• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 91-141)

Pembimbing II : Drs. Hayun M.Si., Apt (

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Penerapan aspek-aspek CPOB di PT. Ferron Par Pharmaceuticals perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan untuk menjamin konsistensi mutu produk yang dihasilkan.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2006. Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Badan Pengawas Obat dan Makanan, Jakarta.

Badan Pengawas Obat dan Makanan. 2009. Petunjuk Operasional Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Badan Pengawas Obat dan Makanan, Jakarta. Priyambodo, B. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Penerbit Global Pustaka

Utama, Yogyakarta.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010 Tentang Industri Farmasi. Jakarta.

PT. Ferron Par Pharmaceuticals. 2005. Ferron Integrated System Manual, PT. Ferron Par Pharmaceuticals. Cikarang.

Gambar 3.5. Pengolahan Air di PT. FPP

Gambar 3.6. Gambaran sederhana sistem HVAC

No Nama Sertifikat Nomor Dokumen Tanggal pengesahan

1 Sertifikat CPOB untuk tablet,

antibiotik 2362/CPOB/A/XI/02 07.11.2002

2 Sertifikat CPOB untuk injeksi,

steril-antibiotik 2363/CPOB/A/XI/02 07.11.2002

3 Sertifikat CPOB untuk injeksi,

steril-non antibiotik 2364/CPOB/A/XI/02 07.11.2002

4 Sertifikat CPOB untuk suppositoria,

non antibiotik 2365/CPOB/A/XI/02 07.11.2002

5 Sertifikat CPOB untuk kapsul,

antibiotik 2366/CPOB/A/XI/02 07.11.2002

6 Sertifikat CPOB untuk kapsul, non

antibiotik 2367/CPOB/A/XI/02 07.11.2002

7 Sertifikat CPOB untuk tetes mata,

steril-antibiotik 2368/CPOB/A/XI/02 07.11.2002

8 Sertifikat CPOB untuk tetes mata,

steril-non antibiotik 2369/CPOB/A/XI/02 07.11.2002 9 Sertifikat CPOB untuk

salep/krim/gel, non antibiotik 2370/CPOB/A/XI/02 07.11.2002 10 Sertifikat CPOB untuk

salep/krim/gel, antibiotik 2371/CPOB/A/XI/02 07.11.2002 11 Sertifikat CPOB untuk tablet, non

antibiotik 2372/CPOB/A/XI/02 07.11.2002

12 Sertifikat CPOB untuk sediaan cair

oral, non antibiotik 2373/CPOB/A/XI/02 07.11.2002 13 Sertifikat CPOB untuk sediaan cair

oral, antibiotik 2374/CPOB/A/XI/02 07.11.2002

14 Sertifikat CPOB untuk tablet salut,

non antibiotik 2695/CPOB/A/IX/06 22.09.2006

15 Sertifikat CPOB untuk tablet salut,

antibiotik 2696/CPOB/A/IX/06 22.09.2006

16 Sertifikat Freeze Dry Injection

Antibiotic 2896/CPOB/A/IV/09 30.04.2009

17 Sertifikat Freeze Dry Injection

Bentuk Sediaan dan Jenis Bahan Aktif No. Dokumen Tanggal

Sertifikat MHRA untuk Sediaan Non-Steril: Kapsul Cangkang Keras

UK GMP 32874 Insp GMP

32874/444644-0001

13.03.2008 Sertifikat MHRA untuk Sediaan

Non-Steril: Tablet 13.03.2008

Sertifikat MHRA untuk Pengemasan

Primer: Kapsul Cangkang Keras 13.03.2008

Sertifikat MHRA untuk Pengemasan

Primer: Tablet 13.03.2008

Sertifikat MHRA untuk Pengemasan

Sekunder 13.03.2008

Sertifikat MHRA untuk Pengujian Quality

Control: Mikrobiologi-Non Steril 13.03.2008

Sertifikat MHRA untuk Pengujian Quality

Control: Kimia/Fisika 13.03.2008

Sertifikat TGA untuk sediaan solid tablet,

tablet salut, kapsul cangkang keras MI-13082007-CE-001136-11 14.08.2009 Sertifikat ZAB untuk sediaan freeze dry

Zoning Kelas At rest In operational 0.5 (µm) 5.0 (µm) 0.5 (µm) 5.0 (µm) A 100 ≤ 3.520 ≤ 20 ≤ 3.520 ≤ 20 B 100 ≤ 3.520 ≤ 29 ≤352.000 ≤ 2.900 C 10 000 ≤ 352.000 ≤ 2.900 ≤ 3.520.000 ≤ 29.000 D 100 000 ≤ 3.520.000 ≤ 29.000 NS NS E1 UC NS NS NS NS E2 UC NS NS NS NS E3 UC NS NS NS NS Keterangan: UC : Unclassified NS : No Spesification

Tabel 3.4. Pembagian Kelas Ruangan Berdasarkan Batas Kontaminasi Mikroba

Hygiene

Zoning Kelas

Batas Kontaminasi Mikroba (in operation) Air Sample

(cfu/m3) diam. 90 mmSettle plates (cfu/4 hour) Glove Print, 5 fingers (cfu/glove) A 100 < 1 < 1 < 1 B 100 10 5 5 C 10 000 100 50 NS D 100 000 200 100 NS E1 UC NS NS NS E2 UC NS NS NS E3 UC NS NS NS

Tipe air Parameter

Raw

Water Pemerian, E. Coli, S. aureus, Pseudomonas aeruginosa, Salmonellathypimurium, coliform, pH dan konduktivitas. Fresh

Water Pemerian, E. Coli, S. aureus, Pseudomonas aeruginosa, Salmonellathypimurium, coliform, pH dan konduktivitas. Softened

Water Pemerian, E. Coli, S. aureus, Pseudomonas aeruginosa, Salmonellathypimurium, coliform, pH dan konduktivitas. Purified

Water Pemerian, Angka Mikroba, E. Coli, S. aureus, Pseudomonasaeruginosa, Salmonella thypimurium, coliform, zat mudah teroksidasi, nitrat, logam berat, pH, konduktivitas, suhu dan Total Organic Carbon (TOC).

Water For Injection

Pemerian, Angka Mikroba, E. Coli, S. aureus, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella thypimurium, coliform, endotoksin bakteri, zat mudah teroksidasi, nitrat, logam berat, pH, konduktivitas, suhu dan Total Organic Carbon (TOC) serta endotoksin.

Lampiran 2. Struktur Organisasi Departemen Sistem dan Perencanaan

Toll Manufacturing Officer

System & Planning Manager

SnP Adm Staff

PPIC

Officer AnalystSystem System DevelopmentOfficer

PPIC Staff

System Development Staff

GRANULASI Bahan Baku Pengeringan granul Pengayakan Pencampuran akhir Pencetakan tablet Blistering Pengemasan sekunder Penimbangan Box

IPC

Larutan pengikat

Material pengemas primer Material pengemas sekunder

IPC Larutan pengikat Granulasi, pengeringan,

pengayakan dan pencampuran akhir

Raw material

Tablet coating (jika dibutuhkan)

Stripping/blistering

Pengemasan sekunder

Penimbangan Master Box

PW panas (jika dibutuhkan) + bahan pengikat

Kapsul pellet Pelletisasi

Coating pellet (jika dibutuhkan) Tabletting/pengisian kapsul

Purified Water +

suspending agent Bahan baku

Purified Water + gula

Penimbangan box Penimbangan Pembuatan suspending agent Pembuatan Syrupus simplex Pengadukan Penyaringan Penyimpanan dalam kontainer Kemasan primer Pencucian IPC Filling & Capping

Pengemasan Sekunder Labeling Pengkodean label Kemasan primer bersih

Bahan larut air Bahan larut minyak

Panaskan basis air

pada suhu 700C Panaskan basis minyakpada suhu 700C

Pra- emulsifikasi

Pencampuran dan homogenisasi, vakum (kecuali suppositoria), pemanasan dan pendinginan

pengisian

Cooling & sealing

(khusus untuk suppositoria)

Pengemasan sekunder

IPC

Labeling

Pengemasan tersier

Bahan baku Purified water

WFI panas dengan suhu > 70/300C Raw Material

Mixing

Di Filtrasi menggunakan membran filter cellulose acetate nylon yang sudah steril,

juga dilakukan bubble point test

Ampul/vial dicuci

Ampul/vial bersih disimpan dalam stray kemudian disimpan

dalam internal trolley

Ampul/vial disterilisasikan dengan oven FILLING Rubber Stopper Pencucian Rubber Stopper Penyimpanan rubber

stopper dalam tray

kemudian disimpan dalam internal troly

Rubber stopper disterilkan

dengan autoclave 1210C, 20 menit

Penutupan dengan rubber stopper (untuk vial) setelah itu dilakukan alucapping Sealing (untuk ampul)

Sterilisasi akhir dengan autoclave kecuali untuk produk aseptis

Pemeriksaan secara visual (inspeksi)

Cartoning Clean air Clean air N2 IPC IPC IPC Leaflet

Purified Water suhu >85/25WFI dengan0C Raw Material MIXING N2 Pencucian Vial Clean Vial disterilisasi Difiltrasi dengan membran filter

cellulose acetate/nylon, termasuk bubble point test IPC

Filling dan rubber stoppering (tergantung

produk)

Larutan steril dimasukkan dalam tanki stainless steel yang terhubung

langsung dengan mesin filling

Rubber stopper, flip off, alucap disterilisasi 121-121,50C selama 20 menit Clean Alucapping Rubber stopper Flip off/Alucap Produk Lyo

Vial yang sudah terisi ditutup sebagian kemudian dimasukkan

dalam freeze dryer untuk lyofilisasi kemudian ditutup

sepenuhnya

Sterilisasi akhir untuk produk non aserptis Pemeriksaan partikel secara visual (inspeksi)

Labeling

Cartoning

Pengemasan tersier IPC

Cek dokumen Dikembalikan (BAPBB)

Released (label hijau)

Simpan, masukkan data ke dalam database gudang

Rejected (label merah)

Sampling (Uji)

Musnahkan/kembalikan

ke supplier

Karantina (label kuning)

Lampiran 13. Alur Distribusi Barang Dari Gudang (Eksternal)

Lampiran 14. Skema Pengolahan Limbah PT. FPP

Surat pesanan

AAM Pusat

DOPL

Distribution Order Packing List

Mengeluarkan barang Distributor Gudang PPI C Penyiapan barang Gudang

Serah terima barang dari timbang ke produksi

Penimbangan

MATERI TRAINING DEVELOPMENT MENGENAI UTILITY

SYSTEM PADA INDUSTRI FARMASI

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

NURAINI PUSPITASARI, S. Farm. 1006754296

ANGKATAN LXXIII

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER – DEPARTEMEN FARMASI

DEPOK DESEMBER 2011

HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR ... iii DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR RUMUS ... v BAB 1PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3 2.1 Training/Pelatihan Menurut CPOB... 3 2.2 Utility System ... 3 2.2.1. HVAC (Heating, Ventilating and Air Conditioning) ... 4 2.2.2. Parameter HVAC ... 7 2.2.2.1. Suhu dan Kelembaban ... 7 2.2.2.2. Perbedaan Tekanan ... 8 2.2.2.3. Pola Aliran Udara (Air Flow Pattern)... 9 2.2.2.4. Pertukaran Udara (Air Change Rate) ... 10 2.2.2.5. Penyaringan Udara (Air Filtration) ... 11 2.2.3. Sistem Pengolahan Air (Water Treatment System) ... 13 BAB 3 PEMBAHASAN ... 16 3.1 HVAC (Heating, Ventilation and Air Conditioning) ... 16 3.2 Sistem Pengolahan Air ... 20 BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN... 22 4.1 Kesimpulan ... 22 4.2 Saran ... 22 DAFTAR ACUAN ... 23

Gambar 2.1. Kondisi Kelas Kebersihan ... 6 Gambar 2.2. Prinsip Perbedaan Tekanan ... 8 Gambar 2.3. Tipe-tipe Airlocks ... 9 Gambar 2.4. Tipe Pola Aliran Udara ... 10 Gambar 2.5. Pola Aliran Udara Turbulen/non unidirectional ... 10

Tabel 2.1. Jenis-jenis Kelas Kebersihan ... 5 Tabel 2.2. Persyaratan Jumlah Partikel Menurut CPOB ... 6 Tabel 2.3. Persyaratan Jumlah Partikel Menurut ISO 144644-1 ... 7 Tabel 2.4. Persyaratan Jumlah Mikroba Menurut CPOB ... 7 Tabel 2.5. Persyaratan Air Change Rate Menurut CPOB ... 11 Tabel 2.6. Efisiensi Filter Non HEPA ... 12 Tabel 2.7. Efisiensi Filter HEPA ... 12

Rumus 2.1. Perhitungan Air Change Rate dengan Alat Anemometer ... 11 Rumus 2.2. Perhitungan Air Change Rate dengan Alat Balometer ... 11

1.1 Latar Belakang

Utility adalah sesuatu yang didesain untuk penggunaannya, atau peralatan

atau bagiannya yang dibuat untuk menyediakan pelayanan yang sesuai. Artinya,

utility adalah sistem penunjang paling dasar yang sangat diperlukan dalam suatu

industri. Utility yang terdapat di dalam industri farmasi dapat bersifat mempengaruhi secara langsung (direct impact) atau secara tidak langsung (indirect impact). Utility yang bersifat direct impact artinya dalam proses produksi terjadi kontak secara langsung terhadap bahan atau produk, sehingga dapat mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan. Contoh dari direct impact utility ini adalah HVAC (Heating, Ventilation and Air Conditioning), Sistem pengolahan air untuk industri farmasi, compressed air dan pure steam (PICs, 2009).

Untuk menunjang jalannya produksi pada industri farmasi, tidak cukup hanya bergantung pada sistem penunjang yang sesuai namun diperlukan seseorang untuk menjalankannya. Sumber daya manusia sangat penting dalam pembentukan dan penerapan sistem pemastian mutu yang memuaskan dan pembuatan obat yang benar. Oleh sebab itu, industri farmasi bertanggung jawab untuk menyediakan personel yang terkualifikasi untuk melaksanankan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Tiap personel diwajibkan untuk memahami tanggung jawab masing-masing, dan seluruh personel harus memahami prinsip CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Benar). Salah satu cara untuk menciptakan personel yang berkompeten dalam melaksanakan tanggung jawab dan memahami benar prinsip CPOB maka dapat dilakukan training atau pelatihan yang membantu meningkatkan pemahaman dan menambah pengetahuan dari para personel di industri farmasi.

Pelatihan diberikan oleh industri farmasi bagi seluruh personel yang karena tugasnya harus berada di dalam area produksi, gudang penyimpanan, atau laboratorium (termasuk personel teknik, perawatan dan petugas kebersihan) dan bagi personel lain yang kegiatannya dapat berdampak pada mutu produk (CPOB, 2006). Selain pelatihan dasar dalam teori dan praktek CPOB, personel baru hendaklah mendapat pelatihan sesuai dengan tugas yang diberikan.

dalam proses produksi pada industri farmasi dan dapat mempengaruhi mutu produk maka diperlukan pelatihan khusus mengenai utility system. HVAC (Heating, Ventilantion and Air Conditioning) dan sistem pengolahan air adalah sistem penunjang yang paling dasar dan menjadi faktor yang sangat diperhatikan dalam industri farmasi, karena hampir seluruh produksi, sediaan apapun, menggunakan sistem penunjang ini. Itulah sebabnya, dibuat materi pelatihan untuk QA (Quality Assurance) specialist sebagai trainee di PT. Ferron Par Pharmaceutical mengenai utility system, khususnya sistem HVAC dan sistem pengolahan air, agar trainee mengenal dan memahami komponen dan parameternya serta dapat memberikan penyelesaian jika terdapat penyimpangan terhadap spesifikasi yang telah ditentukan.

1.2 Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan pelatihan utility system adalah supaya para

trainee dapat memahami parameter kritis pada utility system sehingga dapat

memberikan penyelesaian jika terdapat penyimpangan terhadap spesifikasi yang telah ditentukan.

2. 1 Training/Pelatihan Menurut CPOB

Industri farmasi diharuskan memberikan pelatihan bagi seluruh personel yang karena tugasnya harus berada di dalam area produksi, gudang penyimpanan, atau laboratorium (termasuk personel teknik, perawatan dan petugas kebersihan) dan bagi personel lain yang kegiatannya dapat berdampak pada mutu produk. Di samping pelatihan dasar dalam teori dan praktek CPOB, personel baru hendaklah mendapat pelatihan sesuai dengan tugas yang diberikan. Pelatihan berkesinambungan hendaklah juga diberikan, dan efektivitas penerapannya hendaklah dinilai secara berkala. Selain itu sebaiknya tersedia program pelatihan yang disetujui kepala bagian masing-masing. Hasil dari pelatihan kemudian disimpan dengan baik.

Pelatihan spesifik diberikan kepada personel yang bekerja di area dimana pencemaran merupakan bahaya, misalnya area bersih atau area penangan bahan berpotensi tinggi, toksik atau bersifat sensitisasi. Pengunjung atau personel yang tidak mendapat pelatihan sebaiknya tidak masuk ke area produksi dan laboratorium pengawasan mutu. Bila tidak dapat dihindarkan mereka harus diberi penjelasan terlebih dahulu, terutama mengenai higiene perorangan dan pakaian pelindung yang dipersyaratkan serta diawasi dengan ketat. Konsep pemastian mutu dan semua tindakan yang tepat untuk meningkatkan pemahaman dan penerapannya hendaklah dibahas secara mendalam selama pelatihan. Pelatihan diberikan oleh orang yang terkualifikasi (COPB, 2006).

2. 2 Utility system

Tujuan dari pemberian materi ini adalah agar para trainee mengetahui

utility system di industri farmasi, khususnya HVAC (Heating, Ventilation and Air Conditioning), dan mengetahui parameter-parameter penting pada sistem utility

tersebut serta memahami parameter-parameter penting, persyaratan dalam utility

system dan mampu menemukan penyimpangan yang terjadi terhadap spesifikasi. Utility adalah sesuatu yang didesain untuk penggunaannya, atau peralatan atau

terdapat di dalam industri farmasi dapat bersifat mempengaruhi secara langsung (direct impact) atau secara tidak langsung (indirect impact). Utility yang bersifat

direct impact artinya dalam proses produksi terjadi kontak secara langsung

terhadap bahan atau produk, sehingga dapat mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan. Contoh dari direct impact utility ini adalah HVAC (Heating,

Condotioning and Air Conditioning), sistem pengolahan air untuk industri farmasi

(water for pharmaceutical use), compressed air dan pure steam. Sedangkan untuk

indirect impact utility, tidak terjadi kontak secara langsung terhadap bahan atau

produk sehingga tidk mempengaruhi bahan atau produk. Contoh dari indirect

impact utility adalah air minum, listrik, dan lain-lain (PICs, 2009).

Penggunaan HVAC dan sistem pengolahan air sangat sering menjadi pertimbangan dan menjadi salah satu faktor penting yang harus selalu diperhatikan dalam industri farmasi, karena itu para trainee diharapkan mengerti dengan baik mengenai kedua sistem ini untuk menunjang jalannya proses produksi dengan baik.

2.2.1 HVAC (Heating, Ventilating and Air Conditioning)

Sistem HVAC (Heating, ventilation and air conditioning) adalah sistem pengkondisian udara (tata udara) yang dipergunakan di industri farmasi untuk mendukung proses produksi sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. Sistem HVAC mempunyai tujuan, yaitu untuk memaksimalkan proteksi terhadap produk, personel dan lingkungan. Proteksi perlu dilakukan terhadap produk, artinya mutu dari produk harus dijaga agar sesuai dengan ketentuannya. Obat berhubungan langsung dengan nyawa manusia, karena itu mutu harus benar-benar dijaga untuk menghindari efek yang tidak diinginkan (WHO, 2006).

Proteksi juga perlu dilakukan terhadap personel karena kesehatan bahkan hidup seseorang dapat terancam, jika terpapar bahan-bahan berbahaya seperti bahan-bahan dengan sensitisasi tinggi (misalnya penisilin), bahan-bahan yang mengandung sitostatik dan bahan-bahan yang mengandung hormon. Proteksi lingkungan juga perlu dilakukan supaya partikel yang berasal dari bahan-bahan yang digunakan menyebar ke lingkungan sekitarnya, dan lingkungan di sekitar area pabrik tidak boleh tercemar dengan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan obat. Karena pentingnya ketiga tujuan tersebut, maka hal-hal

mengenai sistem HVAC pun diatur sedemikian rupa oleh regulator, baik nasional maupun internasional (WHO, 2006).

Kontaminasi adalah bahan cemaran yang tidak diinginkan (mikroba, kimia, bahan asing) di dalam bahan awal atau produk ruahan, selama proses sampling, produksi, pengemasan atau pengemasan ulang (WHO, 2006). Dengan kata lain, kontaminasi adalah zat apapun selain yang digunakan untuk diproduksi. Karena itu, dapat dikatakan bahwa ruang lingkup kontaminasi di lingkungan suatu ruangan adalah partikel dalam udara (airborne particles) dan jumlah mikroba. Mikroba adalah kontaminan yang viable (hidup), yang termasuk di antaranya adalah bakteri, protozoa, fungi, dan spora. Mikroba dapat mempengaruhi kualitas produk dengan membuat tengik, mendegradasi produk dan mencemari produk.

Untuk menjaga kualitas produk serta personel yang terkait dalam pembuatan produk tersebut dapat dibuat kelas kebersihan. Kelas kebersihan ini disebut juga dengan Clean Area atau Controlled Area. Kelas kebersihan dapat dibedakan atas dasar jenis produk (steril/non-steril), frekuensi personel kontak langsung dengan produk, sifat produk (misalnya mudah terdegradasi atau tidak dengan kondisi tertentu) dan tingkat kritikal proses. Jenis-jenis kelas kebersihan dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Jenis-jenis Kelas Kebersihan

Kelas Jenis produk Aktifitas

A Steril Aseptis : Preparasi dan filling secara aseptis Sterilisasi akhir : filling produk dengan resiko tinggi

B Steril Latar belakang untuk A

C Steril Aseptis : Preparasi larutan yang akan difiltrasi Sterilisasi akhir : preparasi larutan atau filling dengan resiko yang lebih rendah

D Steril Aseptis : Penanganan komponen setelah pencucian Sterilisasi akhir : preparasi larutan untuk proses pengisian

E Non steril Ruang pengolahan dan pengemasan primer termasuk salep F Non steril Pengemasan sekunder

G Non steril Gudang, laboratorium, Ruang ganti masuk kelas F

Persyaratan kelas kebersihan

At Rest dan In Operation

peralatan, At Rest adalah k

beroperasi atau tidak, namun tidak ada

kondisi dimana ruangan terdapat peralatan yang beroperasi dan terdapat operator/personel yang mengerjakan

memperlihatkan perbedaan setiap kondisi dapat dilihat pada Gambar 2.1

(Sumber : WHO, 2006) Keterangan : As built

Gambar 2.1

Setiap kelas kebersihan mempunyai persyaratan udara dan jumlah mikroba

Tabel 2.2 untuk persyaratan menurut CPOB dan Tabel 2.3 untuk persyaratan menurut ISO 144644-1 serta jumlah

Tabel 2.2. Persyaratan Jumlah Partikel M

Jumlah partikel maksimum yang diizinkan per m Grade 0,5μm

A 3 520

B 3 520

C 352 000

D 3 520 000

(Sumber : Petunjuk Operasional Penerapan CPOB, 2009)

elas kebersihan berbeda untuk kondisi tertentu yaitu

In Operation. As Built adalah kondisi dimana ruangan tanpa adanya

adalah kondisi dimana ruangan terdapat peralatan, baik beroperasi atau tidak, namun tidak ada personel/operator, dan In Operation

ondisi dimana ruangan terdapat peralatan yang beroperasi dan terdapat yang mengerjakan proses produksi. Gambar yang memperlihatkan perbedaan setiap kondisi dapat dilihat pada Gambar 2.1

(Sumber : WHO, 2006)

As built (kiri), at rest (tengah) dan in operation (kanan)

Gambar 2.1. Kondisi kelas kebersihan.

Setiap kelas kebersihan mempunyai persyaratan jumlah partikel dalam ikroba. Persyaratan untuk jumlah partikel dapat dilihat pada Tabel 2.2 untuk persyaratan menurut CPOB dan Tabel 2.3 untuk persyaratan

1 serta jumlah mikroba menurut CPOB pada Tabel 2.4. Persyaratan Jumlah Partikel Menurut CPOB

Jumlah partikel maksimum yang diizinkan per m

At rest In Operation

5,0 μm 0,5μm 5,0 μm

20 3 520 20

29 352 000 2 900

2 900 3 520 000 29 000

3 520 000 29 000 Not defined Not Defined

(Sumber : Petunjuk Operasional Penerapan CPOB, 2009)

berbeda untuk kondisi tertentu yaitu As Built, ondisi dimana ruangan tanpa adanya ondisi dimana ruangan terdapat peralatan, baik

In Operation adalah

ondisi dimana ruangan terdapat peralatan yang beroperasi dan terdapat Gambar yang memperlihatkan perbedaan setiap kondisi dapat dilihat pada Gambar 2.1.

umlah partikel dalam Persyaratan untuk jumlah partikel dapat dilihat pada Tabel 2.2 untuk persyaratan menurut CPOB dan Tabel 2.3 untuk persyaratan

mikroba menurut CPOB pada Tabel 2.4.

Jumlah partikel maksimum yang diizinkan per m3 5,0 μm

Tabel 2.3. Persyaratan Jumlah Partikel Menurut ISO 144644-1

ISO

Classification Number (N)

Maximum concentration limit (particles/m3of air) for particles equal to and larger than the considered sizes shown below

0,1 μm 0,2μm 0,3 μm 0,5 μm 1 μm 5 μm 1 10 2 2 100 24 10 4 3 1000 237 102 35 8 4 10 000 2 370 1 020 352 83 5 100 000 23 700 10 200 3 520 832 29 6 1 000 000 237 000 102 000 35 200 8 320 293 7 352 000 83 200 2 930 8 3 520 000 832 000 29 300 9 35 200 000 8 320 000 293 000 (Sumber : ISO 144644-1, 1999)

Tabel 2.4. Persyaratan Jumlah Mikroba Menurut CPOB

Kelas Batas yang disarankan untuk cemaran mikroba Sampel udara (cfu/m3) Cawan papar (dia 90 mm) cfu/4 jam Cawan kontak (dia 55 mm) cfu/plate Sarung tangan 5 jari cfu/sarung tangan A <1 <1 <1 <1 B 10 5 5 5 C 100 50 25 -D 200 100 50

-(Sumber : Petunjuk Operasional Penerapan CPOB, 2009)

2.2.2 Parameter HVAC 2.2.2.1 Suhu dan Kelembaban

Suhu dapat mempengaruhi bahan dan produk, terutama untuk bahan-bahan dan produk-produk dengan kondisi penyimpanan tertentu. Suhu juga berpengaruh terhadap personel terhadap kenyamanan dalam bekerja. Lembab artinya dalam udara terkandung sejumlah uap air yang dapat menjadi tempat pertumbuhan

mikroba. Faktor kelembaban dapat mempengaruhi kualitas produk, misalnya bahan higroskopis dapat menarik air, mempengaruhi stabilitas dan formulasi. 2.2.2.2 Perbedaan Tekanan

Perbedaan tekanan mempunyai prinsip bahwa udara akan mengalir ke daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah. Tujuan dibuatnya perbedaan tekanan adalah untuk mencegah kontaminasi silang antar produk. Kontaminasi silang menurut WHO, adalah kontaminasi terhadap bahan awal, produk ruahan, atau produk jadi dengan bahan awal lain atau produk lain selama proses produksi. Perbedaan tekanan untuk area yang berbeda kelas kebersihannya adalah 10-15 Pa. Sebaiknya hindari perbedaan tekanan yang mencapai 37 Pa karena menyebabkan banyaknya kebocoran udara dan kesulitan dalam membuka dan menutup pintu.

Perbedaan tekanan ruangan dipengaruhi oleh produk dan golongannya, misalnya produk dengan potensi berbahaya yang tinggi (tekanan negatif) , produk-produk steril (tekanan positif) dan metode/proses yang digunakan. Prinsip perbedaan tekanan yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 2.2.

(Sumber : WHO, 2006)

Untuk membantu mempertahankan perbedaan tekanan ini dapat menggunakan sistem airlocks. Airlocks mencegah perbedaan turun hingga nol ketika pintu dibuka. Airlocks terdiri dari beberapa pintu, yang diantaranya dapat diisi dengan lokasi gowning/degowning dan sanitasi. Terdapat tiga tipe airlocks, yaitu Cascade, Sink dan Bubbles, Ketiga tipe ini dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Airlocks Cascade digunakan jika perbedaan tidak terlalu diperhatikan, sedangkan airlock Bubble dan Sink digunakan jika perbedaan tekanan sangat diperlukan.

(Sumber : WHO, 2006)

Keterangan : Cascade Airlocks (Kiri), Sink Airlocks (tengah), Bubbles Airlocks (kanan) Gambar 2.3. Tipe-tipe airlocks.

2.2.2.3 Pola Aliran Udara (Airflow Pattern)

Pola aliran udara dapat digunakan untuk melindungi produk/personel dan membantu untuk menghilangkan kontaminan dengan mengatur arah dan kecepatan udara dengan baik.

Terdapat dua pola aliran udara yang digunakan di industri farmasi, yaitu pola aliran non uni-directional (turbulen) dan pola aliran uni-directional (laminar). Pada pola aliran non uni-directional, udara yang ada di dalam ruangan merupakan udara yang baru dari suplai air dan udara yang telah ada sebelumnya (terjadi pengenceran) , dimana udara yang diatas lebih bersih dibandingkan dengan udara yang di bawah. Pola udara laminar mempunyai prinsip dimana udara kotor diganti dengan udara bersih, dimana udara mengalir dengan arah yang sama. Biasanya digunakan untuk daerah tertentu, dimana produk dan personel harus dilindungi dengan baik misalnya LAF (Laminar Air Flow) steril dan ruang penimbangan. Penggunaan Uni-directional Flow Hood untuk ruang penimbangan mempunyai

tujuannya adalah untuk

dan non-directional dapat dilihat pada

(Sumber : WHO, 2006)

Keterangan : Pola aliran udara Non uni directional/Laminar (Kanan)

Gambar 2.4 Pola aliran udara non

beda, tergantung dari bentuk diffuser yang digunakan, seperti Gambar 2.5.

(Sumber : WHO, 2006)

Keterangan : Pola Induction (Kiri), Pola

Gambar 2.5. Pola Aliran Udara Turbulen/non

2.2.2.4 Pertukaran Udara ( Semakin besar ACR

change rate dihitung berdasarkan jumlah suplai

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 91-141)

Dokumen terkait