• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 60-100)

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.2 Saran

a. Kebersihan alat peracikan perlu diperhatikan guna menjamin efektifitas obat. Terutama untuk obat racikan yang mengandung betalaktam sebaiknya mempunyai alat racik sendiri.

b. Apoteker lebih berperan aktif dalam kepuasan pelanggan terkait dengan pelayanan informasi obat selama jam kerja.

c. Setiap karyawan sebaiknya lebih bertanggung jawab mengenai persediaan barang berdasarkan tanggung jawab rak masing-masing untuk mencegah kekosongan barang.

d. Sebaiknya jumlah barang yang tersisa ditulis dalam kartu stok agar dapat mempermudah pengontrolan persediaan barang.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1978. Peraturan Menteri Kesehatan No. 28/Menkes/Per/I/1978 tentang Penyimpanan Narkotika. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1980. Apotek. Dalam Peraturan

Menteri Kesehatan Nomor 25 Tahun 1980. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1993. Peraturan Menteri Kesehatan No. 922 Tahun 1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1990. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 347/MenKes/SK/VII/1990 Tentang Obat Wajib Apotek. Jakarta Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1997. Undang-Undang No. 5 tahun

1997 tentang Psikotropika. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2002. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1322/Menkes/SK/X/2002 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2004. Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/Sk/IX/2004. Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta

Handayani, Rini Sasanti., Raharni., Gitawati, Retno. 2009. Persepsi Konsumen Terhadap Pelayanan Apotek Di Tiga Kota Di Indonesia. Makara, Kesehatan, Vol. 13, No.1, Juni 2009: 22-36

Presiden Republik Indonesia. 2009. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Jakarta.

PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. 2009. Mutu Pelayanan Kefarmasian dan Pengendalian Mutu. Dalam Panduan Materi PKPA di Apotek Kimia Farma. Jakarta

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. .2009. Undang-Undang No. 35 tahun 2009 Tentang Narkotika. Jakarta.

Lampiran 1. Struktur Organisasi PT. Kimia Farma Apotek Direktur Utama KFA Direktur Operasional Manajer Bisnis Strata A Supervisor

Pengadaan Supervisor Adm dan Keu

Adm Hutang Dagang Adm Piutang Dagang Pemegang Kas Umum/SDM Apoteker Pengelola Apotek Kepala Pelayanan Farmasi / APIM Swalayan Farmasi Layanan Farmasi Manajer Bisnis

Strata B Manajer Bisnis Strata C Direktur SDM

Lampiran

Lampiran3. Lay Out Apotek Kimia Farma No. 7 Bogor

Lantai 1

Lampiran 8. Bon Permintaan Barang Apotek

BON PERMINTAAN BARANG APOTEK (BPBA)

TANGGAL: No. Urut:

No. NAMA SATUAN JUMLAH JUMLAH SISA KET.

BARANG YANG YANG PERSEDIAAN

DIMINTA DIBERIKAN DI GUDANG

PJ PENERIMA PJ PJ

Lampiran 1

Lampiran 1

Lampiran 13. Laporan Ikhtisar Penerimaan Harian (LIPH)

PT. Kimia Farma Apotek Apotek KF No. 7

Jl. Juanda No. 30. Bogor

Laporan Ikhtisar Penerimaan Harian-Rekap Shift: Total Operator: Seluruh

Tanggal : 20/10/2011 Hal: 1/1

No. Nama Pelayanan L/R Nomor Kd. Tanggal Tunai Kredit Jumlah Disc. Tag PENJUALAN TUNAI 1 Obat Bebas 2 Retur Tunai 3 Resep Tunai 4 Resep UPDS Sub Total PENJUALAN KREDIT 1 Kartu Debit 2 Kartu Kredit Sub Total TOTAL TUNAI: SETORAN:

BERITA ACARA PEMUSNAHAN PERBEKALAN FARMASI

Pada hari ini kamis tanggal tiga belas bulan Januari tahun dua ribu sebelas sesuai dengan peraturan menteri kesehatan No. 922/MENKES/PER/X/1993 tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek.

Nama Apoteker Pengelola Apotek : Drs. Syarifuddin, Apt.

SIK No. : ……… Tanggal ………

Nama Apotek : Apotek Kimia Farma Unit Bisnis Bogor Alamat Apotek : Jl. Ir. H. Djuanda No. 30 Bogor

Telah melakukan pemusnahan : Perbekalan farmasi sebagaimana tercantum dalam daftar terlampir

Tempat melakukan pemusnahan : Halaman belakang Apotek Kimia Farma Jl. Ir H. Djuanda No. 30 Bogor

Berita acara ini kami buat sesungguhnya dengan penuh tanggung jawab Berita acara ini dibuat dalam rangkap 2 (dua) dan dikirimkan kepada :

1. Kepala kantor wilayah departemen kesehatan propinsi jawa barat 2. Kepala Balai Pemeriksaan Obat dan Makanan di Bogor

Karyawan yang membantu

(………)

Bogor, 13 Januari 2011 Yang membuat Berita Acara

(Drs. Syarifuddin, Apt) SIK ……….

PREKURSOR NARKOTIKA YANG TERKANDUNG DI

DALAM OBAT BEBAS DAN OBAT BEBAS TERBATAS

TUGAS KHUSUS

YUDHO PRABOWO

FAKULTAS MATEMATIKA DAN

PROGRAM PROFESI APOTEKER

PREKURSOR NARKOTIKA YANG TERKANDUNG DI

DALAM OBAT BEBAS DAN OBAT BEBAS TERBATAS

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

YUDHO PRABOWO, S.Farm.

1006835596

ANGKATAN LXXIII

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROFESI APOTEKER – DEPARTEMEN FARMASI

DEPOK

DESEMBER 2011

PREKURSOR NARKOTIKA YANG TERKANDUNG DI

DALAM OBAT BEBAS DAN OBAT BEBAS TERBATAS

K KERJA PROFESI APOTEKER

ILMU PENGETAHUAN ALAM

FARMASI

HALAMAN JUDUL... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR LAMPIRAN ... iii BAB 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA... 3 2.1 Narkotika ... 3 2.2 Prekursor Narkotika ... 4 2.3 Pelayanan Obat Non Resep ... 11 BAB 3. PEMBAHASAN ... 12

BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN ... 14 6.1 Kesimpulan ... 14 6.2 Saran... 14 DAFTAR ACUAN... 15

Lampiran 1. Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas Yang Mengandung Efedrin ... 17 Lampiran 2. Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas Yang Mengandung

Pseudoefedrin ... 18 Lampiran 3. Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas Yang Mengandung

1.1. Latar Belakang

Penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan psikotropika saat ini telah

mencapai situasi yang mengkhawatirkan. Pengaruh arus globalisasi dibidang

informasi, transportasi, dan modernisasi merupakan faktor pendorong terhadap

maraknya peredaran gelap narkotika dan psikotropika. Berbagai upaya pencegahan

terhadap penyalahgunaan dan peredaran narkotika dan psikotropika telah dilakukan

antara lain dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang

Narkotika. Dalam undang-undang tersebut dilakukan pengawasan yang ketat terhadap

narkotika sejak pengadaan bahan baku sampai dengan penggunaannya (Presiden

Republik Indonesia, 2009).

Namun demikian peredaran gelap yang berkembang saat ini tidak hanya

narkotika dan psikotropika, tetapi sudah merambah kepada bahan yang digunakan

untuk membuat narkotika dan psikotropika yang lazimnya disebut ‘prekursor’. Pada

dasarnya prekursor digunakan secara resmi di industri farmasi sebagai bahan baku,

bahan untuk pembuatan bahan baku obat, industri makanan, industri kimia, dan

industri lainnya. Tetapi ada sebagian oknum yang diduga menyalahgunakan dan

menyimpang ke jalur yang tidak resmi untuk dijadikan sebagai bahan baku

pembuatan narkotika dan psikotropika.

Peningkatan penyalahgunaan prekursor dalam pembuatan narkotika dan

psikotropika telah menjadi ancaman yang sangat serius yang dapat menimbulkan

gangguan bagi kesehatan, instabilitas ekonomi, gangguan keamanan, serta kejahatan

internasional oleh karena itu perlu diawasi secara ketat agar dapat digunakan sesuai

peruntukannya. Dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

No. 44 tahun 2010 tentang golongan dan jenis prekursor mengatur lebih ketat

mengenai peredaran dan penggunaan prekursor narkotika (Presiden Republik

Indonesia, 2009).

Saat ini konsumen apotek tidak lagi bisa bebas membeli produk maupun

obat-obat yang kandungan didalamnya terdapat prekursor narkotik. Dalam pasal 129 UU

No. 35 tahun 2009 tentang narkotika dijabarkan bahwa perbuatan menawarkan

prekursor untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual

beli, menukar, atau menyerahkan prekursor narkotika untuk pembuatan narkotika

akan dipidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama 20 tahun dan

denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,-. Oleh karena itu untuk menghindari

terjadinya pelanggaran karena dianggap melakukan peredaran zat-zat tersebut maka

sebagai Apoteker yang bertanggung jawab dalam apotek harus mengetahui produk

atau obat-obat yang mengandung prekursor narkotika khususnya untuk obat-obat

yang dapat dibeli tanpa menggunakan resep.

1.2. Tujuan

Mengetahui prekursor narkotika yang terkandung dalam obat bebas dan obat

bebas terbatas.

2.1 Narkotika (Departemen Kesehatan RI, 2009)

Istilah narkotika yang dikenal di Indonesia berasal dari bahasa Inggris Narcotics yang berarti obat bius, yang sama artinya dengan kata Narcotics, dalam bahasa yunani yang berarti menidurkan atau membiuskan. Menurut UU Narkotika No. 35 Tahun 2009, narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Pengaturan tentang Narkotika bertujuan :

a. Menjamin ketersediaan narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

b. Mencegah, melindungi, dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan narkotika.

c. Memberantas peredaran gelap narkotika dan prekusor narkotika.

d. Menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalahgunaan dan pecandu Narkotika.

Peredaran narkotika meliputi setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan penyaluran atau penyerahan narkotika, baik dalam rangka perdagangan, bukan perdagangan, maupun pemindah tanganan, untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Narkotika dalam bentuk obat jadi hanya dapat diedarkan setelah mendapatkan izin edar dari Menteri. Narkotika hanya dapat disalurkan oleh Industri Farmasi, pedagang besar farmasi, dan sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang. Industri Farmasi tertentu hanya dapat menyalurkan narkotika kepada pedagang besar farmasi tertentu, apotek, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah tertentu, dan rumah sakit. Penyerahan narkotika hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dan dokter. Apotek hanya dapat menyerahkan

narkotika kepada rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, apotek lainnya, balai pengobatan, dokter, dan pasien.

2.1.1 Penggolongan Narkotika (Departemen Kesehatan RI, 2009) Narkotika dibedakan ke dalam beberapa golongan:

a. Narkotika Golongan I

Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, dan tidak ditujukan untuk terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan.

Contoh : tanaman Papaver somniferum L, tanaman koka (tanaman dari semua genus Erythoxylon dari keluarga Erythroxylaceae termasuk buah dan bijinya), tanaman ganja (semua tanaman genus cannabis dan semua bagian dari tanaman termasuk biji, buah, jerami, hasil olahan tanaman ganja atau bagian tanaman ganja termasuk damar ganja dan hasis). b. Narkotika Golongan II

Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin, Fentanil.

c. Narkotika Golongan III

Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.

Contoh : Kodein dan garam-garam, campuran opium dengan bahan baku bukan narkotika serta campuran sediaan difenoksin/difenoksilat dengan bahan bukan narkotika.

2.2 Prekursor Narkotika

Dalam ilmu kimia, prekursor adalah senyawa yang dapat mengalami perubahan untuk menghasilkan senyawa baru dan membutuhkan adanya reagensia lain pada kondisi reaksi tertentu. Sedangkan prekursor menurut International Narcotics Control Board (INCB), prekursor adalah semua bahan kimia utama

yang digunakan untuk pembuatan obat yang berada dalam pengawasan baik berupa materi utama maupun reagensia (seperti pereaksi dan pelarut). Sedangkan menurut PP Nomor 44 tahun 2010, Prekursor adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan narkotika dan psikotropika. Pengaturan prekursor bertujuan untuk :

a. Melindungi masyarakat dari bahaya penyalahgunaan prekursor. b. Mencegah dan memberantas peredaran gelap prekursor.

c. Mencegah terjadinya kebocoran dan penyimpangan prekursor.

d. Menjamin ketersediaan prekursor untuk industri farmasi, industri non farmasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2.2.1 Pengelompokan Prekursor (Presiden Republik Indonesia, 2010)

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 44 tahun 2010, prekursor narkotika dibagi menjadi dua kelompok yaitu sebagai berikut :

a. Kelompok I : Anhidrida asetat, asam fenil asetat, asam lisergat, asam N-asetil antranilat, efedrin, ergometrin, ergotamine, 1-fenil-2-propanon, isosafrol, kalium permanganat, 3,4-metilen dioksifenil-2-propanon, norefedrin, piperonal, pseudoefedrin, safrol

b. Kelompok II : Asam antranilat, asam klorida, asam sulfat, aseton, etil eter, metal etil keton, piperidin, toluene

Sesuai dengan peran/fungsinya prekursor digolongkan menjadi 2 bagian, yaitu prekursor sesungguhnya dan bahan kimia essensial. Prekursor sesungguhnya biasa digunakan untuk pembuatan bahan-bahan yang diawasi dan merupakan elemen yang penting untuk terciptanya produk yang dimaksud. Sedangkan bahan kimia essensial biasa digunakan untuk pembuatan proses kimia pembuatan bahan-bahan yang diawasi, bertindak sebagai pelarut, pereaksi, katalisator, oksidator asam atau basa.

2.2.1.1 Kelompok Efedrin

Asam fenil asetat dalam industri digunakan sebagai bahan untuk pembuatan parfum dan penisilin. Dalam hubungannya sebagai prekursor narkoba,

asam fenil asetat diolah menjadi 1-fenil-2-propanon untuk diproses lebih lanjut menjadi narkoba golongan metamfetamin seperti sabu.

Efedrin, pseudoefedrin dan norefedrin sering ditemukan pada komposisi obat pilek dan flu di Indonesia sebagai dekongestan. Obat pilek berbahan komponen tersebut bekerja dengan menyempitkan pembuluh darah di selaput lendir hidung, sehingga pembentukan lendir berkurang. Diantara ketiga jenis bahan ini, efedrin adalah bahan yang terbaik sebagai obat pilek dan flu jika dilihat dari segi harga dan efek samping obat.

H N OH H N OH OH NH2 Efedrin Pseudoefedrin Norefedrin OH O Asam fenil asetat O

1-Fenil-2-propanon

Gambar 1. Prekursor kelompok efedrin

Efedrin (EPH) adalah alkaloid yang terdapat dalam tumbuhan efedra yang biasa tumbuh di daerah Asia tengah. Tanaman ini biasanya hijau sepanjang tahun dan biji keringnya digunakan sebagai obat. Efedrin biasanya digunakan sebagai obat asma dan penurun berat badan. Efedrin dijual dalam bentuk garam hidroklorida dan sulfat. Efedrin pertama kali diisolasi dari tanaman Ephedra vulgaris pada tahun 1885 oleh Nagayoshi Nagai. Pseudoefedrin (PSE) adalah bentuk distereomer dari efedrin yang biasanya digunakan sebagai dekongestan. Pseudoefedrin selain diperoleh dari tanaman efedra, secara industri diperoleh dari hasil fermentasi dektrosa dengan benzaldehid. Sementara norefedrin yang lebih dikenal sebagai fenil propanolanine (PPA) biasanya digunakan sebagai dekongestan serta untuk mengurangi nafsu makan. Di eropa, d-norpseudoefedrin yang dikenal sebagai katin dan diisolasi dari tanaman Cathat edulis diperdagangkan sebagai PPA.

Secara kimia dilihat dari strukturnya ketiga senyawa ini mempunyai struktur yang mirip. Efedrin sebagai prekursor metamfetanin, pseudoefedrin prekursor metamfetamin, sedangkan fenil propanolamin prekursor amfetamin (INCB, 2010) H N OH H N OH OH NH2 Efedrin Pseudoef edrin Norefedrin/ Fenil propanolamin OH O Asam f enil asetat

O 1-Fenil-2-propanon H N Metamf etamin H N Amfetamin

Amfetam in sulfat Metamfetamin.HCl

H N Metkatinon

O

Gambar 2. Sintesis golongan metamfetamin

2.2.1.2 Kelompok Safrol

Prekursor kelompok safrol adalah safrol, isosafrol, piperonal dan 3,4-metilendioksifenil-2-propanon. O O O O O O O O O O Isosafrol Safrol Piperonal 3,4-Metilendioksifenil-2-propanon

Gambar 3. Prekursor kelompok safrol

Safrol digunakan untuk pembuatan parfum dan piperonal. Piperonal sendiri biasanya digunakan sebagai perasa cerry atau vanilla dan penolak nyamuk.

Isosafrol selain digunakan untuk pembuatan parfum dan piperonal juga digunakan sebagai pestisida. Dalam kaitannya dengan sintesis narkoba, safrol diproses menjadi isosafrol yang selanjutnya diubah menjadi 3,4-metilendioksifenil-2-propanon sebelum diproses menjadi metilendioksimetamfetamin (MDMA, ecstacy) O O O O O O O O O O Isosafrol Safrol Pip eronal 3,4-Metile ndioksifenil-2-propanon intermediet intermediet O O NH2 MDA (Tenamf etamin)

O O

H N

MDMA (Ecstacy)

Gambar 4. Sintesis Golongan MDMA

2.2.1.3 Kelompok Asam Lisergat

Ergotamin dan ergometrin yang biasanya digunakan sebagai obat migrain dapat diolah menjadi asam lisergat yang selanjutnya ditranformasikan menjadi asam lisergat dietilamida (LSD) (INCB, 2010).

N HN H O OH N HN H O NH OH N N O O O HO H N H O N NH H As. Lisergat Ergometrin Ergotamin N HN H O N As. Lisergat dietilamida

2.2.1.4 Kelompok Piperidin

Piperidin lebih dikenal pada pembuatan karet dan plastik, tetapi dalam sintesis narkoba lebih dikenal sebagai prekursor fensiklidin (INCB, 2008).

N H Piperidin N Fensiklidin HCl

Gambar 6. Sintesis fensiklidin

2.2.1.5 Kelompok Asam Antranilat

Asam antranilat biasa digunakan pada pembuatan parfum sedangkan setelah melewati proses asetilasi dengan anhidrida asetat dapat digunakan untuk pembuatan plastik dan penolak serangga. Asam antranilat adalah prekursor untuk pembuatan metakualon (INCB, 2008).

NH2 OH O Asam antranilat NH OH O O

Asam N-asetil antranilat

N N

O Metakualon AC2O

Gambar 7. Sintesis metakualon

2.2.1.6 Kelompok Reagensia

Seperti yang diketahui setiap perubahan dalam reaksi kimia membutuhkan reagensia-reagensia (seperti pereaksi dan pelarut) tertentu agar perubahan itu dapat terjadi. Perubahan itu berupa perubahan struktur kimia yang mengakibatkan terjadinya perubahan sifat fisika dan kimia suatu senyawa. Prekursor yang termasuk kelompok reagensia ini adalah asam sulfat, kalium permanganat, aseton, dietil eter, asam klorida, anhidrida asetat, toluen dan metil etil keton. Prekursor ini biasanya digunakan pada pengolahan narkoba golongan narkotika seperti berikut (INCB, 2008) :

Daun koka H2SO4 pasta koka KMnO4 Kokain

aseton/Et2O O toluen, HCl

Kokain.

Gambar 8. Sintesis kokain.HCl

Opium Morfin Ac2O Heroin aseton

Et2O, HCl Heroin.HCl

Gambar 9. Sintesis heroin.HCl

2.2.2 Peredaran Gelap Prekursor (Presiden Republik Indonesia, 2010)

Peredaran adalah setiap kegiatan atau rangkaian kegiatan penyaluran atau penyerahan Prekursor baik dalam rangka perdagangan, bukan perdagangan maupun pemindahtanganan. Sedangkan, mengenai peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika, merujuk pada Pasal 1 ayat (6) UU Narkotika adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tanpa hak atau melawan hukum yang ditetapkan sebagai tindak pidana narkotika dan prekursor narkotika. Lebih lanjut diatur dalam Pasal 38 UU Narkotika bahwa setiap kegiatan peredaran narkotika wajib dilengkapi dengan dokumen yang sah. Sehingga, tanpa adanya dokumen yang sah, peredaran narkotika dan prekursor narkotika tersebut dianggap sebagai peredaran gelap.

Dalam Pasal 129 UU Narkotika dijabarkan lebih jauh perbuatan-perbuatan yang dapat dipidana dengan pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar dalam hal ada orang yang tanpa hak atau melawan hukum.

a. Memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan prekursor narkotika untuk pembuatan narkotika;

b. Memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan prekursor narkotika untuk pembuatan narkotika;

c. Menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan prekursor narkotika untuk pembuatan narkotika;

d. Membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito prekursor narkotika untuk pembuatan narkotika.

2.3 Pelayanan Obat Non Resep

Pelayanan Obat Non Resep merupakan pelayanan kepada pasien yang ingin melakukan pengobatan sendiri, dikenal dengan swamedikasi. Obat untuk swamedikasi meliputi obat-obat yang dapat digunakan tanpa resep yang meliputi obat wajib apotek (OWA), obat bebas terbatas (OBT) dan obat bebas (OB). Obat wajib apotek terdiri dari kelas terapi oral kontrasepsi, obat saluran cerna, obat mulut serta tenggorokan, obat saluran nafas, obat yang mempengaruhi sistem neuromuskular, anti parasit dan obat kulit topikal. Apoteker dalam melayani OWA diwajibkan memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat per pasien yang tercantum dalam daftar OWA 1 dan OWA 2. Wajib pula membuat catatan pasien serta obat yang diserahkan. Apoteker hendaknya memberikan informasi penting tentang dosis, cara pakai, kontra indikasi, efek samping dan lain-lain yang perlu diperhatikan oleh pasien(Purwanti, Angki., Harianto., Supardi, Sudibjo., 2004).

Pelayanan obat tanpa resep merupakan salah satu pelayanan yang penting di apotek sehubungan dengan perkembangan pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada asuhan kefarmasian dan aspek bisnis apotek terkait dengan kepuasan pelanggan. Faktor penting dalam swamedikasi ini adalah pelanggan/pembeli mengemukakan keluhan atau gejala penyakit, kemudian apoteker menginterpretasikan penyakitnya dan memilihkan alternatif obatnya atau menyarankan ke pelayanan kesehatan lain.

Prekursor narkotika dan psikotropika adalah bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan narkotika atau psikotropika yang berada dalam pengawasan. Pada umumnya prekursor digunakan secara sah/resmi dalam proses industri dan sebagian besar diperdagangkan dalam perdagangan Internasional. Bahan kimia tersebut tidak berada dalam pengawasan khusus. Namun ekspor dan impor serta pemasokan prekursor kepada perorangan dan perusahaan yang penggunaannya bukan untuk pemakaian dalam industri merupakan suatu petunjuk bahwa ada kemungkinan kegiatan tersebut adalah kegiatan gelap.

Mengingat belakangan ini penyalahgunaan prekursor dalam pembuatan narkotika dan psikotropika telah menjadi ancaman yang sangat serius yang dapat menimbulkan gangguan bagi kesehatan, instabilitas ekonomi, gangguan keamanan, serta kejahatan internasional, maka pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 44 tahun 2010 tentang Golongan dan jenis Prekursor. Dalam PP ini diatur tentang penggolongan dan jenis prekursor, mekanisme penyusunan rencana kebutuhan tahunan secara nasional, pengadaan, impor dan ekspor, peredaran, pencatatan dan pelaporan, pengawasan serta ketentuan sanksi. Menurut PP No. 44 tahun 2010, Prekursor hanya dapat digunakan untuk tujuan industri farmasi, industri non farmasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam PP No. 44 tahun 2010 menyebutkan bahwa terdapat 23 zat kimia yang tergolong sebagai prekursor narkotika dan psikotropika antara lain efedrin, norefedrin, ergometrin, ergotamin, asam lisergat, 1-fenil-2-propanon, anhidrida asetat, aseton, asarm antranilat, etil eter, asam fenil asetat, piperidin, asam N-asetil antranilat, isosarfol, 3,4-metilendioksifenil-2-propanon, piperonal, safrol, toluen, asam sulfat, kalium permanganat, metal etil keton, dan asam klorida.

Semua prekursor tersebut biasa ditemukan pada laboratorium-laboratorium kimia terutama kimia sintesis organik. Anhidrida asetat biasa digunakan untuk pembuatan aspirin (antipiretik) dengan mengunakan katalis asam, asam klorida atau asam asetat. Kalium permanganat digunakan untuk

mengoksidasi benzil alkohol menjadi asam benzoat (pengawet). Etil eter digunakan dalam proses ekstraksi dan toluene sebagai pelarut dalam reaksi kimia sebagai pengganti benzen. Semua senyawa yang dihasilkan pada suatu proses sintesis senyawa organik dapat mempunyai aktivitas biologi yang bermanfaat bagi tubuh dan bisa juga menjadi racun dalam tubuh. Efedrin adalah salah satu senyawa kimia yang mempunyai aktivitas sebagai dekongestan, yaitu obat-obat

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 60-100)

Dokumen terkait