• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 63-119)

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

5.1 Kesimpulan

a. Peran dan fungsi apoteker pengelola apotek di Apotek SamMarie Basra telah melaksanakan peran dan fungsinya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

b. Pengelolaan teknis kefarmasian maupun non teknis kefarmasian telah dilaksanakan dengan baik sesuai dengan peraturan yang berlaku.

5.2 Saran

a. Untuk meningkatkan jumlah pengunjung apotek, sebaiknya dibuat papan nama tersendiri khusus untuk apotek sehingga masyarakat lebih mengetahui akan adanya apotek tersebut.

b. Agar pelayanan kefarmasian dapat berjalan setiap saat, perlu seorang apoteker pendamping, sehingga selalu tersedia apoteker di jam kerja apotek

c. Untuk meningkatkan pelayanan yang lebih optimal perlu diperjelas tanggung jawab masing – masing karyawan apotek.

d. Hendaknya sarana dan prasarana harus lebih diperhatikan dan disempurnakan agar pelayanan terhadap masyarakat lebih optimal yang pada akhirnya untuk kemajuan apotek.

e. Hendaknya Pelayanan Informasi Obat dan mengenai swamedikasi lebih ditingkatkan.

DAFTAR ACUAN

Anief, Moh. (1998). Manajemen Farmasi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. (2008). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Standar Pelayanan

Kefarmasian di Apotek (SK Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004).

Departemen Kesehatan RI.

Direktorat Jendral Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan. (2006) Standar

Pelayanan Kefarmaasian di Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. (1987). Peraturan Menteri Kesehatan No.28/Menkes/PER/1978 tentang Penyimpanan Narkotika. Jakarta:

Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. (1990). Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

347/Menkes/SK/VII/1990 Tentang Obat Wajib Apotek. Jakarta:

Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan RI No.

918/Menkes/Per/X/1993 Tentang Pedagang Besar Farmasi (PBF).

Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan No. 924/Menkes/Per/X/1993 Tentang Daftar Obat Wajib Apotik No.2. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan RI No.

922/Menkes/PER/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan No. 1176/Menkes/SK/X/1993 Tentang Daftar Obat Wajib Apotik No.3. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. (2002). Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

1332/Menkes/SK/X/2002 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 992/Menkes/PER/X/1993 Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1027

Tahun 2004 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta:

Kementerian Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan RI. (2009). Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009

Tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Umar, Muhammad. (2011). Manajemen Apotek Praktis cetakan keempat. Jakarta: Wira Putra Kencana.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika.

Jakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika.

Jakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

Lampiran 3. Desain ruang racik Apotek SamMarie Basra

a. Meja racik obat b. Lemari penyimpanan obat

UNIVERSITAS INDONESIA

TUGAS KHUSUS PRAKTIK KERJA PROFESI APOTEKER

DI APOTEK SAMMARIE BASRA

JL. BASUKI RACHMAT NO. 31 JAKARTA TIMUR

PERIODE 16 SEPTEMBER – 25 OKTOBER 2013

BROSUR SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI KESEHATAN

TENTANG KEPUTIHAN PADA WANITA

DEWI SANTY LOPA, S. Farm.

1206329493

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR ... iii DAFTAR LAMPIRAN ... iii BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 2 BAB 2. TINJAUAN UMUM

2.1. Definisi Keputihan ... 4 2.2. Klasifikasi Keputihan ... ... 4 2.3. Patofisiologi Keputihan ... ... 5 2.4. Penyebab Keputihan ... 5 2.5. Tanda dan Gejala Keputihan ... 8 2.6. Diagnosis Keputihan ... 9 2.7. Penatalaksanaan Keputihan ... 10 2.8. Pengobatan Keputihan . ... 10 2.9. Pencegahan Keputihan ... 13 2.10 Komunikasi ... ... 14 2.11. Komunikasi Kesehatan ... 16 2.12. Brosur ... . ... 18 BAB 3. METODE PENGKAJIAN ... 19 3.1. Waktu dan Tempat Pengkajian ... 19 3.2. Metode Pengkajian ... 19 3.3. Tahapan Pengkajian……….. 19 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN... 20 4.1 Hasil... 20 4.2 Pembahasan ... . 22 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ……….. 25

5.1. Kesimpulan ... 25 5.2. Saran ... 25 DAFTAR ACUAN ... 26

Gambar 2.1. Ilustrasi poin a komunikasi kesehatan ... 14 Gambar 2.2. Ilustrasi poin b komunikasi kesehatan ... 15 Gambar 2.3. Ilustrasi poin c komunikasi kesehatan ... 15 Gambar 4.1. Hasil brosur sisi 1 ... ... 20 Gambar 4.2. Hasil brosur sisi 2 ... ... 21

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Bagan penatalaksanaan keputihan ... 28 Lampiran 1 (Lanjutan). Bagan penatalaksanaan keputihan ... 29 Lampiran 2. Resep yang terdapat obat keputihan ... 30 Lampiran 2 (Lanjutan). Resep yang terdapat obat keputihan ... 31

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dapat dilakukan melalui komunikasi kesehatan oleh tenaga-tenaga kesehatan, termasuk apoteker. Komunikasi kesehatan adalah proses untuk mengembangkan atau membagi pesan kesehatan kepada audiens tertentu dengan maksud mempengaruhi pengetahuan, sikap, dan keyakinan mereka tentang pilihan perilaku hidup sehat. Informasi-informasi yang diberikan melalui komunikasi tersebut diharapkan dapat diterima masyarakat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya, sehingga kualitas hidup masyarakat dapat meningkat.

Masalah kesehatan reproduksi pada wanita perlu mendapat penanganan serius, karena masalah tersebut paling banyak muncul pada negara berkembang seperti Indonesia, dimana kurang tersedianya akses untuk mendapat informasi mengenai kesehatan reproduksi. Buktinya banyak penelitian yang menyatakan rendahnya tingkat pengetahuan mengenai kebersihan organ genitalia pada wanita (Widyastuti, 2009).

Keputihan atau dalam istilah medis fluor albus atau leukore adalah semua pengeluaran cairan dari alat genitalia yang bukan darah, berupa cairan agak kental dan berwarna putih. Keputihan ada yang fisiologik (normal) dan ada yang patologik (tidak normal). Keputihan bukan penyakit tersendiri, tetapi merupakan manifestasi gejala dari hampir semua penyakit pada organ reproduksi wanita (Manuaba, 2005). Keputihan fisiologik dapat terjadi pada masa pertengahan siklus menstruasi yaitu sekitar dua minggu setelah haid dan bertepatan dengan waktu ovulasi. Cairan keputihan juga dapat muncul pada wanita yang mendapatkan rangsangan seksual dan wanita hamil juga bisa mengalami keputihan yang merupakan pengaruh hormonal (Zubier, 2002).

Keputihan fisiologik terjadi karena pengaruh hormon, berupa cairan jernih, berwarna putih, agak kental, tidak berbau dan jumlahnya tidak berlebih. Keputihan patologik berupa cairan keruh, berwarna keabuan, kekuningan bahkan

kehijauan, berbau amis, busuk atau tanpa bau, sekret cair hingga kental, jumlahnya berlebih, gatal, rasa nyeri, tergantung pada ringan dan beratnya infeksi. Keputihan patologik dapat disebabkan oleh bakteri seperti Gonococcus,

Chlamydia, Trichomatis, Gardnerella vaginalis, adanya infeksi jamur seperti Candida albicans dan adanya infeksi parasit seperti Trichomonas vaginalis, serta

adanya infeksi virus seperti Human Papiloma Virus dan Herpes Simplex Virus atau kanker pada leher rahim. Penyebab lain dapat berupa adanya benda asing, penyakit pada organ reproduksi wanita, penyakit menahun atau kronis, dan gangguan hormon (Benson & Pernoll, 2008).

Keputihan patologik bila tidak diobati dengan tuntas akan berakibat buruk pada kesehatan. Infeksi tersebut dapat merambat ke rongga rahim, kemudian naik ke saluran telur, dan akhirnya bisa sampai ke dalam rongga panggul. Perempuan yang mengalami keputihan akibat infeksi berulang atau menahun, yang tidak diobati secara tuntas bisa mengalami kemandulan akibat gangguan pada organ reproduksi. Keputihan juga bisa jadi merupakan tanda adanya penyakit lain yang lebih parah seperti tumor pada organ reproduksi (Zubier, 2002).

Pengetahuan dan perilaku dalam menjaga kebersihan genitalia merupakan faktor penting dalam pencegahan keputihan (Ratna, 2010). Sehingga perlu meningkatkan pengetahuan masyarakat terhadap masalah ini, dengan pemberian informasi, antara lain mengenai masalah keputihan itu sendiri, faktor risiko, serta pencegahan yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Berdasarkan fenomena diatas, maka penulis tertarik untuk berperan serta dalam masalah keputihan dengan membuat brosur sebagai media komunikasi kesehatan yang informatif dan menarik, yang berisi mengenai hal-hal yang terkait dengan keputihan, meliputi definisi, penyebab timbulnya keputihan, gejala, pengobatan, serta pencegahan keputihan.

1.2 Tujuan

Tujuan Pembuatan tugas khusus ini adalah untuk :

1. Sosialisasi masalah keputihan melalui media komunikasi kesehatan berupa brosur yang berisi upaya penanganan dan pengobatan agar masyarakat dapat lebih mencegah dan mengobati keputihan secara dini.

2. Lebih memahami mengenai komunikasi kesehatan, dengan komunikasi kesehatan yang terus-menerus baik melalui brosur atau peraga lainnya akan membantu masyarakat dalam memahami tentang kesehatan khususnya keputihan.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Keputihan

Keputihan atau dalam istilah medis disebut fluor albus (fluor artinya cairan kental, albus artinya putih) atau leukore secara umum adalah semua pengeluaran cairan kental berwarna putih dari alat genitalia wanita, yakni vagina. Keputihan bukan penyakit tersendiri, tetapi merupakan manifestasi gejala dari hampir semua penyakit kandungan (Manuaba, 2005). Keputihan merupakan gejala keluarnya cairan dari vagina selain darah haid. Keputihan ada yang fisiologik (normal) dan ada yang patologik (tidak normal). Keputihan bukan merupakan penyakit tersendiri, melainkan salah satu tanda atau gejala dari suatu penyakit organ reproduksi wanita (Potter dan Perry, 2005).

2.2 Klasifikasi Keputihan (Mariana, 2012)

Keputihan menurut penyebabnya, dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 2.2.1 Keputihan Fisiologik

Keputihan fisiologik terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa sekret berwarna putih, tidak berbau, dan jumlahnya tidak berlebih yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang. Keputihan fisiologik ditemukan pada : a. Bayi baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari, terjadi karena pengaruh

estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin.

b. Waktu di sekitar menars karena pengaruh estrogen dan akan hilang sendiri. c. Wanita dewasa, apabila dirangsang sebelum dan pada waktu koitus

disebabkan oleh pengaruh transudasi dari dinding vagina.

d. Masa subur wanita, sebelum dan sesudah menstruasi karena kadar hormon estrogen meningkat, sekret yang keluar dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer.

e. Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah pada wanita dengan penyakit menahun, dengan kelainan jiwa neurosis.

2.2.2 Keputihan Patologik

Keputihan yang menimbulkan rasa gatal, nyeri di dalam vagina atau di sekeliling vulva dengan warna cairan yang bervariasi dari warna putih kekuningan sampai keabu-abuan bahkan kehijauan, dengan konsistensi cair sampai kental atau berbentuk seperti gumpalan susu, dan berbau busuk atau berbau amis maupun tanpa bau. Keputihan patologik utamanya disebabkan oleh infeksi (jamur, bakteri, parasit, virus). Dapat juga terjadi akibat adanya benda asing dalam vagina, gangguan hormonal akibat menopaus, kelainan bawaan dari alat kelamin wanita, adanya kanker atau keganasan pada alat kelamin terutama di leher rahim.

2.3 Patofisiologi Keputihan (Mariana, 2012)

Keputihan fisiologik terjadi karena pengaruh hormon estrogen dan progesteron yang berubah keadaannya terutama pada saat siklus haid, sehingga jumlah dan konsistensi sekresi vagina berbeda. Sekresi meningkat pada saat ovulasi atau sebelum haid. Pada saat menjelang ovulasi, hormon estrogen akan meningkat jumlahnya, dan dua atau tiga hari setelah ovulasi hormon estrogen akan kembali menurun dan digantikan oleh meningkatnya hormon progesteron, sampai menjelang akan haid kembali, demikian seterusnya.

Flora normal dalam vagina dapat menyesuaikan diri dengan perubahan hormonal, sehingga tidak terjadi gangguan. Laktobasili mengubah glikogen dalam cairan vagina menjadi asam laktat. Asam laktat ini mempertahankan keasaman vagina dan mencegah pertumbuhan bakteri yang merugikan. Bila kadar salah satu atau kedua hormon berubah secara dramatis, keseimbangan pH yang ketat ini akan terganggu. Laktobasili tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga mudah terjadi infeksi.

2.4 Penyebab Keputihan (Benson dan Pernoll, 2008)

Penyebab terjadinya keputihan bermacam-macam yaitu : 1. Infeksi kuman (bakteri)

a. Gonococcus, bakteri ini menyebabkan penyakit akibat hubungan seksual yang paling sering ditemukan, yaitu gonore. Pada laki-laki penyakit ini menyebabkan kencing nanah, sedangkan pada perempuan menyebabkan

keputihan. Penyakit ini paling sering disebabkan oleh bakteri jenis Neisseria

gonorrhoeae.

b. Chlamydia trachomatis, menyebabkan penyakit pada mata yang dikenal dengan penyakit trakoma, kuman ini juga ditemukan pada cairan rongga vagina.

Chlamydia trachomatis merupakan bakteri penyebab penyakit menular seksual

secara vaginal, anal, atau oral, dan dapat mengakibatkan bayi tertular dari ibunya selama masa persalinan.

c. Gardnerella vaginalis, merupakan salah satu bakteri penyebab penyakit menular seksual dengan manifestasi keputihan.

2. Infeksi jamur

Jamur yang menyebabkan keputihan adalah spesies kandida, terutama

Candida albicans. kandida merupakan penghuni normal rongga mulut, usus besar,

dan vagina. Bila jamur kandida di vagina terdapat dalam jumlah banyak maka dapat menyebabkan keputihan yang dinamakan kandidosis vaginalis. Gejala yang timbul sangat bervariasi, tergantung dari berat ringannya infeksi.

Proses infeksi dimulai dengan perlekatan kandida pada sel epitel vagina. Kemampuan melekat ini lebih baik pada Candida albicans dari pada spesies kandida lainnya. Kemudian kandida mensekresikan enzim proteolitik yang mengakibatkan kerusakan ikatan protein sel penjamu sehingga memudahkan proses invasi. Selain itu, kandida juga mengeluarkan mikro toksin diantaranya glikotoksin yang mampu menghambat aktivitas fagositosis dan menekan sistem imun lokal. Terbentuknya kolonisasi kandida memudahkan proses imunisasi

tersebut berlangsung sehingga menimbulkan gejala pada penjamu (Clayton, 2005).

3. Infeksi parasit

Parasit yang paling banyak menyebabkan keputihan adalah Trichomonas

vaginalis, parasit ini menimbulkan penyakit yang dinamakan trikomoniasis,

4. Infeksi virus

Keputihan akibat infeksi virus sering disebabkan oleh Virus Herpes

Simplex (VHS) tipe dua dan Human Papilloma Virus (HPV) yang ditularkan

melalui hubungan seksual. Infeksi HPV telah terbukti dapat meningkatkan timbulnya kanker serviks, penis, dan vulva. Sedangkan VHS tipe dua dapat menjadi faktor pendamping.

5. Penyakit organ kandungan

Keputihan juga dapat timbul jika ada penyakit di organ kandungan, misalnya peradangan, tumor ataupun kanker. Tumor, misalnya papiloma, sering menyebabkan keluarnya cairan encer, jernih, dan tidak berbau. Pada kanker rahim atau kanker serviks (leher rahim), cairan yang keluar bisa banyak disertai bau busuk dan kadang disertai darah.

6.Penyakit menahun atau kronis

Kelelahan, anemia (kurang darah), sakit yang telah berlangsung lama, perasaan cemas, kurang gizi, usia lanjut, terlalu lama berdiri di lingkungan yang panas, peranakan turun (prolaps uteri), dan dorongan seks tidak terpuaskan dapat juga menimbulkan keputihan. Keputihan juga berhubungan dengan keadaan lain seperti penyakit kencing manis (diabetes mellitus), kehamilan, memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen-progesteron seperti pil KB atau memakai obat steroid jangka panjang.

7. Gangguan keseimbangan hormon

Hormon estrogen yang dihasilkan oleh indung telur akan berkurang pada perempuan menjelang dan sesudah menopous (tidak haid). Akibatnya dinding vagina menjadi kering, produksi glikogen menurun dan Lactobacilli menghilang. Keadaan tersebut menyebabkan menghilangnya suasana asam sehingga vagina dan uretra mudah terinfeksi dan sering timbul gatal. Akibat rasa gatal di vagina, maka garukan yang sering dilakukan menyebabkan terjadinya luka-luka yang mudah terinfeksi dan menyebabkan keputihan. Kekurangan atau hilangnya estrogen juga dapat diakibatkan dibuangnya kedua ovarium (indung telur) akibat

kista atau kanker, atau karena radiasi (penyinaran) indung telur yang terserang kanker.

8. Adanya benda asing

Benda asing di vagina akan merangsang produksi cairan yang berlebihan. Pada wanita dewasa benda asing dapat berupa tampon, kondom yang tertinggal didalam akibat lepas saat melakukan senggama, cincin pesarium yang dipasang pada penderita hernia organ kandungan (prolaps uteri), atau adanya IUD pada perempuan yang ber-KB spiral.

2.5 Tanda dan Gejala Keputihan (Monalisa dkk, 2012) a. Keputihan akibat Neisseria gonorrhoeae

Tanda spesifik keputihan yaitu keluar sekret kental berwarna kuning kehijauan dari vagina, bahkan dapat terjadi pendarahan. Tanda lainnya, rasa nyeri pada bagian panggul bawah, sering berkemih dan nyeri saat buang air kecil. b. Keputihan akibat Chlamydia trachomatis

Tanda spesifik keputihan yakni produksi cairan vagina yang berlebih, serta rasa terbakar saat akan buang air kecil. Tanda lainnya, bercak-bercak darah di luar masa menstruasi, keluhan nyeri perut yang tidak biasa, servisitis (peradangan pada

serviks uterus atau mulut rahim) dan radang panggul. c. Keputihan akibat Gardnerella vaginalis

Tanda spesifik keputihan yakni warna sekret putih keruh keabu-abuan, sekret agak lengket dan berbau amis disebabkan adanya amino yang menguap bila cairan vagina menjadi basa sehingga terlepasnya amino dari perlekatannya pada protein dan vitamin yang menguap mengakibatkan bau yang khas. Tanda lainnya yaitu disertai rasa gatal dan panas pada vagina.

d. Keputihan akibat Candida albicans

Tanda spesifik keputihan diantaranya cairan yang keluar biasanya kental, berwarna putih susu dan bergumpal seperti susu pecah. Tanda lainnya yaitu daerah vulva (bibir genitalia) dan vagina meradang, vagina terasa panas, gatal dan nyeri yang hebat.

e. Keputihan akibat Trichomonas vaginalis

Tanda spesifik keputihan yakni sekret vagina berwarna kuning kehijauan, berbusa kecoklatan yang mungkin banyak, berbau tak sedap. Tanda lainnya yaitu biasanya disertai dengan gejala gatal dibagian labia mayora, nyeri saat kencing dan terkadang sakit pinggang. Pada kasus yang berat, peradangan vulva dan perineum, terdapat bintik merah “strawberry cervix” di dinding vagina dan permukaan serviks.

f. Keputihan akibat VHS tipe dua atau HPV

Tanda dan gejala yang timbul pada keputihan akibat infeksi VHS tipe dua dan HVP berupa rasa terbakar, nyeri, atau rasa kesemutan pada organ genital. Terdapat gelembung-gelembung kecil (vesikel) berisi cairan, berkelompok, dengan dasar kemerahan yang cepat pecah dan membentuk tukak yang basah. Dapat disertai keluhan nyeri sewaktu berkemih dan radang pada mulut rahim.

2.6 Diagnosis Keputihan (Tierney, 1998)

Diagnosis dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan fisik yang dimulai pada mulut vagina dan muara saluran kemih (uretra). Apabila terdapat cairan, dilihat konsistensi, warna, jumlah, dan tanda khusus seperti busa atau gumpalan, serta diperhatikan apakah terdapat bau.

a. Keputihan fisiologik

Keputihan fisiologik biasanya putih jernih, lendirnya encer, muncul saat ovulasi, menjelang haid dan saat mendapat rangsangan seksual. Keputihan normal tidak gatal, tidak berbau dan tidak menular karena tidak ada sumber infeksi serta jumlahnya tidak berlebih.

b. Keputihan Patologik

Keputihan patologik dapat didiagnosa dengan anamnesa oleh dokter yang telah berpengalaman dengan menanyakan keluhan pasien dengan ciri-ciri; jumlah banyak, warnanya seperti susu basi, atau kekuning-kuningan sampai hijau, disertai rasa gatal, perih, terkadang berbau amis dan berbau busuk. Pemeriksaan khusus dengan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui penyebabnya, apakah jamur, bakteri atau parasit.

Keputihan bukan merupakan penyakit tetapi hanya suatu gejala penyakit, sehingga penyebab yang pasti perlu ditetapkan. Oleh karena itu, untuk mengetahui adanya suatu penyakit perlu dilakukan berbagai pemeriksaan cairan yang keluar dari alat genitalia tersebut. Pemeriksaan terhadap keputihan meliputi pewarnaan Gram (untuk infeksi jamur dan bakteri), preparat basah (infeksi trikomonas), preparat KOH (infeksi jamur), kultur atau pembiakan (menentukan jenis bakteri atau jamur penyebab), dan pap smear (untuk menentukan adanya sel ganas) (Manuaba, 2002).

2.7 Penatalaksanaan Keputihan (Mariana, 2012)

Penatalaksanaan keputihan meliputi usaha pencegahan dan pengobatan yang bertujuan untuk menyembuhkan seorang penderita dari penyakitnya, tidak hanya untuk sementara tetapi untuk seterusnya dengan mencegah infeksi berulang. Apabila keputihan yang dialami adalah yang fisiologik tidak perlu pengobatan, cukup hanya menjaga kebersihan pada bagian organ genitalia. Apabila keputihan yang patologik, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter, tujuannya menentukan lokasi bagian yang sakit dan darimana keputihan itu berasal. Melakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat tertentu akan lebih memperjelas dalam penegakkan diagnosa. Kemudian merencanakan pengobatan setelah melihat kelainan yang ditemukan. Keputihan patologik yang paling sering dijumpai yaitu keputihan yang disebabkan oleh kandida, dan trikomonas. Penatalaksanaan yang adekuat menggabungkan terapi farmakologi dan terapi nonfarmakologi. Penatalaksanaan keputihan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1 (MIMS, 2011/2012).

2.8 Pengobatan Keputihan (Iso Farmakoterapi, 2008) a. Terapi Farmakologi

1. Pengobatan keputihan yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae terdapat beberapa pilihan pengobatan rekomendasi dan alternatif yakni :

 Siprofloksasin oral 250 mg, 1x1 selama 3 hari (rekomendasi tanpa komplikasi)

 Siprofloksasin oral 250-500 mg, 2x1 selama 7-10 hari (rekomendasi dengan komplikasi.

 Seftriakson intramuskular 125 mg, dosis tunggal (rekomendasi)

 Sefiksim oral 400 mg, dosis tunggal (rekomendasi)

 Kanamisin intramuskular 2 g, dosis tunggal (alternatif).

2. Pengobatan keputihan yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis dapat diberi pilihan pengobatan yang direkomendasikan dan alternatifnya, yaitu :

 Doksisiklin oral 100 mg, 2x1 selama 7 hari (rekomendasi)

 Azitromisin oral 1 g, dosis tunggal selama 7 hari (rekomendasi)

 Tetrasiklin (alternatif)

 Oral 500 mg, dengan dosis 4x1 selama 7 hari atau  Oral 250 mg, dengan dosis 4x1 selama 14 hari

 Eritromisin (alternatif)

 Oral 500 mg, dengan dosis 4x1 selama 7 hari atau  Oral 250 mg, dengan dosis 4x1 selama 14 hari

 Ofloksasin oral 300 mg, 2x1 selama 7 hari (alternatif).

3. Pengobatan keputihan yang disebabkan oleh Gardnerella vaginalis, pilihan pengobatan yang menjadi rekomendasi yaitu (Owen dkk, 2004) :

 Metronidazol (rekomendasi)

 Oral 500 mg, dosis 2x1 selama 7 hari  Gel 0,75% selama 5 hari

 Klindamisin (rekomendasi)

 Oral 300 mg, 2x1 selama 7 hari  Krim 2%, selama 7 hari.

4. Pengobatan keputihan yang disebabkan oleh Candida albicans, terdiri dari beberapa pilihan pengobatan yang dijadikan sebagai obat rekomendasi dan alternatif adalah :

 Klotrimazol (rekomendasi)

 1 tablet intravaginal (500 mg) pada malam hari selama 7 hari

 Krim 1% selama 7 hari

 Mikonazol (rekomendasi)

 Krim 2 % selama 7 hari

 100 mg tablet intravaginal diberikan sekali sehari untuk 7 hari

 Flukonazol oral 150 mg sebagai dosis tunggal (rekomendasi)

 Ketokonazol oral 200 mg (alternatif)

 (infeksi berat), 1x2 tablet pada waktu makan.  (infeksi ringan) 1x1 tablet pada waktu makan

 Nistatin 1-2 ovula saat malam, paling sedikit 2 minggu (alternatif).

5. Keputihan yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis dapat diberikan beberapa pilihan pengobatan (Crowel dkk, 2003) yaitu :

 Metronidazol oral 500 mg, 2x1 selama 7 hari

 Tinidazol oral 500 mg, 2x1 selama 5 hari. b. Terapi Non Farmakologi (Bobak dkk, 2005)

Terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan cara-cara di bawah ini : 1. Perubahan Tingkah Laku

Keputihan yang disebabkan oleh jamur lebih cepat berkembang di lingkungan yang hangat dan basah maka untuk membantu penyembuhan, pasien dianjurkan untuk menjaga kebersihan alat kelamin dan sebaiknya menggunakan pakaian dalam yang terbuat dari katun serta tidak menggunakan pakaian dalam yang ketat. Keputihan dapat ditularkan melalui hubungan seksual dari pasangan yang terinfeksi, oleh karena itu sebaiknya pasangan harus mendapat pengobatan

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 63-119)

Dokumen terkait