BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Saran
Diharapkan kepada peneliti selanjutnya dapat memanfaatkan talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh dengan menguji aktivitas antijamur dan memformulasinya untuk penggunaan topikal.
DAFTAR PUSTAKA
Anggadiredja, T. Dkk. (2006). Rumput Laut. Jakarta : Penerbit Penebar Swadaya. Aslan, L. (1998). Budidaya Rumput Laut. Edisi Revisi. Yogyakarta: Penerbit
Kanisius.
Atmaja, W.S. (1996). Kondisi Pertumbuhan Sargassum (alga coklat) di Perairan
Pulau Pari. Pulau-pulau Seribu. Prosid. Seminar Biologi XIV dan
Kongres Nasional Biologi XI.I:113-120
Beisher, L. (1991). Microbiology in Practice. A self Instructional Laboratory
Course. New York: Ed Harper Collins Publisher.
Depkes RI. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Depkes RI. Hal. 112. Depkes RI. (1989). Materia Medika Indonesia. Jilid V. Jakarta : Departemen
Kesehatan RI. Halaman 194-197, 516, 518, 522, 536, 540, 549-553.
Difco Laboratories. (1977). Difco Manual of Dehydrated Culture Media and
Reagents for Microbiology and Clinical Laboratory Procedures. Ninth
edition. Detroit Michigan: Difco Laboratories. Pages 32, 64.
Ditjen POM. (1995). Farmakope Indonesia. Jilid IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
Ditjen POM. (1995). Materia Medika Indonesia. Jilid VI. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 173-176
Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Cetakan Pertama. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Fardiaz, S. (1992). Mikrobiologi Pangan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Farnsworth, N.R. (1996). Biologycal and Phytochemical Screening of Plants.
Journal of Pharmaceutical Science. 55(3). Pages 257-259, 263.
Frazier, W.C. dan Westhoff, D.C. (1988). Food Microbiology. New York: McGraw-Hill Book Company.
Harborne, J.B. (1987). Metode Fitokimia. Penerjemah: Kosasih Padmawinata dan Iwang Soediro. Bandung: Penerbit ITB. Hal 147.
Irianto, K. (2006). Mikrobiologi Menguak Dunia Mikroorganisme. Jilid Satu. Bandung: Penerbit Yrama Widya. Hal. 16-18, 21-22.
Izzati, M. (2007). Skreening Potensi Antibakteri pada Beberapa Spesies Rumput Laut terhadap Bakteri Patogen pada Udang Windu. BIOMA. 9(2). Hal 62-67.
Jawetz, E. et al. (1986). Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan. Edisi XVI. Diterjemahkan oleh dr. Bonang,G. Jakarta: EGC Press. Halaman 336-384 Jawetz, E. et al. (1995). Review of Medical Microbiology. Los Altos, California:
Lange Medical Publication. Pages 227-230.
Lay, B.W. (1996). Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hal. 57-58, 109.
Rasyid, A. (2010). Ekstraksi Natrium Alginat dari Alga Coklat Sargassum
echinocarphum. Pusat Penelitian Oseanografi. LIPI.
Robinson, T. (1995). Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Edisi keenam. Bandung: Penerbit ITB. Hal. 191
Rochani, N. (2009). Uji Aktivitas Antijamur Ekstrak Daun Binahong (Andredera
cordifolia (Tenore) Steen) Terhadap Candida albicans Serta Skrining Fitokimianya. Surakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta
Sonnenwirth, A. C. (1980). Growohl’s Clinical Laboratory Methods and
Diagnostic. Vol 2. London : The CV Mosby Company. P.1578
Stanier, RY. Adelberg, EA dan Ingraham, JL. (1982). Dunia Mikrobe I. Penerjemah: Agustin Wydia, dkk. Jakarta: Penerbit Bhratara Karya Aksara. Hal. 23-25.
Trono, G.C., dan Ganzon-Fortes, E.T. (1988). Philippine Seaweeds. National Book Store, Inc. Manila. Pages 174-175.
Waluyo, L. (2005). Mikrobiologi Umum. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press.
Wattimena, G. A. (1991). Bioteknologi Tanaman, Pusat Antar Universitas. Bogor: Penerbit ITB.
World Health Organization. (1992). Quality Control Methods for Medicinal Plant
Lampiran 2. Bagan karakteristik dan pembuatan simplisia
Dicuci, ditiriskan dan sortasi basah Ditimbang beratnya
Dilakukan uji makroskopik
Dikeringkan dalam lemari pengering
Ditimbang beratnya Dilakukan uji makroskopik
Dihaluskan hingga menjadi serbuk, diayak
Ditimbang beratnya
Dilakukan uji mikroskopik dan penetapan kadar (air, sari larut air, sari larut etanol, abu total, abu tidak larut dalam asam) Sampel segar Simplisia Serbuk simplisia Karakteristik simplisia
Lampiran 3. Bagan pembuatan ekstrak etanol secara maserasi
dimasukkan ke dalam wadah
ditambahkan etanol 96% sampai serbuk terendam sempurna
dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya, sambil sesekali diaduk
disaring
dimaserasi kembali dengan pelarut etanol 96%
disaring
diuapkan dengan penguap rotary evaporator pada 40ºC Serbuk simplisia
Ampas Maserat
Ampas Maserat
Lampiran 4. Bagan pembuatan ekstrak etanol secara soxhletasi
dibungkus dengan kertas saring alat soxhletasi dirangkai
dimasukkan dalam tabung soxhletasi dialiri etanol 96% dari atas tabung disari sampai pelarut etanol jernih
diuapkan dengan penguap rotary evaporator pada 40ºC Serbuk simplisia
Ampas ekstrak
Lampiran 5. Gambar talus rumput laut (Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh)
Gambar 1. Makroskopik tumbuhan segar rumput laut (Sargassum ilicifolium
(Turner) C. Agardh)
Keterangan: 1. “Batang”
2. Blade (menyerupai daun)
3. Holdfast
Foto oleh: Sdr. Putri Yani
3 2
Lampiran 5. (lanjutan)
Gambar 2. Makroskopik simplisia rumput laut (Sargassum ilicifolium (Turner)
Lampiran 5. (lanjutan)
Gambar 3. Serbuk simplisia rumput laut (Sargassum ilicifolium (Turner) C.
Lampiran 5. (lanjutan) 1 2 3 4 5
Gambar 4. Mikroskopik serbuk simplisia rumput laut (Sargassum ilicifolium
(Turner) C. Agardh) pada pembesaran 10 x 40
Keterangan: 1. Sel parenkim
2. Sel parenkim berisi pigmen coklat 3. Sel propagule bersel satu
4. Sel propagule bersel dua 5. Sel propagule bersel tiga
Lampiran 6. Perhitungan penetapan karakteristik simplisia
Perhitungan Penetapan Kadar Air Simplisia Sampel I : Berat sampel = 5,012 g
Volume air = 2,3 - 1,9 ml = 0,4 ml % kadar air = volume air
berat sampel x 100%
= x 10 x 100%
= 7,98%
Sampel II : Berat sampel = 5,021 g
Volume air = 2,7 - 2,3 ml = 0,4 ml % kadar air = volume air
berat sampel x 100%
= x 100%
= 7,97%
Sampel III : Berat sampel = 5,036 g
Volume air = 3,1 – 2,7 ml = 0,4 ml % kadar air = volume air
berat sampel x 100%
= x x 100%
= 7,94%
% kadar air rata-rata = %kadar air I + %kadar air II + %kadar air III
3 = = 7,96% 0,4 5,012 g 0,4 5,021 g 0,4 5,036 g 7,98% + 7,97% + 7,94% 3
Lampiran 6. (lanjutan)
Perhitungan Penetapan Kadar Sari Larut dalam Air Sampel I : Berat sampel = 5,018 g
Berat Sari = 0,057g % kadar sari = berat sari
berat sampel x 100 20 x 100% = x 100 20 x 100% = 5,68%
Sampel II : Berat sampel = 5,010 g Berat sari = 0,055 g % kadar sari = berat sari
berat sampel x 100 20 x 100% = x 100 20 x 100% = 5,49%
Sampel III : Berat sampel = 5,012 g Berat sari = 0,054 g
% kadar sari = berat sari berat sampel x 100 20 x 100% = x 100 20 x 100% = 5,39%
% kadar sari rata-rata = %kadar sari I + %kadar sari II + %kadar sari III
3 = = 5,52% 0,057 g 5,018 g 0,055 g 5,010 g 0,054 g 5,012 g 5,68% + 5,49% + 5,39% 3
Lampiran 6. (lanjutan)
Perhitungan Penetapan Kadar Sari Larut dalam Etanol Sampel I : Berat sampel = 5,018 g
Berat Sari = 0,046 g % kadar sari = berat sari
berat sampel x 100 20 x 100% = x x100 20 x 100% = 4,58%
Sampel II : Berat sampel = 5,040 g Berat sari = 0,053 g % kadar sari = berat sari
berat sampel x 100 20 x 100% = x x100 20 x 100% = 5,26%
Sampel III : Berat sampel = 5,019 g Berat sari = 0,045 g % kadar sari = berat sari
berat sampel x 100 20 x 100% = x x100 20 x 100% = 4,48%
% kadar sari rata-rata = %kadar sari I + %kadar sari II + %kadar sari III
3 = = 4,77% 0,046 g 5,012 g 0,053 g 5,040 g 0,045 g 5,019 g 4,58% +5,26% + 4,48% 3
Lampiran 6. (lanjutan)
Perhitungan Penetapan Kadar Abu Total
Sampel I : Berat abu = 0,1737 g Berat sampel = 2,0003 g
= 0,1737 g x 100% 2,0003 g
= 8,68%
Sampel II : Berat abu = 0,1685 g Berat sampel = 2,0003 g
= 0,1685 g x 100% 2,0003 g
= 8,42%
Sampel III : Berat abu = 0,1735 g Berat sampel = 2,0003 g
= 0,1735 g x 100% 2,0003 g
= 8,67%
Kadar abu total rata-rata = kadar abu total (sampel I + sampel II + sampel III) % 3
= ( 8,68 + 8,42 + 8,67 ) % 3
= 8,59%
Kadar abu total = berat abu (g) x 100 % berat sampel (g)
Kadar abu total = berat abu (g) x 100 % berat sampel (g)
Kadar abu total = berat abu (g) x 100 % berat sampel (g)
Lampiran 6. (lanjutan)
Perhitungan Penetapan Kadar Abu Yang Tidak Larut Dalam Asam Sampel I : Berat abu = 0,0068 g
Berat sampel = 2,0003 g
= 0,0068 g x 100% 2,0003 g
= 0,34% Sampel II : Berat abu = 0,0076 g
Berat sampel = 2,0003 g
= 0,0076 g x 100% 2,0003 g
= 0,38% Sampel III : Berat abu = 0,0065 g
Berat sampel = 2,0003 g
= 0,0065 g x 100% 2,0003 g
= 0,32%
Kadar abu yang tidak larut = kadar abu (sampel I + sampel II + sampel III) %
dalam asam rata-rata 3
= ( 0,34 + 0,38 + 0,32 ) % 3
= 0,35%
Kadar abu yang tidak larut dalam asam = berat abu (g) x 100 % berat sampel (g)
Kadar abu yang tidak larut dalam asam = berat abu (g) x 100 % berat sampel (g)
Kadar abu yang tidak larut dalam asam = berat abu (g) x 100 % berat sampel (g)
Lampiran 8. Bagan uji aktivitas antijamur ekstrak etanol talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh.
Diambil 1 ose
Disuspensikan ke dalam 10 ml NaCl 0,9 % Diukur kekeruhan pada panjang gelombang 580 nm sampai diperoleh transmitan 25%
Dimasukkan 0,1 ml inokulum ke dalam cawan petri
Ditambahkan 20 ml media potato dextrose
agar ke dalam cawan petri
Dihomogenkan dan dibiarkan hingga memadat
Ditanamkan silinder logam
Dimasukkan 0,1 ml ekstrak dengan berbagai konsentrasi
Diinkubasi pada suhu 20-25oC selama 48 jam
Diukur diameter daerah hambatan di sekitar silinder logam
Stok kultur
Inokulum jamur
Media padat
Lampiran 9. Hasil pengukuran diameter daerah hambatan pertumbuhan jamur Candida albicans oleh ekstrak etanol talus rumput laut
Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh yang diperoleh
dari metode maserasi dan soxhletasi
Konsentrasi
(mg/ml)
Diameter daerah hambatan (mm)
Maserasi Soxhletasi D1 D2 D3 D* D1 D2 D3 D* 300 35,3 32,9 34,7 34,3 10,1 9,9 10 10 200 34,6 30,6 34,1 33,1 9,7 8,8 9,4 9,3 100 32,3 29,1 29,2 30,2 - - - - 90 31,3 29,1 28,1 29,7 - - - - 80 25,4 28 24,6 26 - - - - 70 25,2 26,3 24,7 25,4 - - - - 60 22,5 20,7 19,2 20,8 - - - - 50 19,9 19,7 18,9 19,5 - - - - 40 14,2 14,3 11,1 13,2 - - - - 30 11,5 11,1 11,3 11,3 - - - - 20 8,5 7,6 8,2 8,1 - - - - 10 6,7 6,3 6,2 6,4 - - - - Blanko - - - - - - - -
Keterangan: (D*) = Diameter hambatan rata-rata,
(-) = tidak terdapat daerah hambatan, (Blanko) = etanol 96%
Lampiran 10. Gambar hasil uji aktivitas antijamur ekstrak etanol talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh yang diperoleh dari metode maserasi.
Konsentrasi 300 mg/ml
Konsentrasi 200 mg/ml 300
Lampiran 10. (lanjutan)
Konsentrasi 100 mg/ml
Konsentrasi 90 mg/ml 100
Lampiran 10. (lanjutan) Konsentrasi 80 dan 70 mg/ml Konsentrasi 60 mg/ml 70 60 80
Lampiran 10. (lanjutan) Konsenttrasi 50 mg/ml Konsentrasi 40 dan 30 mg/ml 50 40 30
Lampiran 10. (lanjutan)
Konsentrasi 20 dan 10 mg/ml 20
Lampiran 11. Gambar hasil uji aktivitas antijamur ekstrak etanol talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh yang diperoleh dari metode soxhletasi.
Konsentrasi 300, 200 dan 100 mg/ml Konsentrasi 90, 80 dan 70 mg/ml 300 200 100 90 80 70
Lampiran 11. (lanjutan) Konsentrasi 60 dan 50 mg/ml Konsentrasi 40 dan 30 mg/ml 40 30 60 50
Lampiran 11. (lanjutan)
Konsentrasi 20 dan 10 mg/ml 20