BAB V PENUTUP
B. Saran
Pada umumnya pemberdayaan secara wakaf produktif umat Islam dapat melakukan akselerasi peningkatan kesejahteraan umatnya. Ada beberapa saran yang penulis sampaikan kepada elemen-elemen terkait di bawah ini, yaitu sebagai berikut:
1. Pemerintah
Kepada pemerintah agar mendukung sepenuhnya terhadap badan wakaf Indonesia dalam mensosialisasikan dan mensukseskan program pemberdayaan wakaf uang baik secara moril maupun materil sehingga badan wakaf Indonesia dapat melaksanakan programini dengan maksimal.
2. Lembaga Badan Wakaf Indonesia
a. Kreatif dan inovatif dalam mensosialisasikan program wakaf uang kepada masyarakat, dan menciptakan image bahwa wakaf merupakan salah satu instrument yang berpotensi membangkitkan ekonomi umat islam, karena wakaf uang tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi bermanfaat juga bagi badan wakaf Indonesia.
b. Menjalin mitra-mitra yang berbasis social ekonomi untuk menghimpun dana wakaf dan mendistribusikannya demi terciptanya keadilan, social dan ekonomi yang merata.
3. Masyarakat
Masyarakat dapat berperan aktif dalam pemberdayaan wakaf uang misalnya dengan mewakafkan sebagian rizkinya kepada badan wakaf Indonesia. Melalui lembaga badan wakaf Indonesia ini peran aktif masyarakat sangat diharapkan demi kesuksesan dan kelancaran pemberdayaan wakaf uang.
4. Peneliti
Penelitian lebih lanjut penulis memberi saran bahwa badan wakaf Indonesia menarik untuk dikaji kembali, badan wakaf ini masih terus marata keorganisasiannya yang bertujuan untuk mendukung program pengembangan wakaf produktif agar dapat berjalan sesuai yang diharapkan bersama.
DAFTAR PUSTAKA
A. Najib, Tuti dan Ridwan al-Makassary, ed., Wakaf, Tuhan dan Agenda Kemanusiaan: Studi Tentang Wakaf dalam Perspektif Keadilan Sosial di Indonesia, Jakarta: CSRC UIN Syarif Hidayatullah, 2006.
Abu Muhammad (W 630 H), Mughni ‘ala Mukhtasar Khurafi, Penerbit Al-Manar, Mesir 1348H.
Ahmad Abdurrahman Al-Bana,Al-Fath Al-Rabani li Tartib Musnan Al-Imam Ahmad Al-Syaibani cet,ke-1 1371 H.
Al-Kabisi, Muhammad Abid Abdullah, Hukum Wakaf, Jakarta: Dompet Dhuafa Republika dan IIMaA, 2004.
al-Sarbini, Muhammad Khatib, Mughni al-Muhtaj, Beirut: Dar Ihya Turas al-Arabi, t.t, Juz II.
Al-Zuhaili, Wahbah, Al-Fiqh al-Islam Wa Adillatuhu, terj. Indonesia, Beirut: Dar al-Fikr, 1989, cet. 3, juz 8.
Daud Ali, Mohammad, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf, Jakarta: UI-Press, 1988.
Departemen Agama RI, Paradigma Baru Wakaf di Indonesia, Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Depag RI, 2006.
Departemen Agama RI, Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf, Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Depag RI, 2006.
Departemen Agama RI, Proses Lahirnya UU No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Depag RI, 2006.
Djunaidi, Achmad dan Thobieb Al-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif Sebuah Upaya Progresif untuk Kesjahteraan Umat,Jakarta, Mitra Abadi Press, 2005, cet. Ke-2.
Halim, Abdul, H Drs.,Hukum Perwakafan di Indonesia, Jakarta: Ciputat Press, 2005, Cet. 1.
Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (w.256H) Shahih Al-Bukhari, dicetak bersama Fath Al-Bari, penerbit al-khairiyah, cet.ke-1, 1319H
Ja’far bin Al-Hasan bin Abi Zakariya Yahya bin Al-Hasan,Syara’I Al-Islam, penerbit Dar Maktabah Al-hayah, Beirut.
Kamaluddin Muhammad bin Abdul Wahid Al-Siwasi, Fath Al-Qadir, penerbit Musthafa Muhammad, 1356H.
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Keputusan Fatwa Komisi Majelis Ulama Indonesia Tentang Wakaf Uang, ditetapkan di Jakarta, pada tanggal 11 mei 2002.
Mannan, Prof. dr. M.A, Sertifikat Wakaf Tunai Sebuah Inovasi Instrument Keuangan Islam
Mughniyah, Muhammad Jawad, Fiqh Lima Mazhab, Penerjemah Masyukur A. B, dkk, Jakarta: Lentera,1996.
Muhammad Amin bin Umar Abdul Aziz, Rad Al-Mukhtar ‘ala Al-Dur Al-Mukhtar, penerbit Al-Usmaniah, Istanah 1326H.
Muhammad bin Yazid Al-Quzwaini (w. 283 H), Sunan Ibn Majah, penerbit Isa Al-Babi Al-Halabi, 1972M, penyunting Muhammad fuad abdul baqi.
Muslim, Imam,Shahih Muslim, No. 3084, jz. 8, h. 405; Abu Daud, Sunan Abi Daud, No. 2494, jz. 8.
Muslim,Shahih Muslim,Riyadh: Darus-Salam, 1998.
Nasution, Mustafa Edwin dan Uswatun Hasanah, ed., Wakaf Tunai Inovasi Finansial Islam: Peluang dan Tantangan dalam Mewujudkan Kesejahteraan Umat, Jakarta: PSTT-UI, 2006.
Pasal 12, UU No. 41 tahun 2004,“Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, Nazhir dapat menerima imbalan dari hasil bersih atas pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf yang besarnya tidak melebihi 10% (sepuluh persen).”
Peraturan Dirjen Bimas Islam DEPAG RI No. Kep/D/75/1978 dan Inpres RI No. 1 Tahun 1991Tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI)
Peraturan Menteri Agama RI No.1 Tahun 1978 Tentang Pelaksanaan PP No.28 Tahun 1977
Sabiq, Sayyid, Fiqh Al-Suunah, terj. Indonesia, Bandung: Almaa’arif, 1996. cet 8, jilid 14.
Siregar, Mulya, Peranan Perbankan Syariah Dalam Wakaf Tunai (Sebuah Kajian Konseptual), Jakarta: Biro Perbankan Syariah Bank Indonesia, 2001.
Sulaiman bin Asy’as Al-Sajastani (w. 275H), Sunan Abu dawud, penerbit Musthafa Muhammad, mesir:penyunting Muhammad muhyidin abdul hamid.
Syahatah, Husain dan Sidiyah Muh-Amin Adalah, Transaksi dan etika bisnis dalam Islam, Jakarta: Visi Insani publishing, 2005.
Hasil Interview
Implementasi Wakaf Uang di Badan Wakaf Indonesia (studi pada Badan Wakaf Indonesia)
Nama : Nani Almuin, SHI, MA
Jabatan : Staf Divisi Penelitian dan Pengembangan Tempat wawancara : Badan Wakaf Indonesia
Pewawancara : Arief Muzacky Juhanda 1. Kapan BWI didirikan?
Jawaban :
BWI didirikan pada tanggal 13 Juli 2007.
2. Apa Visi dan Misi didirikannya Badan Wakaf Indonesia? Jawaban :
Visi
Badan Wakaf Indonesia mempunyai visi:
“Terwujudnya lembaga independen yang dipercaya masyarakat, mempunyai kemampuan dan integritas untuk mengembangkan perwakafan nasional dan internasional”.
Misi
Badan Wakaf Indonesia mempunyai misi:
“Menjadikan BWI sebagai lembaga professional yang mampu mewujudkan potensi dan manfaat ekonomi harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan pemberdayaan masyarakat”.
3. Bagaimana pengelolaan wakaf di badan wakaf indonesia ? Jawaban :
Dalam hal pengelolaan ini BWI bertindak sebagai nadzir atau pihak pengelola, yang mana dana yang terkumpul atau terhimpun pada bank syariah akan dikelola dalam bentuk deposito atau di investasikan dalam bentuk produk-produk bank syariah.
4. Apa yang diberikan BWI kepada Wakif sebagai tanda bukti penyerahan wakaf uang?
Jawaban :
BWI akan memberikan sertifikat wakaf dan wakif akan menandatangani surat perjanjian yang akan di tulis langsung oleh wakif sebagai tanda bukti penyerahan wakaf uang.
5. Apakah semua wakif akan di berikan sertifikat wakaf bu? Jawaban :
Jika wakaf uang ada nominal terkecil nya yaitu Rp. 1.000.000, yang memberikan wakaf dibawah nilai tersebut tidak diberikan sertifikat.
6. Bagaimana BWI menentukan maukuf alaih? Jawaban :
Pada setiap tempat sudah ditempatkan nazir masing-masing sehingga nazir melaporkan kepada BWI dan BWI akan mengecek langsung, apakah berhak untuk mendapatkan wakaf tersebut? Kalau sudah dapat persetujuan baru uang wakaf dapat di keluarkan kepada maukuf alaih.
7. Kapan pembangunan rumah sakit ibu dan anak ini mulai dibangun? Jawaban :
Pembangunan RS Ibu dan Anak dimulai pada tahun ini, memang belum jadi rumah sakit yang seutuhnya tapi hal ini merupakan suatu perencanaan pembangunan yang sedang dijalankan.
8. Hasil dari produktif uang wakaf, ibu menyebutkan selain untuk dana pembangunan rumah sakit untuk dana pendidikan, pendidikan dimana bu?
Jawaban :
Digunakan untuk dana pendidikan Di Yayasan Nurul Huda Bekasi sebesar Rp.5.000.000.dan pembangunan rumah bagi oarang yang tidak mampu, BWI bekerja sama dengan bank tetapi tetap pengelolaan uang wakaf yang akan digunakan atas persetujuan BWI sehingga pengelolaan uang wakaf tetap pada BWI, bank sebagai tempat penitipan.