengaruh pada pencapaian produktivitas sehingga akan diperoleh pertumbuhan optimal dan menghasilkan performans yang baik. Selain itu, kandang juga berfungsi menyediakan

lingkungan yang nyaman agar tenak terhindar dari stres (Suprijatna dkk., 2005). Menurut Siregar (1993), kandang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal saja, akan tetapi harus dapat memberi perlindungan dari segala aspek yang mengganggu, misalnya gangguan dari hewan-hewan pemangsa atau pencurian.

Menurut Sudaryani dan Santosa (1999), kandang panggung adalah kandang dengan lantai renggang dan ada jarak dengan tanah serta terbuat dari bilah-bilah bambu atau kayu. Suprijatna dkk. (2005) menyatakan bahwa kandang panggung merupakan kandang yang lantainya menggunakan bahan berupa bilah-bilah yang disusun memanjang sehingga lantai kandang bercelah-celah. Menurut Fadilah (2004), kandang panggung merupakan bentuk kandang yang paling banyak dibangun untuk mengatasi temperatur panas.

Kandang panggung mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan kandang pangggung adalah laju pertumbuhan ayam tinggi, efisien dalam penggunaan ransum, dan kotoran mudah dibersihkan (Suprijatna dkk., 2005). Menurut Fadillah (2004), kandang panggung mempunyai ventilasi yang berfungsi lebih

baik karena udara bisa masuk dari bawah dan samping kandang. Oleh karena itu, pergerakan (sirkulasi) udara di dalam kandang menjadi baik sehingga temperatur di dalam kandang relatif lebih rendah dan ayam merasa lebih nyaman.

Kekurangan kandang panggung antara lain tingginya biaya peralatan dan perlengkapan, tenaga dan waktu untuk pengelolaan meningkat, ayam mudah terluka, dan telapak kaki mengeras (bubulen) sehingga ayam kesakitan dan stres (Suprijatna dkk., 2005).

ABSTRACT

BLOOD PICTURE OF MEDIUM TYPE ROOSTER WITH DIFFERENT DENSITY

IN STAGE CAGE By

Andy afrian nugraha

One of animal protein sources that is very essential for public health is chicken meat. Chicken meat can be obtained from medium type rooster besides broiler and home chicken. Medium type roosters has potential as meat producer. It is caused by day old chick (DOC) of medium type rooster that has a relatively cheaper price, body shape and fat content similar to home chicken. The potential of medium type rooster could be achieved optimally if the maintenance

management is done well. One of the essential maintenance managements should be noticed is the density of cage. Unapproprate cage density would affect the comfortable condition of chicken then it affected one of physiological factors, blood picture.

This research aimed to find out blood picture (erythrocytes, hemoglobin, and hematocrit) of medium type rooster in different densities of stage cage

maintenance and to find out the influen of best cage density to blood picture of medium type roosters in stage cage.

This research used complete random planning consisted of three treatments by six time, namely P1: cage density of 16 chickens m-2, P2: cage density of 20 chickens m-2, and P3: cage density of 24 chickens m-2. The resulting data were analyzed by using the assumption of variance at the level of 5%.

The results showed the cage density of 16, 20, and 24 chickens m-2 affected non significant (P> 0,05) to the total amount of erythrocytes (2,43 to 2,76 x 106/ mm3), hemoglobin (12,21 to 14,10 g/dl), and hematocrit (31,10 to 34,35%). Therefore, the picture of medium type roosters was maintained in syage cage with cage density of 16, 20, and 24 m-2 showed good result.

GAMBARAN DARAH AYAM JANTAN TIPE MEDIUM DENGAN KEPADATAN YANG BERBEDA

PADA KANDANG PANGGUNG Oleh

Andy Afrian Nugraha

Salah satu sumber protein hewani yang sangat penting bagi kesehatan masyarakat adalah daging ayam. Daging ayam dapat diperoleh dari ayam jantan tipe medium selain dari broiler dan ayam kampung. Ayam jantan tipe medium memiliki potensi untuk digunakan sebagai penghasil daging. Hal ini karena day old chick

(DOC) ayam jantan tipe medium memiliki harga yang relatif lebih murah, mempunyai bentuk tubuh dan kadar lemak yang menyerupai ayam kampung. Potensi yang dimiliki ayam jantan tipe medium akan tercapai optimal apabila dalam manajemen pemeliharaan dilakukan dengan baik. Salah satu manajemen pemeliharaan yang penting untuk diperhatikan adalah kepadatan kandang. Kepadatan kandang yang tidak sesuai akan menyebabkan ayam berada dalam kondisi tidak nyaman, yang selanjutnya dapat memengaruhi fisiologis salah satunya adalah gambaran darah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran darah (total sel darah merah, kadar hemoglobin, dan nilai hematokrit) ayam jantan tipe medium pada

pemeliharaan dengan kepadatan kandang yang berbeda di kandang panggung dan mengetahui pengaruh kepadatan kandang yang terbaik terhadap gambaran darah ayam jantan tipe medium di kandang panggung.

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri atas tiga perlakuan, dengan ulangan sebanyak enam kali, yaitu P1: kepadatan kandang 16 ekor m-2, P2: kepadatan kandang 20 ekor m-2, dan P3: kepadatan kandang 24 ekor m-2. Data yang dihasilkan dianalisis dengan asumsi sidik ragam pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan kepadatan kandang 16, 20, dan 24 ekor m-2 berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap total sel darah merah (2,43 sampai 2,76 x 106 /mm3), kadar hemoglobin (12,21 sampai 14,10 g/dl), dan nilai hematokrit (31,10 sampai 34,35%) sehingga gambaran darah ayam jantan tipe medium yang dipelihara pada kandang panggung dengan kepadatan kandang16, 20, dan 24 m-2 sama-sama menunjukkan hasil yang baik.

GAMBARAN DARAH AYAM JANTAN TIPE MEDIUM DENGAN KEPADATAN YANG BERBEDA

PADA KANDANG PANGGUNG (Skripsi)

Oleh

ANDY AFRIAN NUGRAHA

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2012

DENGAN KEPADATAN YANG BERBEDA PADA KANDANG PANGGUNG

Oleh

ANDY AFRIAN NUGRAHA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar SARJANA PETERNAKAN

pada

Jurusan Peternakan

Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2012

SANWACANA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas berkat, rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga penulis berhasil menyelesaikan penelitian dan

penyusunan skripsi ini.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada:

1. Ibu Sri Suharyati, S.Pt.M.P., selaku Pembimbing Utama, atas bimbingan, arahan, nasehat, dan kesabarannya;

2. Ibu Ir. Tintin Kurtini, M.S., selaku Pembimbing Anggota, atas petunjuk, dorongan, nasehat, dan sarannya;

3. Bapak drh. Purnama Edy Santosa, M.Si., selaku Penguji, atas saran, nasehat, dan bantuannya;

4. Ibu Ir. Khaira Nova, M.P., selaku Pembimbing Akademik, atas nasehat, motivasi, saran, dan bimbingan yang diberikan;

5. Bapak Ir. Arif Qisthon, M.Si., selaku Sekretaris Jurusan Peternakan, atas izin, koreksi, dan bimbingannya;

6. Bapak Prof. Dr. Ir. Muhtarudin, M.S., selaku Ketua Jurusan Peternakan, atas izin dan bimbingannya;

7. Bapak Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S., selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, atas izin yang telah diberikan;

8. Bapak dan Ibu dosen ku tercinta Jurusan Peternakan atas motivasi, bimbingan, nasehat dan saran yang diberikan selama menimba ilmu;

9. Ibu, Bapak dan adik-adiku (Berlinda dan Cherly), atas cinta, kasih sayang, nasehat, dukungan, dan do'a tulus yang selalu diberikan kepada penulis selama ini;

10.Aryang, yang selalu memberikan perhatian, kesabaran, pengertian, do’a, dan

motivasi bagi penulis;

11.My partner saat penelitian, Adit, Esti, dan Ratih, atas bantuan, kerjasama, kesabaran, dan kebersamaannya;

12.Angkatan 08 yang aku cintai, Dimas, Febri, Ibnu, Zaki, Dwi A, Nidia, Zool, Anam, Cintia, Putri, Triyan, Arif, Satrio, Adi, Komeng, Dwi J, Dedi S, Rudi, Fredi, Bayu, Budi, Deni, Fikri, Cahyo, Fajar, Ari, Neka, Ana, Elda, Nike, Aan, Dedi P, Maulia, Irma, Udin, dan Hiskia, atas canda tawa dan kebersamaannya. 13.Seluruh staf PT. Rama JayaLampung Unit Sidorejoyang telah memberikan

izinnya, bantuan, dan semangat kepada penulis selama melakukan penelitian; 14.Kakak tingkat dan adik tingkat yang tidak bisa disebut satu-persatu atas

bantuan dan kebersamaannya selama ini.

Semoga semua yang diberikan kepada penulis mendapatkan balasan dan rahmat dari Allah SWT dan penulis berharap karya ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak. Amin.

Bandar lampung, Juli 2012 Penulis

Judul Skripsi : GAMBARAN DARAH AYAM JANTAN TIPE

MEDIUM DENGAN KEPADATAN YANG BERBEDA PADA KANDANG PANGGUNG

Nama : Andy Afrian Nugraha

NPM : 0814061003

Jurusan : Peternakan Fakultas : Pertanian

MENYETUJUI 1. Komisi Pembimbing

Sri Suharyati, S.Pt. M.P. Ir. Tintin Kurtini, M.S. NIP 19680728 199402 2 002 NIP 19510922 198002 2 001

2. Ketua Jurusan Peternakan

Prof. Dr. Ir. Muhtarudin, M.S. NIP 19610307 198503 1 006

1. Tim Penguji

Ketua : Sri Suharyati, S.Pt. M.P. ...

Sekretaris : Ir. Tintin Kurtini, M.S. ...

Penguji

Bukan Pembimbing : drh. Purnama Edy Santosa, M.Si. ...

2. Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S. NIP 19610826 198702 1 001

Allhamdulillahirobbil’alamin...

kupanjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia, nikmat, dan rahmat-Nya

Dengan segenap ketulusan dan kerendahan hati kupersembahkan karya kecil ini sebagai

wujud bakti, dan terimakasihku kepada

Ibu dan Bapak atas segala cinta dan kasih sayang yang kuterima sepanjang hayatku serta

doa tulus yang selalu tercurah dalam mengiringi setiap langkahku

semoga Allah SWT kelak menempatkan keduanya

ditempat yang indah di sisi-Nya

Karya sederhana ini untuk adik-adiku Berlinda dan Cherly serta segenap keluarga besarku

yang telah memberikan bantuan, do’a, dan dukungan

selama Aku menuntut ilmu

Aryang, yang selalu memberikan semangat, motivasi, dan do’a dengan

ketulusan hatinya

Para sahabat, yang senantiasa selalu ada dalam setiap perjalanan hidupku

Serta

Almamater hijau

Nasib bukanlah soal kebetulan, tetapi soal pilihan

Nasib bukanlah sesuatu yang perlu ditunggu

Tetapi sesuatu yang perlu dicapai.

(William Jennings Bryan)

Ketakutan akan membuat kita tidak dapat menikmati hidup yang

sebenarnya indah dan kaya akan kesempatan dan pengalaman.

(Andy Afrian Nugraha)

Kenikmatan terbesar dalam hidup adalah

melakukan apa yang menurut orang lain tidak dapat anda lakukan.

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Tambahrejo, Pringsewu pada 12 April 1990, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, putra pasangan Bapak Sumarno dan Ibu Suyati.

Penulis menempuh jenjang pendidikan taman kanak-kanak di TK Aisyiyah Bustanul Athfal Tambahsari pada 1996; sekolah dasar di SDN 3 Tambahrejo, Gadingrejo, Pringsewu pada 2002; sekolah menengah pertama di SMP Karya Bhakti Gadingrejo, Pringsewu pada 2005; sekolah menengah atas di SMAN 1 Gadingrejo, Pringsewu pada 2008. Pada tahun yang sama penulis terdaftar sebagai Mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung melalui jalur Penerimaan Kemampuan Akademik dan Bakat (PKAB).

Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata Tematik di Way Kanan pada 2011 dan Praktik Umum di Jakarsih Farm Natar, Lampung Selatan pada Januari--Februari

Dokumen terkait