BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
Saran penulis untuk kemajuan apotek Endeh ini yaitu :
a. Mengaktifkan kembali sistem kartu stok, karena selain meminimalisir terjadinya kecurangan, kartu stok merupakan gambaran stok fisik barang sehingga kita dapat mengetahui jumlah stok dan mempermudah dalam perencanaan obat-obat apa saja yang perlu dipesan, sehingga tidak perlu memeriksa masing-masing obat maka waktu akan lebih efisien.
b. Sebaiknya sarana dan pra sarana di Apotek Endeh lebih diperhatikan.
c. Untuk meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat, perlu diadakan pelatihan terhadap sumber daya manusia terutama dalam hal pemberian pelayanan informasi obat (PIO) serta menggalakan swamedikasi.
DAFTAR ACUAN
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Pedoman Penggunaan Obat
Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (1993a). Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 919/MENKES/PER/X/1993 Tentang Obat yang Diserahkan Tanpa Resep. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (1993b). Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 922 Tahun 1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (1978). Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 28/MENKES/PER/I/1978 tentang Penyimpanan
Narkotika. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (1990). Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 347/MENKES/SK/VII/1990 Tentang Obat Wajib Apotek. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2002). Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 1322/Menkes/SK/X/2002 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 922/MENKES/PER/X/1993 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta :
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/MENKES/ SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta : Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 889/MENKES/PER/V/2011 Tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. Jakarta :
Presiden Republik Indonesia. (1980). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 25 Taun 1980 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1965 Tentang Apotik. Jakarta : Sekretariat Negara.
Presiden Republik Indonesia. (1997). Undang-Undang Nomor 5 tahun 1997
tentang Psikotropika. Jakarta : Sekretariat Negara.
Presiden Republik Indonesia. (2009a). Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009
tentang Narkotika. Jakarta : Sekretariat Negara.
Presiden Republik Indonesia. (2009b). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta : Sekretariat
Lampiran 2. Denah Ruangan Apotek Endeh Was tafe l Meja Administrasi 22 21 20
Meja Racik & Timbangan
23 Lemari Pendingin Dispenser 7 8 10 9 11 12 13 14 18 19 Lemari dokumen Alat-alat gelas Meja Apoteker 17 16 15 1 2 3 4 5 6 Kasir Ruang Tunggu Banner K or an
(Lanjutan) Keterangan :
1. Lemari OTC (Sabun, kompres demam, hand gloves) 2. Lemari OTC ( Vitamin syrup anak)
3. Kasir dan Lemari OTC ( Obat batuk sirup ) 4. Lemari OTC ( Vitamin, obat batuk tablet ) 5. Lemari OTC ( Vitamin, obat batuk tablet ) 6. Lemari obat bebas topikal
7. Lemari obat-obat generik
8. Lemari obat golongan fast moving 9. Lemari obat tetes mata, obat tradisional 10. Lemari obat herbal, fitofarmaka
11 ; 12 ; 13 ; 14 Rak produk pelengkap dan konsinyasi 15. Lemari obat wajib apotek sirup
16. Lemari OTC (obat pencernaan) 17. Lemari OTC ( perban, kain kassa ) 18. Lemari obat Ethical
19. Lemari obat Ethical 20. Lemari obat psikotropika 21. Lemari sediaan kapsul kosong 22. Lemari obat narkotika
Lampiran 3. Struktur organisasi Apotek Endeh
Apoteker Pengelola Apotek
(APA)
Bagian
Administrasi
Asisten Apoteker
Lampiran 4. Alur pengelolaan barang Buku Defecta Narkotika Surat Pesanan Umum Surat Pesanan Psikotropika Surat Pesanan Narkotika
Sediaan Umum dan Perb.Kesehatan
Penataan dan Penyimpanan Pemberian Harga
Pemeriksaan barang datang, faktur, serta kesesuaian dengan surat pesanan
Narkotika dan Psikotropika Lemari Narkotika dan Psikotropika Kondisi Penyimpanan Bentuk Sediaan Perencanaan Pemesanan
( Jenis, Jumlah, dan distributor )
Psikotropika
Sediaan Umum dan Perb.Kesehatan
UNIVERSITAS INDONESIA
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
OBAT NARKOTIKA DI APOTEK
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
JAKA JUMAWAN, S. Farm.
1206329745
ANGKATAN LXXVII
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR ... iii DAFTAR LAMPIRAN ... iv
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3 2.1 Apotek ... 3 2.2 Obat ... 5 2.3 Narkotika... 7
BAB 3. METODE PENGKAJIAN ... 9 3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian ... 9 3.2 Metode Pengkaijan ... 9
BAB 4. PEMBAHASAN ... 10 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 16 5.1 Kesimpulan ... 16 5.2 Saran ... 16
Gambar 2.1 Penandaan Obat Bebas ... 6 Gambar 2.2. Penandaan Obat Bebas Terbatas ... 6 Gambar 2.3. Tanda Peringatan Khusus Untuk Obat Bebas Terbatas ... 6 Gambar 2.4. Penandaan Obat Keras ... 7 Gambar 2.5. Penandaan Narkotika ... 7
Lampiran 1. Daftar Narkotika Golongan I ... 18 Lampiran 2. Daftar Narkotika Golongan II ... 21 Lampiran 3. Daftar Narkotika Golongan III ... 24
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, keamuan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
Dalam era pembangunan bidang kesehatan, apotek mempunyai peranan yang penting terhadap masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan definisi apotek berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian yang berbunyi bahwa Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu Sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional.
Obat merupakan bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia. Obat-obatan di Indonesia dibedakan ke dalam beberapa golongan obat yang dimaksudkan agar dapat meningkatkan keamanan dan ketepatan penggunaan serta pengamanan distribusi yang terdiri dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras dan psikotropik, serta narkotika.
Definisi obat narkotika berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan. Sesungguhnya, penggunaan narkotika bagi kepentingan pelayanan kesehatan sangat dibutuhkan, namun bila penggunaan narkotika
disalahgunakan untuk mencapai kepuasan pribadi tanpa mendapatkan pengawasan dari dokter sebagai tenaga kesehatan yang berwenang, maka pemakaian obat-obat tersebut dapat menimbulkan rasa ketergantungan pada penggunanya. Bahaya penyalahgunaannya tidak hanya terbatas pada diri pecandu seperti depresi mental, menyebabkan gangguan jiwa berat, menyebabkan bunuh diri, melainkan dapat membawa akibat lebih jauh lagi, yaitu gangguan terhadap tata kehidupan masyarakat seperti melakukan tindak kejehatan, kekerasan dan pengrusakan.
Upaya pencegahan terhadap meluasnya penyalahgunaan narkotika oleh pemerintah telah dilakukan lewat pengendalian dan pengawasan dalam peraturan perundang-undangan narkotika. Oleh karena itu, maka muncul pertanyaan apakah peraturan perundang-undang mengenai narkotika yang telah dibuat masih relevan atau tidak saat ini di apotek.
1.2 Tujuan
Melihat apakah peraturan perundang-undangan tentang narkotika masih relevan atau tidak saat ini di apotek.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Apotek
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker.
2.1.1 Pengelolaan Apotek
Pengelolaan apotek merupakan segala upaya dan kegiatan yang dilakukan oleh seorang apoteker dalam rangka memenuhi tugas dan fungsi apotek. Pengelolaan apotek sepenuhnya berada ditangan apoteker, oleh karena itu apoteker harus mengelola secara efektif sehingga obat yang disalurkan kepada masyarakat akan lebih dapat dipertanggung jawabkan, karena kualitas dan keamanannya selalu terjaga. Pengelolaan apotek dibedakan atas:
a. Pengelolaan Teknis Farmasi
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.1332/Menkes/SK/2002, Bab VI pasal 10, dibidang kefarmasian pengelolaan apotek meliputi:
1) Pembuatan, pengelolaan, peracikan, perubahan bentuk, pencampuran, penyimpanan dan penyerahan obat atau bahan obat
2) Pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan farmasi lainnya
3) Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi yang meliputi:
a) Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi lainnya yang diberikan baik kepada dokter atau tenaga kesehatan lainnya maupun kepada masyarakat
b) Pengamatan dan pelaporan informasi mengenai khasiat, keamanan, bahaya, mutu obat dan perbekalan lainnya.
Hal lainnya yang harus diperhatikan dalam pengelolaan apotek adalah : 1) Apoteker berkewajiban menyediakan, menyimpan dan menyerahkan
2) Obat dan perbekalan farmasi lainnya yang karena suatu hal tidak dapat digunakan atau dilarang digunakan, harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau ditanam atau dengan cara lain yang telah ditetapkan oleh BPOM.
b. Pengelolaan Non Teknis Farmasi
Pengelolaan ini meliputi semua kegiatan administrasi, keuangan, personalia, kegiatan material (arus barang) dan bidang lainnya yang berhubungan dengan apotek.
2.1.2 Pelayanan Di Apotek
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1027/Menkes/ SK/2004 pelayanan di apotek meliputi :
a. Pelayanan resep 1) Skrining resep
a) Persyaratan administratif, seperti : nama, SIK, dan alamat dokter; tanggal penulisan resep, nama, alamat, umut, jenis kelamin, dan berat badan pasien; nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta, cara pemakaian serta informasi lainnya.
b) Kesesuaian farmasetik : bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.
c) Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dan lain-lain).
2) Penyiapan obat
a) Peracikan yang merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah.
b) Etiket harus jelas dan dapat dibaca
c) Kemasan obat yang diserahkan harus rapi dan cocok sehingga terjaga kualitasnya.
d) Penyerahan obat pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep dan penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada pasien. e) Apoteker harus memenuhi informasi yang benar, jelas dan mudah
pada pasien sekurang-kurangnya meliputi : cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan dan minuman yang harus dihindari selama terapi.
f) Apoteker harus memberikan konseling kepada pasien sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien. Konseling terutama ditujukan untuk pasien penyakit kronis (hipertensi, diabetes melitus, TBC, asma dan lain-lain).
g) Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan pemantauan penggunaan obat.
b. Promosi dan edukasi
Apoteker harus memberikan edukasi kepada pasien yang ingin melakukan upaya pengobatan diri sendiri (swamedikasi) untuk penyakit yang ringan dengan memilihkan obat yang sesuai dan apoteker harus berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut membantu diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur, poster, dan penyuluhan.
c. Pelayanan residensial (home care)
Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan pasien dengan penyakit kronis. Untuk kegiatan ini, apoteker harus membuat catatan pengobatan pasien (medication record).
2.2 Obat
Berdasarkan Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi, untuk manusia. Obat dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2006) :
a. Obat Bebas
Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Contoh : Parasetamol.
Gambar 2.1. Penandaan obat bebas b. Obat Bebas Terbatas
Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam. Contoh : CTM.
Gambar 2.2. Penandaan obat bebas terbatas
Gambar 2.3. Tanda peringatan khusus untuk obat bebas terbatas c. Obat Keras dan Psikotropika
Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam. Contoh : Asam Mefenamat.
Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan narkotikaa, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan
saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Contoh : Diazepam, Phenobarbital.
Gambar 2.4. Penandaan obat keras d. Obat Narkotika
Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin.
Gambar 2.5. Penandaan narkotika
2.3 Narkotika
Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, dilakukan penggolongan narkotika menjadi 3 golongan yaitu :
a. Narkotika Golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Daftar narkotika golongan I dapat dilihat pada lampiran 1.
b. Narkotika Golongan II adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan pengembangan olmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi yang mengakibatkan ketergantungan. Daftar narkotika golongan II dapat dilihat pada lampiran 2.
c. Narkotika Golongan III adalah narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan pengembangan ilmu serta mempunyai potensi ringan yang mengakibatkan ketergantungan. Daftar narkotika golongan III dapat dilihat pada lampiran 3.
BAB 3
METODE PENGKAJIAN
3.1 Waktu Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 29 Juli – 23 Agustus 2013 yang bertempat di Apotek Endeh, Jalan Pancoran Timur No. 37, Pengadegan, Jakarta Selatan.
3.2 Metode Pengkajian
Metode yang digunakan dalam pengkajian yaitu dengan menelusuri serta mengkaji literatur peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan terkait narkotika di apotek kemudian membandingkan kerelevansiannya di apotek.
BAB 4 PEMBAHASAN
Narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan (Undang-Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009).
Adapun peraturan-peraturan yang terkait dengan narkotika yang dikeluarkan oleh pemerintah yaitu Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika, Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, Peraturan Menteri Kesehatan No.28/Menkes/PER/I/1978 tentang Penyimpanan Narkotika, Keputusan Menteri Kesehatan No.199/Menkes/SK/III/1996 tentang Penunjukan Pedagang Besar Farmasi PT (Persero) Kimia Farma Depot Sentral sebagai Importir Tunggal Narkotika di Indonesia. Dimana, Undang-Undang Narkotik terbaru (Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika) mempunyai tujuan yaitu menjamin ketersediaan narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; mencegah, melindungi, dan menyelamatkan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan narkotika; memberantas peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika; dan menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan social bagi penyalah guna dan pecandu narkotika.
Obat golongan narkotika merupakan obat yang memerlukan pengelolaan khusus di apotek karena peredaran dan penggunaan obat golongan narkotika tersebut di awasi oleh pemerintah agar tidak disalahgunakan. Secara garis besar pengelolaan narkotika di apotek antara lain meliputi pemesanan, penyimpanan, penyerahan, pelaporan resep dan pemusnahan.
a. Pemesanan
Pemesanan narkotika oleh apotek dilakukan dengan memesan narkotika ke PBF Kimia Farma sebagai satu-satunya distributor yang ditunjuk pemerintah dengan menggunakan Surat Pesanan (SP) yang ditandatangani oleh APA dengan dilengkapi nama jelas, nomor SIK, SIA, dan stempel Apotek, dimana satu lembar SP hanya untuk satu macam narkotika saja. Pemesanan obat narkotika pada PBF Kimia Farma ini dikarenakan Menteri Kesehatan memberikan izin pengelolaan
obat narkotika kepada satu Perusahaan Milik Negara yaitu PT. Kimia Farma (Persero Tbk.) berdasarkan Kepmenkes No.199/Menkes/SK/III/1996 tentang Penunjukan PBF (Pedagang Besar Farmasi) PT (Persero) Kimia Farma Depot Sentral di Indonesia. Yang mana sentralisasi ini dimaksudkan untuk memudahkan pengendalian dan pengawasan narkotika oleh pemerintah. Namun, saat ini pemesanan obat narkotika dapat dipesan pada PBF lain yakni Mahakam Beta Farma sebagai distributor obat narkotika, dimana hal ini bertentangan dengan penunjukkan PBF Kimia Farma sebagai satu-satunya distributor yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai distributor obat narkotika. Berdasarkan keterangan yang didapat dari PBF Mahakam Beta Farma, obat narkotika yang didistribusikan telah mendapatkan izin dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Dengan demikian, saat ini PBF Kimia Farma tidak lagi menjadi distributor tunggal yang mengelola obat narkotika.
b. Penyimpanan
Saat ini penyimpanan narkotika masih sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Pada Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotik pasal 16 dinyatakan bahwa narkotika yang ada pada apotek, pedagang besar farmasi, pabrik farmasi, rumah sakit, persediaan para dokter, lembaga ilmu pengetahuan dan lembaga pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, harus disimpan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan; dimana ketentuan-ketentuan yang dimaksudkan pada pasal tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.28/Menkes/PER/I/1978 tentang Penyimpanan Narkotika sesuai pasal 5 ayat 2 dan pasal 6 ayat 2, 3, dan 4 bahwa apotek harus memiliki tempat khusus untuk menyimpan narkotika dengan ketentuan, antara lain:
Pasal 5 ayat 2 yaitu tempat khusus pada ayat 1 harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
1) Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat; 2) Harus mempunyai kunci yang kuat;
3) Dibagi dua masing-masing dengan kunci yang berlainan, bagian pertama dipergunakan untuk menyimpan morfina, petidina, dan garam-garamnya serta
persediaan narkotika, bagian kedua digunakan untuk menyimpan narkotika lainnya yang digunakan sehari-hari;
4) Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari berukuran kurang dari 40 x 80 x 100cm, maka lemari tersebut harus dibuat pada tembok atau lantai.
Pasal 6 ayat 2, 3, dan 4 yaitu lemari khusus tersebut tidak boleh digunakan untuk menyimpan barang lain selain narkotika, kecuali ditentukan lain oleh menteri. Anak kunci lemari khusus harus dikuasai oleh penanggung jawab atau pegawai lain yang dikuasakan. Lemari khusus harus ditaruh di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum.
Sedangkan, pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika pasal 11 ayat 1 narkotika yang berada dalam penguasaan importir, eksportir, pabrik obat, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan, wajib disimpan secara khusus; dan pada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pasal 14 ayat 1 dinyatakan bahwa narkotika yang berada dalam penguasaan industri farmasi, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi pemerintah, apotek, rumah sakit, pusat kesehatan masyarakat, balai pengobatan, dokter, dan lembaga ilmu pengetahuan wajib disimpan secara khusus.
Adapun penyimpanan secara khusus yang dimaksudkan pada Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika pasal 11 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pasal 14 ayat 1 sampai saat ini masih mengikuti ketentuan yang dikeluarkan atau ditetapkan oleh menteri kesehatan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.28/Menkes/PER/I/1978 tentang Penyimpanan Narkotika pasal 5 dan 6. Penyimpanan narkotika ditempat khusus ini dimaksudkan untuk mengamankan narkotika agar tidak dengan mudah digunakan oleh orang yang tidak berhak. Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika pasal 11 ayat 4 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pasal 14 ayat 4 pelanggaran terhadap ketentuan mengenai penyimpanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi administratif oleh Menteri atas rekomendasi dari Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan berupa teguran, peringatan, denda
administratif, penghentian sementara kegiatan; atau pencabutan izin. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.28/Menkes/PER/I/1978 tentang Penyimpanan Narkotika pasal 10 ayat 1 pelanggaran terhadap ketentuan dalam pasal 5 tersebut dipidana dengan pidana denda setinggi-tingginya Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah).
c. Penyerahan
Penyerahan narkotik saat ini telah mengikuti perundang-undangan yang berlaku. Dimana pada Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotik pasal 8 ayat 1 narkotika dapat dipergunakan untuk pengobatan penyakit hanya berdasarkan resep dokter; sedangkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika pasal 39 ayat 3 dan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika pasal 34 ayat 3 menyatakan bahwa rumah sakit, apotek, pusat kesehatan masyarakat, dan balai pengobatan hanya dapat menyerahkan narkotika kepada pasien berdasarkan resep dokter. Berdasarkan ketiga undang-undang tersebut, narkotika hanya dapat diberikan atau diserahkan apabila pasien membawa resep yang ditulis dokter yang didalamnya mengandung obat narkotika. Selain itu, berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotik pasal 7 ayat 2 apotik dilarang mengulangi menyerahkan narkotika atas dasar resep yang sama dari seorang dokter atau atas dasar salinan resep dokter. Sehingga, salinan resep dari resep narkotika dengan tulisan “iter” tidak boleh dilayani.
d. Pelaporan
Pelaporan resep Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotik