5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.2. Saran
a. Setiap personel berusaha meningkatkan kinerjanya pada setiap pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing, dan sesuai dengan tingkat pendidikan/kompetensinya.
b. Mengikutsertakan personel pada seminar atau pelatihan yang berkaitan dengan tugas dan fungsinya untuk meningkatkan kinerjanya.
c. Implementasi sistem manajemen mutu berdasarkan ISO 9001:2008 yang telah dijalankan saat ini dengan cukup baik oleh Sudinkes Jaktim harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan lagi di masa yang akan datang.
d. Peningkatan kualitas dan peranan petugas yang berdinas sebagai customer
service di walikota dalam menyosialisasikan kelengkapan berkas sehingga
berkas yang masuk benar-benar sudah lengkap dan sudah siap untuk diproses. e. Sebaiknya ada upaya suku dinas kesehatan Jakarta Timur untuk
menindaklanjuti adanya kekurangan tenaga kesehatan di sarana kesehatan masyarakat yang berada di Kota Administrasi Jakarta Timur agar kekurangan tenaga kesehatan yang dibutuhkan dapat teratasi.
DAFTAR REFERENSI
Undang-Undang No. 25 Tahun 2009. (2009). Undang-undang No. 25 Tahun 2009
tentang Pelayanan Publik Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009. (2009). Undang-undang No. 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Undang-Undang No. 22 Tahun 1999. (1999). Undang-undang No. 22 Tahun 1999
tentang Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000. (2000). Peraturan Pemerintah No. 25
Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah OtonomPresiden RI. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia
Keputusan Menteri Kesehatan No. 889/Menkes/Per/V/2011. (2011). Keputusan
Menteri Kesehatan No. 889/Menkes/Per/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia
Peraturan Menteri Kesehatan No. 2052/Menkes/Per/X/2011. (2011). Peraturan
Menteri Kesehatan No. 2052/Menkes/Per/X/2011 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia
Keputusan Menteri Kesehatan H.K. 02.02/Menkes/149/ I/2010. (2011).Keputusan
Menteri Kesehatan H.K. 02.02/Menkes/149/ I/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia
Keputusan Menteri Kesehatan H.K. 02.02/Menkes/148/ I/2010 .(2011).
Keputusan Menteri Kesehatan H.K. 02.02/Menkes/148/ I/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Perawat. Jakarta : Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia
Peraturan Menteri Kesehatan No 284/MenKes/PER/III/2007. (2007). Peraturan
Menteri Kesehatan No 284/MenKes/PER/III/2007, tentang Apotek Rakyat.
Peraturan Menteri Kesehatan No. 357/Menkes/Per/2006. (2006). Peraturan
Menteri Kesehatan No. 357/Menkes/Per/2006 Tentang Registrasi dan Izin Radiografer. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Peraturan Menteri Kesehatan No. 867/Menkes/Per/VIII/2004. (2004). Peraturan
Menteri Kesehatan No. 867/Menkes/Per/VIII/2004 tentang Registrasi dan Praktik Terapis Wicara. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia
Keputusan Menteri Kesehatan No. 1202/MENKES/SK/VIII/2003. (2003).
Keputusan Menteri Kesehatan No. 1202/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Indikator Indonesia Sehat 2010. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia
Peraturan Menteri Kesehatan No. 1332/MenKes/SK/X/2002. (2002). Peraturan
Menteri Kesehatan No. 1332/MenKes/SK/X/2002 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia
Peraturan Menteri Kesehatan No. 544/Menkes/VI/2002. (2002) Peraturan
Menteri Kesehatan No. 544/Menkes/VI/2002 Tentang Registrasi dan Izin Kerja Refraksionis Optisien. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia
Peraturan Menteri Kesehatan No. 1392/Menkes/SK/XII/2001. (2001). Peraturan
Menteri Kesehatan No. 1392/Menkes/SK/XII/2001 tentang Registrasi dan Izin Kerja Perawat Gigi. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia
Peraturan Menteri Kesehatan No. 1363/Menkes/SK/XII/2001. (2001). Peraturan
Menteri Kesehatan No. 1363/Menkes/SK/XII/2001 Tentang Registrasi dan Izin Praktik Fisioterapis Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 142/MenKes/PER/III/1991. (1991).
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 142/MenKes/PER/III/1991 tentang Penyalur Alat Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik
Peraturan Menteri Kesehatan No. 246/Menkes/PER/V/1990. (1990). Peraturan
Menteri Kesehatan No. 246/Menkes/PER/V/1990 Tentang Izin Usaha Industri Kecil Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 150 Tahun 2009. (2009). Peraturan
Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 150 Tahun 2009 tentang Tugas Pokok dan Fungsi Suku Dinas Kesehatan. Jakarta : Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta.
Peraturan Daerah DKI Jakarta No.4 Tahun 2009. (2009). Peraturan Daerah DKI
Jakarta No.4 Tahun 2009 tentang Sistem Kesehatan Daerah Jakarta: Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta..(2009). Pedoman Perizinan Sarana
Farmasi Makanan dan Minuman Provinsi DKI Jakarta. Jakarta: Suku Dinas
Kesehatan Jakarta Timur.
Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. 2002. Pedoman Perizinan Sarana
Farmasi Makanan dan Minuman Provinsi DKI Jakarta. Jakarta : Suku
Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.
Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur. 2009. Dokumen Sistem Manajemen Mutu
Sudinkes Kodya Jakarta Timur Tahun 2009; Deskripsi Kerja Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur. Jakarta: Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur.
Lampiran 1
Lampiran 2
UNIVERSITAS INDONESIA
TUGAS KHUSUS
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI SUKU DINAS KESEHATAN KOTA ADMINISTRASI
JAKARTA TIMUR
JL. MATRAMAN RAYA NO. 218
PERIODE 16 JANUARI β 2 FEBRUARI 2012
ANALISIS RASIO JUMLAH APOTEKER DI APOTEK,
APOTEK RAKYAT, DAN PUSKESMAS DAN TENAGA
KESEHATAN LAINNYA DI PUSKESMAS TERHADAP
JUMLAH PENDUDUK SERTA REKAPITULASI PESERTA
DAN TOPIK PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DI KOTA
ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR TAHUN 2011
STELLA, S.Farm.
1106047392
ANGKATAN LXXIV
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK JUNI 2012
UNIVERSITAS INDONESIA
TUGAS KHUSUS
LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
DI SUKU DINAS KESEHATAN KOTA ADMINISTRASI
JAKARTA TIMUR
JL. MATRAMAN RAYA NO. 218
PERIODE 16 JANUARI β 2 FEBRUARI 2012
ANALISIS RASIO JUMLAH APOTEKER DI APOTEK,
APOTEK RAKYAT, DAN PUSKESMAS DAN TENAGA
KESEHATAN LAINNYA DI PUSKESMAS TERHADAP
JUMLAH PENDUDUK SERTA REKAPITULASI PESERTA
DAN TOPIK PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DI KOTA
ADMINISTRASI JAKARTA TIMUR TAHUN 2011
STELLA, S.Farm.
1106047392
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Apoteker
ANGKATAN LXXIV
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK JUNI 2012
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... iii DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR LAMPIRAN ... v 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 2 2. TINJAUAN UMUM... 3 2.1. Tenaga Kesehatan ... 3 2.2. Sarana/Fasilitas Kesehatan ... 5 2.3. Profil Wilayah Jakarta Timur ... 7 2.4. Program Pendidikan dan Pelatihan (Diklit)... .. 10
3. METODOLOGI PENELITIAN ... 11
3.1. Waktu dan Temapat Pelaksanaan Tugas Khusus ... 11 3.2. Metode Pengumpulan Data ... 11 3.3. Analisis Rasio Tenaga Kesehatan per 100.000 penduduk di
Kota Administrasi Jakarta Timur Periode 2011 ... 11 3.4. Analisis Data Peserta dan Topik Pendidikan dan Pelatihan
di Wilayah Jakarta Timur pada Tahun 2011 ... 11
4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 12
4.1. Analisis Rasio dan Apoteker di Apotek, Apotek Rakyat, dan Puskesmas dan Tenaga Kesehatan Lainnya di Puskemas dan Sarana Kesehatan lain di Kecamatan Kota Administrasi Jakarta Timur Tahun 2011... 12 4.2. Analisis Data Pendidikan dan Pelatihan di Wilayah Jakarta
Timur pada tahun 2011. ... 18
5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 20
5.1. Kesimpulan ... 20 5.2. Saran ... 20
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Rasio Tenaga Kesehatan per 100.000 penduduk ... 5 Tabel 2.3 Jumlah Peduduk di Kecamatan Wilayah Jakarta Timur ...10 Tabel 4.1 Rasio Tenaga Kesehatan di Tiap Puskesmas Kecamatan Jakarta Timur
Tahun 2011 ... .18 Tabel 4.2 Data Peserta dan Topik Pendidikan dan Pelatihan pada Periode 2011 .18
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Jumlah Tenaga Medis di Wilayah Jakarta Timur Periode 2011 .... 22 Lampiran 2. Jumlah Tenaga Keperawatan dan Bidan di Wilayah Jakarta Timur
Tahun 2011 ... 24 Lampiran 3. Jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat, Sanitarian, dan Ahli Gizi di
Wilayah Jakarta Timur Tahun 2011 ... 26 Lampiran 4. Tenaga Apoteker berdasarkan Jumlah Penduduk di Wilayah Jakarta
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Departemen Kesehatan Republik Indonesia telah mengupayakan berbagai peningkatan tingkat kesehatan di Indonesia. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. (Kemenkes RI, 2009). Berdasarkan UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.
Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dilaksanakan oleh pemerintah bersama dengan masyarakat melalui upaya-upaya dan pelayanan kesehatan, baik pelayanan kesehatan perseorangan maupun pelayanan kesehatan masyarakat di berbagai sarana kesehatan, baik milik pemerintah maupun swasta. Beberapa sarana kesehatan yang dapat menyelenggarakan upaya dan pelayanan kesehatan, yaitu apotek, apotek rakyat, serta puskesmas. (Undang-Undang RI no. 36, 2009).
Program pembangunan kesehatan nasional dititikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang mampu memberikan pelayanan secara profesional. Pemerintah dalam hal ini Kementrian Kesehatan Republik Indonesia bertanggung jawab untuk merencanakan, mengatur menyelenggarakan, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat. Selain itu, pemerintah daerah juga mengatur penempatan tenaga kesehatan untuk pemerataan pelayanan kesehatan dan dapat melakukan pengadaan serta pendayagunaan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan daerahnya (Undang-Undang RI No. 36, 2009).
Di DKI Jakarta ini, Dinas Kesehatan sebagai unsur pelaksana otonomi daerah di bidang kesehatan di tingkat daerah bekerjasama dengan Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) di tingkat kabupaten berupaya membangun Jakarta yang sehat, mandiri, dan bermutu. Berdasarkan Peraturan Gubernur Provinsi DKI
dan pemetaan sumber daya kesehatan serta menyusun peta kebutuhan pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan.
Dalam tugas khusus ini akan membahas mengenai analisis rasio jumlah tenaga apoteker di apotek, apotek rakyat, dan puskesmas dan tenaga kesehatan lainnya di puskesmas terhadap jumlah penduduk, serta melakukan rekapitulasi peserta dan topik pendidikan dan pelatihan (Diklit) yang ada di wilayah Jakarta Timur. Tenaga kesehatan yang dimaksud dalam tugas khusus ini adalah tenaga medis (dokter, dokter gigi, dokter spesialis), tenaga keperawatan (perawat dan perawat gigi, dan bidan), tenaga kefarmasian (apoteker, asisten apoteker), tenaga kesehatan masyarakat (sanitarian dan sarjana kesehatan masyarakat), dan ahli gizi. Analisis dilakukan dengan cara mengolah data sekunder yang telah dikumpulkan oleh Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Seksi Sumber Daya Kesehatan Subseksi Tenaga Kesehatan. Pembuatan tugas khusus ini diharapkan dapat membantu Suku Dinas Kesehatan Kesehatan Jakarta Timur dalam memetakan dan merencanakan tenaga kesehatan di berbagai sarana kesehatan yang ada di Jakarta Timur dengan lebih baik lagi.
1.2. Tujuan
1. Mengetahui rasio apoteker di apotek, apotek rakyat dan puskesmas dan tenaga kesehatan di puskesmas terhadap jumlah penduduk di wilayah Kotamadya Jakarta Timur.
2. Melakukan rekapitulasi peserta dan topik pendidikan dan pelatihan (Diklit) di wilayah Jakarta Timur.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tenaga Kesehatan
Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 1996 tentang tenaga kesehatan mengatur tentang jenis tenaga kesehatan di Indonesia beserta persyaratan yang berlaku, sistem pengadaan dan penempatan tenaga kesehatan, standar profesi, serta mekanisme pembinaan dan pengawasan tenaga kesehatan agar sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan (Peraturan Pemerintah No. 32, 1996).
Menurut Peraturan Pemerintah (PP) tersebut, yang dimaksud dengan Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Adapun jenis tenaga kesehatan yang diakui di Indonesia yaitu
a. Tenaga medis, meliputi dokter dan dokter gigi b. Tenaga keperawatan, meliputi perawat dan bidan
c. Tenaga kefarmasian, meliputi apoteker, analis farmasi dan asisten apoteker d. Tenaga kesehatan masyarakat, meliputi epidemiolog kesehatan, entomolog
kesehatan, mikrobiolog kesehatan, penyuluh kesehatan, administrator kesehatan dan sanitarian.
e. Tenaga gizi, meliputi nutrisionis dan dietisien
f. Tenaga keterapian fisik, meliputi fisioterapis, okupasiterapis, dan terapis wicara
g. Tenaga keteknisian medis, meliputi radiografer, radioterapis, teknisi gigi, teknisi elektromedis, analis kesehatan, refraksionis optisien, otorik prostetik, teknisi transfusi dan perekam medis
Pengadaan dan penempatan tenaga kesehatan dilaksanakan oleh pemerintah untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan yang merata bagi seluruh masyarakat. Penempatan tenaga kesehatan dalam masa bakti dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi wilayah dimana tenaga kesehatan yang
dibutuhkan masyarakat, dan prioritas sarana kesehatan. Sedangkan dalam proses perencanaan nasional tenaga kesehatan, selain jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat, harus diperhatikan pula faktor sarana kesehatan serta jenis dan jumlah tenaga kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan (Peraturan Pemerintah No. 32, 1996).
Sebagai turunan dari Peraturan Pemerintah tersebut, telah diterbitkan beberapa Keputusan Menteri Kesehatan, yaitu Kepmenkes No. 81/Menkes/SK/I/2004 tentang pedoman penyusunan perencanaan sumberdaya kesehatan di tingkat provinsi, kabupaten/kota, serta rumah sakit. Dalam Keputusan Menteri Kesehatan disebutkan bahwa dalam perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan terdapat empat metode penyusunan yang dapat digunakan, yaitu: a. Health Need Method, yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang
didasarkan atas epidemiologi penyakit utama yang ada pada masyarakat. b. Health Service Demand, yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang
didasarkan atas permintaan akibat beban pelayanan kesehatan.
c. Health Service Target Method, yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang didasarkan atas sarana pelayanan kesehatan yang ditetapkan, misalnya Puskesmas dan Rumah Sakit.
d. Ratios Method, yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang didasarkan pada standar/rasio terhadap nilai tertentu.
2.2 Sarana/Fasilitas Kesehatan
Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan (Peraturan Pemerintah No. 32, 1996). Sedangkan yang dimaksud dengan fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat. Fasilitas pelayanan kesehatan menurut jenisnya dibedakan menjadi fasilitas pelayanan perseorangan dan fasilitas pelayanan masyarakat, yang diselenggarakan baik oleh pihak pemerintah pusat, pemerintah daerah maupun pihak swasta. Sedangkan penentuan jenis dan jumlah
fasilitas kesehatan merupakan tanggung jawab pemerintah daerah dengan mempertimbangkan:
a. luas wilayah;
b. kebutuhan kesehatan;
c. jumlah dan persebaran penduduk; d. pola penyakit;
e. pemanfaatannya; f. fungsi sosial; dan
g. kemampuan dalam memanfaatkan teknologi.
2.2.1 Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS)
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 128/MENKES/SKII/2004 tentang kebijakan dasar pusat kesehatan masyarakat, puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Dalam menyelenggarakan upaya kesehatan, Puskesmas memiliki fungsi sebagai berikut:
1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan
Puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau penyelenggaraan pembangunan lintas sektor termasuk oleh masyarakat dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta mendukung pembangunan kesehatan.
2. Pusat pemberdayaan masyarakat
Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki kesadaran, kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat, berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk pembiayaannya, serta ikut menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan.
3. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama
Puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggungjawab puskesmas meliputi:
a. Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat pribadi dengan tujuan utama menyembuhkan penyakit dan pemulihan kesehatan perorangan, tanpa mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit. Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan dan untuk puskesmas tertentu ditambah dengan rawat inap.
b. Pelayanan kesehatan masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat publik dengan tujuan utama memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat antara lain promosi kesehatan, pemberantasan penyakit, penyehatan lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga, keluarga berencana, kesehatan jiwa serta berbagai program kesehatan masyarakat lainnya.
2.2.2 Apotek
Berdasarkan Permenkes No. 1332/MenKes/SK/X/2002 tentang ketentuan dan tata cara pemberian izin apotek, apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat. Standar penanggung jawab teknis apotek adalah Apoteker. Sebelum melaksanakan kegiatannya, APA wajib memiliki Surat Izin Kerja (SIK)/Surat Penugasan (SP) dan Surat Izin Apotek (SIA).
2.2.3 Apotek Rakyat
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 284/Menkes/PER/III/2007, apotek rakyat adalah sarana kesehatan tempat dilaksanakannya pelayanan kefarmasian dimana dilakukan penyerahan obat dan perbekalan kesehatan, dan tidak melakukan peracikan. Adanya peraturan mengenai apotek rakyat ini bertujuan untuk melindungi masyarakat untuk memperoleh pelayanan kefarmasian yang baik dan benar. Apotek rakyat dalam pelayanan kefarmasian harus mengutamakan obat generik, serta dilarang menyediakan narkotika dan psikotropika, meracik obat, dan menyerahkan obat dalam jumlah besar. Apotek
rakyat setidaknya harus memiliki 1 (satu) orang apoteker sebagai penanggung jawab dan dapat dibantu oleh asisten apoteker.
2.3 Profil Wilayah Jakarta Timur
Jakarta Timur merupakan salah satu Kotamadya yang berada di Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang terbagi dalam 10 puskesmas kecamatan dengan 78 puskesmas kelurahannya, yaitu (Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, 2010):
1. Kecamatan Pasar Rebo a. Kecamatan Pasar Rebo b. Kelurahan Kampung Baru c. Kelurahan Gedong d. Kelurahan Cijantung e. Keluran Kalisari f. Kelurahan Pekayon 2. Kecamatan Ciracas a. Kecamatan Ciracas
b. Kelurahan Kampung Rambutan c. Kelurahan Ciracas
d. Kelurahan Cibubur e. Kelurahan Susukan
f. Kelurahan Kelapa 2 Wetan
3. Kecamatan Matraman a. Kecamatan Matraman b. Kelurahan Pisangan Baru c. Kelurahan Utan Kayu Selatan I d. Kelurahan Utan Kayu Selatan II e. Kelurahan Palmeriem
f. Kelurahan Kayu Manis g. Kelurahan Utan Kayu Utara
4. Kecamatan Makasar a. Kecamatan Makasar
b. Kelurahan Cipinang Melayu c. Kelurahan Halim Perdana
Kusuma I
d. Kelurahan Halim Perdana Kusuma II
e. Kelurahan Kebon Pala f. Kelurahan Pinang Ranti g. Kelurahan Makasar
5. Kecamatan Duren Sawit a. Kecamatan Duren Sawit b. Kelurahan Duren Sawit c. Kelurahan Pondok Bambu I d. Kelurahan Pondok Bambu II
6. Kecamatan Jatinegara a. Kecamatan Jatinegara
b. Kelurahan Kampung Melayu c. Kelurahan Bali Mester d. Kelurahan Bidara Cina I
e. Kelurahan Pondok Kelapa f. Kelurahan Klender I g. Kelurahan Klender II h. Kelurahan Klender III i. Kelurahan Malaka Jaya j. Kelurahan Malaka Sari k. Kelurahan Pondok Kopi I l. Kelurahan Pondok Kopi II
e. Kelurahan Bidara Cina II f. Kelurahan Bidara Cina III g. Kelurahan Cipinang-Cempedak h. Kelurahan Cipinang Muara i. Kelurahan Cipinang Besar Utara j. Kelurahan Cipinang Selatan I k. Kelurahan Cipinang Selatan II l. Kelurahan Rawa Bunga
7. Kecamatan Kramat Jati a. Kecamatan Kramat Jati b. Kelurahan Cawang c. Kelurahan Cililitan d. Kelurahan Kramat Jati I e. Kelurahan Kramat Jati II f. Kelurahan Batu Ampar g. Kelurahan Bale Kembang h. Kelurahan Kampung Tengah i. Kelurahan Dukuh
8. Kecamatan Cakung a. Kecamatan Cakung b. Kelurahan Rawa Teratai c. Kelurahan Jatinegara
d. Kelurahan Penggilingan Elok e. Kelurahan Penggilingan f. Kelurahan Cakung Timur g. Kelurahan Cakung Barat h. Kelurahan Ujung Menteng i. Kelurahan Pulo Gebang
9. Kecamatan Cipayung a. Kecamatan Cipayung b. Kelurahan Lubang Buaya c. Kelurahan Bambu Apus I d. Kelurahan Bambu Apus II e. Kelurahan Cipayung f. Kelurahan Ceger g. Kelurahan Setu h. Kelurahan Cilangkap
i. Kelurahan Pondok Rangon I j. Kelurahan Pondok Rangon II k. Kelurahan Munjul 10. Kecamatan Pulogadung a. Kecamatan Pulogadung b. Kelurahan Jati I c. Kelurahan Jati II d. Kelurahan Rawamangun e. Kelurahan Kayu Putih f. Kelurahan Pisangan Timur I g. Kelurahan Pisangan Timur II h. Kelurahan Jatinegara Kaum i. Kelurahan Cipinang
Berdasarkan hasil pencacahan Sensus Penduduk (SP) 2010, jumlah penduduk Jakarta Timur adalah 2.687.027 jiwa. Dari hasil SP tahun 2010 tersebut bahwa penyebaran penduduk di Jakarta Timur dengan 3 Kecamatan terbesar, yaitu:
1. Kecamatan Cakung yakni sebesar 18,73%, 2. Kecamatan Duren Sawit sebesar 14,18%, dan
3. Kecamatan Kramat Jati sebesar 10,14% (Badan Pusat Statistik, 2010).
Sedangkan kecamatan dengan jumlah penduduk yang paling sedikit adalah Kecamatan Matraman yang berjumlah 148.648 orang (Badan Pusat Statistik, 2010).
Dengan luas wilayah Jakarta Timur sekitar 188,33 km2 yang didiami oleh 2.687.027 orang maka rataβrata tingkat kepadatan penduduk Jakarta Timur adalah sebanyak 14.268 orang per kilo meter persegi. Kecamatan yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya adalah Kecamatan Matraman yakni sebanyak 30.461 orang per kilo meter persegi, sedangkan yang paling rendah adalah Kecamatan Cipayung yakni sebanyak 8.037 orang per kilometer persegi (Badan Pusat Statistik, 2010).
Tabel 2.3. Jumlah Penduduk di Kecamatan Wilayah Jakarta Timur
Kecamatan Jumlah Penduduk
Cakung 503.174 Duren Sawit 381.964 Kramat Jati 272.164 Jatinegara 264.901 Pulo Gadung 261.102 Ciracas 252.999 Cipayung 228.659 Pasar Rebo 187.771 Makasar 185.645 Matraman 148.648
2.4 Program Pendidikan dan Pelatihan (Diklit)
Berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Nomor 1345/2007, yang menyatakan bahwa institusi pendidikan bidang kesehatan di provinsi DKI Jakarta memerlukan sarana kesehatan sebagai lahan praktek untuk mendapatkan pengalaman dan keterampilan bagi peserta didik. Sarana kesehatan di Suku Dinas dan Puskesmas di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dapat digunakan untuk kepentingan pendidikan dan pelatihan, penelitian serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan. Peserta didik adalah mahasiswa institusi pendidikan bidang kesehatan di provinsi DKI Jakarta yang melaksanakan praktek klinik di lahan praktik. Lahan praktiek adalah tempat praktek mahasiswa institusi pendidikan bidang kesehatan di puskesmas, dan di wilayah kerja pusat kesehatan masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya.
Puskesmas sebagai tempat praktek peserta didik mempunyai kewajiban atau tugas :
1. Menyediakan fasilitas yang menunjang pencapaian tujuan belajar klinik sesuai kondisi lahan praktik
2. Berusaha meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
3. Menyediakan tenaga pembimbing dengan kriteria menguasai bidangnya
4. Mempunyai kemampuan dan kemauan serta tanggung jawab untuk membimbing
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tugas Khusus
Tugas khusus dilaksanakan selama Praktek Kerja Profesi Apoteker periode 16 Januari β 2 Februari 2012 di Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Seksi Sumber Daya Kesehatan, Subseksi Tenaga Kesehatan.
3.2. Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan meliputi data sekunder. Data sekunder berupa data dari seksi Sumber Daya Kesehatan di Suku Dinas Kesehatan Jakata Timur, juga data dan informasi dari berbagai literatur yang berasal dari Buku Profil Kesehatan dan publikasi online yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik.
3.3 Analisis Rasio Tenaga Kesehatan per 100.000 Penduduk Di Kota Administrasi Jakarta Timur Periode 2011
Dalam analisis ini akan dilakukan perhitungan dengan metode rasio yang membandingkan antar jumlah tenaga kesehatan dengan jumlah penduduk di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur yang dinyatakan dalam 100.000 penduduk. Analisis rasio dihitung dengan menggunakan rumus:
π½π’πππβ ππππππ πΎππ πβππ‘ππ π½π’πππβ πππππ’ππ’π πππ πΎππππππ‘ππ
100.000
3.4 Analisis Data Peserta dan Topik Pendidikan dan Pelatihan di Wilayah Jakarta Timur pada Tahun 2011