BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
Dari hasil penelitian ini diajukan beberapa saran dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, antara lain:
1. Diharapkan kepada guru khususnya guru Sosiologi agar menerapkan pembelajaran kooperatif sejak dini untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal sosiologi.
2. Sebagai tindak lanjut penerapan, pada saat proses pembelajaran diharapkan guru untuk lebih mengawasi dan mengantar serta membimbing siswa dalam bekerja kelompok.
3. Diharapkan pula kepada guru bidang studi lain agar mampu mengembangkan dan menerapkan model pembelajaran Group Investigation ini dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
A. Suherman, Sherly. 2013. Yuk, Kenali Seks. Bandung: Irama Widyia.
Aunurrahman. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Damsar. 2011. Pengantar Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Edgen, P., Kauchak. 1979. Strategies for Teachers: Information Processing Models in the Classroom. New Jersey: Ptentice Hall,Inc.
Elfanany, Burhan. 2013. Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Araska.
Hamalik, Oemar. 2007. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Hamdat, Muh. Natsir. 2011. Belajar dan Pembelajaran Sosiologi : Suatu Pokok Bahasan. Makassar: Fakultas Keguruan dan Imu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Isjoni. 2009. Pembelajaran Kooperatif : Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi antar Peserta Didik. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Maryati Kun, Juju suryawati. 2007. Sosiologi untuk SMA dan MA Kelas X.
Jakarta: Esis.
Nur, M. 2000. Pengajaran Berpusat Kepada Siswa dan Pendekatan Konstrutivis dalam Pengajaran. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran : Mengembangkan Profesionalisme Guru. Bandung: Rajawali Pers.
Saptono, Bambang Suteng S. 2007. Sosiologi untuk SMA Kelas X. Jakarta: PT.
Phibeta Aneka Gama.
Sahabuddin. 2007. Mengajar dan Belajar. Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar.
Syarifuddin. 2010. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Group Investigation dalam Meningkatkan Hasil Belajar Sosiologi Siswa Kelas XI Madrasah Aliyah Muhammadiyah Lembang Bu’ne Kabupaten Gowa.
Skripsi. FKIP universitas Muhammadiyah Makassar.
Sudjana, Nana. 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
68
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar Tiro, Muhammad Arif. 2005. Dasar-Dasar Statistik. Universitas Negeri Makassar
Internet:
http://mohkusnarto.wordpress.com/penyimpangan-sosial-pedophilia/ (diakses tanggal 25 Juli 2013)
http://freely-share.blogspot.com/2012/03/tugas-sosiologi-penyimpangan-seksual.html (diakses tanggal 25 Juli 2013)
http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=47881 (diakses tanggal 25 Juli 2013) http://digilib.sunan-ampel.ac.id/files/disk1/170/jiptiain--choiriyahn-8470-2-babi.pdf (diakses tanggal 27 Juli 2013)
http://online-pedophilia.blogspot.com/2012/05/normal-0-false-false-false.html (diakses tanggal 27 Juli 2013)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
MATERI AJAR
SOAL TES SIKLUS I DAN SIKLUS II INSTRUMEN PENILAIAN
DAFTAR NILAI ANALISIS DATA
HASIL OBSERVASI AKTIVITAS GURU SIKLUS I DAN SIKLUS II
LAMPIRAN
DAFTAR NILAI HASIL EVALUASI SIKLUS I
No. Nama Siswa Nilai Evaluasi Keterangan
1 Abd. Rahmat 60 Tidak Tuntas
DAFTAR NILAI HASIL EVALUASI SIKLUS II
No. Nama Siswa Nilai Evaluasi Keterangan
1 Abd. Rahmat 75 Tuntas
ANALISIS DATA A. Analisis Data Siklus I
a. Nilai Rata- rata Nilai Ujian Siklus I (xi)
Frekuensi
(fi) Xi2 Fi . Xi Fi . Xi2
85 2 7225 170 14450
80 3 6400 240 19200
75 3 5625 225 16875
70 4 4900 280 19600
65 2 4225 130 8450
60 4 3600 240 14400
55 2 3025 110 6050
50 4 2500 200 10000
45 2 2025 90 4050
Jumlah 26 39525 1685 113075
Nilai rata-rata (X) =∑
∑
Nilai rata-rata (X) =
=
64,80b. Nilai Mean
45 45 50 50 50 50 55 55 60 60 60 60 65 65 70 70 70 70 75 75 75 80 80 80 85 85 Nilai mean = 65 + 65
= 65 2
c. Standar Deviasi Nilai Ujian Siklus I (xi)
Frekuensi
(fi) Xi2 Fi . Xi Fi . Xi2
85 2 7225 170 14450
80 3 6400 240 19200
75 3 5625 225 16875
70 4 4900 280 19600
65 2 4225 130 8450
60 4 3600 240 14400
55 2 3025 110 6050
50 4 2500 200 10000
45 2 2025 90 4050
Jumlah 26 39525 1685 113075
S =
√
∑ ∑∑
S =
√
= √
= √
S = √ S = 12,45
d. Rentang Skor (R)
R = Nilai terbesar – Nilai terkecil R = 85– 45
R = 40
B. Analisis Data Siklus II a. Nilai Rata- rata
Nilai Ujian Siklus I (xi)
Frekuensi
(fi) Xi2 Fi . Xi Fi . Xi2
100 2 10000 200 20000
95 2 9025 190 18050
90 2 8100 180 16200
85 3 7225 255 21675
80 3 6400 240 19200
75 6 5625 450 33750
70 4 4900 280 19600
65 3 4225 195 12675
60 1 3600 60 3600
Jumlah 26 59100 2050 164750
Nilai rata-rata (X) =∑
∑
Nilai rata-rata (X) =
=
78,84b. Nilai Mean
60 65 65 65 70 70 70 70 75 75 75 75 75 75 80 80 80 85 85 85 90 90 950 95 100 100
Nilai mean = 75 + 75
=√
S = √
S = 11,16
d. Rentang Skor (R)
R = Nilai terbesar – Nilai terkecil R = 100– 60
R = 40
1. Guru melakukan apersepsi 4 4 4 2. Guru memberi pengantar tentang pokok bahasan
baru
4 4 4
3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 3 4 4
Jumlah Skor Kegiatan Pendahuluan 11 12 12
Rata-rata Jumlah Skor Kegiatan Pendahuluan 3,7 4 4 Kegiatan Inti
4. Guru menyajikan informasi tentang konformitas dan perilaku menyimpang
3 4 3
5. Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok 4 4 4
6. Guru memberikan sub topik yang ingin di diskusikan 3 4 4 7. Guru dan siswa merencanakan tujuan,
langkah-langkah belajar berdasarkan sub topik dan materi yang dipilih
4 4 4
8. Guru membimbing siswa menganalisis,
menyimpulkan, dan membuat kesimpulan untuk mempresentasikan hasil belajar mereka di depan kelas
4 3 4
9. Guru memberikan evaluasi 3 3 3
10. Guru meminta siswa menyimpulkan dan menjelaskan hal-hal yang belum diketahui
3 3 4
Jumlah Skor Kegiatan Inti 24 25 26
Rata-rata Jumlah Skor Kegiatan Inti 3,4 3,6 3,7 Kegiatan Penutup
Rata-rata Jumlah Skor Kegiatan Penutup 3,7 3,7 4 Rata-rata Skor Kegiatan Setiap Pertemuan 3,6 3,8 3,9
Rata-rata Kegiatan Siklus I 3,77
Skor Penilain
1 : Sangat Kurang 2 : Kurang
3 : Baik
4 : Sangat Baik
Kegiatan Pendahuluan
1. Guru melakukan apersepsi 4 4 4
2. Guru memberi pengantar tentang pokok bahasan baru
4 4 4
3. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 4 4 4
Jumlah Skor Kegiatan Pendahuluan 12 12 12
Rata-rata Jumlah Skor Kegiatan Pendahuluan 4 4 4 Kegiatan Inti
4. Guru menyajikan informasi tentang hubungan perilaku menyimpang dengan sosialisasasi yang tidak sempurna, dan sifat dan macam perilaku menyimpang
4 4 4
5. Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok 4 4 4
6. Guru memberikan sub topik yang ingin di diskusikan 4 4 4 7. Guru dan siswa merencanakan tujuan,
langkah-langkah belajar berdasarkan sub topik dan materi yang dipilih
4 4 4
8. Guru membimbing siswa menganalisis,
menyimpulkan, dan membuat kesimpulan untuk mempresentasikan hasil belajar mereka di depan kelas
4 4 4
9. Guru memberikan evaluasi 3 4 4
10. Guru meminta siswa menyimpulkan dan menjelaskan hal-hal yang belum diketahui
4 4 4 Rata-rata Skor Kegiatan Setiap Pertemuan 3,9 4 4
Rata-rata Kegiatan Siklus II 3,97
Skor Penilain
1. : Sangat Kurang 3. : Baik
2. : Kurang: Baik 4. : Sangat Baik
Mata Pelajaran : Sosiologi Kls/smester : X/ 1 Waktu : 45 Menit Tahun Pelajaran : 2013-2014 Petunjuk soal
- Isilah identitas anda di lembar jawaban
- Kerjakan soal-soal berikut dengan baik dan benar
- Kerjakan terlebih dahulu soal yang dianggap paling mudah Soal
Jawablah pertanyaaan di bawah ini dengan benar!
1. Jelaskan pengertian konformitas!
2. Jelaskan pengertian perilaku menyimpang!
3. Jelaskan pengertian perilaku menyimpang menurut Robert M.Z Lawang!
4. Jelaskn sumber penyimpangan menurut Edward H. Sutherland!
5. Jelaskan bentuk-bentuk perilaku menyimpang menurut Edwin M. Lemert!
Max.
1. Konformitas adalah bentuk interaksi yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok atau masyarakat di mana ia tinggal.
2. Perilaku menyimpang adalah suatu perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku dalam suatu masyarakat.
3. Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem
4. Penyimpangan bersumber pada pergaulan yang berbeda. Penyimpangan dipelajari melalui proses alih budaya. Melalui proses belajar ini seseorang mempelajarai suatu budaya yang menyimpang.
5. Bentuk-bentuk perilaku menyimpang menurut Edwin M. Lemert yaitu:
1. Penyimpangan primer, yaitu perbuatan
100% benar skornya 10 75% benar skornya 7,5 50% benar skornya 5 25% benar skornya 2,5
Pedoman Penilaian Sebagai Berikut:
N =
X 100
2. Penyimpangan sekunder, yaitu perbuatan yang dilakukan seseorang secara umum dikenal sebagai perbuatan atau perilaku menyimpang.
Mata Pelajaran : Sosiologi Kls/smester : X/ 1 Waktu : 45 Menit Tahun Pelajaran : 2013-2014 Petunjuk soal
- Isilah identitas anda di lembar jawaban
- Kerjakan soal-soal berikut dengan baik dan benar
- Kerjakan terlebih dahulu soal yang dianggap paling mudah Soal
Jawablah pertanyaaan di bawah ini dengan benar!
1. Mengapa sosialisasi yang tidak sempurna dapat menyebabkan perilaku menyimpang?
2. Jelaskan 2 sifat-sifat perilaku menyimpang!
3. Berikan masing-masing satu contoh penyimpangan yang bersifat positif dan negatif!
4. Jelaskan 4 macam perilaku menyimpang!
5. Mengapa penyalahgunaan obat-obat terlarang lebih banyak terjadi pada kaum remaja?
Max.
1. Karena ketidaksepadanan pesan-pesan yang disampaikan oleh pelaku-pelaku sosialisasi.
2. Sifat-sifat perilaku penyimpangan yaitu : 1. Penyimpangan yang bersifat positif adalah
penyimpangan yang mempunyai dampak positif terhadap sistem sosial karena mengandung unsur inovatif, kreatif, dan memperkaya alternatif.
2. Penyimpangan yang bersifat negatif adalah pelaku bertindak kearah nilai-nilai sosial yang dipandang rendah dan berakibat buruk serta mengganggu sistem sosial. positif adalah emansipasi wanita dalam kehidupan masyarakat yang memunculkan banyak wanita karier.
2. Contoh penyimpangan yang bersifat negatif adalah seseorang yang terbukti melakukan pembunuhan setelah diproses melalui pengadilan dapat diancam hukuman minimal delapan tahun penjara.
10
100% benar skornya 10 75% benar skornya 7,5 50% benar skornya 5 25% benar skornya 2,5
4. Macam-macam perilaku menyimpang 1. Tindakan kriminal atau kejahatan
100% benar skornya 10 75% benar skornya 7,5
Pedoman Penilaian Sebagai Berikut:
N =
X 100
agama yang berlaku dalam masyarakat.
2. Penyimpangan seksual
Penyimpangan seksual adalah perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan.
3. Pemakaian dan pengedaran obat terlarang Penyimpangan dalam bentuk pemakaian dan pengedaran obat terlarang merupakan bentuk penyimpangan dari nilai dan norma sosial maupun agama.
4. Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup yang lain dari biasanya antara lain sikap arogansi dan eksentrik.
5. karena perkembangan emosi mereka yang belum stabil, cenderung ingin mencoba, kepribadian yang cenderung asosial (tidak mempertimbangkan orang lain, kondisi kecemasan atau depresi, situasi keluarga yang tidak harmonis, salah memilih teman, obat-obatan yang mudah diperoleh, dan
KARTU KONTROL BIMBINGAN SKRIPSI Nama : Jufriadi
Stambuk : 10538 1577 09 Jurusan : Pendidikan Sosiologi
Pembimbing : Dra. Hidayah Quraisy, M.Pd
Judul Skripsi :Peningkatan Hasil Belajar Sosiologi Pokok Pembahasan Perilaku Menyimpang (Pedophilia) melalui Model Pembelajaran Group Investigation pada Siswa Kelas X MA Babussalam Kalukuang Kabupaten Takalar.
Konsultasi Dosen Pembimbing I
No Hari/Tanggal Uraian Perbaikan Tanda Tangan
Mengetahui
Ketua jurusan pendidikan sosiologi
Dr. H. Nursalam, M.Si NBM. 951 829
KARTU KONTROL BIMBINGAN SKRIPSI Nama : Jufriadi
Stambuk : 10538 1577 09 Jurusan : Pendidikan Sosiologi
Pembimbing : Dra. Marham Muhammadiyah, M.Pd
Judul Skripsi :Peningkatan Hasil Belajar Sosiologi Pokok Pembahasan Perilaku Menyimpang (Pedophilia) melalui Model Pembelajaran Group Investigation pada Siswa Kelas X MA Babussalam Kalukuang Kabupaten Takalar.
Konsultasi Dosen Pembimbing II
No Hari/Tanggal Uraian Perbaikan Tanda Tangan
Mengetahui
Ketua jurusan pendidikan sosiologi
Dr. H. Nursalam, M.Si NBM. 951 829
No Nama Siswa L/P Siklus I Siklus II
Takalar, Desember 2013 Mengetahui
Guru Bidang Studi Mahasiswa Peneliti
Sarmiah.SE Jufriadi
Nip. Nim. 10538 1577 09
a. Konformitas
Konformitas adalah bentuk interaksi yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok atau masyarakat di mana ia tinggal.
Konformitas berarti proses penyesuaian diri dengan masyarakat dengan cara menaati norma dan nilai-nilai masyarakat. Konformitas biasanya melahirkan kepatuahan dan ketaatan. Sementara itu, perilaku yang menyimpang atau tidak sesuai dengan norma dan nilai-nilai dalam masyarakat disebut sebagai perilaku non-konformis atau yang dikenal dengan sebutan perilaku menyimpang (deviance).
b. Perilaku Menyimpang
1. Defenisi Perilaku Menyimpang
Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat. Contoh perilaku menyimpang antara lain merampok, mencuri, membunuh, menganiaya, menculik, berkelahi, memerkosa, menodong, menyelundupkan barang-barang, mengedarkan obat-obat terlarang, korupsi, dan memalsukan uang.
Ada beberapa definisi perilaku menyimpang menurut para ahli, antara lain sebagai berikut:
1. James Vender Zender
Perilaku menyimpang adalah perilaku yang dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas-batas toleransi oleh sejumlah besar orang.
Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.
3. Robert M.Z. Lawang
Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.
2. Sumber Penyimpangan
a. Edward H. Sutherland, menurutnya penyimpangan bersumber pada pergaulan yang berbeda. Penyimpangan dipelajari melalui proses alih budaya (cultural tranmission). Melalui proses belajar ini, seseorang mempelajari suatu budaya menyimpang.
b. Edwin M. Lemert, menurutnya seseorang menjadi penyimpang karena adanya proses labelling (pemberian julukan, cap etiket, atau merek) yang diberikan masyarakat kepadanya. Proses labelling ini bisa membuat seseorang yang tadinya memiliki kebiasaan menyimpang menjadi terbiasa. Bahkan kebiasaan itu kemudian menjadi gaya hidupnya. Lemert membagi perilaku menyimpang ke dalam dua bentuk;
dan dapat ditolerir oleh masyarakat. Contohnya, mengendarai motor atau mobil melebihi kecepatan yang normal (kebut-kebutan).
2. Penyimpangan sekunder (secondary deviation), yaitu perbuatan yang dilakukan seseorang yang secara umum dikenal sebagai perbuatan atau perilaku menyimpang. Contohnya, memerkosa, membunuh, merampok, mabuk-mabukan, menggunakan obat terlarang, berjudi, dan melacur. Penyimpangan demikian bisa dilakukan secara individu maupun kelompok. Masyarakat pada umumnya tidak bisa menerima dan tidak menginginkan orang-orang semacam ini berada dalam lingkungannya.
c. Robert K. Merton, menurutnya struktur sosial tidak hanya menghasilkan perilaku yang konformis, tapi juga perilaku yang menyimpang. Struktur sosial menghasilakan pelanggaran terhadap aturan sosial dan menekan orang tertentu ke arah perilaku yang nonkonform (tidak sesuai dengan nilai dan norma sosialyang berlaku di dalam masyarakat. Merton menyatakan bahwa perilaku menyimpang terjadi karena tidak adanya kaitan antara tujuan dengan cara yang telah ditetapkan dan dibenarkan oleh struktur sosial.
e. David Berry, menurutnya keliru jika kita melihat penyimpangan semata-mata karena ketidakpatuhan terhadap nilai dan norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat. Penyimpangan bukan hanya karena seseorang gagal menyesuaikan diri dengan standar nilai dan norma tertentu, tapi juga karena orang itu memilih standar nilai dan norma bagi dirinya sendiri yang berbeda dengan standar orang lain.
c. Hubungan antara Perilaku Menyimpang dan Sosialisasi yang tidak sempurna
Setiap pelaku sosialisasi mempunyai fungsi masing-masing yang seharusnya saling melengkapi. Akan tetapi pada kenyataannya sering terjadi ketidaksepadanan antara pesan yang disampaikan pelaku sosialisasi yang satu dengan pelaku sosialisasi yang lain. Contohnya, sebuah keluarga memberikan pesan untuk tidak merokok kepada anggota keluarganya (anak). Namun, si anak melihat atau membaca di media massa bagaimana rokok diiklankan dengan sangat menarik. Ia juga mungkin akan melihat bahwa teman-teman di kelompok bermainnya semuanya merokok. Anak itu akan mengalami konflik batin antara menghargai norma atau nilai yang diberikan keluarga atau memilih norma yang berkembang pada kelompok bermainnya. Perilaku menyimpang juga bisa terjadi ketika dalam proses sosialisasi, seseorang mengambil peran yang salah dari generalized others atau meniru perilaku yang salah.
1. Sifat-sifat perilaku menyimpang
Secara umum, terdapat dua sifat penyimpangan, yaitu:
1. Penyimpangan yang bersifat positif
Penyimpangan bersifat positif adalah penyimpangan yang mempunyai dampak positif terhadap sistem sosial karena mengandung unsur inovatif, kreatif, dan memperkaya alternatif. Penyimpangan demikian umumnya dapat diterima masyarakat karena sesuai dengan perubahan zaman. Contoh, emansipasi wanita dalam kehidupan masyarakat yang memunculkan banyak wanita karier.
2. Penyimpangan yang bersifat negatif
Dalam penyimpangan yang bersifat negatif, pelaku bertindak kearah nilai-nilai sosial yang dipandang rendah dan berakibat buruk serta mengganggu sistem sosial. Tindakan dan pelakunya akan dicela karena dan tidak diterima oleh masyarakat. Bobot penyimpangan dapat diukur menurut kaidah sosial yang dilanggar. contoh: seseorang yang terbukti melakukan pembunuhan setelah diproses melalui pengadilan dapat diancam hukuman minimal delapan tahun penjara.
dengan norma hukum, norma sosial, dan norma agama yang berlaku dalam masyarakat. Yang termasuk tindakan kriminal antara lain pencurian, pembunuha, penganiayaan, pemerkosaan dan perampokan.
Tindak kejahatan mencakup pula semua kegiatan yang dianggap mengganggu keamanan dan kestabilan negara seperti korupsi, terorisme.
Light, Keller, dan Calhoun membedakan tipe kejahatan menjadi empat, yaitu sebagai berikut:
a. kejahatan tanpa korban (crime without victim)
kejahatan ini tidak mengakibatkan penderitaan pada korban akibat tindak pidana orang lain. Contoh: perbuatan berjudi, penyalahgunaan obat bius, mabuk-mabukan, hubungan seks yang tidak sah yang dilakukan secara sukarela oleh orang dewasa.
b. kejahatan terorganisasi (organized crime)
pelaku kejahatan merupakan komplotan yang secara berkesinambungan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang atau kekuasaan dengan jalan menghindari hukum. Misalnya, komplotan korupsi, penyediaan jasa pelacur, perjudian gelap, penadah barang curian, atau peminjam uang dengan bunga tinggi (rentenir).
berstatus tinggi dalam rangka pekerjaannya. Contoh, penghindaran pajak, penggelapan uang perusahaan oleh pemilik perusahaan, atau pejabat negara yang melakukan korupsi.
d. kejahatan korporat
kejahatan ini merupakan jenis kejahatan yang dilakukan atas nama organisasi dengan tujuan menaikkan keuntungan atau menekan kerugian. Misalnya, suatu perusahaan membuang limbah beracun ke sungai dan mengakibatkan penduduk sekitar mengalami berbagai jenis penyakit.
2. Penyimpangan seksual
Penyimpangan seksual adalah perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan. Beberapa jenis penyimpangan seksual antara lain:
a. Perzinahan adalah hubungan seksual diluar nikah.
b. Lesbianisme adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh sesama wanita.
c. Homoseks adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh sesama lelaki.
d. Kumpul kebo adalah hidup seperti suami istri tanpa nikah.
e. Sodomi adalah hubungan seks melalui anus.
h. Pedophilia adalah memuaskan keinginan seks dengan mengadakan kontak seksual dengan anak-anak.
3. Pemakaian dan pengedaran obat terlarang
Penyimpangan dalam bentuk pemakaian dan pengedaran obat terlarang merupakan bentuk penyimpangan dari nilai dan norma sosial maupun agama. Contoh obat terlarang adalah narkotika (ganja, candu, putaw), psikotropika (estasy, amphetamine, magadon) dan alkohol.
Penyalahgunaan obat-obat terlarang memang lebih banyak terjadi pada kaum remaja karena perkembangan emosi mereka yang belum stabil, cenderung ingin mencoba, kepribadian yang cenderung asosial (tidak mempertimbangkan orang lain, kondisi kecemasan atau depresi, situasi keluarga yang tidak harmonis, salah memilih teman, obat-obatan yang mudah diperoleh, dan sebagainya).
Menurut Dr. graham Baliane, kaum remaja lebih mudah terjerumus pada penggunaan narkotik karena faktor-faktor berikut:
a. ingin membuktikan keberanian dalam melakukan tindakan berbahaya, seperti kebut-kebutan, berkelahi, dan mengancam.
b. ingin menunjukkan tindakan menentang orang tua yang otoriter atau siapa saja yang dianggap tidak sepaham dengan dengan dirinya.
e. ingin mengisi kekosongan dan kebosanan (tidak memiliki banyak aktivitas di luar sekolah).
f. ingin menghilangkan kegelisahan.
g. solidaritas di antara kawan.
h. ingin tahu dan iseng.
4. Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup
Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup yang lain dari biasanya antara lain sikap arogansi dan eksentrik. Sikap arogansi antara lain kesombongan terhadap sesuatu yang dimilikinya seperti kekayaan, kekuasaan, dan kepandaian. Sikap eksentrik ialah perbuatan menyimpang dari biasanya sehingga dianggap aneh, seperti anak laki-laki memakai anting-anting atau benda lainnya yang biasa dikenakan wanita, atau seniman pemuda yang berambut panjang.
Nama Sekolah : MA Babussalam Kalukuang Mata Pelajaran : Sosiologi
Kelas/Semester : X/1
Standar Kompetensi : 1. Menerapkan nilai dan norma dalam proses pengembangan kepribadian.
Kompetensi Dasar : 1.2 Mendeskripsikan terjadinya perilaku menyimpang dan sikap- sikap anti sosial.
Indikator :
1. Mengidentifikasikan terjadinya perilaku menyimpang sebagai hasil sosialisasi yang tidak sempurna.
2. Mendeskripsikan pengertian perilaku menyimpang.
3. Mendeskripsikan sumber penyimpangan Alokasi Waktu : 8 x 45 menit (4 x pertemuan)
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah proses pembelajaran, siswa diharapkan dapat:
1. mengidentifikasi terjadinya perilaku menyimpang sebagai sosialisasi yang tidak sempurna.
2. Mendeskripsikan pengertian perilaku menyimpang.
3. Mendeskripsikan sumber penyimpangan.
B. Materi pembelajaran 1. Konformitas
2. Pengertian perilaku menyimpang 3. Sumber penyimpangan
C. Model dan Metode Pembelajaran Model : Group Investigation
Metode : Diskusi, Tanya jawab dan pemberian tugas D. Langkah-langkah Pembelajaran
1. Pertemuan I
No Kegiatan Pembelajaran Alokasi
Waktu Nilai Karakter 1. Kegiatan Pendahuluan
a. Apresepsi
Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran (memeriksa kebersihan kelas, menyampaikan
10 menit Religius Disiplin
Rasa ingin tahu
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
2. Kegiatan Inti a. Eksplorasi
Guru menyajikan pelajaran dan siswa
mendengarkan penjelasan guru tentang materi konformitas.
b. Elaborasi
Siswa dibagi ke dalam kelompok yang beranggotakan 4-5 orang.
Siswa memilih sub topik yang ingin mereka pelajari.
Siswa dan guru merencanakan tujuan, langkah-langkah belajar berdasarkan sub topik dan materi yang dipilih.
Siswa mulai belajar dengan berbagai sumber belajar baik di dalam maupun di luar sekolah.
Setelah proses pelaksanaan belajar selesai mereka menganalisis, menyimpulkan, dan membuat kesimpulan untuk mempresentasikan hasil belajar mereka di depan kelas.
Siswa mengerjakan tugas secara mandiri tentang Uji Penguasaan Materi.
c. Konfirmasi
Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui.
Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui.
Bersama-sama melakukan refleksi materi yang telah dibahas.
Menarik kesimpulan materi.
b. Penilaian
Guru memberi penilaian hasil diskusi kelompok dan hasil kerja mandiri.
c. Penugasan
Guru memberi tugas kepada siswa untuk membuat kliping tentang berbagai perilaku menyimpang dalam masyarakat.
15 menit Jujur, Menghargai prestasi
Waktu 1. Kegiatan Pendahuluan
a. Apresepsi
Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran (memeriksa kebersihan kelas, menyampaikan salam, berdo’a, absensi dan pengumpulan tugas).
b. Memotivasi
Guru memberi pengantar tentang pokok bahasan baru yaitu perilaku menyimpang.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
10 menit Religius Disiplin
Rasa ingin tahu
2. Kegiatan Inti a. Eksplorasi
Guru menyajikan pelajaran dan siswa
mendengarkan penjelasan guru tentang pengertian perilaku menyimpang.
b. Elaborasi
Siswa dibagi ke dalam kelompok yang beranggotakan 4-5 orang.
Siswa memilih sub topik yang ingin mereka pelajari.
Siswa dan guru merencanakan tujuan, langkah-langkah belajar berdasarkan sub topik dan materi yang dipilih.
Siswa mulai belajar dengan berbagai sumber belajar baik di dalam maupun di luar sekolah.
Setelah proses pelaksanaan belajar selesai mereka menganalisis, menyimpulkan, dan membuat kesimpulan untuk mempresentasikan hasil belajar mereka di depan kelas.
Siswa mengerjakan tugas Uji Penguasaan Materi.
c. Konfirmasi
Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui.
Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui.
Bersama-sama melakukan refleksi materi yang telah dibahas.
15 menit Jujur, Menghargai prestasi
Penugasan
Guru memberi tugas kepada siswa untuk membuat poster tentang tidak lagi melakukan perilaku menyimpang.
3. Pertemuan III
No Kegiatan Pembelajaran Alokasi
Waktu Nilai Karakter 1. Kegiatan Pendahuluan
a. Apresepsi
Guru mempersiapkan kelas untuk pembelajaran (memeriksa kebersihan kelas, menyampaikan salam, berdo’a, absensi dan pengumpulan tugas).
b. Memotivasi
Guru memberi pengantar tentang pokok bahasan baru yaitu sumber penyimpangan.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
10 menit Religius Disiplin
Rasa ingin tahu
2. Kegiatan Inti a. Eksplorasi
Guru menyajikan pelajaran dan siswa
mendengarkan penjelasan guru tentang sumber penyimpangan.
b. Elaborasi
Siswa dibagi ke dalam kelompok yang beranggotakan 4-5 orang.
Siswa memilih sub topik yang ingin mereka
Siswa memilih sub topik yang ingin mereka