BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
a. Dalam hal administrasi seperti pencatatan produk, apotek Atrika perlu ditingkatkan dengan menggunakan sistem komputerisasi. Karena hal ini dapat membantu dan mengoptimalkan kelengkapan pencatatan, maupun mempermudah aktivitas di apotek secara lebih efektif dan efisien.
b. Perlunya menambah jasa pelayanan kefarmasian di apotek Atrika, seperti pelayanan residensial (home care) khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Hal ini berguna dalam mengoptimalkan pelayanan kefarmasian pada pasien yang sangat membutuhkan.
Kementerian Kesehatan RI. (1990). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 347/Menkes/SK/VII/1990 tentang Obat Wajib Apotek. Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan No. 919/Menkes/Per/X/1993 Tentang Kriteria Obat yang Dapat Diserahkan Tanpa Resep. Jakarta
Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/Menkes/Per/X/1993Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Ijin Apotik. Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1332/MENKES/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor. 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotik. Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. (2006). Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia. (1980). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1980 tentang Perubahan dan Tambahan Atas Peraturan Pemerintah RI Nomor 26 Tahun 1965 tentang Apotek. Jakarta. Pemerintah Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta. Presiden Republik Indonesia. (1997). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta.
Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Jakarta.
Quick, J. (1997). Managing Drug Supply, the Selection, Procurement, Distribution, and Use of Pharmaceuticals. 2nd ed Revised and Expanded. Kumarian Pers.
Seto, S., Yunita, N., & T, L. (2004). Manajemen Farmasi. Jakarta: Airlangga University Press.
Umar, M. (2011). Manajemen Apotek Praktis. Cetakan Keempat. Jakarta: Wira Putra Kencana.
Widiyanti, T. (2005). Penerapan Analisis Pareto dalam Manajemen Persediaan di Suatu Perusahaan Farmasi Industri Sekunder. Yogyakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.
Lampiran 11. Tata Ruang Etalase Depan Apotek
Lampiran 12. Lemari Penyimpanan Narkotik
Lampiran 14. Etiket dan Label Apotek Atrika
Lampiran 15. Kopi Resep Apotek Atrika
Lampiran 16. Surat Pesanan Apotek Atrika
Lampiran 18. Laporan Penggunaan Narkotika (secara manual)
Lampiran 20. Laporan Penggunaan Psikotropika (1)
REKAPITULASI DAN ANALISIS RESEP OBAT ANTIASMA
DAN ANTIALERGI PADA DAFTAR E-CATALOGUE OBAT
GENERIK YANG DITERAPKAN DALAM SISTEM JAMINAN
SOSIAL NASIONAL (SJSN) DI APOTEK ATRIKA
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
BHATA BELLINDA, S. Farm.
1206329423
ANGKATAN LXXVII
PROGRAM PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL ... iii DAFTAR GAMBAR... iv DAFTAR LAMPIRAN ...v BAB 1 PENDAHULUAN ...1 1.1 Latar Belakang...1 1.2 Tujuan...2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA...3 2.1 Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) ...3 2.2 Asma...12 2.3 Rinitis alergi ...17
BAB 3 METODOLOGI PENGKAJIAN ...19 3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian...19 3.2 Metode Pengumpulan Data ...19 3.3 Metode Pengolahan Data...19
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ...20 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ...34 5.1 Kesimpulan...34 5.2 Saran ...34
Halaman
Tabel 4.1 Perbandingan harga obat anti asma dan anti alergi oral generik pada daftar e-catalogue SJSN dan daftar harga di Apotek Atrika………….22
Halaman
Gambar 2.1 Tampilan Menu Utama E-Catalogue ...10 Gambar 2.2 Tampilan Menu E-Catalogue Obat Pemerintah untuk Provinsi DKI
Jakarta ...12 Gambar 4.1 Perbandingan Jumlah Resep dan Non resep Antiasma E-catalogue
Periode Februari - September 2013 ...21 Gambar 4.2 Perbandingan Jumlah Resep dan Non resep Antialergi E-catalogue
Periode Februari - September 2013 ...21 Gambar 4.3 Penulisan resep dokter yang diterima Apotik Atrika.. ...23
Lampiran 1 Contoh resep di Apotek Atrika………... 36
1.1 Latar Belakang
Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia melalui upaya kesehatan yang berkesinambungan. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintregrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat (Kemenkes RI, 2009). Obat merupakan unsur yang sangat penting dalam penyelenggaraan upaya kesehatan.
Setiap orang berhak memperoleh jaminan kesehatan yang bersifat pelayanan kesehatan perorangan, mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif termasuk pelayanan obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis yang diperlukan. Oleh sebab itu, Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat. Hal tersebut diwujudkan melalui UU No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan PP No.101 Tahun 2012, tentang penerimaan bantuan iuran jaminan kesehatan.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional mengatur program jaminan sosial yang dilaksanakan oleh beberapa badan penyelenggara secara bertahap dapat menjangkau kepesertaan yang lebih luas, serta memberikan manfaat yang lebih baik bagi setiap peserta dan dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang layak apabila terjadi hal-hal yang dapat mengakibatkan hilang/berkurangnya pendapatan karena menderita sakit, mengalami kecelakaan, kehilangan pekerjaan, memasuki usia lanjut atau pensiun. Dan hal tersebut sesui dengan Pasal 34 UUD 1945 yang tertulis mengenai fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
Asma merupakan penyakit yang ditandai oleh peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap berbagai stimulus. Stimulus dapat berupa pemaparan
berulang oleh suatu allergen (antigen), sehingga terjadi interaksi antigen-antibodi yang mencetuskan pelepasan mediator lain. Agen yang dilepaskan seperti histamin yang dapat berdifusi ke seluruh dinding saluran pernafasan dan menyebabkan kontraksi otot, edema, infiltrasi sel, dan perubahan dalam sekresi mukus yang dapat menyumbat lumen dan mengakibatkan terjadinya penyempitan lumen saluran pernafasan. Oleh sebab itu, penyakit asma dapat disebabkan oleh alergi, tetapi setiap alergi belum tentu mengakibatkan asma. Oleh karena itu, kejadian penyakit asma sering dikaitkan dengan alergi. Hal ini terlihat dalam setiap peresepan dokter untuk pasien dengan penyakit asma yang selalu meresepkan obat asma dan obat alergi secara bersamaan.
Pelayanan kesehatan dibidang kefarmasian merupakan salah satu bentuk interaksi yang langsung dengan masyarakat dan merupakan tanggung jawab profesi apoteker khususnya dalam mengoptimalkan terapi dan masalah terkait obat. Dalam kesempatan Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di Apotek Atrika, dilakukan rekapitulasi dan analisis resep yang mengandung obat antiasma dan antialergi pada daftar e-catalogue obat generik yang diterapkan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) di Apotek Atrika selama periode Februari sampai September 2013. Hasil pengkajian resep tersebut, diharapkan dapat diketahui obat antiasma dan antialergi yang sering diresepkan atau digunakan dan kerasionalan resep yang diberikan oleh dokter.
1.2. Tujuan
Penyusunan laporan tugas khusus Praktek Kerja Profesi Apoteker ini bertujuan untuk :
a. Mengetahui antiasma dan antialergi pada daftar e-catalogue obat generik yang diterapkan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang disediakan oleh Apotek Atrika selama periode Februari sampai September 2013.
b. Mengkaji peresepan antiasma dan antialergi pada daftar e-catalogue obat generik yang diterapkan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diterima Apotek Atrika selama periode Februari sampai September 2013.
2.1 Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) 2.1.1 Landasan Filosofi
a. Pasal 34 ayat 2 UUD 45
"Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan".
b. Pasal 28 H ayat 3 UUD 45
“Setiap orang berhak atas Jaminan Sosial yang memungkinkan
pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermanfaat" c. Konvensi ILO 102 tahun 1952
Standar minimal Jaminan Sosial (Tunjangan kesehatan, tunjangan sakit, tunjangan pengangguran, tunjangan hari tua, tunjangan kecelakaan kerja, tunjangan keluarga, tunjangan persalinan, tunjangan kecacatan, tunjangan ahli waris
2.1.2 Asas, Tujuan, dan Prinsip Penyelenggaraan
Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggarakan berdasarkan asas kemanusiaan, asas manfaat, dan asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sistem Jaminan Sosial Nasional bertujuan untuk memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta dan/atau anggota keluarganya. Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggarakan berdasarkan pada prinsip :
a. Prinsip kegotong royongan. Prinsip ini diwujudkan dalam mekanisme gotong- royong dari peserta yang mampu kepada peserta yamg kurang mampu dalam bentuk kepesertaan wajib bagi seluruh rakyat; peserta yang berisiko rendah membantu yang berisiko tinggi; dan peserta yang sehat membantu yang sakit.
c. Prinsip nirlaba. Pengelolaan dana amanat tidak dimaksudkan mencari laba (nirlaba) bagi Badan Penyelenggara Jaminan sosial, akan tetapi tujuan utama penyelenggaraan jaminan sosial adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta. Dana amanat, hasil pengembangannya, dan surplus anggaran akan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta.
d. Prinsip keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, efisiensi dan efektivitas. Prinsip-prinsip manajemen ini diterapkan dan mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya.
e. Prinsip portabilitas. Jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. f. Prinsip kepesertaan bersifat wajib. Kepesertaan wajib dimaksudkan agar
seluruh rakyat menjadi peserta sehingga dapat terlindungi. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program.
g. Prinsip dana amanat. Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan titipan kepada badan-badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta. h. Prinsip hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial Nasional dalam
Undang-Undang ini adalah hasil berupa dividen dari pemegang saham yang dikembalikan untuk kepentingan peserta jaminan sosial
2.1.3 Jenis ProgramJaminan Sosial 1. Jaminan Kesehatan;
Jaminan kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas. Jaminan kesehatan diselenggarakan dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan.
Peserta jaminan kesehatan adalah setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah. Anggota keluarga peserta berhak menerima manfaat jaminan kesehatan. Setiap peserta dapat mengikutsertakan anggota keluarga yang lain menjadi tanggungannya dengan penambahan iuran.
Manfaat jaminan kesehatan bersifat pelayanan perseorangan berupa pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, termasuk obat dan bahan medis habis pakai yang diperlukan. Untuk jenis pelayanan yang dapat menimbulkan penyalahgunaan pelayanan, peserta dikenakan urun biaya.
Manfaat jaminan kesehatan diberikan pada fasilitas kesehatan milik Pemerintah atau swasta yang menjalin kerjasama dengan Badan Penelenggara Jaminan Sosial. Dalam keadaan darurat, pelayanan dapat diberikan pada fasilitas kesehatan yang tidak menjalin kerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
Dalam hal di suatu daerah belum tersedia fasilitas kesehatan yang memenuhi syarat guna memenuhi kebutuhan medik sejumlah peserta, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial wajib memberikan Kompensasi. Dalam hal peserta membutuhkan rawat inap di rumah sakit, maka kelas pelayanan di rumah sakit diberikan berdasarkan kelas standar.
Besarnya pembayaran kepada fasilitas kesehatan untuk setiap wilayah ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dan asosiasi fasilitas kesehatan di wilayah tersebut. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial wajib membayar fasilitas kesehatan atas pelayanan yang diberikan kepada peserta paling lambat 15 (lima belas) hari sejak permintaan pembayaran diterima. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial mengembangkan sistem pelayanan kesehatan, sistem kendali mutu pelayanan, dan sistem pembayaran pelayanan, kesehatan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas.
2. Jaminan Kecelakaan Kerja;
Jaminan kecelakaan kerja diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial. Jaminan kecelakaan kerja adalah seseorang yang telah membayar iuran.
Peserta yang mengalami kecelakaan kerja berhak mendapatkan manfaat berupa pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medisnya dan mendapatkan manfaat berupa uang tunai apabila terjadi cacat total tetap atau meninggal dunia. Manfaat jaminan kecelakaan kerja yang berupa uang tunai diberikan sekaligus kepada ahli waris pekerja yang meninggal dunia atau pekerja yang cacat sesuai dengan tingkat kecacatan.
3. Jaminan Hari Tua
Jaminan hari tua diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib. Jaminan hari tua diselenggarakan dengan tujuan untuk menjamin agar peserta menerima uang tunai apabila memasuki masa pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia.
Manfaat jaminan hari tua berupa uang tunai dibayarkan sekaligus pada saat peserta memasuki usia pensiun, meninggal dunia, atau mengalami cacat total tetap. Besarnya manfaat jaminan hari tua ditentukan berdasarkan seluruh akumulasi iuran yang telah disetorkan ditambah hasil pengembangannya.
Pembayaran manfaat jaminan hari tua dapat diberikan sebagian sampai batas tertentu setelah kepesertaan mencapai minimal 10 (sepuluh) tahun. Apabila peserta meninggal dunia, ahli warisnya yang sah berhak menerima manfaat jaminan hari tua.
4. Jaminan Pensiun.
Jaminan pensiun diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib. Jaminan pensiun diselenggarakan untuk mempertahankan derajat kehidupan yang layak pada saat peserta kehilangan atau berkurang penghasilannya karena memasuki usia pensiun atau mengalami cacat total tetap. Jaminan pensiun diselenggarakan
berdasarkan manfaat pasti. Usia pensiun ditetapkan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan.
5. Jaminan Kematian.
Jaminan kematian diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial. Jaminan kematian diselenggarakan dengan tujuan untuk memberikan santunan kematian yang dibayarkan kepada ahli waris peserta yang meninggal dunia.
2.1.4 Kepersertaan
Jaminan Kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip ekuitas. (* Ekuitas: Kesetaraan memperoleh manfaat & akses). Berdasarkan UU No. 40 Tahun 2004 yang termasuk peserta Sistem Jaminan Kesehatan Nasional yaitu:
a. Yang membayar iuran atau yang dibayarkan oleh pemerintah (tidak mampu)
b. Termasuk anggota keluarga inti (S/I/2A yang sah) c. Anggota keluarga lain dengan iuran tambahan
d. Pekerja dengan PHK ditanggung maks 6 bulan, setelah 6bulan belum bekerja dan dinilai tidak mampu akan ditanggung Negara
e. Cacat total dan tidak mampu ditanggung negara
Pemberi kerja secara bertahap wajib mendaftarkan dirinya dan Pekerjanya sebagai Peserta kepada BPJS sesuai dengan program Jaminan Sosial yang diikuti. Pemberi Kerja, dalam melakukan pendaftaran wajib memberikan data dirinya dan Pekerjanya berikut anggota keluarganya secara lengkap dan benar kepada BPJS.
Setiap orang, selain Pemberi Kerja, Pekerja, dan penerima Bantuan Iuran, yang memenuhi persyaratan kepesertaan dalam program Jaminan Sosial wajib mendaftarkan dirinya dan anggota keluarganya sebagai Peserta kepada BPJS, sesuai dengan program Jaminan Sosial yang diikuti. Setiap orang sebagaimana yang telah disebutkan wajib memberikan data mengenai dirinya dan anggota keluarganya secara lengkap dan benar kepada BPJS. Pekerja yang memiliki
anggota keluarga lebih dari 5 (lima) orang dan ingin mengikutsertakan anggota keluarga yang wajib membayar tambahan iuran.
Setiap orang yang tidak mengikuti ketentuan diatas, dikenai sanksi administratif. Sanksi administratif dapat berupa:
a. Teguran tertulis (dilakukan oleh BPJS) b. Denda (dilakukan oleh BPJS) dan atau;
c. Tidak mendapat pelayanan publik tertentu (dilakukan oleh pemerintah atau pemerintah daerah atas permintaan BPJS).
Pemerintah mendaftarkan penerima Bantuan Iuran dan anggota keluarganya sebagai Peserta kepada BPJS. Penerima Bantuan Iuran wajib memberikan data mengenai diri sendiri dan anggota keluarganya secara lengkap dan benar kepada Pemerintah untuk disampaikan kepada BPJS.
UU SJSN menetapkan berbagai ketentuan untuk mempercepat pemenuhan hak rakyat atas PJKN (Program Jaminan Kesehatan Nasional), yaitu:
1. Menetapkan pendekatan keluarga yang dapat diperluas dari keluarga inti (nuclear family) ke keluarga besar (extended family);
a) penjelasan Pasal 20 ayat (2): anggota keluarga adalah istri/suami yang sah, anak kandung, anak tiri dari perkawinan yang sah, dan anak angkat yang sah, sebanyak-banyaknya 5 orang
b) penjelasan Pasal 20 ayat (3): yang dimaksund anggota keluarga yang lain dalam ketentuan ini adalah anak ke-4 dan seterusnya, ayah, ibu dan mertua. Untuk mengikutsertakan anggota keluarga yang lain, pekerja memberi surat kuasa kepada pemberi kerja untuk menambahkan iurannya kepada BPJS.
2. Mewajibkan pemerintah untuk membayar iuran bagi masyarakat miskin dan cacat tetap total;
3. Memperpanjang masa perlindungan hingga 6 bulan pasca pemutusan kerja dan selanjutnya apabila tetap tidak bekerja dan masuk kriteria tidak mampu, kewajiban membayar iuran diambil alih oleh pemerintah
2.1.5 Manfaat
a. Manfaat komprehensif : Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif b. Pengenaan iuran biaya untuk pelayanan yang berpotensi moral hazard :
Obat suplemen, tindakan yang tidak sesuai kebutuhan medis
c. Pelayanan dilakukan pada faskes pemerintah dan swasta yang bekerjasama dengan BPJS
d. Dalam kondisi darurat pelayanan dapat dilakukan pada faskes yang tidak bekerjasama
e. Pelayanan rawat inap di kelas standar
f. Daftar dan harga obat serta BMHP yang dijamin BPJS ditetapkan pemerintah
g. Jenis pelayanan yang tidak dijamin ditetapkan pemerintah
2.1.6 E-Catalogue
E-Catalogue atau katalog elektronik adalah sistem informasi elektronik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga barang tertentu dari berbagai penyedia Barang/Jasa Pemerintah dengan tata cara pembelian yang diatur pemerintah yaitu menggunakan system e-Purchasing.
Kementerian/Lembaga/Daerah/Instansi (K/L/D/I) dapat melaksanaan pengadaan dengan cara e-Purchasing terhadap Barang/Jasa yang tercantum dalam e-Catalogue. Tata cara penyusunan e-Catalogue adalah sebagai berikut:
1. Barang/Jasa yang dicantumkan pada e-Catalogue ditetapkan oleh Kepala LKPP.
2. Dalam rangka pengelolaan sistem e-Catalogue sebagaimana yang disebutkan dalam poin (1), LKPP melaksanakan Kontrak Payung dengan penyedia Barang/Jasa untuk Barang/Jasa tertentu.
3. Pemilihan penyedia Barang/Jasa dalam rangka Kontrak Payung dapat dilaksanakan dengan proses lelang/non lelang.
4. Dalam rangka persiapan, persiapan, pelaksanaan, dan monitoring evaluasi Kontrak Payung dengan penyedia Barang/Jasa, LKPP membentuk tim yang terdiri dari Personil LKPP dan/atau personil K/L/D/I teknis terkait.
5. Apabila diperlukan, Kepala LKPP dan Pimpinan K/L/D/I terkait dapat menetapkan tim sebagaimana yang disebutkan dalam poin (4).
6. Apabila diperlukan, Kepala LKPP dan Pimpinan K/L/D/I terkait dapat menandatangani Kontrak Payung dengan penyedia Barang/Jasa.
7. LKPP menayangkan daftar barang beserta spesifikasi dan harganya pada sistem e-Catalogue elektronik dengan alamat www.e-katalog.lkpp.go.id
Untuk dapat mengakses e-Catalogue terdapat persyaratan yang harus terpenuhi yaitu pengguna harus memiliki Akses internet serta user ID dan password sebagai identitas diri dari pengguna yang digunakan untuk beroperasi di dalam aplikasi SPSE. Dalam menu utama sistem e-Catalogue terdapat beberapa menu, yaitu:
1. Kendaraan Bermotor 2. Internet Service Provider 3. Alat Dan Mesin Pertanian 4. Obat
Untuk pengadaan obat, saat ini terdapat total 11.052 item obat dalam berbagai kekuatan, bentuk kemasan, dan dari berbagai produsen yang terdaftar dalam Catalogue yang akan dialokasikan ke 33 provinsi di Indonesia. Dalam e-Catalogue obat terdapat menu utama sebagai berikut:
1. Provinsi, untuk penelusuran pengadaan obat berdasarkan nama provinsi.
2. Cari, untuk penelusuran pengadaan obat berdasarkan nama obat atau berdasarkan kemasan.
3. Urut Berdasarkan, untuk tampilan katalog berdasarkan nama obat (urutan sesuai abjad A-Z atau Z-A) atau berdasarkan nama provinsi (urutan sesuai abjad A-Z atau Z-A).
4. Item per Halaman, untuk tampilan katalog sebanyak 20 item, 30 item, 50 item, maupun 100 item.
Tampilan katalog obat akan menampilkan sebuah tabel yang memuat data-data mengenai nama-nama obat yang tersedia untuk dialokasikan ke provinsi-provinsi beserta dengan nama penyedia obat-obat tersebut, bentuk kemasan, harga obat dalam satuan terkecil, serta nama distributor dan perjanjian Kontrak Payung. Yang dimaksud dengan Kontrak Payung adalah surat perjanjian kerjasama antara LKPP dengan penyedia Barang/Jasa, yang dalam hal ini adalah perusahaan farmasi dan distributor. Berikut contoh tampilan katalog obat untuk pencarian di provinsi DKI Jakarta:
Gambar 2.2 Tampilan Menu E-Catalogue Obat Pemerintah untuk Provinsi DKI Jakarta
Obat-obatan yang terdaftar dalam e-Catalogue sebagian besar merupakan obat generik yang telah melalui proses seleksi melalui sistem pelelangan harga. Sesuai Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012, untuk tahun 2013 penetapan harga melalui lelang harga satuan dilakukan dengan harapan agar pengadaan obat dapat mengikuti aturan, lebih mudah, dan efisien dengan tetap menjamin ketersediaan obat. Lelang harga obat melalui e-Catalogue merupakan kerjasama antara Kementerian Kesehatan dan LKPP.
2.2 Asma
Asma ditandai oleh peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap berbagai stimulus dan oleh penyempitan luas pada saluran pernafasan yang berubah-ubah keparahannya, baik spontan atau sebagai akibat terapi. Gambaran patologiknya berupa kontraksi otot polos saluran pernapasan, penebalan mukosa karena edema dan infiltrasi sel serta penyempitan lumen saluran pernapasan karena sumbat mukus yang kental dan liat.
Pasien dengan penyakit asma memiliki gambaran klinis berupa sesak napas yang khas disertai suara mengi akibat kesulitan ekspirasi, pada auskultasi terdengar wheezing dan ekspirasi memanjang, keadaan sesak hebat yang ditandai dengan giatnya otot-otot bantu pernapasan dan sianosis dikenal dengan status
asmatikus yang dapat berakibat fatal. Sering terjadi dispnae di pagi hari dan sepanjang malam, sesudah latihan fisik (terutama saat cuaca dingin), berhubungan dengan infeksi saluran nafas atas, berhubungan dengan paparan terhadap alergen