BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan berdasarkan kegiatan PKPA yang dilaksanakan di Apotek Kimia Farma, yaitu:
1. Melakukan koordinasi jam kerja antara APA, apoteker pendamping, dan supervisor agar setiap pelaksanaan pekerjaan kefarmasian yang dilakukan di apotek sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian.
2. Melakukan edukasi untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pelaksanaan kegiatan kefarmasian yang sesuai dengan SOP (Standar Operasional Prosedur) kepada tenaga teknis kefarmasian di apotek.
3. Interaksi antara apoteker dengan pasien selaku pengguna jasa apotek harus lebih diintensifkan dengan meningkatkan peran aktif apoteker melalui komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai obat ke pasien dalam rangka menjamin efektifitas penggunaan obat.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Pedoman Penggunaan Obat
Bebas dan Bebas Terbatas. Jakarta: Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan
Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2002). Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 1332/MenKes/SK/X/2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.922/MenKes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1999). Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 1176/Menkes/SK/X/1999 tentang Daftar Obat Wajib Apotek No. 3. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1993). Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 922/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1993). Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 924/Menkes/Per/X/1993 tentang Daftar Obat Wajib Apotik No. 2. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1990). Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 347/Menkes/SKA/ll/1990 tentang Obat Wajib Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1980). Peraturan Menteri Kesehatan
No.26 Tahun 1965 tentang Apotek. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1978). Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 28/Menkes/Per/1978 tentang Penyimpanan Narkotika. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2010). Review Penerapan Sistem Pelaporan Narkotika dan Psikotropika (SIPNAP) dan Sistem Pelaporan Dinamika Obat PBF
Regional I, II dan III Tahun 2010.
http://binfar.depkes.go.id/index.php/berita/view/178. [Diakses 22 Maret 2012, Pukul 23.15]
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia No. 889/MENKES/PER/V/2011 tentang Registrasi, Izin Praktik, dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kimia Farma Apotek. (2010). Daftar Apotek Jabodetabek. http://www.kimiafarmaapotek.com/index.php?option=com_content&view=s ection&id=17&Itemid=107. [Diakses 23 Maret 2012, Pukul 22:10]
Pemerintah Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta:
Pemerintah Republik Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Jakarta: Pemerintah Republik
Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta: Pemerintah Republik
Indonesia.
Pemerintah Republik Indonesia. (1997). Undang Undang Nomor 5 Tahun 1997
tentang Psikotropika. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Tim Penyelenggara dan Instruktur PKPA PT. Kimia Farma Apotek. (2012).
Lampiran 1.
Lampiran 2.
Lampiran 3.
Lampiran 4.
Lampiran 9.
Lampiran 10. Contoh etiket
Lampiran 11. Contoh label
Lampiran 12. Contoh kartu stok
Lampiran 13. Contoh lembar salinan resep
UNIVERSITAS INDONESIA
ANALISIS PERENCANAAN PENGADAAN OBAT ANTIDIABETIK ORAL SECARA PARETO (ABC) DI APOTEK KIMIA FARMA
NO. 47 BERDASARKAN RESEP YANG DITERIMA SELAMA PERIODE DESEMBER 2011-FEBRUARI 2012
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
FIKA ASTRIYANI, S. Farm.
1106046894
ANGKATAN LXXIV
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM PROFESI APOTEKER โ DEPARTEMEN FARMASI
DEPOK JUNI 2012
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... iii DAFTAR GAMBAR ... iv DAFTAR LAMPIRAN ... v BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Tujuan... 2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA... 3
2.1. Pengadaan dan Pengendalian Persediaan ... ... 3 2.2. Analisis Pareto ... ... 8 2.3. Obat Antidiabetik Oral ... 10
BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN... 14 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 16
4.1. Hasil ... 16 4.2. Pembahasan ... 16
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 22
5.1. Kesimpulan ... 22 5.2. Saran ... 22
DAFTAR REFERENSI ... 23 LAMPIRAN ... 24
iii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Persentase Volume Rupiah dan Item Total Kelompok Pareto ... 9 Tabel 4.1 Pengelompokan Produk Obat-Obat Antidiabetik Oral dengan
Analisis Pareto (ABC) Berdasarkan Nilai Investasi Periode Desember 2011-Februari 2012 ... 16
DAFTAR GAMBAR
Halaman
v
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Persentase Nilai Investasi Tiap Item Obat Antidiabetik Oral di Apotek Kimia Farma No. 47, Radio Dalam Periode Desember 2011 - Februari 2012 ... 24 Lampiran 2. Data Analisis Pareto terhadap Produk Obat Antidiabetik Oral
di Apotek Kimia Farma No. 47, Radio Dalam Periode Desember 2011 - Februari 2012 ... 25
1.1 Latar Belakang
Pelayanan farmasi di apotek merupakan salah satu kegiatan yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Salah satu pelayanan kesehatan dibidang farmasi adalah tersedianya obat-obat yang dibutuhkan. Apotek bertanggung jawab terhadap pengadaan obat, baik obat bebas maupun obat keras. Kegiatan perencanaan pengadaan obat bertujuan untuk menetapkan jenis, jumlah, dan mutu obat yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta dapat diperoleh pada saat diperlukan. Perencanaan pengadaan adalah faktor kunci sebuah apotek karena dapat meningkatkan cash flow dan meningkatkan pelayanan kepada konsumen.
Penyediaan obat pada sarana pelayanan kesehatan, tidak terkecuali apotek, membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan butuh perencanaan yang sangat matang. Jika perencanaan tidak sesuai dengan kebutuhan akan terjadi pemborosan biaya, menumpuknya obat kadaluarsa, pelayanan kesehatan yang kurang efektif dan efisien, serta memicu terjadinya penyimpangan penggunaan obat. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelolaan obat yang baik agar dapat meminimalkan risiko kerugian dan pelayanan kesehatan yang tidak efektif. Pengelolaan obat ini tidaklah mudah karena harus selalu berjalan seimbang dan berkesinambungan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Di samping itu, hal terpenting yang juga harus diperhatikan dalam hal ketersediaan obat ialah harus tepat jenis dan jumlahnya harus sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan pada pelayanan kesehatan (Departemen Kesehatan RI, 2002).
Salah satu metode pengendalian persediaan yang dapat dilakukan ialah dengan menggunakan metode Pareto (ABC). Metode ini dilakukan dengan menyesuaikan rencana pengadaan obat dengan jumlah dana yang tersedia, sehingga skala prioritas obat dan jumlah obat yang akan dibeli dapat dioptimalkan untuk menjamin ketersediaan obat yang bermutu tinggi, tepat jenis, tepat jumlah, dan tepat waktu untuk dapat digunakan secara rasional. Penggunaan metode Pareto (ABC) untuk penyediaan obat dimaksudkan untuk memprioritaskan
Universitas Indonesia perencanaan pembelian obat yang sering digunakan dan biasanya jenisnya sedikit akan tetapi mempunyai biaya investasi yang besar. Selain itu, tanpa memperhatikan harga perlu juga dipertimbangkan pengendalian obat-obat yang paling banyak dikonsumsi masyarakat agar pelayanan kesehatan tetap dapat berjalan optimal. Pengendalian persediaan dengan metode Pareto (ABC) diharapkan dapat membantu mengetahui obat-obat mana saja yang menjadi prioritas untuk disediakan, baik dari segi nilai investasinya maupun tingkat kebutuhannya di masyarakat. Dengan demikian, ketersediaan obat di apotek dapat memberikan manfaat yang nyata dalam mendukung pembangunan kesehatan masyarakat.
Melihat pentingnya peranan apoteker dalam pengendalian persediaan apotek, maka calon apoteker perlu dibekali dengan pengetahuan, pemahaman, dan aplikasinya dalam menjalankan peran profesinya tersebut di apotek. Oleh karena itu, pada Praktek Kerja Profesi Apoteker (PKPA) ini diberi tugas khusus untuk melakukan analisis perencanaan pengadaan dengan menggunakan metode Pareto (ABC).
1.2 Tujuan
Penyusunan tugas khusus PKPA ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan perbekalan farmasi di Apotek Kimia Farma No. 47, Radio Dalam dengan menggunakan analisis Pareto (ABC) terhadap obat-obat antidiabetik oral yang terjual melalui resep dokter pada periode bulan Desember 2011 sampai Februari 2012.
2.1 Pengadaan dan Pengendalian Persediaan
2.1.1 Pengadaan
Pengadaan barang dalam rutinitas sehari-hari biasa disebut sebagai pembelian. Proses pengadaan yang efektif merupakan faktor yang sangat menentukan dalam menjamin ketersediaan obat yang diperlukan dalam jumlah yang sesuai, harga yang rasional, dan dengan kualitas yang memenuhi standar mutu. Oleh karena itu, pengadaan perbekalan farmasi harus dapat diterapkan sebaik mungkin sehingga pengendalian, keamanan, dan jaminan mutu obat dalam meningkatkan pelayanan kepada pasien dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Hal ini penting agar pasien merasa terpuaskan dengan pelayanan yang dilakukan.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengadaan barang, antara lain:
a. Kondisi keuangan
Kondisi keuangan akan menentukan besarnya jumlah pembelian barang dan cara pembelian barang (secara kontan atau kredit atau cara lainnya).
b. Waktu pembelian
Waktu pembelian merupakan waktu saat suatu barang harus dibeli. Hal ini bukan mengenai tanggal, hari atau bulan tetapi mengenai keadaan persediaan barang yang menjadi kunci untuk menetapkan waktu pembelian. Waktu pembelian dapat disebut juga dengan titik pemesanan kembali.
c. Lokasi
Yang dimaksud dengan lokasi adalah jarak antara apotek dengan pemasok/ PBF. Semakin jauh jarak apotek dengan pemasok akan menyebabkan semakin lama waktu yang dibutuhkan, mulai dari barang dipesan sampai dengan barang pesanan datang semakin besar. Oleh karena itu, perlu menetapkan persediaan pengaman agar jangan sampai barang habis sebelum barang pesanan datang. Hal ini sangat menentukan terutama untuk apotek yang berada di kawasan terpencil yang tidak ada PBF.
Universitas Indonesia d. Jenis barang yang akan dibeli
Jenis barang yang akan dibeli didasarkan atas kebutuhan persediaan barang di apotek, kecepatan perputaran barang pada penjualan sebelumnya, kebutuhan konsumen, dan perkiraan permintaan dalam waktu dekat. Data obat
ethical dapat diperkirakan dari resep yang masuk di apotek, sedangkan data obat
OTC dapat diperkirakan dari kondisi lingkungan dan penduduk sekitar apotek, musim, dan obat-obat yang diiklankan di media massa.
e. Frekuensi dan volume pembelian
Semakin kecil volume barang yang dibeli pada saat pembelian maka semakin tinggi frekuensi dalam melakukan pembelian. Sebaliknya apabila volume pembelian barang besar, frekuensi pembelian menjadi rendah. Frekuensi pembelian yang tinggi menyebabkan kegiatan menerima, memeriksa, dan memesan barang akan meningkat.
f. Pemilihan pemasok/PBF
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan pemasok diantaranya spesifikasi dan kondisi kualitas barang, harga yang kompetitif, pelayanan dan kinerja yang baik, kemudahan komunikasi, cara pembayaran (secara kontan atau kredit), kebijakan pengembalian, dan kondisi perusahaan pemasok dengan memastikan bahwa PBF adalah agen resmi agar dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti pemalsuan barang.
2.1.2 Pengendalian Persediaan
Persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk proses produksi suatu obat atau penyediaan dalam perbekalan pengobatan. Persediaan dapat berupa bahan obat, sediaan obat jadi, atau alat-alat kesehatan. Pengendalian persediaan perlu dilakukan secara optimal di setiap sarana kesehatan, termasuk apotek. Hal ini menjadi penting karena pengendalian persediaan yang baik juga akan menunjang upaya pelayanan kesehatan masyarakat yang optimal.
Beberapa fungsi dari pengendalian persediaan diantaranya (Quick, 1997): a. Menghilangkan risiko akibat keterlambatan pengiriman obat atau bahan baku
b. Menghilangkan risiko terhadap kemungkinan kenaikan harga atau inflasi. c. Memberikan kontribusi optimum kepada apotek dalam rangka memberikan
pelayanan yang terbaik bagi pasien atau konsumen. d. Mengurangi biaya pengadaan.
e. Menghilangkan risiko kekosongan persediaan ketika terjadi pengembalian barang yang dipesan karena mutu barang yang kurang baik atau jenis produk yang dipesan tidak sesuai.
Dalam melakukan pengendalian persediaan, perlu diperhatikan parameter-parameter yang saling berkaitan antara lain (Quick, 1997):
a. Konsumsi Rata-Rata
Konsumsi rata-rata sering juga disebut permintaan (demand). Permintaan yang diharapkan pada pemesanan selanjutnya merupakan variabel kunci yang menentukan berapa banyak stok barang yang harus dipesan. Walaupun banyaknya permintaan dapat diprediksi, kemungkinan adanya kehabisan atau kekosongan barang dapat terjadi apabila salah memperkirakan waktu tunggu barang tersebut. b. Waktu Tunggu (Lead Time)
Waktu tunggu merupakan waktu yang dibutuhkan mulai dari pemesanan sampai dengan barang yang dipesan datang/diterima. Waktu tunggu ini berbeda-beda untuk setiap pemasok. Waktu tunggu seringkali menjadi parameter yang tidak pasti, karena pada dasarnya faktor keterlambatan adalah sesuatu yang tidak bisa diduga. Kita bisa memperhitungkan waktu tunggu dengan rumus:
DDe = DDp + (OD x %OD) (2.1)
dimana,
DDe = Waktu tunggu yang sebenarnya.
DDp = Waktu tunggu yang dijanjikan pemasok. OD = Rata-rata keterlambatan.
% OD = Persentase keterlambatan. c. Stok Pengaman (Safety Stock)
Stok pengaman merupakan persediaan yang dicadangkan untuk memenuhi kebutuhan selama menunggu barang datang, untuk mengantisipasi keterlambatan barang pesanan atau untuk menghadapi suatu keadaan tertentu yang diakibatkan karena perubahan pada permintaan, misalnya karena adanya permintaan barang
Universitas Indonesia yang meningkat secara tiba-tiba karena adanya wabah penyakit. Stok pengaman dapat dihitung dengan rumus:
SS = LT x CA (2.2) dimana, SS = Stok pengaman LT = Waktu tunggu CA = Konsumsi rata-rata d. Persediaan Maksimum
Persediaan maksimum merupakan jumlah persediaan terbesar yang boleh tersedia. Jika kita telah mencapai nilai persediaan maksimum, kita tidak perlu lagi melakukan pemesanan untuk menghindari terjadinya stok mati yang dapat menyebabkan kerugian. Persediaan maksimum dapat dihitung dengan rumus:
Smax = Smin + (PP x CA) (2.3)
dimana,
PP = Perputaran persediaan (preocurement period) Smax = Persediaan maksimum
Smin = Persediaan minimum e. Persediaan Minimum
Persediaan minimum merupakan jumlah persediaan terendah yang masih tersedia. Apabila penjualan telah mencapai nilai persediaan minimum, pemesanan sebaiknya segera dilakukan agar kontinuitas usaha dapat berlanjut. Jika barang yang tersedia jumlahnya sudah kurang dari jumlah persediaan minimum maka dapat terjadi stok kosong. Persediaan minimum dapat dihitung dengan rumus:
Smin = (LT x CA) + SS (2.4)
f. Perputaran persediaan
Perputaran persediaan dapat dihitung dengan persamaan: ๐๐+๐โ๐๐ ๐๐ atau ๐๐๐๐๐ข๐๐๐๐ ๐ ๐๐ก๐ โ๐๐๐ก๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ (2.5) dimana, So = Persediaan awal P = Jumlah pembelian Sn = Persediaan akhir
SR = Rata-rata persediaan
g. Titik Pemesanan (Reorder Point)
Titik pemesanan merupakan suatu titik di mana harus diadakan pemesanan kembali sehingga kedatangan atau penerimaan barang yang dipesan adalah tepat waktu, di mana persediaan di atas persediaan pengaman sama dengan nol. Pada keadaan khusus, dapat dilakukan pemesanan langsung tanpa harus menunggu hari pembelian yang telah ditentukan bersama antara apotek dan pemasok.
ROP = SS + LT (2.6)
dimana,
ROP = Titik pemesanan
Berbagai parameter pengendalian persediaan tersebut saling berkesinambungan satu sama lain untuk dapat menjamin ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan. Jika produk berada dalam kuantitas persediaan rata-rata, kebutuhan permintaan produk oleh konsumen akan terpenuhi. Jika tingkat persediaan sudah semakin menurun dan berada dalam level persediaan minimum, diperlukan pemesanan kembali terhadap produk tersebut. Pemesanan kembali harus memperhitungkan waktu tunggu kedatangan obat agar tidak terjadi kekosongan persediaan obat ketika menunggu obat yang dipesan datang. Saat obat yang dipesan datang (Qo), maka tingkat persediaan meningkat kembali pada level persediaan maksimum SS+Qo. Dengan berjalannya waktu, persediaan akan kembali turun dan perlu dilakukan pemesanan kembali, dan begitu seterusnya. Siklus ini akan terus berputar untuk menjamin ketersediaan obat. Model siklus pengendalian persediaan obat yang ideal dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Pengelolaan persediaan di apotek yang memiliki banyak item obat memerlukan teknik pengelolaan yang tidak mudah. Untuk itu perlu dilakukan strategi terhadap item obat yang banyak dengan variasi harga dan tingkat keperluan serta pemakaian dalam pengelolaan persediaan yang efektif dan efisien. Metode pengendalian persediaan dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya sebagai berikut:
1. Analisis VEN.
Universitas Indonesia 3. Analisis Kombinasi VEN-ABC.
[Quick, 1997]
Gambar 2.1. Grafik yang menunjukkan persediaan obat di apotek
2.2 Analisis Pareto (ABC) (Quick, 1997)
Analisa Pareto menggunakan klasifikasi ABC dimana membagi persediaan berdasarkan atas nilai mata uang sehingga pengendalian persediaan barang difokuskan pada item persediaan yang bernilai tinggi daripada yang bernilai rendah. Nilai persediaan yang dimaksud adalah volume persediaan yang dibutuhkan dalam satu periode dikalikan harga per unit. Vilfredo Pareto membagi kelompok barang yang disimpan oleh sistem persediaan menjadi tiga, yaitu: a. Kelompok A
Persediaan yang memiliki volume rupiah yang tinggi. Kelompok ini mewakili sekitar 70-80% dari total nilai persediaan, meskipun jumlahnya hanya sekitar 10-20% dari seluruh produk yang ada.
b. Kelompok B
Persediaan yang memiliki volume rupiah yang menengah. Kelas ini mewakili sekitar 15-20% dari total nilai persediaan, meskipun jumlahnya hanya sekitar 10-20% dari seluruh produk yang ada.
c. Kelompok C
Persediaan yang memiliki volume rupiah yang rendah. Kelompok ini mewakili sekitar 5-10% dari total nilai persediaan, tapi jumlahnya lebih dari 60-80% dari seluruh produk yang ada.
Persentase volume rupiah dan item total kelompok Pareto selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Persentase volume rupiah dan item total kelompok pareto Kelompok % dari Volume Rupiah Total % dari Item Total Barang
A 70-80 10-20
B 15-20 10-20
C 5-10 60-80
[Quick, 1997]
Analisis Pareto dapat diaplikasikan dalam beberapa proses pengelolaan obat di apotek, meliputi:
a. Pemilihan Obat
Analisis Pareto membantu dalam mengidentifikasi pemilihan item obat yang perlu disediakan untuk memenuhi kebutuhan apotek. Misalnya, beberapa
item obat kelompok A membutuhkan biaya pengadaan yang cukup tinggi, jika
pemilihan obat yang diperlukan tidak tepat, akan mengakibatkan biaya penyimpanan obat menjadi tinggi.
b. Pengadaan Obat
Analisis Pareto pada proses pengadaan sangat berguna dalam menentukan beberapa hal, diantaranya frekuensi pemesanan, menentukan rata-rata pemesanan untuk stok pengaman, jumlah pemesanan, beban pengadaan, dan pencarian PBF untuk item obat kelompok A. Proses pengadaan sebaiknya cenderung untuk memilih PBF yang memberikan harga lebih murah atau potongan harga yang lebih besar, terutama untuk item obat kelompok A, karena dengan mencari sumber yang lebih murah akan mengurangi biaya untuk item obat kelompok A. Selain itu, analisis Pareto juga dapat digunakan untuk memantau status pemesanan, terutama
Universitas Indonesia untuk item obat kelompok A karena kekurangan item obat kelompok A yang tidak terduga dapat mengakibatkan pembelian langsung dengan harga yang lebih tinggi. c. Distribusi dan Pengelolaan Persediaan
Distribusi merupakan serangkaian kegiatan dalam rangka pengeluaran dan pengiriman obat-obatan. Analisis Pareto dapat membantu dalam memantau waktu penyimpanan dan menentukan jadwal pengiriman pesanan.
d. Penggunaan
Dengan menggunakan analisis Pareto dapat diketahui jenis obat apa saja yang sering direkomendasikan oleh dokter atau sering dibutuhkan oleh konsumen.
2.3 Obat Antidiabetik Oral
Obat-obat antidiabetik oral terutama ditujukan untuk membantu penanganan pasien diabetes melitus tipe 2. Pemilihan obat hipoglikemik oral yang tepat sangat menentukan keberhasilan terapi diabetes. Pemilihan dan penentuan rejimen yang digunakan harus mempertimbangkan tingkat keparahan diabetes serta kondisi kesehatan pasien secara umum, termasuk penyakit-penyakit lain dan komplikasi yang ada (Departemen Kesehatan RI, 2005).
2.3.1 Golongan Sulfonilurea
Obat-obat golongan sulfonilurea bekerja dengan merangsang sekresi insulin di kelenjar pankreas. Oleh sebab itu obat golongan ini hanya efektif apabila sel-sel ฮฒ Langerhans pankreas masih dapat berproduksi (Sukandar, Andrajati, Sigit, Adnyana & Setiadi, 2008). Obat antidiabetik oral golongan sulfonilurea generasi pertama yang dipasarkan sebelum 1984 dan sekarang sudah hampir tidak dipergunakan lagi antara lain asetoheksamida, klorpropamida, tolazamida, dan tolbutamida. Yang saat ini beredar adalah obat antidiabetik oral golongan sulfonilurea generasi kedua yang dipasarkan setelah 1984, antara lain gliburida (glibenklamida), glipizida, glikazida, glimepirida, dan glikuidon. Obat-obat golongan sulfonilurea cenderung meningkatkan berat badan (Departemen Kesehatan RI, 2005).
2.3.2 Golongan Meglitinida dan Turunan Fenilalanin
Obat-obat hipoglikemik oral golongan metiglinida ini merupakan obat hipoglikemik generasi baru yang cara kerjanya mirip dengan golongan sulfonilurea. Kedua golongan senyawa hipoglikemik oral ini bekerja meningkatkan sintesis dan sekresi insulin oleh kelenjar pankreas. Obat antidiabetik golongan metiglinida dan fenilalanin terdiri dari repaglinid dan nateglinid. Repaglinid merupakan turunan asam benzoat. Obat ini mempunyai efek hipoglikemik ringan sampai sedang. Repaglinid diabsorpsi dengan cepat setelah pemberian per oral, dan diekskresi secara cepat melalui ginjal. Efek samping yang mungkin terjadi adalah keluhan saluran cerna. Contoh sediaannya adalah GlucoNormยฎ. Nateglinid merupakan turunan fenilalanin dengan cara kerja mirip dengan repaglinida. Obat ini diabsorpsi cepat setelah pemberian per oral dan diekskresi terutama melalui ginjal. Efek samping yang dapat terjadi pada penggunaan obat ini adalah keluhan infeksi saluran nafas atas (Departemen Kesehatan RI, 2005). Contoh sediaannya adalah Starlixยฎ.
2.3.3 Golongan Biguanid
Obat antidiabetik oral golongan biguanida bekerja dengan cara menghambat glukoneogenesis dan meningkatkan penggunaan glukosa di jaringan (Sukandar, Andrajati, Sigit, Adnyana & Setiadi, 2008). Senyawa-senyawa golongan biguanida tidak merangsang sekresi insulin, dan hampir tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. Satu-satunya senyawa biguanida yang masih dipakai sebagai obat antidiabetik oral saat ini adalah metformin. Metformin diindikasikan untuk pasien diabetes melitus tipe 2 yang gagal dikendalikan dengan diet dan obat golongan sulfonilurea, terutama pada pasien yang gemuk. Efek samping yang dapat terjadi pada terapi dengan metformin antara lain mual, muntah, anoreksia, diare, asidosis laktat dan gangguan penyerapan vitamin B12. Contoh sediaannya