• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 91-200)

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

Kegiatan kefarmasian yang dilakukan di RSUP Fatmawati sudah berjalan baik, namun untuk mempertahankan kinerja serta meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian maka penulis menyarankan beberapa upaya berikut :

a. Untuk meringankan dan memperjelas pembagian kegiatan di Instalasi Farmasi RSUP Fatmawati, sebaiknya Wakil Kepala Instalasi dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: Waka IFRS Pelayanan, Waka IFRS Perbekalan dan Waka IFRS Farmasi Klinik.

b. Untuk mempermudah proses pelaporan pemakaian Narkotik dan Psikotropik, maka IFRS dapat melakukan secara online sebagaimana yang telah diterapkan pada fasilitas pelayanan lain.

c. Pelaporan psikotropik hendaknya dilakukan setiap satu bulan sekali bersamaan dengan pelaporan narkotik, hal ini dilakukan untuk menjamin data yang dilaporkan tersebut.

d. Sebaiknya penyimpanan produk hasil produksi disimpan di gudang Farmasi, untuk mempermudah akses distribusi dan memaksimalkan ruang produksi hanya untuk kegiatan produksi saja.

e. Untuk rekonstisusi obat yang memerlukan kondisi steril, setelah pengamatan kami menyarankan agar perlu dilakukan monitoring lingkungan pada saat dilakukan rekonstitusi.

f. Untuk menunjang kegiatan farmasi klinik, maka perlu diaktifkan kembali kegiatan konseling (tanpa harus diminta oleh pasien, apoteker harus berperan aktif dalam menentukan pasien yang membutuhkan konseling).

g. Untuk depo rawat jalan, beri Label LASA pada obat-obat LASA yang belum dilengkapi penanda untuk meminimalisir kesalahan dalam pengambilan obat, simpan obat keras di depo bagian dalam atau bagian yang tidak terjangkau dengan konsumen, dan sediakan lemari psikotropik terpisah.

h. Untuk depo IBS, sebaiknya ditempatkan seorang apoteker sebagai penyelia depo IBS.

i. Hasil dari tugas yang di berikan kepada para peserta PKPA di RSUP Fatmawati sangat baik dijadikan acuan atau evaluasi dari kegiatan pelayanan kefarmasian

Daris, Azwar. (2012). Pengantar Hukum dan Etika Farmasi. Tangerang : Duwo Okta.

Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Kesehatan RI. (2004).

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Kesehatan RI. (2006) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Direktorat Jenderal Bina Farmasi dan Alat Kesehatan (2008). Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. (2009). Pedoman Tarif Pelayanan Kesehatan Bagi Peserta PT. Askes (Persero) dan Anggota Keluarganya di Puskesmas, Balai Kesehatan Masyarakat, dan Rumah Sakit Daerah. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia.

Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. Jakarta : Sekretariat Negara RI.

PT. (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia. (2004). Pedoman Bagi Peserta Askes Sosial. Jakarta : PT. (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia.

RSUP Fatmawati. (2012a). Keputusan Direktur Utama No. HK.

03.05/II.1/1686/2012 (025/FAR) tentang Standar Prosedur Operasional Hak Akses Sistem Informasi Farmasi. Jakarta : RSUP Fatmawati.

RSUP Fatmawati. (2012b). Keputusan Direktur Utama No. HK.

03.05/II.1/779/2012 tentang Penyimpanan Narkotika Dan Psikotropika.

Jakarta: RSUP Fatmawati.

RSUP Fatmawati. (2012c). Keputusan Direktur Utama No. HK.

03.05/II.1/1612/2012 (025/FAR) tentang Standar Prosedur Operasional Tata Cara Persuratan, Pelaporan, Pengarsipan di Instalasi Farmasi.

Jakarta : RSUP Fatmawati.

RSUP Fatmawati. (2013) Diunduh dari http://www.fatmawatihospital.com/konten/details/profil#sejarahsingkat.

Pada : 28 Oktober 2013 Pukul 22.00 WIB.

Siregar, Charles J.P. (2003). Farmasi Rumah Sakit, Teori dan Terapan. Jakarta : EGC

LAMPIRAN

Universitas Indon

Lampiran 2. Struktur Organisasi Instalasi Farmasi RSUP Fatmawati

Lampiran 3. Alur Pengkajian Resep

90

Lampiran 4. Alur Pemantauan Efek Samping Obat

Lampiran 5. Alur Kegiatan Pemantauan Interaksi Obat

Lampiran 6. Alur Penyimpanan Resep dan Arsip (surat masuk, surat keluar, SK, Laporan-laporan dan arsip Kepegawaian)

Resep

Arsip

Universitas Indonesia

Lampiran 7. Alur Pemusnahan Resep dan Arsip

Universitas Indon

Lampiran 9. Alur Penerimaan Perbekalan Farmasi oleh Tim Penerima

Lampiran 10. Alur Masuk ke Ruang Produksi Aseptik

Lampiran 11. Alur Pelayanan Obat Sitostatika Rawat Jalan dan Rawat Inap

Rawat Jalan

Rawat Inap

Universitas Indonesia

95

Universitas Indon

Lampiran 13. Alur Pelayanan Resep di Depo Askes

Lampiran 14. Alur Distribusi Obat Secara Dosis Unit di Instalasi Farmasi RSUP Fatmawati

Lampiran 15. Alur Pelayanan Obat dan Alat Kesehatan di Depo Instalasi Bedah Sentral

OK Cito

OK Elektif

Lampiran 16. Alur Program Pelayanan Informasi Obat

Tidak Ya

Ya User (pasien/lainnya)

Menyampaikan pertanyaan secara lisan/tertulis

Apoteker 1. Menerima pertanyaan

2. Penilaian penanya dan pertanyaan sesungguhnya

Apoteker

1. Pencatatan pertanyaan pada formulir pelayanan informasi obat.

2. Penelusuran jawaban atas pertanyaan dalam literatur.

3. Penyusunan jawaban dalam formulir pelayanan informasi obat.

4. Penyampaian jawaban kepada user.

User 1. Menerima jawaban pertanyaan

2. Memberi respon atas informasi yang telah diberikan

Selesai Tidak

LAPORAN TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI, JALAN FATMAWATI, CILANDAK, JAKARTA SELATAN

PERIODE 2 SEPTEMBER – 25 OKTOBER 2013

PEDOMAN PEMBERIAN OBAT PARENTERAL

SANTI YANUARTI UTAMI, S.Farm.

1206330072

ANGKATAN LXXVII

FAKULTAS FARMASI

PROGRAM PROFESI APOTEKER

DEPOK

HALAMAN JUDUL……….. i

DAFTAR ISI……….. ii

DAFTAR LAMPIRAN………. iii

BAB 1 PENDAHULUAN……….. 1

1.1 Latar Belakang……… 1

1.2 Tujuan……… 2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA………..……… 3

2.1 Definisi Sediaan Parenteral………. 3 2.2 Persyaratan Sediaan Parenteral……… 3 2.3 Penggolongan Sediaan Parenteral…….…………...………... 5 2.4 Rute Pemberian Sediaan Parenteral………. 5 2.5 Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Sediaan Parenteral... 7 2.6 Pedoman Pemberian Obat Parenteral... 8

2.6.1 Dosis…………..……… 8

2.6.2 Pelarut…….………... 9

2.6.3 Stabilitas…….………... 9

2.6.4 Ketidakcampuran (Incompatibility)...………... 12

BAB 3 METODE PENGUMPULAN DATA………. 13

3.1 Waktu dan Tempat Pengumpulan Data………. 13

3.2 Metode Pengumpulan Data………. 13

BAB 4 HASIL………..……… 14

DAFTAR ACUAN……… 19

1.1 Latar Belakang

Salah satu kegiatan apoteker rumah sakit adalah menyediakan dan/ atau membuat sediaan obat sesuai dengan standar teknis pembuatan yang sudah dikenal, termasuk di dalamnya teknik pencampuran sediaan-sediaan parenteral, serta menempatkannya dalam wadah yang tepat. Apoteker rumah sakit bertanggung jawab terhadap seluruh proses pembuatan sampai penyerahan sediaan obat, termasuk sediaan obat parenteral pada pasien atau tenaga kesehatan lain (Linden, Ellyana. et al., 2009).

Sediaan parenteral merupakan sediaan steril yang biasa diberikan dengan berbagai rute. Sediaan parenteral ini merupakan sediaan unik diantara bentuk sediaan obat yang lain karena sediaan ini disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke bagian dalam tubuh. Rute pemberian parenteral yang paling umum adalah intravena, intramuskular, subkutan, intra spinal, dan lain sebagainya (Potter, Perry., 2006). Pada umumnya, pemberian obat secara parenteral dilakukan Sediaan injeksi diberikan jika diinginkan kerja obat yang cepat, bila penderita tidak dapat diajak kerja sama dengan baik, tidak sadar, tidak tahan menerima pengobatan secara oral atau obat tidak efektif bila diberikan dengan cara lain (Ansel, H.C., 1989)

Hal penting yang perlu diperhatikan seorang apoteker dalam pencampuran dan pemberian sediaan parenteral pada pasien adalah masalah stabilitas bahan obat. Ketidakstabilan suatu bahan obat dalam sediaan parenteral dapat berakibat obat menjadi tidak aktif secara farmakologi dan/atau menjadi berbahaya bagai pasien. Oleh karena itu, seorang apoteker rumah sakit perlu mempunyai pengetahuan mengenai stabilitas bahan obat (Linden, Ellyana. et al., 2009).

Selain itu, apoteker perlu mempunyai pengetahuan tentang ketercampuran/ketidakcampuran suatu sediaan parenteral, baik dalam larutan infus, pemberian melalui syringe, Y-site, maupun aditif (Linden, Ellyana. et al., 2009). Ketidakcampuran suatu sediaan parenteral adalah reaksi yang tidak

diinginkan terjadi ketika dua obat atau lebih diberikan melalui IV atau larutan parenteral. Hal inilah yang mengarah seorang apoteker harus mampu menangani masalah fisik, kimia, dan kecocokan/ketidakcocokan terapi untuk merancang alternatif suatu sediaan parenteral yang cocok ketika masalah tersebut muncul (Deb, Ratul., 2012).

Penulisan laporan ini terdapat dosis setiap sediaan parenteral serta pelarut yang kompatibel untuk melarutkan atau mengencerkan suatu sediaan parenteral.

Laporan ini diharapkan dapat diterapkan sebagai acuan dalam pencampuran dan pemberian obat secara parenteral.

1.2 Tujuan

1. Memahami pedoman pemberian obat secara parenteral.

2. Memahami hal-hal yang harus diperhatikan dalam pencampuran dan pemberian sediaan parenteral.

3 Universitas Indonesia

2.1 Definisi Sediaan Parenteral

Istilah parenteral berasal dari kata Yunani “Para” dan “Enteran, yang berarti disamping atau lain dari usus. Sediaan ini diberikan dengan cara menyuntikkan obat dibawah atau melalui satu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa. Karena rute ini di sekitar daerah pertahanan yang sangat tinggi dari tubuh yaitu kulit dan selaput/membran mukosa, maka kemurnian yang sangat tinggi dari sediaan harus diperhatikan. Sediaan ini diberikan melalui beberapa rute pemberian yaitu intramuskular, intravena, intrakutan, subkutan, intraspinal, dan intra dermal (Ganiswara, 2005).

Sediaan parenteral dapat didefinisikan sebagai produk obat steril yang tersedia dalam bentuk larutan, suspensi, emulsi, atau bubuk yang dapat dilarutkan oleh pelarut kompatibel yang diberikan melalui suntikan (Ahuja, Satinder dan Stephen Scypinsky., 2001)

2.2 Persyaratan Sediaan Parenteral

Kerja optimal dari larutan obat yang diberikan secara parenteral hanya akan diperoleh jika memenuhi persyaratan (Voight, A., 1995), yaitu :

1. Aman

Injeksi tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau menimbulkan efek toksik.

2. Harus jernih

Injeksi berupa larutan harus jernih dan bebas dari partikel asing, serat dan benang. Pada umumnya, kejernihan dapat diperoleh dengan penyaringan.

Alat-alat penyaringan harus bersih dan dicuci dengan baik sehingga tidak terdapat partikel dalam larutan. Penting untuk menyadari bahwa larutan yang

Universitas Indonesia

jernih diperoleh dari wadah dan tutup wadah yang bersih, steril dan tidak melepaskan partikel.

3. Sedapat mungkin isohidris

Isohidris artinya pH larutan injeksi sama dengan pH darah dan cairan tubuh lain yaitu pH 7,4. Hal ini dimaksudkan agar bila diinjeksikan ke badan tidak terasa sakit dan penyerapan obat dapat maksimal.

4. Sedapat mungkin isotonis

Isotonis artinya mempunyai tekanan osmosa yang sama dengan tekanan osmosa darah dan cairan tubuh yang lain, yaitu sebanding dengan tekanan osmosa larutan natrium klorida 0,9%. Penyuntikan larutan yang tidak isotonis ke dalam tubuh dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Bila larutan yang disuntikkan hipotonis (mempunyai tekanan osmosa yang lebih kecil) terhadap cairan tubuh, maka air akan diserap masuk ke dalam sel-sel tubuh yang akhirnya mengembang dan dapat pecah. Pada penyuntikan larutan yang hipertonis (mempunyai tekanan osmosa yang lebih besar) terhadap cairan-cairan tubuh, air dalam sel akan ditarik keluar, yang mengakibatkan mengerutnya sel. Meskipun demikian, tubuh masih dapat mengimbangi penyimpangan-penyimpangan dari isotonis ini hingga 10%. Umumnya larutan yang hipertonis dapat ditahan tubuh dengan lebih baik daripada larutan yang hipotonis. Zat-zat pembantu yang banyak digunakan untuk membuat larutan isotonis adalah natrium klorida dan glukosa.

5. Tidak berwarna

Pada sediaan obat suntik tidak diperbolehkan adanya penambahan zat warna dengan maksud untuk memberikan warna pada sediaan tersebut, kecuali bila obatnya memang berwarna.

6. Steril

Suatu bahan dikatakan steril jika terbebas dari mikroorganisme hidup yang patogen maupun yang tidak, baik dalam bentuk vegetatif maupun dalam bentuk tidak vegetatif (spora).

7. Bebas pirogen

Universitas Indonesia

Hal ini harus diperhatikan terutama pada pemberian injeksi dengan volume besar, yaitu lebih dari 10 ml untuk satu kali dosis pemberian. Injeksi yang mengandung pirogen dapat menimbulkan demam.

2.3 Penggolongan Sediaan Parenteral

Menurut USP, obat suntik dibagi dalam lima jenis yang secara umum didefinisikan sebagai berikut (Ansel, H.C., 1989):

1. Obat larutan atau emulsi yang sesuai untuk obat suntik, memakai judul

“_______ injection.” (Contoh: Insulin Injection)

2. Bubuk kering atau larutan pekat, tidak mengandung dapar, pengencer atau zat tambahan lain dan bila ditambah pelarut lain yang sesuai memberikan larutan yang memenuhi semua aspek persyaratan untuk obat suntik, dan ini dibedakan dengan judul: “Sterile ________” (Contoh: Sterile Ampicillin Sodium)

3. Sediaan-sediaan seperti dijelaskan di nomor 2 kecuali bahwa mereka mengandung satu atau lebih dapar, pengencer atau zat penambah lain, dan dibedakan dengan judul: “________ for injection” (Contoh: Methicillin Sodium for Injection)

4. Padatan yang disuspensikan di dalam media cair yang sesuai dan tidak untuk disuntikkan intravena atau ke dalam ruang spinal, dibedakan dengan judul:

“Sterile _________ Suspension” (Contoh: Sterile Cortisol Suspension)

5. Padatan kering, yang bila ditambahkan pembawa yang sesuai menghasilkan sediaan yang memenuhi semua aspek persyaratan untuk Sterile Suspension dan yang dibedakan dengan judul “Sterile ________ for Suspension” (contoh:

Sterile Ampicillin for Suspension).

2.4 Rute Pemberian Sediaan Parenteral

Berdasarkan cara pemberiannya, sediaan parenteral dapat digolongkan dalam beberapa jenis(Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1979), yaitu : 1. Injeksi intraderma atau intrakutan

Universitas Indonesia

Injeksi intrakutan dimasukkan langsung ke lapisan epidermis tepat dibawah startum korneum. Umumnya berupa larutan atau suspensi dalam air, volume yang disuntikkan sedikit (0,1 - 0,2 ml). Digunakan untuk tujuan diagnosa.

2. Injeksi subkutan atau hipoderma

Injeksi subkutan dimasukkan ke dalam jaringan lembut dibawah permukaan kulit. Jumlah larutan yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml. Larutan harus sedapat mungkin isotonis dan isohidris, dimaksudkan untukmengurangi iritasi jaringan dan mencegah terjadinya nekrosis (mengendornya kulit).

3. Injeksi intramuskular

Injeksi intramuskular dimasukkan langsung ke otot, biasanya pada lengan atau daerah gluteal. Sediaannya biasa berupa larutan atau suspensi dalam air atau minyak, volume tidak lebih dari 4 ml. Penyuntikan volume besar dilakukan dengan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit.

4. Injeksi intravena

Injeksi intravena langsung disuntikkan ke dalam pembuluh darah, berupa larutan isotoni atau agak hipertoni, volume 1-10 ml. Larutan injeksi intravena harus bebas dari endapan atau partikel padat, karena dapat menyumbat kapiler dan menyebabkan kematian. Injeksi intravena yang diberikan dalam volume besar, umumnya lebih dari 10 ml, disebut infus. Jika volume dosis tunggal lebih dari 15 ml, injeksi intravena tidak boleh mengandung bakterisida dan jika lebih dari 10 ml harus bebas pirogen.

5. Injeksi intraarterium

Injeksi intraarterium dimasukkan langsung ke dalam pembuluh darah perifer, digunakan jika efek obat diperlukan segera. Umumnya berupa larutan, dapat mengandung cairan non iritan yang dapat bercampur dengan air, volume 1-10 ml. Tidak boleh mengandung bakterisida.

6. Injeksi intrakardial

Injeksi intrakardial dimasukkan langsung ke dalam otot jantung atau ventrikulus, hanya digunakan untuk keadaan gawat. Tidak boleh mengandung bakterisida.

Universitas Indonesia

7. Injeksi intratekal atau subaraknoid

Injeksi intratekal digunakan untuk menginduksi spinal atau lumbal anestesi dengan menyuntikkan larutan ke ruang subaraknoid, biasanya volume yang diberikan 1-2 ml. Injeksi intratekal yang digunakan tidak boleh mengandung bakterisida untuk wadah dosis tunggal.

8. Injeksi intraperitonial

Injeksi intraperitonial disuntikkan langsung ke dalam rongga perut.

Penyerapannya cepat, bahaya infeksi besar sehingga jarang dipakai.

9. Injeksi intraartikulus

Injeksi intraartikulus digunakan untuk memasukkan material seperti obat anti inflamasi langsung ke luka atau jaringan yang teriritasi. Injeksi berupa larutan atau suspensi dalam air.

10. Injeksi subkonjungtiva

Larutan atau suspensi dalam air untuk injeksi selaput lendir bawah mata, umumnya tidak lebih dari 1 ml.

11. Injeksi intrasisternal dan peridual

Injeksi ini disuntikkan ke intrakarnial sisternal dan lapisan dura dari spinalcord. Keduanya merupakan prosedur yang sulit dengan peralatan yang rumit.

2.5 Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Sediaan Parenteral

Pemberian melalui injeksi mempunyai beberapa keuntungan maupun kerugian dibandingkan dengan melalui cara lain. Keuntungan pemberian secara parenteral (Groves, M., 1988 ; Turco dan King, 1979), yakni:

(1) Obat-obat yang rusak atau diinaktifkan oleh sistem saluran cerna atau tidak diabsorpsi dengan baik untuk memberikan respon memuaskan, dapat diberikan secara parenteral,

(2) Sering digunakan apabila dibutuhkan absorpsi yang segera, seperti pada keadaan darurat,

Universitas Indonesia

(3) Kadar obat dalam darah yang dihasilkan jauh lebih bisa diramalkan (kadar obat lebih besar dari pemberian oral),

(4) Memungkinkan pemberian dosis yang lebih kecil,

(5) Pemberian secara parenteral berguna dalam pengobatan pada pasien yang tidak mau bekerjasama, kehilangan kesadaran atau sebaliknya tidak dapat menerima obat secara oral.

Adapun kerugian pemberian secara parenteral (Groves, M., 1988 ; Turco dan King, 1979), yakni:

(1) Apabila obat sudah disuntikkan, maka obat tersebut tidak dapat ditarik lagi.

Ini berarti, pemusnahan untuk obat yang mempunyai efek tidak baik atau toksik maupun kelebihan dosis karena ketidakhati-hatian akan sukar dilakukan,

(2) Tuntutan sterilitas untuk sediaan parenteral sangat ketat, (3) Harga sediaannya relatif mahal,

(4) Memerlukan petugas terlatih yang berwenang untuk melakukan pengobatan, (5) Adanya resiko toksisitas jaringan dan akan terasa sakit saat penyuntikan

serta sulit untuk memulihkan keadaan bila terjadi kesalahan.

2.6 Pedoman Pemberian Obat Parenteral 2.6.1 Dosis (Syamsuni, 2005)

Dosis atau takaran obat adalah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seseoarng penderita, baik untuk obat dalam maupun obat luar.

Kecuali dinyatakan lain, yang dimaksud dengan dosis adalah dosis maksimum dewasa untuk pemakaian melalui mulut, injeksi subkutan, dan rektal.

Selain itu, dikenal juga istilah dosis lazim. Dalam Farmakope Indonesia Edisi III tercantum dosis lazim untuk dewasa dan bayi atau anak yang merupakan takaran petunjuk yang tidak mengikat.

Dosis obat yang harus diberikan kepada pasien untuk menghasilkan efek yang diharapkan tergantung banyak faktor antara lain umur, bobot badan, luas

Universitas Indonesia

permukaan tubuh, jenis kelamin, kondisi penyakit, dan kondisi daya tangkis penderita.

2.6.1.1 Macam-macam dosis (Syamsuni, 2005)

Selain dosis lazim, juga dikenal macam-macam istilah dosis yang lain, yaitu :

1. Dosis terapi, takaran obat yang diberikan dalam keadaan biasa dan dapat menyembuhkan penderita.

2. Dosis minimum, takaran obat terkecil yang diberikan yang masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan resistensi pada penderita.

3. Dosis maksimum, takaran obat terbesar yang diberikan yang masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan keracunan pada penderita.

4. Dosis toksik, takaran obat dalam keadaan biasa yang dapat menyebabkan keracunan pada penderita.

5. Dosis letalis, takaran obat dalam keadaan biasa yang dapat menyebabkan kematian pada penderita. Dosis letalis terdiri atas

a. LD 50 : takaran yang dapat menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan.

b. LD 100 : takaran yang dapat menyebabkan kematian pada 100% hewan percobaan.

2.6.2 Pelarut

Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain. Umumnya, pelarut merupakan jumlah terbesar dari sistem larutan (Sunarya, Yayan dan Agus Setiabudi, 2007). Pelarut dikenal juga sebagai zat pendispersi yaitu tempat menyebarkannya partikel-partikel zat terlarut (Sumardjo, Damin., 2006)

2.6.3 Stabilitas (Linden, Ellyana., et al, 2009)

Suatu sediaan memerlukan kondisi penyimpanan (suhu dan tempat) yang tepat agar terjaga stabilitasnya

Universitas Indonesia

2.6.3.1 Suhu Penyimpanan

Beberapa suhu penyimpanan dalam hubungan stabilitas suatu sediaan parenteral :

1. Suhu kamar adalah suhu yang berkisar antara 20-25°C dan setelah diperhitungkan toleransi penyimpangan menjadi kisaran 15-30°C.

2. Cool temperature yang diterjemahkan menjadi suhu sejuk adalah suhu penyimpanan antara 8-15°C.

3. Cold temperature yang diterjemahkan menjadi suhu dingin adalah suhu penyimpanan ≥8°C (tidak lebih dingin).

4. Penyimpanan dalam lemari pendingin adalah penyimpanan pada suhu 2-8°C.

5. Penyimpanan dalam freezer (suhu beku) adalah penyimpanan pada suhu antara -25°C dan -10°C.

Sebagian besar sediaan memiliki perbedaan kondisi penyimpanan antara sebelum dan sesudah rekonstitusi. Perlu diperhatikan rentang waktu stabil sediaan yang telah direkonstitusi karena seringkali suatu sediaan telah mengalami perubahan potensi tanpa didahului perubahan stabilitas fisik (misalnya : terbentuk endapan dan/ atau kabut).

2.6.3.2 Parameter Penilaian Stabilitas

Parameter yang biasanya digunakan untuk menilai stabilitas adalah t90

(shelf life). Shelf life merupakan waktu yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi 90% dari konsentrasi awal. Suatu sediaan obat dikatakan stabil apabila konsentrasi yang tersisa minimum 90% dari konsentrasi awal atau dekomposisi bahan obatnya tidak lebih dari 10%.

Selain shelf life, suatu obat dikatakan stabil bila hasil degradasinya tidak melebihi spesifikasi yang sudah ditetapkan. Contoh : hasil degradasi cefepime, N-methyl pirrolydine, merupakan senyawa yang toksik dan berdasarkan United Stated Pharmacopoeia (USP), konsentrasi yang diperbolehkan tidak boleh melebihi 1%. Dengan demikian, bila konsentrasi N-methyl pirrolydine dalam larutan cefepime telah mencapai 1%, meskipun konsentrasi cefepime belum

Universitas Indonesia

mencapai 90% dari konsentrasi awal, larutan cefepime tersebut dianggap tidak stabil.

Dua parameter diatas merupakan parameter yang umum digunakan. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa masing-masing rumah sakit mempunyai parameter sendiri berdasarkan konsensus bersama yang disusun, dengan memperhatikan sifat fisika kimia tiap obat dan kondisi lingkungan.

2.6.3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Bahan Obat Stabilitas bahan obat dipengaruhi oleh antara lain : 1. pH

pH berperan penting dalam reaksi hidrolisis, terutama dalam kaitannya dengan acid-base catalysis. Sedapat mungkin suatu larutan obat dibuat dalam pH stabilitas maksimumnya, sehingga stabilitas obat dalam larutan lebih terjamin.

2. Suhu

Suhu berpengaruh terhadap shelf life. Umumnya dalam fase cair, semakin tinggi sushu, semakin tinggi dekomposisinya. Contoh : shelf life larutan meropenem 22 mg/ml dalam NS pada 4°C adalah 4,87 hari; sedangkan pada 23°C hanya 17,4 jam. Pengaruh suhu terhadap dekomposisi obat terutama dipengaruhi energi aktivasi dan berkaitan dengan persamaan Arrhenius.

3. Pelarut

Beberapa pelarut (seperti dapar ataupun pelarut yang mengandung karbohidrat) dapat menyebabkan efek katalisis. Contoh : ampicillin ternyata mempunyai shelf life lebih rendah bila dilarutkan dalam %% glukosa dibandingkan dengan dalam NS ataupun air. Hal ini disebabkan adanya reaksi spesifik antara ampicillin dan larutan karbohidrat. Golongan beta-laktam yang lain (seperti amoxicillin) dan golongan karbapenem (imipenem, meropenem, dan ertapenem) juga memberikan hasil serupa.

4. Konsentrasi

Konsentrasi obat terlarut mempunyai peranan dalam mekanisme polimerisasi.

Umumnya, untuk golongan beta-laktam, semakin tinggi konsentrasi, semakin

Universitas Indonesia

tinggi pula dekomposisi yang terjadi. Contoh : pada suhu 4°C dan 23°C, larutan meropenem 1 mg/ml dalam NS mempunyai kecepatan dekomposisi lebih rendah dibandingkan larutan meropenem 22 mg/ml (t90 1 mg/ml vs 22 mg/ml pada 4°C ±10 hari vs ±4 hari, sedangkan pada 23°C ±22 jam vs ±17 jam).

5. Faktor-faktor lainnya : kekuatan ion, konstanta dielektrik, oksigen, cahaya, dan lain-lain.

2.6.4 Ketidakcampuran (Incompatibility) (Linden, Ellyana., et al, 2009) Berisi informasi tentang ketidakcampuran suatu sediaan obat, baik dalam

2.6.4 Ketidakcampuran (Incompatibility) (Linden, Ellyana., et al, 2009) Berisi informasi tentang ketidakcampuran suatu sediaan obat, baik dalam

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 91-200)

Dokumen terkait