BAB V : PENUTUP
B. Saran dan Implikasi Teoritik
Persoalan keterlibatan kiai dalam berpolitik harus dilihat dalam perspektif relasi antara Islam dan politik sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan, dan
secara konseptual bersifat polyinterpretable. Bahwa pilihan kiai untuk ikut atau
tidak terjun ke dunia politik tergantung kepada persoalan konsep tersebut.
Masalahnya sekarang, bagaimana seharusnya kiai bersikap dalam politik praktis? Lepas dari perbebatan konseptual soal poliinterpretasi terhadap relasi antara Islam dan Politik tadi, seharusnya kiai tetap mengemban misi amar ma’ruf nahi munkar. Tentu dengan caranya sendiri sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Amar ma’ruf nahi munkar sebetulnya tugas yang paling utama seorang kiai dalam melakukan transformasi sosial. Di dalamnya menyangkut persoalan penegakan terhadap keadilan, penegakan hak-hak asasi manusia dan demokratisasi, serta perlawanan terhadap hegemoni kekuasaan dan segala macam bentuk tirani dan kezaliman. Di sinilah sebetulnya kiai harus berperan. Jika konsep demikian ini dipahami, saya kira tidak ada lagi seorang “kiai” yang mau menjadi tangan panjang penguasa yang korup, yang disebut oleh al-Ghazali
sebagai ulama su’ (ulama buruk).
Komitmen kiai terhadap persoalan-persoalan bangsa harus tetap dijaga sebagai bentuk dari sikap ketundukan terhadap Tuhan. Dengan demikian berpolitik adalah menegakkan nilai-nilai moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai inilah yang harus tegak di dalam setiap masyarakat sehingga
11
Jauh dari praktik-praktik KKN. Saya kira Gus Dur benar – secara teoretik – ketika menegaskan, “bahwa Islam menjadi besar jika mengutamakan politik sebagai moralitas, bukan politik sebagai institusi dan kepentingan pribadi”. Dan itulah sesungguhnya yang diemban oleh Nabi dalam risalahnya. Apa pun namanya yang dipraktikan Nabi dalam memimpin umat di Madinah sebetulnya tidak lepas dari
urusan penegakan moral tersebut (Innama buistu liutammima husn al-akhlaq).
Bagaimana dengan relasi antara kiai, masyarakat dan penguasa? Dalam hal relasi antara masyarakat, kiai dan penguasa, persoalannya sebetulnya ada pada “kerjasama antara kiai dan penguasa (ulama’ dan umara’). Jika kerjasama yang dilakukan adalah menyangkut persoalan sosial-kemasyarakatan (keutaman) – bukan kolusi dan legitimasi terhadap kemungkaran yang dilakukan penguasa-saya kira juntru yang dibutuhkan sekarang ini. Itulah perlunya “reposisi ulama”. Kiai harus memposisikan diri sebagai kontrol kekuasaan, penyeimbang hegemoni penguasa, dan penegak moral sebagaimana posisi setiap utusan Allah itu, bukan
sebaliknya, menjadi broker politik. Jika kesadaran ini terwujud dalam setiap elit
agama (kiai), maka kemungkinan untuk mengembalikan citra politik kiai yang selama ini minor akan segera sirna.
DAFTAR PUSTAKA
A'la Abdul, Pembaruan Pesantren, (Yogyakarta: LKiS. 2006). A’la Abdul, Melampaui Dialog Agama (Jakarta: Kompas, 2002).
Aceng Abdul, Aziz, Paradigma Baru Politik Muhammadiyah: Dari’Sedakep’ ke
‘Sregep’, dalam Dua yang Satu: Muhammadiyah dalam Sorotan
Cendekiawan NU (Bandung: Mizan, 2000).
Adian Donny Gahral, Percik Pemikiran Kontemporer : Sebuah Pengantar
Komprehensif, (Jakarta : Jalasutra, 2005).
Afandi A. Khozin, Hermeneutika dan Fenomenologi - dari Teori ke Praktik,
(Surabaya : Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, 2007).
______, Abata Hermeneutika (Surabaya: pidato pengukuhan Guru Besar IAIN Sunan Ampel, 2008).
______, Langkah Praktis Merancang Proposal, (Surabaya : Pustakamas, 2011).
AG, Muhaimin, Islam dalam Bingkai Budaya Lokal: Potret dari Cirebon,
(Jakarta: Logos. 2001).
Alifudin, Islam Buton : Interaksi Islam Dengan Budaya Lokal, (Jakarta : Depag, 2007).
Ali Riyadi Ahmad, Dekonstruksi Tradisi Kaum Muda NU Merobek Tradisi
(Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2007).
Amin Darori, Islam dan Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta : Gama Media, 2000).
Azra Azyumardi, Islam Nusantara : Jaringan Global dan Lokal, (Bandung :
Mizan, 2002).
Beatty Andrew, Variasi Agama di Jawa : Suatu Pendekatan Antropologi, terj Achmad Fedyani Saifuddin, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999).
Berger Peter L, Langit Suci: Agama sebagai Realitas Sosial, terj. Hartono (Jakarta: LP3ES, 1991).
Budiardjo Miriam, Dasar-dasar Ilmu Politik. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008).
Budiwanti Erni, Islam Sasak : Wetu Telu Versus Watu Lima, (Yogyakarta : LKis, 2000).
Bustami Abd. Latif, Kiai politik-Politik Kiai, (Malang: Putaka Bayan. 2009). Dhavamony Mariasusai, Phenomenology of Religion : terj. “Kelompok Studi
Agama Driyakara” Fenomenologi Agama, (Yogyakarta : Kanisius, 1995). Dhofier Zamaksyari, Tradisi Pesantren, (Jakarta: LP3ES. 1982).
Dirdjosanjoto Pradjarta, Memelihara Umat-Kiai Pesantren_Kiai Langgar di
Jawa, (Yogyakarta: LKiS. 1999).
Djamil Abdul, Perlawanan Kiai Desa, (Yogyakarta: LKiS. 2001).
Dzarrin Abu dkk. Sarung & Demokrasi: Dari NU untuk Peradaban
Keindonesiaan (Surabaya: Khalista, 2008).
Effendi Djohan, Pembaruan Tanpa Membongkar Tradisi, (Jakarta: Kompas.
2010).
Ellyasa, K.H. Dharwis (ed), Gus Dur, NU dan Masyarakat Sipil, (Yogyakarta : LKiS. 1994).
Fatah Eep Saefullah, Zaman Kesempatan: Agenda Besar Demokratisasi Pasca-
Orde Baru (Bandung: Mizan, 2000).
Fealy Greg, Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967, (Yogyakarta: LKiS. 2003).
Ghazali Abd. Rohim, Dua yang Satu: Muhammadiyah dalam Sorotan
Cendekiawan NU (Bandung: Mizan, 2000).
Hajar Ibnu, Kiai di Tengah Pusaran Politik, (Jogjakarta: IRCiSoD. 2009).
Hamim Thoha, Paham Keagamaan Kaum Reformis, (Yogyakarta: Tiara Wacana.
2000).
Haramain A. Malik, Gus Dur, Militer dan Politik (Yogyakarta: LKIS, 2004). Horikoshi Hiroko, Kyai dan Perubahan Sosial, (Jakarta: P3M. 1984).
Iskandar A. Muhaimin, Melampaui Demokrasi; Merawat Bangsa dengan Visi
Ulama, (Yogyakarta: KLIK.R. 2006).
Ismail Faizal dkk, NU, Gusdurisme dan Politik Kiai, (Yogyakarta: Tiara Wacana. 1999).
Kaelan, Metode Penelitian Kualitatif Bidang Filsafat, (Yogyakarta: Paradigma. 2005).
Lombard Denys, Nusa Jawa Silang Budaya, (Jakarta : PT. Gramedia. 1996).
Mardiyah, Kepemimpinan Kiai dalam Memelihara Budaya Organisasi, (Malang:
Aditya Media. 2012).
Mas’ud Abdurrahman, Intelektual Pesantren: Perhelatan Agama dan Tradisi
(Yogyakarta: LKIS, 2004).
Moleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya. 2005).
Muzadi KH. Abdul Muchit, NU dalam Perspektif Sejarah & Ajaran (Refleksi 65 Th. Ikut NU) (Surabaya: Khalista, 2006).
______, Kiai Presiden, Islam, dan TNI di Tahun-tahun Penentuan (Yogyakarta: UII Press,2001).
Nur Khalik Widwan - Ahmad Nurhasin, Demoralisasi Khithah NU dan
pembaharuan (Yogyakarta: Pustaka Tokoh Bangsa, 2004).
Patoni Achmad, Peran Kiai Pesantren dalam Partai Politik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2007).
Rofiq Muhammad, NU & Ambisi Kekuasaan, (Surabaya: LKP PW Anshar Jatim.
2004).
Rozaki Abdur, Menabur Karisma Menuai Kuasa, (Yogyakarta: Pustaka Marwa.
2004).
Sanit Arbi, ReformasiPolitik (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998).
Santoso Listiyono, TeologiPolitik Gus Dur (Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2004).
Sujuthi Mahmud, Politik Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Jombang,
(Yogyakarta: Galang Press. 2001).
Suprayogo Imam, Citra Politik Kiai, (Malang : UIN Malang Press. 2009) Syam Nur, Islam Pesisir, (Yogyakarta : LKIS. 2005).
Taufiq Wardi, dkk, Sindrom Kuasa: Ancaman Sistem Politik Demokrasi (Jakarta : Democratic Institute, 2005).
Turmudi Endang, Perselingkuhan Kyai dan Kekuasaan, (Yogyakarta : LKiS.
2004).
Ummatin Khoiro, Perilaku Politik Kiai, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2002).
Woodward, Mark R., (ed), Jalan Baru Islam: memetakan paradigma mutakhir
Islam Indonesia, terj. Ihsan Ali Fauzi. (Bandung: Mizan. 1998).
______, Islam Jawa: Kesalehan Normatif versus Kebatinan, (Yogyakarta: LKiS. 2001).