• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saran

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 44-66)

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.2 Saran

a. PT. Bintang Toedjoe harus terus senantiasa mempertahankan dan meningkatkan upaya yang telah dilakukan dalam menghasilkan produk yang berkualitas tinggi melalui pelaksanaan CPOB.

b. Penerapan CPOB sebaiknya dilaksanakan secara konsisten dan terus menerus dengan meningkatkan kesadaran karyawan akan pentingnya penerapan CPOB dalam segala aspek.

DAFTAR ACUAN

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 2006. Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Jakarta: BPOM RI.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 2009. Petunjuk Operasional Penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Jakarta: BPOM RI. Departemen Kesehatan RI. 1990. Surat Keputusan Menteri Kesehatan

No.245/Menkes/SK/V/1990 Tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Priyambodo, Bambang. 2007. Manajemen Farmasi Industri. Yogyakarta: Global Pustaka Utama.

PT Bintang Toedjoe. 2011. Product Business Partner. Jakarta: Bintang Toedjoe. Departemen Kesehatan RI. 1992. Undang-undang No.23 tahun 1992 tentang

Lampiran. 1. Struktur Organisasi PT Bintang Toedjoe

President Director

Managing Director Management System

Lampiran 2. Struktur Organisasi Departemen PPIC PT Bintang Toedjoe

Senior Logistic Manager

PPIC Manager

PPIC Supervisor

PPIC Staff

Warehouse Superintendent

Warehouse Supervisor FG Warehouse Supervisor RM-PM Warehouse Supervisor Finished Goods

Lampiran 3. Struktur Organisasi Departemen RnD PT Bintang Toedjoe

RnD Head

Formulation

Development Manager Packaging Development Manager

Analytical Development Manager Formulation Development Supervisor Staff Packaging Development Supervisor Staff Analytical Development Supervisor Staff

Lampiran 4. Struktur Organisasi Departemen Purchasing PT Bintang Toedjoe

Manufacturing Director

Procurrenment Head

Purchasing Manager

(General item & sparepart) Purchasing Manager (RM-PM) Purchasing Manager (outdoor & material)

Purchasing Officer

Senior Purchasing Staff

Purchasing Officer

Admin RM-PM

Lampiran 5. Struktur Organisasi Departemen Production PT Bintang Toedjoe

Production Head

Administrasi

Production Manager Line

Powder Production Manager Effervescent & OT Production Manager Line Liquid

Production Supervisor

Production Superintendent Production Supervisor

Lampiran 6. Struktur Organisasi Departemen QA-QC PT Bintang Toedjoe

QA-QC Head

Administration

QA Manager QC Manager Validating Manager

QA Supervisor QA Supervisor QC Supervisor QC Supervisor Cleaning Supervisor Process Validation Supervisor Calibration & Qualification Supervisor Premises Validating Supervisor

Lampiran 7. Struktur Organisasi Departemen Engineering PT Bintang Toedjoe

Engineering Manager

Workshop Supervisor Maintenance

Superintendent Sparepart Supervisor Senior Teknisi Workshop

Teknisi Workshop

Utility Supervisor Maintenance

Supervisor

Utility Team Leader

Teknisi Utility

Petugas Gudang

Senior Teknisi Building Maintenance

Environment Supervisor Building Maintenance

Supervisor

Senior Teknisi Maintenance Teknisi Supervisor

Lampiran 8. Struktur Organisasi Departemen Quality System PT Bintang Toedjoe

QS Head

QS Officer QS Manager QS Sistem Eksekutif

QS Staff Safety Staff

Paramedis Environmental Staff

UNIVERSITAS INDONESIA

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

DI PT BINTANG TOEDJOE

PERIODE 5 SEPTEMBER – 4 NOPEMBER 2011

KALIBRASI DAN KUALIFIKASI

ANDI NURWINDA, S.Si. 1006835085

ANGKATAN LXXIII

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER - DEPARTEMEN FARMASI

DEPOK OKTOBER 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peranan mutu dalam persaingan dunia bisnis makin penting, khususnya setelah terbentuk pasar global. Perusahaan yang menghasilkan suatu produk yang baik, sistem mutunya harus sesuai dengan persyaratan standar baik secara nasional maupun internasional.

Untuk memenuhi persyaratan tersebut, semua peralatan yang menunjang terhadap produk harus terkontrol baik ketepatan dan ketelitiannya, untuk menjamin hal tersebut maka perlu dilakukan kalibrasi dan kualifikasi pada peralatan dan mesin yang dimiliki.

Dengan demikian setiap perusahaan/instansi sebaiknya memiliki tenaga terampil yang menguasai manajemen peralatan serta terampil melakukan kalibrasi dan kualifikasi pada periode waktu tertentu sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

1.2 Tujuan

Pelaksanaan tugas khusus ini memiliki tujuan yaitu

a. Mengetahui dan memahami kalibrasi peralatan di industri farmasi; b. Mengetahui dan memahami kualifikasi di industri farmasi.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kalibrasi

Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional untuk satuan ukuran dan/atau internasional (Konsep umum pengukuran dan kalibrasi, 2009). Tujuan dilakukannya kalibrasi yaitu menentukan deviasi atau penyimpangan nilai penunjukkan suatu instrumen ukur dan menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar nasional maupun internasional (Konsep umum pengukuran dan kalibrasi, 2009). Manfaat yang didapatkan dari kegiatan kalibrasi adalah dapat menjaga kondisi instrumen ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan spesifikasinya atau dengan kata lain menjamin bahwa alat yang digunakan untuk operasional selalu memenuhi syarat.

Persyaratan kalibrasi meliputi ruangan kalibrasi (RH dan suhu terkontrol serta pengukuran terkondisi), standard tertelusur (sertifikat standard), prosedur kalibrasi dan kompetensi dalam kalibrasi alat (Konsep umum pengukuran dan kalibrasi, 2009).

Kalibrasi dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Kalibrasi internal merupakan kalibrasi yang dilakukan oleh pihak industri farmasi itu sendiri yang tercakup dalam departemen QA (Quality Assurance). Sedangkan kalibrasi eksternal dilakukan oleh pihak atau instansi luar yang terkait dan telah terstandarisasi.

Institusi kalibrasi yaitu lembaga atau badan yang mengkalibrasi meliputi institusi kalibrasi eksternal (memenuhi persyaratan BSN/Badan Standarisasi Nasional, sertifikat akreditasi oleh KAN/Komite Akreditasi Nasional) dan institusi kalibrasi internal (punya standard yang traceable, tekhnisi yang kompeten dan prosedur kalibrasi) (Konsep umum pengukuran dan kalibrasi, 2009).

Prosedur kalibrasi meliputi cara pengukuran, identitas standard dan alat uji, cara penanganan kondisi pengukuran dan standard, parameter ukur dan metode analisa data kalibrasi, interval kalibrasi dan spesifikasi persyaratan (Konsep umum pengukuran dan kalibrasi, 2009).

Hasil kalibrasi dituangkan dalam laporan/sertifikat kalibrasi yang minimal meliputi identitas alat, standard, teknisi, waktu kalibrasi, data hasil pengukuran, analisa sifat-sifat metrology, faktor koreksi dan kesimpulan uji (Konsep umum pengukuran dan kalibrasi, 2009).

2.2. Kualifikasi

Kualifikasi terdiri dari empat tingkatan, yaitu:

a. Kualifikasi Desain/ Design Qualification (DQ) (CPOB, 2006)

Kualifikasi desain merupakan proses mengkaji desain (design review) yang didokumentasi untuk meyakinkan bahwa seluruh aspek mutu telah dipertimbangkan dan dikaji pada tahap perencanaan. Dilakukan untuk alat/sistem baru yang merujuk pada URS (user requirements), regulasi pemerintah, persyaratan mutu produk serta keamanan terhadap lingkungan dan kebutuhan perusahaan.

Urutan kualifikasi desain meliputi pada saat penerimaan, dilakukan pengkajian terhadap peralatan dan dokumen penyerta yang harus sesuai dengan spesifikasi dan dokumen yang disetujui dan hasilnya didokumentasikan.

b. Kualifikasi Instalasi/ Instalation Qualification (IQ) (CPOB, 2006)

Kualifikasi instalasi merupakan bukti terdokumentasi berupa test bahwa alat atau sistem yang dipakai pada manufacturing process terpasang secara benar sesuai dengan spesifikasinya.

Kualifikasi instalasi terdiri dari persyaratan infrastructure dan aktifitas instalasi sesuai dengan design, pemeriksaan instalasi dari alat, perpipaan, instrument yang disesuaikan dengan spesifikasi, kalibrasi measuring device dan hasilnya didokumentasikan.

c. Kualifikasi Operasional/ Operational Qualification (OQ) (CPOB, 2006)

Kualifikasi operasional merupakan verifikasi yang terdokumentasi bahwa sistem atau subsistem beroperasi pada operating range yang diharapkan. Kualifikasi operasional mencakup pemeriksaan parameter operasi dan fungsi yang berefek pada proses dan produk, pemeriksaan berdasarkan kriteria penerimaan dan dokumentasikan hasil.

Kualifikasi operasional dilakukan setelah kualifikasi instalasi selesai dilaksanakan, dikaji dan disetujui. Kualifikasi operasional hendaklah mencakup kalibrasi, prosedur pengoperasian dan pembersihan, pelatihan operator dan ketentuan perawatan preventif.

d. Kualifikasi Kinerja/ Performance Qualification (PQ) (CPOB, 2006)

Performance Qualification (PQ) dilakukan untuk menjamin dan mendokumentasikan bahwa sistem atau peralatan yang telah diinstalasi beroperasi sesuai dengan spesifikasi design dan menghasilkan produk yang reprodusibel sesuai dengan kualitasnya atau spesifikasi yang diinginkan.

Sasaran/ target PQ adalah memastikan sistem dan peralatan bekerja sesuai yang diharapkan dan dengan spesifikasi yang diinginkan, pada umumnya PQ awal dilakukan dengan placebo lalu dilanjutkan dengan produk obat pada kondisi normal, dan dilakukan 3 kali berurutan.

BAB 3 METODE KERJA

3.1 Kalibrasi

Salah satu jenis kalibrasi yang akan dibahas adalah kalibrasi pressure gauge. Mekanisme kerja kalibrasi pressure gauge sebagai berikut :

 Catat suhu dan RH ruangan pada saat kalibrasi. 1) Persiapan Kalibrator

Koneksikan Pressure Reference pada bagian “Connector Reference Gauge” dari Pneumatic Hand Pressure Pump.

2) Perubahan Nilai Satuan Pada Pressure Reference Type L

- Tekan tombol “SELECT” untuk menyalakan Pressure Reference Type L. - Tekan tombol “SELECT” sebanyak 3 (tiga) kali hingga muncul tulisan

“MANO” pada bagian bawah layar Pressure Reference Type L kemudian “ENTER”.

- Kemudian tekan-tekan tombol “SELECT” hingga di dapat satuan yang diinginkan misalnya bar, mbar, hPa, kPa, MPa, PSI, Kp/cm² = Kg/cm², cmH2O, mH2O, inH2O, ftH2O, mmHg, inHg.

- Kemudian tekan tombol “ENTER” maka satuan akan berubah sesuai dengan apa yang di inginkan.

3) Menzerokan Nilai Skala Pada Pressure Reference Type L

- Tekan tombol “SELECT” untuk menyalakan Pressure Reference Type L. - Tekan tombol “SELECT” sebanyak 3 (tiga) kali hingga muncul tulisan

“MANO” pada bagian bawah layar Pressure Reference Type L kemudian “ENTER”.

- Kemudian pada bagian bawah layar Pressure Reference Type L akan muncul tulisan “ZERO”.

- Kemudian tekan tombol “ENTER” maka nilai skala akan berubah menjadi 0 (nol)

4) Mereset Satuan Tertinggi Yang Pernah Dicapai Pada Pressure Reference Type L

- Tekan tombol “SELECT” sebanyak 1 (satu) kali hingga muncul tulisan “RESET” pada bagian bawah layar Pressure Reference Type L kemudian “ENTER”.

- Maka nilai skala yang bertuliskam “MAX” akan berubah menjadi 0 (nol) 5) Pemeriksaan dan kalibrasi Pressure Reference Type L

 Pemeriksaan Fisik

- Periksa pembacaan jarum penunjuk tekanan harus menunjukkan angka nol atau batas bawah minimum standar.

- Pointer harus terpasang.

- Pastikan window/glass tidak ada keretakan/rusak/pecah. - Pastikan casing tidak ada keretakan/kerusakan.

- Pastikan media pada gauge dan koneksinya tidak ada kebocoran.

- Pastikan tidak terjadi perubahan warna pada isi liquid-filled gauge yang akan menyulitkan pembacaan.

Pemeriksaan zero shift dan span shift - Pastikan zero shift tidak lebih dari 25% - Pastikan span shift tidak lebih dari 10%

 Kalibrasi menyeluruh

- Dilakukan pengujian dengan jumlah titik uji (naik – turun) berdasarkan jangkauan pengukuran sensor dengan span batas minimum – batas maksimum. Dilakukan tiga kali replikasi terhadap uji ini.

3.2 Kualifikasi

Salah satu jenis kualifikasi yang akan dibahas adalah kualifikasi operasional super mixer.

Super mixer adalah mesin yang digunakan untuk membentuk suatu fasa homogen dengan ukuran granul tertentu dari campuran padatan. Kualifikasi ini bertujuan untuk menetapkan operasional mesin. Pemeriksaan yang dilakukan mencakup RPM Agitator dan Timer.

Berikut adalah prosedur pemeriksaan untuk masing-masing parameter. 1. Agitator

- Putar switch MCB pada posisi ON - Putar switch source pada posisi ON - Putar switch top lid pada posisi Open

- Tempelkan sticker tachometer pada salah satu pisau agitator - Tekan top lid safety switch

- Tekan tombol agitator pada kecepatan Low Speed - Ukur RPM Agitator minimal tiga kali

- Tekan tombol agitator OFF

- Tekan tombol agitator pada kecepatan High Speed - Ukur RPM Agitator minimal tiga kali

- Tekan tombol agitator OFF 2. Timer

- Set waktu operasional mesin menjadi 3 (tiga) menit - Jalankan mesin sesuai petunjuk operasional

- Pada saat yang bersamaan jalankan stopwatch

- Tepat saat waktu operasional mesin habis dan mesin mati, hentikan pengukuran waktu oleh stopwatch

- Catat waktu yang tercantum pada display dan yang terukur oleh stopwatch - Ulangi tiga kali dan hitung selisih waktu yang terukur terhadap waktu yang

tercantum pada display.

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kalibrasi Pressure Gauge

Kriteria penerimaan yang dipersyaratkan pada kalibrasi pressure gauge adalah syarat penyimpangan yang diperbolehkan ≤ ±0,5.

Tabel hasil pengukuran kalibrasi pressure gauge sebagai berikut :

Pengukuran 1 Increasing (Naik) Decreasing (Turun)

Titik Uji 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

Standar * 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Pembacaan * 0.97 1.96 2.89 3.95 4.93 3.92 2.91 1.94 0.98 0.00 Penyimpangan +0.03 +0.04 +0.11 +0.05 +0.07 +0.08 +0.09 +0.06 +0.02 0.00

Pengukuran 2 Increasing (Naik) Decreasing (Turun)

Titik Uji 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

Standar * 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Pembacaan * 0.95 1.95 2.91 3.93 4.96 3.91 2.93 1.96 0.96 0.00 Penyimpangan +0.05 +0.05 +0.09 +0.07 +0.04 +0.09 +0.07 +0.04 +0.04 0.00

Pengukuran 3 Increasing (Naik) Decreasing (Turun)

Titik Uji 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

Standar * 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 Pembacaan * 0.94 1.97 2.92 3.92 4.91 3.94 2.92 1.97 0.95 0.00 Penyimpangan +0.06 +0.03 +0.08 +0.08 +0.09 +0.06 +0.08 +0.03 +0.05 0.00 *satuan yang digunakan : bar

Kriteria penerimaan penyimpangan yang diperbolehkan dalam kalibrasi pressure gauge adalah ≤ ±0,5. Dari hasil ketiga pengukuran kalibrasi pressure gauge didapatkan hasil penyimpangan yang memenuhi kriteria yang diperbolehkan yaitu ≤ ±0,5, ini berarti pressure gauge tersebut memenuhi syarat kalibrasi.

4.2 Kualifikasi Operasional Mesin Super Mixer

Kriteria penerimaan RPM agitator pada kualifikasi operasional super mixer adalah untuk RPM agitator pada high speed yaitu 520 dan pada low speed yaitu 348.

Berikut adalah hasil pemeriksaan : - RPM Agitator

Keterangan High Speed Low Speed

Pengukuran 1 516 344

Pengukuran 2 516 344

Pengukuran 3 516 344

Rata-rata 516 344

Spesifikasi 520 348

Kriteria penerimaan uji kesesuaian timer pada kualifikasi operasional super mixer adalah selisih maksimal antara pengukuran dengan setting tidak boleh lebih dari 3%.

Berikut adalah hasil pemeriksaan : - Uji kesesuaian timer

Timer setting (menit) Timer terukur Selisih waktu (detik) Kesimpulan 3

(selisih max. 5.4 detik)

2' 59'' 18 3' 00'' 21 3' 00'' 46 0.82 0.21 0.46 Memenuhi Syarat Rata-rata 0.50 5

(selisih max. 9.0 detik)

4' 58'' 39 5' 01'' 11 5' 00'' 77 1.61 1.11 0.77 Memenuhi Syarat Rata-rata 1.16 10

(selisih max. 18 detik)

10' 00'' 60 9' 58'' 63 10' 01'' 07 0.60 1.63 1.07 Memenuhi Syarat Rata-rata 1.10

Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ada perbedaan significant antara nilai RPM terukur terhadap spesifikasi yang ditetapkan. Selisih pengukuran setting timer terhadap stopwatch tidak lebih besar dari 3%. Mesin dinyatakan memenuhi syarat kualifikasi operasional.

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

a. Tujuan dilakukannya kalibrasi peralatan adalah menentukan deviasi atau penyimpangan nilai penunjukkan suatu instrumen ukur dan menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar nasional maupun internasional.

b. Tujuan dilakukannya kualifikasi adalah menjamin fasilitas, sistem dan peralatan untuk menghasilkan proses validasi yang sah.

4.2 Saran

Departemen QA kalibrasi dan kualifikasi PT. Bintang Toedjoe harus terus senantiasa mempertahankan dan meningkatkan upaya yang telah dilakukan dalam memastikan peralatan dan mesin sesuai dengan spesifikasinya.

DAFTAR ACUAN

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 2006. Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Jakarta: BPOM RI.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). 2009. Petunjuk Operasional Penerapan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Jakarta: BPOM RI. Sutraprawata Demi. 2009. Konsep Umum Pengukuran dan Kalibrasi. Bandung:

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 44-66)

Dokumen terkait