6. KESIMPULAN DAN SARAN
6.2 Saran
a. Dalam rangka meminimalisasi risiko kontaminasi mikroba pada produksi Emulsi maka sebaiknya dilakukan proses produksi tertutup yang terintegrasi sehingga tidak diperlukan lagi proses pemanasan emulsi sebelum filling. Dengan proses tertutup yang terintegrasi diharapkan stabilitas emulsi tidak
mengalami penurunan akibat pemanasan, waktu produksi menjadi lebih singkat, dan biaya menjadi lebih rendah.
b. Untuk mempercepat waktu produksi emulsi sebaiknya dilakukan pembelian mesin filling baru otomatis.
c. Sebaiknya waktu pendiaman basis emulsi dikurangi/dihilangkan untuk mencegah resiko kontaminasi dan mempercepat waktu produksi.
d. Untuk mempercepat waktu produksi, sebaiknya ruang pencucian botol PET dilengkapi dengan pipa untuk aliran Purified water ke dalam ruangan sehingga operator tidak harus berulang kali mengambil purified water dari ruangan lain.
DAFTAR ACUAN
Badan POM. (2006). Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Badan POM. (2012). Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia No. HK.03.1.33.12.12.8195 Tahun 2012 tentang Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta: Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Daris, Azwar. (2008). Himpunan Peraturan dan Perundang-undangan
Kefarmasian. Jakarta: PT ISFI Penerbitan.
Gunadi. (2008). Pengertian ISO 9000, Sistem Standar Manajemen Mutu. http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Gunadi,%20M.Pd./stand ardisasi-3.4%20%28ISO%209000%29.pdf. [Diunduh pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 08:57].
Hamin, Murdifin dan Nurnajamuddin, Mahfud. (2012). Manajemen Produksi
Modern, Operasi Manufaktur dan Jasa. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi. Jakarta.
PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2011). Profil Perusahaan.
www.galenium.com/ID/aboutgalenium. [Diunduh pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 10:41].
PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2012a). Organization Structure PT
Galenium Pharmasia Laboratories Februari 2012. Bogor: PT Galenium
Pharmasia Laboratories.
PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2012b). Instruksi Kerja Departemen No.
B/PRP/01. Bogor: PT Galenium Pharmasia Laboratories.
PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2012c). Uraian Jabatan Pharma
Production Manager. Bogor: PT Galenium Pharmasia Laboratories.
PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2012d). Instruksi Kerja Produksi No.
B/PRP/02. Bogor: PT Galenium Pharmasia Laboratories.
PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2013a). Organization Structure of
Department Pharma Production January 2013. Bogor: PT Galenium
Pharmasia Laboratories.
PT Galenium Pharmasia Laboratories. (2013b). Standard Operating Procedure
Proses Produksi SOP-GPL C3.1. Bogor: PT Galenium Pharmasia
Laboratories.
QIMS. (2010). ISO 9001: 2008 – Sistem Manajemen Mutu (COQ-01). http://qims-consulting.com/?p=70. [Diunduh pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 09:27].
Presiden Republik Indonesia. 2009. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Wahyono, Budi. (2013). Pengertian dan Sejarah Singkat ISO 9001. http://www.pendidikanekonomi.com/2012/10/pengertian-dan-sejarah-iso-9001.html. [Diunduh pada tanggal 21 Maret 2013 pukul 09:03].
Tabel 3.2. Daftar produk farma ethical PT Galenium Pharmasia Laboratories
Tabel 3.3. Daftar produk farma OTC PT Galenium Pharmasia Laboratories
NO CREAM LIQUID SYRUP OINTMENT TABLET KAPSUL
1. Bioderm 5 gr Acne Feldin Lotion 110 ml Cetymin 60 ml Chiby Baby
Balm 20 gr Cetymin Mycotrazol
2. Calacort 10 gr Ressal Acne Lotion 100 ml Galdom Suspensi 60 ml Haemocaine 15 gr Galdom Trichol 3. Dermafoot 30 gr Topisel Lotion 30 ml Galpect 60 ml Galpect 4. Laxarec 5 ml Imunex 60 ml Glimunos Kaplet 5. Melavita 0,05 & 0,1%, 10 gr Laxadilac 60 ml Galtropil Kaplet 800 & 1200 mg 6. Scabimite 10 & 30 gr Neladryl DMP 60 ml Galten Kaplet 7. Sinobiotik 5 g Neladryl Exp 60 & 110 ml Galtaren 50 mg 8. Soft-U-Derm Forte 40 gr Pyravit 110 & 225 ml Gamesolon 4 & 8 mg 9. Solare SPF 30 & 50 75 ml Prosic Suspension 60 ml Gasorbid 10. Topsy 3 & 5 gr Haemogal Kaplet 11. Imunex 12. Amlogal 5 mg 13. Laxatab 14. Mycostop 250 & 500 mg 15. Prolung Kaplet 450 mg
NO SEMISOLID LIQUID SYRUP POWDER TABLET KAPSUL
1. Galtaren Emulgel 20 gr Chiby Oil Inhalant 12 ml Glimunos 30 & 60 ml Mycorine Powder 25 gr Cartiflex Kaplet Laxassia 2. Skintex Ointment 5 gr Ressal Acne Lotion 100 ml Laxadine Emulsi 30, 60, & 110 ml Mycorine Sachet 10 gr Selefit Plus Kaplet 3. Mycorine Cream 5 & 15 gr Topisel Lotion 30 ml Galpect 60 ml Selefit Plus CC
Tabel 3.4. Daftar produk PSC PT Galenium Pharmasia Laboratories
NO SEMISOLID LIQUID POWDER BARSOAP
1. Caladine Lotion 60 & 95 ml Caladine Baby-Bootle 100 & 200 ml Caladine Powder Original 35, 60, 100, & 220 gr Caladine Baby 85 gr 2. Caladine Cream 15 gr Caladine Baby-Pouch 200 ml Caladine Powder Soft Comfort 35, 60, 100, & 220 gr JF Sufur Acne Care 65 & 90 gr 3. JF Facial Foam Acne Care 70 gr
Oilum Body Wash Moisturizing- Bootle 210 ml Caladine Powder Active Fresh 35, 60, 100, & 220 gr JF Sufur Oily Care 65 & 90 gr 4. JF Facial Foam Mild Ca re 70 gr
Oilum Body Wash Moisturizing- Pouch 175 ml Caladine Baby Powder 50 & 100 gr JF Sufur Mild Care 65 & 90 gr 5. JF Men Deep Clean 70 gr
Oilum Body Wash-Brightening Scrub Bootle 210 ml
JF Sufur Blemish Care 65 gr 6. JF Men Oil Clear
70 gr
JF Family Body Wash Orange Spirit- Bootle & Pouch 200 ml
Belsoap Original 65 gr
7.
JF Family Body Wash Blue Ocean- Bootle & Pouch 200 ml Belsoap White Musk 65 gr 8. JF Wet Wipes 10 s Belsoap Soft Floral 65 gr 9. Oilum-Moisturizing 85 gr 10. Oilum-Brightening Scrub 85 gr 11. JF Family Orange Spirit 95 gr 12. JF Family Blue Ocean 95 gr
Lampiran 3. Alur proses produksi tablet, sirup, krim, dan sabun di PT GPL
Tablet (granulasi Basah)
Sirup Cream Sabun
Penimbangan Pencampuran Granulasi Pengeringan IPC Pencetakan IPC Pengemasan Primer IPC Pengemasan Akhir Pengiriman Penimbangan Pencampuran IPC Pengisian IPC Pengemasan Akhir IPC Pengiriman Penimbangan Pembuatan basis minyak dan air
Pencampuran Rolling IPC Pengisian IPC Pengemasan Akhir IPC Pengiriman Penimbangan Rolling Mixing Rolling Plodding Cutting Stamping IPC Pengemasan Primer Pengemasan Akhir IPC Pengiriman
Lampiran 4. Alur proses produksi salep, bedak, emulsi, dan lotion di PT GPL
Salep Bedak Emulsi Lotion
Penimbangan Pelelehan Basis Pencampuran Rolling IPC Pencampuran Akhir IPC Pengisian IPC Pengemasan Akhir IPC Pengiriman Penimbangan Pencampuran Pengayakan Pencampuran IPC Pengisian Pengemasan Sekunder Pengemasan Akhir IPC Pengiriman Penimbangan Pencampuran fase minyak dan air
IPC Pengisian IPC Pengemasan Akhir IPC Pengiriman Penimbangan Pencampuran IPC Pengisian IPC Pengemasan Sekunder Pengemasan Akhir IPC Pengiriman
UNIVERSITAS INDONESIA
SIMULASI PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENGGUNAKAN
AHP (ANALITICAL HIERARCHY PROCESS) DALAM
CONTINUES IMPROVEMENT PRODUKSI EMULSI Z DI PT
GALENIUM PHARMASIA LABOATORIES
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
EDI KURNIAWAN, S. Farm. 1106153164
ANGKATAN LXXVI
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
ii Universitas Indonesia DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR GAMBAR ... iii DAFTAR TABEL ... iv 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3 2.1 Analitical hierarchy process (AHP) ... 3 2.2 Emulsi ... 9
3. PELAKSANAAN TUGAS KHUSUS ... 18 3.1 Waktu dan tempat ... 18 3.2 Langkah-langkah dalam pengambilan keputusan menggunakan AHP 18
4. PEMBAHASAN ... 32 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 35 5.1 Kesimpulan ... 35 5.2 Saran ... 35 DAFTAR ACUAN ... 36
iii Universitas Indonesia DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Contoh struktur hierarki dalam AHP ... 4 Gambar 3.1. Hubungan sasaran, kriteria, alternatif dalam AHP ... 18 Gambar 3.2. Nilai eigen untuk masing-masing kriteria ... 21 Gambar 3.3. Hubungan sasaran, kriteria, alternatif dengan nilai eigennya ... 30
iv Universitas Indonesia DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Skala perbandingan nilai kepentingan ... 4 Tabel 2.2. Matriks perbandingan kriteria ... 5 Tabel 2.3. Nilai indeks rasio (RI) untuk beberapa nilai n ... 7 Tabel 3.1. Matriks hasil perbandingan berpasangan kriteria ... 19 Tabel 3.2. Matriks hasil perbandingan berpasangan kriteria dengan nilai
eigennya ... 21 Tabel 3.3. Matrik perbandingan berpasangan untuk alternatif dengan kriteria biaya ... 22 Tabel 3.4. Matriks hasil perbandingan berpasangan untuk alternatif
dengan kriteria biaya beserta dengan nilai eigennya... 24 Tabel 3.5. Matriks perbandingan berpasangan untuk alternatif dengan
kriteria waktu ... 25 Tabel 3.6. Matriks hasil perbandingan berpasangan untuk kriteria waktu
beserta dengan nilai eigennya. ... 27 Tabel 3.7. Matrik perbandingan berpasangan untuk alternatif dengan
Kriteria mutu ... 28 Tabel 3.8. Matriks hasil perbandingan berpasangan untuk kriteria mutu
beserta dengan nilai eigennya. ... 27 Tabel 3.1. Nilai Eigen untuk semua alternatif dan kriteria ... 31
BAB 1
LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang
Di era dunia bisnis yang sangat kompetitif sekarang ini, sangat penting untuk setiap industri secara konsisten menilai setiap keputusan yang akan diambil secara tepat (Ogunyemi, O., et al. 2011). Dalam pengambilan keputusan dengan kriteria yang banyak, pengambil keputusan seringkali perlu memilih atau menilai alternatif yang memiliki konflik kriteria (Ahari, S.G., et al., 2011).
Analitical hierarcy Process (AHP) sering digunakan untuk menyelesaikan masalah pengambilan keputusan dengan kriteria yang banyak dan telah sukses diterapkan pada banyak tipe permasalahan dalam pengambilan keputusan (Ahari, S.G., et al., 2011). AHP yang dikembangkan oleh Saaty pada tahun 1977, adalah metode pengambilan keputusan untuk membuat prioritas terhadap alternatif ketika multipel kriteria harus dipertimbangkan. AHP dapat menyederhanakan masalah yang kompleks dan tidak terstruktur, strategik dan dinamik menjadi bagiannya, serta menjadikan variabel dalam suatu hirarki (tingkatan). Keuntungan utama dari proses hirarki analisis adalah penggunaan pairwise comparison untuk mendapatkan perbandingan (rasio) derajat pengukuran. Skala rasio merupakan alat yang digunakan untuk mengukur baik tangibel maupun intagible faktor (Liberatore, M., and Robert L.N., 2008).
Analitical hierarcy process memiliki potensi yang sangat banyak untuk
diterapkan dalam bidang farmasi, bioteknologi, dan ilmu pengetahuan, termasuk dalam rencana strategis, R&D, supply chain, dan teknologi informasi (Decision Lens, 2011).
PT Galenium Pharmasia Laboratories selalu berupaya dalam melakukan perbaikan terus menerus (continues improvment) di setiap lini perusahaan. Proses produksi merupakan salah satu lini yang menjadi perhatian karena merupakan tahapan yang penting dalam menghasilkan suatu produk sehingga perlu dilakukan perbaikan secara terus menerus agar dapat meningkatkan nilai jual produk dan produk dapat sampai ke tangan konsumen tepat waktu. Salah satu jenis sediaan farmasi yang diproduksi oleh PT Galenium Pharmasia Laboratories adalah emulsi. Produk emulsi Z merupakan salah satu produk andalan dari PT Galenium
Universitas Indonesia Pharmasia Laboratories. Untuk menghasilkan produk dengan nilai jual yang lebih tinggi maka perlu dilakukan perbaikan pada tiap tahapan dari proses produksi tersebut. Ketika melakukan perbaikan pada proses produksi maka ada tiga hal yang sebaiknya dipertimbangkan yaitu bagaimana caranya proses produksi dapat lebih cepat, lebih murah, dan lebih bermutu. Dari ketiga hal tersebut diatas adakalanya saling bertentangan satu sama lain, ketika satu kriteria terpenuhi maka kriteria lain tidak terpenuhi. Misalnya di saat perusahaan ingin proses produksi lebih cepat maka perusahaan dapat membeli alat baru yang lebih canggih, namun harga dari alat baru tersebut ternyata sangat mahal. Proses produksi lebih cepat dapat terpenuhi namun lebih murah belum tentu terpenuhi. Oleh karena itu penting bagi para pengambil keputusan untuk menentukan kriteria mana yang lebih dipentingkan dengan mempertimbangkan kondisi dari perusahaan itu sendiri.
Dalam menentukan alternatif yang akan dipilih maka digunakan metode AHP. Pertama dilakukan penentuan kriteria yang akan dianggap paling penting. Dimana pada simulasi pengambilan keputusan ini ditentukan tiga kriteria yaitu biaya lebih murah, waktu lebih cepat, dan mutu lebih baik. Langkah selanjutnya adalah menentukan peringkat dari tiap alternatif untuk masing-masing kriteria tersebut secara satu persatu. Kemudian dapat ditentukan peringkat secara kesuluruhan dari masing-masing alternatif berdasarkan semua kriteria yang telah ditentukan.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan tugas khusus ini adalah mahasiswa dapat memahami penerapan AHP dalam proses pengambilan keputusan dan mengaplikasikan dalam menentukan urutan prioritas alternatif yang akan dipilih dalam perbaikan proses produksi emulsi Z di PT Galenium Pharmasia Laboratories.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Analitical Hierarcy Prosess (AHP) 2.1.1 Pengertian AHP
Analitical hierarcy process (AHP) adalah metode pengambilan keputusan
dengan multi kriteria yang dikembangkan oleh Saaty. AHP menarik minat banyak peneliti hal ini karena AHP menggunakan metode matematika yang mudah dan input data dapat dilakukan secara sederhana. AHP adalah alat bantu dalam mengambil keputusan yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah pengambilan keputusan yang kompleks. AHP menggunakan multi level struktur hirarki objektif, kriteria, subkriteria, dan alternatif. Hubungan antar data diperoleh dengan menggunakan pairwise comparison. Perbandingan ini digunakan untuk mendapatkan bobot (nilai) kepentingan dari kriteria keputusan, dan merupakan penilaian kinerja relatif suatu alternatif dari masing-masing kriteria keputusan (Triantaphyllou, E and Stuart H.M., 1995).
AHP memiliki banyak keunggulan dalam menjelaskan proses pengambilan keputusan karena dapat digambarkan secara grafis, sehingga mudah dipahami oleh semua pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan (Marimin dan Nurul Maghfiroh, 2011) .
2.1.2 Prinsip-Prinsip Dasar Analytical Hierarcy Process Ada tiga prinsip dasar dalam AHP, yaitu :
a. Menyusun hirarki yaitu memecah persoalan menjadi unsur yang terpisah-pisah. b. Penetapan Prioritas yaitu menentukan peringkat elemen-elemen menurut relatif
pentingnya.
c. Konsistensi Logis yaitu menjamin bahwa semua elemen dikelompokkan secara logis dan diperingkatkan secara konsistensi sesuai dengan kriteria yang logis
2.1.2.1 Dekomposisi (penyusunan hierarki)
Dekomposisi adalah memecahkan atau membagi problema yang utuh menjadi unsur–unsurnya ke bentuk hirarki proses pengambilan keputusan, dimana
Universitas Indonesia setiap unsur atau elemen saling berhubungan. Penyusunan hierarki dilakukan dengan cara mengidentifikasi pengetahuan atau informasi yang sedang diamati. Susunan hierarki biasanya terdiri dari tujuan (goal), kriteria, dan alternatif (Marimin dan Nurul Maghfiroh, 2011).
Gambar 2.1 Contoh Struktur Hierarki Dalam AHP (Marimin dan Nurul M., 2011) (telah diolah kembali).
2.1.2.2. Penilaian setiap level hierarki
Penilaian setiap level hierarki dinilai melalui perbandingan berpasangan. Menurut Saaty (1983), untuk berbagai persoalan, skala 1 sampai 9 adalah skala terbaik dalam mengekspresikan pendapat. Skala 1-9 ditetapkan sebagai pertimbangan dalam membandingkan pasangan elemen di setiap level hierarki terhadap suatu elemen yang berada di level diatasnya. Skala dengan sembilan satuan dapat menggambarkan derajat sampai mana kita mampu membedakan intensitas tata hubungan antar elemen (Marimin dan Nurul, M., 2011).
Tabel 2.1 Skala Perbandingan Nilai Kepentingan (Triantaphyllou, E & Mann.S.H., 1995)
Tingkat kepentingan
Definisi keterangan
1 Kedua elemen sama
penting
Dua elemen memberikan kontribusi yang sama kepada tujuan
3 Elemen yang satu sedikit lebih penting dibanding dengan lemen lainnya
Pengalaman dan pertimbangan sedikit lebih menyukai elemen satu dibanding yang lain
Tujuan
Kriteria 1 Kriteria 3
Alternatif 4 Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3
Universitas Indonesia 5 Elemen yang satu lebih
esensial atau lebih penting dari elemen lainnya
Pengalaman dan penilaian dengan kuat memihak elemen satu dibanding yang lain
7 Elemen yang satu jelas lebih penting dibandingkan elemen lainnya
Elemen yang satu dominan terhadap yang lain
9 Suatu elemen mutlak lebih penting dari yang lain
Sudah ada bukti kuat yang menegaskan kepentingan terhadap yang lain
2,4,6,8 Nilai elemen berdekatan Perlu adanya suatu kompromi antara dua pertimbangan
1/(2-9) Kebalikan dari keterangan nila 2-9
Jika untuk nilai aktivitas i mendapat satu angka bila dibandingkan dngan aktivitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya bila dibandingkan dengan i
2.1.2.3. Penentuan prioritas
Menentukan susunan prioritas elemen adalah dengan menyusun perbandingan berpasangan yaitu membandingkan dalam bentuk berpasangan seluruh elemen untuk setiap sub hirarki. Perbandingan tersebut ditransformasikan dalam bentuk matriks.
Tabel 2.2 Matriks Perbandingan Kriteria (Triantaphyllou, E & Mann.S.H., 1995)
K1 K2 K3 . . Kn K1 K11 K12 K12 . . K1n K2 K21 K22 K23 . . K2n K3 K31 K32 K33 . . K3n . . . . . . . . Kn Kn1 Kn2 Kn3 . . Knn
Universitas Indonesia Dalam matriks ini, dibandingkan elemen K1 dalam kolom vertikal dengan elemen K1, K2, K3 dan seterusnya yang terdapat di baris horizontal yang dihubungkan dengan level tepat diatsnya (goal). Lalu ulangi dengan elemen kolom K2 dan seterusnya.
Nilai K11 adalah nilai perbandingan elemen K1 (baris) terhadap K1 (kolom) yang menyatakan hubungan :
a. Seberapa jauh tingkat kepentingan K1 (baris) terhadap kriteria dibandingkan dengan K1 (kolom) atau
b. Seberapa jauh dominasi K1 (baris) terhadap K1 (kolom) atau
c. Seberapa banyak sifat kriteria terdapat pada K1 (baris) dibandingkan dengan K1 (kolom).
2.1.2.4. Konsistensi logis
Semua elemen dikelompokan secara logis dan diperingkatkan secara konsisten sesuai dengan suatu kriteria yang logis. Penilaian yang mempunyai konsisten tinggi sangat diperlukan dalam persoalan pengambilan keputusan agar hasil keputusannya akurat. Dalam kehidupan nyata, konsistensi sempurna sukar dicapai. Jika buah apel lebih disukai daripada jeruk dan jeruk lebih disukai daripada pisang maka dalam hubungan konsisten yang sempurna apel seharusnya lebih dsukai daripada pisang, tetapi dengan orang yang sama, dapat kadangkala lebih menyukai pisang daripada apel, tergantung waktu dan kondisi tertentu (Marimin dan Nurul M., 2011).
Konsistensi sampai batas tertentu dalam menetapkan prioritas sangat diperlukan untuk memperoleh hasil-hasil yang sahih dalam dunia nyata. AHP mengukur konsistensi menyeluruh dari berbagai pertimbangan melalui suatu rasio konsistensi. Nilai rasio konsistensi harus 10 persen atau kurang. Jika lebih dari 10 persen, maka penilaiannya masih acak dan perlu diperbaiki (Marimin dan Nurul M., 2011).
Universitas Indonesia 2.1.2.5. Pengujian Konsistensi
Dalam persoalan pengambilan keputusan penting untuk mengetahui betapa baiknya konsistensi pengambil keputusan. Semakin banyak faktor yang harus dipertimbangkan, semakin sukar untuk mempertahankan konsistensi, ditambah lagi adanya intuisi dan faktor-faktor lain yang membuat orang mungkin menyimpang dari kekonsistensian. Namun, terlalu banyak ketidakkonsistenan juga tidak diinginkan. Pengulangan wawancara pada sejumlah responden yang sama kadang diperlukan apabila derajat tidak konsistensinya besar. Rasio konsistensi/consistency ratio (CR) sama dengan 0 menunjukkan bahwa penilaian konsisten. Menurut Saaty, jika CR lebih besar dari 0.1 maka penilaian tidak dapat dipercaya. Namun pada prakteknya inkonsistensi 10% atau kurang terkadang harus diterima (Asamoah, A et al. 2012)
Saaty telah membuktikan bahwa Indeks Konsistensi/consistency index dari matriks berordo n dapat diperoleh dengan rumus: CI =
CI = Rasio penyimpangan (deviasi) konsistensi (consistency index)
λmax = Nilai eigen terbesar dari matriks berordo n
n = Orde matriks
Dari persamaan diatas, rasio konsistensi (CR) dapat dihitung dengan cara membandingkan nilai indeks konsistensi dengan nilai random index. Sehingga diperoleh persamaan : CR =
CI = indeks konsistensi RI = random indeks
Tabel 2.3. Nilai Indeks Rasio (RI) Untuk Beberapa Nilai n (Asamoah, A et al. 2012)
N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Universitas Indonesia 2.1.3 Langkah-langkah pengambilan keputusan berdasarkan AHP (Marimin dan Nurul M., 2011)
a. Merumuskan masalah dan menyusun elemen-elemen pokok secara hierarki. Elemen-elemen pokok tersebut yaitu sasaran, kriteria pemilihan, dan alternatif pemilihan.
b. Menentukan prioritas setiap kriteria (bobot kriteria). Dapat dilakukan dengan membuat skala interval untuk menentukan ranking setiap kriteria.
c. Menggunakan prinsip kerja AHP yaitu perbandingan berpasangan yang menggambarkan tingkat kepentingan suatu kriteria relatif terhadap kriteria lain. Perbandingan dilakukan berdasarkan pilihan atau judgement dari pembuat keputusan dengan menilai tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya.
d. Penyelesaian dengan manipulasi matrik dan menentukan nilai eigenvektor. e. Melakukan pembobotan untuk setiap alternatif kemudian lakukan manipulasi
matrik dan tentukan nilai eigenvektor nya.
f. Menentukan rangking dari masing-masing alternatif yang sudah dipilih dengan jalan mengalirkan matrik nilai eigen dari alternatif dengan matrik bobot kriteria.
2.1.4 Keuntungan dan kerugian 2.1.4.1. Keuntungan
Salah satu keuntungan paling utama dari AHP adalah kesederhanaannya ketika digunakan dan hasil yang diperoleh dapat dipercaya. AHP dapat juga digunakan pada informasi yang belum pasti dan subjektif, dan dapat didasarkan pada pengalaman, wawasan, dan intuisi dengan alasan yang masuk akal.
Adapun beberapa keuntungan dalam menggunakan AHP (Saaty, 1993): a. AHP memberi model tunggal yang mudah dimengerti, luwes untuk beragam
persoalan yang tidak terstruktur.
b. AHP memadukan rancangan deduktif dan rancangan berdasarkan sistem dalam memecahkan persoalan kompleks.
c. AHP dapat menangani saling ketergantungan elemen-elemen dalam satu sistem dan tidak memaksakan pemikiran linier.
Universitas Indonesia d. AHP mencerminkan kecenderungan alami pikiran untuk memilah-milah
elemen-elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang serupa dalam setiap tingkat.
e. AHP memberi suatu skala dalam mengukur hal-hal yang tidak terwujud untuk mendapatkan prioritas.
f. AHP melacak konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam menetapkan berbagai prioritas.
g. AHP menuntun ke suatu taksiran menyeluruh tentang kebaikan setiap alternatif. h. AHP mempertimbangkan prioritas-prioritas relatif dari berbagai faktor sistem dan memungkinkan orang memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuan-tujuan mereka.
i. AHP tidak memaksakan konsensus tetapi mensintesis suatu hasil yang representatif dari penilaian yang berbeda-beda.
j. AHP memungkinkan orang memperhalus definisi mereka pada suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian mereka melalui pengulangan.
2.1.4.2. Kerugian
Kerugian dari AHP antara lain ketidakkonsistenan dari pengambil keputusan. Sebagai contoh, pada sebuah pertandingan, tim A selalu dapat mengalahkan tim B dan tim B selalu dapat mengalahkan tim C namun belum tentu tim A dapat selalu mengalahkan tim C. Disini hal yang harus diperhatikan adalah memastikan bahwa inkonsistensi yang terjadi masih dibawah batas yang dapat diterima. Jika melebihi batas yang sudah ditentukan beberapa revisi putusan mungkin diperlukan. AHP menyediakan metode untuk menilai konsistensi keputusan pengambil keputusan. (Ross, M.E., 1994).
2.2. Emulsi 2.2.1 Teori dasar
Emulsi merupakan jenis koloid dengan fase terdispersinnya berupa fase cair dengan medium pendispersinya bisa berupa zat padat, cair, ataupun gas. Emulsi merupakan sediaan yang mengandung dua zat yang tidak dapat bercampur, biasanya terdiri dari minyak dan air, dimana cairan yang satu
Universitas Indonesia terdispersi menjadi butir-butir kecil dalam cairan yang lain. Dispersi ini tidak stabil, butir – butir ini bergabung ( koalesen ) dan membentuk dua lapisan yaitu air dan minyak yang terpisah yang dibantu oleh zat pengemulsi (emulgator) yang merupakan komponen yang paling penting untuk memperoleh emulsi yang stabil. Zat pengemulsi (emulgator) merupakan komponen yang paling penting agar memperoleh emulsi yang stabil. Zat pengemulsi adalah PGA, tragakan, gelatin, sapo dan lain-lain. Emulsi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu emulsi vera (emulsi alam) dan emulsi spuria (emulsi buatan). Emulsi vera dibuat dari biji atau buah, dimana terdapat disamping minyak lemak juga emulgator yang biasanya merupakan zat seperti putih telur (Anief, 2000).
Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Salah satu emulgator yang aktif permukaan atau lebih dikenal dengan surfaktan. Mekanisme kerjanya adalah menurunkan tegangan antarmuka permukaan air dan minyak serta membentuk