BAB IV PENUTUP
B. Saran
Berdasarkan temuan, pembahasan dan kesimpulan penelitian maka diajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Dalam memberikan materi kepada murid, hendaknya guru tidak terlalu memaksakan dan menuntut anak untuk bisa hafal cepat. Hal yang terpenting anak mendengarkan bacaannya, meskipun anak terlihat tidak fokus tapi sebenarnya mereka menyerap apa yang ada di sekitar lingkungannya.
58
2. Sebaiknya guru memahami kecenderungan individu dalam hal pola belajarnya sehingga anak didiknya merasa nyaman ketika belajar.
3. Agar kegiatan peningkatan kualitas terhadap guru melalui pelatihan- pelatihan tertentu dapat diintensifkan sehingga para guru dalam memberikan materi kepada murid tidak jenuh dan merasa senang serta nyaman ketika belajar.
4. Hendaknya para orang tuapun ikut aktif dalam menjaga hafalan dengan memberikan laporan perkembangan anak seperti CAS (catatan anak shaleh), dan memberikan lingkungan yang baik untuk anak.
61
DAFTAR PUSTAKA
Ancok, Djamaluddin dan Fuat Nashorin Suroso. Psikologi Islam, Solusi Islam atas Problem-Problem Psikologi.Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004.
Armanda, Frista W. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Lintas Media : Jombang. Bugin, Burhan. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT Rajagrafindo
Persada, 2006.
Cangara, Hafidz. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 2008.
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1988.
Edarmoko, Eko. Tesaurus Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama Rosdakarya,2004.
Efendy Onong U. Dimensi-Dimensi Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosada Karya, 1981.
Ghony, Djuanaidi. Dasar-Dasar Penelitian Kualitatif, Prosedur Tehnik dan Teori Graunded. Surabaya : PT. Bina Ilmu, cet ke 2, 2007.
Habiburrahmanuddin, Nurul, Nurul Hikmah, Home Learning Sebuah Pembelajaran Dalam Setiap Aktivitas Anak, Tangerang : At-Tafkir Press, 2008.
___________________, Asyik dan Seru Menghafal AlQur’an dengan Gerak dan Lagu:mulaiusia 0 tahun, Tangerang : At-Tafkir Press, 2008.
Hidayat, Riswanto. Komunikasi Verbal. www. Bahasabicara.com. diakses tanggal 4 April 2011
Hudjana Agus M, Komunikasi. Intrapersonal dan Komunikasi Interpersonal, Yogyakarta: Kanisius, 2003.
Muhammad, Arni. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara, 2004.
Mulyana, Deddy. Prinsip-prinsip dasar Pengantar Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2001.
61
Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteriktis, dan Implementasi Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001
Nata Abuddin, Hand Out : Konsep Islam Tentang Pendidikan Anak Usia Dini
Motivasi Menghafal Alqur’an Sejak Dini. Jakarta: 2009
Poerwarminta, W.J.S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : PN Balai Pustaka, 1985.
Rahmat Jalaluddin, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009,. Riswanto Hidayat, komunikasi verbal, www. Wordpress,com diakses tanggal 4 April
20011.
Roudhonah, Ilmu Komunkasi, Jakarta : UIN Jakarta Press dan Lembaga Penelitan UIN, 2007.
Setiawan Denny, Peran Orang Tua Dan Sekolah Dalam Mendidik Anak, www.sd-binatalenta.com/images/pendidikan_keluarga_anak.pdf, diambil pada tanggal 20 Januari 2011.
SIK, Vicky. Urgensi Menghafal Alqur’an, www. Fiqih Islam.com diakses pada 25 maret 2011.
Syafik, Muhammad. Back to al-qur’an : Mozard ternyata tidak membuat Cerdas. http//:insanpermata.com/ diakses pada tanggal 29 desember 2010.
Tn. Pengertian Implementasi, Artikel diakses pada 17 April 2011. http//indoskripsi.com.
Vardiansyah Dani, Pengantar Ilmu Komunikasi, Ghalia Indonesia,Jakarta: 2004. Wardi Husni Tanggung, Bermain Melalui Gerak dan Lagu di Taman Kanak-Kanak
(Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Pembinaan Penndidikan Tenaga Pendidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi, 2005).
LEMBAR WAWANCARA
Nama : Nurul Hikmah, MA
Jabatan : Kepala Sekolah PAUD Bait Qur’any
1. Apa Visi dan Misi Ibu Mendirikan PAUD Bait Qur’any? 2. Bagaimana Sejarah Berdirinya PAUD Bait Qur’any?
3. Apakah dalam proses mengajar menggunakan komunikasi verbal dan non verbal? 4. Dalam bentuk seperti apa komunikasi verbal dilakukan dan komunikasi non
verbal dilakukan?
5. Ibu, mohon dijelaskan bagaimana pembelajaran dengan bercerita, Tanya jawab, hafalan dengan kinestetik, tajwid dan jaritmatika Qur’an dan kenapa menggunakan bentuk seperti itu?
6. Bagaimana cara mengajarkan dan membimbing anak-anak menghafal juz amma dan pola belajar yang digunakan disini?
7. Model komunikasi Di PAUD Bait Qur’any ini seperti apa?
8. Hambatan apa saja yang dihadapi dalam menerapkan komunikasi verbal dan non verbal pada proses menghafal Juz Amma?
Responden Pewawancara
Nurul Hikmah Wini Mulyano
LEMBAR WAWANCARA
Nama : Nurul Hikmah, MA
Jabatan : Kepala Sekolah PAUD Bait Qur’any
1. Apa Visi dan Misi Ibu Mendirikan PAUD Bait Qur’any? Jawab:
a.Visi
Mencetak generasi Islam yang memiliki kepribadian Islam ,tsaqofah Islam dan menguasai sains dan tehnologi.
b.Misi
1) Meningkatkan kualitas pengasuhan orang tua 2) Melahirkan hafidz al-Qur’an diusia dini 3) Tsaqofah Islam
4) Membentuk generasi Islam yang dapat Menterjemahkan Al-Qur’an kata perkata sejak dini
5) Membentuk generasi Islam yang Menguasai bahasa Arab Al-Qur’an tingkat dasar (dhomair dan tashrif lughawih dan istilahi) sebagai modal mentafsirkan al-Qur’an secara tahlili dan maudhui di MI – At-tafkir dan istinbat hukum dasar di MI- at-tafkir
7) Membentuk generasi Islam yang menguasai fiqh anak:Sholat, aurat, muhrim, tata pergaulan pada orang tua, teman sebaya dan saudara, dan fiqh dakwa. 8) Membentuk generasi Islam yang dapat membedakan baik ( baik menurut
Allah) dan buruk (buruk menurut Allah)
9) Membentuk generasi Islam yang menguasai Sains dalam bingkai tauhid 10) Menngembangkan setiap aspek perkembangan pada diri anak; motorik,
emosi, sosial, kognitif dan keberagamaan 2. Bagaimana Sejarah Berdirinya PAUD Bait Qur’any?
Jawab:
Pada tahun2005 terbentuk kelompok kecil yang berada di bawah naungan Majlis Taklim Al-Muhajirin yang mencoba mewadahi ibu-ibu muda dengan materi pengenalan dan pemahaman Al-Qur’an dan penanaman aqidah. Setelah berjalan satu tahun pengajianhanya diikuti oleh 6 orang, kemudian ada keinginan dari beberapa pengurus Majlis Taklim untuk mengembangkan pengajian ibu-ibu muda tersebut dengan menggunakan manajemen pemberdayaan manusia secara serius.
Pada akhir tahun 2006atas dukungan Majlis Taklim, terbentuklah kelompok pembinaan ibu dan anakdengan model Bait Qurany Pendidikan Berbasis Aqidah Islam Pra Tamyiz Aula Duljannah. Mengingat perkembangan Bait Qurany di Aula Duljannah mengalami beberapa hambatan, kemudian dewan pendiri memisahkan diri dengan Majlis Taklim Al-Muhajirin pada tahun 2006 dan mendirikan lembaga PusatPelatihan Orang Tua dan Anak (PPRA).
Melalui beberapa training Bait Qurany yang diberikan kepada kelompok ibu Majlis Taklim dan mahasiswi UIN Jakarta, kemudian berdirilah secara resmi At-Tafkir dan beberapa cabangnya. Setelah itu, terbentuklah ide untuk mendirikan lembaga pendidikan PAUD yang berbasis Islam tujuannya mengenalkan ajaran-ajaran Islam pada anak Usia dini. Pada tahun 2008 terbentuklah PAUD Bait Qur’any yang bertempat di Jl. Ibnu Khaldun II no.2 Komplek Dosen UIN Syarit Hidayatullah. Seiring berjalannya Waktu Bait Qur’any membuka Cabang, diantaranya:
a. PAUD El-Fikr, Ciracas b. BQ Saleh Rahmany, Aceh
c. PAUD Sabiqul Khoirot, Cinanggka
3. Apakah dalam proses mengajar menggunakan komunikasi verbal dan non verbal? Jawab:
Iya, tentu saja menggunakan dua jenis komunikasi, sebab rasanya sulit untuk dipisahkan antara komunikasi verbal dan non verbal, keduanya saling melengkapi. Komunikasi non verbal secara reflek bisa digunakan untuk melengkapi komunikasi verbal. Adapun di Bait Qur’any sendiri memang ada aturan bakunya untuk menggunakan komunikasi non verbal seperti dalam tarjamah alQur’an perkata, semua guru harus menggunakan gerak yang sama untuk memudahkan anak-anak menyerap materi yang disampaikan.
4. Dalam bentuk seperti apa komunikasi verbal dilakukan dan komunikasi non verbal dilakukan?
Jawab:
Untuk komunikasi verbal bisa dalam bentuk bercerita, Tanya Jawab, Taqrir dan hafalan juz amma perkata.
Adapun komunikasi non verbal bisa disampaikan dalam bentuk hafalan juz amma perkata dengan kinestetik, Tajwid dan jaritmatika Qur’an.
5. Ibu, mohon dijelaskan bagaimana pembelajaran dengan bercerita, Tanya jawab, hafalan dengan kinestetik, tajwid dan jaritmatika Qur’an dan kenapa menggunakan bentuk seperti itu?
Jawab:
Saya mulai dari pembelajaran dengan bercerita, pada umumnya anak-anak senang sekali mendengarkan cerita, mereka akan sangat fokus dan antusias mendengarkan cerita dengan seksama sekaligus mereka juga merasa nyaman dan biasanya dari cerita ini anak-anak bisa meniru, mengidolakan sosok yang mereka senangi atau bahkan mereka membenci sosok yang dalam cerita itu jahat.
Kami biasanya mengambil cerita itu dari kisah-kisah dalam alQur’an atau cerita-cerita islami tentang kisah hidup para Nabi dan Rasul, perjalanan para sahabat dan lain-lain. Supaya anak-anak mengetahui sosok yang harus mereka idolakan sesuai dengan Islam.
Sebenarnya metode hafalan dengan cara Tanya jawab itu, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan anak, kemudian juga keberanian anak-anak dan guru, suasana kelas juga bisa terlihat ramai dan semangat.
Takrir atau mengulang-ngulang, ya… hafalan kan tidak hanya sekali baca anak-anak langsung hafal satu ayat, sehingga guru memang harus berulang kali bisa 5 atau sepuluh kali membacakan ayat yang hendak dihafal, anak anak mampu menghafal ayat yang sedang dihafal. Adapun caranya bisa satu ayat langsung bisa juga dipeggal perkata atau satu ayat bisa dibagi dua atau tiga bagian.
Kemudian belajar dan menghafal Juz amma dengan kinestetik, ini merupakan metode dimana dari kata dalam satu surat ini ada gerakannya sendiri sekaligus untuk menguatkan perkataan secara verbalnya. Nanti bisa dilihat dari bukunya langsung, yang pasti dari metode ini anak bisa menambah perbendaharaan kata bahasa arab alQur’an.
Untuk Tajwidnya Untuk hukum bacaan yang memiliki panjang dua harakat atau satu alif dua ketukan seperti mad thobi’I, mad iwad dan lain-lain maka guru menggerakan telunjuk kanan bawah ke atas, sebagai tanda bahwa kata yang dibacanya adalah panjang dua harakat.Untuk bacaan yang hukumnya gunnah, guru membuka tangan sebelah kanan kemudian mengepalkannya seperti sedang menangkap sesuatu.Untuk bacaan yang berharakat 5-6 maka guru mengayun-ayunkan telapak tangan hingga 5-6 kali, seperti perahu yang di laut yang berayun-ayun dengan gelombang air.
Satu lagi, jaritmatika Qur’an itu adalah menghafal alQur’an sambil menghitung ayat alQur’an dengan menggunakan buku-buku jari. Setiap jari memiliki tiga buku jari kecuali ibu jari yang hanya memiliki dua buku.
Ujung ke empat jari yang berkelipatan tiga (3,6,9,12) diberinama pos. sedangkan ujung ibu jari adalah terminal, dimana terminal ini meruakan tempat pemberhentian, jumlah seluruh buku-buku jari adalah 14. Sehingga setelah melewati ujung ibu jari maka perhitungan akan mulai kembali dari awal yaitu dari kelingking buku jari bagian bawah.
6. Bagaimana cara mengajarkan dan membimbing anak-anak menghafal juz amma dan pola belajar yang digunkan disini?
Jawab :
Pola belajarnya menggunakan, kinestetik seperti yang saya jelaskan di atas, visual. Kalau visual lebih dominan pada penglihatan, seperti belajar menonton video atau flash. dan audio, yaitu pendengaran dengan cara membiasakan anak untuk mendengarkan ayat-ayat alQur’an secara berkali-kali.
7. Model komunikasi Di PAUD Bait Qur’any ini seperti apa? Jawab:
Modelnya, ada stimulus respon kemudian disini juga menekankan pada pelaku individu yang memiliki pengalaman yang sama, lalu bisa bergantian posisi komunikan dengan komunikator karena komunikasi yang dilakukan adalah komunikasi dua arah.
8. Hambatan apa saja yang dihadapi dalam menerapkan komunikasi verbal dan non verbal pada proses menghafal Juz Amma?
Jawab :
pertama para hafidz belum mengetahui atau bahkan tidak mengetahui metode ini sebab metode menghafal Juz Amma dengan kinestetik merupakan metode baru yang dicetuskan oleh Bait Qur’any sendiri sehingga para orang tua/ wali murid harus ikut belajar agar pembelajaran di rumah dan disekolah sama.
Kedua, Alumni PGTK atau tenaga pengajar tidak menguasai hafalan Qur’an dengan metode kinestetik sehingga pengelola harus mempersiapkan para guru yang mampu dan mau menghafal dengan kinestetik.
Responden Pewawancara
Nurul Hikmah Wini Mulyani
LEMBAR WAWANCARA
Nama : Sari Yulianti
Jabatan : Guru PAUD Putri B Bait Qur’any
1. Ibu , sebelumnya sudah pernah mendengar dan mengetahui komunikasi verbal dan non verbal ?
2. Apakah dalam proses mengajar menggunakan komunikasi verbal dan non verbal?
3. Alasannya kenapa bu?
4. Komunikaasi verbal kan ada yang memakai tulisan dan lisan, kalau disini dalam menghafal Juz Amma memakai tulisan juga?
5. Dalam bentuk seperti apa komunikasi verbal dilakukan khusunya saat belajar menghafal Juz Amma ?
6. Dalam bentuk seperti apa komunikasi non verbal dilakukan?
7. Bagaimana cara mengajarkan dan membimbing anak-anak menghafal Juz Amma dan pola belajar yang digunakan disini?
9. Hambatan apa saja yang dihadapi dalamb mengajarkan komunikasi verbal dan non verbal pada proses menghafal Juz Amma?
Responden Pewawancara
Sari Yulianti Wini Mulyani
LEMBAR WAWANCARA
Nama : Sari Yulianti
Jabatan : Guru PAUD Putri B Bait Qur’any
1. Ibu, sebelumnya sudah pernah mendengar dan mengetahui komunikasi verbal dan non verbal ?
Jawab:
Saya tahu, komunikasi verbal itu ya seperti kita berbicara dan non verbal dengan isyarat atau gerakan tubuh.
2. Apakah dalam proses mengajar menggunakan komunikasi verbal dan non verbal?
Jawab:
Kalau saya mengajar anak didik saya tentunya memakai kedua-duanya (komunikasi verbal dan non verbal)
3. Alasannya kenapa bu? Jawab :
Sebenarnya ketika kita bicarapun tanpa kita sadari kita menggunakan verbal dan non verbal gerakan seperti anggukan kepala bersamaan dengan kata iya, reflek saja terjadinya. Alasan saya menggunakan komunikasi verbal dan non verbal ya..agar anak-anak paham dengan materi yang disampaikan oleh saya.
Selain itu, disini memang ada pembelajaran yang diwajibkan menggunakan gerakan, seperti terjemah perkata dan lain-lain, itu sih sekolah yang menentukan. Saya kan mengajar anak-anak, pada dasarnya anak-anak pada usia dini lebih suka meniru apa yang disampaikan guru, sehingga PAUD Bait Qur’any memilih pola pembelajaran alQur’an yang memudahkan anak untuk menghafalnya dan mengingatnya yaitu dengan cara komunikasi verbal tadi. Sekaligus untuk merangsang kognitif anak pada usia golden age ini. Kan sanyang jika tidak distimulus dengan baik maka masa-masa itu akan terlewati begitu saja.
4. Komunikaasi verbal kan ada yang memakai tulisan dan lisan, kalau disini dalam menghafal Juz Amma memakai tulisan juga?
Jawab:
PAUD Bait Qur’any tidak menggunakan komunikasi verbal melalui tulisan sebab banyak faktor dan hambatan yang membuat kami tidak menggunakan pola itu diantaranya anak usia dini belum hafal betul huruf hijaiyyah dan membaca alQur’an dan menulis ayat alQur’an atau kalimat dalam bahasa Arab. Sehingga anak akan merasa kesulitan dan kami takut malah nantinya terbebani jika pola komunikasi verbal melalui tulisan diterapkan dalam hafalan Juz Amma.
5. Dalam bentuk seperti apa komunikasi verbal dilakukan khusunya saat belajar menghafal Juz Amma ?
Pertama, Bisa dalam bentuk cerita, yaitu cara penyampaian materinya dilakukan secara lisan atau oral oleh guru di muka kelas. Metode ini cukup efektif mudah untuk dicerna, karena pada dasarnya anak-anak senang mendengarkan cerita, biasanya cerita yang disampaikan pada anak berkaitan dengan surat yang dihafal. Dalam hal ini guru dituntut untuk kreatif dan ekspresif saat bercerita.
Kedua, Tanya jawab. Tujuan metode Tanya jawab dan bercakap-cakap tujuannya untuk mengembangkan kecakapan dan keberanian anak dalam mengungkapkan pendapatnya kepada guru teman sebaya dan orang lain, memberikan kesempatan kepada anak untuk berekspresi secara lisan, mengembangkan pola pikir anak dalam bentuk lisan kepada orang lain, memperbaiki lafal dan ucapan, menambahkan pembendaharaan kosakata anak, ingin mengetahui pengetahuan yang dimiliki anak, memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya tentang hal-hal yang belum dipahami, membangkitkan perhatian dan semangat belajar anak pada saat suasana kelas lesu, mendorong keberanian anak untuk mengemukakan pendapatnya dan lain-lain.
Ketiga, Taqrir yaitu mengulang-ngulang, anak-anak biarpun mereka terlihat tidak memperkatikan namun sebenarnya ia menyerap apa yang ada di lingkunganya, semakin sering materi hafalan diulang maka akan semakin melekat dalam ingatan anak-anak.
Keempat, hafalan perkata, sebenarnya pengajaran seperti ini untuk memudahkan anak dan mengikuti proses belajar menghafal Juz Amma.
6. Dalam bentuk seperti apa komunikasi non verbal dilakukan? Jawab :
Terjemah alQur’an di PAUD ini memakai gerakan, yang disesuaikan dengan makna yang terkandung dalam ayat yang dihafal,
Tajwidnya juga memakai gerakan dan yang satu lagi jaritmatika alQur’an. 7. Bagaimana cara mengajarkan dan membimbing anak-anak menghafal Juz
Amma dan pola belajar yang digunakan disini? Jawab :
Disesuaikan saja, pada dasarnya kan setiap anak memiliki tipe yang berbeda-beda dalam hafalan, Jadi di sini kami menggunakan ketiga pola pembelajaran yaitu visual, auditori dan kinestetik. Ada yang menggunakan pendampingan, ada juga guru langsung yang mengajari anak-anak.
8. Komunikasi yang berlangsung di sini seperti apa?
Setahu saya, disini komunikasinya dua arah, Ada yang berbicara kemudian yang lain meresponya seperti pada saat Tanya jawab.
9. Hambatan apa saja yang dihadapi dalamb mengajarkan komunikasi verbal dan non verbal pada proses menghafal Juz Amma?
Hambatannya ya anak-anak tidak mau mengikuti hafalan karena biasanya mereka sedang bad mood, atau hanya mengikuti hafalannya saja tanpa gerakan ya fektornya kebanyakan karena sedang malas. atau jarang masuk sekolah sehingga tertinggal materinya.
Responden Pewawancara
Sari Yulianti Wini Mulyani