• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 44-73)

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.2 Saran

6.2.1 Penyelenggaraan PKPA di Kementerian Kesehatan RI khususnya Direktorat Bina Pelayanan Kefamasian sebaiknya dilaksanakan dalam waktu yang lebih lama, agar calon Apoteker mendapat bekal pengetahuan yang lebih merata dari tiap Sub Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian baik mengenai tugas, fungsi serta implementasinya secara langsung.

6.2.2 Perlunya Program kerja yang lebih ditekankan tentang advokasi ke perguruan tinggi mengenai pemerataan tenaga Apoteker. Karena saat ini, semakin banyak media yang menyampaikan berita kurangnya tenaga Apoteker di fasilitas kesehatan seperti Puskesmas khususnya di daerah terpencil.

33 Universitas Indonesia DAFTAR ACUAN

Direktorat Bina Pelayanan kefarmasian. (2013). Pengumuman Seminar Prospek

Puskesmas dan Fungsi Strategis Apoteker dalam Pelayanan Kesehatan pada Era SJSN. Fakultas farmasi UGM. Yogyakarta. sumber :

http://apoteker.farmasi.ugm.ac.id/berita-159-penggumuman-seminar.html diakses 19 November 2013, pukul 15.00 wib.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2005). Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia No. 1575/Menkes/PER/XI/2005 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Jakarta.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia No. 1144/MENKES/PER/VIII/2010 Tentang

Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan. Jakarta.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Keputusan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia Nomor 021/MENKES/SK/I/2011 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014. Jakarta.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Profile Direktorat Jenderal

Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Tahun 2010. Jakarta: Kementerian

Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2012). Modul Penggerakan

Penggunaan Obat Rasional. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan. (2013). Majalah Kesehatan Obat Indonesia, Kabar

Aiphss, Edisi III. Kementerian Kesehatan Indonesia. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (2009). Peraturan Presiden RI No. 47 tahun 2009

nomor 144 tentang pembentukan dan organisasi kementerian negara,

Jakarta.

PT. Askes. (2010). DPHO : Pelayanan Obat Terbaik Bagi Peserta dalam Info

Lampiran 1.Struktur Organisasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

Sumber : Menteri Kesehatan Republik Indonesia, 2010

Un ive rsitas Ind o n es ia 3 4

Lampiran 2. Struktur Organisasi Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan

DIREKTUR JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT

KESEHATAN

Dra. Maura Linda Sitanggang, Ph.D

DIREKTUR BINA OBAT PUBLIK DAN PERBEKALAN KESEHATAN

Drs. Bayu Teja M, Apt., MPharm

DIREKTUR BINA PELAYANAN

KEFARMASIAN

Dra. Dettie Yuliati, Apt., M.Si

DIREKTUR BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN

Drg. Arianti Anaya., MKM

DIREKTUR BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI KEFARMASIAN

Dra. Engko Sosialine M., Apt

SEKRETARIS

DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN

Drs. H. Purwadi, Apt., MM., ME

Un

ive

rsitas

Ind

Lampiran 3. Struktur Organisasi Direktorat Bina Pelayanan Kefarmasian

DIREKTUR BINA PELAYANAN KEFARMASIAN

Dra. Dettie Yuliati, Apt., M.Si.

KASUBDIT FARMASI KLINIK

Drs. Ellon Sirait, Apt., M.Sc.,PH

KASIE PELAYANAN FARMASI KLINIK

Sri Bintang L., Apt., M.Si

KASIE PEMANTAUAN & EVALUASI FARKLIN

Helsy Pahlemy, Apt., M.Farm

KASUBDIT FARMASI KOMUNITAS

Dra. Dara Amelia, Apt.,MM

KASIE PELAYANAN FARMASI KOMUNITAS

Fachriah Syamsuddin, S.Si.,Apt

KASIE PEMANTAUAN & EVALUASI FARKOM

Indah Susanti D., Apt., MM

KASUBDIT PENGGUNAAN OBAT RASIONAL

Dra. Hidayati Mas'ud, Apt., MM

KASIE PROMOSI POR

Dra. Vita Picola H., Apt

KASIE PEMANTAUAN & EVALUASI POR

Erie Gusnellyanti, Apt., M.Kes

KASUBDIT STANDARISASI

dr. Zorni Fadia

KASIE STANDARISASI POR

Dra. Ardiyani, Apt., M.Si

KASIE STANDARISASI YANFAR

Sari Mutiarani, S.Si., Apt

KASUBBAG TU Desko Irianto, SH., MM 3 5 Univ e rs itas Indo nes

AIPHSS : Australia Indonesia Partnership for Health Systems Strengthening

APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

APBN-P : Anggaran pendapatan dan belanja negara-perubahan

BPJS : Badan penyelengara jaminan sosial

BPPSDM : Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia

BUK : Bina Upaya Kesehatan

CBIA : Cara belajar insan aktif

GKIA : Gizi dan Kesehatan ibu dan Anak

HTA : Health Technology Assessment

ICU : Intensive care unit

ISPA : Infeksi saluran pernapasan atas

JKN : Jaminan Kesehatan Nasional

KKN : Korupsi, kolusi dan nepotisme

LKPP : Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

NSPK : Norma, standar, prosedur dan kriteria

PBS : Pharmaceutical Benefits Scheme

PIO : Pelayanan informasi obat

PKRT : Peralatan kesehatan rumah tangga

POR : Penggunaan obat rasional

PPOR : Penggerakan Penggunaan Obat Rasional

P2PL : Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

SDM : Sumber Daya Manusia

SJSN : Sistem jaminan sosial nasional

TOT : Training of trainer

TTK : Tenaga teknis kefarmasian

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEFARMASIAN

DIREKTORAT JENDERAL BINA KEFARMASIAN

DAN ALAT KESEHATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

PERIODE 15-26 JULI 2013

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

NABILA, S.Farm

1206329846

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

JANUARI 2014

REKONSILIASI PENGOBATAN

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker

NABILA, S. Farm

1206329846

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...i DAFTAR ISI ...iii DAFTAR LAMPIRAN ...vi

BAB 1. PENDAHULUAN ...1

1.1 Latar Belakang ...1 1.2 Tujuan ...2

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ...3

2.1 Rekonsiliasi Obat Menurut IHS ...3 2.2 Rekonsiliasi Obat Menurut ISMP ...3 2.3 Rekonsiliasi Obat di Kanada ...5 2.4 Peran Apoteker Dalam Rekonsiliasi Obat ...5

BAB 3. METODOLOGI PENGKAJIAN ...11

3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian ...11 3.2 Metode Pengumpulan Data dan Pengkajian ...11

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ...12

4.1 Hasil dan Pembahasan ...12 4.2 Rekonsiliasi Obat di Indonesia ...13

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ...15

5.1 Kesimpulan ...15 5.2 Saran ...15

DAFTAR ACUAN ...16

1 Universitas Indonesia BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rumah sakit sebagai salah satu sarana upaya kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan serta dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian. Pelayanan di rumah sakit adalah kegiatan yang berupa pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat inap, dan pelayanan gawat darurat yang mencakup pelayanan medik dan penunjang medik. Salah satu unit pelayanan yang mempunyai peranan sangat penting adalah unit kefarmasian. Pada pelayanan di rumah sakit sering kali terjadi perpindahan pasien dari satu unit ke unit yang lain. Pada perpindahan ini sering kali terjadi pasien menerima obat yang telah diberikan di unit perawatan sebelumnya, sehingga banyak terjadi kasus yang tidak diharapkan dari penggunaan obat. Hal ini terungkap dari laporan Institute of Medicine (IOM) pada tahun 1999 mengenai kejadian yang tidak diharapkan yang berkaitan dengan pengggunaan obat. IOM melaporkan bahwa sekitar 44.000 – 98.000 jiwa meningggal karena kesalahan perawatan rawat inap di ruamah sakit, dan ini merupakan jenis medical error yang banyak terjadi. Dari laporan IOM tersebut disadari bahwa kejadian tidak diharapkan dari penggunaan obat bukan hanya disebabkan oleh sifat farmakologi dari obat tersebut, melainkan melibatkan semua proses dalam penggunaan obat. Medication error terjadi di berbagai tahap penggunaan obat, dari proses penggunaan obat mulai dari peresepan (1,5-15%), penyerahan obat oleh farmasi (2,1-11%), pemberian obat kepada pasien (5-19%) dan ketika pasien menggunakan obat (Dean, B., et al. 2002; Ridley, S.A., et al., 2004; Beso, A et al., 2005; Leape, L., et al., 1995; Barber, N., 1998; Barker, K.N., et al., 2002). Fakta tersebut mendorong dilakukannya upaya – upaya perbaikan demi mengurangi kejadian medication

error.

Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap medication error, perlu dilakukan upaya khusus yang berfokus untuk mengurangi resiko pada obat atau prosedur tertentu. Salah satu upaya tersebut adalah dilakukannya rekonsiliasi pengobatan.

Rekonsiliasi pengobatan adalah suatu proses formal untuk membuat daftar obat yang digunakan setiap pasien sebelum masuk ke rumah sakit dengan seakurat dan selengkap mungkin, dan dibandingkan dengan instruksi dokter ketika pasien datang kerumah sakit , pindah dari unit satu ke unit lain, dan/atau setelah keluar dari rumah sakit. Bila ada perbedaan antara riwayat penggunaan obat pasien dengan instruksi penggunaan obat di rumah sakit maka perlu menjadi perhatian dokter yang merawat dan bila perlu maka instruksi harus diubah (Rogers. G., et al., 2006).

Rekonsiliasi pengobatan perlu dilakukan karena adanya laporan dan bukti – bukti dalam penelitian bahwa ada perbedaan obat berdasarkan riwayat penggunaan obat. Dari suatu penelitian ditemukan bahwa 61% pasien mengalami minimal 1 kali perbedaan obat yang tidak disengaja. Sebanyak 46,4% kesalahan yang terjadi berupa tidak diberikannya obat yang biasanya secara teratur digunakan oleh pasien dan sebanyak 38,6% pasien yang mengalami perbedaan tersebut berpotensi untuk menyebabkan ketidaknyamanan atau kondisi yang memperburuk secara klinis dengan tingkat menengah sampai parah (Cornish, P.L., et al., 2005). Penelitian lain menunjukkan terjadinya perbedaan antara obat yang digunakan sebelum pasien datang ke rumah sakit dengan obat yang diresepkan oleh dokter ketika pasien dirawat di rumah sakit dengan angka kejadian sekitar 30-70% ( Gleason, K. M., et al., 2004).

1.2. Tujuan

Tujuan dari dilakukannya studi proses rekonsiliasi obat adalah a. Untuk mengetahui proses rekonsiliasi pengobatan yang dilakukan

b. Untuk mengetahui seberapa penting proses rekonsiliasi obat harus dilakukan

3 Universitas Indonesia BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Rekonsiliasi obat telah dilakukan oleh tenaga kesehatan diseluruh negara di dunia contohnya seperti di Kanada, Australia, Amerika Serikat, Jerman dan Indonesia. Langkah – langkah yang dilakukan dalam pelaksanaan rekonsiliasi obat yang dilakukan di negara – negara tersebut tidak sama dan mengacu pada standar pelayanan yang ditetapkan sendiri oleh negara.

2.1. Rekonsiliasi Obat Menurut IHS

Menurut IHS (Indian Health Service) the federal health program for

American Indians and Alasca Natives, rekonsiliasi obat adalah "proses

membandingkan obat yang diterima oleh pasien dengan semua pengobatan yang selama ini telah diterima oleh pasien. Rekonsiliasi ini dilakukan untuk menghindari kesalahan pengobatan seperti kelalaian, duplikasi, kesalahan dosis, atau interaksi obat. Rekonsiliasi harus dilakukan pada setiap transisi perawatan di mana terdapat obat-obatan baru yang diresepkan atau resep yang ada ditulis ulang. Transisi dalam perawatan termasuk perubahan dalam pengaturan, layanan, praktisi atau tingkat perawatan.

Menurut IHS, proses rekonsiliasi pengobatan terdiri dari lima langkah yaitu :

1. Membuat daftar obat yang diterima oleh pasien saat ini, 2. Membuat daftar obat yang akan diresepkan kepada pasien,

3. Membandingkan obat yang diterima oleh pasien saat ini dengan obat yang akan diresepkan kepada pasien.

4. Membuat keputusan klinis berdasarkan perbandingan dua daftar obat tersebut,

5. Mengkomunikasikan daftar obat baru yang diterima pasien kepada perawat dan kepada pasien.

2.2. Rekonsiliasi Obat Menurut ISMP

Negara Kanada memiliki lembaga yang mendedikasikan untuk memajukan keamanan obat dalam semua aspek pengaturan kesehatan. The Institute for Safe

Madication Practices Canada ( Canada ISMP) adalah sebuah lembaga

independen, nasional dan lembaga non-profit yang didedikasikan untuk memajukan keamanan obat dalam semua aspek pengaturan kesehatan. ISMP Kanada mendukung program Departemen Kesehatan Ontario terhadap pelaporan publik indikator keselamatan dengan memfasilitasi penentuan rekonsiliasi pengobatan yang sesuai dengan indikator.

Rekonsiliasi pengobatan adalah proses formal dimana penyedia layanan kesehatan bekerja sama dengan pasien, keluarga dan sarana pelayanan untuk memastikan bahwa informasi obat yang diterima akurat dan komprehensif juga dikomunikasikan secara konsisten keseluruh transisi perawatan. Rekonsiliasi pengobatan membutuhkan sistematis dan kajian komprehensif dari semua obat yang digunakan oleh pasien untuk memastikan bahwa obat yang ditambahkan, diubah atau diberhentikan dilakukan secara hati-hati dan dievaluasi. Hal ini adalah komponen dari manajemen pengobatan dan akan menginformasikan dan memungkinkan resep untuk membuat keputusan resep yang paling tepat untuk pasien (ISMP Canada / CPSI, 2011)

Langkah awal proses rekonsiliasi pengobatan adalah mendapatkan sejarah penggunaan obat di semua titik transisi. Sejarah pengunaan obat dapat didefinisikan sebagai daftar obatan yang saat ini sedang digunakan dan obat-obatan yang terdahulu digunakan, baik yang diresepkan maupun non-resep. Untuk mengetahui sejarah obat pasien diperlukan suatu proses yang sistematis untuk mewawancarai pasien atau keluarga pasien dan review setidaknya satu lainnya sumber terpercaya untuk dijadikan informasi, sehingga dapat diperoleh dan diverifikasi semua obat yang digunakan oleh pasien baik yang diresepkan maupun yang non-resep.

Langkah-langkah yang tersisa dari rekonsiliasi dalam pengaturan perawatan akut termasuk membandingkan sejarah obat pasien pada saat masuk atau saat pemindahan dan atau pada saat perintah debit untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah ketidaksesuaian dan komunikasi yang efektif selanjutnya tentang perubahan yang mungkin terjadi pada obat sebelum rejimen.

5

Universitas Indonesia 2.3. Rekonsiliasi Obat di Kanada

Komunikasi efektif tentang obat adalah komponen penting dalam memberikan perawatan yang aman di semua sektor dari sistem perawatan kesehatan di Kanada, tanpa adanya komunikasi pasien memiliki resiko dalam kesalahan pengobatan. Komunikasi ini harus melibatkan dokter yang menangani pasien, keluarga dan penyedia perawatan kesehatan lainnya untuk mengumpulkna dan berbagi komprehensif informasi obat.

Sebagian besar dari efek samping yang dihasilkan adalah berhubungan dengan obat (Samoy et al, 2006;. Baker et al, 2004). Rekonsiliasi obat dapat membantu pencegahan obat yang merugikan, menurunkan total biaya yang diakibatkan kesalahan pengobatan. Rekonsiliasi obat dapat memastikan bahwa informasi obat yang diberikan akurat dan komprehensif pada titik transisi selama perawatan. Titik – titik ini terjadi misalnya ketika pasien masuk rumah sakit, transisi ke layanan atau ruang rawat lain, atau ketika pasien pulang kerumah.

Rekonsiliasi obat adalah proses yang dimaksudkan untuk mencegah kesalahan pengobatan pada titik transisi dalam perawatan pasien. Untuk mencapai tujuan rekonsiliasi obat, ISMP Kanada mengembangkan survei praktek pengukuran rekonsiliasi obat dan disebarluaskan untuk sampel fasilitas kesehatan yang ada di Ontario. Daftar tindakan rekonsiliasi obat yang relevan disusun kemudian diadakan rapat bersama pakar kesehatan di daerah Toronto untuk mencapai konsensus mengenai rekomendasi yang sesuai untuk rekonsiliasi obat yang potensial untuk digunakan pada pelaporan publik.

2.4 Peran Apoteker Dalam Rekonsiliasi Obat

The American Society of Health -System Pharmacist ( ASHP ) percaya

bahwa proses rekonsiliasi obat yang efektif mampu mengurangi kesalahan pengobatan dan meningkatkan keamanan obat yang digunakan oleh pasien. ASHP menganjurkan kepada rumah sakit dan sistem kesehatan, termasuk penyedia pelayanan kesehatan dan klinik pribadi, agar bekerjasama mengadakan program rekonsiliasi obat untuk mendukukung kesinambungan perawatan pasien. ASHP percaya bahwa apoteker, karena pengetahuan mereka berbeda, keterampilan, dan kemampuan , memenuhi syarat secara unik untuk memimpin upaya interdisipliner

untuk membangun dan memelihara proses rekonsiliasi obat yang efektif di rumah sakit dan di seluruh sistem kesehatan. Apoteker harus memimpin atau mengambil peran kunci dalam komponen penting rekonsiliasi obat sebagai berikut: mengembangkan kebijakan dan prosedur, melaksanakan dan terus meningkatkan proses rekonsiliasi obat, melakukan pelatihan dan menjamin kompetensi mereka yang terlibat dalam rekonsiliasi obat, menyediakan keahlian operasional dan terapi dalam pengembangan sistem informasi yang mendukung rekonsiliasi pengobatan, dan menganjurkan untuk melakukan program rekonsiliasi pengobatan di masyarakat. Berdasarkan peran kepemimpinan mereka, apoteker berbagi akuntabilitas dengan pemimpin rumah sakit dan sistem kesehatan lain agar proses rekonsiliasi obat sukses berkelanjutan di seluruh kontinum perawatan.

Di luar negeri peran apoteker telah diakui perannya dalam kegiatan rekonsiliasi obat. Ketika dilakukan oleh apoteker, rekonsiliasi obat dapat mengurangi frekuensi tingkat keparahan penyakit yang diakibatkan oleh adanya kesalahan pengobatan yang berpotensi mengakibatkan pasien dalam bahaya.

Pada tahun 2007 dan 2008 ASHP dan Asosiasi Apoteker Amerika memulai upaya kolaborasi untuk menciptakan visi bersama untuk peran apoteker dalam proses rekonsiliasi obat. Visi itu mengakui bahwa apoteker harus mengambil peran kepemimpinan dalam meningkatkan rekonsiliasi obat, yang berperan sebagai pendukung dan ahli obat-obatan, untuk memberikan informasi obat kepada pasien dan penyedia tenaga kesehatan. Secara khusus, tanggung jawab apoteker adalah sebagai berikut :

a. Memimpin dalam perancangan dan pengelolaan sistem rekonsiliasi obat untuk pada pasien,

b. Mendidik pasien dan petugas kesehatan tentang manfaat dan keterbatasan dari proses rekonsiliasi obat, dan

c. Memantau pasien dan mendukung pengobatan pasien di seluruh transisi perawatan.

Menggunakan visi ini sebagai panduan, ASHP telah mengembangkan rekomendasi-rekomendasi tersebut untuk fungsi apoteker dalam kegiatan rekonsiliasi obat.

7

Universitas Indonesia

Meskipun rekonsiliasi obat dilakukan pada masa transisi perawatan, kegiatan yang berhubungan dengan rekonsiliasi obat harus dianggap sebagai bagian dari perawatan berkelanjutan yang diberikan kepada pasien. Selain partisipasi aktif dalam kegiatan rekonsiliasi obat, apoteker memiliki lima fungsi dasar dalam rekonsiliasi obat: mengembangkan kebijakan dan prosedur mengenai proses rekonsiliasi obat, menerapkan dan terus meningkatkan proses tersebut, melakukan pelatihan dan menjamin kompetensi mereka yang terlibat dalam rekonsiliasi obat, menyediakan keahlian operasional dan terapi keahlian dalam pengembangan sistem informasi yang mendukung rekonsiliasi obat, dan mendukung program rekonsiliasi pengobatan di masyarakat. Tingkat keterlibatan apoteker dalam fungsi-fungsi ini akan tergantung pada sumber daya yang tersedia.

2.4.1 Mengembangkan Kebijakan dan Prosedur

Apoteker harus memberikan kepemimpinan dan berpartisipasi dalam menetapkan kebijakan dan prosedur yang mendorong :

a. Penyediaan layanan perawatan pasien yang mencakup proses rekonsiliasi obat,

b. Pelaksanaan dan pengoperasian sistem rekonsiliasi obat berbasis bukti yang mengoptimalkan sumber daya yang tersedia,

c. Pendidikan staf organisasi tentang pentingnya rekonsiliasi obat sebagai inisiatif keselamatan pasien,dan

d. Kemajuan rekonsiliasi obat sebagai fokus kegiatan peningkatan kinerja.

2.4.2 Pelaksanaan dan Peningkatan Kinerja.

Apoteker harus memimpin atau berpartisipasi dalam pelaksanaan organisasi dan upaya peningkatan kinerja mengenai kegiatan rekonsiliasi obat . Kegiatan ini bisa meliputi tetapi tidak terbatas pada :

a. Membentuk gugus tugas pelaksanaan rekonsiliasi obat atau tim desain ulang b. Menciptakan visi dan misi untuk kegiatan rekonsiliasi obat,

c. Menjamin tanggung jawab tingkat eksekutif atau sponsorship mengenai kebutuhan sumber daya rekonsiliasi obat,

d. Mengidentifikasi hambatan yang mencegah, atau hambatan potensial yang dapat mencegah prosedur rekonsiliasi obat yang aman dan efektif pada model praktek mereka, serta solusi yang mungkin,

e. Membimbing pengembangan alur kerja yang mengintegrasikan kebutuhan operasional dan klinis,

f. Menetapkan peran dan tanggung jawab penyedia layanan kesehatan dalam proses rekonsiliasi obat, termasuk teknisi farmasi, mahasiswa farmasi, dan tenaga penunjang medis lainnya,

g. Memastikan bahwa pelatihan berbasis kompetensi untuk semua personil yang terlibat dalam prosedur rekonsiliasi obat didirikan,

h. Menciptakan atau membantu dalam pengembangan standar dokumentasi template untuk daftar obat dan rekonsiliasi,

i. Memastikan bahwa prosedur yang ditetapkan memenuhi persyaratan peraturan dan kebijakan organisasi, dan

j. Mengembangkan metode untuk evaluasi sistem rekonsiliasi obat yang sedang berlangsung

2.4.3 Pelatihan dan Jaminan Kompetensi.

Apoteker harus memimpin atau berpartisipasi dalam :

a. Mengidentifikasi semua penyedia layanan kesehatan dan staf pendukung yang terlibat dalam kegiatan rekonsiliasi obat,

b. Menciptakan pelatihan berbasis kompetensi dan penilaian keterampilan yang spesifik untuk peran masing-masing anggota staf dan bertanggung jawab dalam rekonsiliasi obat-obatan (misalnya, melakukan wawancara obat, mengambil sejarah pengobatan, melakukan rekonsiliasi obat),

c. Memberikan pendidikan dan melakukan penilaian untuk menjamin kompetensi mereka yang mendokumentasikan dan melakukan kegiatan rekonsiliasi obat, dan

d. Memberikan pelatihan yang bersifat mendidik atau simulasi untuk sejarah pengobatan dan prosedur rekonsiliasi.

9

Universitas Indonesia 2.4.4 Pengembangan Sistem Informasi.

Sebagai organisasi yang lebih mengadopsi order entri data dengan sistem komputerisasi yang disediakan oleh operator, catatan medis elektronik, dan sistem informasi lainnya, apoteker harus memastikan bahwa sistem mendukung rekonsiliasi obat di seluruh kontinum perawatan. Pertimbangan harus diberikan untuk membangun metode untuk ekstraksi data dari rekam medis yang memungkinkan untuk pelaporan internal dan eksternal dari langkah-langkah yang berkaitan dengan rekonsiliasi obat

2.4.5 Dukungan.

Apoteker harus memberikan informasi tentang rekonsiliasi obat untuk penyedia layanan kesehatan, pasien, dan masyarakat, dan mereka harus mengevaluasi efektivitas upaya-upaya pendukung pada proses rekonsiliasi obat. Kegiatan mungkin termasuk putaran klinis besar, rapat dengan para ahli, konseling pasien, dan komunikasi massa seperti laporan berkala dan pengumuman pelayanan publik . Upaya ini harus :

a. Menunjukkan efektivitas hasil proses rekonsiliasi obat dalam meningkatkan keselamatan pasien dan mengurangi biaya perawatan kesehatan,

b. Menekankan pentingnya komunikasi yang tepat waktu dan akurat informasi obat antara pasien dan penyedia layanan kesehatan mereka, c. Menjelaskan dan menggambarkan peran penting teknologi dan rekam

medis elektronik yang mendukung dokumentasi rekonsiliasi obat dan rekonsiliasi

d. Memberikan strategi untuk mencegah efek samping obat yang berhubungan dengan berlebihan, penyalahgunaan, kelalaian, duplikasi, atau perbedaan lain yang ditemukan selama proses rekonsiliasi obat, e. Menyoroti pentingnya menyelesaikan sejarah pengobatan secara lengkap

dan akurat, termasuk penggunaan suplemen, sebelum meresepkan atau pemberian obat baru, dan

f. Menggambarkan peluang bagi pendamping apoteker, seperti teknisi farmasi dan mahasiswa, untuk berpartisipasi dalam kegiatan rekonsiliasi obat.

2.4.6 Sumber Kendala

Meskipun literatur menunjukkan pentingnya peran apoteker dalam keberhasilan proses rekonsiliasi obat di seluruh kontinum perawatan, sumber daya yang terpenting yang dibutuhkan untuk melakukan rekonsiliasi obat adalah terampil dan efisien, yang menunjukkan peluang untuk memperluas peran warga farmasi, mahasiswa, dan teknisi. Ketika dilatih dengan benar, orang-orang ini dapat berpartisipasi dalam dokumentasi sejarah obat, yang kemudian harus ditinjau oleh apoteker untuk akurasi sebelum rekonsiliasi obat dilakukan, seperti yang dijelaskan dalam Rekomendasi ASHP Pharmacy Practice Model Initiative

Summit. Dalam satu studi, potensi kesalahan karena informasi yang tidak lengkap

atau tidak benar, resep tidak terbaca, dan interaksi obat yang serius mampu berkurang hingga 82% hal ini terjadi karena ditangani oleh teknisi farmasi yang

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 44-73)

Dokumen terkait