BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
Berdasarkan pengamatan kami selama PKPA, berikut adalah beberapa saran yang dapat kami sampaikan:
a. Gudang Perbekalan Farmasi Pusat
1) MSDS yang masih menggunakan bahasa asing diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar memudahkan staf atau pegawai dalam memahami isi dari MSDS tersebut sehingga penanganan yang dilakukan terhadap bahan tersebut tepat.
2) Obat-obat yang terdapat di dalam masing-masing lemari pendingin di bbuat daftar namanya dan ditempelakn pada pintu lemari pendingin yang sesuai. Daftar tersebut juga perlu diperiksa dan diperbaharui secara berkala sehingga data yang tersedia selalu ter-update sesuai dengan persediaan yang terdapat di dalamnya.
3) Stiker high alert, sitostatika, dan LASA ditempelkan secara lebih teliti. 2) Satelit Farmasi Pusat
1) Penyusunan obat masih menumpuk ke belakang sehingga kotak obat dapat saling menghalangi, hal ini dapat menyulitkan petugas dalam mencari obat. Untuk mengatasinya dapat dilakukan penyusunan dengan menggunakan kotak obat disusun bertingkat sehingga kotak obat tidak saling menghalangi satu sama lain.
2) Verifikasi klinis untuk di satelit pusat masih terbatas dilakukan karena apoteker yang hanya terdiri dari satu orang masih terfokus dalam pelaksanaan manajemen. Verifikasi resep dan pemberian informasi obat sebagian besar dilakukan oleh Asisten Apoteker. Perlu penambahan Apoteker klinis dalam hal verifikasi resep dan pemberian informasi obat kepada pasien yang lebih komprehensif.
3) Beberapa unit kerja masih menggunakan resep manual dalam peresepan. Penggunaan resep manual memiliki kekurangan, yaitu kesalahan membaca resep dan memperlambat proses pelayanan resep. Oleh karena itu, penggunaan resep elektronik (EHR) diharapkan segera diaplikasikan
di seluruh unit kerja sehingga dapat mempercepat proses pelayanan resep.
3) Instalasi Gawat Darurat (IGD)
1) Perlu dialokasikan penambahan jumlah pekarya di satelit farmasi IGD yang tugasnya berfokus pada pemeliharaan kebersihan rak penyimpanan perbekalan farmasi di satelit.
2) Penyediaan printer etiket untuk mempercepat dan mempermudah proses
dispensing obat di satelit farmasi.
3) Penyediaan daftar keterangan cara penggunaan obat (sebelum atau sesudah makan) sebagai panduan bagi Asisten Apoteker dalam melengkapi keterangan pada etiket saat proses dispensing obat.
4) Satelit Intensive Care Unit (ICU)
1) Pengadaan pengeras suara dibutuhkan untuk memudahkan petugas agar mudah memanggil pasien.
2) Penambahan fasilitas tangga diperlukan untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja.
3) Peresepan online dan untuk memudahkan dispensing obat dan meminimalisir terjadinya medication error.
4) Penambahan Asisten Apoteker juga dibutuhkan untuk mengoptimalkan kinerja kefarmasian dan dan meminimalisir terjadinya medication error di ICU. Idealnya sekurang-kurangnya terdapat dua Asisten Apoteker untuk shif pagi, dua Asisten Apoteker untuk shift siang, dan dua Asisten Apoteker untuk shift malam.
5) Masih ada beberapa obat yang tersimpan dalam satu wadah obat. Oleh karena itu, perlu dilakukan penambahan wadah obat.
5) Ruang Rawat Inap Terpadu (Gedung A)
1) Sebaiknya informasi obat yang tertera dalam etiket juga mencantumkan cara penggunaan obat (sebelum/setelah makan) agar pasien tidak salah dalam penggunaan obat.
2) Kegiatan PIO aktif dapat dilakukan secara lebih rutin dan tidak hanya ditujukan bagi pasien dan petugas medis RSCM, tetapi juga dapat bermanfaat bagi pengunjung RSCM, misalnya pembuatan leaflet yang berisi informasi terkait penyakit HIV yang diberikan saat peringatan hari HIV sedunia.
3) Sebaiknya dibuat sistem alarm di komputer sebagai pengingat bagi perbekalan farmasi yang hampir kosong sehingga apoteker atau Asisten Apoteker dapat segera membuat defekta perbekalan farmasi tersebut. Hal ini juga berarti dapat mengurangi waktu tunggu dari permintaan perbekalan farmasi tersebut ketika dibutuhkan segera/cito.
6) Satelit Kirana
1) Depo lantai 3 tidak menggunakan kartu stok dan hanya memakai kertas catatan untuk mendokumentasi seluruh perbekalan farmasi yang keluar karena arus permintaan dan kegiatan di OK yang berjalan cepat. Untuk ke depannya, dapat dibuatkan buku khusus berisi nama perbekalan farmasi, jumlah, nama pasien, inisial nama penulis yang menyerahkan perbekalan farmasi supaya tidak tercecer dan data tidak hilang.
2) Pengambilan perbekalan farmasi dari gudang juga dimasukkan ke buku ini sebagai stok sehingga setiap kegiatan tetap dapat terdokumentasikan dengan baik.
3) Perlu adanya sosialisasi aturan minum tiap obat yang terdapat di depo farmasi lantai tersebut, khususnya obat oral karena ini terkait juga dengan pengobatan dan kesembuhan pasien
7) Sub Instalasi Produksi
1) Perlu penambahan Asisten Apoteker pada Sub Instalasi Produksi karena kurangnya tenaga Asisten Apoteker untuk melakukan proses produksi non steril sehingga beberapa proses pembuatan ada yang dilakukan oleh pekarya. Selain itu Asisten Apoteker yang ada terkadang diperbantukan ke lokasi aseptic dispensing lain yang lebih membutuhkan sehingga Asisten Apoteker yang bertugas di CMU 2 semakin berkurang. Proses
pengawasan mutu juga tidak bisa dilakukan dengan maksimal disemua proses produksi karena keterbatasan tenaga yang berkompetensi untuk itu.
2) Pada saat mengemas serbuk KCl sebaiknya digunakan kertas puyer khusus yang dapat disegel menggunakan mesin press seperti yang telah digunakan di beberapa satelit farmasi lain di RSCM agar pengemasan lebih praktis dan efisien serta menjamin keamanan serbuk dari kemungkinan tercecer saat proses pengemasan.
DAFTAR ACUAN
Presiden Republik Indonesia. (2009a). Undang-Undang No.36 tahun 2009
tentang Kesehatan.
Presiden Republik Indonesia. (2009b). Undang-Undang No.44 tahun 2009
tentang Rumah Sakit.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan RI
No. 1197/ Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. (2008). Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di
Rumah Sakit. Jakarta.
Siregar, C. (2004). Farmasi Rumah Sakit: Teori dan Penerapan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. EGC.
Presiden Republik Indonesia. (1996). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Lampiran 1.Struktur Organisasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
Direktur Utama
Direktur Medik dan Keperawatan Departemen Instalasi Farmasi UPT Direktur Pengembangan dan Pemasaran Instalasi promkes UPJM Direktur Keuangan Bagian Anggaran Bagian Perbendaharaan Bagian Akuntansi Direktur SDM dan Pendidikan Bagian Diklat Bagian SDM Bagian Hukor Instalasi Pendidikan
Direktur Umum dan Operasional
Bagian Administrasi
Bagian Aset dan Inventaris Bagian Teknik Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Instalasi Medik ULP Unit Utilitas Komite Medik,
Komite Etik, PPIRS, Komite Mutu
Lampiran 2. Struktur Organisasi Instalasi Farmasi
Kepala Instalasi Farmasi
Kepala Subinstalasi Perbekalan Farmasi
Kepala Subinstalasi Produksi
Kepala Subinstalasi Farmasi Klinis dan Pendidikan Pelatihan
Pengembangan Kepala Subinstalasi
Administrasi dan Keuangan
Lampiran 3. Struktur Organisasi Sub Instalasi Produksi
Kepala Instalasi Farmasi
Kepala Sub Instalasi Produksi
Penanggung Jawab Produksi Steril dan Non
Steril
Pelaksana Produksi Non
Steril Sediaan Injeksi Serbuk Pelaksana Repacking
Penanggung Jawab Aseptik Dispensing Pelaksana Pencampuran Obat Sitostatika Pelaksana Pencampuran Obat Suntik Pelaksana Repacking Sediaan Injeksi Cair
UNIVERSITAS INDONESIA
PEMBUATAN BUKU PEDOMAN WAKTU PENGGUNAAN
OBAT ORAL YANG BERKAITAN DENGAN MAKANAN
SESUAI FORMULARIUM RSCM TAHUN 2013
TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER
RATNA SARI DEWI, S. Si
1206198011
ANGKATAN LXXVI
FAKULTAS FARMASI
PROGRAM PROFESI APOTEKER
DEPOK
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i DAFTAR ISI ... ii DAFTAR TABEL ... iii DAFTAR LAMPIRAN ... iv BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan ... 2 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 3 2.1 Interaksi Obat dan Makanan ... 3 2.2 Mekanisme Interaksi Obat dan Makanan ... 3 2.2.1 Interaksi Makanan-Obat ... 3 2.2.2 Interaksi Obat-Makanan ... 6 BAB 3. METODE PENGKAJIAN ... 8 3.1 Waktu dan Lokasi ... 8 3.2 Metode Pengkajian ... 8 3.3 Prosedur Kerja ... 8 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 9 4.1 Hasil ... 9 4.2 Pembahasan ... 17 BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ... 20 5.1 Kesimpulan ... 20 5.2 Saran ... 20 DAFTAR ACUAN ... 21
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1. Daftar Obat yang Diminum 1 Jam Sebelum Makan atau 2 Jam Setelah Makan ... 9 Tabel 4.2. Daftar Obat yang Diminum Bersama Dengan Makanan atau
Segera Setelah Makan... 13 Tabel 4.3. Daftar Obat yang Diminum 30 Menit Sebelum Makan... 16
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Cover Buku Pedoman Waktu Penggunaan Obat Oral yang Berkaitan dengan Makanan Sesuai Formularium RSCM
Tahun 2013 ... 23 Lampiran 2. Ketentuan Umum Buku Pedoman Waktu Penggunaan Obat
Oral yang Berkaitan dengan Makanan Sesuai Formularium
RSCM Tahun 2013 ... 24 Lampiran 3. Daftar Isi Buku Pedoman Waktu Penggunaan Obat Oral yang
Berkaitan dengan Makanan Sesuai Formularium RSCM Tahun 2013 ... 25 Lampiran 4. Isi Buku Pedoman Waktu Penggunaan Obat Oral yang Berkaitan
dengan Makanan Sesuai Formularium RSCM Tahun 2013 ... 26 Lampiran 5. Daftar Acuan Buku Pedoman Waktu Penggunaan Obat Oral yang
Berkaitan dengan Makanan Sesuai Formularium RSCM Tahun 2013 ... 39
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obat merupakan salah satu komponen penting yang tidak dapat dipisahkan dalam pelayanan kesehatan. Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan peningkatan kesehatan (Undang-Undang No. 36 Tahun 2009).
Beberapa obat memiliki sifat atau tujuan pengobatan khusus yang hendaknya diminum pada waktu tertentu, yaitu sebelum atau sesudah makan. Obat-obat yang membutuhkan waktu minum tertentu umumnya merupakan obat-obat yang rute pemberiannya secara oral. Obat-obat-obat yang dikonsumsi secara oral akan bergerak melalui sistem pencernaan dengan cara yang sama dengan makanan. Apabila obat-obat tersebut dikonsumsi secara bersamaan dengan makanan, maka ada kemungkinan akan terjadi interaksi antara obat-obat dan makanan, yang dapat mempengaruhi efektivitas obat atau penyerapan nutrisi makanan (Wunderlich, 2004).
Beberapa obat yang dikonsumsi bersama dengan makanan dapat mempengaruhi absorpsi obat. Makanan dapat mengurangi atau meningkatkan absorpsi suatu obat. Obat yang absorpsinya terhambat atau berkurang karena keberadaan makanan pada saluran cerna sebaiknya dikonsumsi pada keadaan perut kosong. Obat yang absorpsinya meningkat karena keberadaan makanan pada saluran cerna atau memiliki efek samping yang dapat mengiritasi lambung, sebaiknya dikonsumsi bersamaan dengan makanan atau dalam keadaan perut yang terisi makanan (Bobroff, Lentz, Tumer, 2004). Berdasarkan efek yang dapat ditimbulkan oleh penggunaan obat dan makanan tersebut, maka diperlukan pemberian informasi tentang waktu penggunaan obat oral guna mengoptimalkan terapi pasien.
Pedoman waktu penggunaan obat oral yang berkaitan dengan makanan di RSUPN. Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang telah disesuaikan dengan
sakit tersebut sebagai salah satu sarana yang dapat memberikan informasi tentang waktu penggunaan suatu obat agar dapat memberikan efek yang optimal pada terapi pasien.
1.2 Tujuan
Memberikan informasi waktu penggunaan obat oral yang berkaitan dengan makanan yang terdapat dalam Formularium RSUPN. Dr. Cipto Mangunkusumo melalui buku pedoman
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Interaksi Obat dan Makanan
Hubungan dan interaksi antara makanan (nutrisi yang dikandungnya) dan obat memiliki pengaruh besar terhadap pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Interaksi antara makanan dan obat terdiri atas dua jenis, yaitu interaksi makanan terhadap obat dan interaksi obat terhadap makanan. Beberapa makanan dan nutrisi tertentu yang terkandung di dalam makanan, jika tertelan bersamaan dengan beberapa obat dapat mempengaruhi bioavailabilitas, farmakokinetik, farmakodinamik, dan keberhasilan terapi dari obat. Keberhasilan terapi obat juga tergantung pada status nutrisi setiap individu. Ada atau tidaknya beberapa nutrisi dalam saluran pencernaan dan/atau dalam sistem fisiologis tubuh, seperti dalam darah, dapat meningkatkan atau menurunkan tingkat penyerapan dan metabolisme obat. Semua jenis interaksi tersebut dianggap sebagai interaksi makanan terhadap obat (Wunderlich, 2004).
Beberapa obat secara signifikan dapat mempengaruhi bioavailabilitas dan metabolisme makanan dan nutrisi dalam tubuh. Obat dapat mengubah nafsu makan dan persepsi rasa, serta mengubah absopsi dan metabolisme makanan/nutrisi. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pada status nutrisi, seperti deplesi beberapa vitamin dan mineral dari sistem pencernaan, dan kadang-kadang menimbulkan masalah berat badan. Jenis interaksi tersebut merupakan interaksi obat terhadap makanan (Wunderlich, 2004).
.
2.2 Mekanisme Interaksi Obat dan Makanan 2.2.1 Interaksi Makanan-Obat
Mekanisme interaksi makanan terhadap obat dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase farmasetik, fase farmakokinetik, dan fase farmakodinamik. (Wunderlich, 2004)
2.2.1.1 Fase Farmasetik (Disolusi dan Disintegrasi Obat)
dapat mengubah efektifitas dan kelarutan beberapa obat, misalnya keasaman asam askorbat (vitamin C) yang tinggi dapat mengubah pH saluran gastrointestinal (GI) dan karenanya dapat mempengaruhi kelarutan obat tertentu (Wunderlich, 2004).
Makanan dapat meningkatkan pH lambung dan akibatnya dapat mempengaruhi bioavailibilitas beberapa obat, contohnya saquinavir (obat HIV). Obat tersebut dapat meningkat bioavailibilitasnya karena peningkatan kelarutan obat oleh perubahan pH lambung. Peningkatan pH lambung oleh makanan juga dapat mencegah disolusi beberapa obat seperti isoniazid (Wunderlich, 2004).
2.2.1.2 Fase Farmakokinetik
Fase farmakokinetik mencakup interaksi yang mempengaruhi proses absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi obat (interaksi ADME). Interaksi makanan terhadap obat yang paling signifikan melibatkan proses absorpsi (Wunderlich, 2004). Makanan dapat mempengaruhi absorpsi atau penyerapan obat pada saluran pencernaan dengan mengubah pH lambung, sekresi, dan motilitas gastrointestinal. Hal ini dapat mengakibatkan perubahan dalam kecepatan absorpsi atau tingkat absorpsi obat atau keduanya, dan karenanya dapat mengubah bioavailabilitas obat. Salah satu contoh interaksi makanan terhadap obat pada fase farmakokinetik adalah absorpsi azitromisin yang menurun ketika diminum bersama dengan makanan, yang menghasilkan penurunan bioavailabilitas sebesar 43%. Produk teofilin dengan pelepasan lambat
(sustained-release) ketika dikonsumsi bersama dengan makanan kaya lemak dapat
menyebabkan pelepasan teofilin secara tiba-tiba sehingga menyebabkan peningkatan konsentrasi teofilin dan memungkinkan terjadinya toksisitas dalam tubuh (Ismail, 2009).
Laju pengosongan lambung secara signifikan dipengaruhi oleh komposisi makanan yang dikonsumsi, dan dapat mempengaruhi bioavailabilitas obat. Serat dan makanan kaya lemak diketahui dapat menunda waktu pengosongan lambung. Beberapa obat seperti hidralazin diabsorpsi secara maksimal ketika terjadi penundaan pengosongan lambung karena paparan yang lama pada pH rendah di lambung. Obat lain seperti L-dopa, penisilin G, dan digoxin, terdegradasi dan
menjadi tidak aktif ketika terkena pH rendah dari lambung dalam waktu yang lama (Wunderlich, 2004).
Obat akan mengalami proses metabolisme yang mungkin mengubah zat kimianya ketika obat tersebut masuk ke dalam tubuh (McCabe et. all, 2003). Nutrisi yang terdapat dalam makanan dianggap sebagai bahan kimia yang penting untuk fungsi fisiologis normal tubuh manusia. Obat juga mengandung zat kimia yang digunakan untuk mencegah atau mengobati suatu penyakit. Kedua kelompok bahan kimia ini dapat berinteraksi satu sama lain ketika berada pada waktu yang sama di dalam tubuh (Wunderlich, 2004). Proses metabolisme dalam tubuh cenderung menurunkan toksisitas dan meningkatkan eliminasi bahan kimia asing (McCabe et. all, 2003). Proses metabolisme obat dapat berlangsung di serum, ginjal, kulit, usus, namun lebih banyak terjadi di hati. Detoksifikasi dalam hati dibagi menjadi dua fase. Pada fase I, enzim sitokrom P450 bertugas untuk mengoksidasi, mereduksi, atau menghidrolisis racun. Pada fase II, enzim mengkonjugasi racun ke dalam bentuk larut air untuk di ekskresikan atau dieliminasi. Minuman seperti grapefruit juice dapat menginhibisi sitokrom P450 isoenzim CYP3A4, mengakibatkan penurunan metabolisme obat golongan
calcium channel blocker. (Wunderlich, 2004)
Obat diekskresikan dari dalam tubuh oleh beberapa organ seperti ginjal, paru-paru, saluran pencernaan atau melalui empedu (Wunderlich, 2004), namun ginjal merupakan organ yang paling penting dalam proses ini. Makanan dapat mengubah pH urin yang dapat mempengaruhi aktivitas obat tertentu. Waktu paruh beberapa obat dapat berubah secara signifikan oleh perubahan pH urin. Makanan seperti susu, sayuran, dan buah jeruk dapat membasakan urin, sedangkan makanan seperti daging, ikan, keju, dan telur dapat mengasamkan urin. (Ismail, 2009)
Makanan dapat mengubah ekskresi ginjal dari beberapa obat, misalnya litium dan natrium bersaing untuk reabsorpsi di tubular ginjal. Diet tinggi garam menyebabkan banyak litium yang diekskresikan, sedangkan diet rendah garam menyebabkann penurunan ekskresi litium dan peningkatan litium di dalam darah. (Ismail, 2009)
2.2.1.3 Fase Farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi yang dapat menyebabkan efek suatu obat berubah akibat adanya obat lain pada situs aksi yang sama. Obat-obat tersebut kadang berkompetisi secara langsung memperebutkan reseptor tertentu, namun obat-obat tersebut dapat juga berinteraksi menimbulkan reaksi yang tidak langsung. Interaksi yang terjadi dapat berupa interaksi aditif/sinergis atau interaksi antagonis (Ismail, 2009).
Mekanisme kerja obat dapat berupa aktivitas agonis dan antagonis obat, yang dapat meningkatkan atau menghambat fungsi fisiologis dan metabolit normal tubuh manusia. Salah satu contohnya yaitu warfarin yang memiliki struktur yang mirip dengan vitamin K, sehingga efek koagulan (pembekuan darah) dari warfarin dapat terganggu dengan adanya asupan vitamin K (Wunderlich, 2004).
2.2.2 Interaksi Obat-Makanan
Interaksi obat terhadap makanan juga berperan penting dalam status nutrisi dan kebutuhan gizi individu. Suatu obat dapat meningkatkan atau menghambat bioavailabilitas nutrisi sehingga dapat mempengaruhi status nutrisi/gizi individu. Obat dapat mempengaruhi asupan makanan, absorpsi, metabolisme, dan ekskresi dari makanan (Wunderlich, 2004).
2.2.2.1 Asupan Makanan
Banyak obat dapat menyebabkan anoreksia, mengubah rasa dan bau, menyebabkan mual dan muntah, dan pada akhirnya mempengaruhi secara keseluruhan asupan makanan. Obat-obat seperti metilfenidat (Ritalin), yang mempengaruhi sistem saraf pusat, dapat mengurangi nafsu makan. Obat ini sering diresepkan untuk anak-anak yang mengalami pertumbuhan yang cepat. Penggunaan jangka panjang obat ini menyebabkan retardasi pertumbuhan pada anak. Oleh karena itu, ketika obat ini diresepkan untuk anak-anak, asupan makanan mereka harus dipantau. Beberapa obat anoreksia juga digunakan untuk menurunkan berat badan dan untuk mengobati obesitas dengan mengurangi nafsu makan (Wunderlich, 2004).
2.2.2.2 Absorpsi Makanan
Beberapa obat dapat merusak permukaan absorpsi saluran pencernaan seperti villi dan microvilli. Obat juga dapat mempengaruhi penyerapan nutrisi dengan mengubah pH lingkungan saluran cerna, misalnya aspirin dan obat asam lemah lainnya yang menyebabkan gangguan pada lapisan mukosa dapat menganggu penyerapan beberapa nutrisi secara optimal, seperti zat besi, kalsium, lemak, protein, natrium, dan kalium (Wunderlich, 2004).
2.2.2.3 Metabolisme Makanan
Salah satu fungsi penting dari vitamin dan mineral yaitu berperan sebagai koenzim/kofaktor dalam proses metabolisme dalam tubuh manusia. Beberapa obat bersifat antivitamin sehingga dapat menurunkan aktivitas beberapa enzim metabolik. Metotreksat, trimethoprim, aminopterin dapat menyebabkan vitamin folat yang merupakan kofaktor untuk enzim dihidrofolat reduktase, yang diperlukan untuk biosintesis asam nukleat dan replikasi sel, diekskresikan karena digantikan oleh obat-obat tersebut dalam mengurangi replikasi sel. (Wunderlich, 2004)
2.2.2.4 Ekskresi Makanan
Ikatan kompetitif dan hambatan reabsorpsi merupakan dua mekanisme yang menyebabkan peningkatan ekskresi nutrisi, misalnya obat-obat diuretik (furosemide, triamterene) menghambat reabsorpsi elektrolit dan mineral seperti kalium, magnesium, seng, dan kalsium, serta meningkatkan ekskresinya melalui ginjal. (Wunderlich, 2004)
BAB 3
METODE PENGKAJIAN
3.1 Waktu dan Lokasi
Pembuatan laporan dan pedoman ini dilakukan pada tanggal 27 Mei – 13 Juni 2013 di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Salemba, Jakarta Pusat.
3.2 Metode Pengkajian
Pengkajian termasuk dalam pengkajian observasional yang dilakukan secara retrospektif. Data yang digunakan adalah data primer yang berasal dari Formularium RSUPN. Dr. Cipto Mangunkusumo Tahun 2013. Metode Pengkajian dilakukan dengan studi literatur (studi pustaka). Pustaka yang digunakan bersumber dari buku terbitan dan jurnal-jurnal yang dipublikasikan di internet yang berkaitan dengan interaksi obat dan makanan.
3.3 Prosedur Kerja
Pengkajian dilakukan dengan mengelompokkan obat-obat oral yang terdapat di Formularium RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Tahun 2013 sesuai dengan waktu penggunaannya yaitu 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan, bersamaan dengan makanan atau segera setelah makan, dan 30 menit sebelum makan. Obat-obat yang telah dikelompokkan kemudian disatukan dan dibuat ke dalam bentuk buku pedoman yang dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk membantu tenaga medis di rumah sakit dalam memberikan informasi obat kepada pasien baik pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan hasil pendataan obat oral yang terdapat di Formularium RSUPN. Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Tahun 2013, waktu penggunaan obat oral yang berkaitan dengan makanan dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama yaitu kelompok obat yang diminum 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini ditemukan pada 7 kelas terapi yang terdapat di Formularium RSCM Tahun 2013, yang dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Daftar Obat yang Diminum 1 Jam Sebelum Makan atau 2 Jam Setelah Makan
No Nama Generik Nama Dagang
Antialergi dan Obat Untuk Anafilaksis
1 Loratadin Claritin; Inclarin; Clatatin; Loratadine tablet 10 mg
2 Setirizin Ryzen; Histrine; Histrine FT; Incidal OD: Cetirizine kapsul 10 mg
Antimikroba Antibakteri
Golongan Penisilin
1 Ampisilin Ampicillin tablet 250 mg, 500 mg; sirup 125 mg/5 ml
2 Amoksisilin Amoxil; Amoxsan; Amoxicillin tablet 125 mg; kapsul 250 mg; kaplet 500 mg; sirup kering 125 mg/ 5 ml
3 Fenoksi metil penisilin Fenocin Golongan Aminoglikosida
1 Linkomisin Lincocin; Biolincom; Pritalinc; Lincomycin tablet 500 mg; 250 mg
No Nama Generik Nama Dagang Golongan Kloramfenikol
1 Kloramfenikol Chloramex; Chloramphenicol kapsul 250 mg; suspensi
2 Tiamfenikol Urfamycin; Thiamycin; Thiamphenicol tablet 500 mg; 250 mg
Golongan Kuinolon
1 Levofloksasin Cravit; Levovid; Levoxal 500 mg tab selaput; Levofloxacin drip; tablet 500 mg 2 Ofloksasin Tarivid; Ofloxacin tablet 200 mg; 400 mg
3 Moksifloksasin Avelox
4 Siprofloksasin Ciproxin; Ciproxin XR; Ciprofloxacin tablet 250 mg; 500 mg
Golongan Makrolida
1 Azitromisin Zithromax; Binozyt; Zistic; Azithromycine tablet 500 mg
2 Eritromisin stearat Erythrocin EES; Kalthrocin; Erythromycin tablet 250 mg; 500 mg; sirup
Golongan Sefalosporin
1 Sefaklor Ceclor; Cloracef; Cefaclor
2 Sefradin Lovecef
Golongan Tetrasiklin
1 Doksisiklin Vibramycin; Doxicor; Interdoxin; Doxicycline tablet 100 mg
2 Minosiklin Nomika
3 Tetrasiklin Tetracycline HCl kapsul 250 mg; 500 mg Golongan Lain-lain
1 Kotrimosazol (trimethoprim + sulfametoksazol
Bactrim; Sanprima; Cotrimoxazole tablet 480 mg; suspensi 240 mg/ 5 ml