TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesehatan kerja
2. Otot Rangka
2.6 Musculuskeletal Disorders
2.6.3 Relaksasi Otot
tengah dan telunjuk. Jika tidak segera ditangani, rasa nyeri ini dapat berakibat pada sakit yang berkepanjangan dan berkurangnya kekuatan otot.
d. Gangguan MSDs pada Jaringan Neurovaskular.
Jaringan neurovaskular berkaitan dengan jaringan saraf dan pembuluh darah. Salah satu bentuk gangguan pada neurovaskular adalah white finger atau reynaud’s syndrome. Sesuai dengan namanya, jari seseorang yang menderita penyakit ini berwarna putih. Selain itu, kondisi ini juga disertai oleh rasa nyeri berlebih dan kehilangan sensivitas tangan untuk meraba. Hal ini diduga karena penurunan aliran darah ke daerah yang seharusnya dituju.
2.6.3 Relaksasi Otot
Relaksasi otot yang dapat dilakukan untuk pengendalian keluhan MSDs adalah sebagai berikut :
a. Duduk dan menyandarkan punggung pada kursi
b. Menggerak-gerakkan tangan atau dengan meluruskan tangan ke depan atau ke bawah
c. Memutar leher secara perlahan dari bawah, ke samping kemudian ke atas atau dengan menggerakkan leher ke atas dan ke bawah secara bergantian d. Menggerakkan pinggang ke kiri dan ke kanan secara bergantian atau
dengan meluruskan pinggang
e. Menggerakkan kaki dengan berjalan atau dengan menekuk kaki ke belakang.
30 2.7 Nordic Body Map
Menurut Hardianto dan Yassierli (2014), salahsatu kuesioner yang sering digunakan di industri adalah kuesioner NORDIC. Kuesioner ini secara lengkap menggambarkan bagian-bagian tubuh yang mungkin dikeluhkan oleh pekerja mulai dari leher hingga pergelangan kaki. Kuesioner ini juga mampu menggambarkan persepsi pekerja, apakah keluhan yang dirasakan berhubungan dengan pekerjaan atau tidak. Pengisiannya sebaiknya dilengkapi dengan pertanyaan umum seperti usia dan jenis kelamin. Penilaian Nordic Body Map
berdasarkan jawaban yang diberikan oleh pekerja berdasarkan tingkat keluhan, diantaranya tidak sakit, agak sakit, sakit, dan sangat sakit (Santoso, 2004). Menurut Tarwaka (2015) di bawah ini adalah contoh desain penilaian dengan skala likert, dimana :
a. Skor 0 : tidak ada keluhan/ kenyerian pada otot-otot atau tidak ada rasa sakit sama sekali yang dirasakan oleh pekerja selama melakukan pekerjaan (tidak sakit ).
b. Skor 1 : dirasakan sedikit adanya keluhan atau kenyerian pada bagian otot, tetapi belum mengganggu pekerjaan (agak sakit).
c. Skor 2 : responden merasakan adanya keluhan/ kenyerian atau sakit pada bagian otot dan sudah mengganggu pekerjaan, tetapi rasa kenyerian segera hilang setelah dilakukan istirahat dari pekerjaan.
d. Skor 3 : responden merasakan keluhan sangat sakit atau nyeri pada bagian otot dan kenyerian tidak segera hilang meskipun telah beristirahat yang lama atau bahkan diperlukan obat pereda nyeri otot (sangat sakit).
31
Tabel 2.1 Klasifikasi Subyektivitas Tingkat Risiko Sistem Musculoskeletal Berdasarkan Total Skor Individu
Total Skor Keluhan Individu Tingkat Risiko Kategori Risiko Tindakan Perbaikan
0 – 20 0 Rendah Belum diperlukan tindakan
perbaikan
21 – 41 1 Sedang Mungkin diperlukan tindakan
dikemudian hari
42 – 62 2 Tinggi Diperlukan tindakan segera
63 – 84 3 Sangat
Tinggi
Diperlukan tindakan menyeluruh sesegera mungkin.
Gambar 2.1 Nordic Body Map Keterangan Gambar :
0. Leher bagian atas 14. Pergelangan Tangan Kiri 1. Leher Bagian Bawah 15. Pergelangan Tangan Kanan
2. Bahu Kiri 16. Tangan Kiri
3. Bahu Kanan 17. Tangan Kanan
4. Lengan Atas Kiri 18. Paha Kiri
5. Punggung 19. Paha Kanan
6. Lengan Atas Kanan 20. Lutut Kiri
7. Pinggang 21. Lutut Kanan
8. Bokong 22. Betis Kiri
9. Pantat 23. Betis Kanan
10. Siku Kiri 24. Pergelangan Kaki Kiri
11. Siku Kanan 25. Pergelangan Kaki Kanan
12. Lengan Bawah Kiri 26. Kaki Kiri 13. Lengan Bawah Kanan 27. Kaki Kanan 2.8.REBA (Rapid Entire Body Assessment)
REBA adalah metode yang dikembangkan oleh Sue Hignett dan Lynn McAtamney yang secara efektif digunakan untuk menilai postur tubuh pekerja, tenaga yang digunakan dari pergerakan pekerja. Selain itu metode REBA memperhitungkan beban yang ditangani dalam suatu sistem kerja, couplingnya
dan aktivitas yang dilakukan. Metode ini relatif mudah digunakan karena untuk mengetahui nilai suatu anggota tubuh tidak diperlukan besar sudut yang spesifik, hanya berupa range sudut. Terdapat enam tahapan proses perhitungan yang dilalui yaitu :
1. Amati pekerjaan yang dilakukan
2. Tentukan bagian tubuh yang akan diberi penilaian 3. Berikan penilaian terhadap postur tubuh
4. Lakukan proses penilaian 5. Tentukan dan buat nilai REBA
6. Konfirmasi dan tegaskan level tindakan Reba yang akan dilakukan.
33
REBA dalam jurnal Handbook of Human Factor and ergonomic Methods
(2005) menyebutkan untuk masing-masing tugas, menilai faktor postur tubuh dengan penilaian pada masing-masing grup yang terdiri dari :
Grup A : Batang tubuh (trunk), leher (neck) dan kaki (leg)
Grup B : Lengan atas (upper arms), lengan bawah (lower arms) dan pergelangan tangan (wrist).
1. Grup A
Gambar 2.2 Pergerakan Punggung Tabel 2.2 Skor Pergerakan Punggung
Pergerakan Skor Skor perubahan
Posisi normal 1 +1jika berputar atau pinggang fleksi 00– 200 Fleksi 00–200Ekstensi 2 200– 600 Fleksi 200– 600 Ekstensi 3 >600 Fleksi 4
Gambar 2.3 Pergerakan Leher
Tabel 2.3 Skor Pergerakan Leher
Pergerakan Skor Skor perubahan
00–200 Fleksi 1 +1 jika berputar atau leher fleksi >20 Fleksi atau
ekstensi
2
Gambar 2.4 Pergerakan Kaki
Tabel 2.4 Skor Pergerakan Kaki
Posisi Skor Skor perubahan
Posisi normal / seimbang (berjalan atau duduk)
1 +1 jika lutut antara 300 dan 600 fleksi
+2 jika lutut >600 fleksi (tidak untuk posisi duduk)
Postur tidak seimbang 2
Beban (Load)
Tabel 2.5 Skor Beban (Load)
Pergerakan Skor Skor Perubahan
< 5 kg 1 + 1 jika kekuatan cepat
5-10 Kg 2
>10 kg 3
2. Grup B
Gambar 2.5 Pergerakan Lengan Atas
35
Tabel 2.6 Skor Pergerakan Lengan Atas
Posisi Skor Skor perubahan
200 Ekstensi hingga 200 Fleksi
1 +1 jika lengan dipaksakan dan berputar +1 jika bahu terangkat
-1 jika berat lengan ditopang untuk menahan gravitasi >200 Ekstensi 200-450 Fleksi 2 450-900 Fleksi 3 >900 Fleksi 4
Gambar 2.6 Pergerakan Lengan Bawah Tabel 2.7 Skor Pergerakan Lengan Bawah
Pergerakan Skor
600-1000 Fleksi 1
<600 Fleksi >1000 Fleksi
2
Gambar 2.7 Pergelangan Tangan Tabel 2.8 Skor Pergelangan Tangan
Pergerakan Skor Skor Perubahan 00-150Fleksi/
Ekstensi
1 +1 jika putaran pergelangan tangan menjauhi sisi tengah
>150Fleksi/ Ekstensi
2
Genggaman (Coupling)
Tabel 2.9 Skor Genggaman (Coupling)
Coupling Skor Keterangan
Baik 0 Kekuatan pegangan baik
Sedang 1 Pegangan bagus tetapi tidak ideal atau kopling cocok dengan bagian tubuh Kurang baik 2 Pegangan tangan tidak sesuai walupun
mungkin
Tidak dapat diterima 3 Kaku, pegangan tidak nyaman, tidak ada pegangan atau kopling tidak sesuai dengan bagian tubuh
3.Grup C Aktivitas Skor
Tabel 2.10 Aktivitas Skor Skor Keterangan
+1 Jika salah satu atau lebih bagian tubuh statis, seperti memegang lebih dari satu menit
+1 Jika tindakan berulang-ulang seperti mengulangi >4 kali per menit (tidak termasuk berjalan) +1 Jika tindakan menyebabkan jarak yang bsar dan
postur berubah (tidak stabil)
Tabel 2.11 Tabel A : Skor Untuk Bagian Tubuh A (Tubuh, Leher, Kaki) Leher 1 2 3 Kaki 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Tubuh 1 1 2 3 4 1 2 3 4 3 3 5 6 2 2 3 4 5 3 4 5 6 4 5 6 7 3 2 4 5 6 4 5 6 7 5 6 7 8 4 3 5 6 7 5 6 7 8 6 7 8 9 5 4 6 7 8 6 7 8 9 7 8 9 9
37
Tabel 2.12 Tabel B : Skor Untuk Bagian Tubuh B (Lengan Atas, Lengan Bawah, dan Pergelangan Tangan)
Lengan Bawah 1 2 Pergelangan Tangan 1 2 3 1 2 3 Lengan Atas 1 1 2 2 1 2 3 2 1 2 3 2 3 4 3 3 4 5 4 5 5 4 4 5 5 5 6 7 5 6 7 8 7 8 8 6 7 8 8 8 9 9
Tabel 2.13 Tabel C : Skor Akhir
SKOR GRUP B 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 S 1 1 1 1 2 3 3 4 5 6 7 7 7 K 2 1 2 2 3 4 4 5 6 6 7 7 8 O 3 2 3 3 3 4 5 6 7 7 8 8 8 R 4 3 4 4 4 5 6 7 8 8 9 9 9 5 4 4 4 5 6 7 8 8 9 9 9 9 G 6 6 6 6 7 8 8 9 9 10 10 10 10 R 7 7 7 7 8 9 9 9 10 10 11 11 11 U 8 8 8 8 9 10 10 10 10 10 11 11 11 P 9 9 9 9 10 10 10 11 11 11 12 12 12 10 10 10 10 11 11 11 11 12 12 12 12 12 A 11 11 11 11 11 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12
Nilai Level Tindakan Reba
Tabel 2.14 Nilai Level Tindakan Reba
Skor Reba Level Risiko Level Tindakan Tindakan
1 Dapat diabaikan 0 Tidak diperlukan
2-3 Kecil 1 Mungkin diperlukan
4-7 Sedang 2 Perlu
8-10 Tinggi 3 Segera
11-15 Sangat tinggi 4 Sekarang juga
Gambar 2.8 REBA Scoring Sheet
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang
Selama manusia hidup pasti melakukan gerakan (aktivitas), termasuk orang sedang bekerja. Dalam melakukan pekerjaan apapun, sebenarnya kita berisiko untuk mendapat gangguan kesehatan atau penyakit yang ditimbulkan oleh pekerjaan tersebut. Sebagian orang menyadari bahwa penyakit yang diderita besar kemungkinan karena pekerjaannya, tetapi banyak yang tidak menyadari bahwa pekerjaan yang ditekuninya sehari-hari sebagai penyebab penyakit tertentu. Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengan pekerjaan maupun tidak berhubungan dengan pekerjaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa status kesehatan masyarakat pekerja dipengaruhi tidak hanya oleh bahaya kesehatan di tempat kerja dan lingkungan kerja, tetapi juga oleh faktor-faktor pelayanan kesehatan, perilaku kerja, serta faktor lainnya (Anies, 2014).
Kesehatan kerja adalah suatu keadaan seorang pekerja yang terbebas dari gangguan fisik dan mental sebagai akibat interaksi pekerjaan dan lingkungan (Wowo Sunaryo, 2014). Kesehatan kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dan lingkungan kerjanya, baik fisik maupun psikis dalam hal cara/metode kerja, proses kerja dan kondisi pekerjaan. Penyakit akibat kerja merupakan manifestasi dari kesehatan kerja atau kondisi kesehatan dari tenaga kerja atau pekerja (Anies, 2014). Menurut Wowo Sunaryo (2014), jenis potensi bahaya (hazard) adalah sebagai berikut : bahaya fisik, bahaya bahan kimia,
bahaya biologi, bahaya ergonomi, dan bahaya psikologi. Ergonomi disebabkan oleh kesalahan-kesalahan kontruksi mesin, sikap badan kurang baik, salah cara melakukan pekerjaan, dan lain-lain yang semuanya menimbulkan kelelahan fisik bahkan lambat laun berpengaruh pada perubahan fisik tubuh pekerja (Anies, 2014). Risiko kerja apabila tidak dikendalikan baik oleh diri sendiri, maupun oleh manajemen tempat kerja dapat menyebabkan berbagai gangguan terhadap tubuh pekerja baik saat terjadi maupun dirasakan dalam waktu jangka panjang (Wowo Sunaryo, 2014).
Gangguan musculoskeletal adalah masalah kesehatan yang paling umum di Uni Eropa yaitu 25-27% pekerja Eropa mengeluh sakit punggung dan 23% nyeri otot (Hartatik, dan Mahawati, 2014). Berdasarkan data statistik Bureau of Labour Statistic Amerika Serikat pada tahun 2008 persentase gangguan muskuloskeletal (MSDs) mencapai 29 persen dari semua cedera dan penyakit (Sulianta, 2014).
Gangguan musculuskeletal (MSDs) adalah cedera pada otot, saraf, tendon, ligamen, sendi, tulang rawan atau cakram tulang belakang. MSDs biasanya hasil dari setiap peristiwa sesaat atau akut (seperti slip, perjalanan, atau jatuh), selain itu mencerminkan perkembangan yang lebih bertahap atau kronis (Wowo Sunaryo, 2014). Sinyal adanya indikasi MSDS adalah sakit, kegelisahan, kesemutan, kematian rasa, rasa terbakar, pembengkakan, kekakuan, kram, kekuatan menggenggam di tangan bergerak, rentang gerak pendek, perubahan keseimbangan tubuh, sesak, dan hilangnya fleksibilitas. Menurut Hardianto dan Yessierli (2014) antisipasi terhadap kemungkinan risiko gangguan pada sistem
3
otot rangka di tempat kerja dapat dilakukan dengan memahami dengan baik faktor-faktor penyebabnya. Faktor-faktor penyebab ini disebut risiko atau risk factor. Menurut Tarwaka (2004) yang mengutip pendapat Peter Vi, beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan otot skeletal seperti : peregangan otot yang berlebihan, aktivitas berulang, sikap kerja tidak alamiah, tekanan, getaran, mikrolimat, kebiasaan merokok, kesegaran jasmani, kekuatan fisik, ukuran tubuh, umur, dan jenis kelamin.
Postur tubuh dalam melakukan pelayanan dengan posisi berdiri, merupakan suatu totalitas perilaku kesiagaan dalam menjaga keseimbangan fisik dan mental (Wowo Sunaryo, 2014). Menurut Gempur (2013) kecenderungan lainnya adalah memerlukan tenaga lebih besar dibandingkan dengan posisi duduk, mengingat kaki sebagai tumpuan tubuh. Bekerja dalam posisi berdiri lebih berdampak pada lumbar lordosis daripada kerja posisi duduk. Bekerja berdiri statis dan lama akan membebani otot tulang belakang. Suatu perlawanan (reaksi) terhadap suatu beban (aksi) mengakibatkan otot mengalami kontraksi yang berlebihan. Kontraksi otot tulang belakang yang kuat dalam waktu lama mengakibatkan keadaan yang dikenal sebagai kelelahan (fatique). Apalagi bila posisi berdiri membungkuk, maka akan lebih membebani otot rangka tulang belakang karena terjadi momen tubuh. Suatu perlawanan terhadap suatu beban momen tubuh mengakibatkan otot mengalami kontraksi yang semakin berlebihan. Kontraksi otot rangka tulang belakang yang kuat dan lama mengakibatkan keadaan yang dikenal sebagai kelelahan, seperti pramuniaga di beberapa mall dan petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang bekerja terus
menerus berdiri selama lebih kurang 8 jam, performa berdiri seperti itu sangat melelahkan. Menurut Tarwaka (2004) yang mengutip pendapat Grandjean, sikap kerja tidak alamiah adalah sikap kerja yang menyebabkan posisi bagian-bagian tubuh bergerak menjauhi posisi alamiah, misalnya pergerakan tanpa terangkat, punggung terlalu membungkuk, kepala terangkat, dan sebagainya. Semakin jauh posisi bagian tubuh dari pusat gravitasi tubuh, maka semakin tinggi pula risiko terjadinya keluhan otot skeletal. Menurut Hardianto dan Yassierli (2014) suatu gangguan pada sistem otot rangka dapat disebabkan oleh satu atau kombinasi beberapa faktor risiko. Semakin banyak faktor risiko yang melekat pada suatu pekerjaan, risiko gangguan MSDs yang mungkin terjadi juga semakin besar.
Salah satu pekerjaan yang berisiko mengalami keluhan muskuloskleletal adalah operator SPBU. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gempur (2013) terhadap operator SPBU tentang tingkat keluhan yang diderita operator SPBU diantaranya keluhan pada bahu kanan, punggung, pinggang, lengan atas kanan dan kiri, betis kanan serta betis kiri.
Stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) adalah tempat dimana pengendara kendaraan bermotor mengisi bahan bakar seperti biosolar, premium, pertamax dan pertalite. SPBU 14.201.103 adalah SPBU yang berada di jalan Setia Budi Medan. SPBU ini adalah SPBU DODO ( Dealer owned dealer operated ) yang memiliki 7 stasiun pengisian bahan bakar minyak yang dibagi menjadi stasiun pengisian bahan bakar motor dan mobil. SPBU 14.201.103 memiliki 14 orang pekerja sebagai operator. Operator terdiri dari pria dan wanita yang memiliki tugas yang sama yaitu mengisi bahan bakar minyak kendaraan motor
5
dan mobil. Operator di SPBU ini berusia antara 17-30 tahun. Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan di SPBU ini didapatkan informasi bahwa SPBU beroperasi selama 24 jam dibagi menjadi 3 shift kerja yaitu shift pagi, shift siang dan shift malam. Shift pagi bekerja mulai pukul 06.00-15.00 wib, shift siang pukul 15.00-22.30 wib, dan shift malam pada pukul 22.30-06.00 wib. Lama operator bekerja dalam sehari antara 7 sampai 9 jam. Operator diberi waktu istirahat selama 30 menit untuk satu shift kerja.
Operator yang bekerja di stasiun pengisian bahan bakar minyak motor dan mobil memiliki cara kerja yang sama yaitu operator dalam melayani pembeli dengan sikap berdiri untuk jangka waktu yang lama.Operator memanfaatkan untuk duduk jika tidak ada kendaraan yang mengisi bahan bakar. Operator akan membuka tutup tangki kendaraan dengan kepala menunduk, terkadang dilakukan dengan membungkuk. Operator akan menekan layar pompa untuk nominal yang dipesan oleh konsumen dengan kepala menengadah dan lengan tangan terangkat. Kemudian operator akan mengangkat nozzle (selang pompa) dengan lengan tangan terangkat, bahu terangkat dan diletakkan di tangki kendaraan dengan kepala menunduk. Setelah itu operator akan menekan tuas sehingga bahan bakar keluar dan akan otomatis berhenti setelah mengeluarkan bahan bakar sesuai nominal yang ditekan pada layar pompa. Pada saat menekan nozzle diperlukan kekuatan menahan dan menekan secara intermitten atau secara tidak terus-menerus dengan lengan tangan dan bahu terangkat. Selanjutnya operator akan mengangkat dan meletakkan nozzle kembali pada dudukan nozzle dengan lengan terangkat. Pengisian bbm memerlukan waktu ± 1 menit untuk setiap pengisian
Cara kerja tersebut dilakukan secara terus-menerus selama jam kerja. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dapat dilihat bahwa operator bekerja dengan sikap kerja berdiri statis dan melakukan sikap kerja yang tidak alamiah, yaitu leher menengadah ke atas dan menoleh ke bawah, terkadang membungkuk, bahu terangkat dan tangan terangkat. Pekerjaan seperti ini dilakukan oleh operator secara berulang-ulang selama jam kerja. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan operator, didapatkan informasi bahwa banyak keluhan yang dirasakan operator seperti keluhan rasa sakit di daerah leher, bahu, lengan, pinggang, tangan kanan, betis, dan kaki.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai gambaran sikap kerja dan keluhan musculuskeletal disorders pada operator SPBU 14.201.103 Setia Budi Medan tahun 2016.