BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
a. Tetap mempertahankan kerjasama yang baik antar departemen pada PT Actavis Indonesia sehingga dihasilkan kinerja yang lebih baik.
b. Terus menjaga dan mempertahankan kualitas produk sesuai dengan CPOB atau GMP yang telah ada.
DAFTAR ACUAN
Badan Pengawasan Obat dan Makanan. (2012). Pedoman Cara Pembuatan Obat
yang Baik (CPOB). Jakarta: BPOM RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010 Tentang Industri Farmasi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI
Presiden Republik Indonesia. (1967). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing. Jakarta: Presiden RI
Presiden Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta: Presiden
RI
Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Jakarta: Presiden RI
Priyambodo, Bambang. (2007). Manajemen Farmasi Industri. Yogyakarta: Global Pustaka Utama.
PT. Actavis Indonesia. (2013). SOP Approved Supplier. Jakarta: PT. Actavis Indonesia.
PT. Actavis Indonesia. (2013). SOP Tata Cara Masuk-Keluar Karyawan dan
Tamu di Area Produksi Beta Lactam Facility. Jakarta: PT. Actavis
Indonesia
PT. Actavis Indonesia. (2012). SOP Toll Manufacturing & Analysis. Jakarta: PT. Actavis Indonesia.
PT. Actavis Indonesia. (2011). SOP Pelatihan Karyawan. Jakarta: PT. Actavis Indonesia.
PT. Actavis Indonesia. (2010). SOP Change Control (Kontrol Perubahan). Jakarta: PT. Actavis Indonesia.
PT. Actavis Indonesia. (2009). SOP Pembersihan Mesin Secara Umum. Jakarta: PT. Actavis Indonesia.
PT. Actavis Indonesia. (2009). SOP Self Inspection (Inspeksi Diri). Jakarta: PT. Actavis Indonesia.
PT. Actavis Indonesia. (2009). SOP Tata Cara Masuk Area Gudang. Jakarta: PT. Actavis Indonesia.
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI PT. ACTAVIS INDONESIA
JL. RAYA BOGOR KM 28, JAKARTA TIMUR
PERIODE 12 AGUSTUS – 2 OKTOBER 2013
PENYUSUNAN SPESIFIKASI DAN METODE ANALISA
BAHAN BAKU DAN PRODUK JADI
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
HERDIYANTI AMALIA, S.Farm.
1206329682
ANGKATAN LXXVII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
ii
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI PT. ACTAVIS INDONESIA
JL. RAYA BOGOR KM 28, JAKARTA TIMUR
PERIODE 12 AGUSTUS – 2 OKTOBER 2013
PENYUSUNAN SPESIFIKASI DAN METODE ANALISA
BAHAN BAKU DAN PRODUK JADI
TUGAS KHUSUS KERJA PROFESI APOTEKER
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Apoteker
HERDIYANTI AMALIA, S.Farm.
1206329682
ANGKATAN LXXVII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
HALAMAN SAMPUL ... i HALAMAN JUDUL ... ii DAFTAR ISI ... iii DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR GAMBAR ... v DAFTAR LAMPIRAN ... vi BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1 Pengawasan Mutu ... 4 2.2 Spesifikasi ... 5 2.3 Spesifikasi Kualitas ... 6 2.4 Metode Analisa ... 7 2.5 Validasi Metode Analisa ... 7 2.6 Lembar Peninjauan ... 7 2.7 Revision History ... 8 2.8 Sistem Kontrol Perubahan ... 8
BAB 3 METODE PENGKAJIAN ... 10
3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian ... 10 3.2 Metode Pengkajian ... 10
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 11
4.1 Pengendalian mutu produk ... 11 4.2 Penyusunan Spesifikasi dan Metode Analisa Bahan Baku atau
Produk Jadi ... 12 4.3 Revisi Spesifikasi dan Metode Analisa ... 12
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ... 15
5.1 Kesimpulan ... 15 5.2 Saran ... 15
DAFTAR ACUAN ... 16 LAMPIRAN ... 17
iv
Lampiran 1. Diagram Alir Pembuatan Spesifikasi dan Metode Analisa
Bahan Baku ... 18 Lampiran 2. Penyusunan Spesifikasi dan Metode Analisa Bahan Baku
atau Produk Jadi Baru ... 19
Lampiran 3. Diagram Alir Revisi Spesifikasi dan Metode Analisa Bahan
Baku dan Produk Jadi Berdasarkan Farmakope Edisi Terbaru ... 20
Lampiran 4. Diagram Alir Revisi Spesifikasi dan Metode Analisa Bahan
Baku Produk Jadi ... 21
Lampiran 5. Contoh Lembar Peninjauan Spesifikasi dan Metode Analisa ... 22 Lampiran 6. Contoh spesifikasi Hydrochlorothiazide ... 23 Lampiran 7. Contoh metode analisa Hydrochlorothiazide ... 25 Lampiran 8. Contoh Gap Analysis ... 32
1.1. Latar Belakang
Pada pembuatan obat, pengendalian menyeluruh merupakan hal yang sangat esensial untuk menjamin bahwa konsumen menerima obat yang bermutu tinggi. Obat merupakan bagian dari pelayanan kesehatan masyarakat yang harus memenuhi persyaratan kualitas, keamanan, dan efikasi. Pembuatan secara sembarangan tidak dibenarkan bagi produk yang digunakan untuk menyelamatkan jiwa, atau memulihkan atau memelihara kesehatan. Oleh karena itu diperlukan suatu pedoman yang dimaksudkan untuk melindungi konsumen dan menjaga mutu obat yang dihasilkan oleh industri farmasi. Setiap tahapan pada proses produksi obat dalam industri farmasi harus mengikuti pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) yang bertujuan untuk menjamin obat dibuat secara konsisten, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penggunaannya. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu (CPOB, 2012).
Manajemen bertanggung jawab untuk pencapaian tujuan ini melalui suatu “Kebijakan Mutu”, yang memerlukan partisipasi dan komitmen di semua jajaran departemen di dalam perusahaan, para pemasok dan para distributor. Untuk mencapai tujuan mutu secara konsisten dan dapat diandalkan, diperlukan sistem Pemastian Mutu yang didesain secara menyeluruh dan diterapkan secara benar serta menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik termasuk Pengawasan Mutu dan Manajemen Risiko Mutu. Pengawasan dan pemastian mutu tercantum dalam elemen pertama CPOB yaitu manajemen mutu (Quality Management). Hal ini hendaklah didokumentasikan dan dimonitor efektivitasnya. Dokumentasi merupakan hal yang penting untuk memperkecil risiko terjadinya salah tafsir dan kekeliruan karena komunikasi lisan. Jenis dokumentasi yang harus ada dalam departemen pengawasan mutu antara lain spesifikasi, prosedur, metode dan instruksi, laporan, dan catatan.
Kegiatan pengawasan mutu merupakan bagian yang penting dari CPOB untuk memastikan bahwa produk yang dibuat senantiasa mempunyai mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Keterlibatan dan komitmen semua pihak yang berkepentingan dalam seluruh rangkaian pembuatan adalah mutlak untuk mencapai sasaran mutu yang ditetapkan mulai dari awal pembuatan sampai distribusi obat jadi. Pengawasan mutu tidak terbatas pada kegiatan laboratorium, tapi juga harus terlibat dalam semua keputusan yang terkait dengan mutu produk. Pengawasan Mutu hendaklah mencakup semua kegiatan analisis, seperti pengambilan sampel, spesifikasi, pengujian serta termasuk pengaturan, dokumentasi dan prosedur pelulusan. Prosedur pelulusan memastikan bahwa semua pengujian yang relevan telah dilakukan, dan bahan tidak diluluskan untuk dipakai atau produk diluluskan untuk dijual, sampai mutunya telah dibuktikan memenuhi persyaratan. Kepala bagian pengawasan mutu adalah satu-satunya pihak yang memiliki wewenang untuk meluluskan bahan awal, produk antara, produk ruahan, dan obat jadi bila produk tersebut sesuai dengan spesifikasinya, atau menolaknya bila tidak cocok dengan spesifikasinya, atau bila tidak dibuat sesuai dengan prosedur yang disetujui dan kondisi yang ditentukan. Ketidaktergantungan Pengawasan Mutu dari Produksi dianggap hal yang fundamental agar Pengawasan Mutu dapat melakukan kegiatan dengan memuaskan.
Dokumentasi adalah bagian dari sistem informasi manajemen dan dokumentasi yang baik merupakan bagian yang esensial dari pemastian mutu. Dokumentasi yang jelas adalah fundamental untuk memastikan bahwa tiap personil menerima uraian tugas yang relevan secara jelas dan rinci sehingga memperkecil resiko terjadi salah tafsir dan kekeliruan yang biasanya timbul karena hanya mengandalkan komunikasi lisan. Dokumentasi dan prosedur pelulusan yang diterapkan bagian pengawasan mutu hendaklah menjamin bahwa pengujian yang diperlukan telah dilakukan sebelum bahan digunakan dalam produksi dan produk disetujui sebelum didistribusikan. Dokumen hendaklah didesain, disiapkan, dikaji, dan didistribusikan dengan cermat. Dokumen hendaklah dikaji ulang secara berkala dan dijaga agar selalu sesuai dengan zaman. Bila suatu dokumen direvisi, hendaklah dijalankan suatu sistem untuk
menghindarkan penggunaan dokumen yang sudah tidak berlaku secara tidak sengaja. Keterbacaan dokumen adalah sangat penting. Spesifikasi, dokumen produksi induk/ formula pembuatan, prosedur, metode, instruksi, laporan, dan catatan harus bebas dari kekeliruan dan tersedia secara tertulis.
Spesifikasi menguraikan secara rinci persyaratan yang harus dipenuhi produk atau bahan yang digunakan selama pembuatan. Dokumen ini digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi mutu, baik bahan baku, bahan kemas, produk jadi, maupun produk ruahan. Maka, perlu dibuat daftar spesifikasi dan metode analisa yang jelas untuk setiap bahan baku, bahan kemas, produk ruahan, dan produk jadi. Sebagai dasar evaluasi, parameter-parameter pada dokumen spesifikasi dan metode analisa harus sesuai dengan yang tertera pada kompendia (farmakope), kecuali untuk spesifikasi produk jadi dapat mengacu pada spesifikasi internal. Oleh karena itu, dokumen tersebut harus selalu diperbaharui dan diperlukan tindakan revisi dengan mengacu pada farmakope edisi terbaru.
1.2. Tujuan
Tujuan dari penulisan tugas khusus ini adalah untuk mengetahui persiapan dalam penyusunan dan revisi spesifikasi dan metode analisa bahan baku dan produk jadi di PT. Actavis Indonesia.
2.1. Pengawasan Mutu (Quality Control)
Pengawasan mutu merupakan bagian yang penting dari CPOB yang berhubungan dengan semua kegiatan analisis yang dilakukan di laboratorium, termasuk pengambilan sampel, spesifikasi dan pengujian, dengan organisasi, dokumentasi, dan prosedur pelulusan yang memastikan bahwa pengujian yang diperlukan dan relevan telah dilakukan. Material yang belum diluluskan tidak digunakan dan produk belum diluluskan tidak dijual atau dipasok sebelum mutunya dinilai dan dinyatakan memenuhi syarat.
Persyaratan dasar dari Pengawasan Mutu adalah bahwa:
a. Sarana dan prasarana yang memadai, personil yang terlatih dan prosedur yang disetujui tersedia untuk pengambilan sampel, pemeriksaan dan pengujian bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi, dan bila perlu untuk pemantauan lingkungan sesuai dengan tujuan CPOB.
b. Pengambilan sampel bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi dilakukan oleh personil terlatih dengan metode yang disetujui oleh Pengawasan Mutu.
c. Metode pengujian disiapkan dan divalidasi.
d. Pencatatan dilakukan secara manual atau dengan alat pencatat selama pembuatan yang menunjukkan bahwa semua langkah yang dipersyaratkan dalam prosedur pengambilan sampel, inspeksi dan pengujian benar-benar telah dilaksanakan. Tiap penyimpangan dicatat secara lengkap dan diinvestigasi.
e. Produk jadi berisi zat aktif dengan komposisi secara kualitatif dan kuantitatif sesuai dengan yang disetujui pada saat pendaftaran, dengan derajat kemurnian yang dipersyaratkan serta dikemas dalam wadah yang sesuai dan diberi label yang benar.
f. Dibuat catatan hasil pemeriksaan dan analisis bahan awal, bahan pengemas, produk antara, produk ruahan, dan produk jadi secara formal dinilai dan dibandingkan terhadap spesifikasi; dan
g. Sampel pertinggal bahan awal dan produk jadi disimpan dalam jumlah yang cukup untuk dilakukan pengujian ulang bila perlu. Sampel produk jadi disimpan dalam kemasan akhir kecuali untuk kemasan yang besar. Pengawasan Mutu di industri farmasi bertanggung jawab untuk memastikan bahwa (Priyambodo, 2007):
a. Bahan awal untuk produksi obat memenuhi spesifikasi identitas, kekuatan, kemurnian, kualitas, dan keamanan yang telah ditetapkan.
b. Semua pengawasan selama proses dan pemeriksaan laboratorium terhadap suatu bets obat telah dilaksanakan dan bets tersebut memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan sebelum didistribusikan.
c. Suatu bets obat memenuhi persyaratan mutunya selama waktu peredaran yang telah ditetapkan.
Setiap industri farmasi hendaklah mempunyai fungsi Pengawasan Mutu. Fungsi ini hendaklah independen dari bagian lain. Sumber daya yang memadai hendaklah tersedia untuk memastikan bahwa semua fungsi Pengawasan Mutu dapat dilaksanakan secara efektif dan dapat diandalkan.
2.2. Spesifikasi
Spesifikasi didefinisikan sebagai deskripsi suatu bahan (bahan awal, produk antara, produk ruahan atau obat jadi) mengenai sifat kimiawi, fisis, dan biologi (jika ada) (Priyambodo, 2007). Spesifikasi tersebut menyatakan standar dan toleransi yang diperbolehkan yang biasanya dinyatakan secara deskriptif dan numeris. Tiap spesifikasi harus disetujui dan disimpan oleh bagian Pengawasan Mutu, juga disetujui oleh kepala bagian Pemastian Mutu (QA manager). Spesifikasi mencantumkan parameter – parameter yang menjadi kriteria yang harus dipenuhi oleh bahan baku, bahan kemas, dan produk jadi, saat diuji sesuai dengan prosedur analisa yang tertera, dan akan memenuhi kriteria peneriamaan yang terdaftar. Spesifikasi standar mutu yang penting adalah yang didaftarkan
Spesifikasi untuk bahan baku, bahan kemas, dan produk jadi harus diotorisasi dan diberi tanggal, jika sesuai maka spesifikasi tersebut juga harus tersedia untuk produk antara atau produk ruahan (MHRA, 2007).
Spesifikasi produk baik pada produk antara maupun produk ruahan harus disertakan bila produk tersebut dibeli atau dikirim dari tempat lain, atau bila data yang dibuat dari produk antara telah digunakan untuk evaluasi produk jadi. Spesifikasi produk antara atau produk ruahan tersebut harus sesuai dengan spesifikasi pada bahan baku atau pada produk jadi (MHRA, 2007).
2.3. Spesifikasi Kualitas
Spesifikasi kualitas merupakan spesifikasi yang disahkan dan diberi tanggal yang mendeskripsikan persyaratan rinci yang harus dipenuhi oleh bahan baku atau produk sebelum atau setelah digunakan suatu proses produksi. Spesifikasi digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi kualitas dari produk farmasi maupun material (SOP Penganganan Spesifikasi dan Metode Analisa).
Spesifikasi kualitas dapat berupa bagian dari master dokumen bahan baku atau produk. Spesifikasi kualitas untuk produk jadi dapat berupa bagian dari suatu kesepakatan teknis (technical agreement) yang telah dinyatakan berlaku. Spesifikasi meliputi informasi berisi:
a. Deskripsi bahan mencakup: Nama bahan baku sesuai yang ditentukan; Nomor (kode) produk, nomor spesifikasi; Tanggal spesifikasi tersebut berlaku (valid date); Rujukan monografi; Standar mikrobiologis; Nama produsen dan pemasok yang disetujui.
b. Petunjuk pengambilan sampel dan pengujian atau prosedur rujukan c. Persyaratan kualitatif dan kuantitatif dengan batas penerimaan
d. Kondisi penyimpanan termasuk kondisi penyimpanan sampel di laboratorium sebelum dianalisa dan tindakan pengamanan
e. Batas waktu penyimpanan sebelum dilakukan pengujian kembali.
f. Nama lengkap dan tanda tangan dari pembuat spesifikasi serta tanggal pembuatan, QC manager serta tanggal peninjauan, QA manager serta tanggal persetujuan, dan personel yang menetapkan spesifikasi tersebut sudah tidak berlaku lagi serta tanggal penetapan.
2.4. Metode Analisa
Metode analisa adalah uraian analisa dari parameter atau persyaratan yang tercantum dalam spesifikasi. Poin-poin yang tertera pada metode analisa sama seperti yang tertera pada spesifikasi (SOP Penanganan Spesifikasi dan Metode Analisa).
2.5. Validasi Metode Analisa
Validasi Metode Analisa adalah suatu tindakan pembuktian yang terdokumentasi yang memberikan kepastian bahwa metode analisa yang digunakan akan memberikan hasil analisa yang menggambarkan kualitas bahan yang diuji secara konsisten (SOP Pedoman Pelaksanaan Validasi Metode Analisa).
Metode analisis hendaklah divalidasi kecuali metode yang digunakan tersebut terdapat dalam farmakope yang relevan atau rujukan standar lain yang diakui. Meskipun demikian kesesuaian semua metode pengujian yang digunakan harus diverifikasi pada kondisi aktual penggunaan dan didokumentasikan. Metode hendaklah divalidasi dengan mempertimbangkan karakteristik yang tercakup dalam ICH Guidelines tentang validasi metode analisis. Tingkat validasi analitis yang dilaksanakan hendaklah menggambarkan tujuan analisis dan tahapan proses produksi Bahan Aktif Obat. (CPOB, 2012)
2.6. Lembar Peninjauan
Lembar peninjauan/perubahan spesifikasi dan metode analisa adalah laporan hasil peninjauan dan perubahan spesifikasi dan metode analisa yang masih berlaku terhadap farmakope. Pada kolom “Parameter” diisi oleh parameter analisa yang terdapat pada spesifikasi yang maih berlaku ataupun yang akan ditambahkan pada spesifikasi yang baru berdasarkan acuan farmakope terbaru. Pada kolom “Referensi” diisi dengan referensi yang menjadi acuan peninjauan/perubahan. Pada kolom “Peninjauan/Perubahan” diisi dengan hasil peninjauan terhadap farmakope dimana semua parameter harus dituliskan (SOP Penganganan Spesifikasi dan Metode Analisa).
Jika perubahan diimplementasikan, maka diberi tanda checklist pada kolom “Ya” dan jika tidak diimplementasikan makan diberi checklist pada kolom “Tidak”. Jika implementasi tidak dapat dilakukan maka reviewer dapat mencantumkan usulan/perbaikan pada kolom catatan. Contoh lembar peninjauan dapat dilihat pada lampiran.
2.7. Riwayat Perubahan (Revision History)
Revision history merupakan lembar yang berisi catatan setiap perubahan
pada spesifikasi dan metode analisa. Revision History ditandatangani oleh Quality
Control Specification and Analitycal Method Validation Supervisor, Quality Control Manager, dan Quality Assurance Manager (SOP Penganganan
Spesifikasi dan Metode Analisa).
2.8. Sistem Kontrol Perubahan (Change Control System)
Change Control System adalah suatu sistem yang menangani semua
perubahan yang direncanakan untuk dilakukan terhadap suatu keadaan, prosedur atau proses yang telah ditetapkan dan dapat berpengaruh terhadap status validasi dari sistem, alat, proses, maupun produk (SOP Kontrol Perubahan).
Perubahan diklasifikasikan menjadi dua yaitu perubahan major dan perubahan minor. Perubahan major adalah perubahan yang berkaitan dengan dokumen registrasi, spesifikasi bahan/produk, metode analisa bahan/produk, data stability dan validasi, Mfg Pro mapun MPPCR (Master Production and Process
Control Report) sehingga harus dilakukan variasi. Sedangkan perubahan minor
adalah perubahan yang tidak berhubungan dengan dokumen registrasi, spesifikasi bahan/produk, metode analisa bahan/produk, data stability dan validasi, Mfg Pro mapun MPPCR tidak signifikan.
Semua perubahan yang terdapat dalam change control adalah perubahan yang berpengaruh pada mutu, keamanan, dan efikasi produk dan aspek EHS. Jenis-jenis perubahan dibagi menjadi tujuh yaitu:
a. Perubahan spesifikasi dan metode analisa. b. Perubahan proses dan formula.
d. Perubahan pemasok bahan baku. e. Perubahan dokumen.
f. Perubahan alat, bangunan dan fasilitas, serta sistem penunjang. g. Perubahan lainnya yang terkait dengan GMP.
3.1. Waktu dan Tempat Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 12 Agustus – 2 Oktober 2013 bertempat di Departemen Quality Control PT. Actavis Indonesia.
3.2. Metode Pengkajian
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah penulusuran literatur (studi pustaka) berupa CPOB 2012 dan Standard Operating Prosedur PT. Actavis Indonesia.
4.1. Pengendalian mutu produk
Upaya pengendalian mutu produk perlu dilakukan untuk menciptakan produk obat yang berkualitas. Dalam upaya tersebut perlu dibuat suatu sistem pemastian mutu sehingga produk yang dihasilkan akan memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dan menjadi konsep luas yang mengendalikan setiap proses yang dapat mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan.
CPOB mencakup beberapa aspek pengawasan yang digunakan sebagai pedoman pemastian mutu yang termasuk didalamnya adalah sistem dokumentasi yang merupakan bagian esensial dari pemastian mutu. Dokumentasi dalam operasional penting untuk menghindari kesalahan penafsiran komunikasi lisan juga sebagai bukti tertulis yang dapat ditelusuri yang mencakup setiap langkah dan perubahan yang dilakukan dalam suatu proses produksi. Bentuk dokumentasi yang harus tersedia yaitu spesifikasi, metode analisa, dokumen produksi induk atau formula pembuatan, prosedur, metode, dan instruksi, laporan, dan catatan.
Spesifikasi merupakan bagian dari cara pengendalian secara keseluruhan untuk memastikan kualitas dan konsistensi produk. Spesifikasi merupakan dokumen yang berisi persyaratan yang harus dipenuhi produk atau bahan awal yang digunakan atau bahan yang diperoleh selama pembuatan. Spesifikasi tidak hanya ditentukan pada produk akhir atau produk jadi, tetapi juga pada bahan baku, bahan kemas, dan produk antara/produk ruahan. Tujuan dibuatnya dokumen spesifikasi ini adalah untuk menjaga kualitas produk jadi tetap seragam dalam batasan yang telah ditentukan. Persyaratan tersebut kemudian diuraikan secara terperinci pada dokumen metode analisa. Pada PT. Actavis Indonesia, dokumen spesifikasi dan metode analisa dibuat dalam form internal tersendiri dan dibuat sistem penomoran untuk mempermudah dalam penyimpanan dan terutama dalam penelusuran dokumen. Penomoran pada spesifikasi dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan pada SOP.
4.2. Penyusunan Spesifikasi dan Metode Analisa Bahan Baku atau Produk Jadi
Spesifikasi dan metode analisa bahan baku dibuat oleh Spesification and
Analytical Method Supervisor dengan mengacu pada :
a. Farmakope (European Pharmacopoeia, United States Pharmacopeia,
British Pharmacopoeia, dan Japanese Pharmacopoeia),
b. Metode analisa yang telah dikembangkan oleh New Product Development
Department (NPD) PT. Actavis Indonesia,
c. Master spesifikasi yang dapat berasal dari PT. Actavis Indonesia atau pihak ketiga (toll out) dan Material Safety Data Sheet (MSDS) bahan baku untuk ketentuan pengemasan, penyimpanan, penanganan, proteksi personal dan periode reanalisis maksimum yang harus selalu diperbaharui berdasarkan suplemen terbaru pada farmakope acuan.
Spesifikasi dan Metode Analisa dibuat karena adanya Change Control yang mengharuskan terjadinya revisi terhadap spesifikasi dan/atau metode analisa bahan baku atau produk jadi dari versi yang masih berlaku namun perubahan yang diusulkan masih harus menunggu persetujuan dari otoritas sebelum diimplementasikan.
Spesifikasi dan metode analisa yang telah dibuat, disiapkan dan ditandatangani oleh Supervisor yang bersangkutan, di review dan ditandatangani oleh manager Quality Control Department dan disetujui oleh Quality Assurance
Manager. Setelah disetujui, spesifikasi dan metode analisa yang dibuat diinput ke
dalam sistem dan didistribusikan.
4.3. Revisi Spesifikasi dan Metode Analisa
Dokumen spesifikasi dan metode analisis direvisi saat tiga bulan sebelum tanggal berlaku dokumen berakhir. Namun, parameter-parameter pada spesifikasi dan metode analisa harus disesuaikan dengan farmakope edisi terbaru, sebagai acuan utama dimana perubahan tersebut harus disesuaikan juga dengan kemampuan laboratorium. Selain berdasarkan farmakope, perubahan pada spesifikasi dan metode analisa juga dapat terjadi jika ada perubahan metode
analisa yang dikembangkan oleh NPD ataupun perubahan limit pada saat scale up dari skala laboratorium ke skala produksi. Sehingga, perlu dilakukan revisi terhadap dokumen tersebut setiap ada farmakope edisi terbaru.
Sesuai dengan SOP “Change control”, bila ada perubahan yang dikehendaki, supervisor harus mengajukan usulan perubahan. Usulan perubahan tersebut kemudian akan diproses. Namun bila perubahan tersebut diakibatkan oleh usulan dari pihak lain, misalnya disebabkan oleh perubahan parameter dalam proses produksi, maka usulan perubahan spesifikasi dan metode analisa tidak perlu diajukan. Informasi mengenai adanya usulan perubahan dari pihak lain yang mengakibatkan adanya perubahan pada spesifikasi dan metode analisa akan diberikan oleh Departemen QA. QA Administrator akan memberi fotokopi dari usulan perubahan kepada supervisor terkait. Kemudian dilakukan proses revisi maksimal dalam waktu 3 bulan sejak tanggal approval lembar kontrol perubahan.
Sebelum melakukan perubahan pada spesifikasi dan metode analisa, hal pertama yang dilakukan adalah membuat Gap analysis dengan membandingkan keseluruhan parameter pada spesifikasi lama yang akan direvisi dengan parameter