BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN
6.2 Saran
a. Sebaiknya kegiatan PKPA di Kemenkes RI dilaksanakan dengan waktu yang
b. Sebaiknya penempatan peserta PKPA sesuai dengan peminatan studi yang diambil, misalnya di Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian ditempatkan peserta PKPA yang memiliki peminatan di bidang yang sama, seperti peminatan pelayanan.
c. Sosialisasi program pemerintah mengenai pelayanan informasi obat lebih
ditingkatkan agar masyarakat bisa memperoleh penjelasan yang akurat mengenai obat dan pengobatan terutama masyarakat di pedalaman.
d. Pedoman-pedoman yang telah dibuat sebaiknya didistribusikan ke sarana
DAFTAR REFERENSI
Menteri Kesehatan RI. (2005). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1575/Menkes/PER/XI/2005 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Menteri Kesehatan RI. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1144/MENKES/PER/VIII/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Menteri Kesehatan RI. (2011a). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 021/MENKES/SK/I/2011 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Menteri Kesehatan RI. (2011b). Profile Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2010. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Menteri Kesehatan RI. (2012). Modul Penggerakan Penggunaan Obat Rasional.
Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.
Presiden Republik Indonesia. (2009a). Peraturan Presiden No. 47 tahun 2009 nomor 144 tentang pembentukan dan organisasi kementerian negara. Presiden Republik Indonesia. (2009b). Undang-undang Republik Indonesia
mpi ra n 1.S trukturO rga nisasiKe mentr ianK es eha ta nRepubli k Ind one sia
Lampiran 2. Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
4
UNIVERSITAS INDONESIA
PELAYANAN KEFARMASIAN DI INTENSIVE CARE UNIT
(ICU)
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
EDI KURNIAWAN, S. Farm 1106153164
ANGKATAN LXXVI
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
JUNI 2013
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR ... iii DAFTAR LAMPIRAN ... iv BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Tujuan ... 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Intensive Care Unit ... 3 2.2 Ruang Lingkup Pelayanan di ICU ... 3 2.3 Kriteria pasien ... 3 2.4 Alur Pelayanan ICU ... 4 2.5 Indikasi Masuk dan Keluar ICU ... 5 2.6 Pelayanan Kefarmasian di ICU ... 8 2.7 Prinsip Peresepan Obat di Ruang ICU ... 13 2.8 Obat- Obat yang diperlukan di Ruang ICU ... 13 BAB 3 METODOLOGI PENGKAJIAN
3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian ... 15 3.2 Metode Pengkajian ... 15 BAB 4 PEMBAHASAN………16 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ... 19 5.2 Saran ... 19 DAFTAR ACUAN ... 20
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Obat-obat kardiovaskular ... 23 Lampiran 2. Obat-obat saluran pernapasan ... 29 Lampiran 3. Sedatif, Analgetik, dan Delirum ... 30 Lampiran 4. Relaksan Otot ... 31 Lampiran 5. Antikoagulan ... 32 Lampiran 6. Obat-obat Endokrin ... 34 Lampiran 7. Obat-obat gastrointestinal ... 36 Lampiran 8. Antibiotik ... 37 Lampiran 9. Cairan Elektrolit ... 42
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan merupakan hak setiap orang yang dijamin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang harus diwujudkan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Peningkatan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) di Rumah Sakit secara terus menerus ditingkatkan sejalan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran. Pengembangan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit juga diarahkan guna meningkatkan mutu dan keselamatan pasien serta efisiensi biaya dan kemudahan akses segenap masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan (Menteri Kesehatan RI, 2010b).
Ruang Perawatan Intensif (ICU=Intensive Care Unit) adalah bagian dari bangunan rumah sakit dengan kategori pelayanan kritis, selain instalasi bedah dan instalasi gawat darurat. Ruang Perawatan Intensif merupakan instalasi pelayanan khusus di rumah sakit yang menyediakan pelayanan yang komprehensif dan berkesinambungan selama 24 jam. Dalam rangka mewujudkan Ruang Perawatan Intensif yang memenuhi standar pelayanan dan persyaratan mutu, keamanan dan keselamatan perlu didukung oleh bangunan dan prasarana (utilitas) yang memenuhi persyaratan teknis (Kementerian Kesehatan RI, 2012).
Rumah sakit sebagai salah satu penyedia pelayanan kesehatan yang mempunyai fungsi rujukan harus dapat memberikan pelayanan ICU yang profesional dan berkualitas dengan mengedepankan keselamatan pasien. Pada unit perawatan intensif (ICU), perawatan untuk pasien dilaksanakan dengan melibatkan berbagai tenaga profesional yang terdiri dari multidisiplin ilmu yang bekerja sama dalam tim. Pengembangan tim multi disiplin yang kuat sangat penting dalam meningkatkan keselamatan pasien. Selain itu dukungan sarana, prasarana serat peralatan juga diperlukan dalam rangka meningkatkan pelayanan ICU (Menteri Kesehatan RI, 2010a).
Pelayanan Farmasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pelayanan lain di rumah sakit, oleh karena itu diperlukan upaya untuk
mengarahkan kesatuan pandang para apoteker menuju terwujudnya peningkatan mutu pelayanan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan guna mencapai peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Pelayanan kefarmasian di ruang ICU bertujuan untuk memberikan terapi obat yang tepat, aman, rasional dan efisien untuk pasien dalam kerjasama dan tanggung jawab bersama dengan profesional kesehatan lainnya. Dengan demikian, sistem yang efektif dalam penulisan resep, pengeluaran dan memberikan terapi obat yang optimal harus dibentuk, untuk mengurangi morbiditas terkait obat.
1.2. Tujuan
Tujuan dari tugas khusus ini adalah:
a. Mengetahui peran apoteker dalam memberikan pelayanan kefarmasian
di ICU.
b. Mengetahui pelayanan apa saja yang dapat diberikan apoteker di ICU.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Intensive Care Unit
Intensive Care Unit (ICU) adalah suatu bagian dari rumah sakit yang mandiri (instalasi di bawah direktur pelayanan), dengan staf yang khusus dan perlengkapan yang khusus yang ditujukan untuk observasi, perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit, cedera atau penyakit-penyakit yang mengancam nyawa atau potensial mengancam nyawa. ICU menyediakan kemampuan dan sarana, prasarana serta peralatan khusus untuk menunjang fungsi-fungsi vital dengan menggunakan keterampilan staf medik, perawat, dan staf lain yang berpengalaman dalam mengelola keadaan tersebut (Menteri Kesehatan RI, 2010).
2.2. Ruang Lingkup Pelayanan ICU (Menteri Kesehatan RI, 2010) Ruang lingkup pelayanan yang diberikan di ICU adalah sebagai berikut:
a. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit-penyakit akut yang
mengancam nyawa dan dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit sampai beberapa hari.
b. Memberi bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekaligus melakukan
pelaksanaan spesifik problema dasar.
c. Pemantauan fungsi vital tubuh dan penatalaksanaan terhadap komplikasi yang
ditimbulkan oleh penyakit atau iatrogenik.
d. Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang kehidupannya sangat
tergantung pada alat/mesin dan orang lain.
2.3. Kriteria Pasien
Pada dasarnya pasien yang dirawat di ICU adalah pasien dengan gangguan akut yang diharapkan pulih kembali mengingat ICU adalah tempat perawatan yang memerlukan biaya tinggi dilihat dari segi peralatan dan tenaga. Pasien yang dirawat di ICU adalah (Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, 2011):
b. Pasien yang memerlukan pengelolaan fungsi sistem organ tubuh secara terkoordinasi dan berkelanjutan sehingga dapat dilakukan pengawasan yang konstan dan metode terapi titrasi.
c. Pasien sakit kritis yang memerlukan pemantauan kontinyu dan tindakan segera
untuk mencegah timbulnya dekomposisi fisiologis.
Dasar pengelolaan pasien ICU adalah pendekatan multidisiplin tenaga kesehatan dari beberapa disiplin ilmu terkait yang dapat memberikan kontribusinya sesuai dengan bidang keahliannya dan bekerja sama di dalam tim yang dipimpin oleh seorang dokter intensivis sebagai ketua tim. Kegiatan pelayanan pasien di ICU di samping multi disiplin juga antar profesi, yaitu profesi medik, profesi perawat, dan profesi lain. Agar dicapai hasil optimal maka perlu peningkatan mutu SDM secara berkelanjutan, menyeluruh, dan mencakup semua profesi (Menteri Kesehatan RI, 2010).
Kebutuhan pelayanan kesehatan pasien ICU adalah tindakan resusitasi yang meliputi dukungan hidup untuk fungsi-fungsi vital seperti Airway (fungsi jalan napas), breathing (fungsi pernapasan), Circulation (fungsi sirkulasi), Brain (fungsi otak), dan fungsi organ lain, dilanjutkan dengan diagnosis dan terapi definitif (Menteri Kesehatan RI, 2010).
2.4. Alur Pelayanan ICU (Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, 2011) Pasien yang memerlukan pelayanan ICU dapat berasal dari:
a. Pasien dari IGD
b. Pasien dari HCU
c. Pasien dari kamar operasi atau kamar tindakan lain, seperti kamar bersalin,
ruang endoskopi, ruang dialisis, dan sebagainya.
Gambar 2.1 Alur Pelayanan ICU di RS (Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, 2011)
2.5. Indikasi Masuk dan Keluar ICU (Menteri Kesehatan RI, 2010)
Tujuan dari pelayanan adalah memberikan pelayanan medik tertitrasi dan berkelanjutan serta mencegah fragmentasi pengelolaan. Pasien sakit kritis meliputi:
a. Pasien-pasien yang secara fisiologis tidak stabil dan memerlukan dokter,
perawat, profesi lain yang terkait secara terkoordinasi dan berkelanjutan, serta memerlukan perhatian yang teliti, agar dapat dilakukan pengawasan yang ketat dan terus menerus serta terapi titrasi;
b. Pasien-pasien yang dalam bahaya mengalami dekompensasi fisiologis sehingga
memerlukan pemantauan ketat dan terus menerus serta dilakukan intervensi segera untuk mencegah timbulnya penyulit yang merugikan.
Sebelum pasien dimasukkan ke ICU, pasien dan/atau keluarganya harus mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai dasar pertimbangan mengapa pasien harus mendapatkan perawatan di ICU, serta tindakan kedokteran yang mungkin akan dilakukan selama pasien dirawat di ICU. Penjelasan tersebut diberikan oleh Kepala ICU atau dokter yang bertugas. Atas penjelasan tersebut pasien dan/atau keluarganya dapat menerima/menyatakan persetujuan untuk
dirawat di ICU. Persetujuan dinyatakan dengan menandatangani formulir informed consent.
Pada keadaan sarana dan prasarana ICU yang terbatas pada suatu rumah sakit diperlukan mekanisme untuk membuat prioritas apabila kebutuhan atau permintaan akan pelayanan ICU lebih tinggi daripada kemampuan pelayanan yang dapat diberikan. Kepala ICU akan bertanggung jawab atas kesesuaian indikasi perawatan pasien di ICU. Bila kebutuhan masuk ICU melebihi tempat tidur yang tersedia, kepala ICU menentukan berdasarkan prioritas medik, pasien mana yang akan dirawat di ICU. Prosedur untuk melaksanakan kebijakan ini harus dijelaskan secara rinci untuk tiap ICU.
a. Kriteria masuk
ICU memberikan pelayanan antara lain pemantauan yang canggih dan terapi yang intensif. Dalam keadaan kebutuhan penggunaan tempat tidur yang tinggi, pasien yang memerlukan terapi intensif (prioritas 1) didahulukan dibandingkan pasien yang memerlukan pemantauan intensif (prioritas 3). Penilaian objektif atas beratnya penyakit dan prognosis hendaknya digunakan untuk menentukan prioritas masuk ke ICU.
1) Pasien prioritas 1 (satu)
Kelompok ini merupakan pasien sakit kritis, tidak stabil yang memerlukan terapi intensif dan tertitrasi, seperti: dukungan/bantuan ventilasi dan alat bantu suportif organ sistem yang lain, infus obat-obat vasoaktif kontinyu, obat anti aritmia kontinyu, pengobatan kontinyu tertitrasi, dan lain-lainnya. Contoh pasien kelompok ini antara lain, pasca bedah kardiotoksik, pasien sepsis berat, gangguan keseimbangan asam basa dan elektroit yang mengancam nyawa. Institusi setempat dapat membuat kriteria spesifik untuk masuk ICU, seperti derajat hipoksemia, hipotensi di bawah tekanan darah tertentu. Terapi pada pasien prioritas 1 (satu) umumnya tidak mempunyai batas.
2) Pasien prioritas 2 (dua)
Pasien ini memerlukan pelayanan pemantauan canggih di ICU, sebab sangat beresiko bila tidak mendapatkan terapi intensif segera, misalnya pemantauan intensif menggunakan pulmonary arterial catheter. Contoh
pasien seperti ini antara lain mereka yang menderita penyakit dasar jantung paru, gagal ginjal akut dan berat atau yang telah mengalami pembedahan major. Terapi pada pasien prioritas 2 tidak mempunyai batas, karena kondisi mediknya senantiasa berubah.
3) Pasien prioritas 3 (tiga)
Pasien golongan ini adalah pasien sakit kritis, yang tidak stabil status kesehatan sebelumnya, penyakit yang mendasarinya, atau penyakit akutnya, secara sendirian atau kombinasi. Kemungkinan sembuh dan/atau manfaat terapi di ICU pada golongan ini sangat kecil. Contoh pasien ini antara lain pasien dengan keganasan metastatik disertai penyakit infeksi, pericardial tamponade, sumbatan jalan napas, atau pasien penyakit jantung, penyakit paru terminal disertai komplikasi penyakit akut berat. Pengelolaan pada pasien golongan ini hanya untuk mengatasi kegawatan akutnya saja, dan usaha terapi mungkin tidak sampai melakukan intubasi atau resusitasi jantung paru.
4) Pengecualian
Dengan pertimbangan luar biasa, dan atas persetujuan kepala ICU, indikasi masuk pada beberapa golongan pasien bisa dikecualikan, dengan catatan bahwa pasien-pasien golongan demikian sewaktu waktu harus bisa dikeluarkan dari ICU agar fasilitas ICU yang terbatas tersebut dapat digunakan untuk pasien prioritas 1,2,3 (satu, dua, tiga). Pasien yang tergolong demikian antara lain :
Pasien yang memenuh kriteria masuk tetapi menolak terapi penunjangan
hidup yang agresif dan hanya demi “perawatan yang aman” saja. Ini tidak menyingkirkan pasien dengan perintah “DNR (Do Not Resuscitate)”. Sebenarnya pasien-pasien ini mungkin mendapat manfaat dari tunjangan canggih yang tersedia di ICU untuk meningkatkan kemungkinan survivalnya.
Pasien dalam keadan vegetatif permanen
Pasien yang telah dipastikan mengalami mati batang otak. Pasien-pasien
seperti itu dapat dimasukan ke ICU untuk menunjang fungsi organ hanya untuk kepentingan donor organ.
b. Kriteria Keluar
Prioritas pasien dipindahkan dari ICU berdasarkan pertimbangan medis oleh kepala ICU dan tim yang merawat pasien.
2.6. Pelayanan Kefarmasian di Ruang ICU
Pelayanan kefarmasian di ruang ICU bertujuan untuk memberikan terapi obat yang tepat, aman, rasional dan efisien untuk pasien dalam kerjasama dan tanggung jawab bersama dengan profesional kesehatan lainnya. Dengan demikian, sistem yang efektif dalam penulisan resep, pengeluaran dan memberikan terapi obat yang optimal harus dibentuk, untuk mengurangi morbiditas terkait obat (Marti, M. C., and N. V. J Torres, 2001).
Pelayanan primer (essensial) di ruang ICU terdiri dari:
a. Distribusi obat dan pengawasan inventori
b. Monitoring terapi obat
c. Manajemen terapi obat
d. Evaluasi penggunaan obat
e. Monitoring dan pelaporan reaksi obat yang merugikan
f. Pelayanan nutrisi penunjang
g. Informasi obat
h. Konsultasi farmakokinetik
Pelayanan optimal harus dilakukan dan tergantung dari sumber daya dan besarnya institusi tersebut. Adapun hal-hal yang sebaiknya ada:
a. Spesialis farmasi yang praktik full time di ICU
b. Pendidikan
c. Penelitian obat
d. Dokumentasi aktivitas klinik
2.6.1. Distribusi obat dan pengawasan inventori (Marti, M. C., and N. V. J Torres, 2001)
Kesesuaian, akurasi, dan penyaluran obat-obatan kepada pasien tepat waktu harus menjadi tanggung jawab farmasis. Preparasi dan distribusi obat dapat dilakukan dengan berbagai cara. Metode yang dipilih tergantung dari adanya
pilihan dan kebutuhan dari dokter, farmasis dan staf perawat, dan ketersediaan sumber daya. Hal yang sudah umum dilakukan pada semua metode adalah mengurangi waktu yang dibutuhkan oleh perawat dan staf medis dalam mengumpulkan dan mempersiapkan medikasi dan memaksimalkan keselamatan pasien melalui pembatasan pemilihan obat, jumlah, dan jenis sediaan. Preparasi dan distribusi obat tidak harus selalu dilakukan oleh apoteker. Petugas teknis pun dapat melakukan preparasi dan distribusi obat namun harus berada dibawah pengawasan seorang apoteker.
Farmasis, bersama-sama dengan profesi kesehatan lainnya
mengembangkan kriteria dalam menentukan produk obat dan jumlah yang akan disimpan dan perbedaan akses terhadap obat tersebut ketika dibutuhkan. Sehingga inventori dapat dikurangi dalam jumlah yang seminimal mungkin dengan mempertimbangkan profil penggunaan obat dan tren terapi. Farmasis harus menetapkan kriteria eksklusi berdasarkan kondisi penyimpanan khusus atau preparasi khusus yang diperlukan, waktu kadaluarsa, atau resiko terhadap pasien dan profesi kesehatan. Obat-obatan dikemas dan diadministrasikan dalam kemasan single unit atau unit dose, obat-obatan harus diserahkan dalam bentuk yang siap untuk digunakan. Pengecekan terhadap keamanan harus dilakukan setiap hari oleh teknisi farmasis untuk memastikan penyimpanan, distribusi, akses, identifikasi, dan integritas produk yang benar.
Sistem yang digunakan harus mendukung apoteker dalam menyediakan informasi tentang rute dan metode administrasi yang direkomendasikan, pemilihan cairan, konsentrasi maksimum, dan lain sebagainya. Profil pengobatan pasien harus menjadi perhatian apoteker untuk tiap masing-masing pasien. Apoteker juga harus dapat mengindentifikasi, mencegah, dan mengatasi masalah terkait pengobatan.
2.6.2. Monitoring Terapi Obat
Monitoring terapi obat mencakup pengkajian kesesuaian regimen pengobatan dengan kondisi klinis pasien. Hal ini terdiri dari pemilihan obat, ketepatan dosis, rute pemberian obat, pemilihan waktu pengulangan pemberian obat untuk mendapatkan hasil yang tepat dalam menentukan kadar obat dalam
serum, pemilihan pengencer dan jumlah volume infus yang dibutuhkan oleh pasien, interaksi obat dengan obat, obat dengan penyakit dan obat dengan nutrisi, efek samping obat yang potensial, pemilihan terapi dengan biaya yang efisien, tingkat kepatuhan pasien dengan regimen pengobatan serta mencegah dan mengatasi masalah yang terkait dengan obat (drug related problems) (Marti, M. C., and N. V. J Torres, 2001).
2.6.3. Manajemen Terapi Obat
Menurut keputusan MenKes RI No.1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit bahwa manajemen obat rumah sakit harus dievaluasi secara periodik agar tujuan dapat tercapai yaitu tersedianya obat pada saat dibutuhkan. Evaluasi dalam manajemen obat digunakan untuk melihat gambaran keefisienan suatu sistem manajemen dengan memanfaatkan indikator-indikator yang khas untuk sistem tersebut sehingga dapat dilihat apakah tiap tahap manajemen obat berlangsung dengan selaras, serasi dan seimbang atau tidak (Menteri Kesehatan RI, 2004).
Untuk mengidentifikasi, memecahkan, dan mencegah permasalahan terapi obat, farmasis harus memastikan bahwa hal-hal berikut telah dipenuhi (Jones, R. M. and Raylene M. R. 2008):
a. Pasien memiliki indikasi yang tepat untuk setiap obat yang mereka minum.
b. Terapi obat pasien efektif
c. Terapi obat pasien aman
d. Pasien dapat patuh pada terapi obat dan aspek lain dalam rencana asuhan
mereka.
e. Pasien memiliki seluruh terapi obat yang diperlukan untuk mengatasi berbagai
indikasi yang tidak ditangani
Untuk memenuhi berbagai tanggung jawab dan mencapai tujuan-tujuan terapi (yaitu: terapi obat yang tepat, efektif, aman, nyaman, dan ekonomis), farmasis harus menggunakan suatu proses yang konsisten, sistematis, dan menyeluruh. Proses dimulai dari memprakarsai hubungan dengan pasien. Pada tahap selanjutnya, farmasis mengumpulkan seluruh informasi yang berkaitan untuk mengevaluasi permasalahan kesehatan pasien dan terapi obat secara tepat.
Informasi yang diperoleh dapat bersifat subjektif maupun objektif. Informasi subjektif adalah gejala-gejala yang dialami atau keluhan utama pasien, kondisi kesehatan umum dan tingkat aktivitas, riwayat atau penyakit yang sedang dialami, riwayat medis masa lampau, dan riwayat sosial. Sedangkan data objektif seperti tanda-tanda vital dan hasil uji laboratorium (Jones, R. M. and Raylene M. R. 2008).
2.6.4. Evaluasi Penggunaan Obat
Kegiatan evaluasi penggunaan obat di ruang ICU terdiri dari mengumpulkan data, menganalisis data, membuat rekomendasi dan melakukan tindak lanjut. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan melakukan koordinasi dengan tenaga kesehatan lainnya (Marti, M. C., and N. V. J Torres, 2001).
2.6.5. Monitoring dan Pelaporan Reaksi Obat yang Merugikan (Menteri Kesehatan RI, 2004)
Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi. Tujuan monitoring dan pelaporan efek samping obat yaitu:
a. Menemukan ESO (Efek Samping Obat) sedini mungkin terutama yang berat,
tidak dikenal, frekuensinya jarang.
b. Menentukan frekuensi dan insidensi ESO yanng sudah dikenal sekali yang baru
saja ditemukan.
c. Mengenal semua faktor yang mungkin dapat menimbulkan/mempengaruhi
timbulnya ESO atau mempengaruhi angka kejadian dan hebatnya ESO. 2.6.6. Pelayanan Nutrisi Penunjang
Pelayanan gizi klinik dan asuhan gizi merupakan bagian dari pelayanan medis untuk penyembuhan pasien yang diselenggarakan secara terpadu dengan upaya pelayanan gizi promotif, preventif dan rehabilitatif. Tujuannya yaitu tercapainya pelayanan gizi yang optimal sebagai bagian terapi dalam pelayanan holistik kepada pasien sehingga dapat mengurangi morbiditas, mortalitas dan lama rawat yang panjang (Depkes RI,2009).
2.6.7. Informasi Obat
Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh apoteker untuk memberikan informasi secara akurat, tidak bias dan terkini kepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien. Tujuannya yaitu menyediakan informasi mengenai obat kepada pasien dan tenaga kesehatan di lingkungan rumah sakit serat menunjang terapi obat yanng rasional (Menteri Kesehatan RI, 2004).
2.6.8. Manajemen Farmakokinetik dan konsultasi
Menentukan dosis obat menggunakan prinsip farmakokinetik merupakan fungsi penting dari apoteker ICU. Apoteker mampu menyediakan pelayanan farmakokinetik yang komprehensif. Hal ini berarti sebelum mengambil sampel serum, apoteker dapat berdiskusi mengenai saran yang akan diberikan dengan dokter. Melalui review kondisi pasien sebelumnya (bila ada) dan memperkirakan waktu paruh obat, memperhatikan apakah kondisi pasien dapat mempengaruhi distribusi obat didalam tubuh, dan pada akhirnya memberikan rekomendasi regimen dosis kepada pasien (Marti, M. C., and N. V. J Torres, 2001).
2.6.9. Ronde
Apoteker dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan ronde dengan tim kesehatan ICU setiap hari. Selama kegiatan ronde apoteker dapat memberikan saran dan rekomendasi kepada dokter mengenai terapi obat (Marti, M. C., and N. V. J Torres, 2001).
2.6.10. Dokumentasi aktivitas klinik
Apoteker harus mendokumentsikan akitvitas klinik dan mengidentifikasi aktivitas yang mengarah kepada peningkatan kondisi pasien dan meminimalkan biaya. Informasi diperlukan oleh apoteker untuk membuktikan peranannya dan kebutuhan akan apoteker dalam pelayanan kesehatan. Hal ini merupakan satu-satunya cara yang dapat digunakan untuk menggambarkan pengaruh apoteker
terhadap kondisi pasien dan dapat memberikan informasi kepada dokter dan perawat (Marti, M. C., and N. V. J Torres, 2001).
2.7. Prinsip peresepan obat di ruang ICU
Prinsip dalam peresepan obat di ruang ICU antara lain (Royal Adelaide Hospital, 2012) :
a. Obat-obatan harus diresepkan berdasarkan protokol dan pedoman yang
berlaku.
b. Kondisi kritis pasien dihubungkan dengan farmakokinetik dan
farmakodinamik, dengan potensial toksisitas dan interaksi obat.
c. Pertimbangan pemilihan:
1) Gunakan obat yang dapat dengan mudah untuk diresepkan
2) Gunakan obat yang dapat dimonitor efek terapi nya
3) Hindari obat dengan efek terapi sempit, terutama pada pasien dengan
disfungsi renal dan hati
4) Berhenti menggunakan obat yang efek nya tidak jelas
5) Jika dua obat mempunya efek terapi yang sama, pilih obat dengan harga
yang murah
d. Peresepan sebaiknya menggunakan obat generic
e. Jika ada perubahan pengobatan (e.g. mengganti antibiotik dengan yang lain,