BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
6.2 Saran
a. Perlu ditingkatkannya ketelitian, kedisiplinan dan tindakan tegas dalam penulisan stok barang di kartu stok, sehingga tidak terjadi kekurangan obat atau kehilangan obat.
b. Perlu ditingkatkan sistem komputerisasi dalam hal stok barang sehingga pada saat pembeli datang tidak perlu dilakukan pengecekan ulang terhadap stok barang.
c. Perlu adanya data harga-harga produk farmasi maupun non-farmasi dalam bentuk buku atau label harga pada produk untuk memudahkan pelayanan bagi pasien dan mengefisiensikan waktu pelayanan.
53 Universitas Indonesia DAFTAR REFERENSI
Departemen Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan No.28/Menkes/Per/I/1978 Tentang Penyimpanan Narkotika. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. Peraturan Pemerintah RI No. 25 Tahun 1980
Tentang Apotek (Pasal 1 dan 2). Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan No. 922 Tahun 1993
Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. Undang-Undang No. 5 Tahun 1997 Tentang
Psikotropika. Jakarta
Departemen Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan No. 1322/Menkes/SK/X/2002 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. Undang-Undang No. 35 tahun 2009 Tentang
Narkotika. Jakarta.
Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 Tentang
Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta.
Kementerian Kesehatan. (2006). Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Obat
Bebas Terbatas. Jakarta : Direktorat Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta : Direktorat Jenderal Pelayanan
Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. (2000). Profil Perusahaan PT. Kimia
54
Lampiran 1. Struktur Organisasi PT. Kimia Farma Apotek
Direktur Utama Direktur Operasional Direktur Pengembangan Manajer Bisnis Manajer Operasional Manajer layanan dan logistik Manajer Pengembangan pasar Manajer SDM dan Umum
Manajer keuangan dan Akuntansi
Manajer IT
Lampiran 2. Struktur Organisasi Bisnis Manajer Bisnis Manajer Supervisor Pengadaan Supervisor Administrasi / Ketataushaan
Pengelola Administrasi Pajak
Pengelola SDM dan Umum Pengelola Administrasi Kas /
Bank Petugas Inkaso
Pengelola Administrasi Penjualan/ piutang Dagang
Supervisor Akutansi dan Keuangan
Gudang Pembelian
Pengelola Administrasi Pembelian / Hutang Dagang
Pengelola Penagihan
Manajer Apotek Pelayanan
56
Lampiran 3. Struktur Organisasi Apotek Kimia Farma No. 96
Apoteker Pendamping
Manager Apotek Pelayanan
Supervisor Layanan Asisten Apoteker Pelayanan OTC SPG Juru Resep Kasir Kecil
Lampiran 4. Peta Lokasi Apotek Kimia Farma No. 96
Apotek KF No.96, Slipi Jakarta Barat
58
Lampiran 5. Alur Pengadaan
DISTRIBUTOR Defecta APOTEK KF NO.48 BM JAYA I GUDANG PENGADAAN PEMBERLIAN MENDESAK PBF langsung Apotek Selain KF APOTEK KF Yang Lain PBF KIMIA FARMA 1) BPBA DROPPING SP FAKTUR 3) 2) BPBA DROPPING SP. NARKOTIKA FAKTUR 4)
Lampiran 6. Alur Pelayanan Resep Tunai dan Kredit
Pemberian Etiket
Pemeriksaan Kesesuaian Obat
Penyerahan obat (disertai informasi obat)
Obat diterima oleh pasien/pelanggan
Resep diberi harga & disimpan oleh petugas
Resep disimpan oleh petugas
Penerimaan Resep
Resep Kredit Resep Tunai
Pemeriksaan kelengkapan resep
Pemberian Harga Resep Pemeriksaan kelengkapan
resep & administrasi Pemberian Nomor urut
resep Bagian Peracikan Obat Racikan Pasien membayar sejumlah uang di Kasir
Pemberian nomor urut resep
60
Lampiran 7. Bon Permintaan Barang Apotek (BPBA)
BON PERMINTAAN BARANG APOTEK TANGGAL
Untuk
NO. NAMA BARANG SATUAN
JUMLAH YANG DIMINTA JUMLAH YANG DIBERIKAN SISA PERSEDIAAN GUDANG KET. PJ GUDANG PENERIMA BARANG PJ PEMBELIAN PJ PELAKSANAAN Apotek
Jl. S. Parman Kav. G/12, Slipi Jakarta Barat 11420 Telp. (021) 5481140, 5321551
Fax. (021) 5350484
Lampiran 8. Formulir Dropping Barang BISNIS MANAGER JAYA 1
Jl. ST. HASANUDDIN NO. 1 JAKARTA 12160
DROPPING KE :
Tahun Dropping : Tahun BPBA :
Nomor Dropping : Nomor BPBA :
Tanggal Dropping :
No Nama Jumlah
Drop Bonus Kemasan
Harga Satuan Harga Utuh Discount 1 Discount 2 Total harga PJ GUDANG PENERIMA BARANG PJ PEMBELIAN PJ PELAKSANAAN
62
Lampiran 9. Format Surat Pesanan Narkotika
Rayon : Model N.9
Np. S.P : Lembar ke 1 / 2 / 3 / 4
SURAT PESANAN NARKOTIKA
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : ... Jabatan : ... Alamat Rumah : ... Mengajukan pesanan NARKOTIKA kepada :
Nama Distributor : ... Alamat & No. Telepon : ... sebagai berikut
NARKOTIKA tersebut akan dipergunakan untuk keperluan
Apotik : ... Lembaga STOK AKHIR : ... ... PEMESAN, ( ... ) No. S.I.K.
Lampiran 10. Surat Pesanan Psikotropika
Nomor : ...
SURAT PESANAN PSIKOTROPIKA
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
Alamat :
Jabatan :
Mengajukan Permohonan kepada : Nama Perusahaan :
Alamat :
Jenis PSIKOTROPIKA sebagai berikut :
Untuk keperluan pedagang besar farmasi/Apotek/Rumah Sakit/Sarana penyimpanan sediaan farmasi Pemerintah/Lembaga penelitian dan / atau Lembaga Pendidikan *)
Nama : Alamat : Jakarta, ... Penanggung jawab SIP / SIK Catatan:
64
Lampiran 11. Laporan Penggunaan Narkotika
LAPORAN PENGGUNAAN SEDIAAN JADI NARKOTIKA
Nama Apotek : Kimia Farma Slipi No. 96
No. SIA :
Alamat & No. Telepon : Jl. S. Parman Kav. G/12 A, Slipi Kab./Kodya : Jakarta Barat
Bulan : Tahun : No. Nama Bahan Jadi Satuan Stok Awal Bulan
Penerimaan Pengeluaran Stok Akhir Bulan
Ket. Dari Jumlah Dari Jumlah
Pembuat Daftar, Jakarta, …………...
(………) Penanggung Jawab Apotek
(……….) Pemeriksa
Lampiran 12. Laporan Penggunaan Morfin dan Pethidin
LAPORAN PENGGUNAAN MORFIN DAN PETHIDIN
Nama Apotek : Kimia Farma Slipi No. 96
No. SIA :
Alamat & No. Telepon : Jl. S. Parman Kav. G/12 A, Slipi Kab./Kodya : Jakarta Barat
Bulan : Tahun : No. Nama Bahan Jadi Satuan Stok Awal Bulan
Penerimaan Pengeluaran Stok Akhir Bulan
Ket. Dari Jumlah Dari Jumlah
Pembuat Daftar, Jakarta, …………...
(………) Penanggung Jawab Apotek
(……….) Pemeriksa
66
Lampiran 13. Laporan Penggunaan Psikotropika
LAPORAN PENGGUNAAN PSIKOTROPIKA
Nama Apotek : Kimia Farma Slipi No. 96
No. SIA :
Alamat & No. Telepon : Jl. S. Parman Kav. G/12 A, Slipi Kab./Kodya : Jakarta Barat
Bulan : Tahun : No. Nama Bahan Jadi Satuan Stok Awal Bulan
Penerimaan Pengeluaran Stok Akhir Bulan
Ket. Dari Jumlah Dari Jumlah
Pembuat Daftar, Jakarta, ………...
(………) Penanggung Jawab Apotek
(……….) Pemeriksa
Lampiran 14. Berita Acara Pemusnahan Narkotika
68
70
Lampiran 17. Formulir Penerimaan Barang
APOTEK KIMIA FARMA Kreditur :
Jl. S. Parman KAV G/12 A. Slipi No. Faktur :
JAKARTA 11480 No. Terima :
Tanggal Terima :
PENERIMAAN BARANG
No. SPB: No. Nama
Obat Jumlah Kemasan
Harga Satuan Potongan Jumlah 1 2 3 Rupiah DPP PPN TOTAL
Pengentri Pemeriksa Validasi
( ……… ) ( ...) (………) Bagian pembelian Apoteker
72
KARTU BARANG PERACIKAN/ PENJUALAN BEBAS Nama Barang : Pabrik : Kemasan : Tgl No.
Dokumen + – Sisa Paraf ED No.
Batch Lampiran 20. Kartu Stok
74
Apotek
Jl. S. Parman Kav. G/12 A, Slipi Jakarta Barat 11420 Telp. (021) 5481140, 5321551 Fax. (021) 5350484 Apoteker:
Drs. Limaran S.
SIK : 3902 / BLampiran 21. Copy Resep
COPY RESEP
Salinan resep no. _______________ Tanggal ___________
Dari dr. __________________________________________
Dibuat tanggal ____________________________________
Untuk ___________________________________________
R/
pcc
Apotek
Jl. S. Parman Kav. G/12 A, Slipi Jakarta Barat 11420 Telp. (021) 5481140, 5321551
Fax. (021) 5350484
KUITANSI PEMBAYARAN RESEP/TUNAI Tanggal : No. :
Lampiran 22. Kuitansi Pembayaran
Sudah diterima dari :
Banyaknya Uang :
Untuk pembayaran resep-resep :
Tgl. ______ No. _____ Harga Rp. _________ Yang Sakit ________ Dokter ______ Tgl. ______ No. _____ Harga Rp. _________ Yang Sakit ________ Dokter ______ Tgl. ______ No. _____ Harga Rp. _________ Yang Sakit ________ Dokter ______ Tgl. ______ No. _____ Harga Rp. _________ Yang Sakit ________ Dokter ______ Tgl. ______ No. _____ Harga Rp. _________ Yang Sakit ________ Dokter ______
76
Lampiran 23. Etiket dan Label
Etiket Dalam Etiket Luar
Label Obat
ANTIBIOTIK
PASTIKAN OBAT DIMINUM SAMPAI HABIS DALAM WAKTU YANG SAMA DAN TERBAGI RATA
OBAT LUAR JANGAN DIMINUM
JANGAN DITELAN
Hindarkan mengendarai kendaraan dan menjalankan mesin, serta jauhi alkohol selama
menggunankan obat ini
Obat ini diminum saat perut kosong (1jam sebelum makan
atau 2 jam sesudah makan)
Obat ini diminum secara teratur, jangan hentikan tanpa konsultasi dokter
KOCOK DULU
Apotek Jl. S. Parman Kav. G/12 A, Slipi
Jakarta Barat 11420 Telp. (021) 5481140, 5321551 Fax. (021) 5350484 Apoteker: Drs. Limaran S. SIK : 3902 / B No. : _________________ Tanggal : ________________ Nama : __________________________________________ Cap / Tab ... x sehari ... Bungkus
Sendok makan / Teh Sebelum / Sesudah Makan Apotek
Jl. S. Parman Kav. G/12 A, Slipi Jakarta Barat 11420 Telp. (021) 5481140, 5321551 Fax. (021) 5350484 Apoteker: Drs. Limaran S. SIK : 3902 / B No. : _________________ Tanggal : ________________ Nama : __________________________________________ Cap / Tab ... x sehari ... Bungkus
Sendok makan / Teh Sebelum / Sesudah Makan
Lampiran 24. Kemasan Obat dan Puyer
78
Lampiran 25. Laporan Ikhtisar Penjualan Harian (LIPH)
UNIVERSITAS INDONESIA
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI APOTEK KIMIA FARMA NO. 96
JL. LETJEN S. PARMAN KAV. G/12, JAKARTA BARAT
PERIODE 13 FEBRUARI – 22 MARET 2012
ANALISIS RESEP DEPRESI
MARVEL, S.Far.
1106047152
ANGKATAN LXXIV
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM PROFESI APOTEKER – DEPARTEMEN FARMASI
ii Universitas Indonesia DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL………... i DAFTAR ISI………... ii DAFTAR TABEL……….. iv DAFTAR LAMPIRAN……….………...………. v BAB 1. PENDAHULUAN……….. 1 1.1 Latar Belakang...………... 1 1.2 Tujuan…………...……… 2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA………. 3
2.1 Pengertian Depresi…...………. 3 2.2 Tanda-Tanda dan Gejala Klinis……….………... 3 2.3 Klasifikasi Depresi……… 5 2.3.1 Kelainan Depresi Mayor………..………….………….. 5 2.3.2 Kelainan Distimik………... 6 2.4 Teori Patofisiologi Depresi...……….... 6 2.4.1 Hipotesis Amina Biogenik…...………..…………. 6 2.4.2 Perubahan Post-Sinaptik Pada Sensitivitas Reseptor….. 6 2.4.3 Hipotesis Permisif………...………...……. 7 2.4.4 Hipotesis Deregulasi…...……….…... 7 2.4.5 Peranan Dopamin (DA)……..……… 7 2.5 Terapi Farmakologi..………..…….…….. 7 2.5.1 Inhibitor Reuptake Serotonin yang Selektif (SSRI)…... 9 2.5.2 Penghambat Ambilan Serotonin/Norepinefrin………... 9 2.5.3 Aminoketon………..……….……. 9 2.5.4 Triazolopiridin…………..……….……. 10 2.5.5 Tetrasiklik………..……….……….…... 10 2.5.6 Antidepresan Trisiklik……..…….……...………….…. 11 2.5.7 Dibenzoksazepin………...……….…. 11 2.5.8 Penghambat MAO……….………..………... 11 2.6 Penatalaksanaan……….…………..……….… 12
BAB 3. ANALISIS RESEP DEPRESI….….……...……….……… 15
3.1 Resep Penyakit Depresi………….………... 15 3.2 Monografi Komposisi Resep….………... 15
3.2.1 Kalxetin……….……….…… 15
3.2.2 Abilify………. 16 3.2.3 Folic Acid……….……….. 17
BAB 4. PEMBAHASAN…….…...……….… 19
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN…...……….……….…. 22
5.1 Kesimpulan………...……...………..………... 22 5.2 Saran………..……….……….. 22
iv Universitas Indonesia DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Klasifikasi Obat Antidepresan………... 13 Tabel 2.2. Algoritma Penatalaksanaan Penyakit Depresi………... 14 Tabel 3.1. Contoh Resep Untuk Pasien Depresi……….………... 15
1 Universitas Indonesia BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gangguan depresi adalah salah satu jenis gangguan jiwa yang paling sering terjadi. Prevalensi gangguan depresif pada populasi dunia adalah 3 – 8 % dengan 50 % kasus terjadi pada usia produktif yaitu 20 – 50 tahun. World Health
Organization menyatakan bahwa gangguan depresi berada pada urutan ke-empat
penyakit di dunia. Gangguan depresi mengenai sekitar 20% wanita dan 12% laki-laki pada suatu waktu dalam kehidupan. Pada tahun 2020 diperkirakan jumlah penderita gangguan depresi semakin meningkat dan akan menempati urutan kedua penyakit di dunia (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2007). Depresi menurut World Health Organization adalah gangguan mood (suasana hati) yang ditunjukkan dengan kehilangan minat atau kesenangan, perasaan bersalah, keadaan tidur dan nafsu makan yang terganggu, kehilangan energi dan berkurangnya konsentrasi. Depresi dapat menjadi kronis atau berulang dan menyebabkan gangguan besar dalam kemampuan individu untuk mengurus tanggung jawab dirinya sehari-hari. Hal terburuk dari depresi ialah dapat menyebabkan bunuh diri (World Health Organization, 2011) .
Depresi yang terjadi pada seseorang dapat dipicu adanya interaksi antara tekanan, dan daya tahan mental diri terhadap lingkungan. Pada dasarnya inti dari gangguan depresi adalah kehilangan obyek cinta misalnya kematian anggota keluarga atau orang yang sangat dicintai, kehilangan pekerjaan, kesulitan keuangan, terkucil dari pergaulan sosial, kondisi fisik yang tidak sempurna, penyakit, kehamilan dan bertambahnya usia. Selain itu, gangguan depresi juga dipengaruhi faktor genetik dan faktor biologis berupa gangguan neurotransmitter di otak.
Beberapa gejala fisik gangguan depresi seperti keletihan, kesakitan (terutama sakit kepala), gangguan tidur, gangguan pada nafsu makan (menurun atau meningkat), kehilangan minat seksual, dan keluhan mengenai saluran cerna dan kardiovaskuler (terutama palpitasi). Selain itu juga ada gejala emosional seperti berkurangnya kemampuan untuk merasakan kesenangan, kesedihan,
kelihatan pesimis, sering mengis, putus harapan dan tanda-tanda psikosis (halusinasi). Penderita juga mengalami distorsi kognitif seperti mengkritik diri sendiri, timbul rasa bersalah, perasaan tidak berharga dan putus asa (Dipiro, et al . 2005).
Gangguan depresi merupakan gangguan yang dapat menganggu kehidupan dan dapat diderita tanpa memandang usia, status sosial, latar belakang maupun jenis kelamin. Gangguan depresif dapat diobati dan dipulihkan melalui konseling/psikoterapi dan beberapa diantaranya memerlukan tambahan terapi fisik maupun kombinasi keduanya. Karena ada beberapa faktor yang saling berinteraksi untuk timbulnya gangguan depresif, penatalaksanaan yang komprehensif sangat diperlukan. Jenis terapi bergantung dari diagnosis, berat penyakit, umur penderita dan respon terhadap terapi sebelumnya. Gangguan depresif dapat terjadi tanpa disadari sehingga penderita terkadang terlambat ditangani sehingga dapat menimbulkan penderitaan yang berat seperti bunuh diri.
Mengingat dampak penyakit ini terhadap pasien, upaya pengobatan terhadap depresi menjadi perhatian utama. Dilihat dari tingginya angka penderita dan akibat dari gangguan depresi maka gangguan ini perlu mendapat perhatian dari semua pihak. Terapi gangguan depresi memerlukan peran serta individu yang bersangkutan, keluarga maupun praktisi medis dan paramedis yang profesional. Apoteker dengan pelayanan kefarmasiannya dapat berperan serta untuk memberikan konseling yang berkaitan dengan terapi obat yang digunakan, serta monitoring efek samping obat yang dikonsumsi penderita.
1.2 Tujuan
Memahami tentang penyakit depresi, penyebab dan pengobatan yang diberikan, agar dapat memberikan informasi dan edukasi yang tepat bagi pasien.
3 Universitas Indonesia BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Depresi
Gangguan depresif adalah gangguan psikiatri yang menonjolkan mood sebagai masalahnya, merupakan suatu perasaan sedih dan putus asa yang menetap atau kehilangan rasa senang. Kadang-kadang hal ini merupakan kelanjutan dari suatu peristiwa yang membuat trauma atau sangat menyedihkan, tapi bisa juga tanpa ada alasan yang jelas (Irawati, R. dan Siste, K. 2010). Gangguan depresif merupakan gangguan medik serius menyangkut kerja otak, bukan sekedar perasaan murung atau sedih dalam beberapa hari. Gangguan ini menetap selama beberapa waktu dan mengganggu fungsi keseharian seseorang. Gangguan depresif masuk dalam kategori gangguan mood, merupakan periode terganggunya aktivitas sehari-hari, yang ditandai dengan suasana perasaan murung dan gejala lainnya termasuk perubahan pola tidur dan makan, perubahan berat badan, gangguan konsentrasi, anhedonia (kehilangan minat apapun), lelah, perasaan putus asa dan tak berdaya serta pikiran bunuh diri. Jika gangguan depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia) maka orang tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan, karena ia kehilangan minat hampir disemua aspek kehidupannya (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2007).
2.2 Tanda - Tanda dan Gejala Klinis
Tanda gangguan depresif yang melanda jutaan orang di Indonesia setiap tahun, seringkali tidak dikenali. Beberapa orang merasakan perasaan sedih dan murung dalam jangka waktu cukup lama dengan latar belakang yang berbeda-beda. Variasi tanda sangat luas dari satu orang ke orang lain, dari satu waktu ke waktu pada diri seseorang. Gejalanya sering tersamar dalam berbagai keluhan sehingga seringkali tidak disadari juga oleh dokter. Tanda gangguan depresif itu adalah :
a. Pola tidur yang abnormal atau sering terbangun termasuk diselingi kegelisahan dan mimpi buruk
c. Selalu kuatir, mudah tersinggung dan cemas
d. Aktivitas yang tadinya disenangi menjadi makin lama makin dihentikan e. Perasaan malas saat bangun tidur
Gangguan depresif membuat seluruh tubuh sakit, juga perasaan dan pikiran. Gangguan depresif mempengaruhi nafsu makan dan pola tidur, cara seseorang merasakan dirinya, berpikir tentang dirinya dan berpikir tentang dunia sekitarnya. Keadaan depresi bukanlah suatu kesedihan yang dapat dengan mudah berakhir, bukan tanda kelemahan dan ketidakberdayaan, bukan pula kemalasan. Mereka yang mengalami gangguan depresif tidak akan tertolong hanya dengan membuat mereka bergembira dengan penghiburan. Tanpa terapi tanda dan gejala tak akan membaik selama berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun.
Gejala gangguan depresif berbeda-beda dari satu orang ke orang lainnya, dipengaruhi juga oleh beratnya gejala. Gangguan depresif mempengaruhi pola pikir, perasaan dan perilaku seseorang serta kesehatan fisiknya. Gangguan depresif tidak mempunyai simptom fisik yang sama dan pasti pada satu orang dan bervariasi dari satu orang ke orang lain. Keluhan yang banyak ditampilkan adalah sakit, nyeri bagian atau seluruh tubuh, keluhan pada sistem pencernaan. Kebanyakan gejala dikarenakan mereka mengalami stres yang besar, kekuatiran dan kecemasan terkait dengan gangguan depresifnya. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2007).
Manifestasi klinis depresi antara lain (Prof.Dr Elin Yulinah Sukandar, Apt., Dr Retnosari Andradjati., dkk, 2008) :
a. Gejala emosional meliputi berkurangnya kemampuan untuk merasakan kesenangan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang biasa dilakukan, kesedihan, kelihatan pesimis, sering menangis, putus harapan, ansietas (dijumpai pada hampir 90 % pasien depresi rawat jalan), perasaan bersalah, dan tanda-tanda psikosis (misalnya : halusinasi mendengar sesuatu, delusi). b. Gejala fisik meliputi keletihan, kesakitan (terutama sakit kepala), gangguan
tidur, gangguan nafsu makan (menurun atau meningkat), kehilangan minat sexual, keluhan mengenai saluran cerna dan kardiovaskular (terutama palpitasi).
5
Universitas Indonesia c. Gejala intelektual atau kognitif meliputi penurunan kemampuan untuk berkonsentrasi atau keterlambatan proses berfikir, ingatan yang lemah terhadap kejadian yang baru terjadi, kebingungan dan ketidakyakinan.
d. Gangguan psikomotor meliputi : retardasi psikomotor (perlambatan gerakan fisik, proses berpikir, dan berbicara) atau agitasi psikomotor.
2.3 Klasifikasi Depresi
Klasifikasi sederhana depresi adalah sebagai berikut (Bagian Farmakologi FKUI, 1995) :
a. Depresi reaktif/ sekunder
Paling umum dijumpai sebagai respon terhadap penyebab nyata, misalnya : penyakit dan kesedihan. Dulu dikenal sebagai depresi eksogen.
b. Depresi endogen
Merupakan gangguan biokimia yang ditentukan secara genetic, bermanifestasi sebagai ketidakmampuan untuk mengatasi stress yang biasa.
c. Depresi yang berhubungan dengan gangguan efektif bipolar Depresi dan mania yang terjadi secara bergantian.
Terdapat dua kelainan pada depresi Menurut Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorder, 4th ed., text revision (DSM-IV-TR) yaitu kelainan depresi mayor dan kelainan distimik ( Katzung, 1998 ).
2.3.1 Kelainan Depresi Mayor
Kelainan depresi mayor adalah gangguan perasaan hati yang ditandai dengan munculnya satu atau lebih gejala episode gangguan depresi seperti perasaan tertekan, kehilangan ketertarikan atau kenyamanan, insomnia, agitasi psikomotor, fatigue, dan kehilangan konsentrasi untuk berfikir tanpa riwayat mania, gabungan depresi-mania , atau hipomania. Jika terjadi dalam tempo waktu yang lama depresi mayor dapat berlanjut hingga mengganggu fungsi sosial dan kehidupan sehari-hari pasien.
2.3.2 Kelainan Distimik
Kelainan distimik adalah gangguan suasana hati (mood) kronis yang melibatkan depresi suasana hati dan sekurangnya dua gejala yang lain, dan kelainan ini pada umumnya lebih ringan di bandingkan kelainan depresi mayor. Kelainan distimik ditandai dengan perasaan tertekan, ketiadaan kesenangan atau kenikmatan hidup yang berlangsung terus menerus.
2.4 Teori Patofisiologi Depresi :
Patofisiologi depresi dapat dijelaskan dalam beberapa teori ( Katzung, 1998) :
2.4.1 Hipotesis amina biogenik
Patofisiologi depresi dapat dijelaskan dalam beberapa teori. Teori amina biogenik menyatakan bahwa depresi disebabkan karena penurunan jumlah neurotransmitter norepinefrin (NE), serotonin (5-HT), dan dopamine (DA) dalam otak. Oleh karena itu, depresi dapat dikurangi oleh obat yang dapat meningkatkan kesediaan serotonin dan noradrenalin misalnya MAO inhibitor atau antidepresan trisiklik. Namun teori ini tidak dapat menjelaskan fakta mengapa onset obat-obat antidepresan umumnya lama (lebih dari empat minggu setelah pemberian dosis), padahal obat-obat tadi bisa meningkatkan ketersediaan neurotransmiter secara cepat. Kemudian munculah hipotesis sensitivitas reseptor.
2.4.2 Perubahan post-sinaptik pada sensitivitas reseptor
Hipotesis sensitivitas reseptor menjelaskan bahwa depresi merupakan hasil perubahan perubahan sensitivitas reseptor norepinefrin (NE) dan serotonin (5-HT2) yang diakibatkan oleh terlalu kecilnya stimulasi oleh monoamin. Syaraf post-sinapsis akan berespon sebagai kompensasi terhadap besar kecilnya stimulasi oleh neurotransmiter. Jika stimulasi terlalu kecil maka saraf akan menjadi lebih sensitif (supersensitivity) atau jumlah reseptor akan meningkat (upregultion). Jika terjadi stimulasi yang berlebihan saraf akan menjadi kurang sensitif (desentivity) atau jumlah reseptor akan berkurang (downregulation). Obat-obat antidepresan umumnya bekerja meningkatkan neurotransmitter sehingga meningkatkan
7
Universitas Indonesia stimulasi saraf dan menormalkan kembali saraf yang supersensitif. Proses ini membutuhkan waktu sehingga hal ini dapat menjelaskan mengapa aksi obat antidepresan tidak terjadi secara segera.
2.4.3 Hipotesis permisif
Hipotesis permisif memberikan gambaran bahwa kontrol emosi diperoleh dari keseimbangan antara serotonin (5-HT) dan norepinefrin (NE). Serotonin (5- HT) mempunyai fungsi regulasi terhadap norepinefrin (NE) sehingga dapat menentukan kondisi emosi apakah terjadi depresi atau manik. Teori ini mempostulatkan bahwa serotonin (5-HT) yang rendah dapat menyebabkan kadar norepinefrin (NE) menjadi tidak normal yang dapat menyebabkan gangguan
mood. Jika kadar norepinefrin (NE) rendah akan terjadi depresi, dan jika kadarnya
tinggi akan terjadi mania. Menurut hipotesis ini, meningkatkan kadar serotonin (5-HT) akan memperbaiki kondisi sehingga tidak muncul “bakat” gangguan mood.
2.4.4 Hipotesis deregulasi
Hipotesis deregulasi menjelaskan bahwa gangguan depresi dan psikriatik disebabkan oleh ketidakteraturan neurotransmiter, yaitu kegagalan regulasi homeostatik pada sistem neurotransmitter, dibandingkan peningkatan atau penurunan absolute aktivitas neurotransmitter itu sendiri.
2.4.5 Peranan dopamin
Peningkatan neurotransmisi DA dalam nucleus accumbens kemungkinan terkait dengan mekanisme antidepresan.
2.5 Terapi Farmakologi
Obat anti depresi adalah obat untuk mengatasi atau mencegah depresi mental. Depresi didefinisikan sebagai gangguan mental dengan penurunan mood, kehilangan minat atau perasaan senang, adanya perasaan bersalah atau rendah diri, gangguan tidur atau penurunan selera makan, sulit konsentrasi atau kelemahan fisik (WHO, 2011). Gangguan ini dapat menjadi kronik atau kambuh dan mengganggu aktivitas pasien. Pada keadaan terburuk dapat mencetuskan bunuh
diri, suatu kejadian fatal yang dewasa ini semakin sering terjadi. Perbaikan depresi ditandai dengan perbaikan alam perasaan, bertambahnya aktivitas fisik dan kewaspadaan mental, nafsu makan dan pola tidur yang lebih baik dan berkurangnya keinginan untuk bunuh diri.
Saat merencanakan intervensi pengobatan, penting untuk menekankan kepada penderita bahwa ada beberapa fase pengobatan sesuai dengan perjalanan gangguan depresif :
a. Fase akut bertujuan untuk meredakan gejala b. Fase kelanjutan untuk mencegah relaps
c. Fase pemeliharaan/rumatan untuk mencegah rekuren
Di pelayanan kesehatan primer, obat anti depresan yang tersedia biasanya golongan trisiklik. Meskipun antidepresan trisiklik sampai saat ini merupakan obat antidepresan yang paling banyak digunakan, tetapi penggunaannya masih belum optimal karena kemampuan diagnostik dari pelayanan kesehatan primer belum ditingkatkan juga belum berperannya konselor apoteker. Dari hasil penelitian ternyata dosis yang digunakan masih terlalu rendah. Akibatnya, efek terapi yang ingin dihasilkan tidak tercapai. Efek samping antidepresan trisiklik