BAB V PENUTUP
B. Saran
1. Kepada para pembaca agar dapat lebih memahami manajemen
keuangan, khususnya para pengusaha untuk selalu mencatat utang-utangnya
dengan baik dan tersistematika, dan perlu memerhatikan bukti-bukti transaksi
atas utang-piutang yang telah dilakukan sebelumnya sehingga jika kemudian
58
2. Untuk para hakim dalam menangani kasus kepailitan agar dapat
memberi rasa keadilan kepada pihak kreditor dan debitor, hendaknya hakim
di Pengadilan Niaga haruslah hakim yang benar-benar bersih, harus bisa
menghindari conflict of interest dan independen, yang artinya tidak berat pada satu pihak.
3. Undang-Undang Kepailitan tahun 2004 juga masih perlu diperbaiki dan
disempurnakan lagi, terutama dalam pengaturan perihal bagaimana
pembagian harta pailit debitor kepada kreditor konkuren, karena di dalam
Undang-Undang Kepailitan tahun 2004 ini belum terperinci secara jelas
bagaimana hierarki pembagian sisa harta pailit kepada para kreditor
konkuren, sehingga dalam hal ini pemahaman para hakim di pengadilan
menjadi berbeda-berda, karena Undang-Undang Kepailitan ini dibuat
semata-mata untuk melindungi pihak kreditor konkuren di mana kreditor konkuren
ini adalah kreditor yang pembagian harta pailitnya didahulukan oleh
kreditor-kreditor pemegang hak istimewa dan jaminan, selain itu kreditor-kreditor konkuren ini
harus berbagi bersama kreditor-kreditor konkuren lainnya dari sisa harta pailit
59
Ahmad, Supriyadi. Pedoman Penulisan Skripsi. Jakarta: PPJM, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta. 2012
Anisah, Siti. Perlindungan Kepentingan Kreditor dan Debitor dalam Hukum Kepailitan di Indonesia; Studi Putusan-Putusan Pengadilan. Yogyakarta: Total Media. 2008
Apeldoorn, Van. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Pradnya Paramita. 1990 Asyhadie, Zaeni. Hukum Bisnis; Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia.
Jakarta: PT RajaGrafindo. 2005
_____________. Hukum Bisnis; Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia. Jakarta: PT RajaGrafindo. 2008
Ata Ujan, Andre. Filsafat Hukum; Membangun Hukum, Membela Keadilan. Yogyakarta: Kanisius. 2009
Fuady, Munir. Hukum Pailit. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. 2004
___________. Hukum Kepailitan dalam Teori dan Praktek. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. 2014
Gautama, Sudargo. Komentar atas Peraturan Kepailitan Baru untuk Indonesia (1998). Bandung: Citra Aditya Bakti. 1998
Hartini, Rahayu. Hukum Kepailitan. Malang: UMM Press. 2008
____________. Penyelesaian Sengketa Kepailitan di Indonesia; Dualisme Kewenangan Pengadilan Niaga & Lembaga Arbitrase. Jakarta: Kencana. 2009
____________. Hukum Kepailitan; dalam Program Penulisan Buku Teks untuk Perguruan Tinggi Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Dirjen Dikti. Semarang: Departemen Pendidikan Nasional. 2002
Hikmah, Mutiara. Aspek-Aspek Hukum Perdata Internasional, dalam Perkara-Perkara Kepailitan. Bandung: Refika Aditama. 2007
Hoff, Jerry. Undang-Undang Kepailitan di Indonesia. Jakarta: PT Tatanusa. 2000
60
Jono. Hukum Kepailitan. Jakarta: Sinar Grafika. 2013
Mahadi. Falsafah Hukum: Suatu Pengantar. Bandung: Alumni. 2003 Mahmud Marzuki, Peter. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana. 2010
Muhammad, Abdulkadir. Hukum Perusahaan Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti. 2010
Muljadi, Kartini dan Gunawan Widjaja. Pedoman Menangani Perkara Kepailitan. Jakarta: PT RajaGrafindo. 2004
Nating, Imran. Peranan dan Tanggung Jawab Kurator dalam Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2004
Rahardjo, Satjipto. Ilmu Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti. 2000
Remy Sjahdeini, Sutan. Hukum Kepailitan; Memahami Faillissementsverordening Juncto Undang – Undang No. 4 Tahun 1998. Jakarta: PT Temprint. 2002
________________. Hukum Kepailitan; Memahami Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. 2009 Saliman, Abdul R, Hermansyah dan Ahmad Jalis, Hukum Bisnis Untuk
Perusahaan; Teori & Contoh Kasus. Jakarta: Kencana. 2007
________________. Hukum Bisnis untuk Perusahaan; Teori dan Contoh Kasus. Jakarta: Kencana. 2011
Samadani, Adil. Dasar-Dasar Hukum Bisnis. Jakarta: Mitra Wacana Media. 2013
Sastrawidjaja, Man S. Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Bandung: PT Alumni. 2010
Shubhan, M. Hadi. Hukum Kepailitan; Prinsip, Norma dan Praktik di Peradilan. Jakarta: Kencana. 2008
Sunggono, Bambang. Metode Penelitian Hukum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1997
Soekanto, Soerjono dan Sri Mahmudji. Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat. Jakarta: Rajawali Pers. 1995
Supramono, Gatot. Perjanjian Utang Piutang. Jakarta: Kencana. 2013
Sutedi, Adrian. Hukum Perbankan; Suatu Tinjauan Pencucian Uang, Merger, Likuidasi, dan Kepailitan. Jakarta: Sinar Grafika. 2007
Suyudi, Aria, dkk. Kepailitan di Negeri Pailit. Jakarta: Dimensi. 2004
Usman, Rachmadi. Dimensi Hukum Kepailitan di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2004
Waluyo, Bernadette. Hukum Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Bandung: Mandar Maju. 1999
Widjaja, Gunawan. Tanggung Jawab Direksi atas Kepailitan Perseroan. Jakarta: PT RajaGrafindo. 2004
Wignjosumarto, Parwoto. Hukum Kepailitan Selayang Pandang (Himpunan Makalah). Jakarta: PT Tatanusa. 2003
Yani, Ahmad & Gunawan Widjaja. Seri Hukum Bisnis, Kepailitan, Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2010
Perundang – undangan:
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek)
Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1946 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Undang-Undang Republik Indonesia No. 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
Jurnal dan Artikel Ilmiah
Yuhassarie, Emmy dan Sri Muriyani. “Penyempurnaan Undang-Undang Kepailitan.” Rangkaian Lokakarya Terbatas Hukum Kepailitan dan Wawasan Hukum Bisnis Lainnya. Jakarta: Kerja Sama Antara Pusat Pengkajian Hukum dan Mahkamah Agung RI. 2002
Situs Internet:
62
Leks, Eddy. “Mengapa Telkomsel Bisa Pailit?”. 16 Mei 2015. http://eddyleks.blog.kontan.co.id/2012/09/27/mengapa-telkomsel-bisa-pailit/#more-69
Naro, Armen Halim. “Adab-adab berutang”. 9 Mei 2015. http://pengusahamuslim.com/adabadab-berutang/#.VU2R4Pntmkp
Siregar, Nien Rafles“Perbedaan Antara Kreditur Separatis dengan Kreditur Konkuren”. 25 April 2012.
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl1998/perbedaan-antara kreditur-separatis-dengan-kreditur-konkuren.
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
No. 118 K/Pdt.Sus/2007DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G
memeriksa perkara perdata (kepailitan) pada tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara antara :
BABBINGTON DEVELOPMENTS LIMITED, suatu badan usaha yang didirikan berdasarkan hukum Negara British Virgin Islands, berkedudukan di RM.1609,118 Connaught Road West, Hongkong, dalam hal ini memberi kuasa kepada HARRY PONTO, SH.LLM. dan kawan-kawan, para Advokat, beralamat di Menara Kuningan Lt.14/A, Jalan HR. Rasuna Said Blok X-7 Kav.5, Jakarta 12940, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 31 Mei 2007,
Pemohon Kasasi dahulu Pemohon ; m e l a w a n
PT. POLYSINDO EKA PERKASA Tbk, berkedudukan di Sentra Mulia, Suite 1001, lantai 10, Jalan H.R. Rasuna Said Kav. X-6 No. 8, Jakarta 12940, yang diwakili oleh V. Ravi Shankar, Direktur Utama, dan dalam hal ini memberi kuasa kepada OSCAR SAGITA, SH. dan kawan-kawan, para Advokat, beralamat di Gedung World Trade Center Lantai 13, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 30, Jakarta 12920, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 26 September 2007,
Termohon Kasasi dahulu Termohon ; Mahkamah Agung tersebut ;
Membaca surat-surat yang bersangkutan ;
Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang Pemohon Kasasi/Pemohon telah mengajukan permohonan pembatalan perdamaian di muka persidangan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut :
Perdamaian yang telah dihomologasi mengikat Termohon dan seluruh kreditur konkuren dari Termohon tanpa kecuali.
1. Termohon telah dinyatakan pailit oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia berdasarkan Putusan Mahkamah Agung No. 01/K/N/2005 tanggal 15 Februari 2005 (Bukti P-2) ;
Hal. 1 dari 26 hal.Put No.118 K/Pdt.Sus/2007
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
putusan.mahkamahagung.go.id2. Dalam proses kepailitan tersebut, Termohon telah mengajukan rencana perdamaian bagi seluruh krediturnya, terakhir dengan Rencana Perdamaian tertanggal 13 Oktober 2005 (selanjutnya disebut “Rencana Perdamaian”) (Bukti P-3a dan P-3b) ;
3. Rencana Perdamaian tersebut selanjutnya telah disetujui oleh para kreditur dari Termohon sehingga dengan demikian Rencana Perdamaian tersebut menjadi Perjanjian Perdamaian antara Termohon dan para krediturnya (selanjutnya disebut “Perjanjian Perdamaian”) (Bukti P-4) ;
4. Perjanjian Perdamaian tersebut selanjutnya telah dihomologasi oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berdasarkan putusan No. 43/PAILIT/2004/PN.Niaga.JKT.PSt. jo. No. 01 K/N/2005 tanggal 16 Nopember 2005 (Bukti P-5). Dengan dihomologasinya Perjanjian Perdamaian tersebut, maka berdasarkan Pasal 162 Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (selanjutnya disebut “UUK”), perdamaian mengikat bagi semua kreditur konkuren baik yang sudah mengajukan tagihannya maupun yang belum mengajukan tagihannya ;
5. Pasal 162 UUK mengatur sebagai berikut :
”Perdamaian yang disahkan berlaku bagi semua kreditur yang tidak mempunyai hak untuk didahulukan, dengan tidak ada pengecualian, baik yang telah mengajukan diri dalam kepailitan maupun tidak.”
6. Dalam halaman 1 paragraf 1 Rencana Perdamaian (vide Bukti 3a dan P-3b) dinyatakan bahwa :
”Rencana Perdamaian ini mengikat seluruh kreditur konkuren Perusahaan (PT Polysindo Eka Perkasa Tbk.) setelah disetujui oleh mayoritas kreditur konkuren dan Pengadilan Komersial Jakarta sesuai dengan ketentuan-ketentuan Hukum Kepailitan Indonesia” ;
Dengan demikian oleh karena perdamaian tersebut mengikat Termohon dan seluruh kreditur konkuren Termohon tanpa kecuali maka berdasarkan azas non diskriminasi, Termohon berkewajiban untuk melaksanakan apa yang telah diperjanjikannya dalam Rencana Perdamaian kepada para krediturnya tanpa membeda-bedakan kreditur yang telah mengajukan tagihannya atau belum mengajukan tagihannya.
Pemohon adalah kreditur konkuren yang sah dari Termohon dan oleh karena itu berdasarkan Pasal 162 UUK demi hukum adalah pihak dalam perdamaian a quo ;
Hal. 2 dari 26 hal.Put No.118 K/Pdt.Sus/2007
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
piutang/tagihan dan bukti-bukti sebagai berikut :
No Tagihan Nominal Bukti Surat Sanggup 1. USD
5,000,000.00
No. 0972/PEP/06/98 tgl 07-8-1998 (Bukti P-6)
2. USD
250,000.00
No. 0973/PEP/06/98 tgl 07-8-1998 (Bukti P-7)
3. USD
250,000.00
No. 0974/PEP/06/98 tgl 07-8-1998 (Bukti P-8)
4. USD
250,000.00
No. 0975/PEP/06/98 tgl 07-8-1998 (Bukti P-9)
5. USD
250,000.00
No. 0976/PEP/06/98 tgl 07-8-1998 (Bukti P-10)
6. USD
1,000,000.00
No. 000354//0158 tgl 16-7-1997 (Bukti P-11
8. Berdasarkan bukti-bukti pada butir 6 di atas, terbukti secara sempurna bahwa Pemohon adalah kreditur konkuren yang sah dari Termohon ; 9. Bahwa oleh karena itu berdasarkan Pasal 162 UUK, Pemohon demi
hukum adalah juga pihak dalam Perjanjian Perdamaian sebagaimana yang telah dihomologasi berdasarkan putusan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 43/PAILIT/2004/PN.NIAGA.JKT.PST. Jo. No. 01 K/N/2005 tanggal 27 Oktober 2005 (lihat Bukti P-5), maka Pemohon berhak mendapatkan pembagian secara seimbang/proporsional seperti kreditur konkuren lainnya dari Termohon (lihat juga Pasal 1132 KUH Perdata).
Pasal 1132 KUH Perdata mengatur sebagai berikut :
”Kebendaan tersebut menjadi jaminan bersama-sama bagi semua orang yang mengutangkan padanya; pendapatan penjualan benda-benda itu dibagi-bagi menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing, kecuali apabila di antara para berpiutang itu ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan.”
Termohon telah wanprestasi terhadap Pemohon berdasarkan Perjanjian Perdamaian dan dengan demikian berdasar hukum apabila perdamaian a quo dibatalkan dan kepailitan Termohon dinyatakan untuk dibuka kembali;
Hal. 3 dari 26 hal.Put No.118 K/Pdt.Sus/2007
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
putusan.mahkamahagung.go.id10. Bahwa sampai dengan diajukannya Permohonan Pembatalan Perdamaian a quo, Termohon tidak juga melaksanakan kewajibannya kepada Pemohon sesuai dengan ketentuan-ketentuan didalam Rencana Perdamaian (vide Bukti P-3a dan P-3b), walaupun Pemohon dengan itikad baik telah memperingatkan Termohon masing-masing melalui surat No. 130/Ext/HP-fds/III/07 tanggal 29 Maret 2007 (Bukti P-12) dan surat No. 112/Ext/HP-fds/IV/2007 tanggal 10 April 2007 (Bukti P-13) untuk melaksanakan dan menyelesaikan kewajibannya sesuai Perjanjian Perdamaian (vide Bukti P-4) ;
11. Bahwa oleh karena Termohon telah tidak melaksanakan kewajibannya sebagaimana yang telah diperjanjikan dalam Rencana Perdamaian (vide Bukti P-3a dan P-3b) a quo terbukti bahwa Termohon telah lalai memenuhi isi Perjanjian Perdamaian (vide Bukti P-4) ;
12. Bahwa Pasal 170 ayat (1) dan Pasal 172 (1) UUK mengatur bahwa apabila debitur lalai memenuhi isi Perjanjian Perdamaian (vide Bukti P-4) yang telah disahkan Pengadilan Niaga, maka kreditur dapat menuntut pembatalan perdamaian yang telah disahkan tersebut ke Pengadilan Niaga dan sekaligus meminta Pengadilan Niaga untuk membuka kembali kepailitan debitur dengan segala akibat hukumnya ;
Pasal 170 ayat (1) UUK mengatur sebagai berikut :
”Kreditur dapat menuntut pembatalan suatu perdamaian yang telah disahkan apabila debitur lalai memenuhi isi perdamaian tersebut” ;
Pasal 172 ayat (1) UUK mengatur sebagai berikut :
”Dalam putusan pembatalan perdamaian diperintahkan supaya kepailitan dibuka kembali, dengan pengangkatan seorang Hakim Pengawas, Kurator dan anggota panitia kreditur, apabila dalam kepailitan terdahulu ada suatu panitia seperti itu.”
13. Bahwa oleh karena itu Pemohon mohon agar Pengadilan Niaga pada Pengadilan Jakarta Pusat membatalkan perdamaian a quo dan menyatakan kepailitan Termohon dibuka kembali dengan segala akibat hukumnya.
Usulan Pengangkatan Hakim Pengawas dan Kurator.
14. Bahwa sehubungan dengan proses kepalitian Termohon tersebut, maka Pemohon memohon kepada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk menunjuk hakim pengawas dan mengangkat Swandy Halim,SH., Kurator dan Pengurus yang terdaftar di Departemen Hukum dan HAM R.I. dengan surat bukti Pendaftaran Kurator dan Pengurus
Hal. 4 dari 26 hal.Put No.118 K/Pdt.Sus/2007
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Trade Centre Lantai 11, Jalan Jend.Sudirman Kav.30, Jakarta 12920 selaku Kurator dalam hal Termohon dinyatakan Pailit ;
bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas Pemohon mohon kepada Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat supaya memberikan putusan sebagai berikut :
1. Menerima dan mengabulkan seluruh Permohonan Pemohon ;
2. Menyatakan bahwa Pemohon demi hukum adalah pihak dalam Perjanjian Perdamaian yang telah dihomologasi berdasarkan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No. 43/PAILIT/2004/PN.NIAGA.JKT.PST. Jo. No. 01/K/N/2005 tanggal 16 Nopember 2005 ;
3. Menyatakan bahwa Termohon telah wanprestasi terhadap Pemohon berdasarkan Perjanjian Perdamaian yang telah dihomologasi berdasarkan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No. 43/PAILIT/ 2004/PN.NIAGA.JKT.PST Jo. No 01 K/N/2005 tanggal 16 Nopember 2005 ; 4. Menyatakan batal Perjanjian Perdamaian antara Termohon dan para
krediturnya yang telah dihomologasi berdasarkan putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat No. 43/PAILIT/2004/PN.NIAGA.JKT.PST. Jo. No. 01 K/N/2005 tanggal 27 Oktober 2005 ;
5. Menyatakan kepailitan Termohon PT. Polysindo Eka Perkasa dibuka kembali dengan segala akibat hukumnya ;
6. Menunjuk hakim pengawas dalam proses kepailitan Termohon ;
7. Mengangkat sdr. Swandy Halim, SH., Kurator dan Pengurus yang terdaftar di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan SBPKP Nomor: C.HT.05.15-24 tanggal 6 Januari 2006 yang berkantor di Gedung World Trade Centre Lantai 11, Jalan Jend. Sudirman Kav.30, Jakarta Selatan 12920 selaku Kurator Pemohon ;
8. Menghukum Termohon untuk membayar biaya yang telah dikeluarkan Pemohon dalam mengajukan Permohonan Pembatalan Perdamaian ini ;
Menimbang, bahwa terhadap permohonan Pemohon tersebut Termohon mengajukan eksepsi yang pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut :
Pemohon tidak memiliki kepentingan untuk mengajukan permohonan
pembatalan perjanjian perdamaian a quo ;
1. Bahwa Termohon menolak dengan tegas Permohonan Pembatalan Perjanji-an PerdamaiPerjanji-an a quo, karena Pemohon tidak memiliki kepentingPerjanji-an untuk mengajukan permohonan pembatalan perjanjian perdamaian a quo ;
Hal. 5 dari 26 hal.Put No.118 K/Pdt.Sus/2007
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
putusan.mahkamahagung.go.id2. Bahwa dalam proses kepailitan Termohon, pada tanggal 7 Maret 2005 Kurator telah mengumumkan tentang pailitnya Termohon sekaligus mengumumkan batas akhir pengajuan tagihan bagi pihak-pihak yang memiliki tagihan kepada Termohon, sebagaimana hal ini ternyata dalam pengumuman Kurator di harian Kompas (Bukti T-1) dan harian Jakarta Post (Bukti T-2), serta dalam Berita Negara Republik Indonesia (Bukti T-3) ;
3. Bahwa atas adanya pengumuman tersebut, telah dilakukan pengajuan klaim/tagihan oleh para kreditur Termohon, dan setelah memalui proses verifikasi, Kurator dan Hakim Pengawas kemudian mengesahkan Daftar Kreditur Termohon pada tanggal 1 Agustus 2005 (”Daftar Kreditur”) (Bukti T-4), yang di dalamnya tercantum nama-nama kreditur Termohon yang telah mengajukan klaim dan diverifikasi klaimnya oleh Debitur (Termohon), Kurator dan Hakim Pengawas dan kemudian diberitahukan kepada kreditur-kreditur yang lain ;
4. Bahwa dengan adanya pengumuman kepailitan Termohon tersebut, maka secara hukum seluruh pihak yang merasa memiliki tagihan terhadap Termohon mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan tagihannya, dan barang siapa yang tidak mendaftarkan tagihannya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan oleh Kurator, maka dianggap melepaskan hak tagih. Hal ini secara tegas diatur dalam Pasal 115 ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ("Undang-Undang Kepailitan"), yang menyatakan: ”semua Kreditur wajib menyerahkan piutangnya masing-masing kepada Kurator disertai perhitungan atau keterangan tertulis lainnya yang menunjukkan sifat dan jumlah piutang, disertai dengan surat bukti atau salinannya, dan suatu pernyataan ada atau tidaknya Kreditur mempunyai suatu hak istimewa, hak gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, hak agunan atas kebendaan lainnya, atau hak untuk menahan benda”; 5. Bahwa selanjutnya Termohon telah mengajukan rencana perdamaian dan
setelah melalui beberapa tahap pembahasan disampaikanlah Rencana Perdamaian tertanggal 13 Oktober 2005 ("Rencana Perdamaian") sebagai rencana perdamaian final bagi seluruh kreditur Termohon, dan Rencana Perdamaian tersebut telah didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (Bukti T-5);
6. Bahwa terhadap Rencana Perdamaian tersebut kemudian dilakukan pe-mungutan suara yang melibatkan seluruh kreditur Termohon yang terdaftar, yang hasilnya adalah disetujuinya Rencana Perdamaian oleh mayoritas
Hal. 6 dari 26 hal.Put No.118 K/Pdt.Sus/2007
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
menjadi Perjanjian Perdamaian (selanjutnya disebut "Perjanjian Perdamaian"), dan Perjanjian Perdamaian ini kemudian ditandatangani oleh